tugas vi review reklamasi tambang

43
TUGAS VI REVIEW TAMBANG TERBUKA REKLAMASI TAMBANG Dibuat Sebagai Syarat Tugas Mata Kuliah Tambang Terbuka Pada Jurusan Teknik Pertambangan Yohannes H Panjaitan 03091402033

Upload: anezhp

Post on 02-Dec-2015

175 views

Category:

Documents


12 download

DESCRIPTION

reklamasi

TRANSCRIPT

Page 1: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

TUGAS VI REVIEW TAMBANG TERBUKA

REKLAMASI TAMBANG

Dibuat Sebagai Syarat Tugas Mata Kuliah Tambang Terbuka

Pada Jurusan Teknik Pertambangan

Yohannes H Panjaitan

03091402033

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS TEKNIK

2013

Page 2: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

A. Latar Belakang

Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha

pertambangan untuk menata,memulihkan, dan memperbaiki kualitas

lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai

peruntukannya. Pasca tambang adalah kegiatan terencana, sistematis,dan

berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruhkegiatan usaha pertambangan

untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut

kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.

Prinsip Lingkungan Hidup Yang Wajib Dipenuhi Dalam

Melaksanakan Reklamasi dan Pascatambang :

a. Perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah,air laut, tanah

dan udara :

- Kualitas air yang ada pada lahan bekas tambang harus memenuhi

ketentuan baku mutu

- Kualitas tanah pada lahan bekas tambang subur dan menjadi media

tanam yang baik.

- Kualitas udara di lahan bekas tambang dan sekitarnya, berkualitas baik

bagi makhluk hidup

b. Perlindungan Keanekaragaman hayati

- Berbagai jenis tanaman di sekitar lokasi tambang dapat tumbuh subur

pada lahan bekas tambang

- Berbagai jenis binatang dan hewan dapat hidup dan berkembang biak

pada lahan bekas tambang.

- Simbiosis alamiah pada lahan bekas tambang pulih kembali.

Gambar

keanekaragaman hayati yang harus dijaga

Page 3: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

c. Penjaminan stabilitas dan keamanaan timbunan batuan penutup, kolam

tailing, lahan bekas tambang dan struktur buatan lainnya

- Semua lahan bekas tambang yang berupa lereng harus terjamin

stabilitas dan keamanannya

- Semua lahan bekas aktivitas tambang harus dipastikan tidak

berpotensi bahaya bagi lingkungan di sekitarnya

- Semua lahan bekas aktivitas tambang harus dijamin tidak akan

menimbulkan bencana.

d. Pemanfaatan lahan bekas tambang

- Semua lahan bekas tambang harus ada manfaatnya

- Semua lahan bekas aktivitas tambang harus memiliki manfaat

(ekonomi, ekologi, sosial, perlindungan)

- Adanya manfaat hanya dapat dicapai apabila ada perencanaan yang

baik dan jelas.

gambar pemanfaatan lahan bekas tambang

Page 4: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

e. Memperhatikan nilai‐nilai sosial dan budaya setempat

- Masyarakat di sekitar lahan bekas tambang tidak merasa resah,

khawatir, apalagi takut akan potensi bahaya.

- Masyarakat merasakan manfaat ekonomi dan sosial

dari lahan reklamasi.

- Lahan yang direklamasi tidak menjadi obyek sengketa antar

masyarakat setempat.

f. Perlindungan terhadap kuantitas air tanah

- Air tanah pada lokasi bekas tambang telah pulih secara kuantitas

- Air tanah pada lokasi bekas tambang dan sekitarnya dapat

dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya.

- Wajib dilakukan pemantauan tinggi muka air tanah pada

lahan bekas tambang

B. Dampak Negatif Pertambangan

Sumber daya alam yang meliputi vegetasi, tanah, air dan kekayaan

alam yang terkandung di dalamnya merupakan salah satu modal dasar

dalam pembangunan nasional, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesar-

besarnya untuk kepentingan rakyat dan kepentingan pembangunan

nasional dengan memperhatikan kelestariannya. Salah satu kegiatan dalam

memanfaatkan sumberdaya alam tersebut alah kegiatan pertambangan

bahan galian yang hingga saat ini merupakan salah satu sektor

penyumbangan devisa negara yang terbesar. Akan tetapi kegiatan

pertambangan apabila tidak dilaksanakan secara tepat dapat menimbulkan

dampak negatif terhadap lingkungan yang cukup besar antara lain berupa :

- Penurunan produktivitas tanah.

- Terjadinya erosi dan sedimentasi.

- Terjadinya gerakan tanah/ longsoran.

- Gangguan terhadap flora dan fauna.

- Perubahan iklim mikro.

- Permasalahan sosial

Page 5: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

Dampak negatif usaha pertambangan terhadap lingkungan tersebut

perlu dikendalikan untuk mencegah kerusakan lingkungan di luar batas

kewajaran.

Kegiatan Pertambangan dan Aspek Lingkungan

Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks

dan sangat rumit, sarat risisko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang,

melibatkan teknologi tinggi, padat modal, dan aturan regulasi yang

dikeluarkan dari beberapa sektor. Selain itu, kegiatan pertambangan

mempunyai daya ubah lingkungan yang besar, sehingga memerlukan

perencanaan total yang matang sejak tahap awal sampai pasca tambang.

Pada saat membuka tambang, sudah harus difahami bagaimana menutup

tambang.

Rehabilitasi/reklamasi tambang bersifat progresif, sesuai rencana

tata guna lahan pasca tambang Tahapan kegiatan perencanaan tambang

meliputi penaksiran sumberdaya dan cadangan, perancangan batas

penambangan (final/ultimate pit limit), pentahapan tambang, penjadwalan

produksi tambang, perancangan tempat penimbunan (waste dump design),

perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja, perhitungan biaya modal dan

biaya operasi, evaluasi finansial, analisis dampak lingkungan, tanggung

jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) termasuk

pengembangan masyarakat (Community Development) serta Penutupan

tambang. Perencanaan tambang, sejak awal sudah melakukan upaya yang

sistematis untuk mengantisipasi perlindungan lingkungan dan

pengembangan pegawai dan masyarakat sekitar tambang (Arif, 2007).

