bab ii konsep dasardigilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl...pengeluaran zat yang telah...

Click here to load reader

Post on 26-Apr-2018

215 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8

    BAB II

    KONSEP DASAR

    A. Konsep Keluarga

    1. Definisi Keluarga

    Menurut Depkes RI (1998), keluarga adalah unit terkecil dari

    masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang

    terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan

    saling ketergantungan. Menurut Friedmen (1998), keluarga adalah dua atau

    lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi

    pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi

    diri mereka sebagai bagian dari keluarga.

    2. Tipe / Bentuk keluarga (Murwani, 2007)

    a. Keluarga inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah,

    ibu, dan anak-anak.

    b. Keluarga Besar (Extended Family), adalah keluarga inti ditambah dengan

    satu saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman,

    bibi, dan sebagainya.

    c. Keluarga berantai (Serial Family), adalah keluarga yang terdiri dari

    wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu

    keluarga inti.

    d. Keluarga duda/janda (Single Family), adalah keluarga yang terjadi kerena

    perceraian atau kematian.

    8

  • 9

    e. Keluarga berkomposisi (Composite Family), adalah keluarga

    perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.

    f. Keluarga kabitas (Cahabitation Family), adalah dua orang menjadi satu

    tanpa pernikahan tempi membentuk satu keluarga.

    3. Tugas Keluarga

    Menurut Murwani (2007) ada lima tugas keluarga dalam bidang

    kesehatan, yaitu mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap

    anggotanya, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat,

    memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit dan yang tidak

    dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang tertalu muda,

    mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan

    perkembangan kepribadian anggota keluarga, mempertahankan hubungan

    timbai balik antara keluarga dan lembaga kesehatan yang menunjukkan

    pemanfaatan dengan baik fasilitas kesehatan yang ada.

    Pada dasarnya ada delapan tugas pokok keluarga, yaitu:

    pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya, pemeliharaan sumber-

    sumber daya yang ada dalam keluarga, pembagian tugas masing-masing

    anggotanya sesuai kedudukan masing-masing, sosialisasi antar anggota

    keluarga, pengaturan jumlah anggota keluarga, pemeliharaan ketertiban

    anggota keluarga, penempatan anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih

    luas, dan membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga.

  • 10

    4. Peran Keluarga

    a. Peran Formal Keluarga

    1) Peran Parental

    Peran parental adalah peran dasar yang membentuk posisi

    sosial, yaitu suami sebagai ayah dan istri sebagai ibu. Menurut

    Murwani (2006) ada delapan peran parental. Peran peran tersebut

    yaitu: peran sebagai provider (penyedia), peran sebagai pengatur

    rumah tangga, peran perawatan anak, peran sosialisasi anak, peran

    rekreasi, peran persaudaraan (kinship) atau peran memelihara

    hubungan keluarga paternal dan maternal, peran terapeutik

    (memenuhi kebutuhan afektif pasangan), dan peran seksual.

    2) Peran perkawinan

    Kebutuhan bagi pasangan memelihara suatu hubungan

    perkawinan yang kokoh itu sangat penting. Anak-anak terutama dapat

    mempengaruhi hubungan perkawinan, menciptakan situasi dimana

    suami dan istri membentuk suatu koalisi dengan anak. Memelihara

    suatu hubungan perkawinan yang memuaskan merupakan salah satu

    tugas perkembangan yang vital dari keluarga.

    3) Peran informal

    a) Pengharmonis: menengahi perbedaan yang terdapat diantara para

    anggota, menghibur dan menyatukan kembali perbedaan

    pendapat.

    b) Inisiator-kontributor: mengemukakan dan mengajukan ide-ide

  • 11

    baru atau cara-cara mengingat masalah-masalah atau tujuan-tujuan

    kelompok.

    c) Pendamai (compromiser): merupakan salah satu bagian dari

    konflik dan ketidaksepakatan, pendamai menyatakan kesalahan

    posisi dan mengakui kesalahannya, atau menawarkan

    penyelesaian setengah jalan.

    d) Perawat keluarga: orang yang terpanggil untuk merawat dan

    mengasuh anggota keluarga lain yang membutuhkannya.

    e) Koordinator keluarga: mengorganisasi dan merencanakan

    kegiatan-kegiatan keluarga, berfungsi - mengangkat keterikatan /

    keakraban

    5. Fungsi Keluarga (Murwani, 2007)

    a. Fungsi biologis

    Tugas keluarga secara biologis adalah untuk meneruskan keturunan,

    memelihara dan membesarkan anak , memenuhi kebutuhan gizi keluarga,

    memelihara dan merawat anggota keluarga.

    b. Fungsi Psikologis

    Sedangakan keluarga secara psikologis berfungsi untuk memberikan

    kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian diantara anggota

    keluarga, memelihara dan merawat anggota keluarga, serta memberikan

    identitas keluarga.

    c. Fungsi Sosialisasi

    Fungsi keluarga dalam hal ini adalah membina sosialisasi pada anak,

  • 12

    membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat

    perkembangan anak, dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

    d. Fungsi Ekonomi

    1) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk pemenuhan kebutuhan

    keluarga.

    2) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi

    kebutuhan keluarga.

    3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang

    misalnya pendidikan anak, jaminan hari tua dan sebagainya.

    e. Fungsi pendidikan

    1) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan,

    dan membentuk prilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang

    dimilikinya.

    2) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang

    dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.

    3) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya

    f. Fungsi perlindungan

    Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan-

    tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung

    dan merasa aman.

    g. Fungsi perasaan

    Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif, merasakan

    perasaan anak dan anggota keluarga sehingga saling pengertian satu sama

  • 13

    lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.

    h. Fungsi religius

    Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak

    anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan

    tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada kekuatan

    lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia

    i. Fungsi rekreatif

    Tugas keluarga dalam fungsi rekreatif ini tidak selalu harus pergi ke

    tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana

    yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat mencapai

    keseimbangan kepribadian masing-masing anggotanya.

