timah bgs baca.doc

Download timah bgs baca.doc

Post on 02-Dec-2015

246 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangTimah merupakan salah satu bahan galian yang dimiliki tanah airindonesia yang tidak dapat diperbaharui keberadaannya. Pertambangan timah Indonesia hingga saat ini merupakan produsen timah nomor dua di dunia setelah Cina dan menghasilkan salah satu produk komoditieksporterbesar di dunia.Belakangan ini harga timah di pasaran duniacenderung naik, sehingga menjadikan timah merupakan barang jenis logam yang dicari keberadaannya, Sehingga negara-negara penghasil timah berusaha untuk menyediakan stok di pasaran dunia sesuai dengan kebutuhannya.Diindonesia sendiri pertambangan timah hanya tersisa di Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta di daerah sekitar Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Sedangkan perusahaan milik Negara yang melakukan penambangan timah adalah PT. Timah (Persero).Industri pertambangan timah mempunyai tahapan kegiatan yang tidak sederhana, mulai dari kegiatan pra-penambangan, kegiatan penambangan dan kegiatan pasca penambangan. Dalam perkembangan terakhir, PT.Tambang Timah Unit Kundurtelah menitik beratkan operasi penambangan pada cadangan timah alluvial yang berada di laut dengan mengoperasikan Kapal Keruk dan Kapal Isap Produksi.Kapal Isap Produksi dapat dikatakan seperti pabrik terapung karena selain alat penggalian umumnya dilengkapi dengan mesin-mesin unit pencucian. Dengan memperhatikan besarnya peranan Kapal Isap Produksi di sektor industri pertambangan timah dewasa ini, maka perencanaan kerja dan evaluasi pada Kapal Isap Produksiperlu dilaksanakan dengan baik dan terukur.Hasil Produksi bijih timah yang dihasilkan oleh Kapal Isap Produksi Timah II di instalasi pencucian akan menghasilkan bijih timah dengan kadarSn60 % sampai 70 % yang kemudian akan di proses lebih lanjut lagi di Pusat Pengolahan Bijih Timah (PPBT) untuk ditingkatkan kadarnya hingga mencapai > 72%Snsebagai syarat utama peleburan.1. 2. Tujuan dan ManfaatTujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang harus diperbaiki dalam pencucian bijih timah menggunakan Kapal Isap Produksi yang nantinya akan digunakansebagai bahan pertimbangan dalam kegiatan pencucian timah selanjutnya dan juga agar mengetahui alat-alat yang digunakan dalam kegiatan aktivitas pencucian bijih timah dengan menggunakan Kapal Isap Produksi, Khususnya pada Kapal Isap Produksi Timah II.Manfaat daripenulisan laporanini adalah memperoleh wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai Aktivitas Pencucian Bijih Timah Menggunakan KapalIsap Produksi khususnya pada Kapal Isap Produksi Timah II.1. 3. Pembatasan MasalahDalam penelitian ini Penulis hanyamengkaji mengenai aktivitas pencucian bijih timah pada Kapal Isap Produksi Timah II.BAB IITINJAUAN UMUM2.1. SejarahPT. Tambang Timah(Persero)Daerah cadangan timah di Indonesia merupakan suatu bentangan wilayah sejauh lebih dari 800 km, disebut sebagaiThe Indonesian Tin Beltyang merupakan bagian dariThe South East Asia Tin Beltyang membujur sejauh kurang lebih 3.000 km dari daratanAsia kearah Thailand semenanjung Malaysia dan Indonesia yang mencakup wilayah Pulau-pulau Karimun, Kundur, Singkep dan sebagian didaratan Sumatera (Bangkinang) di utara terus kearah selatan yaitu Pulau-pulau Bangka, Belitung dan Karimata hingga ke daerah sebelah barat Kalimantan.Penambangan timah di Indonesia sudah berlangsung lebih dari 200 tahun, yaitu di Bangka mulai tahun 1711, di Singkep tahun 1812 dan di Belitung sejak tahun 1852. Dengan kekayaan cadangan yang melimpah, Indonesia merupakan salah satu Negara produsen timah terbesar di dunia.Bijih timah di Indonesia pertama gali digali pada tahun 1709 di sungai olim, Toboali, Pulau Bangka. Pengerjaannya dilakukan secara primitif oleh penduduk dengan cara pendulangan dan mencangkul dengan dengan system penggalian sumur Palembang atau system kolong/parit. Bijih timah yang dihasilkan pada waktu itu dijual kepada pedagang-pedagang yang dating dari Portugis, Spanyol, dan juga dari Belanda. Keadaan ini berubah ketika belanda dating ke Indonesia, pada saat mana penggalian timah mulai lebih digiatkan. Sejak tahun 1720 penggalian timah dilakukan secara besar-besaran dibiayai oleh para pengusaha belanda yang tergabung