reklamasi lahan bekas tambang

35
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertambangan merupakan kegiatan pemanfaatan sumberdaya tambang untuk memenuhi penyediaan bahan baku untuk kegiatan pembangunan dan kelangsungan hidup disegala bidang. Oleh karena itu usaha pertambangan tidak lepas dari pekerjaan dalam mencari bahan tambang untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya. Kegiatan pertambangan dapat mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan. Hal ini dapat dilihat dengan hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah, yang juga berakibat pada terganggunya fungsi-fungsi lainnya. Di samping itu, juga dapat mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati, terjadinya degradasi pada daerah aliran sungai, perubahan bentuk lahan, dan terlepasnya logam-logam berat yang dapat masuk ke lingkungan perairan. Hal ini membuat daya dukung tanah pasca penambangan untuk dimanfaatkan kembali menjadi rendah. Untuk itu penanganan kegiatan penambangan hendaknya dilakukan secara terintegrasi sehingga terciptalah suatu penambangan yang ramah lingkungan. Upaya tersebut dapat ditempuh dengan cara merehabilitasi ekosistem yang rusak untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi sesuai peruntukannya.

Upload: andy-age

Post on 23-Oct-2015

1.003 views

Category:

Documents


6 download

TRANSCRIPT

Page 1: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan merupakan kegiatan pemanfaatan sumberdaya tambang untuk

memenuhi penyediaan bahan baku untuk kegiatan pembangunan dan kelangsungan hidup

disegala bidang. Oleh karena itu usaha pertambangan tidak lepas dari pekerjaan dalam

mencari bahan tambang untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya.

Kegiatan pertambangan dapat mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan. Hal ini

dapat dilihat dengan hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah, yang juga berakibat pada

terganggunya fungsi-fungsi lainnya. Di samping itu, juga dapat mengakibatkan hilangnya

keanekaragaman hayati, terjadinya degradasi pada daerah aliran sungai, perubahan bentuk

lahan, dan terlepasnya logam-logam berat yang dapat masuk ke lingkungan perairan. Hal ini

membuat daya dukung tanah pasca penambangan untuk dimanfaatkan kembali menjadi

rendah.

Untuk itu penanganan kegiatan penambangan hendaknya dilakukan secara terintegrasi

sehingga terciptalah suatu penambangan yang ramah lingkungan. Upaya tersebut dapat

ditempuh dengan cara merehabilitasi ekosistem yang rusak untuk menata, memulihkan, dan

memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi sesuai peruntukannya.

Page 2: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

1.2 Tujuan

Page 3: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Reklamasi

Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan

yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat berfungsi dan

berdaya guna sesuai peruntukannya. Reklamasi lahan bekas tambang selain merupakan upaya

untuk memperbaiki kondisi lingkungan pasca tambang, agar menghasilkan lingkungan

ekosistem yang baik dan diupayakan menjadi lebih baik dibandingkan rona awalnya,

dilakukan dengan mempertimbangkan potensi bahan galian yang masih tertinggal.

2.2 Dasar Hukum

Upaya pengendalian dampak negatif kegiatan pertambangan terhadap lingkungan hidup

dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagai berikut :

a. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Pertambangan.

b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Pengolahan Lingkungan Hidup.

c. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tantang Penataan Ruang.

d. Mijn Politie Reglement (MPR Stbl 1930 No. 341).

e. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisa Mengenai Dampak

Lingkungan.

f. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak

Lingkungan.

g. Intruksi Presiden R.I No. 1 Tahun 1976 tentang Sinkronisasi Pelaksanaan Tugas

Bidang Keagrariaan dengan Bidang Kehutanan, Pertambangan, Transmigrasi dan

Pekerjaan Umum.

h. SKB Menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri kehutanan Nomor : 996 K/05/M.

PE/1969 tentang Pedoman Pengaturan Pelaksanaan Undang-undang No. 429/K.pts.

II/1939 Pertambangan dan Energi dalam Kawasan Hutan.

i. SKB menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri Kehutanan Nomor : 1101.

K/702/M. PE/1991 tentang Pembentukan Team koordinasi 36/Kpts.II/1991

Page 4: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

j. Tetap Departemen Pertambangan dan Energi dan Departemen Kehutanan dan

perubahan Tatacara Pengajuan Izin Usaha Pertambangan dan Energi dalam Kawasan

Hutan.

k. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.0185.K/008/M.PE/1988 tentang

Pedomanan Teknis Penyusunan Penyajian Informasi Lingkungan, Analisis Dampak

Lingkungan untuk Kegiatan di Bidang Pertambangan Umum dan Bidang

Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dan Sumberdaya Panas Bumi.

l. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 1158.K/008/M.PE/1989 tentang

Ketentuan Pelaksanaan Analsis Dampak Lingkungan dalam Usaha Pertambangan dan

Energi.

m. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 1211.K/008/M/PE/1995 tentang

Pencegahan dan Penanggulangan Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan pada

Kegiatan Usaha Pertambangan Umum.

2.3 Ruang Lingkup Reklamasi

Rehabilitasi lokasi penambangan dilakukan sebagai bagian dari program pengakhiran

tambang yang mengacu pada penataan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Salah satu

kegiatan pengakhiran tambang, yaitu reklamasi, yang merupakan upaya penataan kembali

daerah bekas tambang agar bisa menjadi daerah bermanfaat dan berdayaguna. Reklamasi

tidak berarti akan mengembalikan seratus persen sama dengan kondisi rona awal. Pada

prinsipnya kawasan atau sumberdaya alam yang dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan

harus dikembalikan ke kondisi yang aman dan produktif melalui rehabilitasi. Kondisi akhir

rehabilitasi dapat diarahkan untuk mencapai kondisi seperti sebelum ditambang atau kondisi

lain yang telah disepakati. Kegiatan rehabilitasi dilakukan merupakan kegiatan yang terus

menerus dan berlanjut sepanjang umur pertambangan sampai pasca tambang. Tujuan jangka

pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam (landscape) yang stabil terhadap erosi.

