pengendalian dampak pencemaran kerusakan lingkungan di jakarta

Download Pengendalian Dampak Pencemaran Kerusakan Lingkungan Di Jakarta

Post on 10-Aug-2015

318 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENGENDALIAN DAMPAK PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP JAWA DAN KALIMANTAN

PROPINSI DKI JAKARTA(Sumber SLHD 2000) Setiap kegiatan manusia di alam ini, pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Kegiatan manusia yang meningkat dan juga jumlah penduduk yang terus bertambah juga akan memanfaatkan penggunaan sumber daya alam sebagai sumber energi dan hara yang dapat mengganggu sistem energi dan sistem hara dalam lingkungan. Lingkungan juga mempunyai potensi untuk menyembuhkan kembali sistemnya apabila gangguan tersebut tidak melebihi daya dukung lingkungan, sedangkan bila terlampaui maka mulai terjadi masalah lingkungan karena kualitasnya akan menurun bahkan sampai rusak dan tidak dapat diperbaiki kembali atau lingkungan telah tercemar. Lingkungan yang tercemar akan mengurangi kemanfaatannya bagi kehidupan makhluk, terutama manusia. Untuk itu sumber pencemaran harus dikenali dan kemudian dikendalikan. Salah satu upaya dalam pengelolaan lingkungan adalah mengatur beban pencemaran dari sumbernya baik sumber pencemaran udara, air maupun limbah padat sehingga informasi tentang besarnya beban pencemaran dari setiap sumber amat berguna dalam upaya pengelolaan lingkungan tersebut. A. PENCEMARAN UDARA Pencemaran udara di DKI Jakarta secara umum diakibatkan oleh tiga jenis kegiatan yaitu industri pengolahan, transportasi dan kegiatan rumah tangga atau domestik. Berdasarkan sifat kegiatannya sumber pencemaran tersebut dibedakan menjadi: 1. Sumber tetap yang berasal dari kegiatan proses industri pengolahan konsumsi bahan bakar dari industri dan rumah tangga (pemakaian bahan bakar dan pembakaran sampah padat); 2. Sumber bergerak yang berasal dari pembakaran bahan bakar pada kegiatan transportasi (kendaraan bermotor, kapal terbang dan kapal laut) 3. Pembuangan limbah padat atau pembakaran limbah padat. 1. Sumber Pencemaran dari Sumber Tetap Di wilayah DKI Jakarta terdapat berbagai jenis industri yang berpotensi mencemari udara, antara lain industri makanan, industri minuman, industri kayu dan olahan kayu, industri kimia dasar, industri mineral non logam, industri logam dasar dan sebagian industri tekstil. Dari sejumlah 3.450 industri yang tergolong besar dan sedang pada tahun 1998, sebagian industri tersebut turut memberi kontribusi terhadap pencemaran udara di DKI

