isi laporan eldas (komponen alat ukur listrik)

Download Isi laporan Eldas (Komponen Alat ukur Listrik)

If you can't read please download the document

Post on 25-Jul-2015

600 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kata listrik (electricity) berasal dari kata Yunani electron yang berarti amber. Amber adalah damar pohon yang membatu dan orang zaman dahulu mengetahui bahwa jika anda menggosok batang amber dengan kain maka amber tersebut akan menarik daun-daun kecil atau debu. Efek amber ini kita sebut sekarang dengan nama listrik statis. Hal tersebut karena proses penggosokan dan dikatakan memiliki muatan listrik total. Berawal dari itu semua, pengembangan peradabab manuasiapun mulai berkembang. Peralatan-peralatan listrik yang kita nikmati sekarang bermula dari perangkat-perangkat kecil yang disebut dengan komponen listrik. Komponen listrik tersebut disatukan menjadi suatu rangkaian terpadu. Untuk lebih mengetahuai kegunaan dan cara kerja komponen-komponen listrik tersebut, diperlukan suatu kegiatan untuk mendalami ilmu Elektronika Dasar yang dikhususkan pada pokok bahasan Komponen dan Alat Ukur Listrik.

1.2 Ruang Lingkup Dalam penyusunan laporan praktikum Elektronika Dasar ini, praktikan membatasi pada pokok permasalahan komponen pasif (resistor, kapasitor, induktor, dioda) dan komponen aktif (transistor) serta alat ukur listrik (multimeter, osiloskop).

1.3 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Mampu menggunakan berbagai komponen listrik

1

2. Mampu menggunakan alat-alat ukur seperti multimeter untuk mengukur besaran-besaran elektronik yang diperlukan. 3. Mampu menggunakan osiloskop untuk berbagai pengukuran

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komponen Listrik Komponen pasif adalah komponen yang dapat berkerja tanpa adanya catu daya. Adapun komponen-komponen yang termasuk komponen pasif yaitu : 1. Resistor Resistor adalah komponen elektronik dua saluran yang didesain untuk menahan atau menagatur arus listrik dengan memproduksi penurunan tegangan diantara kedua salurannya sesuai dengan arus yang mengalirinya. Dengan resistor, listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Resistor dengan simbol R dan lambang merupakan komponen pasif yang

dibuat untuk mendapatkan hambatan tertentu. Agar dapat menggunakan resistor dengan baik kita perlu mengetahui beberapa hal seperti bahan pembuatnya, nilai hambatan, toleransi, lesapan daya, derau dan perilakunya pada frekuensi tinggi. berdasarkan hukum Ohm:

Ohm (simbol: ) adalah satuan SI untuk resistansi listrik, diambil dari nama Georg Simon Ohm. Biasanya digunakan prefix miliohm, kiloohm dan megaohm.

(a)

(b)

(c)

Gambar 1. (a) Bentuk fisik dari resitor, (b) Simbol Resistor < Eropa>, (c) Simbol Resistor

3

Resistor digunakan sebagai bagian dari jejaring elektronik dan sirkuit elektronik, dan merupakan salah satu komponen yang paling sering digunakan. Resistor dapat dibuat dari bermacam-macam kompon dan film, bahkan kawat resistansi (kawat yang dibuat dari paduan resistivitas tinggi seperti nikel-kromium). Karakteristik utama dari resistor adalah resistansinya dan daya listrik yang dapat diboroskan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, desah listrik, dan induktansi. Resistor dapat diintegrasikan kedalam sirkuit hibrida dan papan sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu. Ukuran dan letak kaki bergantung pada desain sirkuit, resistor harus cukup besar secara fisik agar tidak menjadi terlalu panas saat memboroskan daya. Rangkaian Resistor Rangkaian resistor digunakan untuk mendapatkan suatu nilai dari beberapa resistor. Rangkaian resistor terdiri dari rangkaian seridan rangkaian paralel. 1. Rangkaian Resistor Seri

Gambar 2. Rangkaian Resistor Seri

Resistor yang disusun seri selalu menghasilkan resistansi yang lebih besar. Pada rangkaian seri, arus yang mengalir pada setiap resistor sama besar. R1, R2, dan R3 disusun secara seri, resistansi dari gabungan R1, R2, dan R3 dapat diganti dengan satu resistor pengganti yaitu Rs. Resistor yang

4

dirangkai secara seri mempunyai nilai pengganti, yang besarnya dapat dirumuskan: Jika semua nilai R yang disusun sama, dapat ditulis: Rs = R1+ R2 + R3 + .... + Rn dengan n banyaknya R yang disusun. 2. Rangkaian Resistor Paralel

Gambar 2. Rangkaian Resistor Paralel

Resistor yang disusun secara paralel selalu menghasilkan resistansi yang lebih kecil. Pada rangkaian paralel arus akan terbagi pada masingmasing resistor pada masing-masing resestor, tetapi tegangan pada ujungujung resistor sama besar.Pada rangkaian fresestor disamping untuk R1, R2, dan R3 disusun secara paralel, resistansi dari gabungan R1, R2, dan R3 dapat diganti dengan satu resistor pengganti yaitu Rp. Resistor yang dirangkai secara paralel mempunyai nilai pengganti, yang besarnya dapat dirumuskan: 1/ Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + .... + 1/Rn Jika semua nilai R yang disusun sama besar, maka resistor penggantinya dapat ditulis: Rp = R / n dengan n banyaknya R yang disusun.