Selain itu rehabilitasi juga bertujuan untuk mengembalikan lokasi tambang ke kondisi

yang memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan produktif. Bentuk lahan produktif yang

akan dicapai menyesuaiakan dengan tataguna lahan pasca tambang. Penentuan tataguna lahan

pasca tambang sangat tergantung pada berbagai faktor antara lain potensi ekologis lokasi

tambang dan keinginan masyarakat serta pemerintah. Bekas lokasi tambang yang telah

direhabilitasi harus dipertahankan agar tetap terintegrasi dengan ekosistem bentang alam

sekitarnya. Teknik rehabilitasi meliputi regarding, reconturing, dan penaman kembali

permukaan tanah yang tergradasi, penampungan dan pengelolaan racun dan air asam tambang

Page 5: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

(AAT) dengan menggunakan penghalang fisik maupun tumbuhan untuk mencegah erosi atau

terbentuknya AAT. Permasalahan yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan rencana

reklamasi meliputi :

a. Pengisian kembali bekas tambang, penebaran tanah pucuk dan penataan kembali

lahan bekas tambang serta penataan lahan bagi pertambangan yang kegiatannya tidak

dilakukan pengisian kembali

b. Stabilitas jangka panjang, penampungan tailing, kestabilan lereng dan permukaan

timbunan, pengendalian erosi dan pengelolaan air

c. Keamanan tambang terbuka, longsoran, pengelolaan B3 dan bahaya radiasi

d. Karakteristik fisik kandungan bahan nutrient dan sifat beracun tailing atau limbah

batuan yang dapat berpengaruh terhadap kegiatan revegetasi

e. Pencegahan dan penanggulangan air asam tambang, potensi terjadinya AAT dari

bukaan tambang yang terlantar, pengelolaan tailing dan timbunan limbah batuan

(sebagai akibat oksidasi sulfida yang terdapat dalam bijih atau limbah batuan)

f. Penanganan potensi timbulnya gas metan dan emisinya dari tambang batubara

(Karliansyah, 2001).

g. Sulfida logam yang masih terkandung pada tailing atau waste merupakan pengotor

yang potensial akan menjadi bahan toksik dan penghasil air asam tambang yang akan

mencemari lingkungan, pemanfaatan sulfida logam tersebut merupakan salah satu

alternatif penanganan. Demikian juga kandungan mineral ekonomi yang lain,

diperlukan upaya pemanfaatan.

h. Penanganan/penyimpanan bahan galian yang masih potensial untuk menjadi bernilai

ekonomibaik dalam kondisi in-situ, berupa tailing atau waste.

2.4 Perencanaan Reklamasi

Untuk melaksanakan reklamasi diperlukan perencanaan yang baik, agar dalam

pelaksanaannyadapat tercapai sasaran sesuai yang dikehendaki. Dalam hal ini reklamasi

harus disesuaikan dengan tata ruang. Perencanaan reklamasi harus sudah disiapkan sebelum

melakukan operasi penambangan dan merupakan program yang terpadu dalam kegiatan

operasi penambangan. Hal-hal yang harus diperhatikan di dalam perencanaan reklamasi

adalah sebagai berikut :

a. Mempersiapkan rencana reklamasi sebelum pelaksanaan penambangan.

b. Luas areal yang direklamasi sama dengan luas areal penambangan.

Page 6: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

c. Memeindahkan dan menempatkantanah pucuk pada tempat tertentu dan mengatur

sedemikian rupa untuk keperluan vegetasi.

d. Mengembalikan/memperbaiki kandungan (kadar) bahan beracun sampai tingkat yang

aman sebelum dapat dibuang ke suatu tempat pembuangan.

e. Mengembalikan lahan seperti keadaan semula dan/atau sesuai dengan tujuan

penggunaannya.

f. Memperkecil erosi selama dan setelah proses reklamasi.

g. Memindahkan semua peralatan yang tidak digunakan lagi dalam aktivitas

penambangan.

h. Permukaan yang padat harus digemburkan namun bila tidak memungkinkan untuk

agar ditanami dengan tanaman pionir yang akarnya mampu menembus tanah yang

keras.

i. Setelah penambangan maka pada lahan bekas tambang yang diperuntukan bagi

vegetasi, segera dilakukan penanaman kembali dengan jenis tanaman yang sesuai

dengan rencana rehabilitasi.

j. Mencegah masuknya hama dan gulma berbahaya, dan

k. Memeantau dan mengelola areal reklamasi sesuai dengan kondisi yang diharapkan.

2.4.1 Pemerian Lahan

Pemerian lahan pertambangan merupakan hal yang terpenting untuk merencanakan jenis

perlakuan dalam kegiatan reklamasi. Jenis perlakuan reklamasi dipengaruhi oleh berbagai

faktor utama :

1. Kondisi Iklim,

2. Geologi,

3. Jenis Tanah,

4. Bentuk Alam,

5. Air permukaan dan air tanah,

6. Flora dan Fauna,

7. Penggunaan lahan,

8. Tata ruang dan lain-lain.

Untuk memperoleh data dimaksud diperlukan suatu penelitian lapangan. Dari berbagai

faktor tersebut di atas, kondisi iklim terutama curah hujan dan jenis tanah merupakan faktor

yang terpenting.

Page 7: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

2.4.2 Pemetaan

Rencana operasi penambangan yang sudah memperhatikan upaya reklamasi atau

sebaliknya dengan sendirinya akan saling mendukung dalam pelaksanaan kedua kegiatan

tersebut. Rencana (tahapan pelaksanaan) tapak reklamasi ditetapkan sesuai dengan kondisi

setempat dan rencana kemajuan penambangan. Rencana tahap reklamasi tersebut dilengkapi

degan peta skala 1 : 1000 atau skala lainnya yang disetujui, disertai gambar-gambar teknis

bangunan reklamasi. Selanjutnya peta tersebut dilengkapi dengan peta indeks dengan skala

memadai.