Kegiatan pertambangan pada umumnya memiliki tahap-tahap kegiatan

sebagai berikut :

- Eksplorasi

- Ekstraksi dan pembuangan limbah batuan

Page 6: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

- Pengolahan bijih dan operasional pabrik pengolahan

- Penampungan tailing, pengolahan dan pembuangannya

- Pembangunan infrastuktur, jalan akses dan sumber energi

- Pembangunan kamp kerja dan kawasan pemukiman

Contoh kerusakan lingkungan akibat tambang

Pengaruh pertambangan pada aspek lingkungan terutama berasal

dari tahapan ekstraksi dan pembuangan limbah batuan, dan pengolahan

bijih serta operasional pabrik pengolahan.

C. Dasar hukum

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 78 TAHUN 2010

TENTANG

REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 1 Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Reklamasi dan Pascatambang;

Page 7: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

Mengingat :

1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG REKLAMASI DAN PASCATAMBANG.

Upaya pengendalian dampak negatif kegiatan pertambangan terhadap

lingkungan hidup dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan

sebagai berikut :

a. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan

Pokok Pertambangan.

b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan

Pokok Pengolahan Lingkungan Hidup.

c. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tantang Penataan Ruang.

d. Mijn Politie Reglement (MPR Stbl 1930 No. 341).

e. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisa Mengenai

Dampak Lingkungan.

f. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan.

g. Intruksi Presiden R.I No. 1 Tahun 1976 tentang Sinkronisasi

Pelaksanaan Tugas Bidang Keagrariaan dengan Bidang Kehutanan,

Pertambangan, Transmigrasi dan Pekerjaan Umum.

h. SKB Menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri kehutanan Nomor :

996 K/05/M. PE/1969 tentang Pedoman Pengaturan Pelaksanaan

Undang-undang No. 429/K.pts. II/1939 Pertambangan dan Energi

dalam Kawasan Hutan.

Page 8: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

i. SKB menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri Kehutanan

Nomor : 1101. K/702/M. PE/1991 tentang Pembentukan Team

koordinasi 36/Kpts.II/1991

Tetap Departemen Pertambangan dan Energi dan Departemen

Kehutanan dan perubahan Tatacara Pengajuan Izin Usaha

Pertambangan dan Energi dalam Kawasan Hutan.

j.Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi

No.0185.K/008/M.PE/1988 tentang Pedomanan Teknis Penyusunan

Penyajian Informasi Lingkungan, Analisis Dampak Lingkungan untuk

Kegiatan di Bidang Pertambangan Umum dan Bidang Pertambangan

Minyak dan Gas Bumi dan Sumberdaya Panas Bumi.

k. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.

1158.K/008/M.PE/1989 tentang Ketentuan Pelaksanaan Analsis

Dampak Lingkungan dalam Usaha Pertambangan dan Energi.

l. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.

1211.K/008/M/PE/1995 tentang Pencegahan dan Penanggulangan

Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Usaha

Pertambangan Umum.

D. Perencanaan Reklamasi

Untuk melaksanakan reklamasi diperlukan perencanaan yang baik,

agar dalam pelaksanaannyadapat tercapai sasaran sesuai yang dikehendaki.

Dalam hal ini reklamasi harus disesuaikan dengan tata ruang. Perencanaan

reklamasi harus sudah disiapkan sebelum melakukan operasi

penambangan dan merupakan program yang terpadu dalam kegiatan

operasi penambangan. Hal-hal yang harus diperhatikan di dalam

perencanaan reklamasi adalah sebagai berikut :

a. Mempersiapkan rencana reklamasi sebelum pelaksanaan penambangan.

b. Luas areal yang direklamasi sama dengan luas areal penambangan.

Page 9: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

c. Memeindahkan dan menempatkantanah pucuk pada tempat tertentu dan

mengatur sedemikian rupa untuk keperluan vegetasi.

d. Mengembalikan/memperbaiki kandungan (kadar) bahan beracun sampai

tingkat yang aman sebelum dapat dibuang ke suatu tempat

pembuangan.

e. Mengembalikan lahan seperti keadaan semula dan/atau sesuai dengan

tujuan penggunaannya.

f. Memperkecil erosi selama dan setelah proses reklamasi.

g. Memindahkan semua peralatan yang tidak digunakan lagi dalam

aktivitas penambangan.

h. Permukaan yang padat harus digemburkan namun bila tidak

memungkinkan untuk agar ditanami dengan tanaman pionir yang

akarnya mampu menembus tanah yang keras.

i. Setelah penambangan maka pada lahan bekas tambang yang

diperuntukan bagi vegetasi, segera dilakukan penanaman kembali

dengan jenis tanaman yang sesuai dengan rencana rehabilitasi.

j. Mencegah masuknya hama dan gulma berbahaya, dan

k. Memeantau dan mengelola areal reklamasi sesuai dengan kondisi yang

diharapkan.

Page 10: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

PEMERIAN LAHAN

Pemerian lahan pertambangan merupakan hal yang terpenting

untuk merencanakan jenis perlakuan dalam kegiatan reklamasi. Jenis

perlakuan reklamasi dipengaruhi oleh berbagai faktor utama :

1. Kondisi Iklim,

2. Geologi,

3. Jenis Tanah,

4. Bentuk Alam,

5. Air permukaan dan air tanah,

6. Flora dan Fauna,

7. Penggunaan lahan,

8. Tata ruang dan lain-lain.

Untuk memperoleh data dimaksud diperlukan suatu penelitian

lapangan. Dari berbagai faktor tersebut di atas, kondisi iklim terutama

curah hujan dan jenis tanah merupakan faktor yang terpenting.