    6. Keperawatan kesehatan keluarga

    a. Definisi

    Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan

    masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit

    atau kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan melalui

    perawatan sebagai saran / penyalur (Murwani, 2007).

    b. Alasan Keluarga sebagai unit pelayanan.

    1) Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga

    yang menyangkut kehidupan masyarakat.

    2) Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah,

    mengabaikan atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam

    kelompoknya.

  • 14

    3) Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, dan

    apabila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan

    akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.

    4) Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu

    (Pasien), keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam

    memelihara kesehatan para anggotanya.

    5) Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk

    berbagai upaya kesehatan masyarakat.

    B. Konsep Penyakit

    1. Pengertian

    Tifus Abdominalis adalah infeksi akut yang biasanya mengenai

    saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, dan

    gangguan kesadaran (Nursalam, 2005). Sedangkan menurut Hidayat (2006)

    Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang

    disebabkan oleh salmonella thypii, yang dapat ditularkan melalui makanan,

    mulut atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella thypii.

    Demam thypoid adalah suatu penyakit sistemik bersifat akut yang

    disebabkan oleh Salmonella Typhi yang ditandai dengan panas

    berkepanjangan, ditopang dengan bakterimia tanpa keterlibatan struktur

    endokardial atau endotelial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam

    sel fagosit mononuklear dari hati, limfa, dan kelenjar usus (Ikatan Dokter

    Anak Indonesia, 2008) sedangkan menurut Nelson (1999) demam enterik

  • 15

    adalah sindrom klinis sitemik yang dihasilkan oleh organisme salmonella

    tertentu. Istilah ini mencakup istilah demam yang disebabkan oleh

    Salmonella Thyphi.

    Typhus abdominalis (demam enterik, enteric fever adalah penyakit

    infeksi akut yang mengenai saluran pencernaan dengan gejalademam lebih

    dari satu minggu, dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 2003).

    Thyphus abdominalis adalah suatu penyakit infeksi akut yang

    disebabkan oleh kuman salmonella thyphosa terjadi pada usus halus dengan

    gejala demam satu minggu atau lebih disertai dengan gangguan pada saluran

    pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

  • 16

    2. Anatomi Sistem Pencernaan

    Gambar 2.1 Strutur Pencernaan

  • 17

    Usus halus merupakan tabung kompleks, berlipat-lipat yang

    membentang dari pilorus sampai kutub ileosekal. Pada orang hidup panjang

    usus halus sekitar 2,5 meter. Usus ini mengisi bagian tengah dan daerah

    rongga abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekiatar 3,8 cm, tetapi

    semakin kebawah lambat laun garis tengahnya semakin mengecil berkurang

    sampai menjadi 2,5 cm, usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum dan

    ileum.

    Duodenum panjangnya sekitar 25 cm, mulai dan pilorus sampai

    jejenum, kira-kira dan sisa usus halus adalah jejenum, dan tiga perlima bagian

    terminalnya adalah ileum. Jejenum terletak di regio abdominalis media

    sebelah kiri, sedangkan ileum cenderung terletak di regio bawah kanan.

    Masuknya kimus ke dalam usus halus diatur oleh sfingter pilorus, sedangkan

    pengeluaran zat yang telah dicernakan ke dalam usus besar diatur oleh katup

    ileoksekal. Katup ileosekal juga mencegah refluks isi usus besar ke dalam

    usus halus.

    Dinding usus halus terdiri dan 4 lapisan dasar. Yang paling luar, atau

    lapisa serosa, dibentuk oleh peritoneum. Paritoneum mempunyai lapisa

    viseral dan pariteral, dan ruang terletak diantara lapisan lapisan ini dinamakan

    rongga peritoneum. Salah satu fungsi penting peritoneum adalah mencegah

    pergesekan antara organ-organ yang berdekatan, dengan mensekresikan

    cairan serosa yang berperan sebagai pelumas.

    Otot yang meliputi usus halus mempunyai dua lapisan yaitu serabut

    luar terdiri atas serabut-serabut longitudinal yang lebih tipis, dan lapisan

  • 18

    dalam berupa serabut serabut sirkuler. Lapisan submukosa terdiri atas

    jaringan penyambung, sedangkan lapisan mukosa bagian dalam tebal, banyak

    mengandung pembuluh darah dan kelenjar.

    Usus halus dipersarafi oleh cabang-cabang kedua sistem saraf otonom.

    Rangsangan parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan pergerakan,

    sedangkan rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. Suplai saraf

    intrinsik, yang menimbulkan fungsi motorik, berjalan melalui pleksus

    auerbach yang terletak pada lapisan muskaluris, dan pleksus meissner

    dilapisan submukrosa (Sylvia, 2006)

    Pada penyakit tifus abdominalis kuman salmonela typhi menyerang

    usus halus yang ditandai dengan peradangan usus halus. Peradangan pada

    usus halus dapat mengenai salah satu atau semua lapisan gastro intestinal.

    Kelainan ini terutama mengenai lapisan mukosa usus halus. Peradangan pada

    penyakit ini timbul sebagai lesi-lesi granulomatasa berbatas tegas dengan

    pola terpisah-pisah di selruh bagian usus yang terkena. Pada peradangan

    kronik, timbul jaringan ikat dan fibrosis sehingga usus menjadi kaku atau

    tidak fleksibel. Apabila fibrosis terjadi di usus halus, maka penyerapan zat-

    zat gizi akan terganggu (Sarwono, 1999: 436, Price, 2005: 289-391).

    3. Fisiologi Sistem Pencernaan

    Makanan masuk ke dalam mulut dan dihancurkan oleh gigi.

    Penglihatan, penghidupan dan pengecap makanan mencetuskan saliva oleh

    reflek saraf. Seliva melumaskan makanan dan memungkinkan makanan untuk

    diubah menjadi massa yang lunak, atau bolus. Sebagian makanan

  • 19

    dihancurkan kemudian dapat lebih menstimulasi reseptor-reseptor pengecap.

