revisi laporan indeks isolasi bonny desy

Download Revisi Laporan Indeks Isolasi Bonny Desy

Post on 06-Aug-2015

101 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KECENDERUNGAN KAWIN ANTARA D.annanasse TANGKAPAN LOKAL MALANG, MOJOKERTO, DAN GRESIK BERDASARKAN PERHITUNGAN INDEKS ISOLASI

LAPORAN PROYEK Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Genetika 2 Yang Dibimbing Oleh Prof. Dr. A. Duran Corebima, M. Pd, Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd dan Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si

Disusun oleh : Kelompok 13 OFF A/AA Senin

Desy yanuarita wulandari Bonny Timutiasari

(100341404065) OFF A (100341400717) OFF AA

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI Desember 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada makhluk hidup yang berkembang biak secara seksual, perkawinan antara jantan dan betina merupakan hal yang sangat penting dalam mempertahankan siklus dan kelangsungan jenisnya, begitu juga pada insekta. Pada insekta sebagaimana manusia dan organisme lainnya yang berkembang biak secara seksual. Perkawinan terjadi tidak secara acak, akan tetapi mengikuti pola-pola yang khusus (Wallace, 1981 dalam Basuki, 1997), termasuk pada Drosophila. Menurut Thomas Hunt Morgan sebagai perintis dalam penggunaan Drosophila sebagai obyek dalam penelitian genetika, terdapat beberapa alasan mengapa Drosophila digunakan sebagai obyek penelitian yaitu: 1. Ukuran lalat ini relatif kecil sehingga populasi yang besar dapat dipelihara dalam laboratorium. 2. Mempunyai daur hidup yang sangat cepat, dimana dalam dua minggu dapat menghasilkan satu generasi dewasa yang baru. 3. Lalat ini sangat subur karena lalat betinanya menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam hidupnya yang pendek (Kimball 1992). Drosophila adalah organisme yang kosmopolit. Salah satu spesies Drosophila yang bersifat kosmopolit adalah Drosophila ananassae. Penyebaran D.annanasse menurut King (1975) dalam Basuki (1997) adalah, di daerah tropik dari enam daerah geografis dan spesies ini sering ditemukan pada habitat domestik, D.annanasse memiliki penyebaran yang bersifat sangat luas dekat dengan pemukiman manusia (kosmopolit). Hal ini disebutkan (Ayala, 1984 dalam Basuki, 1997) bahwa interaksi antara lingkungan dan faktor genetik akan menghasilkan karakteristik yang dapat diamati pada satu individu. Dalam perkawinan antar populasi spesies, dapat terlihat kecenderungan memilih terhadap pasangan kawin yang berasal dari populasi yang sama.

2

Walaupun penyebaran Drosophila bersifat kosmopolit, tetapi secara geografis Drosophila tersebut terpisah antara populasi satu dengan populasi yang lain. Dengan kata lain Drosophila itu terisolasi untuk mengadakan perkawinan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain (Munawaroh, 1996). Sebaliknya pada Drosophila yang secara geografis tidak terpisah jauh, maka akan terjadi kemungkinan hubungan kawin antara Drosophila daerah tersebut. Menurut Ayala (1984) dalam Basuki (1997) bahwa interaksi antara lingkungan dan faktor genetik akan menghasilkan karakteristik yang dapat diamati pada suatu individu. Hal ini berarti, meskipun berasal dari spesies yang sama namun, spesies yang sama itu sendiri dapat terdiri atas satu atau lebih populasi yang mungkin disebabkan oleh perbedaan kondisi geografis tempat hidupnya, dan dalam perkawinan antara populasi-populasi satu spesies hal ini dapat terlihat pada kencederungan pemilihan terhadap pasangan kawin yang berasal dari populasi yang sama (homogami) (King, 1965 dalam Basuki, 1997). Kecenderungan perkawinan pada mahkluk hidup dapat di ukur dengan menggunakan perhitungan indeks isolasi. Bock (1978) dalam Kusumawati (1995) menyebutkan indeks isolasi merupakan perbandingan antara frekuensi perkawinan homogamik dikurangi dengan frekuensi perkawinan heterogamik dibagi dengan frekuensi perkawinan homogamik ditambah frekuensi perkawinan heterogamik. Penelitian-penelitian mengenai indeks isolasi yang sudah pernah dilakukan di Jawa Timur adalah seperti yang dilakukan oleh Winarsih (1995) dengan menggunakan strain D. melanogaster dan melibatkan suhu sebagai faktor yang diharapkan berpengaruh terhadap indeks isolasi. Ana (1996) yang juga menggunakan strain-strain D. melanogaster dan oleh Munawaroh (1996) yang menggunakan D. melanogaster dari berbagai ketinggian tempat. Hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh kedua peneliti atas strainstrain D. melanogaster tersebut, menunjukkan tidak adanya kecenderungan perkawinan diantara strain-strain D. melanogaster; populasi-populasi D. ananassae dari berbagai ketinggian tempat juga menunjukkan tidak adanya3

perbedaan kecenderungan perkawinan. Hal ini berarti, bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan spesies. Berdasarkan penelitian di atas, maka peneliti ingin menindak lanjutinya dengan melakukan penelitian yang berjudul Kecenderungan Kawin Antara D.annanasse Tangkapan Lokal Malang, Mojokerto, Dan Gresik Berdasarkan Perhitungan Indeks Isolasi. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti dapat merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut. 1. Adakah kecenderungan kawin antara D.annanasse tangkapan lokal Malang, Mojokerto dan Gresik berdasarkan indeks isolasi?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui ada tidaknya kecenderungan kawin antara D.annanasse tangkapan lokal Malang, Mojokerto dan Gresik berdasarkan indeks isolasi.

