analisis musik vokal pada ... - · pdf filekelahiran bayi sebagai penerus generasi terdahulu....

Click here to load reader

Post on 03-Feb-2018

236 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • i

    ANALISIS MUSIK VOKAL PADA PERTUNJUKAN MAENA DALAM

    PESTA ADAT FALWA (PERKAWINAN) MASYARAKAT

    NIAS DI KOTA MEDAN

    SKRIPSI SARJANA

    O

    L

    E

    H

    NAMA: AUGUSMAN TAFNA

    NIM: 080707005

    UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

    FAKULTAS ILMU BUDAYA

    DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI

    MEDAN

    2012

  • ii

    ANALISIS MUSIK VOKAL PADA PERTUNJUKAN MAENA DALAM

    PESTA ADAT FALWA (PERKAWINAN) MASYARAKAT NIAS

    DI KOTA MEDAN

    OLEH:

    NAMA: AUGUSMAN TAFNA

    NIM: 080707005

    Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

    Drs. Kumalo Tarigan, M.A. Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D.

    NIP 19 NIP 196512211991031001

    Skripsi ini diajukan kepada Paniti Ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan,

    untuk melengkapi salah satui syarat Ujian Sarjana Seni

    dalam bidang disiplin Etnomuskologi

    UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

    FAKULTAS ILMU BUDAYA

    DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI

    MEDAN

    2012

  • iii

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Dalam rangka menjalani kehidupannya, manusia melakukan berbagai

    upacarayang berkaitan dengan siklus atau pusingan hidupnya/ Di antaranya adalah

    upacara menyambut hadirnya janin, seperti halnya tikeban yaitu upacara tujuh bulanan

    janin dalam budaya Jawa. Kemudian ketika lahir pun diadakan upacara penyambutan

    kelahiran bayi sebagai penerus generasi terdahulu. Kemudian dalam rangkaian ini

    dibuat juga upacara pemebrian nama. Setelah itu diadakan lagi upacara memijak tanah

    untuk pertama kalinya ia dapat berjalan dan akan menjalani kehidupannya kelak sebagai

    apa. Setelah itu dalam beberapa masyarakat di dunia ini ada juga tradisi berkhitan atau

    sunatan, termasuk dalam kebudayaan Nias.

    Selanjutnya dalam rangkaian siklus hidup ini ada pula upacara perkawinan, yang

    berbeda-beda antara setiap suku bangsa, namun ini adalah fenomena yang universal

    dalam kebudayaan manusia. Dalam rangkaian upacara perkawinan ini bisa jadi dibagi-

    bagi ke dalam beberapa tahapan, seperti meminang, kenduri, menghantar uang mahar,

    pengabsahan secara religi, persandingan, dan upacara pasca perkawinan. Demikian pula

    yang terjadi dalam kebudayaan Nias. Mereka memiliki upacara perkawinan yang

    disebut dengan fangowalu.

    Setelah membentuk rumah tangga, mereka akan memperoleh keturunan dan

    keturunannya ini mengalami dan menjalani berbagai upacara siklus hidup yang

    dilatarbelakangi oleh budaya tersebut. Seterusnya dalam rangka bermasyarakat, manusia

    juga melakukan upacara-upacara seperti menjamu para tetangga dan kerabat,melakukan

    upacara religi di kediaman atau juga rumah ibadah, dan juga kematian. Upacara

  • 2

    kematian ini dalam kebudayaan manusia dipandang sebagai perpindahan dari alam

    dunia ini ke alam dunia lain. Dalam kebudayaan manusia dalam menuju alam akhirat

    atau alam berikutnya itu, ada yang menyertakan harta benda di samping jenazah yang

    dikuburkan, ada pula yang tidak. Namun yang paling umum adalah menyertainya

    dengan doa agar si jenazah diterima di sisi Tuhan dengan keadaan yang sebaik-baiknya,

    terutama menerima segala kebaikannya semasa hidup dan Tuhan dapat memaafkan

    segala dosanya. Demikian juga yang terjadi dalam kebudayaan suku (etnik) Nias.

    Orang-orang Nias merupakan salah satu suku dari sekian banyak suku-suku

    yang ada di Indonesia, yang berada di bagian barat Sumatera Utara, khususnya di Pulau

    Nias dan sekitarnya. Secara rasial atau fisik, etnik Nias ini dapat dikelompokkan ke

    dalam ras Mongoloid. Masyarakat Nias pada masa religi Sanmba Adu mempercayai

    sistem penggolongan derajat manusia yang disebut bosi. Di dalam bosi ini diatur

    tentang kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal dunia.

    Namun demikian, salah satu dari urutan bosi ini ialah fangowalu atau pesta

    perkawinan. Di dalam persta perkawinan ini ada tahap-tahap yang harus ditempuh

    namun ketika dilangsungkannya pesta perkawinan ada sebuah tarian yang dipertunjukan

    pada urutan perkawinan ini yaitu maena.

    Maena merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Nias, yang di

    dalamnya mengandung seni tari dan nyanyian (musik vokal)/ Tariannya dipolakan

    dengan gerakan yang membenmtuk segi empat dan dalam pertunjukannya bermakna

    kegembiraan dan kemeriahan suatu acara yang dilangsungkan. Musik vokal adalah

    musik yang dihasilkan oleh suara manuasia dimana musik tersebut diiringi alat musik

    atau tidak dan penyajiannya dapat dinyanyikan oleh satu orang (solo), maupun dengan

    banyak orang (kelompok).

