referat diaper rash

Download Referat Diaper Rash

Post on 03-Feb-2016

45 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

medical

TRANSCRIPT

BAB 1PENDAHULUAN

Napkin Eczema atau Diaper Rash atau juga disebut Diaper Dermatitis merupakan suatu erupsi pada area kulit yang tertutupi diaper atau popok pada bayi. Kondisi ini dapat disebabkan karena penggunaan atau kontak langsung popok dengan kulit bayi (dermatitis kontak iritan) yang merupakan penyebab terbanyak. Selain itu penggunaan diaper juga dapat memperparah kondisi kulit yang sudah memiliki erupsi misalnya pada psoriasis. Hal tersebut dibuktikan pada beberapa penelitian menyebutkan bahwa pada daerah tertentu yang jarang menggunakan popok pada bayi akan memiliki insiden Napkin Eczema (NE) yang lebih rendah (Serdaroglu & Ustunbas, 2010).Beberapa hal yang dapat mencetuskan Napkin Eczema (NE) atau Diaper rash (DR) meliputi kondisi kulit yang lembab, pajanan langsung kulit dengan urin atau feses, infeksi mikroorganisme (jamur, bakteri, dan virus), gangguan nutrisi, iritasi bahan kimia, antibiotic, penyakit diare, dan anomali traktus urinarius. Diaper rash adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum pada masa anak-anak, tercatat hampir 1 juta anak berobat jalan tiap tahunnya. Dalam suatu survei pada 1.089 bayi, 50% di antaranya mengalami diaper rash, namun hanya 5% yang memiliki ruam parah. Puncak kejadian diaper rash yaitu antara usia 9 sampai 12 bulan. Hubungan antara usia dan frekuensi diaper rash dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk perubahan pola makan dari ASI ke susu formula dan makanan padat selama 12 bulan pertama kehidupan. Bayi yang diberi ASI lebih jarang mengalami diaper rash daripada bayi yang diberi susu formula. ASI mengandung sel darah putih yang aktif melawan infeksi dan bahan kimia alami yang sekaligus memberikan peningkatan perlindungan terhadap infeksi pada bulan-bulan pertama. Insidensi diaper rash 3 sampai 4 kali lebih tinggi pada bayi yang mengalami diare (Singalavanija & Frieden, 2005).Sejauh ini, tipe diaper rash yang paling banyak adalah irritant diaper dermatitis. Dermatitis ini ditemukan pada siapa saja yang memakai popok, tanpa pengaruh umur. Predileksi yang paling sering adalah pada gluteal, genital, bagian bawah abdomen, pubis dan paha atas. Irritant diaper dermatitis menampakkan efloresensi berupa daerah eritema, lembab dan kadang timbul sisik pada genital dan gluteal, yang awalnya timbul pada daerah yang lebih sering kontak dengan popok (Gawkrodger, 2002).Tujuan dari terapi diaper rash yaitu: (1) memperbaiki kerusakan kulit, dan (2) mencegah rekurensi. Prinsip terapi yaitu menjaga area popok tetap bersih dan kering, meskipun hal ini tidak mudah. Popok tipe superabsorbent (berdaya serap tinggi) merupakan jenis popok yang paling bagus, dan sebaiknya diganti secara teratur, terutama di malam hari. Jika menggunakan popok kain, sebaiknya dicuci secara menyeluruh dengan bersih dan juga diganti secara teratur. Area yang bersentuhan dengan popok sebaiknya dibersihkan dengan air, dan aqueous cream setiap kali pergantian popok. Ointment protektif, seperti zink, dan ointment silikon protektif, seringkali berguna. Steroid poten sebaiknya tidak digunakan pada kasus-kasus ringan. Penggunaan topikal steroid pada bayi perlu diperhatikan dan dibatasi selama 3 sampai 7 hari, sebab obat ini lebih banyak diabsorbsi perkutaneus pada bayi dibanding pada orang dewasa. Terapi anti jamur hendaknya tidak digunakan secara rutin, hanya jika dicurigai adanya infeksi Candida spp (Chang & Orlow, 2008).

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1DefinisiNapkin Eczema atau Diaper Rash atau juga disebut Diaper Dermatitis merupakan suatu erupsi pada area kulit yang tertutupi diaper atau popok pada bayi. Kondisi ini dapat disebabkan karena penggunaan atau kontak langsung popok dengan kulit bayi (dermatitis kontak iritan) yang merupakan penyebab terbanyak. Selain itu penggunaan diaper juga dapat memperparah kondisi kulit yang sudah memiliki erupsi misalnya pada psoriasis. Hal tersebut dibuktikan pada beberapa penelitian menyebutkan bahwa pada daerah tertentu yang jarang menggunakan popok pada bayi akan memiliki insiden Napkin Eczema (NE) yang lebih rendah (Serdaroglu & Ustunbas, 2010).Erupsi seperti ini mempunyai banyak penyebab, sehingga istilah diaper rash sebaiknya dihindari dan hanya dipakai untuk pengertian yang lebih umum. Istilah dermatitis popok iritan primer lebih tepat dipakai pada keadaan dimana erupsi yang terjadi akibat kontak iritan, meskipun etiologi belum diketahui pasti (Serdaroglu & Ustunbas, 2010).

2.2EpidemiologiDiaper rash adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum pada masa anak-anak, tercatat hampir 1 juta anak berobat jalan tiap tahunnya. Dalam suatu survei pada 1.089 bayi, 50% di antaranya mengalami diaper rash, namun hanya 5% yang memiliki ruam parah. Puncak kejadian diaper rash yaitu antara usia 9 sampai 12 bulan. Hubungan antara usia dan frekuensi diaper rash dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk perubahan pola makan dari ASI ke susu formula dan makanan padat selama 12 bulan pertama kehidupan. Bayi yang diberi ASI lebih jarang mengalami diaper rash daripada bayi yang diberi susu formula. ASI mengandung sel darah putih yang aktif melawan infeksi dan bahan kimia alami yang sekaligus memberikan peningkatan perlindungan terhadap infeksi pada bulan-bulan pertama. Insidensi diaper rash 3 sampai 4 kali lebih tinggi pada bayi yang mengalami diare (Singalavanija & Frieden, 2005).Frekuensi dan tingkat keparahan diaper rash lebih rendah jika jumlah rata-rata penggantian popok per hari sebanyak delapan kali atau lebih, terlepas dari jenis popok yang digunakan. Bayi yang menggunakan popok sekali pakai yang superabsorbent memiliki frekuensi dan tingkat keparahan ruam popok yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan bayi yang menggunakan popok kain (Singalavanija & Frieden, 2005).Pada populasi di China dilaporkan 25% bayi mengalami diaper rash selama 4 minggu pertama kehidupan. Pada penelitian lain menunjukan 52% anak mulai dari masa bayi hingga usia