PELAKSANAAN REKLAMASI

Kegiatan pelaksanaan reklamasi harus segera dimulai sesuai

dengan rencana tahunan pengelolaan lingkungan (RTKL) yang telah

disetujui dan harus sudah selesai pada waktu yang telah ditetapkan. Dalam

melaksanakan kegiatan reklamasi, perusahaan pertambangan bertanggung

jawab sampai kondisi/rona akhir yang telah disepakati tercapai.

Setiap lokasi penambangan mempunyai kondisi tertentu yang

mempengaruhi pelaksanaan reklamasi. Pelaksanaan reklamasi umumnya

merupakan gabungan dari pekerjaan teknik sipil dan teknik vegetasi.

Pekerjaan teknik sipil meliputi : pembuatan teras, saluran pembuangan

akhir (SPA), bangunan pengendali lereng, check dam, penengkap oli bekas

(“oil cather”) dan lain-lain yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Pekerjaan teknik vegetasi meliputi : pola tanam, sistem penanaman

(“monokultur, multiple croping”), jenis tanaman yang disesuaikan kondisi

Page 11: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

setempat, “cover crop” (tanaman penutup) dan lain-lain. Pelaksanaan

reklamasi lahan meliputi kegiatan sebagai berikut :

a) Persiapan lahan yang berupa pengamanan lahan bekas tambang,

pengaturan bentuk tambang (“landscaping”), pengaturan/penempatan

bahan tambang kadar rendah (“low Grade”) yang belum

dimanfaatkan.

b) Pengendalian erosi dan sedimentasi.

c) Pengelolaan tanah pucuk (“top soil”)

d) Revegatasi (penanaman kembali) dan/atau pemanfaatan lahan bekas

tambang untuk tujuan lainnya.

Gambar

persiapan kembali tanah penutup

PERSIAPAN LAHAN

Page 12: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

1. Pengamatan Lahan Bekas Tambang

Kegiatan ini meliputi :

a. Pemindahan/pembersihan seluruh peralatan dan prasarana yang tidak

digunakan di lahan yang akan direklamasi,

b. Perencanaan secara tepat lokasi pembuangan sampah/limbah beracun

dan berbahaya dengan perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan,

c. Pembuangan atau penguburan potongan beton dan “scrap” pada tempat

khusus,

d. Penutupan lubang bukaan tambang secara aman dan permanen,

e. Melarang atau menutup jalan masuk ke lahan bekas tambang yang akan

direklamasi.

2. Pengaturan Bentuk Lahan

Pengaturan bentuk lahan disesuaikan dengan kondisi topografi dan

hidrologi setempat. Krgiatan ini meliputi :

a. Pengaturan bentuk lereng

-  Pengaturan bentuk lereng dimaksud untuk mengurangi kecepatan air

limpasan (“run off”), erosi dan sedimentasi serta longsor,s

- Lereng jangan terlalu tinggi atau terjal dan dibentuk berteras-teras

b. Pengaturan saluran pembuangan air

- Pengaturan saluran pembuangan air (SPA) dimaksudkan untuk

mengatur air agar mengalir pada tempat tertentu dan dapat mengurangi

kerusakan lahan akibat erosi.

- Jumlah/kerapatan dan bentuk SPA tergantung dari bentuk lahan

(topografi) dan luas areal yang direklamasi.

PENGENDALIAN EROSI DAN SEDIMENTASI

Pengendalian erosi meruoakan hal yang mutlak dilakukan selama

kegiatan penambangan dan setelah penambangan. Erosi dapat

mengakibatkan berkurangnya kesuburan tanah, terjadinya endapan lumpur

dan sedimentasi di alur-alur sungai. Faktor-faktor yang menyebabkan

terjadinya erosi oleh air adalah : curah hujan, kemiringan lereng

Page 13: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

(topografi), jenis tanah, tata guna tanah (perlakuan terhadap tanah) dan

tanaman penutup tanah.

Beberapa cara untuk mengendalikan erosi dan air limpasan adalah

sebagai berikut :

1. Meminimasikan areal terganggu dengan ;

- Membuat rencana detail kegiatan penambangan dan rekalmasi,

- Membuat batas-batas yang jelas areal tahapan penambangan,

- Penebangan pohon sebatas areal yang akan dilakukan penambangan,

- Pengawasan yang ketat pada pelaksanaan penebangan pepohonan

2. Membatasi/mengurangi kecepatan air limpasan dengan :

- Pembuatan teras-teras

- Pembuatan saluran diversi (pengelak)

- Pembuatan SPA

- Dam pengendali

3. Meningkatkan infiltrasi (peresapan air tanah)

- Dengan penggaruan tanah searah kontur,

- Akibat penggaruan, tanah menjadi gembur dan volume tanah

meningkat sebagai media perakaran     tanah,

- Pembuatan lubang-lubang tanaman, pendangiran, dll.

4. Pengelolaan air yang keluar dari lokasi penambangan

- Penyaluran air dari lokasi tambang ke perairan umum harus sesuai

dengan perlakuan yang berlaku dan harus di dalam wilayah Kuasa

Tambang,

- Membuat bendungan sedimen untuk menampung air yang banyak

mengandung sedimen,

- Bila curah hujan tinggi perlu dibuat bendungan yang kuat dan

permanen yang dilengkapi dengan saluran pengelak,

- Letak bendungan ditempatkan sedemikian sehingga aliran air mudah

ditampung dan dibelokkan serta kemiringan saluran air (SPA) jangan

terlalu curam,

Page 14: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

- Bila endapan sedimen telah mencapai setengah dari badan

bendungansebaiknya sedimen dikeruk dan dapat dipakai sebagai

lapisan atas tanah,

- Dalam membuat bendungan permanen harus dilengkapi dengan

saluran pelimpah (“Spillways”) untuk menangani keadaan darurat dan

saluran pembuatan (“decant”, “syohon”), dan lainnya yang dianggap

perlu,

- Kurangi kecepatan aliran permukaan dengan membuat teras, check

dam dari beton, kayu atau dalam bentuk lain seperti pada gambar 3.21.

