Surga dan Neraka Buah Tanaman Dunia.doc

Download Surga dan Neraka Buah Tanaman Dunia.doc

Post on 21-Nov-2015

33 views

Category:

Documents

13 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>Surga dan Neraka Buah Tanaman Dunia</p> <p>Khutbah pertama :</p> <p> . . , . Maasyiral muslimin Rahimakumullah</p> <p>Alhamdulillah pada hari ini kita masih diberi nikmat untuk bersama-sama menjalankan ibadah bertemu dalam shalat jumat berjamaah. Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. semoga ketaqwaan itu bisa menyelematkan kita dari api neraka dan memposisikan kita di dalam surag. Rasulullah saw pernah bersabda dalam hadits-nya yang berbunyi:</p> <p> Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala kemakruhan (hal yang dinistakan agama) sedangkan neraka dikelilingi oleh syahawat (hal-hal yang menyenangkan manusia)."</p> <p>Arti kata dikepung (huffat) adalah terhalang. Sebagaimana sebuah perkampungan yang tekepung banjir. Karena itu, untuk sampai pada perkampungan tersebut, seseorang harus berani menerjang banjir. Demekian juga dengan surga. Mereka yang menginginkannya harus siap melawan berbagai kemakruhan. Yang dimaksud dengan kemakruhan adalah segala hal yang dianggap buruk dan dibenci oleh syariat.Begitu pula sebaliknya, posisi neraka dalam hadits di atas dikelilingi dengan berbagai kesenangan. Barang siapa yang kesehariannya selalu bersenang-senang tanpa mempedulikan aturan syariat, sungguh dia telah berada sangat dekat dengan neraka.Apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits ini sangatlah mudah difahami. Apalagi untuk orang dewasa. Namun, sayangnya seringkali pemahaman itu hanya berhenti sebagai pengetahuan dan tidak ditindak lanjuti sebagai amalan. Sehingga seringkali orang mengaku takut dengan api neraka serta siksa-siksa di dalamnya, tetapi masih saja bergelut dalam kesenangat syahwat yang terlarang. Begitu pula sebaliknya banyak orang yang mengaku merindukan surga, ingin segera bersanding dengan bidadari. Tetapi tidak senang dengan amal-amal saleh dan kebajikan-kebajikan anjuran agama.Sebuah kisah dari Rasulullah saw yang berhubungan erat dengan hadits ini sebagaimana dinukil dalam kitab Sirajut Thalibin karya Kiai Ihasan Jampes sebagaimana diriwayatkan imam Tirmidzi bahwa suatu ketika Rasulullah saw bercerita ketika Allah swt telah menjadikan surga diperintahkanlah Jibril untuk melihatnya, sambil berkata Jibril lihatlah surga dengan segala fasilitas yang Ku-persiakkan untuk penghuninya. Segeralah Jibril menengok surga dengan segala perlengkapannya. Kemudian kembali menghadap dan berkata demi kemuliaan-Mu, semua orang yang pernah mendengar kata surga pasti akan memasukinya kemudian Allah memerintahkan untuk memagari surga dengan kemakruhan. Setelah itu, Allah swt kembali mengutus Jibril untuk melihatnya sekarang kamu lihatlah surga itu kembali (lengkap segala fasilitas untuk penghuninya) maka berangkatlah Jibril, kemudian ia kembali menghadap dan berkata demi kemuliaan Dzat-Mu aku khawatir tidak ada seorangpun yang dapat memasukinya. Sekarang pergilah kau ke neraka dan lihat segala macam siksaan yang ada di dalamnya perintah Allah kemudian kepada Jibril. Ia pun berangkat dan kembali menghadap seraya berkata demi kemuliaan-Mu ya Allah, hamba yakin tak seorangpun yang pernah mendengar cerita neraka mau memasukinya. Maka Allah segera menghiasi neraka dengan berbagai kesenangan. Dan kembali berkata pada Jibril sekarang tengoklah kembali neraka Jibrilpun berangkat dan segera kembali melapor Ya Allah, demi kemuliaan-Mu aku khawatir tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari neraka-Mu </p> <p>Maasyiral Muslimin