Pencemaran Udara Kimia Lingkungan

Download Pencemaran Udara Kimia Lingkungan

Post on 11-Aug-2015

38 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kimia lingkungan

TRANSCRIPT

<p>BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal. kondisi Pencemaran yang udara dewasa ini semakin Sumber menampakkan sangat memprihatinkan.</p> <p>pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Diperkirakan pencemaran udara dan kebisingan akibat kegiatan industri dan kendaraan bermotor akan meningkat 2 kali pada tahun 2000 dari kondisi tahun 1990 dan 10 kali pada tahun 2020. Hasil studi yang dilakukan oleh Ditjen PPM &amp; PL, tahun 1999 pada pusat keramaian di 3 kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta dan Semarang menunjukkan gambaran sebagai berikut : kadar debu (SPM) 280 ug/m3, kadar SO2 sebesar 0,76 ppm, dan kadar NOx sebesar 0,50 ppm, dimana angka tersebut telah melebihi nilai ambang batas/standar kualitas udara. Didalam laporan WHO (1992) dinyatakan paling tidak 90% dari CO diudara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor. Selain itu asap rokok juga mengandung CO, sehingga para perokok dapat memajan dirinya sendiri dari asap rokok yang sedang dihisapnya. Sumber CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan tungku pemanas ruang. Dalam beberapa penelitian ditemukan kadar CO yang cukup tinggi didalam kendaraan sedan maupun bus. Kadar CO diperkotaan cukup bervariasi tergantung dari kepadatan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin dan umumnya ditemukan kadar maksimum CO yang bersamaan dengan jam-jam sibuk pada pagi dan malam hari. Selain cuaca, variasi dari kadar CO juga dipengaruhi oleh topografi jalan dan bangunan disekitarnya.1</p> <p>Karena CO merupakan penyumbang pencemaran udara terbesar dibandingkan dengan polutan lain, oleh sebab itu kelompok kami memilih tema Pencemaran Udara oleh Karbon Monoksida (CO) sebagai materi pembahasan mata kuliah Kimia Lingkungan. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut: Bagaimana dampak dari pencemaran udara oleh logam CO bagi</p> <p>kesehatan? Bagaimana cara penanggulangan pencemaran udara oleh CO? Bagaimana cara pencegahan pencemaran udara oleh CO? 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah menginformasikan tentang dampak pencemaran udara oleh CO bagi kesehatan, cara penanggulangan serta pencegahan pencemaran udara oleh CO. 1.4 Metode Penulisan Metode penulisan dalam makalah ini adalah dengan studi pustaka dan diskusi dalam kelompok. 1.5 Sistematika penulisan Makalah ini mencakup tiga bab dengan masing-masing subpokok bahasan yang terdiri atas:</p> <p>2</p> <p>BAB II PENCEMARAN UDARA AKIBAT CARBON MONOKSIDA (CO)</p> <p>Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Udara merupakan media lingkungan yang merupakan kebutuhan dasar manusia perlu mendapatkan perhatian yang serius, hal ini pula menjadi kebijakan Pembangunan Kesehatan Indonesia 2010 dimana program pengendalian pencemaran udara merupakan salah satu dari sepuluh program unggulan. Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dll disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan baik yang terjadi didalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan penyakit. Menurut Badan Lingkungan Hidup Dunia, United Nations Environmental Program pada tahun 1992, Indonesia berada di urutan ketiga negara terpolusi di dunia setelah Mexico dan Bangkok (UNEP, 2007). Hal ini3</p> <p>menunjukkan bahwa kota kota di Indonesia mengindikasikan pencemaran udara yang cukup tinggi. 2.1 PENCEMARAN UDARA 2.1.1 Pengertian Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan mahkluk hidup, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan. Tabel 1 Baku Mutu Udara Ambien Nasional</p> <p>4</p> <p>Tabel 2. Perbandingan Tingkat Konsentrasi antara Udara Bersih dan Udara Tercemar</p> <p>2.1.2 Klasifikasi Pencemaran Udara Menurut Warner (1981) pencemaran udara berdasarkan sumbernya, dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu: a. Polutan primer, terbentuk langsung dari emisi yang terdiri dari partikulat berukuran &lt; 10 mikron (PM 10), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Karbon monoksida (CO) dan Timbal. b. Polutan sekunder, merupakan bentuk lanjut dari pencemar primer yang telah mengalami reaksi kimia di lapisan atmosfer yang lebih rendah. Yang termasuk kepada kategori pencemar sekunder adalah ozon yang dikenal sebagai oksidan fotokimia, garam sulfat, nitrat dan sebagainya.