penuntun praktikum kimia farmasi kualitatif -...

of 102 /102
PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI KUALITATIF D3 Analis Farmasi Dan Makanan DISUSUN OLEH: YADE METRI PERMATA, S.Farm., M.Si., Apt. Dra. TUTY ROIDA PARDEDE, M.Si., Apt. Prof.Dr. MASFRIA, MS., Apt. Prof.Dr. MUCHLISYAM, M.Si., Apt. LABORATORIUM KIMIA FARMASI KUALITATIF FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019

Author: others

Post on 19-Sep-2019

188 views

Category:

Documents


40 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PENUNTUN PRAKTIKUM

    KIMIA FARMASI KUALITATIF D3 Analis Farmasi Dan Makanan

    DISUSUN OLEH:

    YADE METRI PERMATA, S.Farm., M.Si., Apt.

    Dra. TUTY ROIDA PARDEDE, M.Si., Apt.

    Prof.Dr. MASFRIA, MS., Apt.

    Prof.Dr. MUCHLISYAM, M.Si., Apt.

    LABORATORIUM KIMIA FARMASI KUALITATIF

    FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

    MEDAN

    2019

  • 2

    KATA PENGANTAR

    Buku ini disusun untuk melengkapi pengetahuan tentang identifikasi berbagai bahan

    obat dengan cepat secara reaksi kimia sesuai dengan pengalaman kami di laboratorium Kimia

    Farmasi Kualitatif. Buku ini dapat dijadikan pegangan bagi mahasiswa sebagai bahan ajar

    dalam kimia analisis kualitatif. Hal ini dilakukan atas kesadaran bahwa identifikasi kimia

    obat-obatan secara konvensional masih dibutuhkan, walaupun dengan kemajuan tingkat

    teknologi identifikasi kualitatif yang modern, tetapi terbatas terutama untuk mengidentifikasi

    bahan-bahan yang tidak diketahui. Karena jika menggunakan teknologi identifikasi dengan

    alat yang modern dan canggih membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Hal ini

    kami alami ketika menerima beberapa permintaan untuk mengidentifikasi beberapa bahan

    yang tidak diketahui, tetapi identifikasi dengan menggunakan beberapa reaksi kimia dan

    dalam waktu yang singkat telah dapat diketahui kandungan bahan tersebut.

    Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna dan akan berkembang

    dengan perkembangan obat baru. Kami mengharapkan saran dan kritik pembaca dalam

    kesempurnaan bahan ajar ini. Semoga buku ajar ini bermanfaat bagi kita semua. Terima

    kasih.

    Medan, September 2019

    Penulis

    dilarang mengcopy atau memperbanyak isi

    buku ini tanpa izin tertulis dari penyusun.

  • 3

    DAFTAR ISI

    ANALISIS GUGUS FUNGSI

    ANALISIS INFRA MERAH

    ANALISIS SENYAWA GOLONGAN ALKOHOL

    ANALISIS SENYAWA GOLONGAN FENOL

    ANALISIS SENYAWA GOLONGAN ASAM KARBOKSILAT

    ANALISIS ALKALOIDA DAN SENYAWA NITROGEN

    ANALISIS SULFONAMIDA

    ANALISIS BARBITURAT

    ANALISIS ANTIHISTAMIN

    ANALISIS VITAMIN

    ANALISIS ANTIBIOTIKA

    DAFTAR PUSTAKA

  • 4

    ANALISIS GUGUS FUNGSI

    Gugus fungsionil adalah gugus yang terdapat dalam suatu senyawa organic yang

    berperan pada analisa senyawa tersebut.

    Yang termasuk gugus fungsionil antara lain:

    Gugus Fungsi Rumus

    1. Ikatan tidak jenuh

    C C

    (Alkena)

    2. Gugus Alkohol

    R CH2

    OH

    (R: rantai C alifatis, siklis, aromatis)

    3. Hydrokarbon Aromatis

    4. Inti Piridin

    N

    5. Gugus Fenol Ar OH (Ar : rantai C aromatis)

    6. Gugus Enol

    CH2C

    O

    C

    O

    O

    CH2C

    O

    C

    O

    7. Gugus Karbonil

    R CH

    O

    R C

    O

    R (Aldehid) (Keton)

    8. Gugus metoksi - O – CH3

    9. Etoksi - O – C2H5

    10. Gugus Asam Karboksilat

    R C

    O

    OH (R: rantai C alifatis, aromatis, siklis)

    11. Gugus amina R – NH2 (R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)

    12. Gugus Nitro R – NO2 (R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)

    13. Gugus Sulfon R – SO2 (R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)

    14. Gugus Sulfonat R–SO2–OH (R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)

  • 5

    15. Gugus Guanidin

    HN C NH2

    NH2

    16. Gugus Asam α Amino: R

    HC

    NH2

    C

    O

    H

    1.1 Ikatan Tidak Jenuh

    Reaksi pengenal:

    1. Reaksi addisi terhadap Aqua Brom

    0,1 g sampel padat atau 0,2 ml sampel cair ditambahkan larutan Brom 5% dalam CHCl3

    setetes demi setetes sambil dikocok. Warna Brom hilang dan larutan tidak terbentuk HBr.

    - C = C – + Br2 → - HCBr - BrCH –

    Adanya gugus yang bermuatan negatif yang terikat pada atom C tidak jenuh dapat memperlambat atau

    menghalangi terjadinya reaksi, misalnya pada reaksi:

    C6H5CH=CHCOOH + Br2 → C6H5CHBr - BrHCCOOH (lambat)

    Pada beberapa senyawa (phenol, amin primer aromatis) penghilangan warna Brom dapat terjadi karena

    reaksi substitusi; Senyawa-senyawa reduktor juga dapat menghilangkan warna Brom (terbentuk HBr).

    2. Reaksi terhadap larutan KmnO4 (Reaksi Baeyer).

    Pada larutan sampel tambahkan larutan KmnO4 2% setetes demi setetes sambil dikocok,

    warna ungu akan hilang. Tambahkan KmnO4 sampai sedikit berlebih (berwarna rosa). Jika

    ada ikatan tidak jenuh, mula-mula terbentuk glikol, jika dipanaskan terjadi oksidasi lebih

    lanjut dan terbentuk asam karboksilat.

    2 KmnO4 + H2O → 2 KOH + 2 MnO2 + 3 (O)

    C C + (O) + H2O →

    C C

    OH OH →

    C O

    OH +

    O C

    OH

    Reaksi Baeyer ini tidak spesifik untuk ikatan tidak jenuh, karena senyawa-senyawa yang

    mudah teroksidasi seperti: Alkohol, Fenol, Aldehid, dan lain-lain juga memberi hasil

    positif.

    1.2 Gugus Alkohol

    Reaksi umum:

    1. Reaksi warna Azo

    Pereaksi:

    Diazo A: larutan asam sulfanilat 0,5% dalam (30 ml HCl 4N dan 70 ml air).

    Diazo B: larutan NaNO2 0,5% dalam air.

  • 6

    Cara melakukan:

    Masukkan 2 tetes etanol atau larutan sampel dalam air ke dalam tabung reaksi,

    tambahkan Diazo A dan Diazo B (4:1 atau 1:1) dan 1-2 tetes NaOH 2N sampai bereaksi

    basa, kocok, panaskan di penangas air maka akan terbentuk warna kuning kemerahan

    sampai coklat kemerahan. Warna tidak dapat tertarik dengan amil alkohol.

    2. Reaksi esterifikasi. (untuk alkohol monovalen)

    Pereaksi:

    Asam salisilat, asam benzoat atau asam asetat.

    Asam sulfat pekat sebagai katalisator.

    Cara melakukan:

    3 tetes etanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi, tambahkan sedikit kristal asam salisilat

    dan 1-2 tetes H2SO4 pekat, tutup mulut tabung dengan kapas basah, panaskan dalam

    penangas air selama 5 menit. Angkat dan encerkan dengan 1 ml air. Cium baunya maka

    akan tercium bau ester (wangi).

    R – CH2 – OH + R’ – COOH → R’ – COO- CH2 – R + H2O

    Beberapa ester dengan bau spesifik:

    Metanol dengan Asam Salisilat → Metil salisilat (bau gandapura)

    Metanol dengan Asam Benzoat → Metil Benzoat (bau pisang ambon).

    Etanol dengan Asam Salisilat → Etil Salisilat (bau gandapura)

    Etanol dengan Asam Benzoat → Etil Benzoat (bau pisang ambon).

    Etanol dengan Asam Asetat → Etil Asetat (bau pembersih kutex).

    Reaksi untuk Alkohol polivalen.

    1. Test dengan Borat/ dapat menaikkan keasaman dari larutan Borat. (untuk alkohol

    polivalen)

    Pereaksi:

    Larutan borat 1% dan larutan fenolftalein 0,2% dalam etanol 70%.

    Cara melakukan:

    Ke dalam tabung reaksi masukkan 1-2 tetes larutan borat dan 1-2 tetes larutan fenolftalein

    dan tambahkan beberapa tetes NaOH sampai larutan menjadi berwarna merah rosa.

    Kedalamnya tambahkan 2 tetes gliserin/alkohol polivalen lainnya maka warna merah

    akan berkurang atau hilang.

  • 7

    Disini terjadi reaksi antara Alkohol polivalen dengan Borat membentuk asam yang lebih

    kuat. Reaksi hanya terjadi pada alkohol polivalen yang mempunyai ikatan cis diol.

    2. Reaksi cuprifil (untuk alkohol polivalen)

    Pereaksi :

    larutan CuSO4 2%, larutan NaOH 2 N

    Cara melakukan:

    Masukkan sedikit gliserin (atau larutan sampel dalam air) ke dalam tabung reaksi,

    tambahkan 1-2 tetes NaOH dan 1 tetes larutan CuSO4, akan terbentuk larutan berwarna

    biru tua jernih.

    1.3 Gugus Phenol

    Reaksi Umum:

    1. Reaksi warna Azo

    Pereaksi:

    Diazo A: larutan asam sulfanilat 0,5% dalam HCl 2%.

    Diazo B: larutan NaNO2 0,5% dalam air.

    Cara melakukan:

    Campur 1 tetes larutan A dan 1 tetes larutan B dalam tabung, lalu tambahkan 1 tetes

    NaOH 2N, akan terbentuk warna kuning kemerahan sampai coklat merah (tanpa

    pemanasan). Jika dikocok dengan Amil alkohol, warna merah tertarik oleh amil alkohol.

    Hasil reaksi beberapa senyawa antara lain:

    Phenol → kuning kemerahan

    Resorcinol → coklat kemerahan

    α Naphtol → coklat kemerahan

    β Naphtol → kuning

    2. Reaksi dengan FeCl3.

    Pereaksi: Larutan FeCl3 1 %.

    Cara melakukan:

    Sedikit sampel padat atau 1 tetes larutan sampel dalam air atau alkohol (pada plat tetes),

    tambahkan 1 tetes pereaksi, akan terbentuk warna-warna( merah ungu, ungu, biru atau

    hijau dll).

    Beberapa hasil yang spesifik antara lain:

    Turunan Salisilat → ungu

    Vitamin B6 → merah

  • 8

    3. Reaksi Le Rosen (= reaksi Marquis)

    Pereaksi dan cara: sama dengan Hidrokarbon Aromatis.

    Catatan: Bandingkan pereaksi ini dengan pereaksi Formaldehyd-Asam sulfat (Clark – 1988).

    Marquis : 1bagian Formaldehyd dengan 9 bagian H2SO4 pekat.

    Formaldehyd – H2SO4 pekat : 6 bagian Formaldehyd dengan 4 bagian H2SO4 pekat.

    Beberapa hasil reaksi antara lain:

    Benzen → merah Metil salisilat → merah

    Adrenalin → merah → ungu Asam gallat → hijau kuning

    Phenol → merah ungu Amphetamin → coklat

    Asam salisilat → merah Phloroglucin→ coklat merah

    Oxytetracyclin → jingga β Naphtol → coklat

    Pyrogallol → merah Phetidin → jingga

    Hydroquinon → hitam Resorcinol → merah

    Tetracyclin → jingga

    4. Reaksi dengan Aqua Brom

    Atom H pada inti benzen dari senyawa Phenol dapat disubstitusi dengan Halogen. Jumlah

    dan posisi substituen tergantung pada senyawa Phenol yang diperiksa.

    Pereaksi:

    Larutan Brom jenuh dalam air.

    Cara melakukan:

    Larutan phenol dalam air (pada plat tetes) tambahkan pereaksi setetes demi setetes

    sampai warna kuning muda, akan terbentuk endapan putih atau kuning muda.

    Catatan: untuk Phenol Polivalen (mempunyai daya reduksi), warna Brom hilang karena

    direduksi, diikuti dengan terbentuknya warna yang berbeda-beda tergantung dari

    phenolnya.

    Reaksi terhadap Polihidroksi Phenol (phenol polivalen)

    1. Dengan Aqua Brom

    akan terbentuk warna atau endapan yang berwarna, tergantung pada senyawa Phenol

    yang diperiksa.

