menyambut kelahiran buah hati

Download MENYAMBUT KELAHIRAN BUAH HATI

Post on 01-Jul-2015

171 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MENYAMBUT KELAHIRAN BUAH HATIBAB I TAHNIKYang Dimaksud Tahnik Tahnik adalah melumurkan kurma ke mulut bayi setelah kurma tersebut dilumat.[1] An Nawawi rahimahullah mengatakan, Para pakar bahasa menyatakan bahwa tahnik adalah mengunyah kurma atau semacamnya, kemudian dilumuri di mulut si bayi.[2] Bukti Tuntunan Tahnik Dari Abu Musa, beliau berkata, . - - (Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.[3] Dari Aisyah, beliau berkata, . - - Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam didatangkan anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.[4] An Nawawi menyebutkan dua hadits di atas dalam Shahih Muslim pada Bab: Dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang sholih untuk ditahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama nabi lainnya. Pelajaran Penting Tentang Tahnik Pertama: Para ulama sepakat tentang disunnahkannya (dianjurkannya) mentahnik bayi yang baru lahir dengan kurma. Jadi tahnik dilakukan di hari pertama. Kedua: Jika tidak mendapati kurma untuk mentahnik, maka bisa digantikan dengan yang lainnya yang manis-manis. Ketiga: Cara mentahnik adalah orang yang mentahnik mengunyah kurma hingga agak cair sehingga mudah ditelan, lalu ia membuka mulut si bayi, lalu ia meletakkan kunyahan kurma tadi di mulutnya sehingga si bayi akan mencernanya ke dalam kerongkongannya. Keempat: Hendaknya yang melakukan tahnik adalah orang sholih sehingga bisa diminta doa keberkahannya, terserah yang mentahnik tersebut laki-laki atau perempuan. Jika orang sholih tersebut tidak hadir, maka hendaklah bayi tersebut yang didatangkan ke orang sholih tersebut.[5] Mengenai yang mentahnik boleh seorang wanita sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim bahwa Imam Ahmad bin Hambal ketika lahir salah satu bayinya, beliau menyuruh seorang wanita untuk mentahnik bayinya tersebut.[6] Ada ulama yang memberi penjelasan urutan makanan yang dijadikan bahan untuk mentahnik: tamr (kurma kering); kalau tidak ada, barulah rothb (kurma basah); kalau tidak ada, barulah makanan manis yaitu yang jadi pilihan adalah madu; dan setelah itu adalah makanan yang tidak disentuh api.[7] Di Samping Mentahnik, Minta Doa Keberkahan

MENYAMBUT KELAHIRAN BUAH HATIDi samping mentahnik, penjelasan di atas juga menunjukkan setelah ditahnik hendaknya orang yang mentahnik mendoakan keberkahan pada si bayi dan lebih utama yang mentahnik dan mendoakan adalah orang sholih. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan. Tentang Kencing Bayi yang Pernah Ditahnik Dengan Kurma atau Diobati dengan Madu Oleh : Syaikh Abu Abdil Muiz Muhammad Ali Farkus -hafidzohullohPertanyaan : Dalam hadits Ummu Qois bintu Mihshon rodhiyallohu anha: - - - - Bahwa ia datang dengan anak laki-lakinya yang masih kecil yang belum makan makanan kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Lalu Rosululloh shollallohu alaihi wa aalihi wa sallam mendudukkan anak itu di pangkuannya, kemudian anak itu ngompol di baju beliau. Beliau pun meminta air lalu memercikinya dan tidak mencucinya [8]. Apa makna ( belum makan makanan)? Dan apakah kurma yang digunakan untuk mentahniknya termasuk makanan tersebut? Dan juga madu yang digunakan untuk pengobatan? Jawaban: : Yang dimaksud dengan makanan di sini adalah yang selain ASI yang engkau susui, kurma yang engkau tahnik kepadanya, dan madu yang ia disuapi untuk pengobatan dan yang selainnya, karena kurma dan madu tidak untuk mengenyangkan, sebab illah(alasan) dalam tahnik adalah tabarruk dengan air liur Nabi shollallohu alaihi wa aalihi wa sallam dari satu sisi dan illah pengobatan dengan madu dari sisi yang lain, sehingga tidak ada kekeyangan bagi bayi tersebut selain ASI. Dan sebagian ahlul ilmi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ( belum makan makanan) adalah belum bisa memasukkan makanan ke mulutnya sendiri, dan ada pendapat yang lainnya. Dan yang benar adalah pendapat yang pertama. . Al-Jazair 23 Shofar 1427 H // 23 Maret 2006 M ________________Catatan kaki: [1] Al Mawsuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/3716, Multaqo Ahlil Hadits [2] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/194, Dar Ihya At Turots, cetakan kedua, 1392. [3] HR. Muslim no. 2145. [4] HR. Muslim no. 2147. [5] Keempat point ini diolah dari penjelasan An Nawawi rahimahullah dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/122-123. [6] Al Mawsuah Al Fiqhiyah, 2/3716 [7] Idem. [8] HR. al-Bukhori dalam al-Wudhu (223), Muslim dalam ath-Thoharoh (691), Abu Dawud dalam ath-Thoharoh (374), at-Tirmidzi dalam ath-Thoharoh (71), anNasai dalam ath-Thoharoh (304), Ibnu Majah dalam ath-Thoharoh dan Sunannya (566), Malik dalam al-Muwaththo (141), Ahmad (27756), al-Humaidi dalam musnadnya (365), al-Baihaqi (4319), dari hadits Ummu Qois bintu Mihshon rodhiyallohu anha.

