hubungan motivasi kerja perawat terhadap kinerja …

of 125 /125
HUBUNGAN MOTIVASI KERJA PERAWAT TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP : SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIK Oleh DESTRI UTARI 18.14201.90.06 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA PALEMBANG 2020

Author: others

Post on 06-Nov-2021

5 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP : SEBUAH
TINJAUAN SISTEMATIK
PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP : SEBUAH
TINJAUAN SISTEMATIK
SARJANA KEPERAWATAN
Hubungan Motivasi Kerja Perawat Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Ruang
Rawat Inap : Sebuah Tinjauan Sistematik
(xiii + 25 halaman + 6 tabel + 1 Bagan + 3 Lampiran)
Kualitas pelayanan professional suatu Rumah Sakit dapat dilihat dari penampilan
kinerja Rumah Sakit tersebut. Tugas tidak akan dapat diselesaikan dengan baik tanpa
didukung oleh suatu kemauan dan motivasi. Jika seseorang telah melaksanakan tugas
dengan baik, maka dia akan mendapatkan kepuasan terhadap hasil yang dicapai dan
tantangan selama proses pelaksanaan. motivasi merupakan salah satu factor yang
berhubungan dengan tinggi rendahnya kinerja seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan motivasi kerja perawat terhadap kinerja perawat pelaksana di Ruang
Rawat Inap. Metode yang lebih dominan dan lebih sering digunakan dalam penelitian
terkait dari review literature 9 jurnal tentang hubungan hubungan motivasi kerja perawat
terhadap kinerja perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap yaitu metode analitik dan
pendekatan secara Cross Sectional dengan uji Chi-Square. Pada review literature ini
menunjukkan bahwa ada hubungan hubungan motivasi kerja perawat terhadap kinerja
perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap. Kesimpulan dari penelitian terdapat hubungan
hubungan motivasi kerja perawat terhadap kinerja perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap.
Kata Kunci : Motivasi Kerja Perawat, Kinerja Perawat
Daftar Pustaka : 20 (2013 – 2020)
iv
NURSING SCIENCE STUDY PROGRAM
Student Thesis, August 2020
Destri Utari
The Relationship of Nurses' Work Motivation on Nurse Performance in Inpatient Rooms:
A Systematic Review
(xiii,25 Pages, 6 Tables,1Chart+3Attachment)
The quality of professional service in a hospital can be seen from the performance of the
hospital. Tasks will not be able to build properly without the support of a will and
motivation. If someone has done a job well, then he will get satisfaction with the results
achieved and the challenges during the implementation process. This satisfaction can be
created with a strategy of providing rewards that are achieved both physically and
psychologically and by increasing motivation. Motivation is one of the factors associated
with a person's low performance. This study aims to determine the relationship between the
motivation and the performance of nurses in the inpatient room. The method that was more
dominant and more frequently used in related research from literature review 9 journals on
the relationship of work motivation of nurses to the performance of nurses in the inpatient
room was the analytical method and the cross sectional approach with the Chi-Square test.
This literature review showed that there was a relationship between the work motivation
and the performance of nurses in the inpatient room. The conclusion of this study is that
there is a relationship between work motivation and the performance of nurses in the
inpatient room.
Bibliography : 20 (Years 2015 - 2020)
v
vi
vii
Jenis Kelamin : Perempuan
Email : [email protected]
Tahun 2009-2012 : SMP Negeri 12 Palembang
Tahun 2012-2015 : SMA PGRI 2 Palembang
Tahun 2013-2018 : STIK Siti Khadijah Palembang
Tahun 2018-2020 : STIK Bina Husada Palembang
viii
diriku dan orang-orang yang kusayangi.
Teruntuk kedua orang tuaku tercinta Papa Suratman dan Mama Erma Suryani yang
selalu kusebut dalam do’aku dan selalu memberikan dukungan serta semangat dan
kasih sayangnya selama ini, terima kasih atas usaha dan kerja keras yang kalian
lakukan demi untuk kesuksesanku.
Teruntuk kedua saudara perempuanku Debbi Rinzani dan Siska Dwi Ermilia yang
selalu memberikan semangat dan kasih sayang persaudaraan. “semoga kita bisa sukses
bersama dan menjadi kebanggan kedua orang tua kita”
Teruntuk teman terdekatku Fakhry Ridho, SH yang hampir 8 (delapan) tahun ini
selalu menemaniku, memberikan semangat.
Motto :
“Rumput ditaman tetangga akan terlihat selalu lebih hijau kalau kita tidak bisa
mensyukuri warna-warni bunga ditaman kita sendiri, Maka BERSYUKURLAH”
ix
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji Syukur kita sampaikan atas kehadiran Allah SWT, yang senantiasa memberikan
rahmat dan karunia-Nya. Salawat dan salam kami sampaikan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa manusia ke alam yang penuh dengan pengetahua,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat dalam
menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Bina Husada
Palembang Program Studi Ilmu Keperawatan.
Skripsi ini ditulis dengan judul : “Hubungan Motivasi Kerja Perawat Terhadap Kinerja
Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap” guna memenuhi salah satu syarat dalam rangka
menyelesaikan Pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Bina Husada
Palembang.
kepada yang terhormat :
1. Dr. Amar Muntaha, SKM.,M.Kes selaku ketua STIK Bina Husada Palembang.
2. Ns. Kardewi S.Kep.,M.Kes selaku Ketua Jurusan Keperawatan STIK Bina Husada
Palembang
3. Ns. Sutri Sari Sabrina Nainggolan, S.Kep, M.Kep selaku Ketua Program Ilmu
Keperawatan STIK Bina Husada Palembang
4. Ns. Amalia, S.Kep, M.Kep selaku dosen Pembimbing yang telah menyediakan waktu
dan tenaga dalam mengarahkan dan membimbing saya dalam menyelesaikan penulisan
Literatur Review ini.
x
5. Ns. Romliyadi, S.Kep,. M.Kes selaku dosen Penguji 1 dan Ns. Yunita Liana, S.Kep
M.Kes selaku dosen penguji 2 dalam seminar Skripsi Terima Kasih atas waktu,
masukan dan saran serta arahannya dalam seminar Skripsi ini
6. Seluruh Staf dan Dosen Program Studi S1 Keperawatan STIK Bina Husada Palembang
Penulis mengucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diberikan semoga amal
yang telah diberikan mendapat imbalan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa Skripsi
ini banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan
keahlian. Untuk itu penulis harapkan saran dan masukan untuk kesempurnaan Skripsi ini.
Akhirnya semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya Amin.
Palembang, 24 Agustus 2020
ABSTRAK. ................................................................................................. iii
ABSTRACT. ............................................................................................... iv
RIWAYAT HIDUP PENULIS. .................................................................. vii
UCAPAN TERIMAKASIH ........................................................................ ix
DAFTAR ISI ............................................................................................... xi
DAFTAR BAGAN ...................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
2.2.2 Kriteria Inklusi. .................................................................... 8
2.4. Ekstraksi Data. .............................................................................. 9
3.1.2 Kinerja Perawat.................................................................... 19
BAB IV KESIMPULAN
4.1. Kesimpulan. .................................................................................. 23
xiv
Tabel 2.2 Kriteria Inklusi dan Eksklusi .............................................................. 8
Tabel 2.3 Kriteria Kualitas Studi ........................................................................ 9
Tabel 2.4 Ekstraksi Data .................................................................................... 10
xv
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran
1. Jurnal Haerani, Julianus Ake, Suryani As’ad “Hubungan Motivasi Ekstrinsik dengan
Kinerja Perawat Pelaksana dalam Pelaksanaan Asuhan Keperawatan”
2. Jurnal Nur Miladiyah R, Mustikasari, Dewi Gayatri “Hubungan Motivasi dan
Komitmen Organisasi dengan Kinerja Perawat dalam Pelaksanaan Dokumentasi
Asuhan Keperawatan”
3. Jurnal Jurnal Brema Prima, Herbert Wau, dan Marlinang Siagian “Hubungan Motivasi
Kerja Perawat dengan Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Royal
Prima Medan Tahun 2019”
Motivasi dan Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Jiwa Provinsi
5. Jurnal Rini Astuti, Oki Prima Anugrah Lesmana “Pengaruh Motivasi dan Beban Kerja
terhadap Kinerja Perawat pada Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan”
6. Jurnal M.Arfiki Zainaro, Usastiawaty Cik Ayu saadiah isnainy, Prima Dian Furgoni
Kiramahwati “Pengaruh Motivasi kerja terhadap kinerja perawat pelaksana di Ruang
Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Alimuddin Umar Kabupatem Barat”
7. Jurnal Indra Surya Permana, Retina Sri Sedjati, Nining Kusniasih “Pengaruh Faktor
motivasi instrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja Perawat di RSUD 45 Kabupaten
Kuningan”
8. Jurnal Wenur T Melissa, Ardiansa A.T Tucunan, Chreisye K.F Mandagi “Hubungan
Motivasi kerja dengan kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Ghim Bathesda
Tomohon”
9. Jurnal Hiskia Sumakul, Paul A.T Kawatu, Afnal Asrifuddin “Hubungan antara
motivasi kerja dengan kinerja pada perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Amurang
Kabupaten Minahasa Selatan.
Rumah sakit adalah suatu institusi yang fungsi utamanya adalah memberikan
pelayanan kepada pasien. Pelayanan tersebut merupakan diagnostik dan terapeutik
untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan baik yang bersifat bedah maupun non
bedah. Sebuah Rumah Sakit dianggap baik apabila dalam memberikan layanan lebih
memperhatikan kebutuhan pasien maupun orang lain yang berkunjung ke Rumah Sakit.
Kepuasan muncul dari kesan pertama masuk pasien terhadap pelayanan keperawatan
yang diberikan, misalnya pelayanan yang cepat, tanggap dan keramahan dalam
memberikan pelayanan keperawatan (Triwibowo, 2013).
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun terjadi peningkatan
kebutuhan akan tenaga kesehatan salah satunya tenaga keperawatan. Perawat adalah
profesi/tenaga kesehatan yang jumlah dan kebutuhannya paling banyak diantara tenaga
kesehatan lainnya. Pemetaan dari BPPSDMK didapatkan data pemetaan perawat
meningkat tiap tahunnya dimulai dari tahun 2015 yang berada pada kurva angka
210.000 naik pada tahun 2016 di angka 300.000 selanjutnya pada tahun 2017 mencapai
angka 350.000 dan tertinggi pada tahun 2018 yaitu 400.000 perawat, namun sedikt
mengalami penurunan angka pada tahun 2019 yaitu di angka 380.000 perawat
(Kemenkes RI, 2019).