    2. Mempunyai daya reduksi

    yang dapat ditest dengan pereaksi Fehling atau dengan Ag amoniakal.

    a. Reduksi terhadap Fehling.

    Pereaksi:

  • 9

    Fehling A; larutkan 34,64 g CuSO4 dalam air yang mengandung beberapa tetes

    H2SO4 encer, tambahkan air sampai 500 ml.

    Fehling B: larutkan 60 g NaOH dan 173 g garam Rochell (K Na Tartrat) dalam air,

    tambahkan air sampai 500 ml.

    Cara melakukan: beberapa tetes larutan Phenol dalam tabung reaksi ditambahkan 1

    bagian Fehling A dan 1 bagian Fehling B, bila perlu panaskan, akan terbentuk

    endapan kuning sampai merah CuO.

    b. Reduksi terhadap Ag Amoniakal.

    Pereaksi: 3 ml larutan AgNO3 0,1 N ditambahkan larutan NH4OH yang sangat encer,

    setetes demi setetes sampai endapan yang pertama terbentuk, larut kembali.

    Cara melakukan: Beberapa tetes larutan Phenol dalam tabung, tambahkan beberapa

    tetes pereaksi, akan terbentuk cermin perak pada dinding tabung.

    1.4 Gugus Karbonil

    Reaksi umum untuk Aldehyda

    1. Reaksi Schiff.

    Pereaksi:

    0,2 g p. Rosanilin HCl (Fuchsin) dilarutkan dalam 2 ml HCl pekat, encerkan dengan 200

    ml air dan kedalamnya dilarutkan 2 g NaHSO3 (pereaksi tidak berwarna; jika disimpan

    lama dan telah berwarna rosa, pereaksi tidak dapat dipakai).

    Cara melakukan:

    Dalam tabung masukkan 2 ml air dan 1 tetes Aldehyda, lalu tambahkan 1-2 tetes

    pereaksi, akan terbentuk warna merah sampai merah ungu.

    Catatan: Beberapa aldehyd aromatis (misalnya; Vanilin, p-dimetil amino benzaldehyd)

    memberi hasil negatif.

    2. Reaksi reduksi

    a. Reduksi terhadap pereaksi Tollens

    Aldehyd akan mereduksi pereaksi Tollens atau Ag Amoniakal dan membentuk

    cermin perak pada dinding tabung reaksi.

    Pereaksi Tollen’s:

    Larutan A: 3 g AgNO3 dilarutkan dalam 30 ml air

    Larutan B: 3 g NaOH dilarutkan dalam 30 ml air.

    Jika akan dipakai, campur sama banyak larutan A dan B dalam tabung, lalu

    tambahkan NH4OH encer setetes demi setetes sampai endapan Ag2O larut kembali

    (hati-hati jangan dipanaskan).

  • 10

    Cara melakukan: dalam tabung masukkan beberapa tetes pereaksi dan larutan

    sampel, bila perlu panaskan dalam penangas air, terbentuk cermin perak pada

    dinding tabung.

    Reaksi:

    RCHO + 2 [Ag(NH3)2]OH → RCOONH4 + 2Ag ↓ + NH3 ↑ + H2O

    b. Reduksi terhadap Fehling

    Sama pada phenol polivalen

    3. Reaksi dengan Phloroglucin dan HCl.

    Ploroglucin dapat berkondensasi dengan Aldehyd aromatis menghasilkan senyawa

    berwarna rosa jingga.

    Cara melakukan:

    Pada plat tetes dimasukkan 2 tetes sampel ditambahkan 1 tetes larutan jenuh Phloroglucin

    dalam HCl pekat, terbentuk warna rosa jingga.

    Reaksi khusus untuk Acetaldehyd

    Jika Acetaldehyd ditambahkan kepada larutan Na nitroprussid yang mengandung Piperazin,

    Piperidin atau Morpholin (senyawa Amin alifatis sekunder), akan terbentuk warna biru.

    Pereaksi:

    Larutan Natrium Nitroprussid 5% dalam air

    Larutan Morpholin 20% dalam air

    Jika akan dipakai kedua larutan dicampur sama banyak.

    Cara melakukan:

    1 tetes sampel pada plat tetes atau kertas saring ditambahkan 1 tetes pereaksi, terbentuk warna

    biru.

    Reaksi khusus untuk Formaldehyd

    Jika Formaldehyd dipanaskan dengan Asam Chromatropat dalam H2SO4 pekat, akan

    terbentuk warna rosa ungu.

    Cara melakukan:

    1 tetes sampel dicampur dengan 2 ml H2SO4 12 N dalam tabung, tambahkan sedikit kristal

    asam / garam natrium chromatropat, panaskan 10 menit pada penangas air (60oC) terbentuk

    warna rosa ungu.

    Reaksi terhadap gugus Keton

    1. Reaksi dengan Na. Nitroprussid (Reaksi Legal Rothera).

  • 11

    Jika Aceton direaksikan dengan Na Nitroprussid, akan terbentuk warna kuning merah:

    jika diasamkan dengan asam asetat, warna berubah menjadi rosa ungu.

    Pereaksi:

    Larutan Na Nitroprussid 5%

    Cara melakukan:

    1 tetes larutan sampel (dalam air atau etanol) dicampur dengan 1 tetes pereaksi dan 1

    tetes NaOH 30%, akan terbentuk warna kuning sampai merah. Jika diasamkan dengan 1-

    2 tetes Asam Asetat glasial, warna berubah menjadi merah sampai biru.

    Reaksi:

    [Fe(CN)5NO]-2

    + CH3COOH+2OH- → [Fe(CN)5ON=CH3COOH]

    -4 + 2H2O

    Reaksi warna ini terjadi karena gugus Nitro (-NO) dari Nitro prussida bereaksi dengan

    Aceton membentuk iso nitroso aseton (kompleks anion), sedangkan Fe+3

    tereduksi

    menjadi Fe+2

    .

    Beberapa hasil reaksi:

    Aceton → rosa

    Acetophenol → biru

    Metil etil keton → rosa

    2. Reaksi Iodoform

    Pereaksi:

    - Aqua Iod (larutkan 2 g I2 kedalam larutan 20 g KI dalam air, lalu tambahkan air

    sampai 100 ml)

    - larutan NaOH 5 %.

    Cara melakukan:

    Encerkan sampel dengan 1 ml air, tambahkan 1 ml NaOH dan Aqua Iod setetes demi

    setetes sambil dikocok sampai berwarna kuning. Biarkan 2 – 3 menit, bila perlu

    panaskan diatas tangas air (60°). Hilangkan kelebihan I2 dengan penambahan NaOH

    encer sambil dikocok. Encerkan dengan air sama banyak. Biarkan 10 manit.

    Akan terbentuk endapan 11ristal kuning. Jika dilihat dimikroskop berbentuk seperti

    bunga sakura. Hasil positif untuk Aceton, Etanol, Iso Propanol dan Asam Laktat.

    Catatan: Reaksi ini adalah reaksi pengenal untuk Aceton (metil keton; CH3COR). Reaksi

    ini juga positif untuk senyawa-senyawa yang dapat teroksidasi menjadi Metil keton pada

    kondisi reaksi (seperti: CH3-CH2OH, CH3CRHOH) dan senyawa-senyawa yang

    mempunyai gugus CH3-CH=O yang terikat pada – H, - R, -Ar atau ester (-CH2)nCOOR.

    Reaksi:

    RCH(OH)- CH3 + 2NaOH + I2 → R-COCH3 + 2NaI + 2H2O

  • 12

    RCOCH3 + 3I2 + 3NaOH → RCO- CI3 + 3NaI + 3 H2O

    RCOCI3 + NaOH → RCOONa + CHI3 Iodoform (kuning)

    1.5 Gugus Karboksilat

    Reaksi Identifikasi:

    1. Reaksi Esterifikasi.

    Campur sedikit sampel dengan 2 bagian Etanol dan beberapa tetes H2SO4 pekat dalam

    tabung. Tutup tabung dengan kapas, panaskan dalam penangas air selama 2 menit, lalu

    encerkan dengan air. Akan tercium bau ester yang wangi.

    Hasil positif untuk asam karboksilat alifatis dan aromatis (mis: asam asetat, asam

    benzoat, asam salisilat).

    2. Dengan FeCl3, memberikan warna yang berbeda-beda untuk beberapa asam.

    1.6 Gugus Amin

    Gugus amin dibedakan atas:

    1. Amin alifatis primer : R- NH2

    Sekunder : R- NHR’

    Tersier : R- NR’R”

    2. Amin aromatis primer: Ar- NH2

    Sekunder : Ar- NHR

    Tersier : Ar- NRR’

    Reaksi umum:

    1. Jika dipanaskan dengan NaOH akan melepaskan gas NH3↑ yang dapat ditest dengan

    lakmus merah basah menjadi biru.

    2. Reaksi dengan p-DAB HCl

    Cara melakukan:

    2 tetes sampel dimasukkan dalam plat tetes lalu ditambahkan 1 tetes pereaksi akan

    terbentuk warna atau endapan kuning (pada amin alifatis); warna kuning jingga sampai

    merah jingga (pada amin aromatis).

    3. Reaksi dengan batang korek api.

    Cara melakukan:

    Batang korek api (mengandung lignin) yang sudah dibasahi dengan HCl encer,

    dicelupkan kedalam larutan sampel (amin) dalam HCl maka batang korek api akan

    berwarna jingga.

  • 13

    4. Reaksi Indofenol

    Cara melakukan:

    Panaskan sedikit sampel dengan 2 ml air (dalam tabung) sampai mendidih, tambahkan 2

    tetes NaOH (NH4OH) dan beberapa tetes larutan NaOCl, kemudian tambahkan 1 tetes

    Phenol cair, akan terbentuk warna-warna yang berbeda. Jika dikocok dengan eter, lapisan

    eter umunya akan berwarna merah.

    5. Reaksi dengan CuSO4

    Cara melakukan:

    Sedikit sampel (dalam tabung) ditambahkan 2 ml air dan 2 tetes NaOH, panaskan pada

    api kecil sampai mendidih. Dinginkan lalu tambahkan 1-2 tetes larutan CuSO4 dan

    beberapa tetes HCl encer sampai netral atau asam lemah, akan terbentuk endapan yang

    berwarna, tergantung pada senyawa amin yang diperiksa.

    1.7 Gugus Nitro

    Gugus Nitro dibedakan atas: Nitro alifatis R- NO2

    Nitro aromatis Ar-NO2

    Reaksi umum:

    1. Reaksi dengan basa NaOH atau KOH

    Senyawa nitro alifatis akan menghasilkan warna kuning jika direaksikan dengan NaOH,

    bila diasamkan dengan asam asetat pekat, senyawa nitro akan terbentuk kembali.

    Senyawa nitro aromatis yang mengandung 2 atau lebih gugus nitro, jika dilarutkan dalam

    alkohol atau aseton dan direaksikan dengan NaOH 10% akan menghasilkan warna merah

    atau rosa (purple).

    2. Reduksi dalam suasana asam menjadi amin primer.

    Senyawa nitro direduksi dalam suasana asam menjadi senyawa amin primer. Sebagai

    reduktor dapat dipakai Zn dan HCl atau Sn dan HCl.

    Amin yang terbentuk dapat ditest dengan reaksi Azo dan pDAB HCl.

    Cara melakukan: sampel dilarutkan dalam etanol, tambahkan 3 ml HCl encer, masukkan

    serbuk Zn dan sedikit air, panaskan dipenangas air selama 10 menit.

    Sampel dibagi 2:

    a. pada filtrat ditambahkan 2 tetes larutan NaNO2 dan larutan ß naftol dalam NaOH

    akan terbentuk warna atau endapan jingga.

    b. Pada filtra ditambahkan 2 tetes p DAB HCl akan terbentuk warna kuning.

  • 14

    1.8 Gugus Sulfon dan Sulfonat

    Senyawa Sulfon dan Sulfonat, jika dioksidasi dengan oksidator kuat (H2O2 30%) akan

    teroksidasi menjadi sulfat dan dapat ditest dengan larutan BaCl2 sehingga terbentuk endapan

    putih BaSO4 .

    1.9 Gugus Guanidin

    Reaksi identifikasi:

    1. Sampel dimasukkan dalam tabung, keringkan pada 180o (pada penangas gliserin) selama

    10 menit, mulut tabung ditutup dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan pereaksi

    Nessler maka akan terbentuk warna kuning sampai coklat.

    2. Reaksi Sakaguchi

    Cara melakukan:

    Kedalam larutan sample ditambahkan beberapa tetes NaOH 10% dan beberapa tetes

    larutan αnaftol dalam etanol, dinginkan (15o)

    Tambahkan 3 tetes larutan NaOCl akan terbentuk warna merah ungu.

  • 15

    ANALISIS INFRAMERAH

    Spektoskopi inframerah merupakan salah satu metode yang umum digunakan, dan

    merupakan salah satu metode penting dalam teknik analisis suatu senyawa yang ada saat ini.

