alat ukur dan pengukuran -...

of 54 /54
LAPORAN PRAKTIKUM ALAT UKUR DAN PENGUKURAN Modul I : PENGUKURAN DENGAN ,,MULTIMETER ANALOG Modul II : PENGUKURAN DENGAN ,,MULTIMETER DIGITAL Modul III : PENGENALAN APLIKASI ,,OSILOSKOP DISUSUN OLEH : Wahyu Hanggoro Mukti D312082 Kelompok 25 PARTNER PRAKTIKUM : Widya Alfita Sari D312083 Wini Oktaviani D312084 Dikumpulkan Tanggal : 30 Oktober 2012 Asisten Praktikum : Andra Utama Muhammad Nur Kholis Nasution Purna Betaria LABORATORIUM ELEKTRONIKA & TEKNIK DIGITAL AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO 2012

Author: buitram

Post on 06-Feb-2018

330 views

Category:

Documents


20 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • LAPORAN PRAKTIKUM

    ALAT UKUR DAN PENGUKURAN

    Modul I : PENGUKURAN DENGAN

    ,,MULTIMETER ANALOG

    Modul II : PENGUKURAN DENGAN

    ,,MULTIMETER DIGITAL

    Modul III : PENGENALAN APLIKASI

    ,,OSILOSKOP

    DISUSUN OLEH :

    Wahyu Hanggoro Mukti

    D312082

    Kelompok 25

    PARTNER PRAKTIKUM :

    Widya Alfita Sari D312083

    Wini Oktaviani D312084

    Dikumpulkan Tanggal : 30 Oktober 2012

    Asisten Praktikum : Andra Utama

    Muhammad Nur Kholis Nasution

    Purna Betaria

    LABORATORIUM ELEKTRONIKA & TEKNIK DIGITAL

    AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA

    JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO

    2012

    NEWRectangle

    NEWTypewriterPROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTRONIKAPROGRAM PENDIDIKAN VOKASIUNIVERSITAS HALU OLEOKENDARI

    NEWTypewriter

  • LAPORAN PRAKTIKUM

    ALAT UKUR DAN PENGUKURAN

    Modul I : PENGUKURAN DENGAN

    ,,MULTIMETER ANALOG

    DISUSUN OLEH :

    Wahyu Hanggoro Mukti

    D312082

    Kelompok 25

    PARTNER PRAKTIKUM :

    Widya Alfita Sari D312083

    Wini Oktaviani D312084

    Tanggal Praktikum : 12 Oktober 2012

    Asisten Praktikum : Andra Utama

    Muhammad Nur Kholis Nasution

    Purna Betaria

    LABORATORIUM ELEKTRONIKA & TEKNIK DIGITAL

    AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA

    JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO

    2012

  • MODUL I

    PENGUKURAN DENGAN MULTIMETER ANALOG

    I. DASAR TEORI

    A. Lembar Informasi

    Multimeter sering disebut juga dengan AVO Meter ,alat ini biasa dipakai

    untuk mengukur harga resistansi (tahanan), tegangan AC (Alternating

    current), tegangan DC (Direct Current), dan arus DC. Bagian-

    bagianmultimeter seperti ditunjukkan gambar di bawah

    Gambar 1.1 Multimeter Analog/AVO meter [1]

    Dari gambar multimeter dapat dijelaskan bagian-bagian dan funsinya :

    1. Sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk (Zero Adjust Screw),

    berfungsi untuk mengatur kedudukan jarum penunjuk dengan cara

    memutar sekrupnya ke kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng

    pipih kecil.

    2. Tombol pengatur jarum penunjuk pada kedudukan zero (Zero Ohm

    Adjust Knob), berfungsi untuk mengatur jarum penunjuk pada posisi

    nol. Caranya : saklar pemilih diputar pada posisi Ohm, test lead +

    (merah) dihubungkan ke test lead (hitam), kemudian tombol pengatur

    kedudukan 0 di putar kekiri atau ke kanan sehingga menunjuk pada

    kedudukan 0 .

    3. Saklar pemilih (Range Selector Switch), berfungsi untuk memilih posisi

    pengukuran dan batas ukurannya. Multimeter biasanya terdiri dari empat

    posisi pengukuran, yaitu :

  • 3.1. Posisi (Ohm) berarti multimeter berfungsi sebagai ohm meter,

    yang terdiri tiga batas ukur : x 1 ; x 10; dan K .

    3.2.Posisi ACV (volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai

    voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500;

    dan 1000.

    3.3.Posisi DCV (volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai

    voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500;

    dan 1000.

    3.4.Posisi DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi sebagai

    mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan

    500.Tetapi ke empat batas ukur di atas untuk tipe multimeter yang

    satu dengan yang lain batas ukurannya belum tentu sama.

    4. Lubang kutub + (V A Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya

    test lead kutub + yang berwarna merah.

    5. Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat

    masuknya test lead kutub yang berwarna hitam.

    6. Salah pemilih polaritas DC atau AC.

    7. Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-

    komponen multimeter.

    8. Jarum penunjuk meter (Knief edge Pointer), berfungsi sebagai

    penunjuk besaran yang diukur.

    9. Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.

    B. Menggunakan Multimeter

    Pertama-tama jarum penunjuk meter di periksa, apakah sudah tepat pada

    angka 0 pada skala DCmA, DCV atau ACV posisi jarum nol di bagian kiri

    (lihat gambar 2a), dan untuk skala ohmmeter posisi jarum nol di

    bagiankanan (lihat gambar 2b). Jika belum tepat harus diatur dengan

    memutar sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk nmeter ke kiri atau ke

    kanan dengan menggunakan obeng pipih (-) kecil.

  • Gambar 1.2. Kedudukan Normal Jarum Penunjuk Meter [1]

    1. Multimeter digunakan untuk mengukur resistansi

    Untuk mengukur resistansi suatu resistor, posisi sekitar pemilih

    multimeter diatur pada kedudukan dengan batas ukur x1. Test lead

    merah dan test leaad hitam saling dihubungkan dengan tangan kiri,

    kemudian tangan kanan mengatur tombol pengatur kedudukan jarum

    pada posisi nol, berarti baterainya sudah lemah dan harus diganti dengan

    baterai yang baru. Langkah selanjutnya kedua ujung test lead

    dihubungkan pada ujung-ujung resistor yang akan diukur resistansinya.

    Cara membaca penunjuk jarum meter sedemikian rupa sehingga mata

    kita tegak lurus dengan jarum meter atau tidak terlihat garis bayang

    jarum meter. Supaya ketelitian tinggi kedudukan jarum penunjuk meter.

    Supaya keteliatian kedudukan jarum penunjuk meter berada pada bagian

    tengah daerah tahanan. Jika jarum penunjuk meter berada pada bagian

    kiri (mendekati maksimum), maka batas ukurnya di ubah dengan

    memutar saklar pemilih pada posisi x10. Seanjutnya dilakukan lagi

    pengaturan jarum penunjuk meter pada kedudukan nol, kemudian

    dilakukan lagi pengukuran terhadap resistor tersebut dan hasil

    pengukurannya adalah penunjuk jarum meter dikalikan 10 . Apabila

    dengan batas ukur x10 jarum penunjuk meter berada di bagian kiri daerah

    tahanan, maka batas ukurnya diubah lagi menjadi K dan dilakukan

    proses yang sama seperti waktu mengganti batas ukur x10. Pembacaan

    hasilnya pada skala K , yaitu angka penunjuk jarum meter dikalikan

    dengan 1 K .

    2. Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan DC

    Untuk mengukur tegangan DC (misal dari baterai atau power supply

    DC), sekitar pemilih multimeter diatur pada kedudukan DCV dengan

    batas ukur yang lebih besar dari tegangan yang akan diukur. Test lead

    merah pada kutub (+) multimeter dihubungkan ke kutub positip sumber

  • tegangan DC yang akan diukur, dan test lead hitam pada kutub (-)

    multimeter dihubungkan keutub negatip (-) dari sumber tegangan yang

    akan diukur. Hubungan semacam ini disebut hubungan paralel. Untuk

    mendapatkan ketelitian yang paling tinggi, usahakan jarum penunjuk

    meter berada pada kedudukan paling maksimum, caranya dengan

    memperkecil batas ukurannya secara bertahap dari 1000 V ke 500 V; 250

    V dan seterusnya. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bila

    jarum susah didapatkan kedudukan maksimal jangan sampai batas

    ukurnya diperkecil lagi, karena dapat merusak multimeter. [1]

    3. Multimeter digunakan untuk engukur tegangan AC

    Untuk mengukur tegangan AC dari suatu sumber listrik AC, saklar

    pemilih multimeter diputar pada kedudukan ACV dengan batas ukur

    yang paling besar misal 1000 V. Kedua test lead multimeter dihubungkan

    ke kedua kutub sumber listrik AC tanpa memandang kutub positif atau

    negatif. Selanjutnya caranya sama dengan cara mengukur tegangan DC

    di atas. [1]

    4. Multimeter digunakan untuk mengukur arus DC

    Untuk mengukur arus DC dari suatu sumber arus DC, saklar pemilih

    pada multimeter diputar ke posisi DCmA dengan batas ukur 500 mA.

