kajian ipe

Download kajian ipe

Post on 30-Mar-2016

287 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Produk HPEQ kajian ipe

TRANSCRIPT

  • ii

    LAPORAN PENELITIAN

    PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE)

    Marioyono Sedyowinarso

    Fitri Arkham Fauziah

    Nurita Aryakhiyati

    Mawar Putri Julica

    Lafi Munira

    Endah Sulistyowati

    Fatia Nur Masriati

    Samuel Josafat Olam

    Candrika Dini

    Maryam Afifah

    Redho Meisudi

    Saskia Piscesa

    CIMSA | ISMKI | PSMKGI | ILMIKI | IMABI

    ISMAFARSI | ISMKMI | ILMAGI

    Didukung oleh:

    Health Professional Education Quality (HPEQ) Project

    Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional RI

  • iii

    PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN INTERPROFESSIONAL EDUCATIO (IPE)

    RANGKUMAN

    Latar Belakang: Pelayanan kesehatan yang bermutu menjadi tuntutan bagi pemberi pelayanan kesehatan di era global. Pelayanan kesehatan yang bermutu dapat dicapai dengan praktek kolaborasi. Namun pada penerapannya, profesional kesehatan yang paling pandai sekalipun akan kesulitan menerapkan kolaborasi tanpa pelatihan. Bekal tentang kolaborasi dapat diterapkan sejak tahap pendidikan melalui interprofessional education (IPE). Mahasiswa ilmu kesehatan sebagai profesional bidang kesehatan masa mendatang di Indonesia perlu mendapatkan pelatihan kolaborasi melalui IPE. Pengembangan model pembelajaran IPE di tingkat institusi perlu melibatkan peran serta mahasiswa agar kebutuhan dan keinginan belajar mahasiswa sehingga sangat penting untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap model pembelajaran yang sesuai untuk IPE. Pembelajaran IPE yang berjalan baik diharapkan dapat menghasilkan profesional di bidang kesehatan yang mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain, sehingga dapat berperan serta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Tujuan Penelitian: mengetahui persepsi mahasiswa dan dosen ilmu kesehatan Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan Focused Group Discussin (FGD) pada mahasiswa pendidikan tinggi ilmu kesehatan Indonesia dari pendidikan dokter, pendidikan dokter gigi, ilmu keperawatan, kebidanan, farmasi, ilmu gizi, dan kesehatan masyarakat dari institusi pendidikan tinggi ilmu kesehatan yang sekurang-kurangnya memiliki 2 bidang keilmuan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Desember 2011. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran persepsi mahasiswa dan dosen pendidikan tinggi ilmu kesehatan Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE Kesimpulan: (1) Kompetensi dalam pembelajaran IPE, meliputi kompetensi pengetahuan, ketrampilan, sikap , dan kemampuan kerja tim. (2) Alternatif metode pembelajaran yang mungkin untuk penerapan IPE, adalah metode pembelajaran yang bisa didesign secara komprehensif dan kolaboratif meliputi kuliah, diskusi tutorial, skills laboratorium, field study, KKN, kepaniteraan, praktik klinik. Selain hal tersebut penumbuhan proses belajar bersama bisa dilakukan pada saat orientasi mahasiswa baru dan dalam kegiatan organisasi mahasiswa . (3) Topik yang menarik untuk penerapan IPE, meliputi topik-topik yang memungkinkan untuk mengembangkan kerja tim seperti konsep kolaborasi, masalah kesehatan global, masalah bencana,

  • iv

    upaya promotif dan preventif , pelayanan klinis dan komunitas. (4) Penerapan IPE diharapkan suatu proses yang berkesinambungan yang dimulai sejak mahasiswa baru, saat pendidikan tahap akademik dan tahap profesi. (5) Karakteristik dosen ideal dalam memfasilitasi pembelajaran IPE adalah memahami konsep IPE, memahami kompetensi tiap profesi kesehatan, memiliki pengalaman kolaborasi, inovatif, jiwa pemimpin, dan komunikatif. (6) Indikatorkeberhasilan program IPE yaitu adanya bagian khusus coordinator program IPE, standar pencapaian hasil belajar, adanya standar evaluasi, yang dituangkan dalam standaar iput, proses dan output. (7)Persiapan untuk pelakasanaan IPE komitmen antar institusi pendidikan profesi kesehatan, fasilitator yang kompeten dan paham IPE, fasilitas fisik, bagian khusus untuk mengkoordinir program IPE, standar pelaksanaan program IPE, modul pembelajaran dan standar evaluasi program. Hal ini diperkuat dengan adanya kekuatan regulasi dan kekuatan hukum. (8) Hambatan dalam pelaksanaan IPEadalah dari ego masing masing profesi, beragamnya birokrasi dan kurikulum di tiap institusi pendidikan profesi kesehatan, fasilitas fisik dan konsep pembelajaran yang belum jelas, paradigma terhadap profesi kesehatan , kekaburan identitas dan peran masing masing profesi, belum adanya kejelasan paying hokum tiap profesi kesehatan, serta budaya .

