typus mance

Download Typus Mance

Post on 24-Sep-2015

8 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gdvfjsdvfjdvshfjdsvfjvdshjfdsjfvhjdsfjdsbjfbvs

TRANSCRIPT

Referat

Diskusi kasusTYPHUS ABDOMINALIS

oleh :

Maya Diyaswari G9911112094

KEPANITERAAN KLINIK UPF / LABORATORIUM FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2012BAB I

PENDAHULUAN

Typhus abdominalis terdapat diseluruh dunia dan penyebarannya tidak bergantung pada keadaan iklim, tetapi banyak dijumpai di negara-negara sedang berkembang di daerah tropis. Hal ini disebabkan karena penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan dan kebersihan individu kurang baik. Di Indonesia dapat ditemukan sepanjang tahun. Insidennya tertinggi didapatkan pada anak-anak terutama di daerah endemic.

Typhus abdominalis adalah suatu penyakit infeksi akut usus halus oleh Salmonella typhi. Typhus abdominalis atau demam tifoid merupakan suatu penyakit endemic di Indonesia. Kelompok penyakit ini mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga menimbulkan wabah. Ada 2 sumber penularan yaitu pasien dengan tifoid dan carrier. Untuk daerah endemic tranmisi melalui air yang tercemar. Sedangkan untuk daerah non endemik, penularan paling sering melalui makanan yang tercemar oleh carrier.

Penatalaksanaan typhus abdominalis meliputi non medikamentosa dan medikamentosa. Namun alangkah baiknya, jika dilakukan pencegahan dan pengendalian diantaranya dengan perbaikan sanitasi lingkungan termasuk pembuangan air limbah dan pemasokan air, sehingga akan menurunkan insiden dengan tajam.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Typhus abdominalis adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi9. Sedangkan menurut Gerald T. Keush typhus abdominalis adalah suatu infeksi demam sistemik akut yang nyata pada fagosit mononuclear dan membutuhakan tatanama yang terpisah6.

B. EPIDEMIOLOGI

Typhus abdominalis termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 6 tahun 1962 tentang wabah. Walaupun tercantum dalam undang-undang wabah dan wajib dilaporkan, namun data yang lengkap belum ada, sehingga gambaran epidemiologinya belum diketahui secara pasti. Di Indonesia, jarang dijumpai secara epidemic, tapi lebih sering bersifat sporadic, terpencar-pencar di suatu daerah dan jarang menimbulkan lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah. Sumber penularan biasanya tidak dapat ditemukan. Ada 2 sumber penularan Salmonella typhi yaitu pasien dengan tifoid dan carrier.

Di daerah endemic, tranmisi terjadi melalui air yang tercemar dan makanan yang tercemar oleh carrier yang merupakan sumber penularn yang paling sering di daerah non endemik 5.

C. ETIOLOGI

Salmonella adalah basil gram negative, tidak berkapsul, hampir selalu motil dengan menggunakan flagella peritrikosa, yang menimbulkan dua atau lebih bentuk antigen H. Kuman ini meragikan glukosa, sehingga terbentuk dasar asam dan cekungan basa pada agar beri gula tripel ( TSI ). Umumnya menghasilkan H2S yang dapat terdeteksi sebagai produk reaksi hitam dan berfungsi awal untuk membedakan isolate dari Shigella, yang juga menimbulkan reaksi TSI basa / asam. Salmonella typhi penyebab utama demam tifoid atau typhus abdominalis. Beberapa salmonella sangat mudah beradaptasi pada manusia seperti S.typhi, S. paratyphi A, S. paratyphi B. sementara sebagian besar spesies beradaptasi pada hewan dan tidak menyebabkan kesakitan pada manusia. Yang lain menginfeksi baik manusia dan hewan tingkat rendah, sehingga menyebabkan gastroenteritis atau yang lebih jarang infeksi terlokalisir, atau septikemik6. D. PATOFISIOLOGI

Kuman S. typhi masuk tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan asam lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque Payeri di ileum terminalis yang hipertropi. Di tempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman S.typhi kemudian menembus lamina propia masuk aliran limfe mesenterial, dan mencapai kelenjar limfe mesenterial, yang juga mengalami hipertropi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini, S.typhi masuk aliran darah melalui ductus thoracicus. Kuman-kuman S.typhi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. S.typhi bersarang di plaque Payeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain system retikuloendotelial. Semua disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid disebabkan endotoksemia. Tapi kemudian berdasar penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada typhus abdominalis. Endotoksin S.typhi berperan pada patogenesis, karena membantu terjadinya proses inflamasi local pada jaringan tempat S.typhi berkembang biak. Demam pada tifoid disebabkan karena S.typhi dan endotoksinya merangsang sintesis dan penglepasan zat pirogen olek leucosis pada jaringan yang meradang5.

