manfaat konsumsi teh hitam sebagai upaya penyakit jantung koroner ... diagnosis molekuler berbasis...

Download MANFAAT KONSUMSI TEH HITAM SEBAGAI UPAYA   PENYAKIT JANTUNG KORONER ... Diagnosis Molekuler Berbasis ... Skema perjalanan normal dan morfologi aterosklerosis

Post on 18-Feb-2018

214 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 25Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi

    MANFAAT KONSUMSI TEH HITAM SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PENYAKIT JANTUNG KORONER

    AKIBAT ATEROSKLEROSIS DI INDONESIA

    FRANS LIWANG

    Penulis adalah seorang mahasiswa dari jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Lahir pada tanggal 2 April 1990 di kota Makassar, ia memulai studinya pada tahun 2007. Beberapa tulisan yang pernah ditulisnya antara lain Penerapan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui Dalam Mewujudkan Program ASI Eksklusif di Indonesia pada tahun 2009, Diagnosis Molekuler Berbasis Autoantibodi ZnT8 Sebagai Deteksi Dini Mutakhir Diabetes Melitus tipe 1 pada tahun 2010, dan Manfaat Metode Upper-Room Ultraviolet Germicidal Irradiation (UVGI) sebagai Upaya Pencegahan Penyebaran Tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2010. Untuk berkorespondensi dengan penulis, dapat melalui alamat email fr_archy02@yahoo.com.

  • 26 Volume 1, Desember 2010

    MANFAAT KONSUMSI TEH HITAM SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PENYAKIT JANTUNG KORONER AKIBAT ATEROSKLEROSIS DI INDONESIA

    FRANS LIWANG

    Astract

    Coronary heart disease (CHD), which is the main cause due to atherosclerosis, was the number one cause of death in Indonesia. The treatments were quite difficult because it needs a long term medical therapies or invasive actions. In addition, the treatments were needed to be accompanied with preventive efforts to prevent the recurrence in the future. Some clinical researches have shown that black tea can prevent CVD. The theaflavine and other flavonoids compounds could prevent factors that contribute to atherosclerosis. Theaflavin and thearubigin were the electron donor and scavengers of free radicals which could destroy a variety of substances that oxidative stress might cause the damage of endothelium. Theaflavin had been shown to decrease the blood cholesterols level via inhibition of cholesterols micelles. In fact, theaflavins also could inhibit the platelet aggregation and various inflammatory mediators, such as P-selectin, C-reactive protein (CRP), and platelet activation factor (PAF). Because the contents of the compounds in black tea could slow down the process of atherosclerosis in various stages, black tea had a great potential to prevent CHD. Besides having a great benefit, the level of production and distribution of black tea were high in Indonesia make this herbal therapy became more realistic and easier to apply for the Indonesian people. Intake of black tea, which researchers advised, was maximum 8 cups a day in relation to avoid its adverse effects to iron absorption and folic acid bioavailability.

    Keywords: aterosklerosis (atherosclerosis); penyakit jantung koroner (coronary heart disease); teh hitam (black tea).

  • 27Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi

    sekitar 5000 tahun yang lalu di negeri Cina, kini, teh (Camelia sinensis) telah tersebar ke berbagai penjuru dunia dan merupakan minuman yang paling banyak diminum setelah air (Nurmala, 2009). Berbagai kandungan dalam teh, seperti theaflavin dan katekin, telah diteliti mengandung anti-oksidan dan anti-inflamasi yang potensial dalam mencegah PJK. Akan tetapi, komposisi ini akan berbeda untuk jenis teh yang berbeda pula (Gardner dkk, 2007: 3-18).

    Berdasarkan proses pembuatannya, minuman teh dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti teh hijau, teh hitam, dan teh oolong. Diantaranya, teh hitam adalah jenis teh paling sering diminum, termasuk di Indonesia (Rohayati, 2004). Selain itu, teh hitam memiliki kandungan theaflavin yang lebih besar sehingga terbukti memiliki efek yang lebih yang baik dalam mencegah PJK dibanding teh hijau dan teh oolong (Gardner dkk, 2007: 3-18).

    Indonesia sendiri mulai mengenal teh hitam sejak masa kolonialisme Belanda, tetapi budaya menanam teh masih erat dengan kehidupan rakyat Indonesia yang hingga kini. Bahkan, data World Journal of Agricultural Sciences yang menyatakan bahwa Indonesia adalah produsen teh terbesar ke-5 di dunia pada tahun 2007 (Alkan, 2009). Oleh karena manfaat dan penyebarannya yang begitu luas, teh hitam dapat dijadikan alternatif dalam menurunkan risiko PJK di Indonesia (Dadan, 2007).

    TUJUANTujuan Umum

    Mengurangi prevalensi penyakit

    PENDAHULUANPenyakit jantung koroner (PJK)

    didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana suplai darah dan oksigen ke otot jantung (miokardium) tidak adekuat (Canty dkk, 2008: 1167-1193). Penyebab utamanya adalah adanya plak pada pembuluh darah koroner, yang disebut aterosklerosis, sehingga suplai darah ke miokardium terhambat. Bila tidak tertangani dengan segera, dapat terjadi kerusakan sel jantung yang ireversibel. Angka low density liporotein (LDL) yang tinggi dan high density lipoprotein (HDL) yang rendah, merokok, hipertensi, serta diabetes melitus merupakan faktor risiko mayor terjadinya aterosklerosis (Elliot dkk, 2008: 1514-1527).

    Belum ada data pasti mengenai prevalensi PJK di Indonesia saat ini. Namun sejak tahun 1993 hingga kini, Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa PJK menempati urutan pertama dalam deretan penyebab utama kematian di Indonesia (Lestari, 2007).

