perbankan masih timpang - ftp.unpad.ac.id . untuk menjadikan harga timah tinggi, semua perusahaan...

Download Perbankan masih Timpang - ftp.unpad.ac.id . Untuk menjadikan harga timah tinggi, semua perusahaan timah…

Post on 26-Apr-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BUMN produsen timah PT Ti-mah Tbk mendu kung rencana pembentukan babel tin market (BTM) yang disuarakan Kemen-terian BUMN. BTM, selain akan mengoptimalkan pendapatan negara, dapat menjadi penentu harga timah dunia.

Hal itu disampaikan Kepada Humas PT Timah Wirtsa Firdaus dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, kemarin.

Dia menuturkan untuk mere-alisasikan rencana itu, PT Timah sudah siap menjadi inisiator pem-bentukan BTM. Fungsi babel tin market yaitu dapat menentukan harga timah sendiri se hingga PT Timah dan perusahaan lain-nya tidak tergantung dari pasar timah di negara lain.

Pembentukan BTM merupa-kan realisasi dari wacana lama agar Indonesia mempunyai

pa sar timah sehingga dapat me-nentukan harga komoditas itu sendiri. Untuk menjadikan harga timah tinggi, semua perusahaan timah di Tanah Air sedapat mungkin menjual produk me-reka melalui BTM.

Tentunya produk yang dijual melalui BTM harus memiliki brand yang diakui end user. Ini artinya, perusahaan-perusahaan timah yang ingin menjual le-wat BTM mempunyai kualitas produk yang bagus dan sudah terdaftar di BTM, kata Wirtsa.

Terjaganya harga timah di pa-sar BTM akan berdampak pada pendapatan negara dan daerah yang bersumber dari pemba-yaran royalti. Laba perusahaan juga dapat terjaga sehingga memberikan kepastian dividen setiap tahunnya.

Dia menambahkan, agar

BTM dapat berhasil, dukungan penuh dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat diperlukan. Ini penting karena pemerintah pusat dan daerah kami rasa dapat memberikan dukungan secara penuh melalui keputusan pemerintah yang si-fatnya mengikat, tegas Wirtsa.

Sebagaimana diketahui, be-lum lama ini pelaku industri timah dalam negeri menghen-tikan ekspor timah batangan mulai 1 Oktober 2011. Langkah itu bertujuan mengembalikan harga timah yang anjlok karena permainan para trader dan fund manager internasional. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Kris-namurthi menyayangkan penen-tuan harga oleh internasional itu. Padahal, dari sisi volume, Indonesia merupakan produsen timah terbesar. (AI/E-3)

PT Pertamina membukukan la-ba bersih Rp19,45 triliun hingga kuartal III 2011 atau mencapai 109,89% dari target laba tahun ini yang sebesar Rp17,7 triliun. Adapun pendapatan BUMN ener-gi yang hari ini genap 54 tahun itu mencapai Rp432,2 triliun.

Ditemui di Jakarta, kemarin, Vice President Corporate Com-munication Pertamina M Harun mengatakan pencapaian laba bersih yang telah melampaui target disebabkan antara lain harga minyak, produksi gas, serta penjualan bahan bakar aviasi dan pelumas.

Dalam sembilan bulan per-tama 2011, jelasnya, produksi hulu telah mencapai 123,5 juta

barel setara minyak (mboe), yang terdiri dari 52,4 juta barel minyak dan gas 412 bscf, panas bumi 11,8 juta ton, dan tenaga listrik dari panas bumi sebesar 1.553,7 gwh.

Produksi gas hingga akhir 2011 akan mencapai 1.510 juta kaki kubik per hari atau di atas RKAP 1.450 mmscfd. Sementara, ekspor pelumas diprediksikan melampaui 200 ribu kiloliter.

Tahun ini yield produksi 10 produk BBM terhadap intake ki-lang mencapai 76,6%, sedangkan penjualan BBM yang terdiri dari ritel, aviasi, dan industri menca-pai 47,55 juta kiloliter.