Di dalam peta tersebut digambarkan situasi penambangan dan lingkungan, misalnya

kemajuan penambangan, timbunan tanah penutup, timbunan terak (slag), penyimpanan

sementara tanah pucuk, kolam pengendap, kolam persediaan air, pemukiman, sungai

jembatan, jalan, revegetasi, dan sebagainya serta mencantumkan tanggal situasi/

pembuatannya.

2.4.3 Peralatan Yang Digunakan

Untuk menunjang keberhasilan reklamasi biasanya digunakan peralatan dan sarana

prasarana, antara lain :”Dump Truck”, Bulldozer, excavator, traktor, tugal, back hoe, sekop,

cangkul, bangunan pengendali erosi a.l : susunan karung pasir, tanggul, susunan jerami,

bronjong, pagar keliling), beton pelat baja untuk menghindari kecelakaan dan lain-lain.

2.5 Pelaksanaan Reklamasi

Kegiatan pelaksanaan reklamasi harus segera dimulai sesuai dengan rencana tahunan

pengelolaan lingkungan (RTKL) yang telah disetujui dan harus sudah selesai pada waktu

yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan kegiatan reklamasi, perusahaan pertambangan

bertanggung jawab sampai kondisi/rona akhir yang telah disepakati tercapai.

Setiap lokasi penambangan mempunyai kondisi tertentu yang mempengaruhi

pelaksanaan reklamasi. Pelaksanaan reklamasi umumnya merupakan gabungan dari

pekerjaan teknik sipil dan teknik vegetasi. Pekerjaan teknik sipil meliputi : pembuatan teras,

saluran pembuangan akhir (SPA), bangunan pengendali lereng, check dam, penengkap oli

bekas (“oil cather”) dan lain-lain yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Pekerjaan teknik vegetasi meliputi : pola tanam, sistem penanaman (“monokultur,

multiple croping”), jenis tanaman yang disesuaikan kondisi setempat, “cover crop” (tanaman

penutup) dan lain-lain. Pelaksanaan reklamasi lahan meliputi kegiatan sebagai berikut :

Page 8: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

a. Persiapan lahan yang berupa pengamanan lahan bekas tambang, pengaturan bentuk

tambang (“landscaping”), pengaturan/penempatan bahan tambang kadar rendah (“low

Grade”) yang belum dimanfaatkan.

b. Pengendalian erosi dan sedimentasi.

c. Pengelolaan tanah pucuk (“top soil”)

d. Revegatasi (penanaman kembali) dan/atau pemanfaatan lahan bekas tambang untuk

tujuan lainnya.

Mengingat sifat lahannya dan kegaitannya yang memerlukan penjelasan rinci, maka kegiatan

pelaksanaan reklamasi di atas, dalam Bab III ini juga dijelaskan mengenai pelaksanaan

reklamasi khusus, reklamasi pada infrastruktur dan reklamasi lahan bekas tambang.

2.5.1 Persiapan Lahan

1. Pengamatan Lahan Bekas Tambang

Kegiatan ini meliputi :

a. Pemindahan/pembersihan seluruh peralatan dan prasarana yang tidak digunakan di

lahan yang akan direklamasi,

b. Perencanaan secara tepat lokasi pembuangan sampah/limbah beracun dan berbahaya

dengan perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan,

c. Pembuangan atau penguburan potongan beton dan “scrap” pada tempat khusus,

d. Penutupan lubang bukaan tambang secara aman dan permanen,

e. Melarang atau menutup jalan masuk ke lahan bekas tambang yang akan direklamasi.

2. Pengaturan Bentuk Lahan

Pengaturan bentuk lahan disesuaikan dengan kondisi topografi dan hidrologi setempat.

Kegiatan ini meliputi :

1. Pengaturan bentuk lereng

a. Pengaturan bentuk lereng dimaksud untuk mengurangi kecepatan air limpasan

(“run off”), erosi dan sedimentasi serta longsor,s

b. Lereng jangan terlalu tinggi atau terjal dan dibentuk berters-teras sebagaimana

terlihat pada gambar 3.1. Bentuk teras lainnya dapat dilihat pada gambar 3.2,

3.3, 3.4, 3.5, 3.6, 3.7, 3.8, 3.9, dan 3.10.

Page 9: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

2. Pengaturan saluran pembuangan air

a. Pengaturan saluran pembuangan air (SPA) dimaksudkan untuk mengatur air

agar mengalir pada tempat tertentu dan dapat mengurangi kerusakan lahan

akibat erosi.

b. Jumlah/kerapatan dan bentuk SPA tergantung dari bentuk lahan (topografi)

dan luas areal yang direklamasi. Macam dan bentuk SPA digambarkan pada

gambar 3.11, sedangkan penampang SPA digambarkan pada gambar 3.12.

3. Pengaturan/Penempatan Low Grade

Maksud pengaturan dan penempatan “low garde” (bahan tambang yang mempunyai

nilai ekonomis rendah) adalah agar bahan tambang tersebut tidak tererosi/hilang apabila

ditimbun dalam waktu yang lama karena dapat dimanfaatkan. Pengaturan bentuk timbunan

low grade terlihat pada gambar 3.13.

Page 10: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

2.5.2 Pengendalian Erosi Dan Sedimentasi

Pengendalian erosi merupakan hal yang mutlak dilakukan selama kegiatan

penambangan dan setelah penambangan. Erosi dapat mengakibatkan berkurangnya kesuburan

tanah, terjadinya endapan lumpur dan sedimentasi di alur-alur sungai. Faktor-faktor yang

menyebabkan terjadinya erosi oleh air adalah : curah hujan, kemiringan lereng (topografi),

jenis tanah, tata guna tanah (perlakuan terhadap tanah) dan tanaman penutup tanah.