    Salah satu keuntungan besar dari spektroskopi inframerah adalah hamper semua sampel di

    hamper setiap negara dapat dipelajari, baik itu merupaka cairan, larutan, pasta, serbuk, film,

    serat, gas dapat diperiksa.

    Spektrofotometer inframerah telah dipakai secara komersial sejam tahun 1940-an.

    Pada saat itu, instrument mengandalkan prisma untuk bertindak sebagai elemen dispersive.

    Kemajuan paling signifikan dalam spektroskopi inframerah terjadi setelah pengenalan Fourier

    Transform Spektrometer.

    Instrumen ini menggunakan interferometer dan memanfaatkan model matematis

    fourier transform. Fourier Transform Inframerah (FTIR) spektroskopi memaksimalkan

    spectrum inframerah dan meminimalkan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh data.

    Selain itu, sejalan dengan perkembangan zaman, peningkatan FTIR sudah didukung dengan

    adanya software yang mudah untuk dijalankan.

    Spektroskopi inframerah adalah suatu teknik yang didasarkan pada getaran dari atom-

    atom molekul. Spektrum inframerah umumnya diperoleh dengan melewatkan radiasi

    inframerah melalui sampel dan menentukan sebagian kecil dari energi radiasi tertentu yang

    diserap, yaitu energi dimana setiap puncak dalam spektrum absorbsi muncul sesuai dengan

    frekuensi getaran bagian tertentu dari suatu molekul sampel.

    2.1 Absorpsi Inframerah

    Suatu molekul dapat menunjukkan absorbsi inframerah harus memiliki momen dipole

    listrik yang berubah selama getaran, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut:

    merupakan suatu molekul diatomik heteronukleus. Momen dipol akan berubah saat suatu

    molekul merenggang atau mengkerut. Berbeda dengan molekul homonucleus, karena

  • 16

    keelektronegatifannya sama, maka momen dipol-nya tidak mengalami perubahan atau tetap

    nol tidak peduli seberapa panjang ikatan.

    2.2 Model Vibrasi

    Interaksi radiasi inframerah dengan sampel dapat dipahami berdasarkan perubahan

    momen dipol yang dipengaruhi oleh getaranatau vibrasi dan rotasi. Salah satu contoh yang

    sederhana adalah molekul diatomik, molekul ini memiliki tiga derajat kebebasan translasi dan

    dua derajat kebebasan rotasi. Atom atom dalam molekul juga dapat bergerak relatif terhadap

    yang lain.

    Model vibrasi yang terjadi adalah sebagai berikut:

    Stretching Bending Stretching

    1. Streching (rengangan)

    Dalam vibrasi ini, atom bergerak terus sepanjang ikatan yang menghubungkannya

    sehingga akan terjadi perubahan jarak antara keduanya, walaupun sudut ikatan tidak

    berubah. Vibrasi regangan ada dua macam, yaitu:

    - Regangan simetris, yaitu unit struktur bergerak bersamaan dan searah dalam satu

    bidang datar.

    - Regangan asimetris, yaitu unit struktur bergerak tidak bersamaan.

    Regangan simetris Regangan asimetris

    2. Bending (lenturan)

    Jika pada sistem tiga atom merupakan bagian dari sebuah molekul yang lebih besar, maka

    dapat menimbulkan vibrasi ini.

    - Scissoring

    Unit struktur bergerak mengayun simetris dan masih dalam satu bidang datar.

  • 17

    - Rocking

    Unit struktur bergerak mengayun asimetris tetapi masih dalam satu bidang datar.

    - Wagging

    Unit struktur bergerak mengibas keluar dari bidang datar.

    - Twisting

    Unit struktur berputar mengelilingi ikatan yang menghubungkan dengan molekul

    induk dan berada di dalam satu bidang datar.

    2.3 Kegunaan dan Aplikasi Spektoskopi Inframerah

    Spektroskopi inframerah secara umum digunakan untuk mengidentifikasi semua jenis

    senyawa organik dan sebagian senyawa anorganik, untuk menentukan gugus fungsi yang

    terdapat pada senyawa organik, dan untuk menentukan komposisi molecular pada suatu

    permukaan. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi fraksi dari kromatografi,

    untuk menentukan kuantitas dari suatu campuran senyawa, untuk menentukan orientasi

    molekul (palomer dan larutan) dan untuk mengetahui konformasi molekul (isomer stuktur)

    dan stereokimia (isomer geometri) suatu senyawa. Keunggulan metode ini adalah tidak

    merusak senyawa yang diperiksa.

    Spektroskopi inframerah dapat diaplikasikan didalam penelitian untuk:

    - Identifikasi suatu senyawa dengan membandingkan spektrum yang diperoleh dari

    suatu senyawa yang tidak diketahui dengan spektrum senyawa yang telah

    diketahui (standar).

    - Identifikasi gugus fungsi dari suatu senyawa yang tidak diketahui.

    - Identifikasi komponen reaksi, dalam mempelajari laju kinetik reaksi.

  • 18

    1. Lead packing

    2. Cell plate (with holes)

    3. Lead spacer

    4. Cell plate (without holes)

    5. Lead cushion

    6 . Rubber cushion

    7. Plug

    8. Sample inlet

    9. Fitting screw

    10. Cell plate holder

    11. Cell plate base

    - Identifikasi orientasi molekul dalam sebuah polimer.

    - Deteksi kemurnian suatu senyawa.

    - Identifikasi polimer, plastik, dan resin.

    - Analisis formulasi seperti insektisida dan kopolimer

    2.4 Analisis Sampel Cairan

    1. Disiapkan seperangkat sealed liquid cell (lihat Gambar di bawah ini).

    Keterangan:

    2. Diletakkan cell plate holder dengan posisi terbalik.

    3. Dipasang lead packing di atasnya lalu diletakkan cell plate yang berlubang.

    4. Diletakkan lead spacer, cell plate yang tidak berlubang dan lead cushion.

    5. Diletakkan rubber cushion di atas lead cushion.

    6. Ditempelkan cell plate holder yang telah dipasang seperti di atas dengan cell plate

    base.

    7. Dikencangkan dengan empat screw yang tersedia secara perlahan-lahan dan

    diagonal.

    8. Diambil sampel cairan dengan bantuan injektor yang telah disediakan lalu

    disuntikkan ke lubang sample inlet.

    Gambar Sealed Liquid Cell

  • 19

    9. Diletakkan ke dalam tempat sampel kemudian dianalisis spektrumnya (sebelumnya

    lakukan pembuatan background terlebih dahulu dengan tempat sampel dalam

    keadaan kosong).

    2.5 Analisis Sampel Padatan

    Metode Pasta

    1. Dihaluskan sampel padatan kira-kira 10 mg dalam lumpang dan dicampurkan

    bersama cairan parafin/nujol.

    2. Diletakkan spacer di atas cell plate kemudian diletakkan pasta ke bagian tengah

    dengan menggunakan spatula.

    3. Diletakkan cell plate lain lalu ditutup dengan metal plate di atasnya. Diusahakan agar

    tidak terdapat gelembung.

    4. Dikencangkan plate dengan empat screw yang tersedia secara perlahan dan diagonal

    (tapi jangan terlalu kencang).

    5. Diletakkan ke dalam tempat sampel kemudian dianalisis spektrumnya (sebelumnya

    lakukan pembuatan background terlebih dahulu dengan tempat sampel dalam

    keadaan kosong).

    Metode Film

    1. Dilarutkan sampel padat dengan pelarut yang mudah menguap, kemudian letakkan

    pada cell plate.

    2. Setelah pelarut menguap, diukur sisa film yang terdapat di permukaan cell plate

    (ikuti langkah dari no. 2 – 5 seperti di atas).

    Menggunakan DRS-8000 (Diffuse Reflectance Measuring)

    1. Dicampur sampel dengan serbuk KBr (5 – 10% sample dalam serbuk KBr).

    2. Dipasang DRS-8000 pada tempat sampel.

    3. Dimasukkan campuran sampel KBR ke sample pan.

    4. Diletakkan ke tempat dudukan sample pan.

    5. lakukan pembuatan background terlebih dahulu dengan hanya menggunakan serbuk

    KBr.

    6. Alat IR di running,untuk mendapatkan spektrum sampel dan spectra yang muncul

    /dihasilkan dicetak

    7. Spektra yang dihasilkan di analisa untuk mengetahui gugus-gugus yang terdapat

    pada sampel

  • 20

    2.6 Penafsiran Spektrum Inframerah

    Delapan daerah terpenting dan telah ditentukan dengan baik yang digunakan pada

    pemeriksaan pendahuluan spektrum inframerah tertera pada tabel berikut ini.

    Daerah Spektrum

    Ikatan yang Menyebabkan

    Absorpsi Panjang

    Gelombang

    (mikrometer)

    Bilangan

    Gelombang

    ( v cm-1)

    2,7 – 3,3 3750 – 3000 Regang O–H, N–H

    3,0 – 3,4 3300 – 2900 –C≡C–H, =C=CH–, Ar–H

    (regang C–H)

    3,3 – 3,7 3000 – 2700 CH3–, –CH2–, ≡C–H, O=C–H

    (regang C–H)

    4,2 – 4,9 2400 – 2100 Regang C≡C, C≡N

    5,3 – 6,1 1900 – 1650

    Regang C=O

    (asam, aldehida, keton, amida, ester,

    anhidrida)

    5,9 – 6,2 1675 – 1500 Regang =C=C= , =C=N–

    (alifatik dan aromatik)

    6,8 – 7,7 1475 – 1300 Lentur ≡C–H

    10,0 – 15,4 1000 – 650 Lentur =C=CH–, Ar–H

    (luar bidang)

    Berbagai jenis ikatan C–H menunjukkan absorpsi di bagian tertentu dari daerah regang C–H

    (3300 – 2700 cm-1

    ). Posisi kira-kira pita C–H untuk berbagai jenis gugus adalah sebagai

    berikut:

    Jenis H v cm-1

    Intensitas Pita

    Ar–H 3030 Sedang

    C≡C–H 3300 Tinggi

    C=C–H 3040 – 3010 Sedang

    –CH3 2960 & 2870 Tinggi

    –CH2– 2930 & 2850 Tinggi

    ≡CH 2890 Rendah

    –CH=O 2720 Rendah

  • 21

    Berikut ini ikhtisar daerah regang simetrik ikatan rangkap tiga

    Jenis Ikatan Rangkap Tiga v cm-1

    Intensitas Pita

    H–C≡C–R 2140 – 2100 Kuat

    R–C≡C–R’ 2260 – 2190 Variabel

    R–C≡C–R Tidak ada absorpsi

    R–C≡N 2260 – 2240 Kuat

    Pita penting yang terdapat di daerah karbonil

    Jenis Karbonil v cm-1

    Intensitas Pita

    R–CO–H (jenuh) 1740 – 1720 Kuat

    COOH (jenuh) 1705 – 1725 Kuat

    R–CO–R (jenuh) 1705 – 1725 Kuat

    R–CO–OR

    (lakton beranggota 6 & 7)

    1750 – 1730 Kuat

    Lakton beranggota 5 1780 – 1760 Kuat

    Ester (tak lingkar) 1740 – 1710 Kuat

    Halida Asam 1815 – 1720 Kuat

    Anhidrida

    Dua pita terpisah dengan kira-kira 60

    cm-1

    pada 1850 – 1800 cm-1

    dan

    1780 – 1740 cm-1

    Amida 1700 – 1640 Kuat

    Pita daerah regang ikatan rangkap simetrik pada 1680 – 1600 cm-1

    disebabkan oleh gugus

    sebagai berikut

    Jenis Ikatan Rangkap v cm-1

    Intensitas Pita

    =C=C= 1680 – 1620 Variabel

    =C=N– 1690 – 1640 Variabel

    –N=N– 1630 – 1575 Variabel

  • 22

    Absorpsi khas yang berguna pada daerah lentur C–H (1000 – 650 cm-1

    ) alkena.

    Jenis Alkena v cm-1

    Intensitas Pita

    RCH=CH2 990 dan 910 Kuat

    RCH=CRH (cis) 690 Sedang sampai kuat

    RCH=CRH (trans) 970 Sedang sampai kuat

    R2C=CH2 890 Sedang sampai kuat

    R2C–CRH 840 – 790 Sedang sampai kuat

    Benzena tersubstitusi:

    Jenis Substitusi v cm-1

    Intensitas Pita

    Aromatik monosubstitusi

    (5 H berdampingan)

    750 dan 700 Biasanya sedang

    sampai kuat

    Aromatik orto

    (4 H berdampingan)

    750 Biasanya sedang

    sampai kuat

    Aromatik meta

    (3 H berdampingan)

    780 – 810 Biasanya sedang

    sampai kuat

    Aromatik para

    (2 H berdampingan)

    850 – 800 Biasanya sedang

    sampai kuat

  • 23

    ANALISIS SENYAWA GOLONGAN ALKOHOL

    Tujuan:

    Agar mahasiswa mampu melakukan reaksi identifikasi golongan alkohol,serta mampu

    membedakan alkohol yang satu dengan yang lainnya (terutama yang digunakan/berkaitan

    dengan bidang farmasi), dengan menggunakan pereaksi kimia tertentu.

