komoditas pangan dan pertanian logam dan mineral komoditas energi minyak mentah, batu bara dan gas...

Download Komoditas Pangan dan Pertanian Logam dan Mineral Komoditas Energi Minyak Mentah, Batu Bara dan Gas Alam Komoditas Logam dan Mineral Tembaga, Nikel, Timah, Seng dan Bijih Besi Komoditas

Post on 06-Feb-2018

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Direktorat Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Februari 2017

    Komoditas Logam dan

    Mineral

    Komoditas Pangan dan

    Pertanian

    Komoditas Energi

  • 2

    Komoditas Energi

    Minyak Mentah, Batu Bara dan Gas Alam

    Komoditas Logam dan Mineral

    Tembaga, Nikel, Timah, Seng dan Bijih Besi

    Komoditas Pangan dan Pertanian

    Kakao, Kopi, Karet, Udang, Minyak Kelapa Sawit, Kedelai, dan Bubur Kertas

    DAFTAR ISI

    Harga Komoditas Internasional-Okt-16.ppt

  • 3

    PENGANTAR

    Harga sejumlah komoditas dunia perlahan-lahan mulai membaik, meski masih jauh di bawah masa keemasannya. Tren kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas energi seperti minyak mentah (crude oil). Departemen Energi AS atau U.S. Energy Information Administration (EIA), memprediksi harga minyak mengalami tren menanjak sampai dengan 2018. Peningkatan harga terutama didukung oleh peningkatan konsumsi dari 2016 sebesar 95,57 juta barel per hari (bph) menuju 97,2 juta bph pada 2017 dan 98,71 juta bph pada 2018. Adapun tingkat produksi pada 2016 sejumlah 96,45 juta bph mengembang tipis ke 97,53 juta bph dan 98,86 juta bph pada 2017 serta 2018. Harga minyak mentah mulai memanas sejak pertengahan tahun lalu yang didukung oleh rencana pemangkasan produksi OPEC pada awal 2017. Sementara harga batu bara dan gas alam mengalmi perlambatan yang dipicu oleh faktor fundamental, yakni persediaan yang melimpah sementara permintaan menurun serta berakhirnya musim dingin di sebagian wilayah membuat kenaikan harga gas alam terhenti.

    Dalam laporan bertajuk Commodity Markets Outlook Januari 2017, World Bank memperkirakan harga komoditas pertanian secara keseluruhan meningkat tipis kurang dari 1% (yoy) pada 2017. Kenaikan kecil terjadi pada minyak nabati, minyak biji-bijian, dan bahan baku, sedangkan harga biji-bijian turun hampir 3% (yoy) karena estimasi meningkatnya pasokan. Lonjakan harga juga terjadi pada komoditas mineral-logam, seperti aluminium, tembaga, dan seng, sementara timah, nikel, dan bijih besi sedikit terkoreksi. Pemulihan harga tersebut diyakini akan terus berlanjut dan mampu mendongkrak nilai ekspor Indonesia. Namun, di tengah tren kenaikan harga, pemerintah tidak harus mengendurkan program hilirisasi agar dapat memberikan nilai tambah pada komoditas primer serta mendorong transformasi industri.

    Kenaikan harga komoditas primer akan membawa berkah bagi Indonesia karena memang selama ini ekspor Indonesia masih berupa komoditas primer. Neraca perdagangan akan membaik dengan kenaikan harga komoditas itu. Namun demikian, kenaikan harga komoditas primer tersebut akan menjadi tantangan tersendiri bagi program hilirisasi yang sudah dicanangkan pemerintah.

    Pemerintah dan pengusaha berbasis komoditas harus komit bahwa hilirisasi merupakan strategi paling jitu untuk menciptakan perekonomian nasional yang berbasis sustainable. Margin atau keuntungan dari hilirisasi jauh lebih besar ketimbang mengekspor komoditas dalam bentuk mentah. Hilirisasi bukan saja menciptakan nilai tambah dari sisi produk, namun juga bisa menciptakan investasi baru dan menyerap banyak tenaga kerja di dalam negeri. Jadi meskipun harga komoditas sepertinya akan berlanjut, konsistensi pemerintah akan hilirisasi harus diutamakan*.