Data Sumatera Selatan didapatkan bahwa dari 473 Fasyankes yang ada dengan
jumlah penduduk 8.370.320 terdapat 1:154 perawat saat ini (BPPSDMK Kemenkes,
2019). Perawat adalah tenaga professional yang mempunyai kemampuan baik
2
melaksanakan asuhan keperawatan (Triwibowo, 2013).
Menurut UU RI Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, perawat adalah
mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan
berdasarkan ilmu yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan keperawatan (Budiono &
Pertami, 2015).
penampilan kinerja Rumah Sakit tersebut. Tugas tidak akan dapat diselesaikan dengan
baik tanpa didukung oleh suatu kemauan dan motivasi. Jika seseorang telah
melaksanakan tugas dengan baik, maka dia akan mendapatkan kepuasan terhadap hasil
yang dicapai dan tantangan selama proses pelaksanaan. Kepuasan tersebut dapat tercipta
dengan strategi memberikan penghargaan yang dicapai baik berupa fisik maupun psikis
dan peningkatan motivasi (Haerul A, 2013).
Motivasi sangat diperlukan karena dengan motivasi pegawai akan lebih
bersemangat dan bertanggung jawab dalam bekerja sehingga kinerja menjadi lebih baik.
Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat
komitmen seseorang. Hal ini termasuk factor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan,
dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekat tertentu. Motivasi adalah
segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi adalah
perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau
menjalankan kekuasaan, terutama dalam berperilaku (Nursalam, 2014).
Menurut Rahmatika (2014) menyatakan bahwa motivasi merupakan salah satu
factor yang berhubungan dengan tinggi rendahnya kinerja seseorang. Motivasi dibagi
3
atas dua jenis yaitu factor ekstrinsik yaitu dorongan yang bersumber dari luar individu
tetapi turut berpengaruh terhadap pekerjaan yang dihasilkan dan faktor intrinsik yaitu
dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan yang berasal dari diri sendiri
yang berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan. factor ekstrinsik terdapat
enam indicator yaitu kompensasi, kondisi kerja, kebijakan dan administrasi perusahaan.
Hubungan antar pribadi, supervisi dan keamanan kerja sedangkan dalam factor
instrinsik terdapat lima indicator yaitu prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri,
tanggung jawab dan pengembangan potensi individu (Lestari, 2015).
Pernyataan teori diatas sejalan dengan pendapat Miladiyah (2015) yang
menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan peneliti, bahwa salah satu factor
motivasi ekstrinsik yang dapat meningkatkan kinerja adalah supervisi pimpinan.
Tingginya supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat dalam pelaksanaan
dokumentasi menghasilkan kualitas dokumentasi asuhan keperawatan yang baik. Ada
tiga ruangan (37,5%) yang memiliki kinerja dokumentasi asuhan keperawatan yang baik
(>85%) karena mendapatkan supervisi dari kepala ruangan secara optimal, kepala
ruangan memberikan bimbingan proses dokumentasi asuhan keperawatan dan umpan
balik terhadap hasil asuhan keperawatan yang telah didokumentasikan.
Peningkatan motivasi ekstrinsik dilakukan dengan peningkatan kesejahteraan
staf. Berdasarkan analisis instrument perawat merasa adanya penghargaan yang
disesuaikan dengan beban kerja dan kinerja membuat mereka lebih termotivasi dalam
meningkatkan kinerjanya (Miladiyah, 2015). Menurut hasil penelitian yang dilakukan
oleh Nazvia Natasia, dkk. (2014) dengan judul penelitian Hubungan antara faktor
motivasi dan supervisi dengan kinerja perawat dalam pendokumentasian discharge
4
yang bermakna dengan p value < 0,05.
Hasil penelitian diatas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Brema Prima, dkk (2019) dengan judul penelitian Hubungan motivasi kerja perawat
dengan kinerja perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Royal Prima Medan. Dan
hasil penelitian yaitu didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
hubungan interpersonal dengan kinerja perawat, tidak ada hubungan yang signifikan
antara pengembangan diri dengan kinerja perawat, ada hubungan yang signifikan antara
beban kerja dengan kinerja perawat di ruang rawat inap.
Berdasarkan latar belakang diatas maka perlu dilakukan rangkuman literature
yang bertujuan untuk mengetahui Hubungan motivasi kerja perawat terhadap kinerja
perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap.
1.2 Pertanyaan penelitian
menggunakan rumusan berdasarkan item PICOS/PICOC. Adapun pertanyaan penelitian
ini dapat dilihat pada table berikut ini :
Yang selanjutnya jika dirumuskan dalam bentuk pertanyaan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah motivasi kerja perawat dalam melaksanakan tugas asuhan
keperawatan di Ruang Rawat Inap?
2. Bagaimanakah kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Ruang
Rawat Inap?
5
3. Apakah hubungan motivasi kerja perawat terhadap kinerja perawat pelaksana di
Ruang Rawat Inap?
1.3 Tujuan penelitian
1. Teridentifikasinya motivasi kerja perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap
2. Teridentifikasinya kinerja perawat pelaksana dalam melaksanakan asuhan
keperawatan di Ruang Rawat Inap
3. Teridentifikasinya hubungan motivasi kerja perawat terhadap kinerja perawat
pelaksana dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap
6
2.1.1 Sumber Pencarian
Pencarian data pada penelitian ini mengacu pada sumber data based seperti
Pubmed, sinta, portal garuda, google Scholar yang sifatnya resmi yang disesuaikan
dengan judul penelitian, abstrak dan kata kunci yang digunakan untuk mencari artikel.
Kata kunci ini disesuaikan dengan pertanyaan penelitian yang telah dibuat sebelumnya .
2.1.2 Strategi Pencarian
Population
(Populasi)
Intervention
(Intervensi)
Comparison
(Perbandingan)
Outcome
(Hasil)
Konsep
utama
Perawat
Seleksi studi berpedoman pada Diagram PRISMA (2009) yang alurnya dapat
dilihat pada Bagan 2.1
disaring (n=9)
Participant/ population (populasi) Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap
Intervention (intervensi) Intervensi Motivasi kerja perawat
pelaksana
Participant/ population (populasi) Perawat yang bekerja di Poliklinik rawat
jalan dan IGD
selanjutnya dilakukan ekstraksi data. Ekstraksi data dalam penelitian ini akan dilakukan
secara manual dengan membuat format yang berisi tentang tipe artikel, nama jurnal atau
konferensi, tahun, judul, kata kunci, metode penelitian.
Pencarian Literatur Dipublikasikan hanya dari jurnal
terindeks SINTA
penulis/peninjau
sementara yang lain memverifikasi
memverifikasi
mandiri menilai studi
orang yang ahli
Penilai Kualitas Studi
Studios from JBI
No Author Thn Volume,
kali lebih tinggi
signifikan antara
hubungan interpersonal
dengan kinerja
perawat, tidak
Scopus
12
inap.
hubungan
Analisis
3,17).
Scopus
13
diperoleh
diterima, berarti
Ruang rawat
inap RSUD
sebanyak 34
kinerja perawat
baik 63,8%,
responden yang
(36,5%)
atau (p< 0,05).
Setelah melewati tahap protokol sampel, maka akan dilakukan dengan menghubungkan
semua data yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekssklusi menggunakan teknik secara
deskriptif untuk memberikan gambaran terkait dari permasalahan yang diteliti.
17
Menurut artikel yang ditulis oleh Haerani (2015) menyatakan bahwa motivasi
ekstrinsik terdiri dari hubungan interpersonal, kondisi kerja dan pendapatan, hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar hubungan interpersonal perawat dalam
kategori baik sebanyak 59 orang (60,2%), sebagian besar perawat merasa kondisi kerja
baik sebanyak 61 orang (62,2%), sebagian besar perawat merasa pendapatan yang
diterima cukup sebanyak 54 orang (55,1%) dan sebagian besar besar kinerja perawat
baik sebanyak 59 orang (60,2%). Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan
oleh Miladiyah (2015) bahwa peningkatan motivasi ekstrinsik dilakukan dengan
peningkatan kesejahteraan staf. Berdasarkan analisis instrument perawat merasa adanya
penghargaan yang disesuaikan dengan beban kerja dan kinerja membuat mereka lebih
termotivasi dalam meningkatkan kinerjanya.
Menurut artikel yang selanjutnya yang ditulis oleh M. Arifki Zainaro, dkk
(2017) menyatakan bahwa sebagian besar motivasi kerja perawat pelaksana di Ruang
Rawat Inap RSUD Alimuddin Umar Kabupaten Lampung Barat kurang baik yaitu
sebanyak 32 orang (53,3%), dan dengan motivasi baik sebanyak 28 orang (43,3%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Vroom dalam Nursalam (2014) tentang
Cognitive Theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan
sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu
sangat dapat ia inginkan. Tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga
18
komponen yaitu ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas, instrumentalis
yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas
(keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu), valensi yaitu respon terhadap
outcome seperti perasaan posesif, netral atau negative. Motivasi tinggi jika usaha
menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan, motivasi rendah jika usahanya
menghasilkan kurang dari yang diharapkan.
Pernyataan diatas juga sejalan dengan artikel yang ditulis oleh Nur Miladiyah
(2015) menyatakan bahwa motivasi perawat dipersepsikan masih kurang (58,5%.
Motivasi yang dirasakan masih kurang adalah motivasi instrinsik (57,5%) dan motivasi
ekstrinsik (55,7%). Motivasi sangat diperlukan karena dengan motivasi pegawai akan
lebih bersemangat dan bertanggung jawab dalam bekerja sehingga kinerja menjadi lebih
baik. Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada
tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk factor-faktor yang menyebabkan,
menyalurkan, dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekat tertentu.
Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan
atau menjalankan kekuasaan, terutama dalam berperilaku (Nursalam, 2014).
Berdasarkan artikel yang dijelaskan diatas maka peneliti dapat mengambil
kesimpulan bahwa motivasi sangat dibutuhkan perawat untuk mendorong semangat
serta rasa bertanggung jawab dalam bekerja, ada dua motivasi yang saling berkaitan
yaitu mitivasi dari dalam diri dan dari luar diri dimana kedua hal ini sama-sama
mendukung meningkatan kinerja seseorang perawat dalam melaksanakan tanggung
jawabnya.
19
Menurut atikel yang dikemukan oleh Rini Astuti (2018) yang menyatakan
bahwa pengujian yang dilakukan secara simultan menunjukkan bahwa variable motivasi
(XI), dan beban kerja (X2) berpengaruh signifikan terhadap kinerja (Y) pada Rumah
Sakit Umum Mitra Medika Medan, dikarenakan hasil Fhitung (14,135) > Ftabel (3,34)
dengan nilai signifikan 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan nilai R square
sebesar 0,494 atau 49,4% yang berarti bahwa hubungan antara kinerja (Y) dengan
motivasi (X1 dan beban kerja (X2) adalah rendah, sedangkan sisanya 50,6% variable-
variabel lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh positif dan signifikan variable motivasi dan beban kerja terhadap variable
kinerja, artinya ada pengaruh atau hubungan yang searah antara motivasi dan beban
kerja terhadap kinerja secara nyata. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh kasmir (2015) bahwa kinerja karyawan dipengaruhi oleh motivasi.
