anatomi, fisiologi dan pemeriksaan telinga

Click here to load reader

Post on 26-Sep-2015

90 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tht

TRANSCRIPT

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

Embriologi, anatomi dan fisiologi adalah modal untuk memahami fungsinya. Sehingga tentunya dengan memahami dasar-dasar diharapkan dapat memahami patologi serta dapat memberikan pengobatan yang tepat pada telinga. Dengan mengaitkan ilmu dasar dan disiplin, pada akhirnya untuk lebih memahami penatalaksanaan penyakit-penyakit telinga dan juga keseimbangan. Karena pada telinga, selain fungsi pendengaran, yang lebih penting adalah fungsi keseimbangan. Maka dari itu makhluk hidup masih dapat tetap bertahan tanpa pendengaran, tetapi makhluk hidup tidak dapat bertahan bila terjadi gangguan pada keseimbangannya. Karena itu, secara filogenetik, mekanisme keseimbangan sebagai bagian dari orientasi organisme terhadap lingkungan berkembang lebih dulu dari pendengaran.

Telinga mengandung bagian vestibulum dari keseimbangan, namun orientasi kita terhadap lingkungan juga ditentukan oleh kedua mata kita dan alat perasa pada tendon dalam. Jadi telinga adalah organ pendengaran dan keseimbangan. Dengan fungsinya sebagai organ pendengaran dan keseimbangan, kerja telinga cukup rumit dan berpangaruh terhadap kehidupan sehari-hari.

Secara anatomi, terlinga sendiri dibagi menjadi tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar dan tengah berkembang dari alat brankial. Telinga dalam seluruhnya berasal dari plakoda otika. Dengan demikia, suatu bagian dapat mengalami kelainan kongenital sementara bagian lain berkembang normal.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Embriologi

Perkembangan auditorik pranatal terutama koklea mencapai fungsi normal seperti orang dewasa setelah usia gestasi 20 minggu. Pada masa tersebut, janin sudah dapat memberikan respon terhadap suara yang diberikan. Perkembangan dari ketiga bagian telinga sendiri yaitu :

a. Telinga Luar

Liang telinga berasal dari celah brankial pertama ektoderm dan perkembangannya dimulai pada minggu ke empat kehamilan. Membrane timpani mewakili penutupan celah tersebut. Selama satu stadium perkembangannya, liang telinga akhirnya tertutup sama sekali oleh suatu sumbatan jaringan telinga tapi kemudian terbuka kembali, namun demikian kejadian ini mungkin merupakan suatu faktor penyebab dari beberapa kasus atresia atau stenosis dari bagian ini.

Pinna (aurikula) berasal dari penggir-pinggir celah brankial pertama dan arkus brankialis pertama dan kedua membentuk 6 tonjolan (Hillock of His) yang mengelilingi perkembangan liang telinga luar dan kemudian bersatu utnuk membentuk daun telinga. Aurikula dipersarafi oleh cabang aurikulotemporalis dari saraf mandibularis serta saraf aurikularis mayor dan oksipital minor yang merupakan cabang pleksus servikalis.

Pada minggu ketujuh pembentukan dari kartilago masih dalam proses dan pada minggu ke-12 daun telinga dibentuk oleh penggabungan dari tonjolan-tonjolan diatas. Pada minggu ke-20, daun telinga sudah seperti bentuk telinga dewasa, tetapi ukurannya belum seperti ukuran dewasa sampai umur 9 tahun.

Posisi daun telinga berubah selama perkembangan, pada awal pertumbuhan terletak vetro medial dan pada bulan kedua kehamilan tumbuh menjadi dorso lateral yang merupakan lanjutan dari pertumbuhan mandibula. Jika proses ini terhenti bisa mengakibatkan terjadinya telinga letak rendah yang mungkin diikuti oleh anomaly, congenital lainnya seperti mikrotia dan anotia. Fistula aurikularis congenital terjadi diduga oleh karena kegagalan dari pada penggabungan tonjolan-tonjolan ini. Kelainan congenital daun telinga dapat terjadi mulai dari minor malformasi seperti lipatan kulit didepan tragus sampai aplasia total.

b. Telinga Tengah

Rongga telinga tengah berasal dari celah brankial pertama ektoderm. Rongga berisi udara ini meluas ke dalam resesus tubatimpanikus yang selanjutnya meluas ke sekitar tulang-tulang dan saraf dari telinga tengah dan meluas kerang lebih ke daerah mastoid. Osikula berasal dari rawan arkus brankialis. Untuk mempermudah pemikiran ini maleus dapat dianggap berasal dari rawan arkus brankialis pertama (kartilago meekel, sedangkan inkus dan stapes dari rawan arkus brankialis kedua (kartilago Reichert).