  • 3

    Maena tidak terlepas dari tari yang saling mempengaruhi antara nyanyian

    dengan tari. Didalam tari ada gerakan, yang gerakannya membentuk segi empat (fa

    sagi) dan kaki membentuk segi tiga (tlu sagi), kedua lengan diayunkan ke depan dan

    ke belakang sehingga selama pertunjukan maena gerekan inilah yang terus di ulang-

    ulang dari awal hingga berakhirnya pertunjukan. Gerakan pada maena tidak terlalu

    banyak dan sangat mudah untuk dipelajari, tetapi pada pertunjukannya harus memiliki

    kekompakkan gerakkan tersebut walaupun dikatakan mudah namun dari sekian

    banyaknya jumlah penyaji maena ini harus yang diperlukan ialah kekompakkan, selain

    itu gerakan maena berputar kearah kiri.

    Musik vokal pada maena berupa susunan pantun yang dinyanyikan atau

    disuarakan oleh sanutun1 maena (pemimpin maena) yang dipimpin oleh satu atau dua

    orang. Sanutun maena juga dapat dipimpin oleh satu orang saja namun yang menjadi

    pimpinannya ialah seorang perempuan. Apabila sanutun maena dua orang, maka yang

    satu perempuan dan satu lagi laki-laki dan terkadang juga dua-duanya dipimpin oleh

    perempuan

    Ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh penulis dalam tulisan ini yakni antara

    sanutun maena (pemimpin) dengan sanehe atau ono maena (peserta maena), dimana

    sanutun maena berpisah tempatnya ataupun terkadang juga bisa gabung dengan sanehe

    atau ono maena tetapi pada umumnya selalu berpisah. Sanehe (ono maena) merupakan

    orang yang menyanyikan syair maena yang bersifat tetap dan terus diulang-ulang oleh

    peserta maena setelah sanutun maena menyanyikan syair yang berupa susunan pantun-

    pantun sampai berakhirnya maena tersebut (strophic). Fanutun maena (syair maena)

    yaitu suatu lirik yang dibacakan oleh sanutun maena (orang yang membacakan syair

    maena). Syair maena berisi tentang kegiatan dalam hal ini pesta perkawinan dan syair

    1Dalam pengucapan serta penulisan atau pronounsiasi dalam bahasa Nias, seperti diakukan oleh masyarakat Nias, dibaca e sama dengan pengucapan huruf e pada kata menganalisis.

  • 4

    maena disuarakan oleh orang banyak yang ikut dalam maena yang disebut dengan ono

    maena atau fanehe maena (peserta maena). Pada maena tidak dibatasi siapa-siapa saja

    yang ikut dalam pertunjukannya laki-laki dan perempuan dapat melakukan tari2 maena

    ini. Sanutun maena dengan sanehe maena saling bersahut-sahutan (call and respons)

    dimana ada yang memimpin dan ada koor yang dinyanyikan secara bersamaan oleh

    penyaji maena.

    Apabila kita melihat bahwa setiap suku bangsa biasanya memiliki istilah

    tertentu dalam menyebut musik vokal itu sendiri, sama halnya juga dengan masyarakat

    Nias bahwa musik vokal atau nyanyian disebut juga sinun. Dalam kesenian tradisional,

    baik yang tumbuh dari rakyat itu sendiri atau pengaruh dari budaya lain, sehingga

    masyarakat itu telah mewarisinya secara turun-temurun dari nenek moyang mereka,

    dapat disebut kesenian tradisional. Predikat tradisional bisa diartikan segala sesuatu

    yang sesuai tradisi, sesuai dengan kerangka, pola-pola bentuk maupun penerapan yang

    selalu berulang-ulang (Sedyawati, 1981:48).

    Pesta perkawinan pada masyarakat Nias memiliki beberapa musik vokal

    (sinun) seperti bolihae, fangowai, dan hendri-hendri. Ketiga jenis sinun ini murni

    tidak menggunakan alat musik pengiring--hanya disuarakan oleh suara manusia. Namun

    dalam skripsi ini penulis menitikberatkan musik vokal pada maena, dimana maena

    dahulunya juga tidak menggunakan alat musik pengiring tetapi karena perubahan zaman

    atau karena dalam pertunjukannya bermakna suatu kegembiraan dan sukacita sehingga

    digunakan ensambel pengiring yang terdiri dari gong, gondra, faritia, dan ukulele.

    Tetapi karena dilihat bahwa dengan menggunakan alat-alat tersebut sangat sulit dalam

    penyediaannya, maka berubah dan kebanyakan dengan menggunakan keyboard.

    2Menurut Kamus Dewan Edisi Ketiga (2002:1378) tari ialah tarian gerakan badan serta tangan

    dan kaki berirama mengikuti rentak music. Dalam kebudayaan masyarakat di dunia ini, berbagai macam penyebutan untuk tari ini. Dalam kebudayaan Batak Toba, Mandailing, dan Angkola disebut dengan tortor. Dalam kebudayaan Karo disebut dengan landek. Kemudian dalam kebudayaan Pakpak disebut dengan tatak. Dalam kebudayaan dunia ada yang menyebutnya dance atau juga dansa.

  • 5

    Pada pesta perkawinan ada beberapa bagian musik vokal yang dinyanyikan oleh

    sanutun maena yaitu, (1) fanehe maena wangowai dome (syair yang berisi sapaan

    atau ucapan selamat datang). Dalam menyajikannya berisi tentang sapaan karena para

    tamu-tamu dari pihak laki-laki sudah datang sehingga disapa lewat sebuah tarian. Tarian

    ters