RahimakumullahDemikianlah Allah sengaja membuat pagar untuk surga sebagai ujian bagi mereka yang menginginkannya. Dan Allah perindah neraka dengan berbagai asesoris yang terbuat kesenangan-kesenangan sebagai cobaan manusia. Karena itu pada hadits selanjutnya Rasulullah saw menggarisbawahi:</p> <p>Bahwa surga adalah sesuatu yang sulit di raih bagai berada di tempat yang tinggi. Sedangkan neraka adalah sesuatu yang mudah bagai berada di tanah yang rendah</p> <p>Begitulah keadaan sebenarnya. Selanjutnya terserah pribadi kita masing-masing. Apakah kita inginkan surga atau menyerahkan diri kepada neraka.</p> <p>Imam Ghazali pernah menerangkan menyambung keteragan hadits di atas dalam Minhajul Abdidn. Bahwa kini (pada masa al-Ghazali) manusia sungguhlah amat lemah, sedangkan kehidupan semakin kompleks. Pengetahuan agama semakin menipis, adapun kesempatan ibadah semakin menyusut. Kesibukan semakin mendesak, umur semakin berkurang dan amal ibadah terasa makin berat. </p> <p>Bukankah hal semakin terasa pada zaman sekarang. Manusia sangat lemah, kemauan manusia semakin hari semakin pupus. Yang diinginkan hanyalah segala yang serba cepat dan instan. Tidak ada usaha serius yang ada hanyalah ketergantungan yang semakin tinggi. Ketergantungan dengan gadget, dengan alat komunikasi, dengan mesin ATM dengan segala macam peralatan tehnologi. Hal ini semakin melemahkan manusia sebagai individu. Manusia kini tidak berani menghadapi kehidupan tanpa tetek-bengek tersebut.Di sisi lain kesibukan kegiatan manusia luar biasa padatnya. Sehingga waktu yang ada hanya habis untu mengurus segala macam urusan yang disekitar. Sehingga kesempatan beribadah semakin lenyap. Shalat lima kali saja terkadang tidak terlaksana. Kalaupun terlaksana pengetahuan tentang ibadah itu sangat minim sekali. Pelajaran tentang agama hanya di dapat di sela-sela waktu bekerja. Dalam pesantren kilat, kultum di tivi atau di sela istirahat kantor, melalui google, tanya jawab dalam media sosial. Urusan belajar agama menjadi sampingan. Tidak terasa umur sudah senja. Ketenangan jiwa masih jauh, fisik semakin lemah diajak beribadah. Bagaimanakah jika sudah demikian?</p> <p>Jamah jumah Rahimakumullah</p> <p>Maka yang tersisa hanya satu memohon kepada Allah swt agar dianugerahi taufiq dan hidayah. Semoga Allah swt melimpahkan cahaya untuk hambanya. Sebagakimana yang difirmankannya:</p> <p>Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya</p> <p>Artinya, apapun yang terjadi ketika Allah swt telah menghendaki untuk memberikan hidayah-Nya kepada seorang hamba, maka tidak ada satupun masalah yang tersisa. Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. Bagaimanakah tanda seseorang memperoleh cahaya hidayah-Nya? Rasulullah saw menjawab:</p> <p> Hamba itu (yang memperoleh hidayah) akan undur diri dari urusan dunia, menekuni urusan akhirat, dan mempersiapkan diri seolah ajal akan segera datang.</p> <p>Apakah ada dalam diri kita tanda-tanda memperoleh hidayah-Nya? Marilah kita raba diri kita masing-masing.Demikian khutbah jumah kali ini semoga bermanfaat untuk saya khususnya selaku khatib dan jamaah pada umumnya.</p> <p> , Khutbah II</p> <p> . . </p> <p> . </p> <p> . . . . ! </p> <p>STRATEGI MENJAGA KESEHATAN JASMANI DAN ROHANI</p> <p>Khutbah Pertama : , , . . . . . : Alhamdulillah segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah swt Tuhan semesta alam, pemberi nikmat sehat dan iman dan Islam. shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw keluarganya, para sahabat dan para pengikut setianya. Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. sungguh hanya dengan taqwalah kita dapat mengisi kehidupan ini dengan lebih bermanfaat dan bernilai.