skrining farkol

Author: hendi-mulyana

Post on 19-Oct-2015

289 views

Category:

Documents


5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Mahasiswa mampu mempelajari tentang skrining farmakologi

1.3 Hipotesis Pada pemberian golongan obat depresan dapat menurunkan aktivitas motorik pada hewan coba sedangkan pada pemberian obat golongan stimulant dapat meningkatkan aktivitas motorik

BAB IITINJAUAN PUSTAKASkrining/penapisan farmakologi adalah suatu metode untuk mengetahui aktivitas farmakologik suatu zat. Prinsipnya adalah melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan cobasetelah diberi zat uji. Penapisan atau skrining farmakologi dilakukan untuk mengetahui aktivitas farmakologisuatu zat yang belum diketahui efeknya. Hal ini dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan coba setelah diberi zat uji. Zat atau obat yang disediakan dalam praktikum ini antara lain yang memberikan efek deresan SSP, perangsang SSP, simpatomimetik,parasimpatomimetik, simpatolitik, muscle relaxant, analgesik, vasokonstriktor, dan vasodilator. Pada percobaan ini akan dilakukan evaluasi dan pengelompokan efek-efek yang timbul pada hewan uji (tikus) berdasarkan efek yang dapat ditimbulkan oleh zat atau obat tersebut. Prinsip dasar penapisan atau skrining farmakologi ini ialah mencari persen aktivitas yang terjadi pada setiap kelompok efekefek tersebut, kemudian dapat ditarik kesimpulan berdasarkanpersen aktivitas yang paling besar. Semakin besar persen aktivitas pada suatu efek maka zat atau obat uji semakin mempunyai kecenderungan berasal dari kelompok efek tersebut. Uji ini merupakan tahap awal penelitian farmakologi atau zat-zat yang belum diketahui efeknya serta untuk mengetahui apakah obat tersebut memiliki efek fisiologis atau tidak sehingga disebut sebagai penapisan hipokratik (penapisan awal). Penapisan ini masih merupakan prediksi.AntidepresanObat yang digunakan untuk pengobatan ansietas ialah sedatif atau obat-obatan yang secara umum memiliki sifat yang sama dengan sedatif. Antiansietas yang terutama ialah golongan benzodiazepin. Banyak golongan depresan SSP yang lain telah digunakan untuk sedasi siang hari pada pengobatan ansietas, namun penggunaannya saat ini telah ditinggalkan. Alasannya ialah obat-obat tersebut antara lain golongan barbiturat dan memprobamat, lebih toksik pada takar lajak (Defartik, 2007).Antiansietas terbagi dua kelas: hipnosedatif dan sedatif otonomik. Hipnosedatif dapat digunakan pada dosis yang lebih tinggi sebagai pil tidur dan dosis yang lebih rendah untuk menghilangkan kecemasan. Semuanya dapat menyebabkan ketergantungan. Obat yang lebih tua, kecuali benzodiazepin, dapat digunakan untuk bunuh diri, lebih efektif sebagai antiansietas, dan bertahan lebih lama. Efek terapi dapat berlanjut beberapa jam setelah dosis tunggal, yang membuat obat ini berguna mengatasi gejala akibat penghentian konsumsi alkohol. Efek samping terutama adalah sedasi dan lebih jarang berupa malkoordinasi dan atau ataksia. Seperti penggunaan alkohol, dapat mengganggu proses mengemudi kendaraan. Pada dosis rendah, hal ini tentunya bukanlah masalah. Kadang, obat ini dapat menyebabkan pasien neurosis menjadi agresif dan cepat marah. Hal ini hampir sama dengan efek penggunaan alkohol sekalipun pada praktisnya dianggap tidak terlalu menimbulkan masalah (Mahmudin, 2000).Sedatif otonomik lebih menyerupai antidepresan dan anti psikosis. Yang dapat mengurangi kecemasan jika diberikan dengan dosis rendah. Obat ini menyebabkan sedasi yang kurang menyenangkan dan sering menyebabkan penurunan aktivitas. Efek otonomik seperti mulut kering lebih sering muncul dan