    Kedua test lead multimeter dihubungkan secara seri pada ragkaian

    sumber DC. [1]

    Gambar 1.3 Multimeter untuk Mengukur Arus DC [1]

    5. Ketelitian paling tinggi akan didapatkan bila jarum penunjuk multimeter

    pada kedudukan maksimum. Untuk mendapatkan kedudukan maksimum,

    saklar pilih diputar setahap demi setahap untuk mengubah batas ukurnya

    dari 500 mA; 250 mA; dan 0,25 mA. Yang perlu diperhatikan adalah bila

    jarum sudah didapatkan kedudukan maksimal jangan sampai batas

    ukurnya diperkecil lagi, karena dapat merusakkan multimeter.[1]

  • II. HASIL DATA

    1. Resistor

    Resistor

    Selector

    Switch

    Nilai

    Komponen

    Hasil

    Pegukuran

    R1 1 K 5,6 K 5 K

    R2 1 K 47 K 46 K

    R3 1 47 40

    R4 10 220 210

    2. DIODA (1N4007)

    Hasil Pengukuran Dioda

    Jenis Dioda Hasil

    1N4007 Baik

    TidakBocor

    2.1. Ketika kabel probe hitam ditempelkan di kaki-kaki anoda dan kabel

    probe merah ditempelkan di kaki katoda, kemudian jarum bergerak

    kearah kanan berarti dioda (IN4007) dalam keadaan baik.

    2.2. Ketika kabel probe hitam ditempelkan dikaki-kaki katoda dan kabel

    probe merah ditempelkan di kaki-kaki anoda,kemudian jarum tidak

    bergerak berarti dioda (IN4007) dalam keadaaan baik.

    R2

    5.6k

    XMM1

    R3

    47

    XMM1

    XMM1 R1

    47k

    R4

    220

    XMM1

    XMM1 D1

    1N4007

    XMM1 D1

    1N4007

    1.1.

    1.2

    .3.

    1.3.

    1.4.

  • 3. Kondensator/Kapasitor

    Jenis Kapasitor Hasil

    Non Polar (1F) Baik

    Polar (10F) Baik

    3.1. Kondensator Keramik (Non Polar)

    Ketika kabel probe pada kaki-kaki kapasitor dihubungkan, jarum

    pada multimeter diam berarti kapasitor dalam keadaan baik.

    3.2. Kondensator Elektrolit (Polar)

    Ketika kabel probe dihubungkan dengan kaki-kaki kapasitor

    dihubungkan, jarum pada multimeter tidak bergerak berarti kapasitor

    dalam keadaaan baik.

    4. Transistor

    Jenis Transistor Hasil

    PNP Baik

    NPN Baik

    4.1. PNP

    Ketika kabel probe hitam ke emitor atau collector dan kabel probe

    merah ke basis jika jarum bergerak maka keadaan transitor PNP

    dalam keadaan baik.

    XMM2C1

    1uF

    XMM2 C1

    10uF

    XMM2Q1

    2N2906

  • 4.2. NPN

    Ketika kabel probe hitam dihubungkan ke basis sedangkan kabel

    probe merah ke emitor atau collector, jika jarum bergerak maka

    transistor dalam keadaan baik.

    Hasil pengecekan jarum bergerak berarti transistor masih baik.

    Bila pengukuran terbalik maka jarum tidak akan bergerak, apabila

    bergerak berarti transistor tersebut rusak.

    5. Mengukur Tegangan AC (Alternating Current)

    Atur selector pada multimeter ke tegangan AC tanpa polaritas

    500 ( )

    10 ( ) x Hasil pngukuran

    5

    10x 4,2 = 210 Volt

    Jenis AC Hasil

    AC 220V - 240V 210 V

    XMM3Q2

    2N2219

    XMM4

    V1

    120 Vrms

    60 Hz

    0

  • III. ANALISA DAN PEMBAHASAN

    Pada praktikum pertama kali ini, penulis melakukan pengukuran komponen-

    komponen elektronika dengan menggunakan multimeter analog.dalam

    penggunaan multimeter analog sangat di perlukan kalibrasi terlebihdahulu

    sebelum melakukan pengukuran nilai hambatan atau ohm.dalam melakukan

    kalibrasi tidaklah sulit,hanya menyatukan kabel probe merah dan hitam

    menjadi satu. Dalampembacaan hasil data dan nilai dalam multimeter analog

    masih bisa berubah karena skala dalam multimeter dalam perhitungan

    dengan penggunaan nilai yangbulat, selector skala yangdigunakan multimeter

    terdiri dari ohm meter, AC Volt, DC Volt, Ampere.

    AC Volt yaitu untuk mengukur tegangan sumber listrik yang arusnya bolak-

    bali. Contoh aliran listrik PLN mengunakan tegangan AC. Pengukuran

    dengan multimeter gunakan skala yang lebih besar dari tegangan yang akan

    diukur supaya tidak terjadi kerusakan pada alat tersebut.DC Volt yaitu arus

    yang sifatnya searah. Contohnya battrey menggunakan arus searahdengan

    nilai tegangan yang tidak terlalu besar dari pada nilai AC yang masih

    berbentuk gelombang solonida. Tegangan DC digunakan untuk perangkat

    elektronika yang mempunyai sifat arus yangsearah sumber tegangan

    menggunakan battrey.

    Resistor yaitu komponen elektronika yang digunakan untuk menghambat arus

    dari rangkaian elektronika. Dengan menggunakan resistor tersebut arus yang

    mengalir akan berubah menjadi kecil tergantung dari kebutuhan arus yang

    akan digunakan. Resistor sifatnya hanya menghambat arus. Macam-macam

    jenis komponen dalam resistor sangat banyak. Dari nilai resitansi yangkecil

    sampaiyangpaling besar sesuai dengan kebutuhan yang akan digunakan untuk

    menghambat arus yang dialiridalam komonen tersebut . resistor mempunyai

    besaran sesuai dengan pita warna yang beragam , sesuai dengan

    kebutuhan.pita warna dalam restor antara lain Hitam, coklat, merah, orange/

    jingga, kuning, hijau, biru, ungu, abu-abu, putih, emas, perak, dan tidak

    berwarna ,emas, perak. Emas dan perak menunjukan besarnya toleransi pada

    resistor tersebut. Dalam pengukuran resitor pada saat jarum menunjukan

    hasilo kemudian dikalikan dengan penggunaan skala pada selektor .

  • Dioda yaitu komponen elektronika yang digunakan untuk menyerahkan arus

    AC.dengan penggunaan dioda dapat mengatur ataumenyesuaikan dengan

    araharusyang akan digunakan. Dioda mempunyai dua jenis yaitu dioda maju

    dan dioda mundur . dalam dioda maju fungsinya untuk memperbolehkan arus

    yangmasuksesuai dengan araharus yang dilewati dioda tersebut. Sedangkan

    untuk dioda mundur yaitu untuk menghambat arah arus yang akan masuk.

    Dengan menggunakan dioda mundur menghambat arus yang tidak seharusnay

    masuk dalam komponen. Dioda memiliki beberapa jenis yaitu dioda tabung

    hampa dan dioda semimkonduktor , pengecekan dioda dengan menggunakan

    multimeter untuk mengetahui kondisi dioda tersebut yaitu dengan cara

    pasangjkn kabel probe merahpada kaki anoda dan kabel probe hitam pada

    kaki katoda ,apabila jarum brgerak kearah kanan maka dioda tersebut

    menglami kerusakan dan dioda tidak dapat digunakan kembali ,apabila jerum

    penunjukpada multimeter tidak bergerak maka dioda tersebut dalam kondisi

    baik.

    kondensator atau yang biasa disebut dengan nama kapasitor atau elco.fingsi

    dari kondensator yaitu untuk menyimpan energi.dengan penggunaan

    kondensator atau kapasitor dapat menyimpan energi yang tidak di gunakan.

    Jenis kondensator polar dan kondensator non polar, kondensatror polar yaitu

    kapasitor yang mempunyai kutub positif dari komponen tersebut. Kapasitas

    nilailebih besar , sedangkan kondensator non polar yaitu kapasitor yang tidak

    memiliki kutub positif dalam komponen tersebut. Kapasitas nilai yang

    digunakan lebih kecil dari kapasitor polar. Dalam mengecek kondisi

    kondensator dengn memasang kabel probe merah dan kabel probe hitam pada

    kaki kapasitor .untuk polar hubungkan kabel probe merah pada arus positif n,

    apabila jarumbergerak kekanan kemudian kembali dengan pelan maka

    kondensator polar bergerakkekanan kemudian kembali dengan pelan maka

    kondensator polar dalam kondisi masih bagus, sedangkan untuk non polar

    apabila jarum tidak bergerak maka kondisi baik.