dalamVOCyang kemudian monopoli dan mengawasi seluruh tambang di pulau Bangka.Pada tahun 1816 Pemerintah Belanda mengambil alih tambang-tambang di pulau Bangka dan dikelola oleh badan yang diberi nama"Bangka TinWinning Bedrijf"(BTW). Sedangkan di Pulau Belitung dan Pulau Singkep diserahkan kepada pengusaha swasta Belanda, masing-masing kepadaGemeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton(Biliton Mij.)atau lebih dikenal dengan nama GMB di Pulau Belitung, danNV SingkepTin Exploitatie Maatschappijatau dikenal dengan nama NV SITEM di Pulau Singkep.Secara historis pengusahaan pertambangan timah di Indonesia dibedakan dalam dua masa pengelolaan. Yang pertama sebelum tahun 1960 dikenal dengan masa pengelolaan Belanda, di mana Bangka, Belitung dan Singkep merupakan badan usaha yang terpisah dan berdiri sendiri. Bangka dikelola oleh badan usaha milik Pemerintah Belanda sedangkan Belitung dan Singkep oleh perusahaan swasta Belanda. Status kepemilikan usaha ini memberikan ciri manajemen dan organisasi yang berbeda satu dengan yang lain. Ciri perbedaan itu diwujudkan dalam perilaku organisasi dalam arti luas, baik struktur maupun budaya kerjanya.Masa yang kedua adalah masa pengelolaan Negara Republik Indonesia. Status berdiri sendiri dari ketiga wilayah tersebut masih terus berlangsung tetapi dalam bentuk Perusahaan Negara (PN) berdasarkan Undang-undang No. 19 PRP tahun 1960, yaitu PN Tambang Timah Bangka, PN Tambang Timah Belitung dan PN Tambang Timah Singkep.Selanjutnya berdasarkan PP No. 87 tahun 1961 ketiga Perusahaan Negara tersebut dikoordinasikan oleh Pemerintah dalam bentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-tambang Timah Negara (BPU Tambang Timah) dengan pembagian tugas dan wewenang seperti bentuk "holding company".Perubahan selanjutnya terjadi pada tahun 1968 di mana ketiga PN dan BPU ditambah Proyek Pabrik Peleburan Timah Mentok dilebur menjadi satu dalam bentuk PN Tambang Timah, yang terdiri dari Unit Penambangan Timah (UPT) Bangka, Belitung, dan Singkep serta Unit Peleburan Timah Mentok (Unit Peltim).Dengan pertimbangan memberi keleluasaan bergerak di sektor ekonomi umumnya, terutama dalam menghadapi persaingan, status PN Tambang Timah ini pada tahun 1976 diubah lagi menjadi bentuk Perseroan yaitu PT Tambang Timah (Persero) dengan Bangka, Belitung, Singkep dan Peleburan Timah Mentok tetap sebagai unit kegiatan operasi yang dipimpin masing-masing oleh Kepala Unit sedangkan Kantor Pusat berada di Jakarta sehingga secara manajemen perubahan dimaksud belum terintegrasi dalam arti sebenarnya.PT. Tambang Timah Unit Kundur merupakan unit PT.Timah yang bergerak dalam bidang penambangan, ekplorasi serta peleburan dari bijih timah. Hal ini dapat terlihat dari adanya dua tanur smelter yang terdapat di pulau Kundur dan satu unit system pabrikan solder.2.2.Lokasi penambangan PT. Tambang Timah Unit KundurLokasi penambangan PT. Tambang Timah Unit Kundur berada di Pulau Kundur. Kecamatan Kundur Barat, sebelah utara dari kota Tanjung Batu. Dengan jarak tempuh 45 km dari pelabuhan utama Pulau Kundur di kota Tanjung Batu. Perjalanan dapat ditempuh lebih kurang 45 menit waktu penyeberangan dari pulau karimun menuju pelabuhan Sekumbang yang merupakan pelabuhan utama dari PT. Tambang Timah Unit Kundur. Di pulau Kundur sendiri terdapat dua pelabuhan utama, yaitu pelabuhan Tanjung batu, dan pelabuhan Selat Belia.Operasi penambangan bijih timah di perairan Pulau Karimun-Kundur menempati wilayah KP ekploitasi yang umumnya mempunyai masa berlaku 30 tahun. Tuntutan peraturan perundangan (memenuhi surat edaran Dirjen Minerba Dan Panas Bumi No.03.E/31/Djb/2009) dan telah disesuaikan dengan izin usaha penambangan(IUP) yang diterbitkan bupati Kabupaten Karimun, maka secara administrasi jalur endapan bijih timah perairan P. Karimun-Kundur tercakup kedalam Kecamatan Kundur, Kecamatan Kundur barat, Kecamatan Meral, Kecamatan Karimun dan Kabupaten Karimun. Dari sudut geologi, sumber timah perairan tersebut merupakan bagian jalur timah Asia Tenggara. Di indonesia jalur timah ini 2/3 berada pada zona lautan, sedangkan zona daratan berupa deretan pulau-pulau dari arah barat laut, Pulau Karimun, Kundur, Singkep, Bangka sampai Belitung dan jejak granit bertimah terakhir berada di pulau Karimata di timur Belitung.