kadang kurang efektif dibandingkan dengan benzodiazepin (Mahmudin, 2000).Keputusan untuk meresepkan suatu obat pada pasien dengan gangguan kecemasan campuran anxietas dan depresi hams jarang dilakukan pada kunjungan pertama. Karena sifat gangguan yang berlangsung lama, suatu rencana pengobatan hares dengan cermat dijelaskan. Dua golongan obat utama yang dipakai dalam pengobatan gangguan anxietas adalah Benzodiazepine dan Non-Benzodiazepine, dengan Benzodiazepine sebagai pilihan utama (Ashadi, 2008).Beberapa efek samping penggunaan obat antiansietas, yaitu:- Sedative (rasa mengantuk, kewaspadaan menurun, kerja psikomotorik menurun, dan kemampuan kognitif melemah)- Rasa lemas dan cepat lelah- Adiktif walaupun sifatnya lebih ringan dari narkotika. Ketergantungan obat biasanya terjadi pada individu peminum alkohol, pengguna narkoba (maksimum pemberian obat selama 3 bulan)Penghentian obat secara mendadak memberikan gejala putus obat (rebound phenomenon) seperti kegelisahan, keringat dingin, bingung, tremor, palpitasi atau insomnia (Anonim1, 2009).Golongan BenzodiazepinBenzodiazepine (Diazepam). Benzodiazepin telah merupakan obat terpilih untuk gangguan kecemasan umum. Benzodiazepin dapat diresepkan atas dasar jika diperlukan, sehingga pasien menggunakan benzodiazepin kerja cepat jika mereka merasakan kecemasan tertentu. Pendekatan alternatif adalah dengan meresepkan benzodiazepin untuk suatu periode terbatas, selama mans pendekatan terapetik psikososial diterapkan (Defartik, 2007).Benzodiazepin yang dianjurkan sebagai antiantisietas ialah: klordiazepoksid, diazepam, oksazepam, klorazepat, lorazepam, prazepam, alprazolam dan halozepam. Sedangkan klorazepam dianjurkan untuk pengobatan panic disorder (Defartik, 2007).Contoh Antiansietas : Alprazolam, Diazepam, Clobazam, Lorazepama.Farmakodinamik.Klordiazepoksid dan diazepam merupakan prototip derivat benzodiazepin yang digunakan secara meluas sebagai antiansietas.b.Mekanisme kerja.Mekanisme kerja benzodiazepin merupakan potensial inhibisi neuron dengan GABA sebagai mediatornya. Efek farmakodinamik derivat benzodiazepin lebih luas daripada efek meprobamat dan barbiturat. Klordiazepoksid tidak saja bekerja sentral, tetapi juga perifer pada susunan saraf kolinergik, adrenergik dan triptaminergik (Defartik, 2007).Klordiazepoksid lebih berguna untuk mengatasi sifat agresif hewan coba (monyet) daripada penobarbital, meprobamat dan CPZ. Berbeda dengan CPZ, klordiazepoksid dan diazepam bersifat nonselektif dalam menghambat respon terkondisi. Setelah pemberian per oral, klordiazepoksid mencapai kadar tertinggi dalam 8 jam dan tetap tinggi sampai 24 jam. Ekskresi klordiazepoksid melalui ginjal lambat; setelah pemberian satu dosis, obat ini masih ditemukan dalam urin beberapa hari (Defartik, 2007).c.Efek Samping dan Kontraindikasi.Pada penggunaan dosis terapi jarang menimbulkan kantuk; tetapi pada takar lajak benzodiazepin menimbulkan depresi SSP. Efek samping akibat depresi susunan saraf pusat berupa kantuk dan ataksia merupakan kelanjutan efek farmakodinamik obat-obat ini. Efek antiansietas diazepam dapat diharapkan terjadi bila kadar dalam darah mencapai 300-400 ng/mL; pada kadar yang sama terjadi pula efek sedasi dan gangguan psikomotor. Intoksikasi SSP yang menyeluruh terjadi pada kadar di atas 900-1.000 ng/mL. Kadar terapi klordiazepoksid mendekati 750-1.000 ng/mL (Defartik, 2007).Peningkatan hostilitas dan iritabilitas dan mimpi-mimpi hidup (vivid dreams) dan mengganggu kadang-kadang dikaitkan dengan pemberian benzodiazepin, mungkin dengan kekecualian oksazepam. Hal yang ganjil adalah sesekali terjadi peningkatan ansietas. Respon