  • IV. KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan

    a. Melakukan pengukuran menggunakan multimeter analog kemungkinan

    terjadi kesalahan masih sangat besar, berbeda dengan multimeter digital

    yang kemungkinan kesalahan lebih kecil.

    b. Setiap pengukuran komponen elektronika mempunyai cara baca yang

    berbeda tergantung komponen apa yang ingin diukur.

    c. Dan multimeter analog tidak dapat membaca hasil pengukuran dengan

    detail, masih mempunyai kekurangan dalam malakukan pengukuran

    Saran

    a. Sebelum melakukan pengukuran kita harus memahami alat ukur yang

    akan digunakan, agar lebih jelas lihat buku manual.

    b. Menentukan posisi skala pengali harus tepat agar tidak merusak alat.

    c. Jika mengalami kesulitan atau ragu-ragu jangan malu untuk bertanya

    kepada yang lebih memahami.

    d. Jangan lupa mengkalibrasi bila ingin mengukur suatu komponen yang

    sama namun nilainya berbeda

  • V. DAFTAR PUSTAKA

    1. http://listrikwiber.files.wordpress.com/2008/09/awalmodul17.pdf

    19.30WIB,11Oktober 2012

    2. http://labdasar.ee.itb.ac.id/lab/Kuliah/Percobaan%201a.ppt

    19.40WIB,11Oktober 2012

    3. http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/ketetapan-

    pengukuran-kuat-arus-dc-tegangan-dc-tegangan-ac-hambatan-

    menggunakan-multimeter-analog-dari-berbagai-merk-yang-dibandingkan-

    dengan-pengukuran-multimeter-digital-di-laboratorium-fisika-ikip-

    malang-oleh-imang-marsudi-5851.html

    20.0 WIB,11Oktober 2012

    4. http://storage.jakstik.ac.id/students/paper/penulisan%20ilmiah/20402272/

    BAB%20IV.pdf

    21.30 WIB,11Oktober 2012

    http://listrikwiber.files.wordpress.com/2008/09/awalmodul17.pdfhttp://labdasar.ee.itb.ac.id/lab/Kuliah/Percobaan%201a.ppthttp://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/ketetapan-pengukuran-kuat-arus-dc-tegangan-dc-tegangan-ac-hambatan-menggunakan-multimeter-analog-dari-berbagai-merk-yang-dibandingkan-dengan-pengukuran-multimeter-digital-di-laboratorium-fisika-ikip-malang-oleh-imang-marsudi-5851.htmlhttp://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/ketetapan-pengukuran-kuat-arus-dc-tegangan-dc-tegangan-ac-hambatan-menggunakan-multimeter-analog-dari-berbagai-merk-yang-dibandingkan-dengan-pengukuran-multimeter-digital-di-laboratorium-fisika-ikip-malang-oleh-imang-marsudi-5851.htmlhttp://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/ketetapan-pengukuran-kuat-arus-dc-tegangan-dc-tegangan-ac-hambatan-menggunakan-multimeter-analog-dari-berbagai-merk-yang-dibandingkan-dengan-pengukuran-multimeter-digital-di-laboratorium-fisika-ikip-malang-oleh-imang-marsudi-5851.htmlhttp://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/ketetapan-pengukuran-kuat-arus-dc-tegangan-dc-tegangan-ac-hambatan-menggunakan-multimeter-analog-dari-berbagai-merk-yang-dibandingkan-dengan-pengukuran-multimeter-digital-di-laboratorium-fisika-ikip-malang-oleh-imang-marsudi-5851.htmlhttp://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/ketetapan-pengukuran-kuat-arus-dc-tegangan-dc-tegangan-ac-hambatan-menggunakan-multimeter-analog-dari-berbagai-merk-yang-dibandingkan-dengan-pengukuran-multimeter-digital-di-laboratorium-fisika-ikip-malang-oleh-imang-marsudi-5851.htmlhttp://storage.jakstik.ac.id/students/paper/penulisan%20ilmiah/20402272/BAB%20IV.pdfhttp://storage.jakstik.ac.id/students/paper/penulisan%20ilmiah/20402272/BAB%20IV.pdf

  • VI. LAMPIRAN

    A. Resume

    ( Terlampir)

    B. Pertanyaan dan Jawaban

    RS = R1 + R2 + R3 + R4

    Rs = 47 + 5600 + 47000 + 220 = 52.867 K

    1

    Rek=

    1

    R1+

    1

    R2+

    1

    R3+

    1

    R4

    1

    Rek=

    1

    0,047+

    1

    5,6+

    1

    47+

    1

    0,22

    1

    Rek=

    70,818284

    2,721488

    Rek

    1=

    2,721488

    70,818284

    Rek = 0, 03842 k

    Rek = 38,42

    R5

    47

    R6

    5.6k

    R7

    47k

    R8

    220

    R147

    R25.6k

    R347k

    R4220

  • LAPORAN PRAKTIKUM

    ALAT UKUR DAN PENGUKURAN

    MODUL II : PENGUKURAN DENGAN

    MULTIMETER DIGITAL

    DISUSUN OLEH :

    Wahyu Hanggoro Mukti

    D312082

    Kelompok 25

    PARTNER PRAKTIKUM :

    Widya Alfita Sari D312083

    Wini Oktaviani D312084

    Tanggal Praktikum : 18 Oktober 2012

    Asisten Praktikum : Andra Utama

    Muhammad Nur Kholis Nasution

    Purna Betaria

    LABORATORIUM ELEKTRONIKA & TEKNIK DIGITAL

    AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA

    JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO

    2012

  • MODUL II

    PENGUKURAN DENGAN MULTIMETER DIGITAL

    I. DASAR TEORI

    A. Lembar informasi

    Multimeter sering disebut juga dengan AVO (Ampere,Volt, Ohm) Meter,

    alat ini biasa dipakai untuk mengukur harga resistansi (tahanan), tegangan

    AC (Alternating current), tegangan DC (Direct Current), dan arus

    DC.Multimeter digital hampir sama fungsinya dengan multimeter analog

    tetapi multimeter digital menggunakan tampilan angka digital. Multimeter

    digital pembacaan pengukuran besaran listrik yang lebih akurat jika

    dibanding dengan multimeter analog, sehingga multimeter digital

    dikhususkan untuk mengukur suatu besaran nilai tertentu dari sebuah

    komponen secara mendetail sesuai dengan besaran yang diinginkan.[1]

    Gambar 2.1. Multimeter Digital type UNI-T UT803 [4]

    Bagian-bagian dari multimeter adalah sebagai berikut :

    1. Selector switch

    Pada bagian ini digunakan untuk memilih jenis besaran yang diukur

    dengan jangkah pengukuran.

    2. Sekrup Kontrol NOL

    Sebelum dilakukan pengukuran, jarum harus menunjukkan tepat angka

    NOL, jika tidak sekerup control NOL harus diatur ulang.

  • 3. Tombol NOL

    Setiap pengukuran resistansi, tombol NOL harus diatursehingga jarum

    menunjukkan tepat pada angka NOL.[2]

    4. Kabel Probe

    Kabel probe merah dipasang pada lubang Plus dan kabel probe hitam

    dipasang pada lubang minus atau common.Pada penggunaan alat ini perlu

    selalu diperhatikan pemilihan jangkah atau selector switch yang tepat.

    Kesalahan pemilihan jangkah akan menyebabkan kerusakan pada

    avometer, misalnya pengukuran voltage dengan jangkah pada Ohm,

    maka akibatnya akan fatal. Apabila besaran yang diukur tidak dapat

    diperkirakan sebelumnya, harus dibiasakan memilih jangkah tertinggi.

    Setiap selesai pengukuran, dibiasakan untuk meletakkan jangkah pada

    posisi off atau VDC angkan tertinggi.[2]

    B. Pengoperasian Multimeter Digital

    1. Pengukuran Tegangan DC

    1.1. Selektor ditempatkan pada posisi tegangan DC.

    1.2. Colok colok merah pada meter positip dan colok hitam pada

    polaritas negative.

    1.3. Cakupan batas ukur dipilih tertinggi bila pembatas cakupan tidak

    otomatis.

    1.4. Setelah yakin semua benar power meter di aktifkan.

    2. Pengukuran Tegangan AC

    2.1. Selektor di tempatkan pada posisi tegangan AC.

    2.2. Cakupan batas ukur dipilih pada posisi terbesar jika pembatas

    cakupan tidak otomatis.

    2.3. Pasang kabel probe merah pada polaritas positip dan kabel probe

    hitam pada negative.

    2.4. Bila sudah yakin benar, baru power di aktifkan.

    2.5. Satuan pengukuran diperhatikan agar tidak salah dalam membuat

    data pengukuran.

    3. Pengukuran Ohmmeter

    3.1. Selektor di tempatkan pada posisi Ohm meter.[3]

  • 3.2..pasang kabel probe merah pada polaritas positive dan kabel probe

    merah pada polaritas negative

    3.3. Bila sudah yakin benar, baru power di aktifkan.

    3.4..Satuan diperhatikan agar tidak salah dalam membuat data

    pengukuran.

    4. Fungsi Lain-lain

    Selain sebagai AVO meter tiap multimeter mempunyai variasi

    pengukuran yang berbeda-beda. Secara umum penggunaan multimeter

    digital dengan langkah sebagai berikut :

    4.1. Sisipkan probe ke dalam hubungan yang benar sesuai fungsinya.

    Langkah ini diperlukan karena kemungkinan ada sejumlah hubungan

    berbeda yang dapat digunakan.

    4.2. Atur saklar pada jenis pengukuran dan cakupan pengukuran yang

    benar. Pada saat memilih cakupan yakinkan bahwa telah diantisipasi

    pada cakupan maksimum. Cakupan pada multimeter digital dapat

    direduksi bilamana diperlukan. Oleh karena itu dengan pemilihan

    cakupan yang terlalu tinggi dapat mencegah pembebanan meter.[3]

  • III. HASIL DATA

    1. Resistor

    Untuk mengukur resistor pertama yang harus dilakukan adalah

    menghubungkan probe merah ke lubang yang bertanda (ohm) dan

    probe hitam ke lubang hitam yang bertanda com pada multimeter, kedua

    tekan tombol power, ketiga tekan tombol ohm untuk pengukuran tahanan,

    keempat hubungkan kabel probe ke kaki-kaki resistor yang akan diukur,

    besarnya nilai resistor adalah nilai yang ditampilkan pada layar monitor di

    multimeter.