    Beberapa contoh senyawa golongan alkohol antara lain:

    1. Alkohol monovalen yang cair, misalnya: metanol, etanol, propanol, iso propanol,

    butanol, iso butanol, amil alkohol.

    2. Alkohol monovalen yang berbentuk padat, misalnya mentol, klor butanol, kloral

    hidrat.

    3. Alkohol polivalen yang cair, misalnya etilen glikol, propilen glikol, gliserol (gliserin).

    4. Alkohol polivalen yang padat, misalnya: manitol dan sorbitol.

    Reaksi umum:

    1. Reaksi azo (untuk alkohol mono dan polivalen).

    Pereaksi:

    Diazo A: larutan asam sulfanilat 0,5% dalam (30 ml HCl 4N + 70 ml air).

    Diazo B: larutan NaNO2 9% dalam air.

    Cara melakukan percobaan:

    Masukkan 2 tetes etanol atau larutan sampel dalam air ke dalam tabung reaksi,

    tambahkan Diazo A dan Diazo B (4:1 atau 1:1) dan 1-2 tetes NaOH 2N sampai

    bereaksi basa, kocok, panaskan di penangas air maka akan terbentuk warna kuning

    kemerahan sampai merah. Tambahkan 4 tetes amil alkohol, kocok, warna tidak

    tertarik amil alkohol. (lapisan tidak berwarna). (untuk golongan alkohol).

    Lakukan percobaan yang sama untuk gliserin, amati dan catat hasilnya. Bandingkan

    hasil yang terjadi pada semua sampel yang diperiksa.

    2. Reaksi esterifikasi (untuk alkohol monovalen)

    Pereaksi:

    Asam salisilat, asam benzoat atau asam asetat.

    Asam sulfat pekat sebagai katalisator.

    Cara melakukan percobaan:

    3 tetes etanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi, tambahkan sedikit kristal asam

    salisilat dan 1-2 tetes H2SO4 pekat, tutup mulut tabung dengan kapas basah, panaskan

    dalam penangas air selama 5 menit. Angkat dan encerkan dengan 1 ml air. Cium

    baunya maka akan tercium bau gandapura (untuk etanol dan metanol).

    Percobaan diulangi dengan menggunakan asam benzoat atau asam asetat. Amati dan

    catat baunya.

    3. Reaksi cuprifil (untuk alkohol polivalen)

    Pereaksi:

    Larutan CuSO4 2%, larutan NaOH 2 N

    Cara melakukan percobaan:

  • 24

    Masukkan sedikit gliserin (atau larutan sampel dalam air) ke dalam tabung reaksi,

    tambahkan 1 larutan CuSO4 dan 2 -3 tetes larutan NaOH, akan terbentuk larutan

    berwarna biru tua jernih. Panaskan, tidak terbentuk endapan merah bata.

    Lakukan percobaan yang sama terhadap etanol, amati dan catat hasilnya.

    Bandingkan hasil yang terjadi pada semua sampel yang diperiksa.

    4. Test dengan Borax (untuk alkohol polivalen)

    Pereaksi:

    Larutan borax 1% dan larutan fenolftalein 0,2% dalam etanol 70%.

    Cara melakukan percobaan :

    Ke dalam tabung reaksi masukkan 1 tetes larutan borax dan 1tetes larutan fenolftalein

    (larutan menjadi berwarna merah). Tambahkan 2 tetes gliserin. Amati dan catat

    hasilnya.

    Lakukan percobaaan yang sama terhadap etanol, amati dan catat hasilnya; bandingkan

    hasil pada semua sampel.

    5. Reaksi Carletty (untuk alkohol polivalen)

    Pereaksi:

    asam oksalat (kristal)

    Resorsin (kristal)

    H2SO4 pekat

    Cara melakukan percobaan:

    2 tetes gliserin bebas air (atau sedikit sampel padat) diletakkan pada plat tetes,

    tambahkan sedikit kristal asam oksalat dan sedikit kristal resorsin, aduk dengan batang

    pengaduk, lalu tambahkan 1 tetes H2SO4 pekat, aduk, amati dan catat hasil nya.

    Lakukan percobaan yang sama terhadap etanol, amati dan catat hasilnya. Bandingkan

    hasil pada semua sampel.

    Test pendahuluan dan reaksi umum yang perlu dilakukan untuk identifikasi alkohol antara

    lain:

    1. Test organoleptis (bentuk, bau, rasa dan warna)

    2. Test kelarutan (dalam air atau dalam pelarut organik), kemudian uapkan di atas

    penangas air.

    3. Test nyala Beilstein: positif untuk kloreton, kloral hidrat

    4. Reaksi Azo: positif untuk alkohol yang larut dalam air.

    5. Reaksi esterifikasi dengan asam asetat, benzoat atau salisilat. Cium dan bedakan

    baunya; positif untuk metanol dan etanol.

    6. Reaksi Cuprifil: positif untuk alkohol polivalen.

    7. Reaksi Carletty: positif untuk alkohol polivalen.

    8. Reaksi dengan borax: positif untuk alkohol polivalen.

    9. Reaksi Iodoform: positif untuk etanol

    Pemeriksaan selanjutnya dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh pada test di atas,

    sesuai dengan monograf masing-masing alkohol yang diduga.

  • 25

    METANOL

    OH Cairan bersifat racun, mudah terbakar. Dapat bercampur dengan air, alkohol cair, dan pelarut

    organik lain.

    Identifikasi:

    1. Jika 0,2 ml larutan sampel ditambahkan beberapa tetes KmnO4 1% dan 2-3 tetes

    H2SO4 pekat, aduk, setelah 15menit tambahkan 2-3 tetes asam oksalat 5% dalam

    H2SO4 50% (sampai warna ungu hilang), lalu tambahkan 2 tetes pereaksi Schiff akan

    terbentuk warna merah atau rosa.

    2. Jika 1 tetes sampel ditambahkan 1 tetes larutan K2Cr2O7 dan 1 tetes H2SO4 akan

    terbentuk warna hijau.

    3. Esterifikasi:

    - Dengan penambahan asam benzoat dan H2SO4 pekat akan terbentuk metil benzoat

    diidentifikasi dengan aroma pisang.

    - Dengan penambahan asam salisilat dan H2SO4 pekat akan terbentuk ester dengan

    aroma minyak gandapura.

    4. Dioksidasi dengan KmnO4 / H2SO4 pekat formaldehid

    Formaldehid dapat ditentukan dengan asam kromatropat. Menghasilkan warna ungu.

    Cara melakukan:

    Jika 1 tetes sampel ditambahkan 1 tetes H3PO4 5% dan 1 tetes KmnO4 5% dalam

    tabung reaksi, setalah 1 menit kemudian ditambahkan sedikit kristal NaHSO3, kocok

    sampai warna larutan hilang (bila perlu ditambahkan 1 tetes H3PO4 dan NaHSO3).

    Lalu ditambahkan 4 ml H2SO4 12 N dan sedikit kristal asam kromatropat, kocok dan

    panaskan di atas penangas air (600 selama 10 menit) akan terbentuk warna ungu.

    Reaksi ini negatif untuk etanol, propanol, iso propanol, normal propanol, tertier

    butanol. Reaksi ini positif untuk gliserin yang akan menghasilkan warna kuning

    berflorosensi hijau dan jika ditambahkan furfural warna akan berubah menjadi

    kecoklatan.

    ETANOL

    HO Cairan tidak berwarna, mudah menguap, bau khas. Dapat bercampur dengan air, alkohol cair

    lainnya dan pelarut organik lain.

    Identifikasi:

    1. Dengan penambahan 1 ml H2SO4 pekat dan 2 tetes K2Cr2O7 akan terbentuk warna

    hijau dan tercium bau asetaldehida. Asetaldehida dapat ditest dengan penambahan

    natrium nitroprusid yang mengandung piperidin atau piperazin akan menghasilkan

    warna biru. Jika dibasakan dengan NaOH warna berubah menjadi merah.

    2. Reaksi Simon

    Cara: campurkan 5 tetes zat dalam tabung reaksi dengan 1 ml larutan KMnO4 1% dan

    5 tetes H2SO4 encer, tutup tabung dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan

    pereaksi (100 mg natrium nitroprusid dan 500 mg piperazin dilarutkan dalam 5 ml air,

    dibuat segar) akan terjadi pewarnaan biru pada kertas

    (Dalam praktek, aldehid yang terbentuk ditest dengan kertas saring yang sudah

    dibasahi dengan reagen Schiff, akan terbentuk warna merah ungu).

  • 26

    3. Reaksi Iodoform: positif.

    Cara melakukan:

    5 ml larutan zat 0,5% ditambahkan 1 ml NaOH 0,1 N dan 2 ml aqua iod setetes demi

    setetes (bila perlu panaskan di atas penangas air), terbentuk endapan kuning dan

    tercium bau iodoform.

    4. Esterifikasi :

    - Dengan asam benzoat/H2SO4 pekat → bau pisang ambon

    - Dengan asam salisilat/H2SO4 pekat → bau gandapura

    - Dengan asam asetat/H2SO4 pekat → bau pembersih cutex

    CHLORAL HIDRAT

    HO OH

    Cl

    Cl

    Cl

    Kristal tidak berwarna, bau merangsang, rasa pahit dan panas. Mudah larut dalam air, etanol

    dan eter, dalam 3 bagian CHCl3.

    Identifikasi:

    1. Larutan zat ditambahkan larutan natrium hidroksida akan terjadi kekeruhan karena

    terbentuknya CHCl3.

    2. Larutan zat ditambahkan larutan Na2S akan terjadi pewarnaan kuning yang lama

    kelamaan menjadi merah selanjutnya terbentuk endapan merah.

    3. Campur 1 ml larutan natrium hidroksida dengan 1 ml piridin, kocok lalu panaskan

    dalam penangas air selama 2 menit (pereaksi tidak boleh berwarna). Ke dalam

    pereaksi ini ditambahkan 1 ml larutan zat, kocok, panaskan di atas penangas air maka

    pada lapisan piridin akan berwarna rosa atau merah. Hasil positif untuk klor butanol,

    CHCl3, triklor etana, triklor etanol, dan triklor etilena.

    4. Dipanaskan dengan beberapa tetes natrium hidroksida dan anilin akan tercium bau

    isonitrtil.

    5. Test Beilstein positif: terbentuk nyala hijau.

    6. Larutan dalam air ditambahkan larutan AgNO3, tidak terbentuk endapan. Pada

    campuran ditambahkan beberapa tetes larutan KOH dalam etanol, panaskan di atas

    penangas air, asamkan dengan asam HNO3 akan terbentuk endapan putih.

  • 27

    (larutan KOH / etanol dibuat dengan melarutkan 4 g KOH dalam 2 ml air dan

    tambahkan etanol 75% sampai 100 ml; biarkan 1 malam, gunakan cairan yang

    jernih).

    GLYCEROL

    OH

    HO

    OH (Glycerin = propana triol)

    Cairan jernih, kental seperti sirop, tidak berbau, rasa manis diikuti rasa panas. Dapat

    bercampur dengan air dan etanol, hampir tidak larut dalam eter dan CHCl3. Jika diuapkan

    tidak dapat kering.

    Identifikasi:

    1. Pada cawan porselin panaskan 3 tetes zat dengan 0,1 g asam borat atau KHSO4 akan

    terbentuk uap akrolein (baunya merangsang).

    Uap akrolein dapat ditest dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan 1 tetes

    natrium nitro prussid 5% dan 1 tetes piperidin 20% makan kertas saring akan berwarna

    biru gentian.

    2. Campur 1 ml zat dengan 10 ml HNO3, hati-hati tambahkan 10 tetes larutan K2Cr2O7

    melalui dinding tabung maka pada batas larutan terbentuk cincin biru, yang tidak

    berdifusi ke lapisan bawah.

    3. Reaksi Cuprifil: 500 mg zat ditambahkan 1 ml natrium hidroksida 10% dan beberapa

    tetes larutan CuSO4 akan terbentuk pewarnaan biru jernih (biru tua). Pada pemanasan

    tidak terjadi endapan Cu2O.

    4. Reaksi Carletty positif: yaitu zat bebas air ditambahkan sedikit kristal asam oksalat,

    kristal resorsin dan teteskan beberapa tetes H2SO4 pekat makan akan terjadi warna

    ungu kemerahan, jika diencerkan dengan air warna hilang.

    5. Reaksi Muliken: yaitu 1 ml larutan zat ditambahkan 3 tetes larutan pirogalol dan 1 ml

    H2SO4 pekat, panaskan di atas penangas air selama 2 menit, dinginkan segera (di

    bawah aliran air) maka akan terbentuk ungu merah, jika ditambahkan etanol maka

    warna akan beruba menjadi merah rosa dan lama kelamaan menjadi tidak berwarna.

    ETILEN GLIKOL

    HO

    OH Cairan agak kental, tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis. Dapat bercampur dengan air dan

    allkohol.

    Identifikasi:

    Reaksi-reaksi yang berlaku untuk alkohol Alifatis polivalen umumnya positif.