  • v

    HALAMAN PENGESAHAN

    1. Judul Kegiatan : Persepsi Mahasiswa dan Dosen Pendidik Terhadap Model Pembelajaran Interprofessional Educatio (IPE)

    2. Bidang Ilmu : Pendidikan Profesi Kesehatan 3. Ketua Pelaksana Kegiatan

    a. Nama Lengkap : Mariyono Sedyowinarso, S.Kp., M.Si b. NIP : 19650811 198803 1 001 c. Alamat / No HP : Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman

    Yogyakarta / 08122969342 d. Alamat email : mariyonosw@yahoo.com

    4. Anggota Pelaksana : 11 orang 1) Fitri Arkham Fauziah, S.Kep. 2) Nurita Aryakhiyati, S.Kep. 3) Mawar Putri Julica, S.Kg. 4) Lafi Munira 5) Endah Sulistyowati 6) Fatia Nur Masriati 7) dr. Samuel Josafat Olam 8) Candrika Dini 9) Maryam Afifah 10) Redho Meisudi 11) Saskia Piscesa

    5. waktu pelaksanaan : 5 bulan

    Jakarta, 1 Desember 2011 Mengetahui,

    Sekretaris Eksekutif Proyek HPEQ-DIKTI

    Dr. dr. Arsitawati P. Rahardjo, MA-HM

    Ketua Pelaksana

    Mariyono Sedyowinarso, S.Kp., M.Si

    Menyetujui, Ketua Proyek HPEQ-DIKTI

    Dr. Ir. Ilah Sailah M.S.

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Pendidikan adalah kunci untuk mengembangkan dan mengubah metode serta

    kualitas pelayanan kesehatan (Majumdar et al., 1998 cit Steinert, 2005).

    Interprofessional education (IPE) adalah salah satu konsep pendidikan yang

    dicetuskan oleh WHO sebagai pendidikan yang terintegrasi untuk peningkatan

    kemampuan kolaborasi. Centre for the Advancement of Interprofessional Education

    (CAIPE) (2002) menyebutkan, IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi kesehatan

    belajar bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masing-

    masing profesi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan kualitas

    pelayanan kesehatan. Menurut Universitas Toronto (2009) IPE bertujuan untuk

    menghasilkan mahasiswa profesi kesehatan dengan pengetahuan, keterampilan, dan

    sikap yang sesuai dengan praktek kolaborasi interprofesional.

    Penelitian yang diakukan oleh Larson (1995) dan diperkuat penelitian lebih

    lanjut oleh American Association of Colleges of Nursing, pada tahun 1995 ditemukan

    bahwa 15% dari institusi pendidikan keperawatan dan kedokteran di Amerika Serikat

    berhasil melakukan program interdisiplin yang terdiri dari disiplin ilmu yang berbeda.

    Penelitian yang dilakukan Stewart et al. (2010) menujukkan bahwa setelah dilakukan

    workshop pendekatan interprofesional pengobatan pediatrik terhadap 48 mahasiswa

    kedokteran dan 20 mahasiswa keperawatan terdapat peningkatan pengetahuan dan

  • 2

    kesadaran tentang keamanan pengobatan dan penyebab-penyebab kesalahan medikasi

    pada pediatrik. Mahasiswa melaporkan bahwa belajar membuat resep dan

    administrasi obat pada pediatrik akan lebih efektif jika dilakukan bersama profesi

    kesehatan dari disiplin ilmu lain dibandingkan dengan hanya dengan satu disiplin

    ilmu.

    Uraian di atas menjabarkan betapa pentingnya penerapan IPE untuk peningkatan

    kemampuan kolaborasi profesional di bidang kesehatan. Untuk itu organisasi

    mahasiswa ilmu kesehatan yang terdiri dari Center for Indonesian Medical Students'

    Activities (CIMSA), Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI), Ikatan

    Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI), Persatuan Mahasiswa

    Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI), Ikatan Mahasiswa Kebidanan (IMABI),

    Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI), Ikatan Senat

    Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), dan Ikatan Lembaga

    Mahasiswa Ilmu Gizi Indonesia (ILMAGI) bersama-sama dengan Direktorat Jenderal

    Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas)

    melalui Health Professional Education Quality (HPEQ) Project memandang perlu

    untuk melakukan penelitian dan pengkajian lebih jauh tentang IPE pada mahasiswa

    dan dosen pengajar ilmu kesehatan di Indonesia. Kajian yang akan dilakukan berupa

    pengukuran persepsi dan kesiapan mahasiswa dan dosen pengajar ilmu kesehatan

    Indonesia dari tujuh profesi kesehatan terhadap IPE, menggali harapan mahasiswa

    dan dosen pengajar ilmu kesehatan Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE

  • 3

    yang memungkinkan untuk diterapkan, serta menilai efektifitas pembelajaran IPE

    melalui simulasi.

    Kajian IPE pada mahasiswa merupakan bentuk kajian awal yang paling penting

    dan paling sering dilakukan di beberapa negara yang telah menerapkan dan mulai

    mengembangkan IPE karena mahasiswa merupakan pemangku kepentingan utama

    dalam upaya pengembangan dan penerapan IPE mulai dari tingkat institusi. Persepsi

    mereka terhadap metode pembelejaran IPE dapat menjadi modal utama untuk

    pengembangan IPE.

    Penelitian IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar di Indonesia sudah mulai

    dilakukan di institusi pendidikan tinggi formal yang menyelenggarakan program

    pendidikan lebih dari satu program. Penelitian yang dilakukan oleh Ala (20