Beberapa cara untuk mengendalikan erosi dan air limpasan adalah sebagai berikut :

a. Meminimasikan areal terganggu dengan ;

1. Membuat rencana detail kegiatan penambangan dan rekalmasi,

2. Membuat batas-batas yang jelas areal tahapan penambangan,

3. Penebangan pohon sebatas areal yang akan dilakukan penambangan,

4. Pengawasan yang ketat pada pelaksanaan penebangan pepohonan

b. Membatasi/mengurangi kecepatan air limpasan dengan :

1. Pembuatan teras-teras (gambar 3.2, 3.3, 3.4, 3.5, 3.6, 3.7, 3.8, 3.9)

2. Pembuatan saluran diversi (pengelak)

3. Pembuatan SPA (gambar 3.11, 3.12)

4. Dam pengendali (gambar 3.18, 3.19, 3.20, 3.21)

c. Meningkatkan infiltrasi (peresapan air tanah)

1. Dengan penggaruan tanah searah kontur,

2. Akibat penggaruan, tanah menjadi gembur dan volume tanah meningkat

sebagai media perakaran tanah,

3. Pembuatan lubang-lubang tanaman, pendangiran, dll.

d. Pengelolaan air yang keluar dari lokasi penambangan

1. Penyaluran air dari lokasi tambang ke perairan umum harus sesuai dengan

perlakuan yang berlaku dan harus di dalam wilayah Kuasa Tambang,

2. Membuat bendungan sedimen untuk menampung air yang banyak

mengandu8ng sedimen,

3. Bila curah hujan tinggi perlu dibuat bendungan yang kuat dan permanen yang

dilengkapi dengan saluran pengelak,

4. Letak bendungan ditempatkan sedemikian sehingga aliran air mudah

ditampung dan dibelokkan serta kemiringan saluran air (SPA) jangan terlalu

curam,

Page 11: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

5. Bila endapan sedimen telah mencapai setengah dari badan

bendungansebaiknya sedimen dikeruk dan dapat dipakai sebagai lapisan atas

tanah,

6. Dalam membuat bendungan permanen harus dilengkapi dengan saluran

pelimpah (“Spillways”) untuk menangani keadaan darurat dan saluran

pembuatan (“decant”, “syohon”), dan lainnya yang dianggap perlu,

7. Kurangi kecepatan aliran permukaan dengan membuat teras, check dam dari

beton, kayu atau dalam bentuk lain seperti pada gambar 3.21.

Pengendalian erosi selengkapnya supaya mengacu pada pedoman teknis yang telah

ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jendral Pertambangan Umum No.

693.K/008/DJP/1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Erosi Pada Kegiatan

Pertambangan Umum.

2.5.3 Pengelolaan Tanah Pucuk

Maksud dari pengelolaan ini untuk mengatur dan memisahkan tanah pucuk dengan

lapisan tanah lain. Hal ini karena tanah pucuk merupakan media tumbuh bagi tanaman dan

merupakan salah satu faktor penting untuk keberhasilan pertumbuhan tanaman pada kegiatan

reklamasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tanah pucuk adalah :

1. Penggunaan profil tanah dan identifikasi pelapisan tanah tersebut sampai endapan

bahan galian,

2. Pengupasan tanah berdasarkan atas lapisan-lapisan tanah dan ditempatkan pada

tempat tertentu sesuai tingkat lapisannya dan timbunan tanah pucuk tidak melebihi

dari 2 meter,

3. Pembentukan lahan sesuai dengan susunan lapisan tanah semula dengan tanah pucuk

ditempatkan paling atas dengan ketebalan minimal 0.15 m,

4. Ketebalan timbunan tanah pucuk pada tanah yang mengadung racun dianjurkan lebih

tebal dari yang tidak beracun atau dilakukan perlakuan khusus dengan cara

mengisolasi dan memisahkannya,

5. Pengupasan tanah sebaiknya jangan dilakukan dalam keadaan basah untuk

menghindari pemadatan dan rusaknya struktur tanah,

6. Bila lapisan tanah pucuk tipis (terbatas/sedikit) dipertimbangkan : Diklat Perencanaan

Tambang Terbuka 5 Unisba, 12 – 22 Juli 2004 Reklamasi Tambang Ir. Noor Rizqon

Arief

Page 12: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

7. Penentuan daerah prioritas yaitu daerah yang sangat peka terhadap erosi sehingga perlu

penanganan konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman dengan segera,

a. Penempatan tanah pucuk pada jalur penanaman (jenis tanah yang peka terhadap

erosi dapat dilihat pada tabel 3.1),

b. Jumlah tanah pucuk yang terbatas (sangat tipis) dapat dicampur dengan tanah

bawah (sub soil),

c. Dilakukan penanaman langsung dengan tanaman penutup (“cover crop”) yang

cepat tumbuh dan menutup permukaan.

8. Yang perlu dihindari dalam memanfaatkan tanah pucuk adalah apabila :

a. Sangat berpasir (70% pasir atau kerikil),

b. Sangat berlempung (60% lempung),

c. Mempunyai pH < 5.00 atau > 8.00,

d. Mengandung khlorida 3%, dan

e. Mempunyai elctrikal conductivity (ec) 400 miliseimens/meter.

f. Pengelolaan tanah pucuk pada areal yang akan direklamasi terlihat pada gambar

3.22, 3.23, 3.24, .3.25.

2.5.4 Revegetasi

Revegetasi dilakukan melalui tahapan kegiatan penyusunan rancangan teknis tanaman,

persiapan lapangan, pengadaan bibit/persemaian, pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan

tanaman.

1. Penyusunan Rancangan Teknis tanaman

Rancangan teknis tanaman adalah rencana detail kegiatan revegetasi yang

menggambarkan kondisi lokasi, jenis tanaman yang akan ditanam, uraian jenis pekerjaan,

kebutuhan bahan dan alat, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan biaya dan tata waktu

pelaksanaan kegiatan.