    Selain fungsi ini saliva juga mengandung enzim ptialin yang memulai

    pemecahan karbohidrat menjadi gula sederhana. Saliva disekresi oleh 3

    kelenjar utama: Kelenjar parotis yang menghasilkan saliva yang bayak

    mengandung air. Kelenjar sublingual dan kelenjar submandibular yang

    menghasilkan saliva berair dan berlendir.

    Menelan dimulai sebagai kerja volunter yang kemudian bergabung

    berlahan menjadi reflek ivolunter. Menelan terjadi dalam tiga tahapan :

    a. Tahap bukal

    Makanan dikumpulkan di permukaan atas lidah sebagai bolus

    yang lembab, kemudian lidah menekan ke langit-langit keras mendorong

    bolus ke arah belakang.langit-langit lunak terangkat untuk mencegah

    makanan masuk ke dalam hidung, dan bolus didorong ke dalam faring

    b. Tahap Faringeal

    Laring tertarik ke atas dibawah dasar lidah, inlet laringeal

    berkontraksi dan epiglotis melipat menutupi laring untuk mencegah

    makanan menutupi trachea. Sfingter krikofaringeal antara faring dan

    esophagus biasany tertutup untuk mencegah udara tertarik ke dalam

    esophagus selama pernapasan tetapi sfingter ini berelaksasi ketika bolus

    mencapai sfingter otot-otot faring kemudian mendorong boluskedalam

    esophagus bagien atas.

    c. Tahap esophagus

    Gelombang peristaltic membawa bolus makanan terus kebawah ke

  • 20

    dalam lambung.

    Absorbsi di dalam lambung sangat terbatas tetapi glukosa dan alkohol

    diabsorbsi sangat baik. Di dalam lambung makanan diubah oleh berbagai

    bentuk sekresi dari kelenjar lambung menjadi cairan seperti susu yang disebut

    kimus, yang cocok untuk dapat melewati usus halus. Fundus dan korpus

    lambung mempunyai kelenjar berduktus pendek dan asini panjang. Kelenjar

    ini dilapisi oleh sel-sel petric yang mensekresi pepsinogen suatu enzim yang

    diubah menjadi pepsin dan dengan demikian dimulailah proses pemecahan

    protein.

    Sel-sel oksintik yang mensekresi gas hidroklonik dan menghasilkan

    gas. Berkonsentrasi tinggi di dalam lambung. Keasaman yang tinggi dapat

    mengubah pepsinogen menjadi pepsin. Mensterilkan makanan membuat

    kalsium dan zat besi cocokuntuk diserap. Di dalam antrum lambung kelenjar

    mempunyai duktus yang panjang dan asini yang pendek berpilin kelenjar ini

    menghasilkan mukus bersifat bastra dan gastrin. Hormon yang berguna yang

    mengontrol sekresi asam. Kimus memasuki duodenum melaliu pilorus

    dicampur oleh sekresi dinding duodenum, empedu dan getah pankreas.

    Sekresi duodenum dari kelenjar mukosa dan dari kelenjar submukosa yang

    mengandung bikarbonat dan bersifat basa, sehingga membantu menetralkan

    kimus yang asam. Adanya makanan dalam duodenum menyebabkan kandung

    empedu berkontraksi dan mengeluarkan empedu ke duktus sistikus dan

    duktus empedu melalui ampula pada duodenum dan jejunum, mukosa

    terbenam di dalam lipatan-lipatan dan fili panjang dan sangat rapat.

  • 21

    Mengarah ke ileum, lapisan mukosa lebih sedikit lipatannya dan dindingnya

    lebih tipis dan filinya lebih pendek dan lebih panjang.

    Pada sel-sel yang melapisi viii terjadi hal-hal berikut :

    a. Protease

    Memecahkan peptida menjadi asam amino yang diserap melalui kapiler-

    kapiler ke dalam aliran darah.

    b. Lactase

    Lactase, sucrose memecahkan disakarida menjadi monosakarida

    (terutama glukosa) yang diserap melalui kapiler-kapiler ke dalam aliran

    darah.

    c. Lipase

    Bekerja pada pemecahan lemak untuk membentuk :

    1) Asam-asam lemak sederhana dan gliseral yang diserap melalui

    kapilerkapiler ke dalam aliran darah.

    2) Asam-asam lemak rantai panjang dan gliseral yang bergabung

    kembali untuk membentuk lemak trigliserida dan melewati ke dalam

    lacteal limfatik sebagai droplet yang sangat halus (kilomikron)

    bersamaan dengan vitamin A dan D yang larut dalam lemak.

    d. Garam-garam empedu yang direabsorbsi dalam ilium bagian bawah.

    e. Vitamin-vitamin larut dalam air diserap langsung ke dalam aliran darah.

    f. Zat besi diserap terutama dalam duodenum bagian atas.

    g. Vitamin B12 (berikatan dengan faktor-fator intrinsik) diserap pada ileum

    bagian bawah.

  • 22

    Semua pencernaan dan penyerapan yang penting terjadi di dalam usus

    halus baik lambung maupun usus besar dapat diangkat seluruhnya tanpa

    menyebabkan dampak yang serius kira-kira sampai sepertiga usus halus dapat

    diangkat tanpa memberikan efek pada pencernaan dan daya tahan hidup

    masih dapat dimungkinkan dengan kira-kira satu meter usus halus ke dalam

    keadaan utuh.

    Kimus bergerak dan ileum menuju sekum melalui katup ileo-sekal,

    lipatan mukosa dalam cekum yang cenderung mencegah aliran balik kimus 5

    cm terakhir ileum bekerja sebagai sfingter. Sfingter ini biasanya berkontraksi

    pengisian lambung membuat sfingter ini relaksasi dan isi ileum masuk ke

    dalam sekum. Reflek gastrokolik ini sering berkaitan dengan gerakan masa.