Secara implisit RTRW Kabupaten Karimun (2001-2002) menunjukkan bahwa perairan tersebut tergolong strategi umum pola pengembangan potensi jalur endapan bijih timah, sehingga lokasi tersebut diterapkan peruntukannya sebagai kawasan pertambangan dengan kriteria lokasi untuk potensi bahan tambang bernilai tinggi.

2.3.Iklim dan Suhu regionalBerdasarkan data badan BMG tanjung balai karimun, dengan periode pencatatan tahun 2006-2010 dapat diketahui komponen iklim.

a.Curah hujan rata-rata tahunan di perairan P. Karimun-Kundur adalah 2.400 mm. Curah hujan bulanan rata-rata tercatat sebesar 230,4 dengan jumlah hari hujan 17 hari dalam sebulan (Tabel II.1). Curah hujan harian tertinggi terjadi pada bulan Oktober yaitu sebesar 509,3 mm dengan hari hujan sebanyak 19 hari sedangkan terendah adalah pada bulan Januari sebesar 30,7 mm dengan hari hujan sebanyak 13 hari.

a.TABEL II.1

CURAH HUJAN DAN PENYINARAN MATAHARI BULANAN

RATA-RATA

BulanPenyinaran Matahari (%)Curah Hujan (mm)Jumlah Hari Curah Hujan

Januari6730,713

Febuari8476,28

Maret49128,118

April55330,421

Mei46152,021

Juni53141,517

July45180,317

Agustus47499,120

September46287,119

Oktober50509,319

November43255,010

Desember48175,020

Rata-rata 201053230,417

Rata-rata 200949226,718

Rata-rata 200853226,615

Rata-rata 200757233,2-

Rata-rata 200662163,8-

Sumber BMG Kepri 2010b.Suhu udara rata-rata bulanan pulau Kundur 27oC. T