laserasi palpebra

Download LASERASI PALPEBRA

Post on 12-Aug-2015

1.015 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

LASERASI PALPEBRA

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Sejumlah mekanisme trauma tumpul dan tajam wajah dapat menyebabkan laserasi kelopak mata. Bahkan benda tumpul yang tampaknya tidak berbahaya di tempat kerja dapat menyebabkan laserasi kelopak mata. Cedera yang melibatkan kelopak mata dan daerah periorbital umumnya terjadi setelah trauma tumpul atau penetrasi pada wajah. Luka tersebut dapat bervariasi dari lecet kulit sederhana sampai kasus yang lebih kompleks yang menyebabkan kehilangan jaringan yang luas serta fraktur tulang-tulang wajah. Pada saat awal pemeriksaan yang menjadi prioritas utama adalah memperhatikan faktor yang mengancam jiwa secara sistemik. Setelah kondisi yang dapat mengancam jiwa stabil, perhatian dapat diarahkan ke luka yang spesifik pada adnexa okular. Pada proses pengembalian struktur dan fungsi harus tetap mengarah pada prinsip-prinsip estetika dasar yang menjadi perhatian utama dari ahli bedah rekonstruksi. Kejadian cedera mata dalam trauma kraniofasial tinggi, berkisar antara 15 dan 60% dalam berbagai penelitian.

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.ANATOMI 2.5.1. PALPEBRA Kelopak mata berfungsi sebagai pelindung yang menutupi mata. Palpebra superior sangat tipis sedangkan palpebra inferior sedikit lebih tebal. Muskulus orbicularis berfungsi sebagai sfingter pada kelopak mata. Muskulus ini diinervasi oleh cabang temporal dan zygomatic dari syaraf wajah. Otot ini dibagi menjadi tiga bagian: pretarsal, preseptal, dan preorbital.

Gambar 1.1 Palpebra potongan sagital

Septum orbita merupakan lembaran tipis yang merupakan jaringan ikat pada kedua kelopak mata atas dan bawah. Bagian ini berasal dari periosteum dari orbital rims. Pada palpebra superior, septum meluas ke inferior mencapai2

aponeurosis levator tepat di atas perbatasan tarsal superior. Pada palpebra inferior, septum meluas ke superior untuk sampai ke perbatasan tarsal inferior. Septum berfungsi sebagai penghalang antara orbita dan kulit kelopak mata. Bagian anterior orbital fat terletak di profundus dari septum orbital. Pada palpebra superior, lemak preaponeurotic terletak antara septum dan aponeurosis levator. Aponeurosis levator pada palpebra superior merupakan tendon dari muskulus levator palpebrae superior. Levator ini berasal dari periorbita yang merupakan bagian posterior dari orbita dan berjalan di anterior superior dari muskulus rektus superior. Muskulus ini berubah menjadi tendon sekitar 15 mm di atas tarsal plate superior kemuadian serat dari muskulus ini berhubungan dengan serat dari orbicularis oculi membentuk lipatan palpebra superior. Serat juga meluas ke tarsus inferior untuk memungkinkan elevasi palpebra. Muller's sympathetic muscle muncul dari serat-serat levator dan masuk ke dalam perbatasan tarsal superior. Fascia capsulopalpebral pada palpebra inferior analog dengan