Motivasi kerja merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan. Jika
karyawan memiliki dorongan bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan. Jika diluar
dirinya (misalnya dari pihak perusahaan), maka karyawan akan terangsang atau
terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik.
Menurut artikel yang selanjutnya yang ditulis oleh Miladiyah (2015) yang
menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan peneliti, bahwa salah satu factor
motivasi ekstrinsik yang dapat meningkatkan kinerja adalah supervisi pimpinan.
Tingginya supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat dalam pelaksanaan
dokumentasi menghasilkan kualitas dokumentasi asuhan keperawatan yang baik. Ada
20
tiga ruangan (37,5%) yang memiliki kinerja dokumentasi asuhan keperawatan yang baik
(>85%) karena mendapatkan supervisi dari kepala ruangan secara optimal, kepala
ruangan memberikan bimbingan proses dokumentasi asuhan keperawatan dan umpan
balik terhadap hasil asuhan keperawatan yang telah didokumentasikan.
3.1.3 Hubungan Motivasi kerja perawat terhadap kinerja perawat pelaksana di
Ruang Rawat Inap
Menurut artikel yang ditulis oleh M. Arifki Zainaro, dkk (2017) menyatakan
bahwa dari 32 responden yang motivasi kerjanya kurang baik dan mempunyai kinerja
kurang baik sebanyak 27 orang (84,4%), hal ini disebabkan karena perawat
menganggap pekerjaan sudah menjadi rutinitas yang membosankan dan menjenuhkan
bagi perawat serta imbalan yang diterima kurang sehingga menurunkan semangat kerja.
Sedangkan yang mempunyai kinerja baik sebanyak 5 orang (15,6%) hal ini disebabkan
masa kerja yang sudah lama dan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih tinggi dari
yang lain. Kemudian dari 28 responden yang motivasi kerjanya baik dan mempunyai
kinerja kurang baik sebanyak 21 orang (75,0%), hal ini disebabkan adanya imbalan
yang cukup, penghargaan dari atasan, hubungan kerja yang baik dan saling menghargai.
Hasil uji statistic dengan Chi Square diperoleh p value 0,000 (p value = < α = 0,05)
yang berarti ada hubungan motivasi kerja dengan kinerja perawat di Ruang rawat inap
Rumah Sakit Alimuddin Umar Kabupaten Lampung Barat. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa menurut peneliti motivasi kerja merupakan factor yang penting bagi perawat
untuk menjalankan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab perawat, tanpa adanya
motivasi kerja, pekerjaan tidak akan dapat berjalan dengan baik. Apabila motivasi kerja
21
perawat tinggi maka perawat dapat bekerja secara maksimal sehingga dapat
menghasilkan kinerja yang baik pula.
Menurut atikel selanjutnya yang dikemukan oleh Nazvia Natasia (2014) yang
menyatakan bahwa didapatkan sebesar 57,6% perawat memiliki motivasi kerja rendah.
hasil analisis hubungan antara motivasi dengan kinerja perawat diperoleh nilai p value <
0,05 yang artinya ada hubungan yang bermakna antara factor motivasi perawat dengan
pendokumentasian discharge planning. Hipotesa pertama yang diajukan dalam
penelitian ini menyatakan adanya hubungan antara factor motivasi dengan kinerja
perawat dalam pendokumentasian discharge planning dapat diterima.semankin tinggi
motivasi perawat pelaksana di RSUD gambiran maka semakin tinggi kinerja perawat
dalam melakukan pendokumentasian discharge planning. Hasil juga menyatakan nilai
Odd Ratio pada regresi logistic didapatkan bahwa perawat yang memiliki motivasi
tinggi akan melakukan pendokumentasian discharge planning dengan lengkap sebesar
15 kali dibandingkan dengan perawat yang memiliki motivasi rendah. Motivasi dapat
menjadi pendorong bagi seseorang untuk menjalankan tugas dalam mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.
menyatakan bahwa perawat dengan motivasi baik sebanyak 94,19% berkinerja baik,
sedangkan yang motivasinya kurang baik sebesar 40,00% berkinerja baik (p<0,001).
Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa kinerja perawat secara signifikan
berhubungan dengan kompetensi dan motivasi. Komponen motivasi (afiliasi, reward
dan punishment) secara signifikan berhubungan dengan kinerja perawat. Distribusi
responden terbanyak untuk variable motivasi adalah dalam kategori baik dan
22
berpotensi memberikan kinerja baik dibandingkan dengan tingkat motivasinya kurang.
Motivasi berpengaruh secara parsial terhadap kinerja perawat pelaksana di Ruangan
rawat inap RSJ Provinsi Bali.
Menurut Hasibuan (2016) Motivasi berpengaruh terhadap kinerja dari tenaga
kesehatan karena motivasi mempersoalkan bagaimana caranaya mendorong gairah kerja
bawahan, agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan
ketrampilannnya untuk mewujudkan tujuan dari organisasi. Hubungan antara motivasi
dengan kinerja pastinya juga disebabkan Insentif yang diterima, bertanggung jawab
dalam melaksanakan tugas yang diberikan, dorongan dari dalam diri setiap tenaga
kesehatan, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas, mengembangkan ide untuk
kemajuan prestasi, mampu berkoordinasi dengan pemimpin dan tim dalam
melaksanakan tugas dan selalu setia dan taat melaksanakan tugas dibidangmasing-
masing
Berdasarkan artikel yang dijelaskan diatas maka peneliti dapat mengambil
kesimpulan bahwa dengan adanya motivasi kerja yang baik akan memberikan dorongan
pada perawat untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dan benar,
adanya motivasi kerja dari luar akan sangat berpengaruh terhadap kinerja yang
diberikan oleh perawat, dengan kinerja yang baik maka akan meningkatkan mutu
pelayanan yang baik di suatu Rumah Sakit. Sehingga dapat disimpulkan agar setiap
pelayanan kesehatan agar lebih memperhatikan kinerja perawat dengan memberikan
motivasi pada perawat tersebut.
1. Motivasi perawat pelaksana seharusnya tinggai agar dapat meningkatkan kinerja
perawat dalam pelaksanaan tugasnya. Motivasi dibagi atas dua jenis yaitu factor
ekstrinsik yaitu dorongan yang bersumber dari luar individu tetapi turut
berpengaruh terhadap pekerjaan yang dihasilkan dan factor intrinsic yaitu
dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan yang berasal dari diri
sendiri yang berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan.
2. Kinerja Perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Kinerja perawat yang
baik dan optimal dalam melaksanakan tugasnya akan mempengaruhi kualitas
layanan dan kepuasan pada pasien
3. Hubungan motivasi perawat terhadap kinerja perawat pelaksana mempunyai
hubungan yang signifikan dikarenakan dengan adanya motivasi yang baik untuk
meningkatkan kinerja perawat pelaksana dalam melaksanakan asuhan
keperawatan terhadap pasien. Adanya motivasi dari luar akan memicu atau
mendorong meningkatnya kinerja perawat.
DAFTAR PUSTAKA
Arifki Zainaro M, Usastiawaty Cik Ayu saadiah isnainy, Prima Dian Furqoni, Kiramah wati
(2017). Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja perawat pelaksana di Ruang rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Alimuddin Umar Kabupaten Lampung Barat. Jurnal
Kesehatan Holistik (The Journal of holistic healthcare) Volume II, Nomor 4.
Brema Prima, Herbert Wau, Marlinang Siagian (2019). Hubungan motivasi kerja
perawat dengan kinerja perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Royal
Prima Medan. Jurnal Keperawatan dan Fisioterapi (JKF). Volume 2, Nomor 1.
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php/JKF/article/view/214
Budiawan I N, I.K Suarjana, I.P Ganda Wijaya (2015). Hubungan kompetensi, Motivasi dan
beban kerja dengan kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.
Public Health and Preventive Medicine Archive. Volume 3, Nomor 2.
Budiono & Pertami, Sumirah Budi. (2015). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Bumi
Medika
Haerani, Julianus Ake, Suryani As’ad (2015). Hubungan motivasi ekstrinsik dengan
kinerja perawat pelaksana dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Jurnal ST
Kesehatan Volume 5. http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/4291c785e9443afbe
584603218924a87.pdf
Haerul A (2013), Hubungan Motivasi Kerja Dengan Kinerja Perawat di RSUD Sinjai.
Hiskia Sumakul, Paul A. T.Kawatu, Afnal Asrifuddin (2020). Hubungan antara
motivasi kerja dengankinerja pada perawat di rumah sakit umum daerah
amurang kabupaten minahasa selatan. Jurnal Kesmas. Volume 9 Nomor 4.
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/kesmas/article/view/29998.
Indra Surya Permana, Retina Sri Sedjati, Nining Kusniasih (2017). Pengaruh Faktor
motivasi instrinsik dan ekstrinsik terhadap kinerja perawat di RSUD 45
Kabupaten Kuningan. Volume 6, Nomor 1. https://www.researchgate.net
/publication/327392137
Kasmir (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Kementrian Kesehatan RI (2019), Situasi Tenaga Kesehatan. Info Datin.
https://www.bppsdmk.kemenkes.go.id.
Lestari Titik (2015), Kumpulan Teori untuk Kajian Pustaka Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta : Nuha Medika
M. Arifki Zainaro, Usastiawaty Cik Ayu saadiah isnainy, Prima Dian Furqoni, Kiramah
wati (2017). Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja perawat pelaksana di
Ruang rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Alimuddin Umar Kabupaten
Lampung Barat. Jurnal Kesehatan Holistik. Volume II, Nomor 4. https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Pengaruh+motiva
si+kerja+terhadap+kinerja+perawat+pelaksana+di+Ruang+rawat+Inap+Rumah
+Sakit+Umum+Daerah+Alimuddin+Umar+Kabupaten+Lampung+Barat&btnG
=
N Budiawan, I.K Suarjana, I.P Ganda Wijaya (2015). Hubungan kompetensi, Motivasi
dan beban kerja dengan kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Bali. Volume 3, Nomor 2. https://ojs.unud.ac.id/index.
php/phpma/article/download/19695/13080.
Nur Miladiyah R, Mustikasari, Dewi Gayatri (2015). Hubungan motivasi dan komitmen organisasi dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan
keperawatan. Jurnal Keperawatan Indonesia. Volume 18 Nomor 1. pISSN 1410-4490, eISSN 2354-9203.