    Resistor

    Nilai

    Komponen

    Hasil

    Pegukuran

    R1 47 47.8

    R2 220 222.8

    R3 5.6 K 5.54 K

    R4 220 K 222.8 K

    2. DIODA (1N4007)

    Untuk melakukan pengukuran dioda yang harus dilakukan adalah pertama

    hubungkan probe merah ke lubang merah yang bertandaV dan kabel probe

    hitam ke lubang yang bertanda com, kedua tekan tombol power untuk

    menghidupkan multimeter, ketiga tekan tombol untuk mengukur

    dioda, keempat hubungkan ujung probe merah ke kaki anoda dan ujung

    probe hitam ke kaki katoda, maka pada layar keluar nilai dalam satuan

    volt.

    R1

    47

    XMM1 R3

    5.6k

    XMM3

    R2

    220

    XMM2R4

    47k

    XMM4

    D1

    1N4007

    1.1.

    1.2

    .3.

    1.3.

    1.4.

  • Hasil Pengukuran Dioda

    3.1. Koneksi probe = Hitam = Katoda

    Merah = Anoda

    Ketika probe merah dihubungkan kekaki anoda dan probe hitam di

    kaki katoda, dan hasilnya angka yang ditamapilkan didisplay

    multimeter berubah maka diode dalam keadaan baik.

    3.2. Koneksi probe = Hitam = Anoda

    Merah = Katoda

    Ketika kabel probe hitam dihubungkan dikaki-kaki anoda dan kabel

    probe merah dihubungkan di kaki-kaki katoda, dan hasilnya angka

    yang ditampilkan didisplay multimeter tetap dan tidak berubah maka

    diode dalam keadaan baik.

    Jenis Dioda Kondisi Hasil

    1N4007 1 Baik

    2 Baik

    3. Kondensator / Kapasitor

    Untuk melakukan pengukuran kapasitor yang harus dilakukan pertama kali

    adalah menghubungkan probe merah ke lubang yang bertanda C dan probe

    hitam kelubang yang bertanda com pada multimeter, kedua tekan tombol

    power untuk menghidupkan multimeter, ketiga tekan tombol Cuntuk

    melakukan pengukuran kapasitansi, keempat hubungkan ujung probe ke

    kaki kapasitor.layar monitor akan menunjukan nilai kapasitas kondensator

    tersebut.

    XMM1 D1

    1N4007

    XMM1 D1

    1N4007

  • 3.1. Kondensator Keramik (Non Polar)

    Hasil pengukuran = 0,92 F

    3.2. Kondensator Elektrolit (Polar)

    Hasil Pengukuran = 38,37 F

    4. Transistor

    Untuk melakukan pengukuran kapasitor yang harus dilakukan pertama kali

    adalah menghubungkan probe merah ke lubang merah yang bertanda V

    dan probe hitam ke lubang hitam yang bertanda COM pada multimeter,

    kedua Tekan tombol ON untuk menghidupkan multimeter,ketiga tekan

    tombol untuk pengukuran transistor, keempat untuk memgukur

    transistor PNP hubungkan probe merah ke kaki basis sedangkan probe

    hitam ke kaki emitor atau colector maka layar monitor akan menunjukan

    nilai dalam volt.Untuk transistor NPN hubungkan probe merah ke emitor

    atau colector dan probe hitam ke basis, maka nilai akan menunjukan nilai

    dalam volt.

    4.1. PNP

    Koneksi Probe = Hitam = basis

    Merah = Emitor

    Ketika probe hitam dihubungkan ke kaki basis dan probe merah ke

    emitor dan hasilnya angka atau nilai yang ditampilkan didisplay

    multimeter berubah maka transitor PNP dalam keadaan baik.

    XMM2C1

    1uF

    XMM2 C1

    10uF

    D1

    1N4007

    XMM2Q1

    2N2906

  • 4.2. NPN

    Koneksi Probe = Hitam = Emitor

    Merah = Basis

    Ketika probe hitam dihubungkan ke kaki emitor sedangkan probe

    merah dihubungkan ke Basis, dan hasilnya angka atau nilai yang

    ditampilkan didisplay multimeter bertamabh atau berubah maka

    transistor dalam keadaan baik.

    .

    Jenis Transistor Kondisi

    PNP Baik

    NPN Baik

    5. Mengukur Tegangan listrik 1 Phasa dan 3 Phasa

    Untuk melakukan pengukuran tegangan listrtik 1 Phasa dan 3 Phasa yang

    harus dilakukan pertama kali adalah menghubungkan probe merah ke

    lubang yang bertanda V dan probe hitam ke lubang yang bertanda COM

    pada alat ukur, kedua tekan tombol power untuk menghidupkan alat

    ukur,ketiga tekan tombol V untuk pengukuran tegangan, keempat

    Tentukan pengukuran tegangan AC dengan menekan tombol

    DC/AC,kelima untuk mengukur listrik 1 phasa hubungkan kedua probe ke

    stop kontak listrik maka besarnya tegangan listrik akan ditampilkan pada

    layar monitor, untuk mengukur tegangan listrik 3 phasa hubungkan kedua

    probe ke klem R,S,T dan N di dalam Box KWH meter dan besarnya

    tegangan pada layar.

    5.1. tegangan listrik 1 Phasa

    Hasil Pengukuran = 239.9 V

    XMM3Q2

    2N2219

    V2

    220 Vrms

    60 Hz

    0

    XMM2

  • 5.2. Tegangan listrik 3 Phasa

    Hasil Pengukuran = 1. R-N = 195 V

    2. S-N = 186 V

    3. T-N = 258 V

    4. R-S = 363 V

    5. R-T = 372 V

    6. S-T = 365 V

    6. Arus Listrik 3 Phasa

    Untuk melakukan pengukuran tegangan listrtik 1 Phasa dan 3 Phasa yang

    harus dilakukan pertama kali adalah mengubungkan probe merah ke

    lubang merah yang bertanda F dan probe hitam ke lubang hitam yang

    bertanda COM pada alat ukur, kedua tekan tombol F untuk pengukuran

    frekuensi, ketiga hubungkan kedua ujung probe ke stop kontak listrik

    maka layar monitor akan menampilkan besarnya frekuensi listrik tersebut.

    Hasil Pengukuran = R = 24 A

    S = 31 A

    T = 23 A

    N = 5 A

    7. Tegangan dan Arus Battrey

    7.1. Tegangan Batere

    Untuk melakukan pengukuran tegangan listrtik 1 Phasa dan 3 Phasa

    yang harus dilakukan pertama kali adalah mengubungkan probe merah

    ke lubang yang bertanda V dan probe hitam ke lubang hitama yang

    bertanda COM pada multimeter,kedua tekan tombol V untuk

    V1

    120 V 60 Hz

    3PH

    XMM1

    V1

    120 V 60 Hz

    3PH

    XMM1

  • pengukuran tegangan, ketiga tekan tombol DC/AC untuk

    mendapatkan pengukuran arus DC, keempat hubungkan probe merah

    ke positif battrey dan probe hitam ke negatif, besarnya tegangan

    batere akan ditampilkan pada layar monitor, bila pengukuran terbalik

    maka yang timbul adalah nilai bertanda negatif.

    Hasil Pengukuran = 1.509 V

    7.2. Arus Battrey

    Untuk melakukan pengukuran tegangan listrtik 1 Phasa dan 3 Phasa

    yang harus dilakukan pertama kali adalah menghubungkan probe

    merah ke lubang yang bertanda 20A dan probe hitam ke lubang hitam

    yang bertanda COM pada multimeter,kedua tekan 20A untuk

    pengukuran arus dalam Ampere,ketiga tekan tombol DC/AC untuk

    mendapatkan pengukuran arus DC, keempat hubungkan probe merah

    ke positif batere dan probe hitam ke negatif battrey,besarnya arus

    batere akan ditampilkan pada layar monitor multimeter, bila

    pengukuran terbalik maka penunjuknya negatif pada layar

    monitor,untuk batere yang baik aturannya lebih besar dari 2 Ampere

    sedangkan hasil ukur kurang dari 2 Ampere maka batere tersebut

    sudah kurang baik.

    Hasil Pengkuuran = 2.09 A

    V31.5 V

    XMM3

    V31.5 V

    XMM3

  • IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN

    Pada praktikum kedua kali ini, penulis melakukan pengukuran komponen-

    komponen elektronika dengan menggunakan multimeter digital.dalam

    penggunaan multimeter dgital sangat di perlukan kalibrasi terlebih dahulu

    sebelum melakukan pengukuran nilai hambatan atau ohm.dalam melakukan

    kalibrasi tidaklah sulit,hanya menyatukan kabel probe merah dan hitam

    menjadi satu. Dalam pembacaan hasil data dan nilai dalam multimeter digital

    sudah cukup akurat karena sudah menggunakan angka dalam memnujukan

    hasil pengukuran. untuk multimeter digital ini memiliki kekurangan yaitu

    susah untuk memonitor tegangan yang tidak stabil oleh karena apabila

    melakukan pengukuran yang tidak stabil maka jangan menggunakan

    multimeter digital melainkan menggunakan multimeter analog

    AC Volt yaitu untuk mengukur tegangan sumber listrik yang arusnya bolak-

    balik. Contoh aliran listrik PLN mengunakan tegangan AC.DC Volt yaitu

    arus yang sifatnya searah. Contohnya battrey menggunakan arus searah

    dengan nilai tegangan yang tidak terlalu besar dari pada nilai AC yang masih

    berbentuk gelombang solonida. Tegangan DC digunakan untuk perangkat

    elektronika yang mempunyai sifat arus yang searah sumber tegangan

    menggunakan battrey.