  • 4

    Perkembangan Harga Minyak Mentah ($/bbl) Januari 2017

    Harga minyak mentah menguat setelah Arab Saudi menyatakan akan memangkas produksi lebih dari yang dibutuhkan oleh kesepakatan OPEC. Departemen Energi AS atau U.S. Energy Information Administration (EIA) menyebutkan harga minyak mengalami tren menanjak sampai 2018. Peningkatan harga terutama didukung oleh peningkatan konsumsi dari 2016 sebesar 95,57 juta barel per hari (bph) menuju 97,2 juta bph pada 2017 dan 98,71 juta bph pada 2018. Adapun tingkat produksi pada 2016 sejumlah 96,45 juta bph mengembang tipis ke 97,53 juta bph dan 98,86 juta bph pada 2017 serta 2018. Sentimen lain yang mendonkrak harga minyak mentah adalah pasca-kabar sanksi pemerintah Amerika Serikat atas Iran.

    Sumber: LCMO Pink Sheet, World Bank

    Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Ags Sep Okt Nop Des Jan

    2016 2017

    Crude oil, average 29,8 31,0 37,3 40,8 45,9 47,7 44,1 44,9 45,0 49,3 45,3 52,6 53,6

    Crude oil, Brent 30,8 33,2 39,1 42,3 47,1 48,5 45,1 46,1 46,2 49,7 46,4 54,1 54,9

    Crude oil, Dubai 27,0 29,5 35,2 39,0 44,0 45,8 42,6 43,7 43,7 48,3 43,8 51,8 53,4

    Crude oil, WTI 31,5 30,4 37,8 41,0 46,7 48,8 44,7 44,8 45,2 49,9 45,6 52,0 52,5

    0,0

    10,0

    20,0

    30,0

    40,0

    50,0

    60,0

    Perkembangan Harga Minyak Mentah ($/bbl) Januari 2017

  • 5

    Harga minyak mentah mulai memanas sejak pertengahan tahun lalu yang didukung oleh rencana pemangkasan produksi OPEC pada awal 2017. Harga minyak mentah berpeluang mencapai level US$60 per barel pada kuartal I/2017 seiring dengan implementasi pemangkasan produksi sebesar 1,8 juta barel per hari. Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh level terendah dalam 12 tahun terakhir pada Februari 2016. Tren harga minyak semakin naik seiring dengan proses keseimbangan suplai dan permintaan. Pada pertengahan 2018 pasar menjadi lebih seimbang. Sementara itu, produksi AS pada 2016 turun sebesar 8,9 juta bph, atau turun 0,5 juta bph dari tahun sebelumnya. Secara bertahap, tingkat produksi kembali naik menuju 9 juta bph dan 9,3 juta bph pada 2017 serta 2018 (bisnis.com, Jumat 13/1/2017).

    Selain itu, sentimen naiknya harga minyak dipicu oleh adanya pemberitaan penjatuhan sanksi tambahan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap entitas Iran yang dapat memicu tekanan geopolitik antara kedua negara tersebut. Presiden AS Donald Trump mengenakan sanksi atas Iran setelah Negara Persia tersebut melakukan tes peluncuran misil balistik. Di mana saja ada berita terkait Teluk Persia, akan ada respons di pasar. Langkah AS untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Iran menjadi sesuatu yang mendukung sentimen para pedagang dalam jangaka pendek. Pergerakan harga minyak juga terpengaruh oleh data produksi OPEC. OPEC memproduksi 32,3 juta barel minyak per hari pada Januari. Survei Bloomberg menunjukkan 10 negara anggota OPEC telah mengimplementasikan 83% dari komitmen pemangkasan produksi. Namun, total produksi negara OPEC masih 550.000 barel per hari di atas target produksi karena peningkatan produksi minyak Iran, Nigeria, dan Libya (bisnis.com, 4/2/17).