Nur Miladiyah R, Mustikasari, Dewi Gayatri (2015). Hubungan motivasi dan komitmen
organisasi dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan
keperawatan. Jurnal keperawatan Indonesia. Volume 18 Nomor 1.
http://jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/view/392
Nursalam (2014), Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Edisi 4 Jakarta : Salemba Medika
Rini Astuti, Oki Prima Anugrah Lesmana (2018). Pengaruh motivasi dan beban kerja
terhadap kinerja perawat pada Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan.
Jurnal Ilman. Volume 6 Nomor 2. http://journals.synthesispublication.org
/index.php/ilman
Rini Astuti, Oki Prima Anugrah Lesmana, (2018). Pengaruh motivasi dan beban kerja terhadap
kinerja perawat pada Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan. Jurnal Ilman Volume 6 Nomor 2. P-ISSN 2355-1488, e-ISSN 2615-2932.
Triwibowo Cecep (2013), Manajemen Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta
: Trans Info Media
Wenur T Melissa,Ardiansa A.T Tucunan,Chreisye K.F Mandagi (2020). Hubungan
motivasi kerja dengan kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Ghim Bathesda
Tomohon. Jurnal Kesmas. Volume 9, Nomor 1. https://ejournal.unsrat.ac.id
/index.php/kesmas/article/view/28644
JST Kesehatan, Januari 2015, Vol.5 No.1 : 90 – 96 ISSN 2252-5416
26
PELAKSANA DALAM PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN
The Correlation between the Extrinsic Motivation and the Performance in the
Implementation of the Nursing Cares
Haerani, Julianus Ake, Suryani As’ad
Bagian Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin
(E-mail: [email protected])
ABSTRAK
Secara umum kinerja perawat masih rendah, antara lain karena faktor motivasi. Penelitian ini
bertujuan mengetahui hubungan motivasi ekstrinsik dengan kinerja perawat pelaksana dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSUD Haji, Provinsi Sulawesi Selatan.
Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan kajian potong lintang. Sampel
sebanyak 98 orang perawat pelaksana yang diambil dari sepuluh ruang rawat inap. Teknik
penyampelan yang digunakan, yaitu penyampelan acak bertingkat tidak proporsional. Pengumpulan
data dilakukan melalui observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan Chi-Square dan regresi logistik. Hasil analisis Chi-Square menunjukkan bahwa ada hubungan antara hubungan
interpersonal dan kinerja perawat (p=0,001); ada hubungan kondisi kerja dan kinerja perawat
(p=0,001); ada hubungan pendapatan dan kinerja perawat (p=0,001). Hasil analisis regresi logistik
menunjukkan bahwa hubungan interpersonal merupakan variabel yang paling berhubungan dengan
kinerja perawat.
ABSTRACT
In general, the performance of nurses is low, which is influenced by low motivation. This research
aimed to investigate the correlation between the extrinsic motivation and the performance of the on- duty nurses in the implementation of the nursing cares in the live-in wards of Haji Local General
Hospital, South Sulawesi Province. The research was observational-analytical and used the design of
the cross-sectional study. The samples comprised 98 nurses who had been chosen from 10 live-in
wards through the disproportionate stratified random sampling technique. The data were collected
data were than analyzed using the Chi-square and the logistic regression analyses. The results of the
Chi-square analysis indicated that there was a correlation between the interpersonal relationship and
the performance of the nurses (p=0,001), between the work condition and the performance of the
nurses (p=0,001), and between the incomes and the performance of the nurses (p=0,001). The result
of the logistic regression analysis revealed that variable of the interpersonal relationship had the
dominant effect on the performance of the nurses.
Keywords: Extrinsic Motivation, Performance, On-Duty Nurses
PENDAHULUAN
seperti rumah sakit, para dokter dan perawat mendapat banyak perhatian
karena peran dan fungsi mereka memberi
bentuk terhadap upaya pelayanan kesehatan. Perhatian yang besar banyak
diberikan kepada profesi perawat dan
peran mereka dalam memberikan
pelayanan rumah sakit harus juga disertai
upaya untuk meningkatkan pelayanan
2011).
27
pelaksana dalam melaksanakan tugas-
customer (organisasi, pasien, perawat
Adam (2014), menunjukkan bahwa
rendah sebesar 43,6%. Burdahyat (2009),
menemukan persepsi kinerja perawat di
rumah sakit pemerintah dalam kategori baik hanya sebesar 49,5% dan sisanya
50,5% dalam kategori kurang.
rawatan di Rumah Sakit Pemerintah
Daerah Cilegon dengan kategori baik hanya sebesar 56,25%. Hal ini menun-
jukkan bahwa rata-rata kinerja perawat di
rumah sakit tersebut masih relatif rendah.
Rendahnya kinerja perawat dalam pelak- sanaan asuhan keperawatan dipengaruhi
oleh beberapa faktor, namun beberapa
peneliti menemukan bahwa kinerja banyak dihubungkan dengan faktor
eksternal, salah satunya adalah motivasi
ekstrinsik.
ditingkatkan oleh lingkungan kerja atau
adanya penghargaan eksternal (Marquis & Huston, 2010; Nawawi, 2011;
Kurniadi, 2013). Yang termasuk motivasi
ekstrinsik adalah hubungan interpersonal, kondisi kerja, supervisi, kebijakan orga-
nisasi dan reward. Studi literatur pada
penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Adam (2014) terhadap 101 perawat pelaksana di RSUD Haji Provinsi Sula-
wesi Selatan menganalisis tentang hu-
bungan supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana dalam pendo-
kumentasian asuhan keperawatan mene-
mukan bahwa dari 101 perawat, sebanyak 44 perawat (43,6%) yang memiliki
kinerja yang rendah dalam melaksanakan
pendokumentasian asuhan keperawatan.
hubungan positif antara pemberian
ruang rawat inap kelas III RSUD Inche
Abdul Moeis Samarinda. Perlu adanya perhatian yang
diberikan oleh pihak manajemen RSUD
Haji Provinsi Sulawesi Selatan dalam
upaya peningkatan kinerja perawat pelak- sana dalam melaksanakan tugas-tugas
asuhan keperawatan. Sehingga, antisipasi
dilakukan upaya untuk mengurangi
dengan memperhatikan motivasi kerja
untuk mengetahui hubungan motivasi ekstrinsik dengan kinerja perawat pelak-
sana dalam pelaksanaan asuhan kepera-
watan di ruang rawat inap RSUD Haji Provinsi Sulawesi Selatan.
BAHAN DAN METODE
penelitian Cross Sectional (Budiman,
kinerja perawat pelaksana dalam
rawat inap RSUD Haji Provinsi Sulawesi Selatan.
Populasi dan teknik sampel
penelitian (Saryono & Anggraeni, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah
semua perawat pelaksana yang bertugas
di Ruang Rawat Inap RSUD Haji Provinsi Sulawesi Selatan berjumlah 131
orang. Penarikan sampel menggunakan
teknik Disproportionate Random sam-
pling. Dalam Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 98 responden.
Metode pengumpulan data
personal, kondisi kerja, dan pendapatan.
Kuesioner yang digunakan sebelumnya telah memenuhi syarat uji validitas dan
reliabilitas.
menggunakan perangkat lunak program
Analisis Univariat, Analisis dilakukan untuk melihat proporsi. (2). Analisis
Bivariat, Uji bivariat dilakukan untuk
mencari hubungan antara variabel inde- penden dan variabel dependen dengan uji
yang digunakan adalah chi-square bila
memenuhi syarat, dan akan dilakukan uji
fisher’s exact sebagai alternative. Interval kepercayaan yang diambil adalah 95%
dan batas kemaknaan yang diterima
apabila p < 0,05. (3). Analisis multi- variat, uji multivariat dilakukan untuk
mencari variabel yang paling berhu-
bungan antara variabel independen dan variabel dependen dengan uji yang
digunakan adalah uji regresi logistik.
HASIL
bahwa sebagian besar umur responden berada pada kategori dewasa madya
(63,3%), sebagian besar responden
sebagian besar pendidikan vokasional
(91,9%), status kepegawaian paling
banyak tenaga PNS (41,8%) dan masa kerja hampir berimbang jumlahnya yang
bekerja kurang dari 5 tahun (49%) dan
lebih dari 5 tahun sebanyak (51%). Tabel
2 menunjukkan bahwa sebagian besar
hubungan interpersonal perawat dalam
kategori baik (60,2%), sebagian besar
kondisi kerja ruang rawat inap baik (62,2%), sebagian besar pendapatan yang
diterima perawat cukup (55,1%) dan
sebagian besar kinerja perawat baik
(60,2%).
keperawatan dengan kinerja perawat.
Motivasi ekstrinsik terdiri dari hubungan interpersonal, kondisi kerja dan pen-
dapatan. Tabel 2 menunjukkan bahwa
sebagian besar hubungan interpersonal perawat dalam kategori baik sebanyak 59
orang (60,2 %), sebagian besar perawat
merasa kondisi kerja baik sebanyak 61
orang (62,2 %), sebagian besar perawat merasa pendapatan yang diterima cukup
sebanyak 54 orang (55,1 %) dan sebagian
besar kinerja perawat baik sebanyak 59 orang(60,2 %).
Analisis bivariat
dengan kinerja perawat menunjukkan
bahwa bahwa sebanyak 55 perawat (56,1 %) yang memiliki hubungan inter-
personal yang baik memperlihatkan
kinerja yang baik. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,001 (p <0,05)
maka dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan antara hubungan interpersonal
kinerja perawat menunjukkan bahwa
sebanyak 53 perawat (54,1 %) yang memiliki kondisi kerja yang baik
memperlihatkan kinerja yang baik. Hasil
uji statistic didapatkan nilai p = 0,001 (p <0,05), maka dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan antara kondisi kerja
dengan kinerja perawat (Tabel 4).
Hubungan pendapatan dengan kinerja perawat menunjukkan bahwa
sebanyak 50 perawat (51,0 %) yang
memiliki pendapatan yang cukup mem- perlihatkan kinerja yang baik. Hasil uji
statistik didapatkan nilai p = 0,001 (p
<0,05), maka dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan antara pendapatan dengan kinerja perawat.
Motivasi Ekstrinsik, Kinerja, Perawat Pelaksana ISSN 2252-5416
29
No Karakteristik respoden n (%)
Sukarela 19 19.4
6 Masa Kerja
Varibel n %
Hubungan interpersonal
Tabel 3. Hubungan antara hubungan interpersonal dengan kinerja perawat pelaksana (n =
98).