semacam ini rupa-rupanya terjadi pada pasien yang merasa ketakutan dan terjadi penumpulan daya pikir akibat efek samping sedasi antiansietas. Dapat ditambahkan bahwa salah satu penyebab yang paling sering dari keadaan bingung yang reversibel pada orang-orang tua dalah pemakaian yang berlebihan berbagai jenis sedatif, termasuk apa yang biasanya disebut sebagai benzidiazepin dosis kecil. Efek yang unik adalah perangsangan nafsu makan, yang mugkin ditimbulkan oleh derivat benzodiazepin secara mental (Defartik, 2007).Umumnya, toksisitas klinik benzodiazepin rendah. Bertambahnya berat badan, yang mungkin disebabkan perbaikan nafsu makan terjdi pada beberapa pasien. Banyak efek samping yang dilaporkan untuk obat ini tumpang tindih dengan gejala ansietas, oleh karena itu perlu anamnesis yang cermat untuk mengetahui apakah yang dilaporkan adalah benar sustu efek samping atau gejala ansietas. Diantara reaksi toksik klordiazepoksid yang dijumpai adalah rash, mual, nyeri kepala, gangguan fungsi seksual, vertigo, dan kepala rasa ringan. Agranulositosis dan reaksi hepatik telah dilaporkan, namun jarang. Ketidakteraturan menstruasi dilaporkan terjadi dan wanita yang sedang menggunakan benzodiazepin dapat mengalami kegagalan ovulasi (Defartik, 2007).Obat ini sering digunakan untuk percobaan bunuh diri oleh pasien dengan mental yang labil, tetapi intoksikasi benzodiazepin biasanya tidak berat dan tidak memerlukan terapi khusus. Beberapa kematian pernah dilaporkan dengan dosis di atas 700 mg klordiazepoksid atau diazepam. Tidak jelas apakah hanya karena obat ini, kombinasi dengan antidepresi lainnya atau kondisi tertentu pasien. Derivat benzodiazepin sebaiknya jangan diberikan bersama alkohol, barbiturat atau fenotfazin. Kombinasi ini mungkin menimbulkan efek depresi yang berlebihan. Pada pasien gangguan pernafasan benzodiazepin dapat memperberat gejala sesak nafas (Defartik, 2007)d.Indikasi dan sediaan.Derivat benzodiazepin digunakan untuk menimbulkan sedasi, menghilangkan rasa cemas dan keadaan psikosomatik yang ada hubungan dengan rasa cemas. Selain sebagai ansietas, derivat benzodiazepin digunakan juga sebagai hipnotik, antikonvulsi, pelemas otot dan induksi anestesi umum. Sebagai ansietas, klordiazepoksid dapat diberikan secara oral atau bila sangat diperlukan suntikkan, suntikan dapat diulang 2-4 jam dengan dosis 25-100 mg sehari dalam 2 atau 4 pemberian. Dosis diazepam adalam 2-20 mg sehari; pemberian suntikan dapat diulang 3-4 jam. Klorazepat diberikan sebagai oral 30 mg sehari dalam dosis terbagi. Klordiazepoksid tersedia sebagai tablet 5 dan 10 mg. Diazepam berbentuk tablet 2 dan 5 mg. Diazepam tersedia sebagai larutan untuk pemberian rektal pada anak dengan kejang demam (Departik, 2007).Untuk pengobatan kecemasan, biasanya memulai dengan obat pada rentang rendah terapetiknya dan meningkatkan dosis untuk mencapai respon terapetik. Pemakaian benzodiazepin dengan waktu paruh sedang (8 sampai 15 jam) kemungkinan menghindari beberapa efek merugikan yang berhubungan dengan penggunaan benzodiazepin dengan waktu paruh panjang. Pemakaian dosis terbagi mencegah perkembangan efek merugikan yang berhubungan dengan kadar plasma puncak yang tinggi. Perbaikan yang didapatkan dengan benzodiazepin mungkin lebih dan sekedar efek antikecemasan. Sebagai contohnya, obat dapat menyebabkan pasien memandang berbagai kejadian dalam pandangan yang positif. Obat juga dapat memiliki kerja disinhibisi ringah, serupa dengan yang dilihat setelah sejumlah kecil alkohol. Untuk diazepam sediaan tab. 2-5mg, ampul 10 mg/2cc dosis anjuran l0-30mg/hari 2-3xsehari, i.v./i.m 2-10mg /3-4 jam (Ashadi, 2008).