    Gerakan masa adalah gerakan cepat tiba-tiba dan peristaltik dimulai dalam

    kolon tengah. Gerakan ini menggerakkan isi usus besar ke dalam kolon

    bawah atau bahkan ke rektum.

    Rektum normalnya kosong dari feses tetapi ketika feses melewati

    rektum akibat distensi dari dinding rektum membangkitkan sensasi

    kesadaran. Keputusan volunter kemudian dibuat apakah untuk membiarkan

    reflek defekasi dengan merelaksasi sfingter ani eksternal.

    Defekasi disertai dengan kontraksi peristaltik kuat dari kolon

    desenden dan kolon relvis dan rektum, kontraksi otot abdomen meningkatkan

    tekanan intra abdomen (Evelyn, 2006).

    4. Etiologi

    Menurut Mansjoer (1999) etiologi demam thypoid dan demam

  • 23

    parathypoid adalah salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella

    paratyphi B, salmonella paratyphi C. Salmonella typhosa merupakan basil

    gram negatif yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora. Bakteri

    tersebut mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu antigen

    O, H, dan Vi.

    Antigen O (Ohne Hauch) yaitu somatic antigen (tidak menyebar) yang

    terdiri dari zat kompleks lipopolisakarida. Sedangkan antigen H

    (Hauch/menyebar) yaitu antigen terdapat pada flagella. Adapun antigen Vi

    merupakan polisakarida kapsul verilen. Ketiga jenis antigen tersebut di dalam

    tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga macam antibody yang

    lazim disebut aglutinin.

    5. Patofisiologi

    Penyakit typhoid disebabkan oleh kuman salmonella typhi, salmonella

    paratyphi A, Salmonella paratyphi B, Salmonella paratyphi C, yang masuk ke

    dalam tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar.

    Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan terjadi peningkatan

    produksi asam lambung yang menimbulkan perasan yang tidak enak di perut

    mual muntah, anoreksia, dan mengakibatkan terjadi iritasi mukosa lambung

    sebagian lagi masuk ke dalam usus halus sehingga terjadi infeksi yang

    merangsang peristaltik usus sehingga menimbulkan diare atau konstipasi

    selain itu kuman mencapai jaringan limfoid plaque penyeri diellium

    terminalis yang mengalami hipertropi.

    Di tempat ini terjadi komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal

  • 24

    dapat terjadi. Kuman salmonella kemudian menembus ke lamina propia,

    masuk kealiran limfe dan mencapai kalenjar limfe mesentrial, yang juga

    mengalami hipertropi. Selanjutnya kuman salmonella typhi ke aliran darah

    melalui duktus toracikus kuman salmonella typhi lain mencapai hati melalui

    sirkulasi portal dari usus. Salmonella typhi bersarang di plague peyeri, limpa

    hati, dan bagian-bagian lain system retikuloendotelia.

    Endotoksi salmonella typhi membatu terjadiya proses inflamasi lokal

    pada jaringan tempat salmonella typhi berkembang biak. Namun pada typhi

    disebabkan karena salmonella typhi dan endotoksinya merangsang sintesis

    dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang dalam

    perkembangbiakan kuman dapat mengakibatkan hipertropi splenomegali

    terjadi penekanan pada usus menyebabkan nyeri (Silvia,2005).

    6. Manifestasi Klinik

    Manifestasi klinik demam typoid pada anak biasanya lebih ringan

    daripada orang dewasa. Masa tunas: 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika

    infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan jika melalui minuman yang

    terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal,

    yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala., pusing dan tidak

    bersemangat, nafsu makan kurang. Menyusul manifestasi klinik yang biasa

    ditemukan ialah :

    a. Demam

    Pada kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu, bersifat

    febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu

  • 25

    tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari

    dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua

    pasien terus berada dalam keadaan demam; pada minggu ketiga suhu

    berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.

    b. Gangguan pada saluran pencernaan

    Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan

    pecah-pecah. Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung

    dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen ditemukan

    keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai

    nyeri perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare

    atau normal.

    c. Gangguan kesadaran

    Umumnya kesadaran pasien menurun walapun tidak berapa

    dalam, yaitu apatis sampai somnolen, jarang sopora koma atau gelisah

    (kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan pengobatan). Di

    samping gejala-gejala tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. Pada

    punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola, yaitu bintik-bintik

    kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan

    pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar (Ngastiyah, 2003).

    7. Komplikasi

    Dapat terjadi :

    a. Pada usus halus

    1) Pendarahan usus

  • 26

    Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja

    dengan benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi melena, dapat

    disertai nyeri perut dengan tanda-tanda ranjatan.

    2) Perforasi usus

    Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan

    terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai

    peritontis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga

    peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara

    hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam

    mengadakan tegak.

    3) Peritonitis

    Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa

    perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, nyeri perut yang

    hebat, dinding abdomen tegang (defense muscular) dan nyeri tekan.

    b. Di luar usus

    Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia),

    yaitu meningtis, kolesistitis, ensefolopati. Terjadi karena infeksi sekunder

    yaitu bronkopneumonia (Ngastiyah, 2003).