Total
Tabel 4. Hubungan kondisi kerja dengan kinerja perawat pelaksana (n = 98)
Kinerja Kurang
Tabel 5. Hubungan pendapatan dengan kinerja perawat pelaksana (n = 98)
Kinerja Total
Analisis multivariat
Berdasarkan hasil uji regresi logistik pada Tabel 4 menunjukkan bahwa
variabel yang paling berhubungan dengan
kinerja perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah hubungan
interpersonal dengan nilai (B : -3,867,
Exp B 0,021), dan pendapatan dengan nilai (B : -2,693, Exp B : 0,068)
PEMBAHASAN
antara hubungan interpersonal, kondisi
asuhan keperawatan di Ruang Rawat
Inap RSUD Haji Provinsi Sulawesi
Selatan.
didapatkan nilai p = 0.001 (p < 0,05),
maka disimpulkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara hubungan inter- personal dengan kinerja perawat. Hal ini
sejalan dengan hasil penelitian Handoko
(2010), yang menunjukkan bahwa variabel hubungan interpersonal terbukti
mempunyai pengaruh yang signifikan
takan hubungan interpersonal yang baik
yang dibina oleh perawat diharapkan
akan berdampak positif dalam penyele- saian pelayanan keperawatan yang tamp-
ak dalam lingkungan kerja seperti saling
mendukung dan memberikan perhatian, merasa puas dan secara teknis mampu
melaksanakan tugas dengan baik.
Hubungan interpersonal Baik p
Kurang 4 4.1 35 35.7 39 100 0,001
Kondisi kerja Baik p
Kurang 6 6.1 31 31.6 37 100 0,001
Pendapatan Baik Kurang p
Kurang 9 9.2 35 35.7 44 100 0,001
Motivasi Ekstrinsik, Kinerja, Perawat Pelaksana ISSN 2252-5416
31
kan nilai p = 0.001, maka dapat disim-
pulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kondisi kerja dengan
kinerja perawat dalam pelaksanaan
asuhan keperawatan. Sejalan dengan hasil penelitian Hakim A (2014) menun-
jukkkan bahwa terdapat hubungan positif
antara lingkungan kerja terhadap kepu- asan kerja perawat di RSUD Sale-
wangang Maros. Hasil penelitian ini
memperkuat teori Mardiana (2009) yang
mengatakan bahwa lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman
dan memungkinkan para pegawai untuk
dapat bekerja optimal. Hasil uji statistik penelitian meng-
gunakan uji Pearson Chi-Square didapat-
kan nilai p = 0.001, maka dapat disim- pulkan bahwa ada hubungan yang signi-
fikan antara pendapatan dengan kinerja
perawat pelaksana dalam pelaksanaan
(2010), bahwa variabel kompensasi
keperawatan. Kesalahan dalam menerap-
berakibat timbulnya demotivasi dan tidak adanya kepuasan kerja dikalangan
pekerja. Apabila hal tersebut terjadi dapat
menyebabkan turunnya kinerja baik pekerja maupun organisasi (Wibowo,
2012).
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disimpulkan bahwa terdapat hu-
bungan yang signifikan antara hubungan
interpersonal, kondisi kerja dan penda-
patan dengan kinerja perawat pelaksana dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
di Ruang Rawat Inap RSUD Haji
Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil pene- litian ini hendaknya dijadikan sebagai
salah satu referensi tambahan pihak
manajemen rumah sakit perlunya mela-
kukan penataan dan merencanakan pengelolaan sumber daya manusia
khususnya pemberian motivasi ekstrinsik
yaitu hubungan interpersonal, kondisi
katkan kinerja perawat.
kumentasian Proses Keperawatan di
Hakim A & Yassir M (2014). Pengaruh
Hubungan Interpersonal dan Ling-
RSUD Salewangang Maros. Jurnal
Handoyo & Hartati. (2010). Pengaruh
Inap RSUD Purbalingga. Jurnal
Kurniadi, A. (2013). Manajemen Kepera-
watan dan Prospektifnya: Teori, Konsep dan Aplikasi. Badan
Penerbit FK – UI.
Marquis, L.B & Huston, J.C (2010).
Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Teori & Aplikasi.
Jakarta: EGC.
Daya Manusia. Cetakan 8. Yogyakarta: UGM
Nursalam, M. (2011). Manajemen Kepe-
rawatan: Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Edisi 3,
Jakarta; Salemba Medika.
yang Berhubungan Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Cilegon. Tesis FIK – UI, tidak
dipublikasikan.
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 18 No.1, Maret 2015, hal 9-16
pISSN 1410-4490, eISSN 2354-9203
KINERJA PERAWAT DALAM PELAKSANAAN DOKUMENTASI
ASUHAN KEPERAWATAN
2. Program Studi Magister, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
3. Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
* E-mail: [email protected]
konstruktif dalam menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang bermutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan motivasi dan komitmen organisasi dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan
keperawatan di sebuah Rumah Sakit di Bekasi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan rancangan cross
sectional. Sampel penelitian ini adalah seratus enam perawat pelaksana dengan menggunakan kuesioner dan observasi
dokumentasi asuhan keperawatan. Analisis dengan univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik
berganda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dan kinerja perawat dalam pelaksanaan
dokumentasi asuhan keperawatan (p= 0,000; α= 0,05). Motivasi ekstrinsik memengaruhi kinerja perawat dua puluh
enam kali lebih tinggi (OR= 26,708) setelah dikontrol oleh variabel umur, status kepegawaian, dan masa kerja. Perlu
dilakukan audit dokumentasi sebagai bagian dari penilaian kinerja perawat.
Kata kunci: dokumentasi asuhan keperawatan, kinerja komitmen organisasi motivasi
Abstract
nursing care in hospitals Bekasi. This descriptivestudy with cross sectional correlation. Sample of 106 nurses using
questionnaires and observation documentation of nursing care with univariate analysis, bivariate (chi-square) and
multivariate (multiple logistic regression). The research results concluded there was relationship between motivation
with nurses' performance in implementing nursing care documentation (p= 0,000; α = 0,05). Extrinsic motivation could
affect the performance of nurses 26 times higher (OR= 26,708) after controlled by age, employment status, and years of
service. Audit documentation needs to be done as part of the performance assessment nurse.
Keywords: documentation of nursing, motivation, organizational commitment, performance
Pendahuluan
dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang
bermutu sesuai standar yang sudah ditentukan
dalam meningkatkan derajat kesehatan masya-
rakat. Perawat sebagai profesi yang mandiri
dituntut untuk dapat memberikan kualitas
asuhan keperawatan yang berkualitas kepada
individu, keluarga, dan masyarakat (Delaune,
2002). Perawat sebagai tenaga profesional dituntut
untuk mampu menunjukkan kinerja yang sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan.
Kinerja adalah suatu pekerjaan yang dilakukan
berdasarkan pada proses suatu tindakan dan
evaluasi hasil tindakan (Sonentag & Frese, 2001).
Motivasi yang relatif stabil membuat staf bekerja
Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 18, No. 1, Maret 2015, hal 9-16 10
lebih baik dalam meningkatkan kinerja kerjanya
(Robbins, 2006). Kanfer, Chen, dan Pritchard
(2008) menyatakan bahwa motivasi kerja meru-
pakan faktor yang meningkatkan kinerja secara
konstruktif. Motivasi perawat berperan dalam
menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang
bermutu. Penelitian yang dilakukan Khan, et al.,
(2010) menyatakan bahwa salah satu determinan
kinerja adalah komitmen organisasi. Hasil pene-
litian yang dilakukan Lee dan Olshfsi (2002)
dalam Khan, et al., (2010) menyatakan bahwa
komitmen organisasi tinggi menyebabkan
karyawan menyukai dan menyelesaikan
meningkatkan kinerja.
yang diberikan kepada setiap pasien harus
terencana dan tertulis dalam dokumentasi asuhan
keperawatan. Penilaian kinerja perawat pelaksana
yang sudah berjalan di sebuah Rumah Sakit
(RS) di Bekasi meliputi tiga komponen, yaitu
kedisiplinan staf, produktivitas kerja, dan
perilaku terhadap pekerjaannya. Produktivitas
capaian terhadap standar asuhan keperawatan
(SAK). Berdasarkan Departemen Kesehatan
untuk mengetahui dan memantau pelayanan
kualitas asuhan keperawatan yang dilakukan di
rumah sakit sudah memenuhi persyaratan sesuai
dengan standar. Kualitas pelayanan keperawatan
salah satunya dapat diukur dari ketercapaian
standar asuhan keperawatan. Menurut standar
kinerja rumah sakit (Depkes Republik Indonesia,
2005) hasil persentase penilaian minimal ke-
tercapaian standar asuhan keperawatan sebesar
85%. Hasil audit dokumentasi penerapan SAK
di sebuah RS di Bekasi pada tahun 2012 dari tiga
belas ruangan yang menjadi sasaran evaluasi
SAK, hanya lima ruangan yang telah memenuhi
SAK (>85%). Hasil audit menunjukkan bahwa
hanya 38% ruangan rawat inap yang telah
memenuhi standar ketercapaian SAK, 62%
ruangan yang lain belum memenuhi standar
SAK (<85%), sehingga rerata nilai ketercapaian
SAK seluruh ruang rawat inap sebesar 64%.
Kondisi ini mengalami penurunan sebesar 25%
dari kondisi pada tahun 2011, yaitu pada tahun
2011 ketercapaian SAK mencapai 89%.
Penurunan ketercapaian SAK disebabkan oleh
kurangnya kesadaran perawat tentang pentingnya
pendokumentasian asuhan keperawatan secara
dengan diagnosis keperawatan, sebagian tindakan
terutama pada pergantian kerja sore dan malam,
tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat,
dan pada catatan perawatan sering tidak men-
cantumkan nama dan paraf perawat.
Komitmen perawat juga dipengaruhi oleh status
kepegawaian dari staf karena 40% perawat
pelaksana yang berada di sebuah RS di Bekasi
merupakan tenaga kerja kontrak. Hal ini
menyebabkan angka turn over di sebuah RS di
Bekasi pada tahun 2012 adalah sebesar 1,
91%. Kurangnya kedisiplinan staf dan status
kepegawaian staf merupakan bagian dari
permasalahan komitmen organisasi yang akan
berdampak terhadap kinerja perawat.
terhadap tujuan dan kebijakan organisasi adalah
sebagai daya dorong dalam meningkatkan kinerja
staf. Berdasarkan fenomena ini, peneliti meng-
anggap penting untuk meneliti hubungan antara
motivasi dan komitmen organisasi terhadap
kinerja perawat dalam melaksanakan dokumentasi
asuhan keperawatan di sebuah RS di Bekasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
hubungan motivasi dan komitmen organisasi
terhadap kinerja perawat dalam pelaksanaan
dokumentasi asuhan keperawatan di sebuah
RS di Bekasi.
dengan rancangan cross sectional. Kuesioner
diberikan kepada seratus enam orang perawat
pelaksana di ruang rawat inap sebuah RS di
Bekasi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner
dan observasi dokumentasi asuhan keperawatan.