BAB IIIMETODE KERJA

3.1 Alat dan bahanAlat Alat suntik Sarung tangan kain Timbangan Toples Kertas Pensil

Bahan Mencit putih Larutan Zat A

3.2 Cara Kerja Disuntikan obat A dengan dosis berkala yaitu 0,2 ml, 0,4 ml, 0,6 ml, dan 0,8 ml . Masing-masing kelompok 1 ekor mencit Dilakukan test-test sebagai berikut1. Uji Panggung Mencit diletakan ditengah-tengah panggung yang bulat diameter 30 cm dan tinggi 45 cm Perhatikan aktivitas motoriknya Fenomena straub ( Ekor berdiri) Piloereksi ( Berdirinya bulu ) Ptosis ( Menurunnya Kelopak mata )2. Uji Refleks Refleks pineal Refleks kornea Refleks Ipsilateral3. Uji KatalepsiDiletakan kaki mencit pada batang pensil yang diletakan dari atas ke bawah 4. Refleks PosturDiletakan mencit pada punggungnya kemudian lihat kemampuan kembali ke posisi normalnya5. Uji Gelantung Digantungkan kaki depan mencit pada sepotong kawat yang terfiksir dengan ketinggian 30 cm dari bawah Berhasil naik : Righting ability positifTidak mampu menggelantung dan jatuh : grif refleks negatif6. Uji Haffner Dijepit pangkal ekor mencit dengan pinset atau klemJika mencit berpaling : respon positif7. Efek lain : Lakrimasi ( Keluar air mata ) Midriasis ( Pelebaran pupil ) Mortalitas ( Kematian )

BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data pengamatan Pengamatan hewan coba normalNormalPengamatan

Frukuensi jantungLaju nafasTonus ototUrinasiffffRefleksiSalifasidefakasi196/menit212/ menit++++++++++++-

Pengamatan hewan coba Perlakuan hewan cobaPerlakuan normalSetelah di berikan obat dengan nomer sampel 2B

0.10.20.40,8

Uji panggung Aktifitas motorik Fenomena straub Piloereksi ptosis(+) 16 x+++9 x+-+12 x+-+13 x+-+

-

Uji refleksi refleks pineal refleks kornea refleks ipsilateral++++++++++-+

-

Uji katalepsi++++-

Refleks postur++++-

Uji gelantung+++--

Uji Haffner++++-

Efek lain lakrinasi midriasis mortalitas urinasi salivasi depakasi kejang---+++----+------+++-----+--

-

4.2 Pembahasan Praktikum farmakologi yang telah di laksanakan adalah skrining dengan menggunakan hewan cobaa mencit. Pengujian ini di lakukan untuk mengetahui sampel yang digunakan termasuk dalam golongan depresan atau stimulan. Hasil percobaan dengan dosisi yang meningkat 0.1 , 0.2 ,dan 0.4 cc dapat di ketahui sampel merupakan depresan. Pengujian yang di lakukan memeang ada peningkatan aktifitas namun hal ini dapat terjadi karena uji panggung yang di lakukan dengan ketinggian 150cm sehingga dapat membuat mencit panik dan terus bergerak walaupun telah di berikan depresan. Penentuan sampel dapat di ketahui dari refleks mencit yang mulai berkurang dan juga kelopak mata mencit yang menyempit (seperti orang yang kantuk)

BAB VKESIMPULAN

Dari Hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa :Zat B yang digunakan pada hewan coba mencit merupakan obat golongan depresan karena semakin tinggi dosis yang disuntikan maka semakin menurun segala aktifitasnya terbukti pada dosis 0,4 ml sudah tidak mengalami kepekaan pada semua uji skrining yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKAAndrajati, Retno. 2007. Penuntun Praktikum Farmakologi. Depok: Laboratorium Farmakologidan Farmakokinetika Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia.

SKRINING FARMAKOLOGI12