    8. Penatalaksanaan

    Pengobatan demam thypoid terdiri atas 3 bagian yaitu:

    a. Perawatan

    Pasien demam thypoid perlu dirawat secara profesional dan

    diharuskan tirah baring secara total. Hal ini bertujuan untuk mencegah

  • 27

    komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti

    makan, minum, mandi, buang air kecil, dan buang air besar akan

    membantu dan mempercepat masa penyembuhan. Dalamm perawatan

    perlu sekali dijaga kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perlengkapan

    yang dipakai. Posisi pasien perlu diawasi untuk mencegah dekubitus dan

    pneumonia ortostatik serta higiene perorangan tetap perlu diperhatikan

    dan dijaga (Widodo, 2006).

    b. Diet

    Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi

    protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak

    merangsang dan tidak menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Bila

    kesadaran menurun diberikan makanan cair melalui sonde lambung. Jika

    kesadaran dan nafsu makan baik dapat juga diberikan makanan lunak.

    c. Obat

    Obat-obat anti mikroba yang sering dipergunakan ialah:

    1) Kloramfenikol

    Belum ada obat anti mikroba yang dapat menurunkan demam

    lebih cepat dibandingkan dengan kloramfenikol. Dosis untuk orang

    dewasa 4x.500 mg sehari oral atau intravena sampai 7 hari bebas

    demam. Dengan penggunan kloramfenikol, demam pada demam

    tifoid turun rata-rata setelah 5 hari.

    2) Tiamfenikol

    Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada demam thypid sama

  • 28

    dengan kloramfenikol komplikasi pada hematologis pada penggunan

    tiamfenikol lebih jarang dari pada kloramfenikol. Dengan tiamfemikol

    demam pada demam tifoid akan turun sekitar 5-6 hari.

    3) Ko-trimoksazol (kombinasi dan sulfamitoksasol)

    Dosis untuk orang dewasa adalah 2 kali 2 tablet sehari,

    digunakan sampai 7 hari bebas demam (1 tablet mengandung 80 mg

    trimitropin dan 400 mg sulfametoksazol). Dengan kontrimoksazol

    demam pada demam tifoid akan turun sekitar 5-6 hari.

    4) Ampicillin dan Amoksisilin

    Indikasi mutlak pengunaannya adalah pasien demam thypid

    dengan leokopenia. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 75-150

    mg/kg berat badan sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam.

    Dengan ampicillin dan amoksisilin demam pada demam tifoid akan

    turun sekitar 7-9 hari.

    5) Sefalosforin generasi ketiga

    Beberapa uji klinis menunjukan bahwa sefalosporin generasi

    ketiga antara lain sefiperazon, seftriakson dan cefotaksim. Obat anti

    mikroba ini sangat efektif untuk demam thypoid, tetapi lama

    pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.

    6) Fluorokinolon

    Fluorokinolon efektif untuk demam thypoid, tetapi dosis dan lama

    pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.

  • 29

    Obat-obat Simtomatik:

    1) Antipiretika

    Antipiretika tidak perlu diberikan secara rutin pada setiap pasien

    demam thypoid, karena tidak dapat berguna.

    2) Kortikosteroid

    Pasien yang toksik dapat diberikan kortikosteroid oral atau

    parenteral dalam dosis yang menurun secara bertahap (Tapering off)

    selama 5 hari. Hasilnya biasanya sangat memuaskan, kesadaran

    pasien menjadi jernih dan suhu badan cepat turun sampai normal.

    Akan tetapi kortikosteroid tidak boleh diberikan tanpa indikasi, karena

    dapat menyebabkan perdarahan intestinal dan relaps.

    9. Pengkajian Fokus

    a. Biodata Keluarga

    Fokus pengkajian untuk Biodata keluarga berkaitan dengan umur,

    jenis kelamin, dan jumlah anggota keluarga yang ada pada keluarga.

    Umur sangat berkaitan dengan kejadian thypoid yaitu pada usia 3-19

    tahun. Dan thypoid juga lebih sering menyerang anak-anak usia sekolah

    dasar, ini dikarenakan mereka lebih suka jajan yang belum tentu bersih

    dalam pengolahan bahan makanan, dari pada makan di rumah. Anak usia

    sekolah rata-rata tidak tahu penyebab dari penyakit thypoid abdominalis,

    ini diperburuk dengan para orang tua tidak memperhatikan pola jajan dari

    anak-anak mereka.

  • 30

    b. Riwayat Keluarga

    Thypoid bisa disebabkan karena adanya riwayat keluarga yang

    pernah menderita penyakit thypoid. Mengingat penularan salmonella

    thypi salah satunya adalah pasien dengan carier orang yang sembuh dari

    demam thypoid dan terus mengekspres salmnella thypi dalam tinja dan air

    kemih selama lebih dari satu tahun.

    c. Karakteristik Lingkungan

    Lingkungan sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya

    Thypoid. Lingkungan yang kotor akan beresiko tinggi untuk terkena

    penyakit thypoid.

    d. Fungsi Perawatan Kesehatan

    Pada keluarga yang pernah menderita thypoid perawatan

    kesehatan perlu dilakukan seperti mengatur diitnya yaitu jangan makan

    yang keras-keras, pedas dan masam. Pada keluarga Tn. L jika sakit selalu

    periksa ke Puskesmas atau ke pelayanan kesehatan terdekat

    10. Proses Keperawatan Keluarga

    Proses keperawatan keluarga adalah metode ilmiah yang digunakan

    secara sistematis untuk mengkaji dan menentukan masalah kesehatan dan

    keperawatan keluarga. Hal ini juga digunakan untuk merencanakan asuhan

    keperawatan dan melaksanakan intervensi keperawatan terhadap keluarga

    sesuai dengan rencana yang telah disusun dan mengevaluasi mutu yang telah

    dilaksanakan terhadap keluarga (Friedman, 1998).

  • 31

    a. Pengkajian Keluarga

    Friedman (1998) membagi proses pengkajian keperawatan

    keluarga ke dalam beberapa tahap. Tahap-tahap tresebut meliputi

    identifikasi data, tahap dan riwayat perkembangan, data lingkungan,

    struktur keluarga, fungsi keluarga dan koping keluarga.

    b. Mengidentifikasi Data

    Menurut Friedman (1998) data-data dasar yang digunakan oleh

    perawat untuk mengukur keadaan pasien dengan memakai norma

    kesehatan keluarga maupun sosial yang merupakan sistem integrasi dan

    kesanggupan untuk mengatasinya. Pengumpulan data pada keluarga

    dengan Thypoid difokuskan pada komponen-komponen yang berkaitan

    dengan Thypoid.

    c. Data Identitas

    1) Usia

    Usia sangat berkaitan dengan kejadian thypoid yaitu pada usia

    3-19 tahun. Dan thypoid juga lebih sering menyerang anak-anak usia

    sekolah dasar, ini dikarenakan mereka lebih suka jajan yang belum

    tentu bersih dalam pengolahan bahan makanan, dari pada makan

    dirumah. Anak usia sekolah rata-rata tidak tahu penyebab dari

    penyakit thypoid abdominalis, ini diperburuk dengan para orang tua

    tidak memperhatikan pola jajan dari anak-anak mereka.