Pengendalian erosi selengkapnya supaya mengacu pada pedoman

teknis yang telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jendral

Pertambangan Umum No. 693.K/008/DJP/1996 tentang Pedoman Teknis

Pengendalian Erosi Pada Kegiatan Pertambangan Umum.

Bentuk terasering pada lereng tambang

PENGELOLAAN TANAH PUCUK

Maksud dari pengelolaan ini untuk mengatur dan memisahkan

tanah pucuk dengan lapisan tanah lain. Hal ini karena tanah pucuk

Page 15: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

merupakan media tumbuh bagi tanaman dan merupakan salah satu faktor

penting untuk keberhasilan pertumbuhan tanaman pada kegiatan

reklamasi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tanah pucuk adalah :

1. Penggunaan profil tanah dan identifikasi pelapisan tanah tersebut

sampai endapan bahan galian,

2. Pengupasan tanah berdasarkan atas lapisan-lapisan tanah dan

ditempatkan pada tempat tertentu sesuai tingkat lapisannya dan timbunan

tanah pucuk tidak melebihi dari 2 meter,

3. Pembentukan lahan sesuai dengan susunan lapisan tanah semula dengan

tanah pucuk ditempatkan paling atas dengan ketebalan minimal 0.15 m,

4. Ketebalan timbunan tanah pucuk pada tanah yang mengadung racun

dianjurkan lebih tebal dari yang tidak beracun atau dilakukan perlakuan

khusus dengan cara mengisolasi dan memisahkannya,

5. Pengupasan tanah sebaiknya jangan dilakukan dalam keadaan basah

untuk menghindari pemadatan dan rusaknya struktur tanah,

6. Bila lapisan tanah pucuk tipis (terbatas/sedikit) dipertimbangkan :

7. Penentuan daerah prioritas yaitu daerah yang sangat peka terhadap erosi

sehingga perlu penanganan konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman

dengan segera.

- Penempatan tanah pucuk pada jalur penanaman (jenis tanah yang peka

terhadap erosi.

Jumlah tanah pucuk yang terbatas (sangat tipis) dapat dicampur dengan

tanah bawah (sub soil),

- Dilakukan penanaman langsung dengan tanaman penutup (“cover crop”)

yang cepat tumbuh dan menutup permukaan.

8. Yang perlu dihindari dalam memanfaatkan tanah pucuk adalah apabila :

- Sangat berpasir (70% pasir atau kerikil),

-  Sangat berlempung (60% lempung),

- Mempunyai pH < 5.00 atau > 8.00,

- Mengandung khlorida 3%, dan

Page 16: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

- Mempunyai elctrikal conductivity (ec) 400 miliseimens/meter.

- Pengelolaan tanah pucuk pada areal yang akan direklamasi

REVEGETASI

Revegetasi dilakukan melalui tahapan kegiatan penyusunan

rancangan teknis tanaman, persiapan lapangan, pengadaan

bibit/persemaian, pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan tanaman.

1. Penyusunan Rancangan Teknis tanaman

Rancangan teknis tanaman adalah rencana detail kegiatan

revegetasi yang menggambarkan kondisi lokasi, jenis tanaman yang akan

ditanam, uraian jenis pekerjaan, kebutuhan bahan dan alat, kebutuhan

tenaga kerja, kebutuhan biaya dan tata waktu pelaksanaan kegiatan.

Rancangan tersebut disusun berdasarkan hasil analisis kondisi

biofisik dan sosial ekonomi setempat. Kondisi geofisik meliputi topografi

atau bentuk lahan, iklim, hidrologi, kondisi vegetasi awal dan vegetasu

asli. Sedangkan data sosial ekonomi yang perlu mendapat perhatian antara

lain demografi, sarana, prasaran, dan eksesbilitas yang ada.

Jenis tanaman yang dipilih kalau dapat diarahkan pada penanaman

jenis tumbuhan asli. Sebaiknya dipilih jenis tumbuhan lokal yang sesuai

dengan iklim dan kondisi tanah setempat saat ini. Sehingga, perlu selalu

mengikuti perkembangan pengetahuan mengenai jenis-jenis tanaman yang

cocok untuk keperluan revegetasi lokasi bekas tambang. Perlu konsultasi

dengan instansi yang berwenang di dalam pemilihan jenis tanaman yang

cocok.

2. Persiapan Lapangan

Pada umumnya persiapan lapangan meliputi pekerjaan

pembersihan lahan, pengolahan tanah dan kegiatan perbaikan tanah.

Kegiatan tersebut sangat penting agar keberhasilan tanaman dapat tercapai.

Page 17: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

a. Pembersihan lahan

Kegiatan pembersihan lahan merupakan salah satu penentu dalam

persiapan lapangan. Kegiatan ini antara lain : pembersihan lahan dari

tanaman pengganggu (alang-alang, liliana, dll), dengan tujuan agar

tanaman pokok dapat tumbuh baik tanpa ada persaingan dengan tanaman

pengganggu dalam hal mendapatkan unsur hara, sinat matahari, dll.

b. Pengolahan lahan

Tanah diolah supaya gembur agar perakaran tanaman dapat dengan

mudah menembus tanah dan mendapatkan unsur hara yang diperlukan

dengan baik, diharapkan pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang

diinginkan.

c. Perbaikan tanah

Kualitas tanah yang kurang bagus bagi pertumbuhan tanaman perlu

mendapat perhatian khusus melalui perbaikan tanah seperti penggunaan

gypsum, kapur, mulsa, pupuk (organik maupun anorganik). Dengan

perlakuan tersebut diharapkan dapat memperbaiki persyaratan tumbu

tanaman.