</p> <p>Maasyiral Muslimin Jamaah Jumah Rahimakumullah</p> <p>Abdullah bin Mubarak pernah bercerita bahwasannya ada seorang bijak, cerdik cendekia yang mengumpulkan empat puluh ribu hadits pilihan. Kemudian memilah dari empat puluh ribu hadits itu menjadi empat ribu hadits. Dan dari empat ribu hadits itu dipilihlah empat ratus hadits yang ditakhrijnya. Dan dari empat ratus itu disaring menjadi empat puluh hadits. Dan dari empat puluh itu disarikan menjadi empat kalimat berikut ini, yaitu:</p> <p>Pertama, ( ) janganlah terlalu percaya kepada wanita pada segala hal. Artinya janganlah terlalu merasa tenang menyerahkan urusan seratus persen kepada perempuan. Baiknya seorang kita selalu mengantisipasi apapun yang dilakukan wanita. Bila demikian tidaklah hanya kepada perempuan seseorang mengantisipasi urusan-urusannya. Tetapi kepada siapapun harus tetap waspada. Karena itu jika mempercayakan sesuatu hendaklah mempercayakannya kepada lebih dari seseorang agar ada kontrol diantara mereka.</p> <p>Kedua, ( ) janganlah tertipu dengan harta. Memang Harta itu bisa diumpamakan seperti api. Ketika masih kecil sangat menawan, tetapi bila besar malah menghawatirkan, dia bisa menghanguskan apapun yang ada disekitarnya. Begitu pula harta berhati-hatilah dengan harta. Seringkali orang merasa aman ketika disakunya ada uang, padahal tidak demikian. justru uang itulah yang memanggil kecelakaan. Baik kecelakaan secara dhahir maupun secara bathin.</p> <p>Perhiasan yang megah yang ada ditangan maupun di jari-jari juga dileher sering memanggil-manggil kejaahatan. Begitu pula kecelakaan bathin, karena ada uang seseorang bisa mampir ketempat-tempat makshiyat yang tidak mungkin dikunjungi ketika tidak punya uang. Nah khatib hanya mengingatkan siapakah mereka yang sekarang lagi kebingungan menyembunyikan uangnya dari kejaran pemerintah dan para pengusaha hitam kelas kakap? Pastilah orang yang memiliki banyak harta.</p> <p>Jamaah Jumah yang Dirahmati Allah</p> <p>Ketiga, ( ) janganlah membebani perut dengan muatan yang diluar kemampuannya. Secara ilmu kesehatan hal ini akan mengakibatkan datangnya berbagai penyakit. Karena segala unsur yang berbahaya di dunia ini bisa mengancam diri manusia, ketika sesuatu itu masuk kedaam tubuh manusia melalui mulut dan mampir ke dalam perut. Itulah awal mula segala penyakit. Sebagaimana sabda Rasulullah saw Bahwa sumber segala penyakit adalah buruknya pencernaan.</p> <p>Mengenai kesehatan pencernaan ini Rasulullah saw peernah bersabda dalam hadits yang diceritakan oleh sahabat anas:</p> <p> Bahwa sannya sumber segala penyakit yang berhubungan dengan perut adalah at-tuhmah, yaitu memasukkan makanan terus msnerus. Begitu juga menenggak minum setelah makan atau ditengan makan sebelum makanan pertana dicerna.Baiknya juga diperhatikan bahwa memakan sesuatu dengan berlebihan itu menandakan nafsu yang besar. Sedangkan nafsu itu sendiri haruslah dikendalikan agar hidup bisa sejahtera.</p> <p>Keempat, ( ) jangan mengumpulkan ilmu apapun yang tidak bermanfaat. Kalimat terkhir ini bila difahami dengan seksama maka akan berarti jangan sampai seseorang memiliki ilmu yang tidak bermanfaat. Jangan sampai ada ilmu yang tidak diamalkan. Karenya semua ilmu baiknya harus diamalkan. Walaupun ilmu itu hanya sedikit. Demikianlah hubungan ilmu dan manfaat, keduanya tidak bisa dipisahkan bila ingin kesempurnaan.