5

Jenis Resistor Berdasarkan nilainya resistor dapat dibagi dalam 3 jenis yaitu : 1. Fixed Resistor yaitu resistor yang niulai hambatannya tetap 2. Variabel Resistor yaitu resistor yang nilai hambatannya dapat diubahubah 3. Resistor non-linier yaitu resistor yang nilai hambatannya tidak linier karena pengaruh lingkungan misalnya suhu dan cahaya Fixed Resistor Hal-hal yang harus diperhatikan : Makin besar bentuk fisik resistor, makin besar pula daya resistor tersebut Semakin besar nilai daya resistor makin tinggi suhu yang bisa diterima resistor tersebut. Resistor bahan gulungan kawat pasti lebih besar bentuk dan nilai dayanya dibandingkan resistor dari bahan karbon.

Gambar 3. Bentuk fisik resistor tetap

Resistor Variabel Trimpot, yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat diubah dengan menggunakan obeng. Potensio, yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat diubah langsung mengunakan tangan (tanpa alat bantu) dengan cara memutar poros engkol atau mengeser kenop untuk potensio geser.

Gambar 4. Contoh bentuk fisik dari variable resistor jenis Trimpot

6

Gambar 5. Contoh Bentuk fisik dari variable resistor jenis Potensio

(a)

(b)

Gambar 6 Simbol Resistor variabel (a) untuk Amerika, Jepang (b) untuk Eropa

Resistor non-linier Bentuk fisik dari resistor non-linier yaitu :

(a)

(b)

(c)

Gambar 7. Bentuk fisik dan simbol dari resistor non-linier

Keterangan : (a) PTC : Positive Temperatur Coefisien adalah jenis resistor non linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu. Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin besar nilai hambatannya. (b) NTC : Negative Temperatur Coefisien adalah jenis resistor non linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu. Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin kecil nilai hambatannya. (c) LDR : Light Dependent Resistor adalah jenis resistor non linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan intensitas cahaya yang7

mengenainya. Makin besar intensitas cahaya yang mengenainya makin kecil nilai hambatannya.

Identifikasi warna pita

Warna Pita pertama Pita kedua Hitam 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Pita ketiga Pita keempat Pita kelima (pengali) (toleransi) (koefisien suhu) 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 10-1 10-2 5% (J) 10% (K) 20% (M) 0.5% (D) 0.25% (C) 0.1% (B) 0.05% (A) 1% (F) 2% (G) 100 ppm 50 ppm 15 ppm 25 ppm

Cokelat 1 Merah 2

Oranye 3 Kuning 4 Hijau Biru Ungu 5 6 7

Abu-abu 8 Putih Emas Perak Kosong 9

2.

Kapasitor Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung8

plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan elektrik ini "tersimpan" selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Kapasitansi Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung muatan elektron. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6.25 x 1018 elektron. Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs. Dengan rumus dapat ditulis :

Q = CV .(1) Q = muatan elektron dalam C (coulombs) C = nilai kapasitansi dalam F (farads) V = besar tegangan dalam V (volt)

Membaca Kapasitansi

Pada kapasitor yang berukuran besar, nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis

kapasitansinya sebesar 22uF/25v. Kapasitor yang ukuran fisiknya mungil dan kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Jika hanya ada dua angka satuannya adalah pF (pico farads). Sebagai contoh, kapasitor yang bertuliskan tersebut dua angka yaitu adalah 47, maka kapasitansi dari kapasitor bernilai 47 pF.

Jika ada 3 digit, angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal,9

sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya, berturut-turut 1 = 10, 2 = 100, 3 = 1.000, 4 = 10.000 dan seterusnya. Misalnya pada kapasitor keramik tertulis 104, maka

kapasitansinya adalah 10 x 10.000 = 100.000pF atau = 100nF. Contoh lain misalnya tertulis 222, artinya kapasitansi kapasitor tersebut adalah 22 x 100 = 2200 pF = 2.2 nF.

Ada dua tipe kapasitor, yaitu polar dan nonpolar/ bipolar. Perbedaan dari ked