    1. Reaksi Carletty: zat bebas air ditambahkan kristal asam oksalat, kristal resorsin dan

    beberapa tetes H2SO4 pekat akan terbentuk warna ungu.

    2. Reaksi Muliken: positif

    3. Dioksidasi dengan penambahan KmnO4 dan H2SO4 maka akan dihasilkan glikol

    aldehid yang dapat ditunjukkan dengan:

  • 28

    - pereaksi Schiff

    - ditambah resorsin dalam H2SO4 dan dipanaskan di atas penangas air akan

    terbentuk warna merah.

    PROPILEN GLIKOL

    (Trimetilen glikol)

    OH

    HO Cairan kental, tidak berbau, rasa manis agak pedas. Dapat bercampur dengan air alkohol cair

    lain.

    Identifikasi:

    Reaksi yang berlaku untuk senyawa alkohol polivalen umumnya postif.

    1. Reaksi Cuprifil: positif.

    2. Reaksi Akrolein: positif.

    3. Reaksi Muliken: positif.

    4. Reaksi Carletty: menghasilkan warna jingga coklat, lebih muda daripada etilen glikol.

    5. Dioksidasi dengan HNO3 5% akan menghasilkan keton/asam keto propionat yang

    dapat ditunjukkan dengan pereaksi Legal Rothera.

    MANNITOL dan SORBITOL

    HO

    HO OH

    HO OH

    HO

    HO

    HO OH

    HO OH

    HO

    Mannitol Sorbitol

    Keduanya berupa kristal putih, tidak berbau, rasa manis.

    Mannit: larut dalam 6 bagian air, sukar larut dalam Gugus fungsi C, H dan O Alifatis, tidak

    dalam eter.

    Sorbit: larut dalam 1 bagian air, 25 bagian Gugus fungsi C, H dan O Alifatis, tidak larut

    dalam eter dan CHCl3.

    Identifikasi:

    Keduanya memberikan reaksi-reaksi terhadap Gugus fungsi C, H dan O Alifatis polivalen

    positif (reaksi azo, Cuprifil, Carletty dan Mulliken).

    Sorbitol agak higroskopis, jika larutan masing-masing zat diuapkan di atas penangas air:

    mannit meninggalkan sisa (kristal kering), sorbitol meninggalkan sisa cairan kental.

    1. Reaksi Carletty: keduanya menghasilkan warna ungu tua.

    2. Larutan sorbitol ditambahkan larutan KmnO4 berlebih dan 5 tts NaOH, kemudian

    dipanaskan sebentar, kedalam larutan ditambahkan 5 tts larutan α naftol dalam etanol

    dan perlahan-lahan ditetesi asam sulfat pekat, akan terbentuk cincin berwarna ungu.

  • 29

    ANALISIS SENYAWA GOLONGAN FENOL

    Tujuan:

    1. Agar mahasiswa mampu melakukan reaksi-reaksi untuk mengidentifikasi senyawa

    golongan fenol.

    2. Agar mahasiswa mampu membedakan antara senyawa fenol yang satu dengan lainnya

    berdasarkan hasil reaksi yang terjadi.

    Senyawa golongan fenol adalah senyawa yang mempunyai gugus –OH yang terikat pada

    ring aromatis.

    Rumus umum: OH

    Senyawa fenol dibedakan atas:

    1. fenol monovalen: yang mempunyai 1gugus –OH terikat pada ring.

    2. fenol polivalen: yang mempunyai lebih dari 1gugus –OH terikat pada ring.

    Beberapa contoh senyawa golongan fenol, antara lain:

    - Fenol monovalen, misalnya: Fenol, kresol,timol, α naftol, β naftol, guaiakol, tiokol,

    nipagin ,nipasol, salol, vanilin, vioform , dll .

    - Fenol polivalen, misalnya: hidrokinon, resorsinol (2 gugus –OH), dermatol,

    floroglusin, pirokatekol, pirogalol (3 gugus –OH).

    Percobaan yang perlu dilakukan pada analisis senyawa golongan fenol, antara lain:

    I. Test pendahuluan, antara lain:

    1. Test organoleptis: bentuk , bau ,warna , rasa .

    2. Kelarutan: ditest kelarutannya dalam air atau dalam pelarut organik (etanol atau

    aseton dll)

    3. Test nyala Beilstein: positif untuk vioform

    Test nyala nichrom: positif untuk tiokol.

    4. Floresensi: dilihat floresensi zat (dalam bentuk padat ,larutan air atau dalam larutan

    NaOH) dibawah sinar UV.

    5. Sublimasi: dilakukan terhadap zat padat. jika sampel berupa larutan , lebih dahulu

    harus diuapkan sampai kering.

    6. Pirolisa: yang meninggalkan sisa pijar: tiokol (sisa putih), dermatol (sisa kuning

    jingga)

    II. Reaksi umum terhadap gugus fenol:

    1. Reaksi Azo (sama dengan pada alkohol, tetapi warna merah dapat terbentuk dalam

    keadaan dingin, jika dikocok dengan amil alkohol, umumnya warna merah dapat

    tertarik kedalam amil alkohol), (untuk golongan fenol).

    2. Reaksi dengan FeCl3

    Pada plat tetes, sedikit sampel atau larutan sampel netral dalam air atau etanol

    ditambahkan 1 tetes larutan FeCl3, akan terbentuk warna tergantung pada sampel yang

    diperiksa. (amati perubahan warna yang terjadi).

    3. Reaksi dengan aqua brom

  • 30

    Dalam tabung reaksi (atau plat tetes) letakkan sedikit larutan sampel (dalam air atau

    etanol), ditambahkan aqua brom setetes demi setetes, (amati hasil reaksi pada

    penambahan sedikit aqua brom, dan pada penambahan aqua brom berlebihan).

    4. Reaksi Lieberman (reaksi dengan NaNO2 dan H2SO4 pekat).

    Pereaksi : larutan NaNO2 1% dalam H2SO4 pekat (di buat baru)

    Cara : masukkan sedikit sampel atau larutan sampel kedalam tabung reaksi,,

    tambahkan 1 – 2 tetes pereaksi, biarkan beberapa menit, lalu encerkan dengan

    beberapa tetes air, akan terbentuk warna merah, basakan dengan NaOH atau NH4OH,

    warna berubah menjadi biru.

    5. Reaksi Marquis:

    Pereaksi: campuran 1 bagian formaldehid dengan 9 bagian H2SO4pekat (dibuat baru).

    Cara: pada plat tetes sedikit sampel padat ditambahkan 1 tetes pereaksi, akan terbentuk

    warna.

    6. Reaksi dengan pereaksi Fehling (untuk fenol polivalen).

    Dalam tabung reaksi masukkan 2 – 3 tetes larutan sampel dalam air, tambahkan 2 tetes

    fehling A dan 2 tetes fehling B, bila perlu panaskan dipenangas air, akan terbentuk

    endapan kuning sampai merah bata.

    7. Reaksi dengan Perak amoniakal (untukfenol polivalen)

    Pereaksi: 0,5 ml AgNO3 0.1N ditambahkan amoniak encer setetes demi setetes sampai

    endapan yang terbentuk larut kembali.

    Cara: beberapa tetes sampel dalam tabung ditambahkan beberapa tetes pereaksi, bila

    perlu panaskan pada penangas air,terbentuk cermin perak pada dinding tabung.

    8. Reaksi dengan floroglusin dan NH4OH atau NaOH (untuk fenol polivalen), pereaksi

    floroglusin dan NaOH 0,5 N atau NH4OH pekat.

    Cara: 1 tetes larutan sampel + sedikit kristal floroglusin + beberapa tetes air + 1 tetes

    NaOH, aduk akan terbentuk warna.

    atau NH4OH pekat, aduk akan terbentuk warna.

    PHENOL

    HO

    Kristal tidak berwarna, lama-lama menjadi merah sampai coklat, bau spesifik. Larut dalam 15

    bagian air, mudah larut dalam pelarut organik.

    Identifikasi:

    1. Reaksi azo akan menghasilkan warna merah.

    2. Larutan zat dalam air ditambahkan larutan FeCl3 akan menghasilkan endapan ungu

    tua, jika ditambah etanol berubah menjadi kuning.

    3. Larutan zat dalam air ditambahkan aqua brom akan menghasilkan endapan putih yang

    mula-mula larut, tetapi mengendap kembali jika pereaksi berlebih.

    4. Dengan p DAB – H2SO4 (0,5 g p DAB dilarutkan dalam 60 ml etanol dan 40 ml

    H2SO4), bila perlu panaskan akan terbentuk warna jingga, jika diencerkan dengan air

    akan berubah menjadi ungu.

    5. Dipanaskan dengan hexamin dan asam oksalat akan berflorosensi kuning jika dilihat

    dibawah sinar UV .

  • 31

    6. Dengan pereaksi Lieberman akan menghasilkan warna hijau (dengan perubahan warna

    dari biru menjadi merah lama kelamaan menjadi hijau).

    7. Dengan K2Cr2O7 (larutan zat dalam 0,5ml HCL 2N ditambahkan sedikit kristal

    K2Cr2O7) akan terbentuk warna kuning yang kama kelamaan menjai coklat.

    8. Reaksi Marquis menghasilkan warna merah ungu.

    NIPAGIN (Metil p hidroksi benzoat) pengawet

    HO COOCH3

    Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa agak membakar. Larut dalam 500 bagian air, 3,5

    bagian etanol, 3 bagian aseton, larut dalam 20 bagian air mendidih, larut dalam eter dan alkali

    hidroksida .

    NIPASOL

    (Propil p-hidroksi benzoat) Pengawet

    HO COOC3H7

    Serbuk kristal putih, tidak berbau dan tidak berasa. Kelarutan sama seperti Nipagin.

    Identifikasi: untuk nipagin dan nipasol

    1. 100 mg zat ditambahkan 2 ml etanol 95 %, didihkan kemudian tambahkan larutan

    Hg(NO3)2 akan terbentuk cairan berwarna merah.

    2. Didihkan zat dengan air lau tambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk warna ungu

    merah (untuk nipagin).

    larutan nipasol dalam etanol ditambahkan FeCl3 akan terbentuk warna ungu yang lama

    kelamaan menjadi rosa muda (nipasol).

    3. Panaskan dengan NaOH, dinginkan, asamkan, lalu tambahkan NH4OH, uapkan

    sampai kering. Larutkan sisa dengan air dan tambahkan larutan CuSO4, maka untuk

    nipagin akan terbantuk kristal jarum warna biru sedangkan pada nipasol akan

    terbentuk kristal jarum biru muda.

    4. Larutkan zat dalam air dengan pemanasan, tambahkan 2-3 tetes aqua brom:

    - nipagin akan terbtnuk endapan putih

    - nipasol tidak terjadi perubahan

    6. Reaksi kristal:

    - Sublimasi

    - aseton air

    Cara melakukan:

    Larutkan sedikit sampel dengan beberapa tetes aseton, letakkan pada objek glas

    yang telah ditetesi 1-2 tetes air. Biarkan aseton menguap, terbentuk kristal dan

    diamati di bawah mikroskop.

  • 32

    Kristal aseton air untuk Nipagin

    Kristal aseton air untuk Nipasol

    RESORSINOL

    (m-dioksi benzolum) Keratolitik

    OHHO Hablur tidak berwarna atau putih atau abu-abu kemerahan, jika kena cahaya menjadi merah

    dan akhirnya menjadi coklat sampai hitam. Rasa manis, mudah larut dalam air dan etanol,

    sedikit larut dalam CHCl3, larut dalam eter.

    Identifikasi:

    1. Larutan zat ditambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk warna ungu kebiruan, jika

    dibasakan dengan NH4OH encer warna akan berubah menjadi kuning kecoklatan.

    2. Dengan penambahan aqua brom akan terbentuk warna kuning citrun, yang lama-lama

    terbentuk endapan putih.

    3. Larutan zat dalam NaOH dipanaskan dengan 1 tetes CHCl3 akan terbentuk warna

    merah tua, jika diasamkan dengan HCl akan menjadi kuning pucat.

    4. Reaksi Lieberman menghasilkan warna ungu.

    5. Larutan zat ditambahkan pirokatekol dan 2 ml NaOH encer sampai alkali akan

    terbentuk warna hijau biru yang berubah menjadi ungu merah pada permukaan

    larutan. Jika dibiarkan lama, warnanya turun kebawah dan larutan berwarna ungu

    merah.

    6. Reduksi Fehling positif setelah dipanaskan.

  • 33

    7. Reaksi Carletty positif: sedikit zat ditambahkan kristal asam oksalat dan gliserin bebas

    air lalu teteskan H2SO4 pekat akan terbentuk warna merah ungu.

    8. Reaksi Marquis: lapisan bawah akan berwarna ungu muda, lapisan atas seperti susu.

    9. Sedikit zat ditambahkan asam ftalat anhidrat dalam H2SO4 p, panaskan pada api kecil

    akan terbentuk warna kuning merah atau coklat, dinginkan lalu tambahkan NaOH 4 N

    akan terbentuk warna kuning jingga berflorosensi hijau.