    2) Jenis Kelamin

    Pada pria lebih bresiko terkena penyakit thypoid ataupun

  • 32

    terpapar dengan kuman salmonella typhi dibandingkan wanita. Hal

    dini dikarenakan aktivitas pria di luar rumah lebih banyak daripada

    wanita. (Artikel mahasiswa Fak.kedokteran UH, 2005, 5, google.com,

    diakses tanggal 10 mei 2008).

    3) Lingkungan

    Penyakit thypoid merebak di daerah yang kebersihan

    lingkungannya kurang diperhatikan, misalnya saja di daerah yang

    kumuh atau kotor dan banyak lalat. Banyaknya lalat di daerah yang

    kumuh akan menjadi perantara pindahnya kuman ke manusia, dimana

    penyebaran salmonella thypi ini melalui muntahan, urine, dan kotoran

    dari penderita yang kemudian terbawa oleh lalat, lalat itu

    megontaminasi makanan, minuman, sayuran maupun buah-buahan

    yang terbuka, sehingga orang yang mengkonsumsi makanan yang

    terkontaminasi dengan kuman salmonella thypi akan beresiko terkena

    penyakit thypoid. (Artikel mahasiswa Fak.kedokteran UH, 2005,6,

    google.com, diakses tanggal 10 mei 2008).

    4) Pekerjaan

    Orang yang bekerja pada lingkungan yang kumuh dan kotor

    lebih beresiko terkena penyakit thypoid. Misalnya, pemulung lebih

    beresiko daripada pegawai kantor.

    5) Pendidikan

    Tingkat pendidikan mempengaruhi fungsi kognitif. Hal ini

    karena dengan pendidikan yang rendah, daya ingat klien, afektif dan

  • 33

    psikomotorik dalam pengelolaan penderita thypoid mereka tidak

    mengenal tentang thypoid dan akibat serta pentingnya fasilitas

    kesehatan.

    6) Hubungan (genogram).

    Dalam anggota keluarga penularan kuman salmonella thypi

    melalui 2 sumber yaitu adanya anggota keluarga yang saat itu sedang

    menderita penyakit thypoid dan adanya anggota keluarga dengan

    caller. Caller yaitu orang yang sembuh dari penyakit thypoid dan terus

    mengeksresi salmonella thypi, tinja dan air kemih selama lebih dari

    satu tahun. (Artikel mahasiswa Fak. Kedokteran UH, 2005, 8,

    google.com, diakses tanggal 10 mei 2008).

    7) Kebiasaan.

    Kebiasaan yang paling berpengaruh pada proses terjadinya

    penyakit thypoid yaitu hygiene personal yang kurang. Kebiasaan tidak

    mencuci tangan sebelum makan ataupun kebiasaan memelihara kuku

    yang panjang akan mempermudah masuknya kuman kedalam tubuh.

    (Artikel mahasiswa Fak.kedokteran UH, 2005, 10, google.com,

    diakses tanggal 10 mei 2008).

    1) Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

    a) Tahap Perkembangan Keluarga

    Tahap perkembangan keluarga yang beresiko mengalami

    masalah thypoid adalah tahap perkembangan keluarga dengan

    anak usia sekolah. Pada face ini umumnya keluarga mencapai

  • 34

    jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat

    sibuk dan kurang memperhatikan pola jajan dari anak mereka.

    Dimana dalam pengolahan bahan makanan tersebut belum tentu

    bersih dari pada makan dirumah. Anak usia sekolah rata-rata tidak

    tahu penyebab dari penyakit thypoid.

    b) Riwayat Kesehatan Keluarga

    Thypoid tidak ada kaitannya dengan penyakit yang lain

    misalnya penyakit hipertensi, DM, dan lain-lain. Kaitan penyakit

    thypoid adalah dengan lingkungan (lingkungan yang kotor dan

    kumuh). Meskipun thypoid adalah penyakit menular, namun

    penularan penyakit thypoid yaitu melalui carier atau orang yang

    sembuh dari penyakit thypoid dan masih mengekskresi salmonella

    thypii dalam kemih selama lebih dari satu tahun.

    2) Data Lingkungan

    a) Kondisi Rumah atau Karakteristik Rumah

    Penataan perabot rumah yang kurang diperhatikan atau

    tidak teratur seperti tempat makanan dan tempat sampah yang

    dibiarkan terbuka akan meningkatkan resiko terjadinya penyakit

    thypoid, karena penyakit thypoid sering terjadi pada daerah yang

    kebersihan lingkungannya kurang diperhatikan misalnya saja di

    lingkungan yang kumuh dan kotor serta banyak lalat.

  • 35

    b) Karakteristik Lingkungan dan Komunitas, menjelaskan tentang

    karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat

    (1) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

    menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk

    berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh

    mana keluarga berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.

    (2) Sistem pendukung

    Pengelolaan pasien post opname thypoid di keluarga sangat

    membutuhkan peran aktif seluruh anggota keluarga dan

    petugas dari pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat.

    Semuanya berperan dalam pemberian edukasi, motivasi dan

    mengontrol perkembangan kesehatan anggota keluarga yang

    habis menderita penyakit thypoid.