Pihaknya optimistis akan mengantongi laba hingga Rp21

triliun sampai akhir tahun ini. Terkait melonjaknya harga gas

alam cair (LNG) yang mencapai US$18 per million metric british thermal unit (MMBTU), Harun menga takan hal itu menyebab-kan ke mungkinan mengimpor

LNG dari Timur Tengah se-makin kecil. Sebab itu, Pertamina mendorong pemerintah untuk memanfaatkan kewajiban do-mestic market obligation yang belum dipenuhi oleh sebagian produsen gas. Indonesia juga sudah seharusnya memanfaat-kan kondisi saat ini untuk me-renegosiasi kontrak LNG yang berharga murah.

Sejalan dengan kebijakan pe-ngurangan subsidi energi di dalam negeri, Indonesia memer-lukan LNG 10 juta metrik ton per tahun (MTA) mulai 2013.

Pertamina bersama PT Perusa-haan Gas Negara telah memba-ngun fl oating storage regasifi cation unit di Teluk Jakarta, berkapasitas

3 juta MTA dan akan ber operasi awal Maret 2012.

Dengan harga impor LNG yang tinggi, pengamat migas Pri Agung Rakhmanto meminta pemerintah memutuskan peme-nuhan pasokan terminal LNG dari domestik. Ia pun mendu-kung rencana Pertamina untuk memperoleh suplai gas dari Kilang Tangguh, Papua.

Pada bagian berbeda, Menteri BUMN mengangkat Andri T Hi-dayat sebagai Direktur Keuangan Pertamina, kemarin. Sedangkan Direktur Keuangan sebelumnya M Afdal Bahaudin dialihkan menjadi Direktur Perencana Investasi dan Managemen Risiko Pertamina. (Ant/E-2)

GAYATRI SUROYO

BANK Indonesia meng-kritik industri per-bankan yang dianggap belum optimal men-dorong pembangunan ekonomi Indonesia.

Dalam naskah pidatonya pada Bankers Dinner, kemarin, Guber-nur BI Darmin Nasution meng-gambarkan kondisi perbankan

KRISIS ekonomi global berdam-pak terhadap pelemahan ekono-mi dunia, terutama pada kinerja ekspor-impor tahun mendatang. Ekspor Indonesia diprediksi menurun. Karena itu, diperlukan peningkatan konsumsi domestik untuk mempertahankan pertum-buhan ekonomi Indonesia.

Pelemahan (ekspor) okay, yang jelas kita akan pertahankan konsumsi domestik kita agar te-tap kuat sehingga ekonomi ki ta secara keseluruhan tetap tum-buh, ujar Wakil Men teri Perda-gangan Bayu Kris namurthi di kantornya di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, hingga triwulan III 2011, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga mem-berikan kontribusi sebesar 54,2% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebanyak 31,8% ber-asal dari pembentukan modal tetap bruto, ekspor 26,5%, kom-ponen impor 24,9%, dan belanja pemerintah 9,1%.

Bagaimana strategi untuk me ningkatkan konsumsi dalam negeri, lanjut Bayu, salah satu-nya dengan penguatan pasar da lam negeri, penguatan daya saing produk Indonesia, dan di-versifi kasi pasar ekspor. Hal itu,

menurutnya, sudah sesuai de-ngan program-program stra tegis Kementerian Perdagangan.

Untuk penguatan pasar da-lam negeri, Kemendag melaksa-nakan program pengamanan pasar dalam negeri dan promosi peningkatan mutu dan penggu-naan produk dalam negeri. Kita li hat nanti prosesnya.