    10. Sedikit zat dimasukkan kedalam tabung reaksi, tambahkan larutan 50 mg asam oksalat

    dalam 2 ml air dan tambahkan perlahan beberapa tetes asam sulfat pekat sampai

    terbentuk lapisan, pada pemanasan perlahan-lahan terbentuk cincin biru pada batas

    kedua larutan.

    HIDROQUINON

    (p-dioxy benzolum)

    HO

    OH

    Kristal jarum halus, warna putih,kena cahaya dan udara menjadi Larut dalam 17 bagian air, 4

    bagian etanol, 51 bagian kloroform.

    Identifikasi:

    1. Dengan penambahan FeCl3 akan terbentuk warna hijau yang berubah menjadi biru

    hijau.

    2. Dengan penambahan aqua brom akan terbentuk warna kuning muda yang berubah

    menjadi jingga.

    3. Dengan penambahan perak amoniakal akan terbentuk warna kuning abu-abu lalu

    berubah menjadi coklat lama kelamaan menjadi hitam.

    4. Reduksi terhadap Fehling akan terbentuk endapan merah bata.

    5. Reaksi Lieberman menghasilkan warna merah hijau yang berubah menjadi merah

    darah.

    6. Zat ditambahkan larutan floroglusin dan NaOH akan menghasilkan warna kuning

    merah sampai jingga merah.

    7. Zat ditambahkan larutan floroglusin dan NH4OH akan terbentuk warna kuning.

    DERMATOL

    (Bismuth sub gallat ) Antiseptik COOH

    HO

    O

    O

    BiOH Serbuk kuning, tidak berbau. Tidak larut dalam air, etanol, dan eter, mudah larut dalam asam

    mineral panas disertai peruraian, larut dalam alkali hidroksida membentuk larutan kuning

    yang segera berubah menjadi merah gelap.

  • 34

    Identifikasi:

    1. Sisa pijar memberikan reaksi terhadap bismuth positif.

    - sisa pirolisa berwarna jingga diwaktu panas, kuning setelah dingin.

    - larutkan sisa pirolisa dalam asam nitrat encer, pada sebagian larutan tambahkan

    beberapa tetes larutan KI, terbentuk larutan hitam yang larut jika pereaksi berlebih

    menghasilkan larutan jingga.

    2. Dengan penambahan FeCl3 akan terbentuk warna hitam kebiruan/hijau kotor.

    3. Dengan penambahan NaOH (atau basa lain) menghasilkan warna merah.

    GUAIPHENESIN

    (Glyceril Guaiacol) Ekspektoran

    O

    O

    CH3

    CH2HC CH2

    OH OH

    Kristal putih atau keabu-abuan. Larut dalam 33 bagian air, 11 bagian etanol, 11 bagian

    CHCl3 dan 100 bagian eter.

    Identifikasi:

    1. Dengan penambahan FeCl3 menghasilkan warna hijau biru yang berubah menjadi

    hijau lama kelamaan menjadi coklat kehijauan.

    2. Reaksi marquis menghasilkan warna ungu (dari merah kersen menjadi ungu).

    3. Reaksi Mandelin menghasilkan warna hijau abu-abu.

    4. Raksi Lieberman menghasilkan warna hitam.

    5. Test terhadap gliserin positif yaitu Cuprifil, Carletty dan Mulliken positif.

    VIOFORM

    N

    Cl

    I

    OH

    Serbuk putih kekuningan atau kuning kecoklatan, jika kena cahaya warna makin gelap. Tidak

    larut dalam air dan etanol, larut dalam 43 bagian etanol panas, 120 Bagian CHCl3 , sangat

    sukar larut dalam eter.

    Identifikasi:

    1. Test Beilstein positif.

    2. Panaskan dengan spritus KOH lalu diasamkan dengan HNO3, larutan memberikan

    reaksi positif terhadap ion I-

    dan Cl-.

    3. Didihkan dengan HCl encer, lama–lama akan larut dan mengeluarkan bau iodium.

    4. Panaskan dengan H2SO4 pekat akan menghasilkan uap iodium (coklat).

    5. Larutan zat dalam etanol ditambahkan larutan FeCl3 akan menghasilkan warna biru

    hijau.

    6. Reaksi kristal: Sublimasi

  • 35

    ANALSIS SENYAWA GOLONGAN ASAM KARBOSILAT

    Tujuan:

    1. Agar mahasiswa mampu melakukan reaksi-reaksi untuk mengidentifikasi senyawa

    asam karboksilat, berdasarkan gugus fungsi yang terdapat pada tiap senyawa.

    2. Agar mahasiswa mampu membedakan senyawa asam karboksilat yang satu dengan

    lainnya berdasarkan reaksi yang terjadi.

    Asam karboksilat adalah senyawa organik yang mengandung gugus –COOH yang

    terikat pada rantai C alifatis, aromatis, siklis atau heterosiklis. Ada yang mempunyai gugus

    hidroksi alifatis (Gugus fungsi C, H dan O Alifatis), hidroksi aromatis (fenol), amin dll.

    Beberapa contoh senyawa asam karboksilat antara lain:

    1. Asam bermartabat (valensi) satu;

    - Yang berbentuk cair, misal: asam asetat, asam formiat, asam laktat, asam undesilinat,

    dll.

    - Yang berbentuk padat, misal: asam benzoat, asam salisilat, asetosal, asam galat, asam

    tannat (tannin), asam glukonat, dll.

    2. Asam bermartabat (valensi) banyak: mempunyai lebih dari 1 gugus –COOH, misal: asam

    oksalat, asam suksinat, asam glutamat, asam tartrat, asam sitrat, dll.

    Sifat-sifat umum senyawa asam karboksilat:

    Umumnya bersifat asam, dapat bereaksi dengan basa membentuk garam yang mudah larut

    dalam air.

    Asam bermartabat 1 yang mempunyai rantai C pendek, berbentuk cairan yang mudah

    bercampur/larut dalam air. Makin panjang rantai C makin sukar larut dalam air.

    Asam aromatis umumnya sukar larut dalam air.

    Asam bermartabat banyak umumnya mudah larut dalam air.

    Identifikasi senyawa asam karboksilat.

    Mengingat tidak adanya reaksi umum terhadap asam karboksilat, reaksi identifikasi dilakukan

    terhadap gugus fungsional yang mungkin terdapat pada senyawa karboksilat yang diperiksa.

    Reaksi/test yang perlu dilakukan pada analisis asam karboksilat

    1. Test organoleptis:

    - Bentuk: ada yang cair atau yang padat.

    - Bau: yang mempunyai bau chas; misal : asam asetat; asam undesilinat, asam laktat.

    - Rasa: umumnya berasa asam, dalam bentuk garam rasanya asin.

    2. Kelarutan: asam-asam yang larut dalam air mempunyai pH asam, garam-garamnya

    bereaksi netral atau basa lemah.

    3. Test nyala NiCr: positif untuk asam-asam dalam bentuk garam.

    4. Florosensi: beberapa asam organik berflorosensi di bawah sinar ultraviolet.

    5. Sublimasi: beberapa asam aromatis dapat menyublim menghasilkan kristal sublimasi

    yang spesifik bentuknya.

    6. Pirolisa: positif untuk garam-garam karboksilat, misal: garam natrium (Na benzoat, Na

    salisilat, K Na tartrat), garam kalsium (Ca laktat, Ca glukonat), garam Pb (Pb asetat),

    garam Zn (Zn asetat, Zn undesilinat) dll.

  • 36

    7. Reaksi Baeyer, atau dengan aqua brom: untuk ikatan tidak jenuh, misal: pada asam

    undesilinat.

    8. Reaksi Azo terhadap asam yang mengandung gugus hidroksi, misal: asam hidroksi

    alifatis (sitrat, tartrat, laktat, glukonat); dan asam hidroksi aromatis/mengandung gugus

    fenol, (asam salisilat, Bi sub galat, asam tannat).

    9. Reaksi Cuprifil: untuk asam polihidroksi alifatis, misal: asam glukonat, asam

    gliseroposfat).

    10. Reaksi esterifikasi dengan etanol dan H2SO4 pekat: untuk asam asetat, salisilat, dan

    benzoat.

    11. Reaksi Iodoform: untuk asam laktat.

    12. Reaksi dengan FeCl3, aqua brom untuk asam-asam yang mengandung gugus fenol.

    13. Test daya reduksi terhadap pereaksi Fehling atau Tollen’s, untuk asam-asam mereduksi,

    misal: asam tartrat, asam askorbat.

    14. Reaksi Marquis untuk asam yang mempunyai ring aromatis.

  • 37

    ASAM ASETAT

    (Asam cuka)

    O

    HO

    Cairan jernih tidak berwarna, bau khas menusuk. Dapat bercampur dengan air, etanol dan

    gliserin.

    Identifikasi:

    1. Reaksi esterifikasi dengan etanol dan H2SO4 pekat menghasilkan etil asetat yang dapat

    diidentifikasi dari baunya yaitu bau pembersih kutek.

    2. Jika dipanaskan dengan CaO akan menghasilkan aseton, yang dapat diidentifikasi

    dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan o-nitro benzaldehid dalam etanol

    dan dibasakan dengan NaOH, menghasilkan warna biru indigo.

    Pereaksi: larutan o-nitro benzaldehid 2% dalam etanol 95%, dan larutan NaOH 1N.

    3. Ke dalam larutan zat 5% tambahkan 5 tetes larutan nitrat, 2 tetes larutan iodium 0,1 N

    dan 1 tetes NH4OH encer, panaskan hati-hati pada api kecil menghasilkan warna biru.

    4. Jika 1 ml zat yang telah dinetralkan ditambahkan 1 ml FeCl3 10% akan terbentuk

    warna merah tua│Fe3(OH)2(CH3COO)6│+, yang jika dipanaskan terbentuk warna

    coklat merah, karena terurai menjadi besi asetat basa│Fe(OH)2CH3COO│.

    5. Larutan garam asetat yang pekat dan netral ditambahkan larutan AgNO3 akan

    terbentuk endapan putih.

    ASAM BENZOAT

    COOH

    Kristal putih, tidak berbau. Larut dalam 350 bagian air, 3 bagian etanol (95%), 3 bagian eter,

    dan 8 bagian CHCl3.

    Identifikasi:

    1. Esterifikasi dengan etanol dan H2SO4 menghasilkan etil benzoat yang dapat

    diidentifikasi dari baunya yaitu bau pisang ambon.

    2. Didihkan 100 mg zat dengan CaCO3 dan 5 ml air, saring, pada filtrat ditambahkan

    larutan FeCl3 akan terbentuk endapan kuning coklat atau jingga kekuningan, jika

    dikocok dengan eter, maka lapisan eter akan berwarna merah coklat.

    3. Reaksi kristal:

    - Aseton air

  • 38

    - sublimasi keping-keping berpelangi.

    NATRIUM BENZOAT

    COONa

    Butiran atau serbuk putih, tidak berbau. Larut dalam 2 bagian air, 90 bagian etanol (95%).

    Identifikasi:

    1. Reaksi terhadap natrium positif.

    2. Larutan dalam air (1:20) ditambahkan larutan FeCl3 akan menghasilkan endapan

    coklat kemerahan, bila diasamkan dengan HCl encer mengendap sebagai kristal putih.

    3. Larutan dalam air diasamkan dengan HCl encer menghasilkan endapan putih karena

    terbentuk asam benzoat yang tidak larut dalam air, yang memberikan test positif

    terhadap benzoat.

    4. Larutan garam benzoat netral ditambahkan larutan AgNO3 menghasilkan endapan

    putih yang dapat larut dalam amonia encer.

    ASAM SALISILAT

    COOH

    OH

    Kristal jarum, ringan, warna putih, tidak berbau, rasa agak tajam dan manis. Larut dalam 550

    bagian air, 4 bagian etanol, mudah larut dalam eter dan CHCl3.

    Identifikasi:

    1. Larutan dalam etanol ditambahkan aqua brom akan terbentuk endapan putih

    kekuningan.

    2. Reaksi Azo positif, dapat ditarik dengan amil.

    3. Dengan penambahan larutan FeCl3 akan terbentuk warna ungu (ungu tua kemerahan).

    4. Esterifikasi dengan metanol dan H2SO4 pekat akan menghasilkan metil salisilat yang

    dapat diidentifikasi dengan baunya yaitu bau gandapura.

    5. Reaksi Marquis menghasilkan warna merah.

    6. Larutannya dalam basa (NaOH atau KOH) berflorosensi biru.

    7. Reaksi Vitali-Morin menghasilkan endapan merah-jingga.

  • 39

    8. Reaksi kristal:

    - Sublimasi

    - Aseton air

    NATRIUM SALISILAT

    COONa

    OH

    Berbentuk sisik-sisik tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa manis asin, tidak

    enak. Larut dalam 1 bagian air, 11 bagian etanol (95%).

    Identifikasi:

    1. Reaksi terhadap natrium dan salisilat positif.

    2. Larutan zat dalam air ditambahkan asam seperti HCl encar akan terbentuk endapan

    putih karena terbentuk asam salisilat yang tidak larut dalam air.