aponeurosis levator pada palpebra superior. Bagian ini berasal dari muskulus rektus inferior dan menempel ke perbatasan tarsal inferior. Muskulus tarsal inferior palpebra inferior sama dengan muskulus Muller pada palpebra superior. Fascia capsulopalpebral dan muskulus tarsal inferior disebut sebagai retraktor palpebra inferior. Mereka berfungsi untuk menarik palpebra lebih ke inferior dan posterior dengan melirik ke bawah. Tarsal plate terbuat dari jaringan berserat padat yang membentuk struktur dari kelopak mata. Ukuran tebalnya sekitar 1mm dan panjang horisontalnya 25mm. Secara vertikal, tarsus superior berukuran sekitar 10mm sedangkan tarsus inferior biasanya berukuran 5mm. Setiap tarsus mengandung sekitar 30 kelenjar Meibo. Konjungtiva palpebral adalah selaput lendir tipis transparan yang melapisi permukaan belakang masing-masing kelopak mata. Konjungtiva palpebral melekat pada Tarsal plate dan tidak memerlukan penjahitan jika tarsus tersebut diperbaiki. Margo palpebra dibagi menjadi bagian ciliary dan bagian lakrimal. Bagian ciliary merupakan bagian bantalan yang memanjang dari sudut kantus

3

lateral ke punctum lakrimal. Bagian lakrimal meluas dari punctum ke sudut kantus medial. Di bagian ciliary, bulu mata menonjol dari tepi anterior margin. Margo palpebra (dari depan ke belakang) terdiri dari: (1)Anterior Lid Margin; (2) Cilia; (3) Intermarginal space; (4) Gray line = peralihan antara kulit dan mukosa (penting untuk insisi); (5) Muara Glandula Meibom; (6) Posterior Lid Margin.

2.5.2. SISTEM LAKRIMALIS Kelenjar lakrimal terletak di kuadran superolateral anterior dari orbita di fosa lakrimalis. Air mata mencapai hidung karena adanya tarikan ke dalam punctum dari canaliculi oleh tekanan negatif. Tekanan ini dihasilkan oleh kontraksi otot-otot orbiculalis oculi preseptal saat berkedip. Sistem lakrimal ekskretoris terdiri dari canaliculi superior dan inferior, sakus lakrimalis, dan duktus nasolacrimalis. Canaliculi terdiri dari bagian vertikal yang pendek, bagian horizontal, dan area gabungan yang dikenal sebagai common canaliculus. Bagian vertikal yang pendek biasanya berukuran sekitar 2mm sedangkan bagian horizontal berukuran 6-8mm. Sakus lakrimalis dibagi menjadi fundus dan corpus. Fundus terletak bagian atas canaliculis (4mm) dan corpus terletak bagian bawah canaliculis (10mm). Duktus nasolacrimal berjalan di kanal tulang sepanjang 12-15mm ke arah inferior dan posterior sebelum bermuara ke meatus inferior.

4

Gambar 1.2 Sistem lakrimalis

2.2. BATASAN Berbagai mekanisme trauma seperti kecelakaan mobil, perkelahian, gigitan binatang, dan berbagai mekanisme lain dapat merusak kelopak mata dan sistem drainase air mata. Sedangakan yang disebut sebagai laserasi kelopak mata merupakan rudapaksa pada kelopak mata akibat benda tajam yang mengakibatkan luka robek/laserasi.

2.3. KLASIFIKASI Kerusakan pada kelopak mata diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan lokasi: Untuk pasien muda (tight lids) o o o Small - 25-35% Medium - 35-45% Large - > 55%

5

Untuk pasien yang lebih tua (lax lids) o o o Small - 35-45% Medium - 45-55% Large - > 65%

Kerusakan khas mungkin melibatkan 50% dari bagian tengah kelopak mata atas. Keterlibatan margin kelopak mata harus diperhatikan. Jika margin kelopak mata terhindar, penutupan dengan flap lokal atau skin graft mungkin sudah cukup. Setelah margin terlibat, perbaikan bedah harus mengembalikan integritas dari margin kelopak mata.

2.4. PATOFISIOLOGI 2.5.1. TRAUMA TUMPUL Echimosis dan edema termasuk dalam manifestasi klinis trauma tumpul. Pasien membutuhkan evaluasi biomikroskopik dan pemeriksaan fundus dengan pupil yang dilebarkan untuk menyingkirkan permasalahan yang terkain kelainan intraokular. CT scan di perlukan untuk mengetahui adanya fraktur.