    Resistor yaitu komponen elektronika yang digunakan untuk menghambat arus

    dari rangkaian elektronika. Dengan menggunakan resistor tersebut arus yang

    mengalir akan berubah menjadi kecil tergantung dari kebutuhan arus yang

    akan digunakan. Resistor sifatnya hanya menghambat arus. Macam-macam

    jenis komponen dalam resistor sangat banyak. Dari nilai resitansi yang kecil

    sampai yang paling besar sesuai dengan kebutuhan yang akan digunakan

    untuk menghambat arus yang dialiri dalam komonen tersebut . resistor

    mempunyai besaran sesuai dengan pita warna yang beragam , sesuai dengan

    kebutuhan.pita warna dalam restor antara lain Hitam, coklat, merah, orange/

    jingga, kuning, hijau, biru, ungu, abu-abu, putih, emas, perak, dan tidak

    berwarna ,emas, perak. Emas dan perak menunjukan besarnya toleransi pada

    resistor tersebut. Dalam pengukuran resitor pada saat jarum menunjukan

    hasilo kemudian dikalikan dengan penggunaan skala pada selektor .

  • Dioda yaitu komponen elektronika yang digunakan untuk menyerahkan arus

    AC.dengan penggunaan dioda dapat mengatur ataumenyesuaikan dengan arah

    arus yang akan digunakan. Dioda mempunyai dua jenis yaitu dioda maju dan

    dioda mundur . dalam dioda maju fungsinya untuk memperbolehkan arus

    yang masuk sesuai dengan arah arus yang dilewati dioda tersebut. Sedangkan

    untuk dioda mundur yaitu untuk menghambat arah arus yang akan masuk.

    Dengan menggunakan dioda mundur menghambat arus yang tidak seharusnya

    masuk dalam komponen. Dioda memiliki beberapa jenis yaitu dioda tabung

    hampa dan dioda semi konduktor , pengecekan dioda dengan menggunakan

    multimeter untuk mengetahui kondisi dioda tersebut yaitu dengan cara

    pasangakan kabel probe merah pada kaki anoda dan kabel probe hitam pada

    kaki katoda ,apabila angka pada display multimeter bertambah maka dioda

    tersebut mengalami kerusakan dan dioda tidak dapat digunakan kembali

    ,apabila angka pada display multimeter tetap maka dioda tersebut dalam

    kondisi baik.

    kondensator atau yang biasa disebut dengan nama kapasitor atau elco.fungsi

    dari kondensator yaitu untuk menyimpan energi.dengan penggunaan

    kondensator atau kapasitor dapat menyimpan energi yang tidak di gunakan.

    Jenis kondensator polar dan kondensator non polar, kondensatror polar yaitu

    kapasitor yang mempunyai kutub positif dari komponen tersebut. Kapasitas

    nilai lebih besar , sedangkan kondensator non polar yaitu kapasitor yang tidak

    memiliki kutub positif dalam komponen tersebut. Kapasitas nilai yang

    digunakan lebih kecil dari kapasitor polar. Dalam mengecek kondisi

    kondensator dengn memasang kabel probe merah dan kabel probe hitam pada

    kaki kapasitor .untuk polar hubungkan kabel probe merah pada arus positif,

    apabila angka pada display maka kondensator polar dalam kondisi masih

    bagus, sedangkan untuk non polar apabila angka pada display multimeter

    tidak bertambah maka kondisi baik.

    transistor dalam pratikum ini ada dua macam yang pertama adalah jenis

    transistor PNP dan yang kedua adalah jenis trnsistor NPN.Untuk pengukuran

    transistor PNP yaitu dengan cara menghubungkan probe merah dan probe

    hitam pada alat multimeter digital lalu hubungkan ujung probe merah ke kaki

  • emitor dan probe hitam ke kaki basis kemudian lihat pada layar monitor maka

    angka pengukuran akan muncul jika angka bergerak atau berubah maka

    kondisi transistor PNP adalah Baik,sedangkan untuk pengukuran NPN adalah

    dengan menghubungkanujung probe merah ke pada basis dan probe hitam

    pada emitor dalam hal ini probe merah dan probe hitam sudah tersambung

    dengan alat multimeter kemudian lihat pada monitoring pengukuran alat

    multimeter digital maka akan muncul nilai penghitungan jika angka bergerak

    maka tidak ada kebocoran berarti tandanya kondisi transistor NPN adalah

    Baik .

    .

  • V. KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan

    a. Melakukan pengukuran menggunakan multimeter digital kemungkinan

    terjadi kesalahan sangat kecil,karena hasil pengukuran ditunjukan melalui

    angka pada monitor multimeter digital.

    b. Kekurangan pada multimeter digital adalah susah untuk memonitor

    tegangan yang tidak stabil. Jika melakukan pengukuran tegangan yang

    bergerak naik-turun.

    c. Setiap ingin melakukan pengukuran komponen elektronika mempunyai

    cara pengukuran yang berbeda tergantung komponen apa yang ingin

    diukur.

    Saran

    a. Sebelum melakukan pengukuran kita harus memahami alat ukur yang

    akan digunakan, agar lebih jelas lihat buku manual alat ukur tersebut.

    b. Menentukan posisi skala pengali harus tepat agar tidak merusak alat

    ukur.

    c. Jika mengalami kesulitan atau ragu-ragu jangan malu untuk bertanya

    kepada yang lebih memahami.

  • VI. DAFTAR PUSTAKA

    1. http://www.alatuji.com/article/detail/45/multimeter#.UFMaabLN8sU

    21.40 WIB,17 Oktober 2012

    2. http://teknik-elektro.net/multimeter-atau-avometer.html

    21.55 WIB, 17 Oktober2012

    3. http://xlusi.com/multimeter-digital.html

    22.10 WIB, 17 Oktober 2012

    4. http://labdasar.ee.itb.ac.id/lab/EL2193/0910/kuliah/EL-

    2193%20Edit/Percobaan%201a.pdf

    22.40 WIB, 17 Oktober 2012

    http://www.alatuji.com/article/detail/45/multimeter#.UFMaabLN8sUhttp://teknik-elektro.net/multimeter-atau-avometer.htmlhttp://xlusi.com/multimeter-digital.htmlhttp://labdasar.ee.itb.ac.id/lab/EL2193/0910/kuliah/EL-2193%20Edit/Percobaan%201a.pdfhttp://labdasar.ee.itb.ac.id/lab/EL2193/0910/kuliah/EL-2193%20Edit/Percobaan%201a.pdf

  • VI. LAMPIRAN

    C. Resume

    ( Terlampir)

    D. Pertanyaan dan Jawaban

    RS = R1 + R2 + R3 + R4

    Rs = 47 + 5600 + 47000 + 220 = 52.867 K

    1

    Rek=

    1

    R1+

    1

    R2+

    1

    R3+

    1

    R4

    1

    Rek=

    1

    0,047+

    1

    5,6+

    1

    47+

    1

    0,22

    1

    Rek=

    70,818284

    2,721488

    Rek

    1=

    2,721488

    70,818284

    Rek = 0, 03842 k

    Rek = 38,42

    R5

    47

    R6

    5.6k

    R7

    47k

    R8

    220

    R147

    R25.6k

    R347k

    R4220

  • LAPORAN PRAKTIKUM

    ALAT UKUR DAN PENGUKURAN

    MODUL III : PENGENALAN APLIKASI

    ,,OSILOSKOP

    DISUSUN OLEH :

    Wahyu Hanggoro Mukti

    D312082

    Kelompok 25

    PARTNER PRAKTIKUM :

    Widya Alfita Sari D312083

    Wini Oktaviani D312084

    Tanggal Praktikum : 24 Oktober 2012

    Asisten Praktikum : Andra Utama

    Muhammad Nur Kholis Nasution

    Purna Betaria

    LABORATORIUM ELEKTRONIKA & TEKNIK DIGITAL

    AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA

    JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO

    2012

  • MODUL III

    PENGENALAN APLIKASI OSILOSKOP

    I. DASAR TEORI

    A. Pengenalan Osiloskop

    Cathode Ray Oscilloscope lebih dikenal dengan sebutan CRO, atau ada

    yang menyebut sebagai Osiloskop Sinar Katoda atau Osiloskop saja.