1) Penggunaan Gypsum

a) Gypsum digunakan untuk memperbaiki kondisi tanah yang

mengandung banyak lempung dan untuk mengurangi pembentukan kerak

tanah (“crusting”) pada tanah padat (“hard-setting soil”). Penggunaan

gypsum akan menggantikan ion sodium dengan ion kalsium, sehingga

dapat meningkatkan struktur tanah, meningkatkan daya resap tanah

terhadap air, aerasi (udara), pengurangan kerak tanah dan dengan pelindian

(“leaching”) akan mengurangi kadar garam.

b) Bila lapisan tanah bagian bawah (sun soil) yang diperbaiki, maka dibuat

alur garukan yang dalam agar gypsum dapat diserap, jika tanah kerak yang

diperbaiki, sebarkan gypsum pada lapisan permukaan saja.

Page 18: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

c) Pengguanaan gypsum sebanyak 5 ton/ha biasanya cukup untuk

memperbaiki tanah kerak. Penggunaan 110 ton/ha diperlukan untuk

mengolah lapisan bagian bawah yang bersifat lempung.

d) Pengolahan biasanya dilakukan sekali saja. Pengaruh pengolahan tanah

dengan gypsum akan tahan selama beberapa tahun, pada saat mana

tumbuh-tumbuhan sudah mampu menghasilkan bahan-bahan organik yang

memberikan dampak positif bagi pertumbuhan.

2) Penggunaan kapur

a) Kapur digunakan khsusunya untuk mengatur pH, akan tetapi dapat juga

memperbaiki struktur tanah.

b) Pengaturan pH dapat merangsang tersedianya zat hara untuk tanaman

dan mengatur zat-zat racun.

c) Kapur biasanya digunakan dalam bentuk tepung batu gamping, kapur

dolomit. Kapur tohor (“hydrated lime”) jarang digunakan.

d) Kapur atau batu kapur giling kasar (“coarsely crushed”) dan kapur

dolomit mempunyai daya kerja yang lebih lambat, akan tetapi

pengaruhnya dalam menetralisir pH lebih lama dibandingkan dengan

kapur tohor.

e) Penggunaan gamping secara bertahap mungkin diperlukan jika

kesinambungan kenaikan pH dibutuhkan.

f) Kapur tohor akan berpengaruh menrurunkan kemampuan jenis pupuk

yang mengandung nitrogen. Karena itu penggunaanya harus terpisah.

g) Tingkat penyesuaian pH akan bergantung dari tingkat keasaman, jenis

tanah dan kualitas batu gamping. Sebagai contoh, penggunaan kapur

sebanyak 2,5 – 3,5 ton/ha pada tahun yang memiliki pH > 5,0 akan

menaikan pH kurang lebih 0,5.

3) Penggunaan Mulsa, Jerami dan Bahan Organik lainnya

a) Mulsa adalah bahan yang disebarkan dipermukaan tanah sebagai upaya

perbaikan kondisi tanah. Tanaman penutup berumur pendek dapat juga

dipergunakan sebagi mulsa.

Page 19: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

b) Mulsa berfungsi mengendalikan erosi, mempertahankan kelembaban

tanah dan mengatur suhu permukaan tanah.

c) Pada umumnya penggunaan mulsa terbatas pada lokasi yang

memerlukan revegetasi yang cepat, perlindungan tempat-tempat tertentu

(seperti tanggul) atau jika perbaikan tanah atau media akan dibutuhkan.

d) Jerami jenis batang padi umumnya digunakan sebagai mulsa atau lokasi

yang luas. Tingkat penggunaan bervariasi antara 2,5 – 5,0 ton/ha.

e) Berbagai jenis bahan-bahan organik atau limbah pertanian digunakan

sebagai mulsa yang penggunaannya bergantung dari ketersediaan dan

harganya. Bahan-bahan baik digunakan sebagai mulsa, antara lain tumbuh-

tumbuhan yang tergusur pada waktu pengupasan tanah, potongan-

potongan kayu dan serbuk gergaji, limbah pabrik pengolahan dan

penggergajian kayu, ampas pabrik gula tebu dan berbagai kulit jenis

kacang-kacangan.

f) Nitrogen mungkin perlu ditambahkan untuk memenuhi kekurangan

nitrogen yang terjadi pada saat mulsa segar mulai membusuk/terurai.

g) Penyebaran mulsa secara mekanis dapat menggunakan alat pertanian

(misalnya penyebar pupuk kandang) atau dengan alat khusus.

h) Alat khusus penyebar mulsa digunakan untuk penyebaran bahan-bahan

mulsa (Biasanya jerami atau batang padi) yang dicampur dengan bijih

tumbuhan.

4. Pupuk

a) Persyaratan penggunaan pupuk akan sangat bervariasi sesuai dengan

kondisi dan maksud peruntukan lahan sesudah selesai penambangannya.

b) Meskipun jenis tumbuhan asli beradaptasi dengan tingkat nutrisi yang

rendah namun dengan pemberian pupuk yang cukup dapat meningkatkan

pertumbuhannya.

c) Reaksi setiap tumbuhan bervariasi, anggota dari rumpun

“proteseae”sensitif terhadap peningkatan kandungan fosfor dan

kemungkinan menimbulkan efek yang kurang baik.

Page 20: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

d) Pupuk organik (lumpur kotoran, pupuk alami atau kompos, darah dan

tulang dan sebagainya) umumnya bermanfaat sebagai pengubah sifat

tanah.

e) Jenis, dosis dan waktu pemberian pupuk anorganik sebaiknya dilakukan

sesuai dengan hasil analisis tanah.

f) Pupuk anorganik komersial selalu mengandung satu atau lebih nutrisi

makro (yaitu nitrogen, fosfor, kalium). Selain itu juga mengandung

belerang, kalsium, dan magnesium.

g) Apabila terdapat tanda-tanda tumbuhan kekurangan unsur atau

keracunan, harus meminta saran dari ahli tanah.

h) Waspada terhadap kemungkinan penggunaan pupuk yang berlebihan

yang dapat mengakibatkan pencemaran air, khususnya pada daera tanah

pasiran.

i) Pemberian pupuk dalam bentuk butir atau tablet dapat dilakukan pada

jarak 10 – 15 cm di bawah atau di sebelah tiap lubang semaian pada waktu

penanaman. Harus dicegah kontak langsung antara pupuk dengan akar

semaian.