D. Kegunaan Penelitian 1. Bagi Peneliti a) Sebagai sarana belajar dalam melakukan penelitian di bidang genetika. b) Menambah informasi dan pengetahuan tentang penggunaan indeks isolasi pada D.annanasse tangkapan lokal Malang, Mojokerto dan Gresik. c) Menambah informasi tentang hubungan kekerabatan antara D.annanasse tangkapan lokal Malang, Mojokerto dan Gresik berdasarkan indeks isolasi. 2. Bagi Mahasiswa a) Menambah pengetahuan mengenai kecenderungan kawin antara D.annanasse tangkapan lokal Malang, Mojokerto dan Gresik berdasarkan indeks isolasi.4

b) Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk melakukan penelitian secara mandiri mengenai genetika. E. Asumsi Penelitian Dalam penelitian ini diasumsikan: 1. umur individu jantan dan betina yang dikawinkan dianggap sama. 2. medium yang dipakai untuk pembiakan adalah sama 3. adanya larva dianggap bahwa individu betina telah dikawini oleh individu jantan. 4. kondisi fisik D.annanasse dianggap sama.

F. Batasan masalah Adapun batasan masalah pada penelitian kali ini adalah : 1. penelitian ini menggunakan D.annanasse tangkapan lokal dari tiga daerah yang berbeda yaitu Malang (Kelurahan Sumbersari, Jl. Bendungan Sengguruh RT 3 RW 7 no 09), Mojokerto (Wisma Pungging Permai BB 1, Ds. Tunggal Pager, Kec. Pungging) dan Gresik (Ds. Wringinanaom, Kec. Wringinanom RT 1 RW 5. 2. penelitian ini dilakukan untuk mengtahui indeks isolasi dan kecenderungan kawin D.annanasse lokal dari daerah Malang, Mojokerto dan Gresik. 3. pengambilan data hanya mengamati ada atau tidaknya larva. 4. peneliti hanya menggunakan indeks isolasi sebagai cara untuk menentukan kekerabatan antara Drosophila tangkapan lokal dari daerah Malang, Mojokerto dan Gresik. G. Definisi Istilah Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran dalam istilah yang digunakan, maka perlu adanya penegasan beberapa istilah sebagai berikut: 1. D. annanasse adalah salah satu spesies dari kelas insekta atau dari marga Drosophila yang penyebarannya bersifat kosmopolit (Singn, 1986). 2. Indeks isolasi adalah alat (rumusan) yang digunakan untuk mengukur adanya kecenderungan kawin yang terjadi pada organisme yang dapat5

diperoleh dari perbandingan antara selisih presentase perkawinan homogami dan heterogami dengan jumlah presentase perkawinan homogami dan heterogami (Bock, 1982 dalam Munawaroh, 1996). 3. Mate-Choice adalah pola tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu bahwa mereka lebih menyukai kawin dengan pasangan tertentu daripada dengan yang lain (Marcus, 1992 dalam Basuki, 1997). 4. Male-Choice adalah perkawinan dimana individu jantan bebas memilih individu betina yang akan dikawini (Bock, 1978 dalam Munawaroh, 1996). 5. Perkawinan homogami adalah perkawinan yang terjadi pada populasi yang sama dalam satu spesies (Munawaroh, 1996). 6. Perkawinan heterogami, adalah perkawinan yang terjadi pada populasi yang berbeda dalam satu spesies (Munawaroh, 1996).7. Kecenderungan kawin adalah kecenderungan D.annanasse untuk memilih

pasangan kawin yang dapat diketahui dengan melakukan perhitungan indeks isolasi (Munawaroh (1996).

6

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Sistematika Drosophila merupakan marga yang memiliki jumlah yang paling melimpah dibandingkan dengan marga lainnya. Marga marga lain selain Drosophila, yaitu: Amiota, Dettopsomya, Leucophenga, Liodrosophila, Lissocephala, Microdrosophila, Scaptemyza, Stegana, dan Tambodrella (Bock, 1976). Sistematika Drosophila menurut Storer dan Usinger (1975) dalam Warsini (1996) adalah sebagai berikut: Filum Kelas Anak Kelas Bangsa Anak Bangsa Suku Marga Spesies : Arthopoda : Insecta : Pterygota : Diptera : Cyclorrhapa : Drosophilidae : Drosophila : Drosophila sp.

B. Ciri Umum Drosophila Menurut Bock (1976), menyebutkan beberapa karakteristik morfologi yang digunakan dalam proses klasifikasi taksonomi Drosophila, antara lain: 1. Kepala Pada bagian kepala terdapat arista dan orbital, oral dan vertikal bristle. Pada gambar 1 tampak perbandingan antara bagian pipi terlebar dengan diameter mata terbesar. Pada gambar 2 terdapat orbital, vertikal, ocellar dan post vertikal bristle. Ukuran panjang dan lebar dari dari bagian muka ditunjukkan dengan garis A dan B. Carina adalah tonjolan pada bagian muka yang terletak diantara antena.

7

Gambar 1. Head; I, lateral aspect. AR, arista. IV, inner vertical bristle. OI, proclinate orbital bristle, O2 anterior reclinate orbital bristle. O3, posterior reclinate bristle. OC, ocellar bristle. OV, outer vertical bristle. PV. Postvertical bristle. V1, first oral bristle (vibrissa). V2, second oral bri