Kuesioner meliputi karakteristik perawat, motivasi,
Miladiyah R, et al., Hubungan Motivasi dan Komitmen Organisasi dengan Kinerja 11
dan komitmen organisasi. Lembar observasi
penilaian kinerja perawat melalui berkas rekam
medis pasien. Data dianalisis dengan univariat
menggunakan tabel distribusi frekuensi, analisis
bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis
multivariat menggunakan uji regresi logistik.
Hasil
kelamin, masa kerja, tingkat pendidikan, dan
status kepegawaian perawat di ruang rawat inap
sebuah RS di Bekasi. Berdasarkan Tabel 1 didapat
bahwa karakteristik responden berumur 20-35
tahun (76,4%), berjenis kelamin perempuan
(83,6%), masa kerja kurang dari10 tahun
(66%), pendidikan D-3 keperawatan (84,9%)
dan pegawai negeri sipil (53,8%).
Berdasarkan Tabel 2 didapat bahwa motivasi
perawat dipersepsikan masih kurang (58,5%).
Motivasi yang dirasakan masih kurang adalah
motivasi instrinsik (57,5%) dan motivasi eks-
trinsik (55,7%).
yang memiliki komitmen kurang mempunyai
selisih 6% lebih besar daripada responden yang
memiliki komitmen baik. Responden mempunyai
komitmen afektif yang baik (90,6%), komitmen
normatif yang baik (96,2%), dan komitmen
continuance baik (82,1%).
Variabel Jumlah Persentase
Pelaksana
Dokumentasi Asuhan Keperawatan Variabel Jumlah Persentase Kinerja Pelaksanaan
Dokumentasi Asuhan
rerata dari tiga berkas rekam medis pasien
Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 18, No. 1, Maret 2015, hal 9-16 12
pulang. Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa
kinerja perawat pelaksana yang mempunyai
kinerja baik dalam pelaksanaan dokumentasi
asuhan keperawatan berdasarkan rekam medis
sebanyak lima puluh empat orang (51%).
Berdasarkan pada Tabel 5 dapat dijelaskan bahwa
proporsi perawat yang mempunyai motivasi
baik dan menunjukkan kinerja yang baik dalam
pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan
yang baik adalah sebesar 48,9%. Hasil uji
statistik terdapat hubungan antara motivasi dan
kinerja perawat dalam pelaksanaan dokumentasi
asuhan keperawatan (p= 0,000; α= 0,05).
Hasil akhir dari analisis multivariat menunjuk-
kan bahwa komponen motivasi yang paling
berhubungan dengan kinerja perawat dalam
pendokumentasian asuhan keperawatan adalah
perawat dua puluh enam kali lebih tinggi
(OR= 26,708) setelah dikontrol oleh variabel
umur, status kepegawaian, dan masa kerja.
Tabel 5. Hubungan antara Motivasi dan Kinerja Perawat dalam Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan
Keperawatan
Variabel
Tabel 6. Hubungan antara Komitmen Organisasi dan Kinerja Perawat dalam Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan
Keperawatan
Variabel
(0,311; 2,26)
Miladiyah R, et al., Hubungan Motivasi dan Komitmen Organisasi dengan Kinerja 13
Pembahasan
medis pasien didapatkan hasil kinerja perawat
dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan kepera-
watan sebesar 51% responden mempunyai kinerja
yang baik dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan
keperawatan. Menurut Jefferies, et al., (2011),
proporsi perawat yang melakukan dokumentasi
asuhan keperawatan dengan baik harus meliputi
komponen-komponen pengkajian, diagnosis,
secara jelas dan berurutan, sehingga dapat
dipahami oleh semua profesi.
Pengukuran kinerja merupakan serangkaian
pengetahuan, keterampilan, dan pengambilan
perawat dalam melakukan pendokumentasian
2011). Menurut Wang (2011), penggunaan
bahasa dan istilah yang tidak dimengerti dapat
mengakibatkan berbagai interpretasi yang salah
terhadap dokumentasi asuhan keperawatan.
responden ditemukan tidak ada hubungan antara
karakteristik perawat pelaksana dan pelaksanaan
dokumentasi asuhan keperawatan. Hal ini disebab-
kan oleh semua perawat mempunyai kewajiban
yang sama dalam mendokumentasikan asuhan
keperawatan yang telah dilakukan terhadap klien-
nya karena dokumentasi asuhan keperawatan
merupakan salah satu aspek legal sebagai bentuk
pertanggungjawaban perawat terhadap pasien,
(Owen, 2005).
Hasil uji statistik menunjukan bahwa perawat yang memiliki motivasi yang baik menunjukan kinerja baik dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan sebesar 72,7 %, dibandingkan yang motivasi kurang. Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara motivasi dan kinerja perawat
dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan kepera-
watan (p= 0,000; α= 0,05). Hasil penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Indrastuti, Hamid, dan Mustikasari (2010). Kanfer,
Chen, dan Pritchard (2008) menyatakan bahwa
motivasi kerja merupakan faktor yang dapat
meningkatkan kinerja secara konstruktif. Hasil
analisis subvariabel terdapat hubungan yang
signifikan antara motivasi ekstrinsik dan kinerja
perawat dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan
keperawatan (p= 0,000; α= 0,05). Hasilnya menun-
jukkan bahwa perawat yang mempunyai motivasi
ekstrinsik baik berpeluang menunjukkan kinerja
baik lima kali lebih besar dibandingkan dengan
perawat yang mempunyai motivasi kurang (OR=
5,235).
(2000), motivasi kerja individu dapat ditelaah
secara instrinsik maupun ekstrinsik. Menurut Lu
(2000), seseorang yang mempunyai motivasi
ekstrinsik kuat dipengaruhi oleh insentif dan
kondisi kerja, seperti lingkungan pekerjaan,
hubungan antarstaf, dan kebijakan yang
dikeluarkan oleh perusahaan. Motivasi
berdasarkan pada bagaimana seseorang
awal tindakan dan apakah kompetensi tersebut
sudah sesuai dengan pencapaian yang diharapkan
(Nicholls, 1984 dalam Domangue & Solmon, 2010).
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, salah
satu faktor motivasi ekstrinsik yang dapat
meningkatkan kinerja adalah supervisi pimpinan.
Tingginya supervisi kepala ruangan terhadap
kinerja perawat dalam pelaksanaan dokumentasi
menghasilkan kualitas dokumentasi asuhan
(37,5%) yang memiliki kinerja dokumentasi
asuhan keperawatan yang baik (>85%) karena
mendapatkan supervisi dari kepala ruangan secara
optimal. Kepala ruangan memberikan bimbingan
proses dokumentasi asuhan keperawatan dan
umpan balik terhadap hasil asuhan keperawatan
yang telah didokumentasikan.
sarkan analisis instrumen, perawat merasa adanya
penghargaan yang disesuaikan dengan beban kerja
dan kinerja membuat mereka lebih termotivasi
dalam meningkatkan kinerjanya. Hal ini menun-
jukkan bahwa kebutuhan perawat terhadap
hadiah yang berupa promosi atau peningkatan
pendidikan juga sangat tinggi, yang dibutuhkan
Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 18, No. 1, Maret 2015, hal 9-16 14
oleh staf adalah program-program pelatihan atau
pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkan
seseorang untuk dapat berafiliasi dengan orang
lain. Marquis dan Huston (2010) menyatakan
bahwa hubungan antarstaf yang harmonis memu-
dahkan seseorang untuk berinteraksi dengan orang
lain, membantu pencapaian target kinerja individu.
Berdasarkan hasil penelitian, responden yang
memiliki komitmen organisasi yang kurang
sekitar 52%. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Rose dan Kumar
(2009), Yatnikasari, et al., (2010). Hasil ini
menunjukkan bahwa responden yang memiliki
komitmen kerja kurang lebih besar daripada
responden yang memiliki komitmen kerja baik.
Hasil uji statistik, tidak ditemukan subvariabel
komitmen organisasi yang berhubungan dengan
kinerja perawat dalam pendokumentasian asuhan
keperawatan. Hasil ini sejalan dengan penelitian
McMurray, et al., (2004) yang menyatakan
bahwa ada faktor lain yang menyebabkan tidak
adanya hubungan antara komitmen organisasi dan
kinerja staf. McMurray, et al., (2004) menyatakan
bahwa iklim organisasi secara tidak langsung
dapat memengaruhi hasil kinerja. Komponen dari
iklim organisasi yang dapat meningkatkan
komitmen staf adalah adanya hubungan
antarstaf yang baik, lingkungan kerja yang
kondusif sehingga terdapat keterlibatan staf
dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan
yang mempunyai komitmen afektif tinggi dan
mempunyai kinerja pendokumentasian asuhan
kerja yang kurang dari sepuluh tahun. Menurut
Meyer, Stanley, Herscovitch, dan Topolnytsky
(2001), komitmen afektif merupakan komponen
emosional dari staf dalam mengidentifikasi dan
terlibat dalam pencapaian tujuan organisasi
sehingga dengan masa kerja yang singkat ke-
terikatan secara emosional belum terbentuk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden
yang mempunyai komitmen normatif baik dan
menunjukkan kinerja baik sebesar (49%). Menurut
Meyer, et al., (2001) komitmen normatif
merupakan perasaan staf untuk tetap
berkewajiban secara moral tetap dalam
organisasi untuk sejumlah alasan. Tingginya
proporsi perawat yang mem-punyai komitmen
normatif yang baik, salah satunya disebabkan
oleh status kepegawaian responden. Sebagian
besar responden (53,8%) berstatus sebagai
pegawai negeri sipil (PNS). Sebagai PNS,
mereka akan menerima dan mengadopsi
kebijakan yang terdapat dalam organisasi
karena kebijakan yang dikeluarkan melalui
surat keputusan dan juga disahkan oleh
pemerintah. Keadaan ini menyebabkan perawat
sebagai PNS mempunyai rasa keterikatan yang
besar terhadap organisasi dan mengikuti semua
kebijakan yang sudah ditetapkan oleh organisasi.
Menurut Meyer, et al., (2001), staf dengan
komitmen continuance yang tinggi akan tetap
berada dalam organisasi untuk menghindari
biaya yang harus dikeluarkan bila mereka
meninggalkan organisasi. Berdasarkan analisis
keseimbangan antara gaji dan tanggung jawab
yang dilakukan, mendapatkan kenaikan gaji
berkala sesuai dengan kinerja yang telah
dilakukan, dan responden merasa akan rugi
secara moril dan materiil bila keluar dari rumah
sakit. Menurut McMurray, et al., (2004),
komitmen organisasi dan kepercayaan staf yang
tinggi terhadap organisasi secara signifikan
merupakan salah satu determinan dalam
pencapaian kinerja secara optimal. Berdasarkan
analisis peneliti, perawat mendapatkan insentif
dari jasa tindakan keperawatan, uang dinas malam,
dan lain-lain sehingga mengakibatkan dampak
yang positif terhadap komitmen continuance
perawat terhadap rumah sakit.