3. Pengadaan Bibit/Persemaian

Bibit yang dibutuhkan untuk revegetasi dapat memenuhi melalui

pembelian bibit siap tanam, atau melalui pengadaan bibit. Apabila melalui

pengadaan bibit harus mengikuti ketentuan sebagai berikut :

a. Pengadaan benih

Benih adalah tanaman atau bagian yang digunakan untuk

memperbanyak dan atau mengembangkan tanaman (UU No. 12 Tahun

1992).

Benih yang akan dipergunakan untuk keperluan revegetasi

diperoleh dengan cara mengeumpulkan dari sumber benih yang ada atau

membeli dari perusahaan pengada/pengedar yang telah ditunjuk secara

resmi.

Benih tersebut harus memenuhi syarat :

1) Diketahui secara jelas asal-usulnya

Page 21: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

2) Bermutu tinggi/benih unggul

Hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengumpulkan benih/biji antara

lain:

1) Menentukan daerah pengumpulan dan spesies yang diinginkan sebelum

biji tersebut matang.

2) Menghindari buah yang menunjukan adanya tanda serangan serangga

atau gangguan jamur.

3) Mengumpulkan biji yang sudah matang :

a. Kelompok biji berkulit keras (contoh casurinas, eucaliptus dan lain-lain)

Menunjukan kematangan bila warnanya berubah hijau kecoklatan.

b. Kelompok buah yang berdaging seperti mangga menjadi lebih lunak

dan berubah warna bila sudah matang.

c. Polong (akasia dan tumbuhan polong lainnya) berubah warna dari hijau

ke coklat, jadi rapuh dan biji (khususnya akasia) akan menjadi hitam dan

mengkilat.

4) Hindarkan penempatan biji atau kelompok biji di dalam kantong

plastik, gunakan kantong kain atau kertas.

Apabila membeli biji perlu diperhatikan :

a. Penjual biji mempunyai reputasi baik/penyalur resmi.

b. Biji komersil dan yang dibeli harus terbungkus dalam kemasan berlabel

sehingga terjamin tingkat perkembangannya dan jelas asal serta tanggal

pengambilan biji.

Pengambilan biji dilakukan dengan cara :

a. Memeberikan tanda pengenal secara jelas dengan mencantumkan jenis

biji, tanggal pengumpulan, lokasi dan sebagainya.

b. Simpan biji di dalam wadah kering, bebas serangga dan kutu dan bubuhi

dengan serbuk anti serangga dan jamur.

c. Biji disimpan pada temperatur di bawah 20o C dan kelembaban yang

rendah. Biji tumbuhan tropis mungkin mati pada temperatur di bawah

10oC.

b. Pembuatan persemaian.

Page 22: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

1) Pemilihan lokasi persemaian

Lokasi persemaian yang dipilih harus memenuhi persyaratan yang

ada/dekat dengan sumber air, tanahnya datar dan mudah dicapai serta

cukup mendapat cahaya matahari. Kondisi ekologisnya mendekati calon

areal penanaman.

2) Tahapan dan Kegiatan Pembuatan Persemaian

a) Perlakuan pendahuluan

Untuk benih yang mempunyai umur panjang (benih ortodoks) beri

diberi perlakuan khusus sebelum disemaikan.

b) Penaburan benih

Benih yang berukuran halus sebelum ditabur terlebih dahulu

dicampur dengan pasir halus, tanah halus atau yang telah dihancurkan,

sedangkan benih yang berukuran lebih besar dapat ditabur langsung di

bedeng tabur atau dalam kantong semai.

c) Penyapihan

Penyapihan dilakukan untuk memindahkan bibit siap sapih dari

bak perkecambahan ke dalam pot yang telah diisi media sapih dan di

laksanakan di rumah pertumbuhan.

d) Pemeliharaan bibit

Untuk memperoleh bibit yang baik perlu dilakukan penyiraman,

pemupukan, penyulaman, penyiangan rumput, pemotongan akar serta

pemberantasan hama dan penyakit.

e) Permanenan dan Pengangkutan Bibit

Bibit yang dipanen adalah bibit yang telah memenuhi persyaratan

- pertumbuhan normal (batang lurus, daun lebar/hijau dan telah

mencapai tinggi minimal 20 cm)

- Kaya perakaran dan telah membentuk gumpalan dengan media

pertumbuhannya

- Tidak terserang hama penyakit

4. Pelaksanaan Penanaman

Page 23: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

Tahapan pelaksanaan penanaman meliputi pengaturan arah larikan

tanaman, pemasangan ajir, distribusi bibit, pembuatan lubang tanaman dan

penanaman.

a. Pemasangan arah larikan

Arah larikan tanaman biasanya sejajar kontur atau pada daerah

relatif datar mengikuti arah Timur – Barat.

b. Pemasangan Ajir

Pemasangan ajir mengikuti arah larikan tanaman. Pemasangan ajir

tanaman mengikuti jarak tanam yang ditetapkan 2 x 3 m.

c. Distribusi Bibit

Dilakukan setelah kegiatan pembuatan lubang tanam atau

dilakukan setelah penanaman ajir.

d. Pembuatan Lubang dan Penanaman Tanaman

Lubang tanaman dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm, sedangkan

teknik penanamannyadengan terlebih dahulu melepas plastik

(pot/poolybag) pada bibit yang tersedia. Sebelum bibit ditanam diamati

dahulu apakah bibit yang tersedia cukup baik (memenuhi syarat)

umpamanya daun-daunnya segar/sehat dan tidak rusak, demikian pula

keadaan media tanamnya.