E. MANIFESTASI KLINIS

Masa tunas berlangsung 10 14 hari. Gejala-gejala yang timbul amat bervariasi. Selain itu, gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian.

Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaksis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu badan meningkat.

Dalam minggu kedua, gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia relative, lidah khas ( kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta tremor ), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia5.

F. DIAGNOSIS

Biakan darah positif memastikan typhus abdominalis, tapi biakan darah negative tidak menyingkirkan typhus abdominalis. Biakan feces positif menyokong diagnosis klinis typhus abdominalis5. Biakan feces ini, 75% positif pada minggu ketiga.

Diagnosis serologis kurang dapat diandalkan dibandingkan biakan. Sebagian besar pasien dapat mempunyai antibody terhadap antigen O, H, dan Vi ( tes widal ). Jika tidak mendapatkan imunisasi yang baru, titer antibody terhadap antigen O ( > 1/ 640 ) adalah sugestif, tapi tidak spesifik selama salmonella serogrup. Peninggian antibody empat kali lipat pada sediaan berpasangan adalah criteria yang baik, untuk memastikan diagnosis typhus abdominalis selama 2 sampai 3 minggu5,6. Jadi pemeriksaan widal dinyatakan positif apabila :

Titer O widal I 1/ 320 atau

Titer O widal II naik 4 kali atau lebih dibandingkan titer O widal I atau

Titer O widal I ( - ) tapi titer O widal II ( + ) berapapun angkanya

Sedangkan pemeriksaan penunjang lainnya :

Darah perifer lengkap : leucopenia, limfositosis, aneosinofilia

Biakan empedu : tumbuh koloni Salmonella typhi9G. DIAGNOSIS BANDING

Infeksi virus

Malaria3,9

H. TERAPI

1. Bed rest total, sampai 7 hari bebas panas3. Maksudnya untuk mencegah terjadinya komplikasi yakni perdarahan usus atau perforasi usus. Mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap, sesuai dengan kekuatan pasien 5.

2. Diet saring TKTP rendah serat, lunak sampai 7 hari bebas panas lalu ganti bubur kasar , dan setelah 7 hari ganti dengan nasi3. Pemberian bubur saring bertujuan untuk menghindari komplikasi perdarahan usus / perforasi usus, karena ada pendapat bahwa usus perlu diistirahatkan5.

3. Medikamentosa

a. Chloramphenicol

Masih merupakan obat pilihan utama di Indonesia, dosis untuk orang dewasa adalah 4 x 500mg sehari oral atau intravena, sampai 7 hari bebas demam5.

b. Tiamfenikol ( Urfamycin )

Dosis dan efektivitas sama dengan chloramphenicol5.

c. Cotrimoxazol ( Trimetroprim dan Sulfametoksazol )

Dosis untuk orang dewasa adalah 2 x 480 mg sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam5.

d. Amoxicillin

Dosis yang dianjurkan berkisar 75 150 mg / kgBB sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam5.

e. Cephalosporin generasi ketiga

Antara lain : cefoperazon, cefriaxon, dan cefotaxim efektif, tapi dosis dan cara pemberiannya belum diketahui secara pasti5.

I. PROGNOSIS

Terapi yang cocok, terutama jika pasien perlu dirawat secara medis pada stadium dini, sangat berhasil. Angka kematian dibawah 1%, dan hanya sedikit penyulit yang terjadi6.

BAB III

ILUSTRASI KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA

Nama

: Tn WUmur

: 23 tahun

Jenis Kelamin: Laki-laki

Pekerjaan

: Mahasiswa

Alamat

: jebres, Surakarta

Agama

: Islam

No CM

: 699567Tanggal pemeriksaan: 17 Oktober 2012

B. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama : Badan panas

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Sejak kurang lebih 7 hari SMRS, badan penderita panas. Panas diarasakan naik turun, dan naik terutama pada malam hari, sampai menggigil. Penderita meminum obat penurun panas (panadol) dan panasnya sempat turun tapi naik lagi setelah beberapa jam minum obat. Kepala penderita juga pusing terutama saat badan panas. Penderita mengeluhkan perutnya mual, tapi muntah tidak didapatkan, nafsu makan berkurang dan badan terasa lemah. Sudah 6 hari ini penderita tidak BAB. BAK tidak ada keluhan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat mondok karena penyakit serupa ( - )

Riwayat asma ( - )

Rawayat alergi obat, makanan, udara dingin (- )

4. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat penyakit serupa ( - )

Riwayat asma ( - )

C. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum : sakit sedang, compos mentis, gizi kesan cukup

2. Tanda Vital : T : 110 / 70 mmHgRr : 24 x / mnt

N : 88 x / m