Gambar 1.3 Echimosis dan edema akibat trauma tumpul

6

2.5.2. TRAUMA BENDA TAJAM Pengetahuan yang mendetail tentang anatomi palpebra membantu dokter ahli bedah untuk memperbaiki trauma tajam palpebra. Secara umum, penanganan trauma tajam palpebra tergantung kedalaman dan lokasi cedera.

2.5.3. LASERASI YANG TIDAK MELIBATKAN MARGO PALPEBRA Laserasi pada palpebra superficial hanya terdapat pada kulit dan otot orbicularis biasanya hanya memerlukan jahitan pada kulitnya saja. Untuk menghindari sikatrik yang tidak di kehendaki, harus mengikuti prinsip dasar tindakan bedah plastik. Hal ini termasuk debridemant luka yang sifatnya konservatif, menggunakan benang dengan ukuran yang kecil. Menyatukan tepi luka sesegera mungkin dan melakukan pengangkatan jahitan. Adanya lemak orbita di dalam luka menyatakan bahwa septum orbita telah terkena. Bila terdapat benda asing di daerah superfisial harus dicari sebelum laserasi pada palbebra di jahit. Melakukan irigasi untuk menghilangkan kontaminasi material di dalam luka. Prolaps lemak orbita pada palpebra superior merupakan indikasi untuk melakukan eksplorasi, laserasi pada otot levator atau aponeurosis harus dengan hati-hati melakukan perbaikan untuk menghindari ptosis post operasi.

Gambar 1.4 Laserasi palpebra tanpa melibatkan margo palpebra

7

2.5.4. LASERASI PADA MARGO PALPEBRA Laserasi pada margo palpebra memerlukan jahitan untuk menghindari tepi luka yang tidak baik. Banyak teknik teknik sudah diperkenalkan tapi pada prinsip pentingnya adalah aproksimasi tarsal harus dibuat dalam garis lurus.

Gambar 1.5 Laserasi pada margo palpebra

2.5.5. TRAUMA PADA JARINGAN LUNAK KANTUS Trauma pada medial atau lateral kantus pada umumnya disebabkan oleh adanya tarikan horizontal pada palpebra menyebabkan avulsi dari palpebra pada titik lemah medius atau lateral dari tendon kantus. Avulsi dari tendon kantus medial harus dicurigai bila terjadi di sekitar medial tendon kantus dan telekantus. Harus diperhatikan juga posterior dari tendon sampai dengan posterior kelenjar lakrimalis. Penanganan avulsi dari tendon medial kantus tergantung pada jenis avulsinya. Jika pada bagian atas atau bagian bawah terjadi avulsi tetapi pada bagian posterior masih intake avulsi dapat di jahit. Jika terdapat avulsi pada posterior tetapi tidak ada fracture pada nasoorbital tendon yang mengalami avulsi harus di lakukan wirering melalui lubang kecil di dalam kelenjar lakrimal ipisi lateral posterior. Jika avulsi tendon disertai dengan fraktur nasoorbital, wirering transnasal atau platting diperlukan setelah reduksi dari fraktur. 2.5.6. GIGITAN ANJING DAN MANUSIA Robekan dan trauma remuk terjadi sekunder dari gigitan anjing atau manusia. Laserasi palpebra pada sebagian kulit luar dan kulit secara menyeluruh, avulsi kantus, laserasi kanalikulus paling sering terjadi. Trauma pada wajah dan intracranial mungkin dapat terjadi terutama pada bayi.8

Irigasi dan penutupan luka secara dini harus segera dilakukan dan kemungkinan terjadinya tetanus dan rabies harus dipikirkan serta memerlukan observasi, direkomendasikan untuk pemberian antibiotik.

Gambar 1.6 Laserasi akibat gigitan anjing 2.5.7. LUKA BAKAR PADA PALPEBRA Pada umumnya luka bakar pada palpebra terjadi pada