Jakarta, karena selain dari proses produksi, pencemaran udara pada industri pengolahan juga terjadi akibat dari pembakaran bahan bakar yang dipakai dalam proses industri untuk utilitas. Jumlah pemakaian bahan bakar bagi kegiatan tungku industri/komersial adalah batubara muda : 60.540 ton/tahun; residu minyak bumi 2.6660 ton/tahun; destilasi minyak bumi : 186.080 ton/tahun; gas cair : 75.000.000 m3/tahun dan gas alam : 198.740.000 m3/tahun. Sumber pencemar tetap lainnya selain industri yaitu pembangkit tenaga listrik dan tungku domestik yang disebabkan oleh pemakaian bahan bakar minyak (BBM), jumlah pemakai BBM oleh pembangkit tenaga listrik sebesar 1.417.000 ton/tahun dan gas :4.761.200 m3/tahun sedangkan bahan bakar yang dikonsumsi untuk tungku domestik yaitu kayu bakar : 80 ton/tahun, destilasi minyak bumi 11.110 ton /tahun : minyak tanah 1.030 ton/tahun dan gas cair : 771.000 m3/tahun. 2. Sumber Pencemaran dari Sumber Bergerak Sumber pencemaran dari sumber bergerak yang terbesar dari kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta laju pertumbuhannya mencapai 10,79 persen pertahun dan hal ini tidak seimbang dengan pertambahan badan jalan sehingga kondisi ini yang menyebabkan kemacetan lalulintas yang pada akhirnya akan meningkatkan pencemaran udara. Hal ini didukung oleh adanya hubungan antara besarnya arus migrasi, sebaran kawasan perumahan, tenaga kerja yang memasuki Jakarta dan jarak ke sekolah. Jumlah kendaraan bermotor di wilayah DKI Jakarta mencapai 3.053.189 unit kendaraan pada tahun 1998. Padatnya kendaraan di DKI Jakarta ini di sebabkan oleh tingginya penggunaan kendaraan pribadi akibat masih kurangnya kendaraan umum serta banyaknya tenaga kerja yang bertempat tinggal di luar Jakarta juga akan menambah beban lalulintas di DKI Jakarta. Makin banyak jumlah kendaraan bermotor yang ada dan dipakai dengan sendirinya meningkatkan bahan bakar. Jumlah pemakaian bahan bakar untuk kegiatan transportasi yaitu bensin sebesar 1.911.490 ton/tahun dan solar sebanyak 1.492.540 ton/tahun. Selain transportasi darat jumlah kapal terbang yang mendarat (255.980 kali/tahun) dan kapal laut (21.000 kali/tahun) juga merupakan sumber pencemaran. Pemakaian bahan bakar minyak bumi pada tuirbin gas tetap adalah : 389.390 ton/tahun 3. Sumber Pencemaran dari Pembuangan Limbah Padat Berdasarkan hasil survey Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, 1998 di DKI Jakarta masih ditemukan adanya masyarakat yang membakar sampah secara terbuka. Jumlah limbah padat (domestik) yang dibakar secara terbuka yaitu sebesar 82.520 ton/tahun dan yang dibakar dalam tungku (incenerator) sebesar 19.960 ton/tahun dan dari limbah industri sebesar 38.490 ton/tahun. 4. Pengendalian Pencemaran Udara Pengendalian pencemaran udara adalah suatu upaya untuk menurunkan jumlah dan kadar pencemaran udara dari sumber. Kegiatan/upaya tersebut antara lain :

a. Pemasangan alat pengendalian pencemaran (disebut end of pipe treatment), dimana bahan pencemar tidak dikeluarkan tetapi dikumpulkan, misalnya scrubber, saringan atau skimmer. Penggunaan sistem ini masih menghasilkan limbah padat yang perlu ditangani dengan baik dan benar agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan lainnya; b. Netralisasi pencemaran. Beberapa pencemar bisa dihilangkan sama sekali secara biologis atau kimiawi, misalnya aerasi menghilangkan larutan biologis dengan percepatan proses pembusukan; c. Daur ulang limbah, memanfaatkan limbah secara ekonomis dalam proses sendiri atau dalam proses lain; d. Pencegahan limbah, misalnya penutupan bocoran, pencegahan tumpukan limbah atau pemakaian kemasan yang dapat dipakai kembali; e. Khusus bagi kendaraan bermotor, untuk mengurangi pencemaran dengan menambahkan catalityic convector bagi kendaraan yang menggunakan bahan bakar tidak menggunakan timbal (Pb); f. Mengganti bahan bakar kendaraan dengan bensin tanpa timbal dan berkadar sulfur rendah atau bahan bakar gas. Dengan mengacu pada hasil penelitian dan hasil pengawasan yang dilaksanakan terhadap emisi dari industri, kendaraan maupun dari sumber tetap adalah sebagai berikut : Tingkat Pengendalian Pencemaran UdaraJenis Sumber 1. Sumber tetap 2. Sumber bergerak 3. Industri pengolahan 4. Pembuangan limbah padat Keterangan : Hasil olahan Tim NKLD 1999 Tingkat Pengendalian 25 90% 75 90% 85% 0 75%