    Perkembangan Harga Minyak Mentah ($/bbl) Januari 2017

    https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiN7cKIw9HPAhXJvI8KHUQFDGAQjRwIBw&url=http%3A%2F%2Fenergitoday.com%2F2012%2F12%2F76-barel-minyak-milik-chevron-tumpah-di-riau-nyaris-dicuri%2F&psig=AFQjCNGM-N_9_2nMiC_lOy05ONLvhhTd6Q&ust=1476233114825776

  • 6

    Perkembangan Harga Batu bara dan Gas Alam ($/mt) Januari 2017

    Harga batubara tergelincir mengiringi penurunan permintaan dari China dan kondisi ekonomi Eropa yang belum menentu turut memperburuk kinerja batubara di pasar komoditas dunia.

    Harga gas alam terkoreksi di sepanjang bulan Januari. Cuaca ekstrim yang mulai menghilang membuat permintaan gas alam berkurang. Sejak akhir tahun lalu, harga gas alam bergerak dalam tren melemah dan di bulan Januari, harga sudah terkoreksi hingga 15,3%.

    Sumber: LCMO Pink Sheet, World Bank

    Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Ags Sep Okt Nop Des Jan

    2016 2017

    Coal, Australian ($/mt) 49,8 50,7 52,2 50,8 51,2 53,4 63,1 67,4 72,9 93,2 100,0 86,6 84,1

    Natural gas, US ($/mmbtu) (RHS) 2,3 2,0 1,7 1,9 1,9 2,6 2,8 2,8 3,0 2,9 2,5 3,6 3,3

    84,1

    3,3

    0,0

    0,5

    1,0

    1,5

    2,0

    2,5

    3,0

    3,5

    4,0

    0,0

    20,0

    40,0

    60,0

    80,0

    100,0

    120,0

    Perkembangan Harga Batu Bara dan Gas Alam Januari 2017

  • 7

    Batu Bara

    Harga batubara mengalami tekanan di tengah tren kenaikan harga minyak global. Kebijakan China masih menjadi faktor utama yang menggerus laju harga komoditas ini;

    1) China telah meningkatkan jumlah hari untuk tambang dapat beroperasi per tahun. Sebelumnya China memangkas waktu kerja perusahaan batu bara mulai April 2016, dari 330 hari per tahun menjadi 276 hari per tahun. Hal tersebut dilakukan untuk mengendalikan lonjakan harga batubara serta meningkatkan produksi sehingga mencukupi pasokan pada musim dingin. Sejak bulan September, National Development and Reform Commission (NDRC) China secara bertahap memperluas jumlah tambang batubara yang dapat meningkatkan produksi.

    2) NDRC telah mengamankan kontrak jangka menengah hingga jangka panjang di antara pembangkit listrik dan penambang batubara. Kesepakatan terbaru di China Utara, di antara produsen dan pembangkit listrik untuk mengirim batubara thermal di harga 535 yuan (US$ 105) per metrik ton tahun 2017, jauh lebih rendah dari harga pasar di 750 yuan per ton. Hal tersebut mendorong harga batubara ke level yang lebih rendah, yang mendorong harga batubara ke level yang lebih rendah.

    3) Diketahui, pasar batubara terbesar adalah Asia yang mengkonsumsi sekitar 54% dari konsumsi batubara dunia. Permintaan batubara biasanya mencapai puncak di bulan Desember lantaran kenaikan permintaan di musim dingin. Tetapi permintaan akan kembali jatuh pada bulan Januari dan Februari karena aktivitas industri yang tutup menjelang libur musim semi (Kontan co.id, Rabu, 07 Desember 2016).

    https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiQ6IXyhNnPAhWJuI8KHRehCK8QjRwIBw&url=http%3A%2F%2Feconomy.okezone.com%2Fread%2F2012%2F08%2F30%2F19%2F682617%2Fharga-batu-bara-suram-arutmin-tekan-biaya-operasional&psig=AFQjCNFoIqwAPbM5CtEV62cFQ8NQ62i1Gg&ust=1476491307223802http://img.bisnis.c