Rancangan tersebut disusun berdasarkan hasil analisis kondisi biofisik dan sosial ekonomi

setempat. Kondisi geofisik meliputi topografi atau bentuk lahan, iklim, hidrologi, kondisi

vegetasi awal dan vegetasu asli. Sedangkan data sosial ekonomi yang perlu mendapat

perhatian antara lain demografi, sarana, prasaran, dan eksesbilitas yang ada.

Jenis tanaman yang dipilih kalau dapat diarahkan pada penanaman jenis tumbuhan asli.

Sebaiknya dipilih jenis tumbuhan lokal yang sesuai dengan iklim dan kondisi tanah setempat

saat ini. Sehingga, perlu selalu mengikuti perkembangan pengetahuan mengenai jenis-jenis

Page 13: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

tanaman yang cocok untuk keperluan revegetasi lokasi bekas tambang. Perlu konsultasi

dengan instansi yang berwenang di dalam pemilihan jenis tanaman yang cocok.

2. Persiapan Lapangan

Pada umumnya persiapan lapangan meliputi pekerjaan pembersihan lahan, pengolahan

tanah dan kegiatan perbaikan tanah. Kegiatan tersebut sangat penting agar keberhasilan

tanaman dapat tercapai.

a. Pembersihan lahan

Kegiatan pembersihan lahan merupakan salah satu penentu dalam persiapan lapangan.

Kegiatan ini antara lain : pembersihan lahan dari tanaman pengganggu (alang-alang,

liliana, dll), dengan tujuan agar tanaman pokok dapat tumbuh baik tanpa ada persaingan

dengan tanaman pengganggu dalam hal mendapatkan unsur hara, sinat matahari, dll.

b. Pengolahan lahan

Tanah diolah supaya gembur agar perakaran tanaman dapat dengan mudah menembus

tanah dan mendapatkan unsur hara yang diperlukan dengan baik, diharapkan

pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang diinginkan.

c. Perbaikan tanah

Kualitas tanah yang kurang bagus bagi pertumbuhan tanaman perlu mendapat perhatian

khusus melalui perbaikan tanah seperti penggunaan gypsum, kapur, mulsa, pupuk

(organik maupun anorganik). Dengan perlakuan tersebut diharapkan dapat memperbaiki

persyaratan tumbu tanaman.

1) Penggunaan Gypsum

a. Gypsum digunakan untuk memperbaiki kondisi tanah yang mengandung banyak

lempung dan untuk mengurangi pembentukan kerak tanah (“crusting”) pada tanah

padat (“hard-setting soil”). Penggunaan gypsum akan menggantikan ion sodium

dengan ion kalsium, sehingga dapat meningkatkan struktur tanah, meningkatkan

daya resap tanah terhadap air, aerasi (udara), pengurangan kerak tanah dan dengan

pelindian (“leaching”) akan mengurangi kadar garam.

b. Bila lapisan tanah bagian bawah (sun soil) yang diperbaiki, maka dibuat alur

garukan yang dalam agar gypsum dapat diserap, jika tanah kerak yang diperbaiki,

sebarkan gypsum pada lapisan permukaan saja.

c. Pengguanaan gypsum sebanyak 5 ton/ha biasanya cukup untuk memperbaiki tanah

kerak. Penggunaan 110 ton/ha diperlukan untuk mengolah lapisan bagian bawah

yang bersifat lempung.

Page 14: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

d. Pengolahan biasanya dilakukan sekali saja. Pengaruh pengolahan tanah dengan

gypsum akan tahan selama beberapa tahun, pada saat mana tumbuh-tumbuhan

sudah mampu menghasilkan bahan-bahan organik yang memberikan dampak

positif bagi pertumbuhan.

2) Penggunaan kapur

a. Kapur digunakan khsusunya untuk mengatur pH, akan tetapi dapat juga

memperbaiki struktur tanah.

b. Pengaturan pH dapat merangsang tersedianya zat hara untuk tanaman dan

mengatur zat-zat racun.

c. Kapur biasanya digunakan dalam bentuk tepung batu gamping, kapur dolomit.

Kapur tohor (“hydrated lime”) jarang digunakan.

d. Kapur atau batu kapur giling kasar (“coarsely crushed”) dan kapur dolomit

mempunyai daya kerja yang lebih lambat, akan tetapi pengaruhnya dalam

menetralisir pH lebih lama dibandingkan dengan kapur tohor.

e. Penggunaan gamping secara bertahap mungkin diperlukan jika kesinambungan

kenaikan pH dibutuhkan.

f. Kapur tohor akan berpengaruh menrurunkan kemampuan jenis pupuk yang

mengandung nitrogen. Karena itu penggunaanya harus terpisah.

g. Tingkat penyesuaian pH akan bergantung dari tingkat keasaman, jenis tanah dan

kualitas batu gamping. Sebagai contoh, penggunaan kapur sebanyak 2,5 – 3,5

ton/ha pada tahun yang memiliki pH > 5,0 akan menaikan pH kurang lebih 0,5.

3) Penggunaan Mulsa, Jerami dan Bahan Organik lainnya

a. Mulsa adalah bahan yang disebarkan dipermukaan tanah sebagai upaya perbaikan

kondisi tanah. Tanaman penutup berumur pendek dapat juga dipergunakan sebagi

mulsa.

b. Mulsa berfungsi mengendalikan erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan

mengatur suhu permukaan tanah.

c. Pada umumnya penggunaan mulsa terbatas pada lokasi yang memerlukan

revegetasi yang cepat, perlindungan tempat-tempat tertentu (seperti tanggul) atau

jika perbaikan tanah atau media akan dibutuhkan.

d. Jerami jenis batang padi umumnya digunakan sebagai mulsa atau lokasi yang luas.