B. PENCEMARAN AIR Dalam memenuhi kebutuhan air bersih di DKI Jakarta, PDAM DKI Jakarta sampai saat ini baru dapat menyediakan air dengan kapasitas 15.230 liter/detik (PDAM DKI Jakarta, 1996) atau baru dapat melayani 53,5% penduduk DKI Jakarta. Akibatnya masih banyak penduduk dan industri yang memanfaatkan air tanah sebagai air bersih maupun untuk proses produksi. Volume limbah cair Sumber limbah cair yang mengeluarkan limbah cair terbesar adalah industri tekstil (93% dari total pembuangan industri pengolahan) Beban awal pencemaran air Beban awal pencemaran air DKI Jakarta dibagi atas beban pencemaran dari kegiatan agro industri, industri pengolahan dan kegiatan domestik Beban total pencemaran air ditinjau dari beban BOD, COD dan SS dari sumber agro industri, industri pengolahan dan domestik yaitu BOD: 1.223.144,34 ton/tahun; COD : 1.159.815,06 ton/tahun dan SS : 722.587,34 ton/tahun. Beban unsur lainnya yang

terukur yaitu Total Disolved Solid (TDS): 1.753.924,91 ton/tahun; minyak dan lemak : 12.757,08 ton/tahun dan Nitrogen : 21.571,75 ton/tahun. Potensi pencemaran air yang terbesar adalah kegiatan Industri Pengolahan (+90% dari beban pencemaran air), sehingga pengelolaan limbah cair yang berasal dari kegiatan industri harus merupakan kewajiban bagi setiap penaggung jawab agar limbah cairnya memenuhi baku mutu sebelum di buang ke badan air. Potensi pencemaran air berasal dari kegiatan industri pengolahan yaitu 1.182.960,29 ton/tahun. Di wilayah DKI Jakarta saat ini sistem saluran limbah baru tersedia di Kelurahan Setiabudi, Jakarta Selatan dengan jumlah pelanggan sebanyak 200.000 orang. Hasil perhitungan beban awal COD, dari sumber industri pengolahan sebesar 1.080.171,86 ton/tahun dan sumber domestik sebesar 79.643,20 ton/tahun. Beban awal zat padat tersuspensi (SS), distribusinya adalah 620.298,24 ton/tahun dari industri pengolahan, kegiatan domestik sebesar 79.643,20 ton/tahun dan dari kegiatan agro industri : 22.645,90 ton/tahun. 1. Upaya Pengendalian Pencemaran Air Upaya penurunan beban limbah khususnya dari kegiatan industri pengolahan dilakukan memalui Program Kali Bersih (Prokasih) yang dilaksanakan sejak tahun 1989. Hasil evaluasi dari peserta Prokasih DKI Jakarta terhadap upaya penurunan beban limbah terlihat dari upaya setiap peserta untuk membuat unit pengolah limbah dengan effisiensi rata-rata sebesar 75% dan adanya upaya minimasi limbah sebesar 10%. Dalam kegiatan agro industri upaya pengendalian limbah cair masih sangat rendah, ditandai dengan seringnya terjadi kasus pencemaran dilokasi peternakan. Pada kegiatan domestik secara umum di DKI Jakarta untuk kegiatn cuci dan mandi masih mebuang secara langsung ke sungai sedangkan untuk limbah toilet di tampung dalam septik tank dengan sistem rembesan atau overflow. Adanya sistem saluran drainase (sewerage sistem) baru pada Kelurahan Setiabudi jakarta Selatan sebagai daerah percontohan. Efisiensi yang dicapai untuk pengolahan terpadu limbah domestik sebesar kurang lebih 80%. Upaya lainnya yang dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta antara lain dengan meningkatkan pengawasan secara berkala melalui kewajiban dari setiap penanggungjawab kegiatan untuk memeriksakan limbah cairnya setiap 3 bulan ke Laboratorium Bapedalda DKI Jakarta serta melaksanakan swapantau disamping meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan RKL/RPL kegiatan wajib A

Recommended

View more >