    3) Struktur Keluarga

    a) Pola Komunikasi

    Adanya komunikasi yang terbuka antara keluarga sangat

    berpengaruh terhadap kesembuhan penyakitnya, karena dengan

    komunikasi yang terbuka dapat mengetahui masalah kesehatan

    keluarga secara dini.

    b) Struktur Pengambilan Keputusan

    Kekuasaan dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap

    pengambilan keputusan yang tepat untuk merawat anggota

    keluarga yang sakit, karena pengambilan keputusan yang tepat

  • 36

    dapat mencegah komplikasi yang lebih lanjut.

    c) Peran

    Peran kepala keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan

    keluarga terutama dalam penyediaan kebutuhan anggota keluarga

    yang meliputi kebutuhan sandang, pangan dan papan.

    d) Nilai atau Norma

    Nilai atau norma yang dianut oleh keluarga sangat berpengaruh

    terhadap cara perawatan anggota keluarga yang sakit.

    4) Fungsi Keluarga

    a) Fungsi Afektif

    Kekurangan perhatian keluarga terhadap anggota keluarga yang

    sakit mengakibatkan penderita thypoid tidak mendapatkan

    perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan, sehingga dapat

    menimbulkan terjadinya komplikasi lebih lanjut.

    b) Fungsi Sosial

    Untuk memperoleh informasi yang tepat tentang thypoid dan cara

    penanggulangannya.

    c) Fungsi Perawatan Keluarga

    Pendidikan ataupun pengetahuan yang kurang mempunyai

    kecenderungan lebih tinggi untuk menderita thypoid (Friedman,

    1998).

    (1) Mengenal Masalah Kesehatan

    Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah thypoid adalah

  • 37

    salah satu faktor penyebab karena apabila keluarga tidak

    mampu mengenal masalah thypoid, penyakit tersebut akan

    mengakibatkan komplikasi.

    (2) Merawat Anggota Keluarga yang Sakit

    Ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga

    yang sakit thypoid dikarenakan oleh ketidaktahuan tentang

    penyakit, misa

    komplikasi, se

    (3) Memodifikasi

    Ketidakmamp

    lingkungan da

    yang tidak s

    memelihara k

    yang terbuka.

    c) Fungsi Reproduks

    Dalam keluarga p

    ditularkan kepada

    d) Fungsi Ekonomi

    Keadaan ekonom

    tidak diperhatikan

    penyakit thypoid

    menengah ke baw

    lnya penyebab, gejala, perawatan, pencegahan,

    rta diit thypoid.

    Lingkungan

    uan keluarga memelihara dan memodifikasi

    pat beresiko untuk dilihat dari kebiasaan Nn. A

    ehat yaitu menjalankan diit yang salah dan

    uku yang panjang serta keadaan tempat sampah

    i

    enyakit thypoid merupakan penyakit yang dapat

    anggota keluarga yang lain.

    i yang rendah menyebabkan penyakit thypoid

    perawatan ataupun pengobatannya, sementara

    juga sering diderita oleh kalangan ekonomi

    ah.

  • 38

    11. Pemeriksaan Penunjang

    a. Pemeriksaan SGOT dan SPGT

    Sering kali meningkat tetapi kembali normal setelah sembuhnya

    demam thypoid. Kenaikan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan

    pembatasan pengobatan.

    b. Pemeriksaan Leukosit

    Pada demam thypod terdapat Leukopenia (penurunan jumlah

    leukosit) dan Limfositosis (peningkatan jumlah leukosit) relatif pada

    permulaan sakit. Pemeriksaan darah tepi ini sederhana dan mudah

    dikerjakan di labolatorium yang sederhana, tetapi hasilnya berguna untuk

    membantu menentukan penyakitnya dengan cepat.

    Leukositosis : Peningkatan jumlah Leukosit

    Leukopenia : Penurunan jumlah Leukosit

    Nilai normal Leukosit :

    Dewasa : Total :4500-10000 L

    Anak usia 2 tahun : 6000-17000 L

    Bayi baru lahir : 9000-30000 L (Kee, 1997)

    c. Biakan Darah

    Biakan darah positif memastikan demam thypoid tetapi biakan darah

    negatif tidak menunjukan demam thypoid. Hal ini disebabkan karena

    hasil biakan darah bergantung pada beberapa faktor:

    1) Teknik Pemeriksaan Laboratorium

    Hasil pemeriksaan laboratorium satu dengan yang lain berbeda. Hal

  • 39

    ini disebabkan oleh karena perbedaan tehnik dan media biakan yang

    digunakan karena jumlah kuman yang berada dalam darah hanya

    sedikit, yaitu kurang dari 10 kuman/ml darah (dewasa 5-10 ml, anak

    2-5 ml) dan darah tersebut harus segera ditanam dalam media biakan

    sewaktu berada di sisi pasien dan langsung dikirim ke laboratorium.

    Waktu pengambilan darah paling baik adalah saat demam tinggi pada

    waktu bakteriemia berlangsung.

    2) Saat Pemeriksaan Selama Perjalanan Penyakit

    Pada demam tifoid biakan darah terhadap Salmonella thypi terutama

    positif pada minggu pertama penyakit dan berkurang pada minggu-

    minggu berikutnya, pada waktu kambuh biakan dapat positif lagi.

    3) Vaksinasi di masa lampau

    Vaksinasi pada masa lampau menimbulkan antibody dalam darah

    pasien. Antibodi ini dapat menekan bakteriemia, hingga biakan darah

    mungkin negatif.

    4) Pengobatan dengan obat antimikrobia

    Bila pasien sebelum biakan darah sudah mendapat obat antimikroba

    pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan basil biakan

    mungkin negatif.