</p> <p>Jamaah Jumah Rahimakumullah</p> <p>Seorang lelaki pernah berkata kepada Abu Hurairah aku ingin mempelajari ilmu, tetapi aku takut menyia-nyiakannya kemudian Abu Hurairah menjawab cukuplah kamu meninggalkan ilmu itu termasuk menyia-nyiakan ilmu.Mengertilah bahwa beramal demi Allah dengan tulus ikhlas itu sungguh amat susahnya. Karena itu, tetaplah beramal walaupun amal itu masih bercampur riya. Anggap saja itu sebagai latihan. Dan jangan pernah menggugurkan amal karena riya karena itulah hakikat riya sejati.Sebagai penutup khutbah ini dapat kami sampaikan bahwa kita dianjurkan untuk ;</p> <p>1. Jangan terlalu menyerahkan segala urusan kepada wanita/istri ;</p> <p>2. Jangan mudah terlena oleh kemilau harta benda ;</p> <p>3. Jangan membebani perut dengan makanan yang berlebihan dan </p> <p>4. Jangan mengumpulkan ilmu apa pun yang tidak bermanfaat.</p> <p>Demikian sedikit uraian khutbah jumat yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan sekecil apapun akan dapat bermanfaat terutama untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani kita.</p> <p>Semoga Allah Swt senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan kepada kita dalam rangka melaksanakan pengabdian dan ibadah kepada-Nya, sehingga kita dapat selamat di dunia-akherat. Khutbah II</p> <p> . . . . . . . ! Tiga Perkara Yang Diridhai Allah SwtKhutbah Pertama : :Maasyiral muslimin rahimakumullah,Segala puji bagi Allah Subhanahu wataala, Rabb yang telah mengutus kepada kita sebaik-baik utusan dan menurunkan sebaik-baik kitab suci. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain AllahSubhanahu wataala semata yang memiliki al-asmaul husna. Saya juga bersaksi bahwa Nabi MuhammadShallallahu alaihi wasallam adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menyampaikan risalah dengan penuh amanah sehingga meninggalkan umat ini di atas agama yang jelas. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali umat telah diajak kepadanya. Tidak ada satu kejelekan pun kecuali umat ini telah diingatkan darinya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang mengikuti petunjuknya.</p> <p>Hadirin rahimakumullah,Marilah kita senantiasa bertakwa kepada AllahSubhanahu wataala dengan sebenar-benar takwa dan marilah kita menjadi hambahamba- Nya yang bersaudara. Yaitu bersaudara karena iman yang diwujudkan dengan saling mencintai, kasih sayang, dan tolong-menolong dalam kebenaran serta saling menasihati dan melakukan amar maruf nahi mungkar.</p> <p>Jamaah jumah rahimakumullah,Al-Imam Ahmad dan al-Imam Muslim rahimahumallah meriwayatkan dengan lafadz yang semakna dari jalan sahabat Abu Hurairah z dari NabiShallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,</p> <p> Sesungguhnya AllahSubhanahu wataala meridhai untuk kalian tiga hal dan membenci dari kalian dari tiga hal: AllahSubhanahu wataala meridhai kalian agar beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun; berpegang kuat dengan agama Allah Subhanahu wataala semuanya (bersatu) dan tidak berceraiberai; serta agar menasihati orang yang Allah telah jadikan sebagai penguasa bagi kalian. (Dan Allah) membenci kalian dari mengatakan (setiap apa yang) dikatakan (kepada kalian), banyak bertanya, dan membuang-buang harta. (HR. Ahmad dan Muslim)Hadirin rahimakumullah,Di dalam hadits yang mulia ini, Nabi Muhammad memberitakan bahwa Allah Subhanahu wataala meridhai kita untuk memiliki tiga sifat yang dengannya seseorang akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sifat-sifat tersebut adalah: Yang pertama adalah agar kita memperbaiki akidah dengan memurnikan ibadah hanya untuk AllahSubhanahu wataala dan berlepas diri dari berbagai jenis kesyirikan. Ini adalah perkara pertama yang harus diperhatikan. Sebab, akidah merupakan ondasi yang dibangun di atasnya amalan seseorang. Apabila baik akidahnya, akan bernilai sebagai ibadah dan akan bermanfaat amal...</p>