Tingkat penggunaan bervariasi antara 2,5 – 5,0 ton/ha.

Page 15: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

e. Berbagai jenis bahan-bahan organik atau limbah pertanian digunakan sebagai

mulsa yang penggunaannya bergantung dari ketersediaan dan harganya. Bahan-

bahan baik digunakan sebagai mulsa, antara lain tumbuh-tumbuhan yang tergusur

pada waktu pengupasan tanah, potongan-potongan kayu dan serbuk gergaji, limbah

pabrik pengolahan dan penggergajian kayu, ampas pabrik gula tebu dan berbagai

kulit jenis kacang-kacangan.

f. Nitrogen mungkin perlu ditambahkan untuk memenuhi kekurangan nitrogen yang

terjadi pada saat mulsa segar mulai membusuk/terurai.

g. Penyebaran mulsa secara mekanis dapat menggunakan alat pertanian (misalnya

penyebar pupuk kandang) atau dengan alat khusus.

h. Alat khusus penyebar mulsa digunakan untuk penyebaran bahan-bahan mulsa

(Biasanya jerami atau batang padi) yang dicampur dengan bijih tumbuhan.

Page 16: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

4) Pupuk

a. Persyaratan penggunaan pupuk akan sangat bervariasi sesuai dengan kondisi dan

maksud peruntukan lahan sesudah selesai penambangannya.

b. Meskipun jenis tumbuhan asli beradaptasi dengan tingkat nutrisi yang rendah

namun dengan pemberian pupuk yang cukup dapat meningkatkan

pertumbuhannya.

c. Reaksi setiap tumbuhan bervariasi, anggota dari rumpun “proteseae”sensitif

terhadap peningkatan kandungan fosfor dan kemungkinan menimbulkan efek yang

kurang baik.

d. Pupuk organik (lumpur kotoran, pupuk alami atau kompos, darah dan tulang dan

sebagainya) umumnya bermanfaat sebagai pengubah sifat tanah.

e. Jenis, dosis dan waktu pemberian pupuk anorganik sebaiknya dilakukan sesuai

dengan hasil analisis tanah.

f. Pupuk anorganik komersial selalu mengandung satu atau lebih nutrisi makro (yaitu

nitrogen, fosfor, kalium). Selain itu juga mengandung belerang, kalsium, dan

magnesium.

g. Apabila terdapat tanda-tanda tumbuhan kekurangan unsur atau keracunan, harus

meminta saran dari ahli tanah.

h. Waspada terhadap kemungkinan penggunaan pupuk yang berlebihan yang dapat

mengakibatkan pencemaran air, khususnya pada daera tanah pasiran.

i. Pemberian pupuk dalam bentuk butir atau tablet dapat dilakukan pada jarak 10 – 15

cm di bawah atau di sebelah tiap lubang semaian pada waktu penanaman. Harus

dicegah kontak langsung antara pupuk dengan akar semaian.

3. Pengadaan Bibit/Persemaian

Bibit yang dibutuhkan untuk revegetasi dapat memenuhi melalui pembelian bibit siap

tanam, atau melalui pengadaan bibit. Apabila melalui pengadaan bibit harus mengikuti

ketentuan sebagai berikut :

a. Pengadaan benih

Benih adalah tanaman atau bagian yang digunakan untuk memperbanyak dan atau

mengembangkan tanaman (UU No. 12 Tahun 1992).

Benih yang akan dipergunakan untuk keperluan revegetasi diperoleh dengan cara

mengeumpulkan dari sumber benih yang ada atau membeli dari perusahaan

pengada/pengedar yang telah ditunjuk secara resmi.

Page 17: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Benih tersebut harus memenuhi syarat :

1. Diketahui secara jelas asal-usulnya

2. Bermutu tinggi/benih unggul

Hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengumpulkan benih/biji antara lain:

1. Menentukan daerah pengumpulan dan spesies yang diinginkan sebelum biji tersebut

matang.

2. Menghindari buah yang menunjukan adanya tanda serangan serangga atau gangguan

jamur.

3. Mengumpulkan biji yang sudah matang :

a. Kelompok biji berkulit keras (contoh casurinas, eucaliptus dan lain-lain)

Menunjukan kematangan bila warnanya berubah hijau kecoklatan.

b. Kelompok buah yang berdaging seperti mangga menjadi lebih lunak dan berubah

warna bila sudah matang.

c. Polong (akasia dan tumbuhan polong lainnya) berubah warna dari hijau ke coklat,

jadi rapuh dan biji (khususnya akasia) akan menjadi hitam dan mengkilat.

4. Hindarkan penempatan biji atau kelompok biji di dalam kantong plastik, gunakan

kantong kain atau kertas. Apabila membeli biji perlu diperhatikan :

a. Penjual biji mempunyai reputasi baik/penyalur resmi.

b. Biji komersil dan yang dibeli harus terbungkus dalam kemasan berlabel sehingga

terjamin tingkat perkembangannya dan jelas asal serta tanggal pengambilan biji.

Pengambilan biji dilakukan dengan cara :

a. Memeberikan tanda pengenal secara jelas dengan mencantumkan jenis biji, tanggal

pengumpulan, lokasi dan sebagainya.

b. Simpan biji di dalam wadah kering, bebas serangga dan kutu dan bubuhi dengan

serbuk anti serangga dan jamur.

c. Biji disimpan pada temperatur di bawah 20o C dan kelembaban yang rendah. Biji

tumbuhan tropis mungkin mati pada temperatur di bawah 10o C.