    5) Kepekaan Salmonella typhi terhadap obat antimikrobia

    Penelitian di laboratorium kesehatan perum bio farma menunjukkan

    bahwa selama 1984-1990 Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A

    masih 100% sensitive terhadap Kloramfeniol, 83,3%-100% sensitive

  • 40

    terhadap ampisilin dan 97%-100% sensitive terhadap kotrimoksasol.

    d. Uji Widal

    Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan

    antibobodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella

    terdapat dalam serum pasien demam tifoid, juga pada orang yang pernah

    tertular salmonella dan pada orang yang pernah difaksinasi terhadap

    demam thypid. Maksud uji widal adalah untuk menentukan adanya

    aglutinin dalam serum pasien yang disangka menderita thypoid.Akibat

    infeksi Salmonella typhi pasien membuat antibody (aglutinin), yaitu:

    1) Aglutinin 0, yang dibuat karena rangsang antigen 0 (berasal dari tubuh

    kuman)

    2) Aglutinin H, karena rangsangan antigen H (berasal dari flagella

    kuman)

    3) Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai

    kuman)

    Dari ketiga aglutinin tersebut hanya agglutinin 0 dan H yang

    ditemukan titernya untuk diagnosis. Makin tinggi titernya, makin besar

    kemungkinan pasien menderita demam thypoid. Pada infeksi yang aktif,

    titer uji widal akan meningkat. Pada pemeriksaan ulang yang dilakukan

    selang paling sedikit 5 hari.(Ngastiyah,2005).

  • 41

    12. Pathway Faktor predisposisi

    Bakteri Salmonella thyphii

    Masuk ke mulut

    Tercemar

    Masuk ke saluran pencernaan

    Kuman dimusnahkan olehasam lambung

    Asam lambung meningkat

    Perasaan tidak enak perut,mual muntah, anoreksia

    Gangguan nutrisi kurang darikebutuhan

    Kelemahan fisik

    Keterbatasanaktifitas

    tirah baring yanglama

    Penekanan padaderah kulit

    Resiko terhadapkerusakan integritas

    Terjadi iritasi mukosalambung

    Masuk ke usus

    Limfoid plague peyer

    Perdarahan & perforasiintestina

    Lamina propia

    Kuman masuk aliran limfemesentrial

    Duktus toracikus

    Menuju RES (hati, limfa)

    Kuman berkembang biak

    Proses infeksiperadangan

    Mal absorbsi

    Peningkatan padaperistaltik usus

    Diare

    Hipertrofihepanospeno-megali

    Tekanan padausus

    Gangguan rasanyaman nyeri

    Jaringan tubuh

    Peradangan

    Pelepasan zatpirogen dan

    sirkulasi endotoksinhiptalamus oleh

    leukosit

    Pusatfermonegulasi

    tubuh

    Peningkatan suhutubuh

    Kurang intake carian

    Bibir kering danpecah

    Kekurangan volumecairan

    Intoleransiaktivitas

    1) Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah tentang penyakit thypoid

    2) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dan tindakan yang tepat

    3) Ketidakamampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit thypoid

    4) Ketidakmampuan memodifikasi lingkungan untuk mengatasi masalah thypoid

    5) Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk memelihara kesehatan

  • 42

    13. Diagnosa Keperawatan

    a. Hipertermi / Peningkatan Suhu Tubuh pada An.E di keluarga Tn.S

    berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota

    keluarga yang menderita thypoid

    b. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh di keluarga Tn.S

    khususnya pada An.E berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

    merawat anggota keluarga yang menderita thypoid.

    14. Fokus Intervensi

    Diagnosa I Hipertermi

    a. Pencegahan Primer

    1) Berikan penyuluhan tentang pencegahan dari peningkatan suhu tubuh

    2) Ajarkan cara untuk kompres

    3) Identifikasi adanya faktor-faktor hipertermi

    b. Pencegahan Sekunder

    1) Kaji keadaan suhu pasien

    2) Beri kompres hangat

    3) Pantau suhu lingkungan, batasi / tambah linen tempat tidur

    4) Beri selimut dingin untuk mengurangi demam

    c. Pencegahan Tersier

    1) Segera bawa ke pelayanan kesehatan bila diketahui demam

    berkelanjutan

    2) Kolaborasi pemberian antipiretik, pemberian pamol sesuai dengan

    kebutuhan anak

  • 43

    Diagnosa II Resiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

    a. Pencegahan Primer

    1) Beri penyuluhan tentang pentingnya nutrisi

    2) Ajarkan keluarga untuk susun menu seimbang untuk penderita

    penyakit thypoid

    b. Pencegahan Sekunder

    1) Kaji selera makan klien

    2) Anjurkan untuk tidak makan makanan yang pedas dan yang

    menyebabkan kram abdomen

    3) Anjurkan klien makan sedikit tetapi sering

    4) Berikan dorongan kepada klien untuk makan makanan yang lebih

    banyak dalam porsi kecil

    5) Sajikan makanan dalam keadaan hangat, lembut, dan menarik

    6) Beri tahu kepada keluarga untuk memenuhi jkebutuhan oral hygiene

    c. Pencegahan Tersier

    1) Segera bawa ke pelayanan kesehatan bila diketahui ada tanda-tanda

    nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

    2) Kolaborasi dengan tim ahli gizi (bagaimana nutrisi yang baik)

    Diagnosa III Resiko terhadap Penularan Infeksi

    a. Pencegahan Primer

    1) Beri penyuluhan tentang cara merawat dan memodifikasi lingkungan

    b. Pencegahan Sekunder

    1) Anjurkan kepada keluarga untuk membersihkan alat makan dan

  • 44

    minum

    2) Anjurkan keluarga untuk memodifikasi lingkungan dengan

    menciptakan lingkungan rumah yang bersih

    3) Anjurkan keluarga untuk menutup menu makanan yang belum

    dihidangkan untuk dimakan.

    c. Pencegahan Tersier

    1) Peningkatan keluarga untuk memodifikasi dan merawat lingkungan

    yang bersih

    DAFTAR ISIBAB IPENDAHULUANBAB IIKONSEP DASARBAB III TINJAUAN KASUSBAB IV PEMBAHASANBAB V PENUTUPDAFTAR PUSTAKA