    Manfaat Osciloscope (CRO) adalah untuk mengukur besaran-besaran:

    tegangan, frekuensi, periode, bentuk sinyal dan beda fasa. Ada berbagai

    bentuk sinyal listrik, yaitu sinusoida, segitiga atau triangle, kotak atau

    square, denyut atau pulse. Berbagai bentuk sinyal listrik tersebut dapat

    dengan mudah diukur tegangannya, periodenya dan dapat ditentukan

    berapa frekuensinya menggunakan perangkat Osciloscope

    (CRO).Osiloskop terdiri dari dua bagian utama yaitu display dan panel

    kontrol. Display menyerupai tampilan layar televisi hanya saja tidak

    berwarna warni dan berfungsi sebagai tempat sinyal uji ditampilkan.[1]

    Gambar 3.1. Gambar Osiloskop ESCORT EAS 1001.[1]

    Pada layar ini terdapat garis-garis melintang secara vertikal dan horizontal

    yang membentuk kotak-kotak dan disebut div. Arah horizontal mewakili

    sumbu waktu dan garis vertikal mewakili sumbu tegangan. Panel kontrol

    berisi tombol-tombol yang bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan

    di layar. Pada umumnya osiloskop terdiri dari dua kanal yang bisa

    digunakan untuk melihat dua sinyal yang berlainan, sebagai contoh kanal

    satu untuk melihat sinyal masukan dan kanal dua untuk melihat sinyal

    keluaran.[1]

  • Sebelum osiloskop bisa dipakai untuk melihat sinyal maka osiloskop perlu

    disetel dulu agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam pengukuran. Hal hal

    yang perlu diperhatikan antara lain adalah :

    1. Memastikan alat yang diukur dan osiloskop ditanahkan (digroundkan).

    Disamping untuk keamanan hal ini juga untuk mengurangi noise dari

    frekuensi radio atau jala jala.

    2. Memastikan probe dalam keadaan baik.

    3. Kalibrasi tampilan bisa dilakukan dengan panel kontrol yang ada di

    osiloskop. [1]

    B. Fungsi Tombol Pada Panel Oscilloscope

    Gambar 3.2. Panel Osiloskop[1]

    1. power : menghidupkan dan mematikan Osiloskop

    2. Intensitas : mengatur intensitas cahaya pada layar

    3. Fokus : mengatur ketajaman gambar yang terjadi pada layar

    4. Triger Level : mengatur supaya gambar yang diperoleh pada layar

    selalu diam (tidak bergerak)

    5. Coupling : menunjukkan hubungan dengan sinyal searah atau bolak-

    balik

    6. Source : penyesuai pemilihan sinyal (syncronize signal selector)

    7. Hold OFF : pengaturan pada layar supaya gambar pada posisi diam

    atau tidak bergerak.

    8. Position Horizontal dan Vertikal: mengatur kedudukan gambar dalam

    arah horizontal dan vertical.

    9. Volt/Div (atau Volts/cm), ada 2 tombol yang konsentris. Tombol

    warna merah ditempatkan pada kedudukan maksimum ke kanan

    (searah dengan jarum jam) menyatakan osiloskop dalam keadaan

  • terkalibrasi untuk pengukuran. Kedudukan tombol di luar menyatakan

    besar tegangan yang tergambar pada layar per kotak (per cm) dalam

    arah vertikal.

    10. Time/Div (atau Time/cm), ada 2 tombol yang konsentris. Tombol

    warna merah di tengah pada kedudukan maksimum ke kanan (searah

    dengan jarum jam) menyatakan osiloskop dalam keadaan terkalibrasi

    untuk pengukuran. Kedudukan tombol diluar menyatakan factor

    pengali untuk waktu dari gambar pada layar dalam arah horizontal.

    11. Pemilih AC, GND, DC : diatur sesuai dengan besaran yang diukur.

    Untuk pengukuran tegangan baterai digunakan DC, pengukuran

    frequensi AC dan menempatkan posisi berkas pada posisi ground

    12. VERT MODE : Mode gelombang yang tertampil dilayar. Posisi diatur

    di CH1 jika gambar yang ditampilkan bersumber dari CH1, posisi

    diatur di CH2 jika gambar yang ditampilkan bersumber dari CH2,

    posisi diatur pada DUAL jika gambar yang ditampilkan bersumber

    dari CH1 dan CH2, posisi diatur pada ADD jika gambar yang

    ditampilkan bersumber dari penjumlahan CH1 dan CH2

    13. EXT TRIGER : triger dikendalikan oleh rangkaian di luar osiloskop

    14. Terminal masukan CH1 dan CH2 : tempat dihubungkanyya sinyal

    yang akan diukur

    15. CAL : untuk kalibrasi tegangan pada 0,5 Vp-p (peak to peak) atau

    tegangan dari puncak ke puncak pada frequensi 1 kHz[1]

    Tombol pada panel CRO yang harus diketahui fungsinya antara lain.Yang

    harus diperhatikan dalam menggunakan alat ukur terutama osiloskop

    adalah mengetahui batas maksimal sinyal yang boleh diukur dengan

    osiloskop, hal ini wajib diketahui untuk menghindari kerusakan pada

    osiloskop tersebut dan untuk mendapatkan seting alat ukur yang tepat. [1]

    C. Langkah awal dalam kalibrasi osiloskop

    1. Tombol ON-OFF pada posisi OFF

    2. Posisikan tombol INTENTITY, FOCUS, TRIGER LEVEL, HOLD

    OFF dan POSTION pada posisi tengah

    3. Sambungkan kabel power pada jala jala listrik

  • 4. Tekan tombol ON-OFF pada posisi ON, tunggu beberpa saat

    kemudian satu jalur garis akan tergambar pada layar CRT. Jika garis

    belum terlihat, putar tombol INTENSITY searah jarum jam

    5. Atur tombol FOCUS dan INTESITY untuk memperjelas jalur garis

    6. Atur ulang POSITION baik vertical maupun horizontal sesuai dengan

    kebutuhan

    7. Sambungkan probe pada terminal masukan CH1 atau CH2 sesuai

    kebutuhan

    8. Sambungkan probe pada terminal CAL untuk memperoleh kalibrasi

    0,5 Vp-p

    9. Atur Volt/Div pada posisi 0.5V dan gelombang persegi empat (square-

    wave) akan terlihat di layar

    10. Jika tampilan gelombang persegi empat kurang sempurna, atur

    Time/Div dan tombol pengaturan lainnya sampai bentuk gelombang

    terlihat nyata dan tegangan outputnya 0,5 Vp-p dengan frequensi

    sebesar 1kHz

    11. Jika tegangan output dan frequensi sesuai osiloskop siap digunakan,

    jika tidak atur adjuster dengan menggunakan obeng minus sampai

    tegangan dan frequensinya sesuai.[2]

    D. Konstruksi Layar Osiloskop / CRO

    Layar osiloskop memiliki serentetan garis yang telah diberi tanda yang

    disebut dengan garis-garis graticule dan garis-garis tersebut membentuk

    seatu grafik 10 kotak arah horizontgal dan 8 kotak arah vertikal. Garis-

    garis tersebut diberi spasi 1 cm. Sebuah layar osiloskop dilukiskan dalam

    gambar di bawah ini. [5]

    Gambar 3.3. Konstruksi Layar Osiloskop CRO.[5]

  • Garis-garis graticule dalam arah horisontal dan dalam arah vertikal

    memiliki sub garis kecil pada masing-masingnya. Seetiap sub garis kecil

    ini adalah seperlima atau 0,2 dari satu centimeter dan keberadaan sub

    garis ini untuk membantu pemakai untuk mendapatkan pembacaan yang

    lebih akurat dari layar.Setiap centimeter vertikal mewakili satu langkah

    dalam tegangan dan ukujran dari langkah tegangan ini ditentukan oleh

    posisi dari saklar VOLT/DIVSetiap sentimeter/divisi horizontal mewakili

    satu perioda dari waktu dan ukuran dari perioda wakatu ini ditentukan

    oleh posisi dari saklar TIME/DIV.Ingatlah saklar TIME/DIV dan

    TIME/DIV vernier hanya dapat memberikan gambaran yang akurat kalau

    pengatur VERNIER dalam posisi CAL atau posisi kalibrasi. Jiika pengatur

    VERNIER tidak dalam posisi CAL maka tidaklah mungkin mendapatkan

    pembacaan yang akurat dari layar osiloskop. [5]

    E. Cara Kerja Osiloskop Analog

    Gambar 3.4. Skema cara kerja osiloskop analog.[4]

    1. Saat kita mengkoneksikan probe ke sebuah rangkaian, Sinyal tegangan

    mengalir dari probe menuju ke pengaturan vertikal dari sebuah sistem

    osiloskop [ Vertical System ] ( Lihat Skema ), Sebuah Attenuator akan

    melemahkan sinyal tegangan masukan sedangkan Amplifier akan

    menguatkan sinyal tegangan masukan. Pengaturan ini ditentukan oleh

    kita saat menggerakkan kenop "Volt/Div" pada user interface

    Osiloskop.[4]

    2. Tegangan yang keluar dari sistem vertikal lalu diteruskan menuju Pelat

    Defleksi vertikal pada sebuah CRT[Catode Ray Tube, Akan dijelaskan

    nanti ], sinyal tegangan yang dimasukkan ke pelat ini nantinya akan

  • digunakan oleh CRT untuk menggerakkan Berkas2 elektron secara

    bidang vertikal saja ( Ke atas atau ke bawah )

    3. Sampai Point ini dapat kita simpulkan bahwa Vertical System pada

    osiloskop analog ada untuk mengatur penampakan Amplitudo dari

    sinyal yang diamati.