Saraf korda timpani berasal dari arkus kedua (facialis) menuju saraf pada arkus pertama (mandibula-lingualis). Sraf timpanikus (dari Jacobson) berasal dari saraf arkus brankialis ketiga (glosofaringeus) menuju saraf facialis. Kedua saraf ini terletak dalam rongga telinga tengah. Otot-otot telinga tengah berasal dari otot-otot brankialis. Otot tensor timpani yang melekat pada maleus, berasaldari arkus pertama dan dipersarafi oleh saraf mandibularis (saraf kranial V). Otot stapedius berasal dari arkus kedua,dipersarafi oleh suatu cabang saraf ketujuh.

Cavum timpani berasal dari kantong pharyng pertama. Kantong ini tumbuh dengan cepat ke arah lateral dan untuk sementara bersentuhan dengan lantai celah pharyng pertama. Bagian distal kantong ini, recessus tubotympanicus, melebar dan membentuk cavum timpani sederhana, sedangkan bagian proksimal tetap sempit dan membentuk tuba auditiva atau tuba eustachius. Yang terakhir akan membentuk saluran yang menghubungkan cavum timpani dengan nasofaring.

c. Telinga Dalam

Plakoda otika ektoderm terletak pada permukaan lateral dari kepala embrio. Plakoda ini kemudian tenggelam dan membentuk suatu lekukan otika dan akhirnya terkubur di bawah permukaan sebagai vesikel otika. Letak vesikel dekat dengan otak belakang yang sedang berkembang dan sekelompok neuron yang dikenal sebagai ganglion akustikofasialis. Ganglion ini penting dalam perkembangan saraf facialis, akustikus dan vestibularis. Vesikel auditorius membentuk suatu divertikulum yang terletak di dekat tabung saraf yang sedang berkembang yang kelak akan menjadi duktus endolimfatikus.

Vesikel otika kemudian berkerut membentuk suatu utrikulus superior(atas) dan sakulus inferior (bawah). Dari utrikulus kemudian terbentuk tiga tonolan menyerupai gelang. Lapisan-lapisan yang jauh dari perifer gelang diserap, meninggalkan tiga kanalis semisirkularis pada perifer gelang. Sakulus kemudian membentuk duktus koklearis berbentuk spiral. Secara filogenetik, organ-organ akhir khusus berasal dari neuromast yang tidak terlapisi yang berkembang dalam kanalis semisirkularis untuk membentuk organ corti. Organ-organ akhir ini ini kemudian berhubungan dengan neuron-neuronganglion akustikofacialis. Neuron-neuron inilah yang membentuk ganglia saraf vestibularis dan ganglia spiralis dari saraf koklearis.

Mesenkim disekitar ganglion otikum memadat untuk membentuk suatu kapsul rawan disekitar turunan membranosa dari vesikel otika. Rawan ini diserap pada daerah-daerah tertentu disekitar yang sekarang sering disebut sebagai labirin membranosa, menyisakan suatu rongga yang berhubungan dengan rongga yang terisi LCS melalui membran akuaduktus koklearis, dan membentuk rongga perilimfatik labirin tulang. Labirin membranosa berisi endolimfe. Tulang yang berasal dari kapsula rawan vesikel otika adalah jenis tulang khusus yang dikenal sebagai tulang endokondral.

2. Anatomi

Untuk mengetahui tentang gangguan pendengaran, perlu diketahui terlebih dahulu tentang anatomi telinga itu sendiri. Sehingga dapat memudahkan dalam menentukan bagian mana yang mangalami gangguan dan dapat memberikan penanganan yang tepat. Pada dasarnya, anatomi telinga terbagi atas tiga bagian. Yaitu :

a. Telinga Luar

Telinga luar atau pinna (aurikula = daun telinga) merupakan gabungan dari rawan yang diliputi kulit. Telinga luar itu sendiri terdiri dari daun telinga dan liang telinga samapai membrane timpani.

Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3 cm.

Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat =kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Dan pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. Liang telinga memiliki tulang rawan pada bagian lateral namun bertulang di sebelah medial. Kulit liang telinga langsung terletak diatas tulang. Seringkali ada penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang dan rawan ini sehingga radang yang ringanpun dapat terasa sangat nyeri karena tidak ada ruang untuk ekspansi.

Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalan ke lateral menuju prosesus stiloideus posteroinferior liang telinga, dan kemudian berjalan di bawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. Rawan liang telinga merupakan salah satu patokan pembedahan yang digunakan mencari saraf fasialis; patokan lainnya adalah sutura timpanomastoideus.

Membrane Timpani

Membrana timpani adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan peuncaknya, umbo, mengarah ke medial. Membrana timfani umumnya bulat. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus, meluas melampauibatas atas membrana timfani, dan bahwa ada bagian hipo timpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar, lapisan fibrosa di bagian tengah di mana tangkai maleus dilekatkan dan lapisan mukosa bagian dalam lapisan fibrosa tidak terdapat diatas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timfani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid).

Terdapat bayangan yang menonjol di bagian bawah maleus pada membran timpani yang disebut dengan umbo. Dari umbo inilah bermula suatu reflek cahaya (cone of light). Dimana jika ke arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Reflek cahaya ialah cahaya dari luar yang dip