    ASAM ASETIL SALISILAT

    O

    OH

    C

    O

    CH3

    Kristal serbuk putih, tidak berbau, rasa asam. Agak sukar laruta dalam air, mudah larut dalam

    etanol, larut dalam eter dan CHCl3.

  • 40

    Identifikasi:

    1. Panaskan 200 mg zat dengan 4 ml NaOH akan menguraikan asetosal menjadi natrium

    asetat dan natrium salisilat; asamkan, terbentuk asam asetat dan asam salisilat

    (endapan putih). Saring residu memberi test terhadap salisilat positif; filtrat memberi

    test terhadap asetat positif.

    2. Sedikit zat ditambahkan larutan FeCl3, tidak terjadi reaksi atau terbentuk titik-titik

    ungu karena telah terurai sebagian menjadi asam asetat dan asam salisilat.

    3. Dipanaskan dengan 2 ml etanol dan 2 ml H2SO4 akan tercium bau etil asetat.

    4. Dengan pereaksi Frohde menghasilkan warna biru ungu.

    Pereaksi: 0,1 g amonium molibdat dalam 10 ml H2SO4 pekat.

    5. Reaksi kristal: sublimasi mirip seperti asam salisilat.

    Kristal aseton air:

    Kristal sublimasi:

    ASAM GLUTAMAT

    NH2

    O

    HO

    O

    OH

    Kristal bentuk belah ketupat, rasa agak asam. Larut di dalam air 1 : 150, tidak larut di dalam

    etanol,acetone, eter dan kloroform.

    Identifikasi:

    1. Reaksi Ninhidrin

  • 41

    Kedalam 1 ml larutan asam glutamat yang netral ditambahkan ninhidrin 1% dalam air,

    kemudian dipanaskan sampai mendidih, terbentuk warna biru.

    2. Asam glutamat sebanyak 20 mg direaksikan dengan 20 mg resorsin dan 5 tetes asam

    sulfat pekat. Campuran ini dipanaskan sampai terbentuk warna biru hijau. Sesudah

    dingin ke dalam campuran ditambahkan 30 ml air dan 10 ml larutan ammonia pekat,

    larutan berwarna ungu dan berflouresceinsi hijau tua.

    ASAM MEFENAMAT

    COOH

    NH

    CH3

    CH3 Kristal halus berwarna putih, rasa pahit. Tidak larut didalam air, larut di dalam 200 bagian

    etanol, 75 bagian aseton dan 100 bagian eter.

    Identifikasi:

    1. Asam mefenamat ditambahkan asam sulfat pekat, lalu panaskan di api langsung maka

    akan terjadi flouresnsi putih biru, dinginkan, ditambahkan 1 tetes kalium bikromat 0,1

    N 1 tetes maka akan terbentuk warna hijau biru.

    2. Asam mefenamat dilarutkan didalam etanol lalu ditambahkan FeCl3 di dalam etanol

    maka akan terbentuk warna biru.

    3. Reaksi Vitalli Morin: Asam Mefenamat ditambahkan asam nitrat pekat, lalu

    dipanaskan di api langsung sampai kering, larutkan di dalam aceton lalu ditambahkan

    larutan KOH di dalam aseton maka akan terbentuk warna ungu.

    4. Reaksi Lieberman Asam mefenamat dilarutkan didalam HCl 3N sebanyak 2 ml

    didinginkan pada suhu 5o C kemudian direaksikan dengan NaNO2 1%. Diamkan

    selama 5 menit lalu diencerkan dengan air ml dan dikocok 2 kali dengan eter.

    Pisahkan lapisan eter, uapkan sampai kering. Kepada sisa penguapan ditambahkan 50

    mg fenol, dipanaskan sebentar, didinginkan, dan direaksikan dengan 1 ml H2SO4

    terbentuk warna biru hijau, pekat yang bila hasil reaksi dituangkan kedalam air

    berubah merah, jika dibasakan warna hijau biru akan muncul kembali.

    ASAM NIKOTIN

    N

    COOH

    Kristal putih. Larut di dalam air dan etanol tidak larut di dalam aseton, eter dan kloroform

    Identifikasi:

    1. Asam nikotin sejumlah 1 mg dicampur dengan 1 klor 2,4 dinitro benzol lalu

    dipanaskan hingga mencair, lalu dinginkan setelah dingin tambahkan KOH etanol 0,5

    N maka akan terbentuk warna merah tua.

  • 42

    2. Asam nikotin sebanyak 100 mg ditambahkan asam sitrat 10 mg dan 3 tetes asam asetat

    anhidrid dipanaskan di penangas air maka akan terbentuk warna merah karmin (ungu

    muda).

    3. Asam nikotin dilarutkan di dalam air dinetralkan dengan NaOH 0,1 N dan

    ditambahkan larutan tembaga sulfat 2%, terbentuk endapan kristal biru terang.

    ASAM p-AMINO SALISILAT

    (PAS Na)

    OH

    COOH

    NH2 Serbuk putih, voluminus, tidak berbau, rasa agak asam (garam natrium: berasa manis asin).

    Larut dalam 700 bagian air, 20 bagian etanol, eter, 10 bagian aseton (garam natrium: larut

    dalam 2 bagian air, 30 bagian etanol, 100 bagian aseton, tidak larut dalam eter dan CHCl3).

    Identifikasi:

    1. Dengan FeCl3:

    - Larutan air menghasilkan warna merah (coklat kemerahan).

    - Larutan etanol menghasilkan warna biru ungu.

    2. Test terhadap amin primer aromatis positif, yaitu dengan penambahan p-DAB HCl

    menghasilkan warna jingga.

    3. Sedikit zat dalam 1 ml air ditambahkan 2 tetes NaOH 30% dan 10 tetes larutan

    K3Fe(CN)6 2% menghasilkan warna biru.

    4. Dipanaskan dengan Na2CO3 menghasilkan piridin (bau khas).

    5. Sedikit zat dipanaskan dengan 2,4 dinitroklor benzen sampai meleleh, dinginkan,

    larutkan dalam spiritus KOH 0,5 N akan menghasilkan warna merah anggur tua.

    6. Sedikit zat dipanaskan dengan 10 mg asam sitrat dan 3 tetes asam asetat anhidrat,

    panaskan di penangas air terbentuk warna ungu muda atau merah karmin.

    7. Larutan zat dalam air ditambahkan NaOH 0,1 N sampai netral, lalu tambahkan larutan

    CuSO4 2% akan terbentuk kristal biru terang.

    8. Larutan zat dalam air ditambahkan sublimat menghasilkan endapan kristal jarum roset.

    9. Jika 1 ml larutan zat 0,1% ditambahkan 3 ml larutan sianogen bromida dan 0,5 ml

    anilin 2,5% akan terbentuk warna kuning emas (atau jingga).

  • 43

    ASAM SITRAT

    HO

    O

    OH

    O OH

    O

    HO

    Kristal tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa sangat asam, higroskopis. Mudah

    larut dalam air, larut dalam 1,5 bagian etanol, sukar larut dalam eter.

    Identifikasi:

    1. Larutan zat netral ditambahkan larutan CaCl2 berlebih, tidak terbentuk endapan, tetapi

    jika dididihkan terbentuk endapan putih (kalsium sitrat) yang larut dalam asam asetat.

    2. Larutan zat ditambahkan pereaksi Deniges (larutan HgSO4) berlebihan, lalu didihkan,

    kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan KmnO4 akan menyebabkan warna ungu

    hilang dan terbentuk endapan putih susu.

    3. Sedikit zat ditambahkan 3,5 ml piridin dan 1,5 ml asam asetat anhidrat, panaskan di

    penangas air selama 2-3 menit akan menghasilkan warna merah karmin.

    4. Dengan penambahan larutan CuSO4 dan NaOH terbentuk warna biru tua.

    5. Asam sitrat tidak mereduksi Fehling dan perak amoniakal tetapi mereduksi KMnO4

    dalam suasana H2SO4 pada pemanasan.

    6. Zat dipanaskan dengan H2SO4 pekat akan menghasilkan warna kuning muda lemah.

    NATRIUM SITRAT

    Kristal tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa asin dan dingin. Mudah larut

    dalam air, tidak larut dalam etanol.

    Identifikasi:

    1. Pijar hingga menjadi abu, sisa pijar larutkan dalam air bereaksi basa dan jika ditambah

    asam timbul gelembung gas.

    2. Reaksi terhadap natrium dan terhadap sitrat positif.

    ASAM TARTRAT

    OH

    OHO

    HO

    O

    OH

    Kristal tidak berwarna/serbuk putih, tidak berbau, rasa asam. Larut dalam 1 bagian air, 3

    bagian etanol, sukar larut dalam eter dan CHCl3.

    Identifikasi:

    1. Larutan dalam air ditambahkan sedikit kristal resorsin dan teteskan asam sulfat pekat

    hati-hati melalui dinding tabung sehingga terbentuk 2 lapisan cairan. Panaskan pada

    api kecil pada batas larutan terbentuk warna ungu. Jika pemanasan diteruskan, lapisan

  • 44

    asam sulfat berwarna ungu (reaksi Mohler). Jika diencerkan dengan air warnanya

    hilang.

    2. Sedikit zat ditambahkan piridin dan asam asetat anhidrat, panaskan pada penangas air

    2-5 menit akan menghasilkan warna hijau berflorosensi kuning jika dilihat di bawah

    sinar UV (untuk garam-garam tartrat reaksi ini negatif).

    3. Larutan zat dalam air ditambahkan 1 tetes FeSO4 3% dan 1 tetes H2O2 3% akan

    menghasilkan warna kuning. Tambahkan NaOH 3 N setetes demi setetes sampai

    berlebihan (warna hilang), akhirnya terbentuk warna biru sampai ungu (reaksi

    Fenton).

    4. Larutan zat netral ditambahkan larutan AgNO3 akan menghasilkan endapan putih

    seperti dadih susu. Endapan dapat larut dalam tartrat berlebih, dalam amonia encer

    atau asam nitrat encer.

    5. Dapat mereduksi perak amoniakal. Larutan zat ditambahkan larutan AgNO3, dan

    endapan yang terbentuk dilarutkan dengan amonia encer, panaskan di atas penangas

    air, terbentuk cermin perak pada dinding tabung.

    KALIUM HIDROGEN TARTRAT

    (Cream of tartar).

    Kristal tidak berwarna atau serbuk putih, rasa asam, larutan pekat bereaksi asam terhadap

    lakmus.

    Identifikasi:

    1. Test terhadap kalium positif (nyala Nichrom, dengan asam pikrat dan dengan natrium

    kobalt nitrat).

    2. Jika dipijar, tercium bau gula terbakar.

    3. Test terhadap tartrat positif.

  • 45

    ANALISIS ALKALOIDA DAN SENYAWA NITROGEN

    Yang dimaksud dengan alkaloida pada mulanya adalah senyawa-senyawa nitrogen

    yang bersifat basa (mirip alkali = alkali oida); yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, yang

    dapat mempengaruhi fungsi faal tubuh manusia.

    Dengan makin berkembangnya obat-obatan yang dibuat secara sintesis, defenisi alkaloida

    menjadi semakin kabur. Pada percobaan ini dilakukan reaksi identifikasi terhadap senyawa

    nitrogen yang merupakan alkaloida alam dan senyawa nitrogen yang tidak tergolong pada

    sulfonamida, antihistamin dan lain-lain yang dianalisis sendiri.

    Sifat-sifat alkaloida:

    1. Mempunyai ikatan nitrogen, dapat berupa ami primer, sekunder atau tersier, baik

    alifatis, aromatis atau heterosiklis.

    2. Dalam bentuk basa umumnya sukar larut dalam air, larut dalam pelarut organik.

    3. Dengan asam-asam umumnya dapat bereaksi membentuk garam yang larut dalam air.

    Penggolongan alkaloida sangat sukar dilakukan, umumnya dibedakan atas:

    Alkaloida alam

    Alkaloida sintesis/semi sintesis

    Alkaloida alam:

    1. Alkaloida opium (misal: morphin, kodein, papaverin).

    2. Alkaloida solanaceae (misal: atropin, hiosiamin, skopolamin).

    3. Alkaloida kina (misal: kinin, kinidin).

    4. Alkaloida dari radix Rauwolfia (misal: reserpin).

    5. Alkaloida turunan xantin (misal: kofein, teobromin, teofilin).

    6. Alkaloida dari semen Strichni (misal: strikinin).

    Alkaloida sintesis/semi sintesis, antara lain:

    1. Turunan pirazolon (misal: antipirin, amidopirin, novalgin).

    2. Turunan amino benzoat (misal: benzokain, prokain, tetrakain).

    3. Turunan akridin (misal: akriflavin, aterbin, rivanol).

    4. Senyawa amin alifatis dengan inti aromatis (misal: efedrin, amfetamin, adrenalin).

    5. Turunan pirazolidin-dion (misal: fenilbutazon).

    Pembagian alkaloida berdasarkan rumus kimia (struktur intinya):

    1. Turunan piridin

    Misal: nikotin, nikotinamid.