Miladiyah R, et al., Hubungan Motivasi dan Komitmen Organisasi dengan Kinerja 15
Kesimpulan
responden yang terdapat di sebuah RS di Bekasi
sebagian besar berada pada umur 20-35 tahunan
dengan masa kerja kurang dari sepuluh tahun,
mempunyai latar belakang pendidikan D-3 kepe-
rawatan, dan berstatus sebagai pegawai negeri
sipil. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada
hubungan antara motivasi dan kinerja perawat
dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan kepe-
rawatan. Hasil analisis-subvariabel motivasi
dokumentasi asuhan keperawatan. Hasil akhir
analisis multivariat menunjukkan bahwa motivasi
ekstrinsik dapat memengaruhi kinerja perawat
dua puluh enam kali lebih tinggi setelah dikontrol
oleh variabel umur, status kepegawaian, dan
masa kerja. Namun, untuk faktor komitmen
organisasi tidak ada hubungan antara komitmen
organisasi dan kinerja perawat dalam pelaksanaan
dokumentasi asuhan keperawatan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa motivasi ekstrinsik memberi-
kan kontribusi besar dalam meningkatkan kinerja
perawat dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan
keperawatan di sebuah RS di Bekasi.
Penulis menyarankan agar RS dapat membuat
kebijakan dengan menjadikan audit dokumentasi
keperawatan sebagai salah satu indikator kinerja
perawat. Perencanaan pengembangan sumber
sakit harus dapat menciptakan lingkungan dan
kondisi kerja yang aman dan nyaman sebagai
bagian dari motivasi ekstrinsik untuk lebih
dapat meningkatkan kinerja perawat dengan
penyediaan sarana dan prasarana penunjang
tindakan keperawatan yang memadai serta men-
dukung dalam melaksanakan asuhan keperawatan
(HH, EF, AR).
Standartdan practice (2nd Ed.). Sydney:
Delmar Thomson Learning.
penerapan standar asuhan keperawatan di
rumah sakit (Cetakan ke lima). Jakarta:
Direktorat Jenderal Pelayanan Medis
Responses to fitness testing by award status
and gender. Res Q Exerc Sport, 81 (3), 310–
318.
pelaksana menerapkan prinsip etik
dipublikasikan). Program Pascasarjana FIK-
(2012). A ward-based writing coach
program to improve the quality of nursing
documentation. Nurse Education Today, 32,
647–651. doi:10.1016/j.nedt.2011.08.017.
Ed.). Washington: Department of
Publications Joint Commission Resources.
Workmotivation past, present, future. Florida:
Society for Industrial dan Organisazational
Psychology.
(2010). The impacts of organizational
commitment on employee Job performance.
European Journal of Social Sciences, 15
(3), 292–298.
employment well being. Journal of Applied
Management Studies, 8 (1), 61–72.
Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 18, No. 1, Maret 2015, hal 9-16 16
Martin, J.A. (2009). Interpersonal relationships,
motivation, engagement, and achievement:
educational practice. Review of Educational
Research, 79 (1), 327–365. Doi: 10.3102/
0034654308325583.
roles and management, management
Philadelphia: Lippincott
Relationship between organizational
performance appraisal in manufacturing.
(4), 473–488.
Topolnytsky, L. (2001). Affective,
the organization: A meta analysis of
antecedents, correlates, and consequences.
52. Doi:10.1006/jvbe.2001.1842.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
(2010). Standar profesi dan kode etik
perawat Indonesia. Jakarta: Tim Penyusun
PP PPNI.
(10th Ed.). New Jersey: Pearson education.
Rose, C.A., & Kumar, R. (2009). The effect of
organizational learning on organizational
Sonentag, S., & Frese, M. (2001). Performance
concepts and performance theory. Germany:
John willey & Sons.
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
pelaksana berdasarkan indeks kinerja
pusat nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
(Tesis, magister, tidak dipublikasikan). FIK
UI, Jakarta.
Hubungan persepsi perawat tentang profesi
keperawatan, kemampuan dan motivasi
di RSU dr. Slamet Garut (Tesis magister,
tidak dipublikasikan). FIK UI, Jakarta.
Wang, N., Hailey, D., & Yu, P. (2011). Quality of
nursing documentation and approaches to
its evaluations a mixed-method systematic
review. Journal of Advanced Nursing, 1–
18. Doi: 10.1111/j.1365-2648.2011.05634.x
Hubungan program retensi dengan
RSAB Harapan Kita (Tesis magister, tidak
dipublikasikan). FIK UI, Jakarta.
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
HUBUNGAN MOTIVASI KERJA PERAWAT DENGAN KINERJA
PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT
ROYAL PRIMA MEDAN TAHUN 2019
Brema Prima1, Herbert Wau2, Marlinang Siagian3
1,2,3 Universitas Prima Indonesia
Motivation which means "encouragement" or "driving force". Motivation
questions how to direct the power and potential of subordinates to want to work
together productively in achieving and realizing specified goals. The purpose of
this study was to determine the interpersonal relationship, self-development
and workload with the performance of nurses in the inpatient rooms of the Royal
Prime Hospital. This type of research used in this study is an analytic survey research using cross sectional design. The population of this study were all
nurses in the inpatient room of the royal prima medan hospital, as many as 40
nurses. The sampling technique in this study was Total Sampling for case groups
of 40 respondents. The results of this study were statistically tested using the
Chi Square test with a 95% confidence level using the SPSS program version
16.0. The results showed that there was a relationship between Workload and Nurse Performance in the Inpatient Room at Royal Prima Medan Hospital with
each p-value of α (0.783> 0.05), (0.783> 0.05), (0.017 <0, 05). The conclusion
is that there is a relationship between workload and nurses' performance in the
inpatient hospital at the royal prima medan hospital.
Keywords: Leadership Function (Planning, Supervision and Decision Making), Work Motivation of Health Workers
1. PENDAHULUAN
tenaga kesehatannya paling rendah,
India, hal ini disebabkan oleh kurangnya
jumlah tenaga kerja yang dilihat dari
tingkat pemenuhan kesejahteraan,
perawat ataupun dalam
pendistribusinya. (WHO, 2006).
penduduk, dengan rentang 31,3-327,1
per 100.000 penduduk. Berdasarkan
pencapaian Indonesia Sehat 117,5
tenaga perawat per 100.000
masyarakat, secara nasional belum
memenuhi target sehingga membuat
kurangnya kepuasan pasien akan
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
pelayanan kesehatan yang diberikan
dilakukan secara maksimal yang
ditimbulkan karena faktor kurangnya
keperawatan (Depkes RI, 2013).
Undang - Undang Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan
bangga, puas dalam melakukan
pengembangan diri atau pemberian
apa yang dicapai oleh perawat sebagai
bentuk meningkatkan motivasinya
berkenaan dengan pekerjaan serta
diberikan merupakan hasil capaian
perawat guna tujuan pelayanan
keperawatan, indikator kinerja sangat
dibutuhkan untuk bisa mengukur
perawat (Suwanto, 2011).
Perawat kehilangan motivasi
terjadi pada dirinya yang dapat diamati.
Tanda-tanda yang mempunyai motivasi
sukarelawan, selalu datang
tanpa adanya keterangan
mengikuti aturan yang ditetapkan,
menyalahkan, dan tidak mematuhi
Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Agam. Hasil penelitian ini adalah dari
analisa univariat diperoleh motivasi
didapatkan tanggung jawab pekerjaan
78,9%. Hasil ujistatistik diperoleh
adanya hubungan bermakna antar
tanggung jawab perkerjaan dengan
OR=16,25. Rendahnya tanggung jawab
terlihat dari banyaknya pegawai yang
menunda-nunda menyelesaikan
melakukan pekerjaan lain diluar
pekerjaan. Dan hubungan interpersonal
dari hasil penelitain hubungan
interpersonal dan motivasi kerja
statistik didapatkan adanya hubungan
yang signifikan dari hubungan
interpersonal dengan motivasi kerja
pegawai p=0,001. Rendahnya
hubungan sesama pegawai dipengaruhi
maupun beda ruang.
Sakit ini mempunyai kapasitas 250
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
tempat tidur dan memiliki jumlah
karyawan 328 orang, 121 tenaga medis
dan 106 paramedik perawat dengan
latar belakang yaitu Spesialis, S2, Ners,
S1 Kep dan DIII Kep.
Data yang diperoleh peneliti di
Rumah Sakit Royal Prima Medan selama
tiga tahun terakhir menunjukkan data
kunjungan pasien rawat inap yaitu dari
tahun 2015 sebanyak 8.059, tahun
2016 sebanyak 12.191 dan pada tahun
2017 sebanyak 15.600. Peningkatan
Sakit Royal Prima Medan tersebut lebih
dekat dengan rumahnya dan hanya
Rumah Sakit tersebut yang ada disekitar
tempat tinggalnya, dan dokter yang
berjaga di Rumah Sakit tersebut sering
berada di tempat, walaupun terjadi
peningkatan pasien rawat inap di Rumah
Sakit Royal Prima Medan akan tetapi
masih ditemukannya permasalahan
Sakit tersebut.
Royal Prima Medan, menurut hasil
wawancara dengan pasien diperoleh
merasa kurang puas dengan pelayanan
kesehatan yang diberikan kepadanya,
seperti masih terdapat kurangnya
membutuhkannya seperti saat
membangun komunikasi yang baik
wawancara dengan perawat terdapat
diberikannya dapat dikatakan maksimal,
yang menyatakan kurangnya motivasi
mereka dalam hal hubungan
teman-teman seprofesi maupun dokter
diberikan kepada pasien kurang
inap mengenai tingkat kehadiran
perawat yang kehadirannya kurang
maksimal seperti datang terlambang
mewawancara perawat untuk
sakit terlalu jauh, beban kerja yang
terlalu banyak tidak sesuai dengan gaji
yang mereka terima, kurangnya
hal mengadakan seminar yang dapat
membuat motivasi kerja lebih tinggi.
Berdasarkan latar belakang
melakukan penelitian tentang
Tahun 2019”.
untuk menganalisis hubungan motivasi
pada bulan Januari 2019. Populasi
berjumlah 40 perawat dan sampel 40
perawat menggunakan metode total
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
mendalam diperlukan pedoman
dikumpulkan diolah dengan analisis
univariat dan bivariat (Notoadmodjo,
Tabel 1.
Pendidikan
Total 40 100
27
umur > 25 Tahun sebanyak 14 orang
(35.0%).