    4. Lalu Sinyal masuk ke dalam Pelat defleksi vertikal. Sinyal tegangan

    yang teraplikasikan disini menyebabkan berkas berkas elektron

    Bergerak. Tegangan positif mengakibatkan berkas elektron bergerak

    keatas, sedangkan tegangan negatif menyebabkan elektron terdorong

    kebawah

    5. Sinyal Yang keluar dari Vertikal Sytem tadi juga diarahkan ke Trigger

    System untuk memicu sweep generator dalam menciptakan apa yang

    disebut dengan "Horizontal Sweep" [ pergerakan elektron secara sweep

    dalam dimensi horizontal, atau dengan kata lain adalah sebuah

    ungkapan untuk aksi yang menyebabkan elektron untuk bergerak

    menyebrangi layar dalam suatu interval waktu tertentu, nah pergerakan

    yang super cepat dari elektron yang dapat mencapai 500,000 kali per

    detik inilah yang menyebabkan elektron tampak seperti garis pada layar

    ( Seperti kipas pada kipas angin yang tampak seperti lingkaran saja saat

    berputar ).

    6. Pengaturan berapa kali elektron bergerak menyebrangi layar inilah yang

    dapat kita anggap sebagai pengaturan Periode / Frekuensi yang tampak

    pada layar, bentuk konkretnya adalah saat kita menggerakkan kenop

    Time/Div pada Osiloskop. [4]

    7. Bersama, pengaturan bidang vertikal dan horizontal ahirnya dapat

    merepresentasikan sinyal tegangan yang diamati kedalam bentuk grafik

    yang kita kenal sampai saat ini. [4]

  • II. HASIL DATA

    1. Langkah-langkah menghidupkan dan mengkalibrasi osiloskop

    1.1. Menekan tombol POWER.

    1.2. Atur kedudukan time/div dan volt/div

    1.3. Hubungkan probe channel 1 pada CAL, untuk channel 2 juga

    dilakukan hal yang sama dengan channel 1.

    1.4. Tekan tombol CH I/II untuk memunculkan gambar pada layar.

    1.5. Putar tombol X position untuk menggeser gambar ke kanan dan kiri

    agar gambar lebih mudah untuk ditafsirkan.

    1.6. Putar tombol Y position untuk menggeser gambar ke atas dan bawah.

    1.7. Hasil kalibrasi chanel 1 adalah sebesar 1 satuan.

    Gambar 3.5. Mengkalibrasi Osiloskop

    2. Mengatur tegangan Vpp

    2.1. Trafo dihubungkan ke input X (channel 1).

    2.2. Atur tombol volt/div pada kedudukan 5V.

    2.3. Atur gambar agar tampak stabil menggunakan tombol time/div pada

    5ms.

    2.4. Mengatur posisi gambar agar dapat dilihat dengan jelas menggunakan

    tombol X position dan Y position.

    2.5. Tinggi gelombang pada layar adalah 3,2 satuan

    2.6. Untuk menghitung tegangan Vpp menggunakan rumus :

    Vpp = tinggi x harga kedudukan volt/div

    Vpp = 4 x 5 = 20 Volt

    2.7. Untuk menghitung tegangan rata-rata (RMS) dapat dihitung dengan

    cara:

  • VRMS = Vpp x 0,5 x 07

    VRMS = 20 x 0,5 x 0,7 = 7 Volt

    Gambar 3.6. Mengukur tegangan peak to peak (VPP)

    3. Mengukur frekuensi

    3.1. Trafo dihubungkan ke input X (channel 1).

    3.2. Atur tombol volt/div pada kedudukan 5V.

    3.3. Atur gambar agar tampak stabil menggunakan tombol time/div pada

    5ms.

    3.4. Atur posisi gambar agar dapat dilihat dengan jelas menggunakan

    tombol X position dan Y position.

    3.5. Panjang gelombang penuh () yang didapatkan adalah 4 satuan

    3.6. Untuk menghitung periode (T) adalah dengan cara :

    T = x harga kedudukan time/div

    T = 4 x 5ms

    T = 20ms

    3.7. Untuk menghitung frekuensi () adalah dengan cara :

    =1

    T=

    1

    4 x 5ms=

    1

    20 x 103= 50 Hz

    Gambar 3.7. Mengukur Frekuensi

  • 4. Melihat dua gelombang sekaligus secara bersamaan

    4.1. Trafo dihubungkan ke input X (channel 1).

    4.2. Channel 2 (Y) dihubungkan dengan ujung trafo yang lain.

    4.3. Ground dari masing-masing channel di titik yang sama.

    4.4. Atur tombol volt/div pada kedudukan 5V.

    4.5. Atur gambar agar tampak stabil menggunakan tombol time/div pada

    5ms.

    4.6. Mode CHOP pada DUAL.

    4.7. Atur posisi gambar agar dapat dilihat dengan jelas menggunakan

    tombol X position dan Y position.

    Gambar 3.8. Melihat dua gelombang sekaligus secara bersamaan

    5. Mengukur frekuensi PLN dengan cara Lissajous

    5.1. Hubungkan input channel 1 ke output trafo sebagai FH.

    5.2. Hubungkan channel 2 ke output FG sebagai FV.

    Gambar 3.9. Mengukur frekuensi PLN dengan cara Lissajous

    5.3. Atur kedudukan tombol X-Y pada kondisi on dan kedudukan

    volt/div channel 1 dan channel 2 pada kedudukan 5V.

    5.4. Mode CHOP dalam keadaan DUAL dan ADD.

    FH:FV = 1 : 1

    FH = 50 Hz maka FV = 50 Hz

  • FV =1

    =

    1

    /

    50 = 1

    5 .103

    50 x x 5 x103 = 1

    = 1

    50 5 103

    = 1000

    250= 4

    Gambar 3.10. Frekuensi dengan perbandingan 1 : 1

    FH:FV = 1 : 2

    FH = 50 Hz maka FV = 100 Hz

    FV =1

    =

    1

    /

    100 = 1

    5 .103

    100 x x 5 x103 = 1

    = 1

    100 5 103

    = 1000

    500= 2

    Gambar 3.11.Frekuensi dengan perbandingan 1 : 2

  • FH:FV = 1 : 3

    FH = 50 Hz maka FV = 150 Hz

    FV =1

    =

    1

    /

    150 = 1

    5 .103

    150 x x 5 x103 = 1

    = 1

    150 5 103

    = 1000

    750= 1,3

    Gambar 3.12. Frekuensi dengan perbandingan 1 : 3

    FH:FV = 3 : 1

    FH = 50 Hz maka FV = 1

    3 FH =

    1

    3 50 =

    50

    3 = 16,6 Hz

    FV =1

    =

    1

    /

    16,6 = 1

    5 .103

    16,6 x x 5 x103 = 1

    = 1

    16,6 5 103

    = 1000

    83,35= 12 => 5ms diganti pada kedudukan 10ms

    = 1

    16,6 10 103

    = 1000

    166,7= 6

    Gambar 3.13. Frekuensi dengan perbandingan 3 : 1

  • - FH:FV = 2 : 3 = 50 : 75

    FH = 50 Hz maka FV = 3

    2 FH =

    3

    2 50 = 75 Hz

    5ms diganti pada kedudukan 10ms

    FV =1

    =

    1

    /

    75 = 1

    10 .103

    75 x x 10 x103 = 1

    = 1

    75 10 103

    = 1000

    750= 1,3

    Gambar 3.14. Frekuensi dengan perbandingan 2 : 3

    5.5. Tekan tombol X-Y untuk melihat gelombang dalam kedudukan

    ,sama.

    FH : FV = 1 : 1

    Gambar 3.15. Pola Interferensi 1 : 1

    FH : FV = 1 : 2

    Gambar 3.16. Pola Interferensi 1 : 2

  • FH : FV = 1 : 3

    Gambar 3.17. Pola Interferensi 1 : 3

    FH : FV = 3 : 1

    Gambar 3.18. Pola Interferensi 3 : 1

    FH : FV = 2 : 3

    Gambar 3.19. Pola Interferensi 2 : 3

    6. Mengukur beda fase

    6.1. Membuat rangkaian seperti di bawah ini :

    Gambar 3.20. Rangkaian untuk pengukuran beda fase

  • 6.2. Putar nilai tahanan potensio (R) hingga terlihat gambar yang jelas.

    6.3. Tinggi antara titik bawah dan atas = A

    6.4. Jarak perpotongan antara sumbu vertikal dan ellips = a

    6.5. Beda fase dapat dihitung dengan cara :

    900

    => 1 =

    =

    0,22

    3= sin 0,73 = 4,20

    Gambar 3.21. Pola Interferensi beda fase 90o

    1800 =>

    2 =

    =

    0,8

    3= sin 0,267 = 15,48

    Gambar 3.22. Pola Interferensi beda fase 180o

    00 =>3 =

    =

    0,1

    3,2= sin 0,03 = 1,79

    Gambar 3.23. Pola Interferensi beda fase 0o

  • 450 =>4 =

    =

    0,14

    2,8= sin 0,05 = 2,86

    Gambar 3.21. Pola Interferensi beda fase 90o

  • III. ANALISA DAN PEMBAHASAN

    Pada praktikum ketiga ini penulis melakukan pengukuran menggunakan

    osiloskop, osiloskop berfungsi untuk menganalisa tingkah laku besaran yang

    berubah-ubah terhadap waktu yang ditampilkan pada layar, untuk melihat

    bentuk sinyal yang sedang diamati. Dengan Osiloskop maka kita dapat

    mengetahui berapa frekuensi, periode,tegangan dari sinyal, dan juga bisa

    mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran. Ada

    beberapa kegunaan osiloskop lainnya, yaitu Mengukur besar tegangan listrik

    dan hubungannya terhadap waktu. Mengukur frekuensi sinyal yang berosilasi.