    2. Turunan tropan

    Misal: skopolamin, atropin dan hiosiamin.

    3. Turunan kinolin

    Misal: kinin, klorokin.

    4. Turunan isokinolin

    Misal: papaverin, noskapin

  • 46

    5. Turunan xantin

    Misal: kofein, teofilin.

    6. Turunan fenantrena

    Misal: morfin, kodein.

    7. Turunan pirazolon

    Misal: piramidon, novalgin, antipirin.

    Cara isolasi alkaloida dan senyawa-senyawa nitrogen basa.

    Cara Stass Otto.

    Prinsip pemisahan didasarkan kelarutan zat dalam air atau dalam pelarut organik yang tidak

    dapat bercampur dengan air. Dalam bentuk garam, suatu zat lebih mudah larut dalam air,

    sedang dalam bentuk basa atau asam, lebih mudah larut dalam pelarut organik.

    Cara kerja: sampel dibasakan dengan amonia, lalu dikocok dengan CHCl3, ambil lapisan

    CHCl3, uapkan diperoleh alkaloida basa.

    Reaksi-reaksi umum untuk alkaloida/senyawa nitrogen:

    1. Reaksi pengendapan/reaksi kristal

    2. Reaksi warna.

    I. Reaksi pengendapan:

    Alkaloida akan menghasilkan endapan (umumnya berupa kristal) jika direaksikan dengan

    pereaksi-pereaksi pengendap tertentu.

    Cara melakukan reaksi:

    Sedikit sampel padat (hasil isolasi) diletakkan pada objek glass, tambahkan 1 tetes HCl 0,5 N

    dan 1 tetes pereaksi, akan terbentuk endapan, biarkan beberapa waktu, akan terbentuk kristal,

    amati dimikroskop.

    Jika endapan yang terbentuk amorf, lakukan rekristalisasi : pada endapan tambahkan 1 atau 2

    tetes etanol 90% sampai endapan larut. Biarkan etanol menguap (endapan terbentuk kembali),

    dan setelah beberapa waktu amati kembali di bawah mikroskop.

    1. Dengan pereaksi Mayer terbentuk endapan putih atau kekuningan.

    2. Dengan pereaksi Bouchardat terbentuk endapan kuning coklat.

    3. Dengan peraksi Dragendorff akan terbentuk endapan merah jingga sampai merah

    coklat.

    Pereaksi-pereaksi pengendap lain, antara lain:

    1. Larutan K3Fe(CN)6 (1% dalam air).

    2. Larutan K4Fe(CN)6 (5% dalam air).

    3. Larutan asam pikrat (1% dalam air).

    4. Larutan asam pikrolon [jenuh (0,5%) dalam etanol 20%].

    5. Larutan HgCl2 5% dalam air (atau HgCl2 padat).

    6. Dengan pereaksi Fe kompleks.

    Cara: sedikit sampel padat atau hasil isolasi dengan CHCl3 diletakkan pada objek glass;

    tambahkan 1 atau 2 tetes pereaksi. Tutup dengan deck glass (kaca tutup), panaskan pada api

    kecil sampai mendidih (jangan sampai kering !). Segera angkat dan biarkan beberapa menit.

    Amati di bawah mikroskop.

  • 47

    Kristal yang terbentuk umumnya berwarna merah jingga sampai jingga coklat.

    II. Reaksi warna

    Reaksi warna untuk alkaloida umumnya didasarkan pada gugus fungsional yang terdapat pada

    senyawa tersebut.Reaksi umum untuk beberapa golongan senyawa alkaloida, antara lain:

    1. Reaksi umum untuk alkaloida Opium:

    a. Yang mempunyai inti Phenantrena

    Reaksi terhadap gugus phenol:

    - Reaksi King (reaksi warna Azo).

    - Reaksi dengan FeCl3.

    Reaksi terhadap ring aromatis/senyawa Nitrogen:

    - Reaksi Marquis.

    - Reaksi Frohde.

    Pereaksi: larutkan 0,5 g Amonium molibdat dalam 1,5 ml air tambahkan H2SO4

    pekat sampai 100 ml (dibuat baru).

    Cara (1): pada plat tetes letakkan sedikit sampel padat, tambahkan 1 tetes pereaksi,

    akan terbentuk warna.

    Cara (2): 1 tetes larutan sampel ditambahkan 1 tetes larutan Amonium molibdat

    0,5%, uapkan sampai kering, lalu tambahkan 1 tetes H2SO4 pekat terbentuk warna.

    - Reaksi Mandelin.

    Pereaksi: larutkan 0,5 g Amonium vanadat dalam 1,5 ml air, tambahkan H2SO4

    pekat sampai 100 ml (dibuat baru).

    Cara (1): pada plat tetes letakkan sedikit sampel padat, tambahkan 1 tetes pereaksi,

    akan terbentuk warna.

    Cara (2): 1 tetes larutan sampel ditambahkan 1 tetes larutan amonium vanadat

    0,5%,uapkan sampai kering, lalu tambahkan 1 tetes H2SO4 pekat, terbentuk warna.

    b. Yang mempunyai inti isoquinolin

    Reaksi terhadap ring aromatis/senyawa nitrogen, antara lain:

    Reaksi Marquis; reaksi Frohde dan reaksi Mandelin.

    Husemann: asam sulfat (p) dan asam nitrat (p) sama banyak

    2. Reaksi umum terhadap alkaloida Solanaceae.

    - Reaksi Vitalli-Morin

    Sedikit zat pada cawan penguap ditambahkan 1 tetes HNO3 pekat, panaskan di

    penangas air sampai kering. Pada residu (larutan residu dalam aseton) ditambahkan

    beberapa tetes larutan KOH 3% dalam etanol, terbentuk warna ungu tua atau biru

    ungu.

    - Reaksi Wasicky

    Sedikit zat pada cawan penguap tambahkan beberapa tetes larutan p DAB 1% dalam

    H2SO4 pekat, panaskan di penangas air, akan terbentuk warna ungu.

    3. Reaksi umum terhadap alkaloida Kina

    - Dalam H2SO4 encer berflorosensi biru.

    - Reaksi Thallequin:

    1 tetes larutan zat ditambahkan beberapa tetes aqua brom sampai berwarna kuning

    muda, lalu tambahkan beberapa tetes NH4OH pekat terbentuk wrna hijau.

  • 48

    - Reaksi Erythrocyn:

    Beberapa tetes larutan zat dalam tabung reaksi ditambahkan beberapa tetes aqua brom

    sampai berwarna kuning, lalu tambahkan beberapa tetes larutan K4Fe(CN)6 dan

    NH4OH, kocok dengan CHCl3, lapisan CHCl3 berwarna merah.

    4. Reaksi umum untuk alkaloida Xantin.

    - Reaksi Murexid (Amalic acid test)

    Sedikit zat dalam cawan penguap ditambahkan beberapa tetes HCl atau H2SO4 pekat,

    tambahkan beberapa tetes oksidator (H2O2 atau HNO3 pekat atau FeCl3) panaskan di

    penangas air sampai kering. Tambahkan uap NH3 atau 1 tetes NH4OH pekat, terbentuk

    warna ungu. Jika ditambahkan 1-2 tetes NaOH warna hilang.

    - Larutan zat jenuh dalam air dengan penambahan larutan tannin akan menghasilkan

    endapan putih, yang larut dalam pereaksi berlebihan.

    - Larutan zat dalam air dengan larutan AgNO3 menghasilkan endapan putih (positif

    untuk teofilin dan teobromin).

    5. Reaksi umum untuk alkaloida turunan Pyridin.

    - Sedikit zat dipanaskan dengan Na2CO3 dalam keadaan kering akan menghasilkan

    piridin (dikenal dari baunya).

    Percobaan pendahuluan dan reaksi umum yang perlu dilakukan pada analisis alkaloida antara

    lain:

    1. Test pendahuluan:

    - Test organoleptis: rasa; umumnya pahit, yang sangat pahit misal: kinin dan

    striknin.

    - Kelarutan: dalam bentuk garam larut dalam air, pH larutan netral atau asam lemah.

    - Test nyala beilstein: untuk garam HCl atau HBr dari alkaloida.

    - Test nyala NiCr; misal: untuk novalgin.

    - Sublimasi

    2. Reaksi umum/reaksi golongan:

    - Reaksi Azo, untuk alkaloida yang mengandung gugus hidroksi (alifatis atau

    aromatis).

    - Dilakukan reaksi warna/reaksi umum untuk menentukan golongan alkaloida yang

    diperiksa (sesuai urutan di atas).

    - Reaksi Marquis, Frohde, Mandelin, untuk alkaloida yang mengandung ring

    aromatis.

    - Reaksi dengan p DAB HCl untuk alkaloida yang mengandung gugus amin primer

    (misal: alkaloida turunan amino benzoat).

    - Reaksi dengan FeCl3 dan aqua brom untuk zat yang mengandung gugus fenol.

    - Reaksi dengan AgNO3, untuk mentest adanya garam Cl- atau Br

    -.

    - Dengan BaCl2atau Ba(NO3)2 untuk test garam-garam sulfat.

    - Test anion oksidator untuk mentest adanya garam nitrat.

    - Reaksi kristal.

    3. Reaksi penetapan: Berdasarkan hasil yang diperoleh pada percobaan pendahuluan dan

    reaksi umum, dilakukan reaksi khusus terhadap senyawa yang diduga terdapat dalam

    sampel. (sesuai monograpf zat yang diduga).

  • 49

    MORPHINE

    OHO OH

    H

    CH3N

    Serbuk kristal halus, rasa pahit. Biasanya dalam bentuk garam HCl, larut di dalam air, etanol

    dan benzen.

    Identifikasi:

    1. Dengan HNO3 akan terbentuk warna kuning jingga.

    2. Reaksi Marquis terbentuk warna ungu.

    3. Reaksi Kieffers: Sejumlah 5 mg morphin dilarutkan di dalam air ditambahkan larutan

    kalium feri sianida yang mengandung 1 tetes FeCl3 maka akan terbentuk warna biru

    hijau.

    4. Reaksi dengan H2O2, NH4OH dan CuSO4 akan terbentuk warna merah.

    KODEIN

    OH3CO OH

    H

    CH3N

    Serbuk berbentuk kristal, rasa pahit. Dalam bentuk garam HCl dan garam pospat. Larut di

    dalam air dingin dan panas, sukar larut di dalam etanol.

    Identifikasi:

    Kedalam 5 mg zat ditambahkan 5,0 ml asam sulfat dan 1 tetes FeCl3 10%, dan

    campuran ini dipanaskan, terbentuk warna hijau yang berubah menjadi biru yang

    lama-lama menjadi biru ungu. Setelah larutan dingin, ditambahkan 2 tetes asam nitrat,

    warna berubah menjadi merah.

    ETIL MORFIN

    (Dionin)

    HO

    O

    HOH

    N

  • 50

    Kristal putih, rasa pahit. Biasanya dalam bentuk garam HCl larut di dalam air, etanol dan

    kalau dalam bentuk basa tidak larut didalam air tetapi larut didalam etanol, aseton, eter dan

    kloroform.

    Identifikasi:

    Kedalam 5 mg zat ditambahkan 5,0 ml asam sulfat dan 1 tetes FeCl3 10%, dan

    campuran ini dipanaskan dipenangas air, terbentuk warna biru. Ditambahkan 4 tetes

    asam nitrat 3N, warna berubah menjadi merah coklat.

    DEXTROMETHROPHAN HBr

    Serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit. Larut dalam 60 bagian air, 10 bagian etanol, mudah

    larut dalam CHCl3, tidak larut dalam eter.

    Identifikasi:

    1. Zat ditambahkan dengan H2SO4 encer, larutan Hg(NO3)2 dan NaNO2, kemudian

    disaring, tidak terjadi warna merah, jika dipanaskan selama 15 menit akan

    menghasilkan warna kuning sampai merah.

    2. Larutan zat ditambahkan dengan 1 tetes HCl encer dan larutan K3Fe(CN)6 yang

    mengandung FeCl3, tidak terjadi warna hijau atau hijau kebiruan.

    3. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna biru yang berubah menjadi hijau.

    4. Zat ditambahkan 2 tetes HNO3 panaskan di penangas air selama 1 menit 1000C, lalu

    dinginkan, kemudian diteteskan 8 tetes air, basakan dengan NaOH akan menghasilkan

    warna merah jingga.

    NOSCAPIN

    (Narcotin, Neocodin)

    Serbuk putih, tidak berbau, tidak berasa. Tidak larut dalam air, sukar larut dalam alkohol dan

    eter, larut dalam CHCl3. (garam HCl : larut dalam 4 bagian air).

    Identifikasi:

    1. Dalam cawan porselen 100 mg zat ditambahkan beberapa tetes H2SO4 pekat,

    kemudian diaduk akan menghasilkan warna kuning kehijauan, jika dihangatkan akan

    menghasilkan warna merah yang berubah menjadi ungu (ungu kotor).

  • 51

    2. Larutan zat