Menurut Bayu, pelemahan ekspor Indonesia sudah pasti terjadi di negara-negara tujuan ekspor yang mengalami krisis seperti di negara-negara Eropa dan Amerika. Oleh sebab itu, Kemendag terus melakukan upaya diversifi kasi ekspor. Salah satunya ke pasar Afrika.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur menilai jika semua pihak menggunakan produk in-dustri dalam negeri, diharapkan ekonomi Indonesia dapat terhin-dar dari dampak pelemahan eks-por. Natsir mencontohkan salah satu keberpihakan pada produk dalam negeri ialah pengu rangan pembelian barang modal impor oleh pemerintah. Kita punya ekonomi nasional, bagaimana barang modal yang diimpor su-paya dikurangi. (AI/E-4)

ANTARA/YUDHA

NASABAH PENSIUNAN: Pemimpin BRI Cabang Otista Bambang Krisminarno (kedua dari kiri) bersama Kepala Divisi Layanan Luki Presisa (ketiga dari kiri) melayani nasabah pensiunan di Kantor BRI Cabang Otista, Jakarta, Kamis (8/12). Kegiatan dalam rangka menyambut HUT ke-116 PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk itu juga diisi dengan pemberian layanan kesehatan gratis dan bazar murah.

ANTARA/JAFKHAIRI

HIBAH BANK MANDIRI: Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Firmanzah (kiri) bertukar dokumen dengan Direktur Strategi dan Keuangan Bank Mandiri Pahala N Mansury (tengah) disaksikan Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad saat penyerahan dana hibah Bank Mandiri senilai Rp1,4 miliar untuk Fakultas Ekonomi UI di Kampus UI Depok, Jawa Barat, kemarin. Bank Mandiri memberikan bantuan senilai total Rp8,4 miliar kepada enam perguruan tinggi di Tanah Air untuk digunakan merenovasi fasilitas atau bangunan kampus guna meningkatkan kualitas sarana pendidikan.

PT Timah Siap Jadi Inisiator

Meskipun fungsi intermediasi berjalan, ongkosnya mahal karena tidak efisien.

Perbankan masih Timpang

Konsumsi DomestikPenopang Krisis

6 SABTU, 10 DESEMBER 2011EKONOMI

Kita tidak bisa berdiam diri dan

menganggap industri perbankan kita telah mencapai keseimbangan.

nasional yang sehat dan meng-hasilkan keuntungan besar.

Industri perbankan mencatat pertumbuhan dana pihak ke-tiga 19% per Oktober 2011 jika dibandingkan dengan Oktober 2010 (year on year/yoy). Kredit tumbuh 25,7% dengan rasio kredit macet 2,7%. Adapun rasio kecukupan modal mencapai 17,2% atau jauh di atas batas minimal 8%.

Return on asset (RoA) industri pada Oktober tercatat 3,11% atau relatif lebih menguntungkan ketimbang RoA perbankan di sekawasan yang hanya 1,14%.

Namun, jika dilihat jumlah kredit perbankan yang kini su-dah melampaui Rp2.100 triliun,

porsinya terhadap perekonomi-an nasional ternyata hanya 29%. Itu jauh di bawah Malaysia yang mencapai 114%, Thailand 117%, dan China 131%. Tingginya aset industri perbankan kita belum seimbang dengan peningkatan kontribusinya pada perekono-mian, kritik Darmin.

Hal itu disebabkan ada bagian aset perbankan yang dari pers-pektif makro tidaklah produktif, yaitu penempatan dalam instru-men moneter dan surat berharga negara. Adapun total aset per-bankan berkisar Rp3.400 triliun.

Kontribusi perbankan yang belum optimal bagi perekono-mian juga terjadi karena ma-halnya suku bunga kredit yang

dipicu oleh inefi siensi. Hal itu terlihat pada rasio beban ope-rasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang 86,44% pada Oktober. Posisi itu jauh di atas rasio BOPO perbankan sekawasan yang rata-rata 40%-60%. Meskipun fungsi inter-mediasi berjalan, karena tidak efi sien, ongkosnya mahal, ujar Darmin.