Penanaman harus dilakukan dan selesai sore hari.

Tanamkan bibit secara tegak lurus dan cukup padat, untuk

memastikan tekan dengan kaki pada sekitar tanaman.

5. Pemeliharaan

Tingkat keberhasilan dari semua metode penanaman akan

berkurang bila tidak dilakukan pemeliharaan yang baik. Pemeliharaan

tanaman dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tanaman sedemikian

rupa sehingga dapat diwujudkan keadaan optimum bagi pertumbuhan

tanaman.

Pemeliharaan tanaman pada tahun pertama yang dilakukan yaitu kegiatan :

Page 24: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

Penyulaman, pengendalian gulma, penyiangan, pendangiran, dan

pemupukan. Sedangkan pada tahun kedua dilakukan pberupa penyiangan,

pengendalian gulma, pendangiran dan pemupukan.

a. Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau rusak, tidak

sehat/merana untuk memperoleh prosentase tumbuh tanaman > 95% dan

harus dilakukan 15 – 30 hari sesudah penanaman.

b. Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma, bertujuan untuk mengurangi atau

ememperkecil persaingan akar antara tanaman pokok dengan tanaman

pengganggu. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual berupa

penyiangan dan pendangiran atau kimiawi berupa penyemprotan bahan

kimia/herbisida, tergantung pada kondisi lapangan, keadaan tanah, jenis

gulma dan jenis tanaman.

c. Pemupukan

Dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tanaman dan

peningkatan riap. Dalam menentukan jenis, dosis dan waktu pemupukan

perlu pertimbangan jenis tanaman dan kesuburan tanahnya serta terlebih

dahulu dilakukan analisa tanah.

d. Pengendalian Hama dan Penyakit

1) Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara kimiawi hanya

dilakukan pada keadaan yang sangat mendesak, yang cenderung

menggagalkan rehabilitasi hutan secara keseluruhan.

2) Pengendalian tersebut dilakukan dengan mengikuti petunjuk

penggunaan/perlakuan secara tepat dan benar.

3) Pengendalian hama dan penyakit secara kimiawi tidak dibenarkan pada

kawasan pelestarian alam.

4) Pencegahan terhadap kebakaran dan penggembalaan liar.

a. Kebakaran hutan dapat menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan

tegakan, produktivitas dan kualitas tanaman

Page 25: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

b. Beberapa usaha pencegahan terhadap kebakaran yang dapat dilakukan

antara lain : pembersihan lahan dari bahan yang mudah terbakar, memilih

jenis tanaman yang tahan kebakaran, dan memberikan penerangan dan

penyuluhan tentang pencegahan kebakaran kepada masyarakat sekitar.

Pencegahan terhadap penggembalaan liar dilakukan melalui

penerangan dan penyuluhan, pemberian bibit makanan ternak dan apabila

dianggap perlu dapat dilakukan pembuatan pagar pengaman.

REKLAMASI PADA INFRASTRUKTUR DAN BEKAS BUKAAN

TAMBANG

1. Jalan dan Jalan Tambang

Perencanaan desain dan konstruksi jalan tambang baik yang

permanen maupun sementara harus mempertimbangkan rencana

kegiatannya lebih lanjut bila pelaksanaan reklamasi telah dilakukan

dikemudian hari. Pada gambar dperlihatkan contoh pembuatan galian yang

baik.

a. Perencanaan

Jalan umum dan jalan tambang diselaraskan dengan rencana

pembukaan daerah pertambangan, hal akan mempermudah rencana

selanjutnya apabila kegiatan pertambangan telah selesai.

Perencanaan jalan harus memperhatikan keamanan operasi

penambangan, hindari pembuatan jalan sejajar yang tidak perlu,

demikian pula bundaran, jalan pintas dan lain-lain.

Pada daerah gersang atau jarang pepohonan, perencanaan jalan

umum dan jalan tambang dilakukan sedemikian rupa agar tumbuh-

tumbuhan atau panorama alam tidak mengurangi daya penglihatan.

Sedapat mungkin perencanaan jalan umum dan jalan tambang

harus disesuaikan dengan keadaan topografi untuk menghindari

Page 26: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

mengalirnya air ke badan jalan yang dapat mengakibatkan jalan selalu

basah.

b. Rancang Bangun dan Pekerjaan Konstruksi

Pada waktu mendesain jalan tambang, harus disesuaikan untuk

beberpa lama jalan itu diperlukan dan peralatan apa saja yang

memerlukan jalan itu.

Sedapat mungkin dihindari pemakaian alat-alat berat pada jalan

yang dipergunakan utnuk kegiatan eksplorasi dan dihindari sejauh

mungkin menggangu tanah pucuk serta akar-akar pohon yang ada.

Memanfaatkan kayu dari pohon-pohon bekas tebangan sebagai

badan jalan dan stabilitas lereng jalan.

Permukaan jalan dapat mengkontaminasikan air larian, maka

dalam rancang bangun maupun pekerjaan konstruksi harus

memperhitungkan hal tersebut apabila curah hujan tinggi. Persyaratan

atau kelengkapan dari suatu jalan yang baik, misalnya untuk

mengendalikan erosi perlu dipertahankan dalam pengerjaanya.

Pada daerah datar, termasuk daerah yang sulit/kering,

pengendalian air permukaan sangat penting baik yang berasal dari

permukaan jalan atau daerah sekitarnya (lihat gambar 3.32).

Pada jalan yang berada ditebing (lereng yang curam), aliran alir

harus disalurkan keparit-parit yang dibuat disisi jalan maupun pada

tempat tertentu pada tebing curan tersebut seperti gambar 3.33 untuk

menghindari terjadinya erosi yang dapat mengakibatkan kelongsoran.