(67.5%), dan kelompok 3-4 Tahun
sebanyak 11 orang (27.5%), dan
kelompok 5-6 Tahun sebanyak 2 orang
(5.0%).
mayoritas responden berjenis kelamin
sebanyak 14 orang (35.0 %).
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
Analisa Bivariat
Tabel 2. Hubungan Interpersonal, Pengembangan Diri, Beban Kerja Dengan
Kinerja Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Royal Prima Medan Tahun
2019
Variabel
Tidak Baik 1 20,0 4 80,0 5 100
Pengembangan
Diri
Beban Kerja
0,017 Ringan 0 0,0 12 100 12 100
Hubungan interpersonal dengan
responden mayoritas yang menjawab
menilai Hubungan Interpersonal Baik
minoritas yang menjawab Kinerja
Hubungan Interpersonal Tidak Baik
sebanyak 1 orang (20.0%).
responden mayoritas yang menjawab
menilai Pengembangan Diri Baik
minoritas yang menjawab Kinerja
Perawat Baik dan menilai
orang (25.7%), dan dari 5 responden
mayoritas perawat yang menilai Kinerja
Perawat Tidak Baik dan Pengembangan
Diri Tidak Baik sebanyak 4 orang
(80.0%), dan minoritas yang menjawab
Kinerja Perawat Baik tetapi
1 orang (20.0%)
Baik dan menilai Beban Kerja Berat
sebanyak 18 orang (64.3%), dan
minoritas yang menjawab Kinerja
dari 12 responden mayoritas perawat
yang menilai Kinerja Perawat Tidak Baik
dan Beban Kerja Ringan sebanyak 12
orang (10.0%), dan minoritas yang
menjawab Kinerja Perawat Baik Beban
Kerja Ringan sebanyak 0 orang (0.0%)
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
4. PEMBAHASAN
diterima, ini menunjukkan bahwa tidak
ada hubungan yang signifikan antara
hubungan interpersonal dengan kinerja
Hasil penelitian Kapalawi, dkk
didapatkan adanya pengaruh yang
inap RSUD Kabupaten Majene
0,05) (Syahrir A, dkk, 2015).
Menurut teori (Yosep, 2007)
dapat mempengaruhi kinerja perawat
pengaruh perasaan, kedekatan dan
persamaan perbedaan. Hampir disetiap
hubungan interpersonal antara pribadi
maupun tidak, yang menjadikan
dihasilkan akan maksimal karena
baik (Suparwati R, 2015).
Menurut asumsi peneliti bahwa
menjawab kuesioner hubungan dan
berjalan lancar dan baik, dan beberapa
perawat menjawab kuesioner
harmonis antar sesama perawat.
dan bawahan atau antara perawat satu
dengan yang lainnya dan tidak
mempengaruhi kinerja yang mereka
Hubungan Pengembangan Diri
dengan Kinerja Perawat
diterima, ini menunjukkan bahwa tidak
ada hubungan yang signifikan antara
Pengembangan Diri dengan kinerja
Hasil penelitian Ayu Amelia Fitri
(2014), yang menunjukkan ada
hubungan yang signifikan antara
pengembangan diri dengan kinerja
Tidak sejalan dengan penelitian
hubungan yang signifikan antara
perencanaan karir terhadap kinerja
pengembangan diri tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap
PP, 2015).
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
dapat ditingkatkan dengan cara
perawat yang ditujukan untuk
keperawatan. Selain itu, perawat
pelaksana akan diberikannya dorongan
positif agar mau meningkatkan
menyatakan baik sebesar (87,5%)
apakah ada usaha rumah sakit dalam
pengembangan dan pelatihan, dan
yang menjawab kuesioner menyatakan
pernyataan kuesioner bahwa rumah
sakit memiliki usaha dalam
pengembangan dan pelatihan, dan
beberapa perawat tidak menempati
posisi yang sesuai dengan
berjalan lancer seperti diadakannya
pelatihan, seminar, diklat, promosi
ini menunjukkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara Beban Kerja
dengan kinerja perawat di Ruang Rawat
Inap Rumah Sakit Royal Prima Medan
Tahun 2019.
Jombang dengan koefisiensi korelasi
beban kerja ringan yaitu 16 responden
(89,9%) dan kinerja perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan
responden (61,1%) ini mendapatkan
kesimpulan adanya hubungan antara
(Dian Husada, 2011)
Sakit Tk II Kesdam Iskandar Muda
Banda Aceh Tahun 2014, penelitian
didapatkan bahwa tidak ada pengaruh
antara beban kerja
yang dihasilkan. Beban kerja yang tinggi
dapat menyebabkan terjadinya
bekerja lebih dari 80% waktu kerja. Bila
beban kerja perawat dikatakan tinggi
atau tidak sesuai, maka dapat
mempengaruhi kinerja perawat itu
Menurut asumsi peneliti bahwa
pernyataan tentang Beban Kerja,
perawat menjawab kuesioner dan
menyatakan apakah pekerjaan terlalu
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
berat, dan terlalu banyak menghabiskan
energi, dan beberapa perawat yang
menjawab kuesioner menyatakan beban
pernyataan kuesioner bahwa beban
terlalu menghabiskan energi, dan
perawat tidak setuju tentang
pernyataan yang menyatakan mereka
terbebani melakukan tindakan non
medis seperti mengurus administrasi
karena banyaknya pasien yang
tetapi shift yang diberikan hanya 2 kali
dalam sehari, jumlah perawat yang
kurang maksimal tidak sebanding
di rumah sakit tersebut, dan kurangnya
waktu istirahat yang diberikan kepada
perawat sehingga mempengaruhi
pekerjaan mereka.
signifikan antara Hubungan
Interpersonal Dengan Kinerja
Tahun 2019.
signifikan antara Pengembangan
antara Beban Kerja Dengan
Medan Tahun 2019.
untuk menambahkan jumlah
terlalu tinggi.
Royal Prima Medan.
responden terkait Beban Kerja
yang mereka terima dalam
menjalankan tugas nya sebagai
Data dan Informasi Kesehatan
Provinsi Sumatera. Pusat Data
dan Informasi, Jakarta : Depkes
Kergomard J. Some aspects of
tuning and clean intonation in
woodwinds. Appl Acoust.
& Kebidanan - Stikes Dian Husada
Ypt T. MOTIVASI KERJA TENAGA
KESEHATAN DI PUSKESMAS
WALENRANG KABUPATEN LUWU
Walenrang Community Health
F. PADA MUSEUM NEGERI
PROVINSI SULAWESI UTARA THE
Vol. 2 No.1 Edisi Mei-Oktober 2019
https://ejournal.medistra.ac.id/index.php.JFK
===========================================================================================
Received: 02 September 2019 :: Accepted: 03 September 2019:: Published: 31 Oktober 2019
PLANNING , TRAINING AND
CAREER. 2015;15(05):635–45.
RK, Majene RK. HUBUNGAN
Majene General Hospital Meilinda
A. 2015;
Mars MSPH. PENGARUH
MOTIVASI KERJA DENGAN
KINERJA PERAWAT PELAKSANA
MARIS MAKASSAR. 2013;
Notoatmodjo. Metodologi penelitian
kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta;
Prima Medan 2018.
Keperawatan I. STRES PERAWAT
Perawat AK, Kinerja D. BAB II TINJAUAN
TEORI A. Kinerja Perawat 1.
Definisi Kinerja. 2011;9–28.
Motivasi Dengan Kinerja Perawat
Hubungan Motivasi dengan
Inap RSUD Ungaran. Respository
STIKES Telogorejo Semarang
1Psychiatric Hospital of Bali Province, 2Public Health Postgraduate Program of Udayana University, 3School of Public Health Faculty of Medicine Udayana University, 4Bangli General Hospital
*Correspondence to: I Nengah Budiawan, Psychiatric Hospital of Bali Province, Public Health Postgraduate Program of Udayana University [email protected]
Volume No.: 3
ABSTRACT
Background and purpose: Average Bed Occupation Rate (BOR) of Mental Hospital in Bali Province in 2014 amounted to 85.3% with an average length of stay about 50 days. Preliminary study indicated inadequate performance of nurses at Mental Hospital in Bali. The purpose of this study was to determine the association of competence, motivation and nurses workload with the performance of nurses in wards of Mental Hospital in Bali Province. Methods: This research was a cross sectional survey. The subjects of the study consisted of all nurses in the inpatient unit, amounting to 111 people. Data were collected using self-administered questionnaires and observation sheet filled out by the head of the room. Data were
analyzed using bivariate with chi-square test, and multivariate with logistic regression method. Results: Bivariate analysis showed significant association between the performance of nurses with competence and motivation (p<0.001), however no association with workload (p=0.94). Multivariate analysis showed that the performance of nurses was associated with competence with AOR=65.38 (95%CI: 6.88-621.52) and with motivation (AOR=61.71; 95%CI: 7.15-532.59), however was not significantly associated with workload (AOR=1.012; 95%CI: 0.32-3.17). Conclusion: The performance of nurses was significantly associated with competence and motivation, however not associated with workload.
Hubungan Kompetensi, Motivasi dan Beban Kerja dengan Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali
ABSTRAK
Latar belakang dan tujuan: Rata-rata Bed Ocupation Rate (BOR) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali pada Tahun 2014 sebesar 85,3% dengan rata-rata lama perawatan 50 hari. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa kinerja perawat pelaksana di RSJ Provinsi Bali masih kurang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kompetensi, motivasi, beban kerja dengan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap RSJ Provinsi Bali. Metode: Rancangan penelitian adalah survei cross sectional. Subyek penelitian terdiri dari semua perawat pelaksana di ruang rawat inap yang berjumlah 111 orang. Data dikumpulkan dengan daftar pertanyaan yang diisi sendiri oleh perawat dan dengan lembar observasi yang diisi oleh kepala ruangan. Data dianalisis secara
bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan metode regresi logistik. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kinerja perawat dengan kompetensi dan motivasi (p<0,001), tetapi tidak ada hubungan dengan beban kerja (p=0,94). Analisis multivariat menunjukkan bahwa kinerja perawat berhubungan dengan kompetensi dengan nilai adjusted OR=65,38 (95%CI: 6,88- 621,52) dan dengan motivasi dengan nilai adjusted OR=61,71 (95%CI: 7,15-532,59), tetapi tidak berhubungan secara bermakna dengan beban kerja dengan adjusted OR=1,012 (95%CI: 0,32-3,17). Simpulan: Kinerja perawat pelaksana secara bermakna berhubungan dengan kompetensi dan motivasi kerjanya, akan tetapi tidak berhubungan dengan beban kerja.
Association of Competence, Motivation and Nurse Workload with Nurse Performance at Mental
Hospital in Bali Province
I Nengah Budi