Page 18: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

4. Pelaksanaan Penanaman

Tahapan pelaksanaan penanaman meliputi pengaturan arah larikan tanaman, pemasangan

ajir, distribusi bibit, pembuatan lubang tanaman dan penanaman.

a. Pemasangan arah larikan

Arah larikan tanaman biasanya sejajar kontur atau pada daerah relatif datar mengikuti

arah Timur – Barat.

b. Pemasangan Ajir

Pemasangan ajir mengikuti arah larikan tanaman. Pemasangan ajir tanaman mengikuti

jarak tanam yang ditetapkan 2 x 3 m.

c. Distribusi Bibit

Dilakukan setelah kegiatan pembuatan lubang tanam atau dilakukan setelah

penanaman ajir.

d. Pembuatan Lubang dan Penanaman Tanaman

Lubang tanaman dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm, sedangkan teknik

penanamannyadengan terlebih dahulu melepas plastik (pot/poolybag) pada bibit yang

tersedia. Sebelum bibit ditanam diamati dahulu apakah bibit yang tersedia cukup baik

(memenuhi syarat) umpamanya daun-daunnya segar/sehat dan tidak rusak, demikian

pula keadaan media tanamnya.

Penanaman harus dilakukan dan selesai sore hari.

Tanamkan bibit secara tegak lurus dan cukup padat, untuk memastikan tekan dengan

kaki pada sekitar tanaman.

5. Pemeliharaan

Tingkat keberhasilan dari semua metode penanaman akan berkurang bila tidak

dilakukan pemeliharaan yang baik. Pemeliharaan tanaman dimaksudkan untuk memacu

pertumbuhan tanaman sedemikian rupa sehingga dapat diwujudkan keadaan optimum bagi

pertumbuhan tanaman.

Pemeliharaan tanaman pada tahun pertama yang dilakukan yaitu kegiatan :

Penyulaman, pengendalian gulma, penyiangan, pendangiran, dan pemupukan. Sedangkan

pada tahun kedua dilakukan pberupa penyiangan, pengendalian gulma, pendangiran dan

pemupukan.

Page 19: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

2.5.5 Reklamasi Pada Infrastruktur Dan Bekas Bukaan Tambang

2.5.5.1 Jalan dan Jalan Tambang

Perencanaan desain dan konstruksi jalan tambang baik yang permanen maupun

sementara harus mempertimbangkan rencana kegiatannya lebih lanjut bila pelaksanaan

reklamasi telah dilakukan dikemudian hari. Pada gambar dperlihatkan contoh pembuatan

galian yang baik.

a. Perencanaan

Jalan umum dan jalan tambang diselaraskan dengan rencana pembukaan daerah

pertambangan, hal akan mempermudah rencana selanjutnya apabila kegiatan

pertambangan telah selesai.

Perencanaan jalan harus memperhatikan keamanan operasi penambangan, hindari

pembuatan jalan sejajar yang tidak perlu, demikian pula bundaran, jalan pintas dan lain-

lain.

Pada daerah gersang atau jarang pepohonan, perencanaan jalan umum dan jalan tambang

dilakukan sedemikian rupa agar tumbuh-tumbuhan atau panorama alam tidak

mengurangi daya penglihatan.

Sedapat mungkin perencanaan jalan umum dan jalan tambang harus disesuaikan dengan

keadaan topografi untuk menghindari mengalirnya air ke badan jalan yang dapat

mengakibatkan jalan selalu basah.

b. Rancang Bangun dan Pekerjaan Konstruksi

Pada waktu mendesain jalan tambang, harus disesuaikan untuk beberpa lama jalan itu

diperlukan dan peralatan apa saja yang memerlukan jalan itu.

Sedapat mungkin dihindari pemakaian alat-alat berat pada jalan yang dipergunakan

utnuk kegiatan eksplorasi dan dihindari sejauh mungkin menggangu tanah pucuk serta

akar-akar pohon yang ada.

Memanfaatkan kayu dari pohon-pohon bekas tebangan sebagai badan jalan dan stabilitas

lereng jalan.

Permukaan jalan dapat mengkontaminasikan air larian, maka dalam rancang bangun

maupun pekerjaan konstruksi harus memperhitungkan hal tersebut apabila curah hujan

tinggi. Persyaratan atau kelengkapan dari suatu jalan yang baik, misalnya untuk

mengendalikan erosi perlu dipertahankan dalam pengerjaanya.

Pada daerah datar, termasuk daerah yang sulit/kering, pengendalian air permukaan

sangat penting baik yang berasal dari permukaan jalan atau daerah sekitarnya (lihat

gambar 3.32).

Page 20: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Pada jalan yang berada ditebing (lereng yang curam), aliran alir harus disalurkan

keparit-parit yang dibuat disisi jalan maupun pada tempat tertentu pada tebing curan

tersebut seperti gambar 3.33 untuk menghindari terjadinya erosi yang dapat

mengakibatkan kelongsoran.

Dinding lereng diperkuat agar tidak cepat longsor atau tererosi serta pemasangan

gorong-gorong pada setiap ujung saluran air.

c. Reklamasi

Konfirmasikan apakah pihak yang berkepentingan (pemilik kehutanan dan lain-lain)

masih memerlukan jalan tersebut atau tidak pada waktu yang akan datng.

Pasangalah pintu atau penghalang untuk pencegah penggunaan jalan oleh orang-orang

yang tidak berkeprentingan.

Tebarkan tanah pucuk dan garu utnuk melonggarkan tanah yang padat sehingga mudah

untuk penyemaian bibit tanaman, hal ini akan sekaligus juga menghambat atau

mencegah penggunaan jalan yang memang sudah ridak dikehendaki serta dapat segera

dilakukan revegetasi (lihat gambar 3.34).

Bongkar gorong-gorong, selokan dan konstruksi semi permanen/sementara lainnya,

biarkan alir mengalir secara alami.

Apabila konstruksi penguat dinding lereng atau pekerjaan potong timbun (“cut and fill”)

dan sebaginya menjadikan daerah-daerah berlereng tidak stabil untuk jangka waktu

lama, maka perlu dibentuk lagi kontur yang memadai dengan menggunakan material

dari badan jalan, sehingga diperoleh lereng yang lebih stabil dan memenuhi persyaratan

sebagai lahan siap revegetasi.