    Mengecek jalannya suatu sinyal pada sebuah rangakaian listrik. Membedakan

    arus AC dengan arus DC.Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik dan

    hubungannya terhadap waktu.

    Osiloskop terdiri dari dua bagian utama yaitu display dan panel kontrol.

    Display yang berfungsi sebagai tempat sinyal uji ditampilkan. Pada layar ini

    terdapat garis-garis yang muncul secara vertikal dan horizontal yang

    membentuk kotak-kotak dan disebut div. Arah horizontal mewakili sumbu

    waktu dan garis vertikal mewakili sumbu tegangan. Panel kontrol berisi

    tombol-tombol yang bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan di layar.

    Pada umumnya osiloskop terdiri dari dua channel yang bisa digunakan untuk

    melihat dua sinyal yang berlainan, sebagai contoh kanal satu untuk melihat

    sinyal masukan dan kanal dua untuk melihat sinyal keluaran.

    Secara umum osiloskop hanya untuk circuit osilator ( VCO ) disemua

    perangkat yang menggunakan rangkaian VCO. Cara menghitung frequency

    tiap detik. Dengan rumus sebagai berikut ; F = 1/T, dimana F = frekuensi dan

    T = waktu. Untuk menggunakan osiloskop haruslah berhati-hati, bila terjadi

    kesalahan sangat fatal akibatnya.

    Prinsip Kerja Osiloskop yaitu menggunakan layar katoda. Dalam osiloskop

    terdapat tabung panjang yang disebut tabung sinar katode atau Cathode Ray

    Tube (CRT). Secara prinsip kerjanya ada dua tipe osiloskop, yakni tipe

    analog (ART - analog real time oscilloscope) dan tipe digital (DSO-digital

    storage osciloscope), masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan.

    Osiloskop mencuplik bentuk gelombang yang diukur dan dengan

  • menggunakan ADC (Analog to Digital Converter) untuk mengubah besaran

    tegangan yang dicuplik menjadi besaran digital.

    Dalam osiloskop, gelombang yang akan ditampilkan terlebih dulu disampling

    (dicuplik) dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai

    tegangan ini bersama sama dengan skala waktu gelombangnya di memori.

    Pada prinsipnya, osiloskop hanya mencuplik dan menyimpan demikian

    banyak nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi

    sampai dihentikan. Beberapa DSO memungkinkan untuk memilih jumlah

    cuplikan yang disimpan dalam memori per akuisisi (pengambilan) gelombang

    yang akan diukur.

    Sebelum osiloskop bisa dipakai untuk melihat sinyal maka osiloskop perlu

    disetel dulu agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam pengukuran. Langkah

    awal pemakaian yaitu pengkalibrasian. Yang pertama kali harus muncul di

    layar adalah garis lurus mendatar jika tidak ada sinyal masukan. Yang perlu

    disetel adalah fokus, intensitas, kemiringan, x position, dan y position.

    Dengan menggunakan tegangan referensi yang terdapat di osiloskop maka

    kita bisa melakukan pengkalibrasian sederhana. Ada dua tegangan referensi

    yang bisa dijadikan acuan yaitu tegangan persegi 2 Vpp dan 0.2 Vpp dengan

    frekuensi 1 KHz. Setelah probe dikalibrasi maka dengan menempelkan probe

    pada terminal tegangan acuan maka akan muncul tegangan persegi pada

    layar. Jika yang dijadikan acuan adalah tegangan 2 Vpp maka pada posisi 1

    volt/div (satu kotak vertikal mewakili tegangan 1 volt) harus terdapat nilai

    tegangan dari puncak ke puncak sebanyak dua kotak dan untuk time/div 1

    ms/div (satu kotak horizontal mewakili waktu 1 ms) harus terdapat satu

    gelombang untuk satu kotak. Jika masih belum tepat maka perlu disetel

    dengan potensio yang terdapat di tengah-tengah knob pengganti Volt/div dan

    time/div. pada osiloskop berupa potensio dengan label "var".

    Pada saat menggunakan osiloskop juga perlu diperhatikan beberapa hal yaitu

    Memastikan alat yang diukur dan osiloskop ditanahkan (digroundkan),

    disamping untuk kemanan, hal ini juga untuk mengurangi suara dari frekuensi

    radio atau jala-jala.Memastikan probe dalam keadaan baik, Kalibrasi tampilan

    bisa dilakukan dengan panel kontrol yang ada di osiloskop, Tentukan skala

  • sumbu Y (tegangan) dengan mengatur posisi tombol Volt/Div pada posisi

    tertentu. Jika sinyal masukannya diperkirakan cukup besar, gunakan skala

    Volt/Div yang besar. Jika sulit memperkirakan besarnya tegangan masukan,

    gunakan attenuator 10 x (peredam sinyal) pada probe atau skala Volt/Div

    dipasang pada posisi paling besar, Tentukan skala Time/Div untuk mengatur

    tampilan frekuensi sinyal masukan, Gunakan tombol Trigger atau hold-off

    untuk memperoleh sinyal keluaran yang stabil, Gunakan tombol pengatur

    fokus jika gambarnya kurang fokus. Gunakan tombol pengatur intensitas jika

    gambarnya sangat/kurang terang.

  • IV. KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan :

    1. Dengan Osiloskop memungkinkan kepada pengguna untuk melihat bentuk

    gelombang suatu tegangan.

    2. Dengan osiloskop bisa mengukur tegangan dan nilai-nilai waktu dari suatu

    bentuk gelombang yang telah ditampakkan.

    3. Cara penggunan osiloskop yang pertama adalah kalibrasi, yaitu menyetel

    fokus, intensitas, kemiringan, x position, dan y position, setelah probe

    dikalibrasi dengan menempelkan probe pada terminal tegangan acuan

    maka akan muncul tegangan persegi pada layar.

    4. Pengatur-pengatur osiloskop dapat dibagi menjadi empat kelompok.

    pengatur-pengatur umum, pengatur-pengatur masukan vertikal, pengatur-

    pengatur basis waktu dan pengatur-pengatur penyulutan. Setiap kelompok

    memiliki pengatur atas suatu area utama dalam osiloskop.

    Saran :

    1. Kalibrasi osiloskop sebelum dioperasikan untuk mendapatkan hasil yang

    maksimal.

    2. Aturlah posisi X dan posisi Y agar kita biasa melihat tampilan pada posisi

    yang benar.

    3. Aturlah volt/div dan time/div pada posisi 5 atau 10 untuk lebih

    mempermudah pembacaan gelombang.

    4. Gunakanlah pemutar hold untuk memperlambat gelombang yang di

    tampilkan.

  • V. DAFTAR PUSTAKA

    1. http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/19

    7407162001121-

    HASBULLAH/PRAKTIKUM_ELEKTRIK_DASAR/4._PENGUKURAN

    _DENGAN_OSCILOSCOP.pdf

    20.12 WIB, 20 Oktober 2012

    2. http://web.ipb.ac.id/~henrymanik/pdf/Tutorial%20OSILOSKOP.pdf %.pdf

    20.15 WIB, 20 Oktober 2012

    http://elektronika-dasar.com/instrument/cathode-ray-oscilloscope-cro/

    20.43 WIB, 20 Oktober 2012

    3. http://www.sentra-edukasi.com/2009/06/materi-elektro-osiloskop-

    oscilloscope.html

    13.10 WIB, 21 Oktober 2012

    4. http://elektronikaindustri.com/konstruksi-layar-osiloskop-cro/

    15.12 WIB, 21 Oktober 2012

    5. http://www.gudangmateri.com/2010/04/osiloskop-beserta-spesifikasinya

    19.35 WIB, 21 Oktober 2012

    6. http://blog.uin-malang.ac.id/ellie/2011/06/osiloskop/

    20.12 WIB, 23 Oktober 2012

    http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/197407162001121-HASBULLAH/PRAKTIKUM_ELEKTRIK_DASAR/4._PENGUKURAN_DENGAN_OSCILOSCOP.pdfhttp://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/197407162001121-HASBULLAH/PRAKTIKUM_ELEKTRIK_DASAR/4._PENGUKURAN_DENGAN_OSCILOSCOP.pdfhttp://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/197407162001121-HASBULLAH/PRAKTIKUM_ELEKTRIK_DASAR/4._PENGUKURAN_DENGAN_OSCILOSCOP.pdfhttp://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/197407162001121-HASBULLAH/PRAKTIKUM_ELEKTRIK_DASAR/4._PENGUKURAN_DENGAN_OSCILOSCOP.pdfhttp://elektronika-dasar.com/instrument/cathode-ray-oscilloscope-cro/http://www.sentra-edukasi.com/2009/06/materi-elektro-osiloskop-oscilloscope.htmlhttp://www.sentra-edukasi.com/2009/06/materi-elektro-osiloskop-oscilloscope.htmlhttp://elektronikaindustri.com/konstruksi-layar-osiloskop-cro/http://www.gudangmateri.com/2010/04/osiloskop-beserta-spesifikasinya.htmlhttp://blog.uin-malang.ac.id/ellie/2011/06/osiloskop/