MENYAMBUT KELAHIRAN BUAH HATISetiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya. Ini menunjukkan bahwa jika nama yang diberikan adalah nama yang terbaik, maka atsarnya (pengaruhnya) pun baik. Oleh karenanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa nama yang terbaik adalah Abdullah karena nama tersebut menunjukkan penghambaan murni pada Allah. Begitu pula, dalam beberapa hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang memberi nama dengan nama yang buruk seperti Ashiyah (wanita yang bermaksiat, dengan huruf ain dan shod), Hazn (sedih) dan Zahm (sempit). Intinya, nama begitu pengaruh dalam diri orang yang nama. Coba bayangkan bagaimana jika seorang anak nama dengan Hazn (sedih), pasti ia akan jadi orang yang terusan bersedih karena mengingat namanya tersebut. urgensi penting dalam pemberian nama bagi si buah hati. diberi diberi terusItulah

BAB II NAMA TERBAIK UNTUK SI BUAH HATI

Urgensi Pemberian Nama Terbaik Nama dalam bahasa Arab disebut dengan isim. Makna isim bisa jadi adalah alamat (tanda). Isim juga bisa bermakna as samuu (sesuatu yang tinggi). Sehingga isim (nama) adalah tanda yang tertinggi (mencolok) pada seseorang. Dengan nama inilah akan membedakan seseorang dan lainnya. Di antara maksud inilah para ulama bersepakat (berijma) tentang wajibnya pemberian nama pada laki-laki dan perempuan.[1] Sehingga tidak boleh seseorang pun di muka bumi ini yang tidak memiliki nama. Karena jika tidak punya nama, bagaimana bisa membedakannya dari manusia lainnya. Karena pentingnya seseorang memiliki nama, sampai-sampai para pakar hadits ketika menemukan hadits terdapat seorang perowi yang mubham (tidak dikenal namanya), mereka pun mendhoifkan hadits tersebut sampai diketahui jelas siapa nama perowi tersebut. Di antara urgensi pemberian nama terbaik disebabkan nama dapat membawa pengaruh pada orang yang diberi nama. Oleh karena itu, orang Arab mengatakan,

Pengaruh lainnya lagi, dari nama terbaik, seseorang dapat mengetahui bagaimanakah orang tuanya. Orang tuanya dapat diketahui dari nama anaknya, apakah ortunya itu sholih atau tholih (lawan dari sholih). Sebagaimana orang arab pun mengatakan, Dari namamu, aku bisa mengetahui bagaimanakah ayahmu. Dari nama yang baik pula, seseorang bisa menyebarkan kebaikan. Lihatlah bagaimana jika seseorang diberi nama Musa. Dari nama ini, setiap orang yang mendengar nama tersebut bisa mengingat bagaimanakah sifat dan akhlaq mulia dari Nabi Musa alaihis salam. Oleh karena itu, pemberian nama yang baik di sini termasuk menyebar sunnah hasanah di tengah-tengah umat. Maksud kami ini sebagaimana disebutkan dalam hadits,

MENYAMBUT KELAHIRAN BUAH HATI Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu. (HR. Muslim no. 1017) [2] Inilah di antara urgensi memberi nama yang baik. Waktu Terbaik dalam Pemberian Nama Mengenai waktu terbaik dalam pemberian nama dapat kita lihat dalam hadits-hadits berikut. Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Semalam telah lahir anakku dan kuberi nama seperti ayahku yaitu Ibrahim. (HR. Muslim no. 2315) Dari Abu Musa, ia mengatakan, - - . Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku." Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa. (HR. Bukhari no. 5467, 6198 dan Muslim no. 2145) Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, Dari hadits Abu Musa di atas, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Musa bersegera membawa bayinya yang baru lahir kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu ditahnik setelah diberi nama sebelumnya. Dalil ini menunjukkan bahwa bersegera dalam pemberian nama pada si buah hati itu lebih baik, dan tidak mesti menunggu pemberian nama pada hari ketujuh.[3] Al Baihaqi mengatakan, Hadits yang membicarakan pemberian nama pada si buah hati di hari kelahiran lebih shahih daripada hadits yang menunjukkan pemberian nama pada hari ketujuh.[4] Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Tasmiyatul Mawlud mengatakan, Terdapat dalam sunnah Nabi shalllallahu alaihi wa sallam bahwa pemberian nama itu ada tiga waktu: 1. Di hari kelahiran, 2. Sampai hari ketiga dari hari kelahiran, 3. Di hari ketujuh dari kelahiran, Perbedaan ini adalah perbedaan variatif dan dalam hal ini ada kelonggaran untuk memilih salah satunya.[5] A