Pemeliharaan jalan-jalan tertentu sehingga jalan masuk peralatan reklamasi sesuai

rencana rehabilitasi daerah bekas tambang adalah tetap dilakukan selama jalan tersebut

dilakukan.

2.5.5.2 Instalasi Jaringan Listrik dan Komunikasi

Hindari penebasan pohon serta pemindahan tanah dalam rangka instalasi jaringan listrik

dan alat komunikasi, biarkan tanggul atau akar pohon selama tidak mengganggu karena akan

mempengaruhi revegetasi jalan-jalan masuk yang hanya digunakan sementara.

Gunakan peralatan yang lebih sesuai untuk instalasi, pemeliharaan maupun pembongkaran

pada daerah-daerah terutama pada daerah-daerah yang sulit dicapai.

Page 21: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Singkirkan kabel, sling dan sebagainya ketika menara selesai dibongkar, kubur atau

singkirkan balok-balok beton atau pondasi. Jalan-jalan segera direhabilitasi apabila kegiatan

tidak aktif lagi.

2.5.5.3 Lubang Bekas Tambang

Apabila penambangan secara terbuka diterapkan pada umumnya akan meninggalkan

lubang atau cekungan pada akhir penambangan, Terjadinya lubang-lubang ini dapat

diminimalkan apabila penimbunan kembali tanah penutup dilakukan dengan segera dan

merupakan bagian dari pekerjaan penambangan. Lubang-lubang tambang yang tidak dapat

dihindari, dan berdasarkan perhitungan tidak dapat ditimbun kembali, maka lubang-lubang

tersebut haruslah dalam kondisi dari lubang/cekungan tersebut. Alternatif pemanfaatannya

antara lain :

a. Waduk

Tergantung untuk apa air akan digunakan, kualitas air (yang masuk dan keluar)

merupakan faktor penentu.

b. Habitat satwa liar atau budidaya

Lubang/cekungan merupakan faktor kritis, kedalaman, dinding yang terjal umumnya

tidak cocok untuk maksud ini. Pertimbangan adanya aliran tanah, bentang alam serta

habitat binaan memerlukan penelitian yang komprehensif.

c. Tempat penimbunan bahan tambang

Dengan pertimbangan ekonomi, maka lubang yang akan dipilih adalah yang dekat dengan

kegiatan pengupasan tanah/batuan penutup. Penelitian pola air tanah dan kemungkinan

pencemaran oleh mineral buangan perlu dilakukan. Alternatif pemanfaatan lubang bekas

tambang harus didahului denagn penelitian mengenai kelayakan lokasi tersebut terhadap

satwa liar atau budidaya.

Page 22: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

2.6 Kriteria Hasil Kegiatan Reklamasi

Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang,

perlu mengacu pada kriteria sebagai berikut :

2.6.1 Penataan Lahan

1. Pengisian kembalian lahan bekas tambang

a. Luas areal yang diisi kembali (ha), > 90 % dari areal yang seharusnya diisi.

b. Jumlah bahan/material pengisi (m3), > 90 % dari jumlah tanah penututup yang

digali.

2. Pengaturan permukaan lahan (regrading)

a. Luas areal yang diatur (ha), > 90 % dari luas areal yang ditimbun kembali.

b. Kemiringan lereng (%), < 8 % untuk tanaman pangan.

c. Tinggi, lebar dan panjang ters (m), disesuaikan dengan bentuk teras dan

kemiringan lereng.

3. Penaburan/penempatan tanah pucuk

a. Luas daerah yang diatur (ha), > 90 % dari areal yang harus diisi.

b. Jumlah tanah pucuk yang yang ditabur, > 90 % dari tanah pucuk yang digali

dan disimpan.

c. Ketebalan tanah pucuk (cm), > 80 % dari ketebalan tanah pucuk semula pada

areal tersebut.

d. Perbaikan kualitas tanah melalui pengapuran (ton/ha), sehingga pH tanah

menjadi 5,0 – 7,0 dan perbaikan struktur tanah, tanah menjadi gembur.

2.6.2 Pengendalian Erosi Dan Pengelolaan Tambang

1. Pembuatan bangunan pengendali erosi, jenis, jumlah, dan kualitasnya sesuai dengan

rencana.

2. Pengelolaan limbah, pelaksanaannya sesuai dengan rencana

Page 23: Reklamasi Lahan Bekas Tambang

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada pasca tambang, kegiatan yang utama dalam merehabalitisai lahan yaitu

mengupayakan agar menjadi ekosistem yang berfungsi optimal atau menjadi ekosistem yang

lebih baik. Reklamasi lahan dilakukan dengan mengurug kembali lubang tambang serta

melapisinya dengan tanah pucuk, dan revegetasi lahan serta diikuti dengan pengaturan

drainase dan penanganan/pencegahan air asam tambang. Penataan lahan bekas tambang

disesuaikan dengan penetapan tataruang wilayah bekas tambang. Lahan bekas tambang dapat

difungsikan menjadi kawasan lindung ataupun budidaya. Lahan pasca tambang memerlukan

penanganan yang dapat menjamin perlindungan terhadap lingkungan, khsususnya potensi

timbulnya air asam tambang, yaitu dengan mengupayakanbatuan mengandu ng sulfida tidak

terpapar pada udara bebas, serta dengan mengatur drainase. Bahan galian yang mengandung

komoditas masih mempunyai peluang untuk menjadi ekonomis perlu penanganan dan

penyimpanan yang baik agar tidak turun nilai ekonominya, serta apabila diusahakan dapat

digali dengan mudah. Diupayakan agar tidak ada bahan tambang ekonomis yang masih

tertinggal. Hal ini terutama bahan galian yang potensial mengundang masyarakat atau PETI

untuk memanfaatkannya, sehingga akan mengganggu proses reklamasi, maka perlu

disterilkan terlebih dahulu dengan menambang dan mengolahnya.