    Karena sudah menjadi masalah kesehatan nasional, maka dibutuhkan suatu upaya penanggulangan yang efektif dalam mengatasi PJK. Manajemen terapi yang sering digunakan saat ini, terutama pada fase akut, berupa pemberian fibrinolitik atau dan tatalaksana intervensi, yang dilanjutkan dengan terapi obat. Akan tetapi, penatalaksanaan tersebut harus didukung juga oleh upaya preventif, guna mencegah timbulnya serangan serupa di masa akan datang (Elliot dkk, 2008: 1514-27; Gumiwang dkk, 2007: 1633-1640).

    Walaupun telah dikenal sejak

  • 28 Volume 1, Desember 2010

    jantung koroner di Indonesia

    Tujuan KhususMengetahui potensi dan 1. mekanisme kandungan senyawa teh hitam dalam mencegah penyakit jantung koronerMerumuskan rekomendasi 2. pemanfaatan teh hitam di Indonesia untuk mencegah penyakit jantung koroner

    METODE PENULISANMetode penulisan karya tulis ini

    adalah studi kepustakaan (literature review) dengan mengambil referensi dari jurnal kedokteran dan buku kedokteran terkini. Jurnal yang digunakan antara lain jurnal di bidang kedokteran kardiologi dan vaskular, patologi, gizi, dan herbal teh hitam. Analisis data dilakukan setelah membaca seluruh referensi yang diperlukan. Setelah itu, penulisan karya tulis dilakukan dengan menyintesis dan menganalisis data dari referensi dan menambahkan ide atau pemikiran penulis. Terakhir, penulis merumuskan kesimpulan dan menyusun saran yang bertujuan memberikan rekomendasi terhadap masalah yang dikaji. Selama penulisan karya tulis, penulis berkonsultasi dengan dosen pembimbing yang merupakan pakar dalam penulisan karya tulis ilmiah di

    bidang kedokteran.Penyakit Jantung Koroner Akibat Aterosklerosis

    Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan suatu kondisi di mana suplai darah dan oksigen ke otot jantung (miokardium) tidak adekuat. Penyebab utama PJK adalah aterosklerosis pada arteri koroner, pembuluh darah yang memperdarahi jantung sehingga terjadi reduksi aliran darah dan perfusi yang inadekuat pada miokardium (Canty dkk, 2008: 1167-1193).

    Aterosklerosis itu sendiri merupakan plak dari dalam pembuluh darah yang menonjol keluar sehingga menyumbat serta melemahkan jaringan pembuluh darah tersebut (Gambar 1). Plak itu sering disebut sebagai plak aterom. Secara epidemiologis, aterosklerosis merupakan penyebab utama kematian karena PJK (Canty dkk, 2008: 1167-1193).

    Penyakit aterosklerosis simptomatik meliputi arteri yang memberi suplai darah ke jantung, otak, ginjal, dan ekstremitas bawah. Kematian otot jantung (infark miokardium), stroke, aneurisma pembuluh darah, dan gangren merupakan komplikasi utama dari aterosklerosis. Selain itu, aterosklerosis juga berkaitan dengan kelainan perfusi arteri, baik akut maupun kronik, seperti sudden cardiac death,

    Gambar 2.1Skema perjalanan normal dan morfologi aterosklerosis

    [Schoen, 2004: 515-525]

  • 29Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi

    chronic ishemic heart disease, dan ischemic ensephalopathy (Canty dkk, 2008: 1167-1193).

    Mekanisme TerjadinyaAterosklerosis

    Mekanisme terbentuknya aterosklerosis sejauh ini masih merupakan suatu hipotesis. Awal mulanya adalah terjadi kerusakan pada sel endotel, yakni sel yang melapisi pembuluh darah, yang bersifat kronik. Kerusakan tersebut biasanya tidak berefek dan terakumulasi hingga beberapa tahun. Sebagai akibatnya, keutuhan pembuluh darah mulai terganggu (permeabilitasnya meningkat) dan terjadi perpindahan sel-sel imun seperti leukosit ke daerah rusak tersebut (Elliot dkk, 2008: 1514-1527).

    Permeabilitas pembuluh darah yang terganggu juga akan meningkatkan akumulasi lipoprotein, terutama LDL, dengan kandungan kolesterol yang tinggi pada pembuluh darah. LDL akan diubah menjadi LDL-teroksidasi, yang akan dianggap sebagai benda asing oleh tubuh sehingga akan dimakan (fagosit) oleh sel makrofag. Sel makrofag yang memakan LDL-teroksidasi disebut juga sebagai sel busa (foam cell). Adanya penunpukan sel busa tersebut disebut juga dengan fatty streaks (Elliot dkk, 2008: 1514-1527).

    Fatty streaks merupakan bentuk aterosklerosis awal yang tersusun dari sel-sel busa yang berisi lemak. Sel-sel tersebut tidak meningkat secara signifikan dan tidak menyebabkan gangguan apapun pada aliran darah. Fatty streaks merupakan wilayah datar berwarna kekuningan, diameter kurang dari 1 mm, dan bergabung hingga memanjang 1 cm. Secara umum, fatty

    streaks sudah muncul pada anak-anak usia diatas 10 tahun. Akan tetapi, fatty streaks pada pembuluh koroner dimulai sejak usia remaja, dan lokasi tersebutlah yang akan menjadi tempat terbentuknya plak (Elliot dkk, 2008: 1514-1527).

    Selain itu, adanya kerusakan pada pembuluh darah