Dinding lereng diperkuat agar tidak cepat longsor atau tererosi

serta pemasangan gorong-gorong pada setiap ujung saluran air.

c. Reklamasi

Konfirmasikan apakah pihak yang berkepentingan (pemilik

kehutanan dan lain-lain) masih memerlukan jalan tersebut atau tidak

pada waktu yang akan datng.

Pasangalah pintu atau penghalang untuk pencegah penggunaan

jalan oleh orang-orang yang tidak berkeprentingan.

Page 27: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

Tebarkan tanah pucuk dan garu utnuk melonggarkan tanah

yang padat sehingga mudah untuk penyemaian bibit tanaman, hal ini

akan sekaligus juga menghambat atau mencegah penggunaan jalan

yang memang sudah ridak dikehendaki serta dapat segera dilakukan

revegetasi (lihat gambar 3.34).

Bongkar gorong-gorong, selokan dan konstruksi semi

permanen/sementara lainnya, biarkan alir mengalir secara alami.

Apabila konstruksi penguat dinding lereng atau pekerjaan

potong timbun (“cut and fill”) dan sebaginya menjadikan daerah-

daerah berlereng tidak stabil untuk jangka waktu lama, maka perlu

dibentuk lagi kontur yang memadai dengan menggunakan material dari

badan jalan, sehingga diperoleh lereng yang lebih stabil dan memenuhi

persyaratan sebagai lahan siap revegetasi.

Pemeliharaan jalan-jalan tertentu sehingga jalan masuk

peralatan reklamasi sesuai rencana rehabilitasi daerah bekas tambang

adalah tetap dilakukan selama jalan tersebut dilakukan.

2. Lubang Bekas Tambang

Apabila penambangan secara terbuka diterapkan pada umumnya

akan meninggalkan lubang atau cekungan pada akhir penambangan,

Terjadinya lubang-lubang ini dapat diminimalkan apabila penimbunan

kembali tanah penutup dilakukan dengan segera dan merupakan bagian

dari pekerjaan penambangan. Lubang-lubang tambang yang tidak dapat

dihindari, dan berdasarkan perhitungan tidak dapat ditimbun kembali,

maka lubang-lubang tersebut haruslah dalam kondisi dari lubang/cekungan

tersebut. Alternatif pemanfaatannya antara lain :

a. Waduk

Tergantung untuk apa air akan digunakan, kualitas air (yang masuk

dan keluar) merupakan faktor penentu.

b. Habitat satwa liar atau budidaya

Lubang/cekungan merupakan faktor kritis, kedalaman, dinding

yang terjal umumnya tidak cocok untuk maksud ini. Pertimbangan adanya

Page 28: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

aliran tanah, bentang alam serta habitat binaan memerlukan penelitian

yang komprehensif.

c. Tempat penimbunan bahan tambang

Dengan pertimbangan ekonomi, maka lubang yang akan dipilih

adalah yang dekat dengan kegiatan pengupasan tanah/batuan penutup.

Penelitian pola air tanah dan kemungkinan pencemaran oleh mineral

buangan perlu dilakukan. Alternatif pemanfaatan lubang bekas tambang

harus didahului denagn penelitian mengenai kelayakan lokasi tersebut

terhadap satwa liar atau budidaya.

KRITERIA KEBERHASILAN REKLAMASI

Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan kegiatan reklamasi

lahan bekas tambang, perlu mengacu pada kriteria sebagai berikut :

PENATAAN LAHAN

1. Pengisian kembalian lahan bekas tambang

a. Luas areal yang diisi kembali (ha), > 90 % dari areal yang seharusnya

diisi.

b. Jumlah bahan/material pengisi (m3), > 90 % dari jumlah tanah

penututup yang digali.

2. Pengaturan permukaan lahan (regrading)

a. Luas areal yang diatur (ha), > 90 % dari luas areal yang ditimbun

kembali.

b. Kemiringan lereng (%), < 8 % untuk tanaman pangan.

c. Tinggi, lebar dan panjang ters (m), disesuaikan dengan bentuk teras dan

kemiringan lereng.

3. Penaburan/penempatan tanah pucuk

a. Luas daerah yang diatur (ha), > 90 % dari areal yang harus diisi.

b. Jumlah tanah pucuk yang yang ditabur, > 90 % dari tanah pucuk yang

digali dan disimpan.

Page 29: Tugas Vi Review Reklamasi Tambang

c. Ketebalan tanah pucuk (cm), > 80 % dari ketebalan tanah pucuk semula

pada areal tersebut.

d. Perbaikan kualitas tanah melalui pengapuran (ton/ha), sehingga pH

tanah menjadi 5,0 – 7,0 dan perbaikan struktur tanah, tanah menjadi

gembur.

PENGENDALIAN EROSI DAN PENGELOLAAN TAMBANG

1. Pembuatan bangunan pengendali erosi, jenis, jumlah, dan kualitasnya

sesuai dengan rencana.

2. Pengelolaan limbah, pelaksanaannya sesuai dengan rencana

REVEGETASI

1. Pengadaan bibit/benih

a. Jenis, asli setempat atau sesuai dengan kondisi atau fungsi lahan

b. Jumlah (batang/kg), sesuai dengan rencana.

2. Penanaman

a. Jumlah areal yang ditanami (ha), > 90 % dari areal yang telah diatur

kembali.

b. Jumlah yang ditanam (batang), sesuai dengan rencana.

c. Jarak tanam (m x m), sesuai dengan rencana.

3. Pemeliharaan

a. Jumlah dan jenis tanaman sulaman, sesuai dengan jumlah yang mati.

b. Pemupukan, jenis dan dosis pupuk serta frekuensi pemupukan sesuai

dengan rencana.

c. > 90 % tanaman bebas dari gulma, hama dan penyakit.

4. Tingkat pertumbuhan tanaman

a. Tanaman tumbuh subur (sehat dan tidak merana)

b. Jumlah tanaman yang ditanam prosentase jadinya > 80 %.