</p> <p>5</p> <p>Sementara</p> <p>Peavy</p> <p>(1985)</p> <p>menyatkan</p> <p>bahwa</p> <p>bahan</p> <p>pencemar udara dapat dibagi menjadi polutan alami, campuran kimia, dan partikel. Sementara polutan partikel dapat digolongkan sebagai partikulat seperti debu, asap dan gas (polutan gas organik dan inorganik). Dari pengelompokan tersebut, sumber-sumber emisi zat pencemar udara secara diagramatis disajikan pada gambar berikut ini:</p> <p>Gambar 1. Klasifikasi Sumber Emisi (Sumber : Colls, 2002) 2.1.3 Jenis-Jenis Bahan Pencemar oo o</p> <p>Karbon monoksida (CO) Nitrogen dioksida (NO2) Sulfur Dioksida (SO2) CFC Karbon dioksida (CO2) Ozon (O3) Benda Partikulat (PM) Timah (Pb) HydroCarbon (HC)</p> <p>oo o</p> <p>o o o</p> <p>6</p> <p>2.1.4 Penyebab Utama Pencemaran Udara Di kota besar sangat sulit untuk mendapat udara yang segar, diperkirakan 70 % pencemaran yang terjadi adalah akibat adanya kendaraan bermotor. Contoh : di Jakarta antara tahun 1993-1997 terjadi peningkatan jumlah kendaraan berupa : 2.1.5 o Penipisan Ozon o Pemanasan Global ( Global Warming ) o Penyakit pernapasan, misalnya: jantung, paru-paru dan tenggorokan o Terganggunya fungsi reproduksi o Stres dan penurunan tingkat produktivitas o Kesehatan dan penurunan kemampuan mental anak-anak o Penurunan tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak. WHO Inter Regional Symposium on Criteria for Air Quality and Method of Measurement telah menetapkan beberapa tingkat konsentrasi pencemaran udara dalam hubungan dengan akibatnya terhadap kesehatan/lingkungan sebagai berikut: a. Tingkat I : Konsentrasi dan waktu expose di mana tidak ditemui akibat apa-apa, baik secara langsung maupun tidak langsung. b. Tingkat II : Konsentrasi di mana mungkin dapat ditemui iritasi pada panca indera, akibat berbahaya pada tumbuh-tumbuhan, pembatasan penglihatan dan akibat lain pada lingkungan (adverse level). c. Tingkat III : Konsentrasi di mana mungkin timbul hambatan pada fungsi-fungsi faali yang fital serta perubahan yang mungkin dapat menimbulkan penyakit menahun atau pemendekan umur (serious level).7</p> <p>Sepeda motor 207 % Mobil penumpang 177 % Mobil barang 176 % Bus 138 % Dampak Pencemaran Udara</p> <p>d. Tingkat IV : Konsentrasi di mana mungkin terjadi penyakit akut atau kematian pada golongan populasi yang peka (emergency level).</p> <p>Gambar 2. Pengaruh Pencemaran Udara Bagi Kesehatan</p> <p>2.1.6 Peraturan Pencemaran Udara di Indonesia Dari segi ketentuan atau peraturan, peraturan di indonesia tidak kalah dengan peraturan di amerika. Karena undang undang8</p> <p>ingkungan di indonesia sangat bagus. Bedanya pada aplikasi peraturannya Indonesia. Peraturan yang ada di Indonesia merupakan peraturan yang berkiblat pada Eropa karena masa lalu Indonesia yang pernah dijajah oleh Belanda. Sistem yang dianut oleh Indonesia adalah sisil law, dimana hukum- hukumnya dibukukan ke dalam Undang Undang. Indonesia telah meratifikasi hukum yang ada. Meratifikasi adalah memasukkan ketentuan asing, biasanya berupa konvensi atau traktat (perjanjian). Caranya adalah dengan membuat UU mengenai ratifikasi ketentuan ketentuan tersebut. Peraturan yang ada di Indonesia yang mengatur tentang pencemaran udara diantaranya yaitu (Tamin, 2004) : 1 UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan 2 PP No.41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara 3 KepMen KLH No.45/1997 tentang Indeks Standar Pencemaran Udara 4 Kep Kepala Bappedal No.107/1997 tentang Perhitungan dan Pelaporan Informasi PSI 5 KepMen KLH No.KEP/MENLH/1995 tentang Emisi Sumber Tidak Bergerak 6 Kep Kepala Bappedal No. 205/1997 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara dari Sumber Tidak Bergerak 7 KepMen KLH No.129/2003 tentang Standar Emisi untuk Kegiatan Minyak dan Gas 8 KepMen KLH No.35/93 tentang Standar Emisi untuk Kendaraan Bermotor 9 KepMen KLH No.141/2003 tentang Standar Emisi untuk Tipe Baru dan Produksi Masa Kini Kendaraan Bermotor 10 KepMen KLH No.252/2004 tentang Keterbukaan Informasi baik Sumber Tidak Bergerak dan Sumber Bergerak 11 KepMen KLH No. 50/96 tentang Standar Tingkat Kebauan 2.1.7 Pemantauan Kualitas Udara9</p> <p>saja, negara maju lebih responsif daripada di</p> <p>Secara garis besar ada empat tujuan utama yaitu :1. Untuk mengetahui tingkat pencemaran udara yang ada di</p> <p>suatu daerah dengan mengacu pada ketentuan dan peraturan mengenai kualitas udara yang berlaku dan baku.2. Untuk menyediakan pengumpulan data (data base) yang</p> <p>diperlukan</p> <p>dalam</p> <p>evaluasi</p> <p>pengaruh</p> <p>pencemaran</p> <p>dan</p> <p>pertimbangan perencanaan, seperti pengembangan kota dan tata guna lahan, perencanaan transportasi, evaluasi penerapan strategi pengendalian pencemaran yang telah dilakukan, validasi pengembangan model difusi dan dispersi pencemaran udara.3. Untuk mengamati kecenderungan tingkat pencemaran udara</p> <p>yang ada di daerah pengendalian pencemaran udara tertentu.4. Untuk mengaktifkan dan menentukan prosedur pengendalian</p> <p>darurat untuk mencegah timbulnya episode pencemaran udara.</p> <p>Gambar 3. Alat dan Skema Kerja Pemantauan Kualitas Udara 2.2 CARBON MONOKSIDA Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, titik didih -192 C, tidak larut dalam air dan</p> <p>10</p> <p>beratnya 96,5% dari berat udara. Reaksi-reaksi yang menghasilkan gas karbon monoksida antara lain:</p> <p>Pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar atau senyawa 2 C + O 2 2 CO</p> <p>senyawa karbon lainnya:</p> <p>Reaksi antara gas karbon dioksida dengan karbon dalam proses CO2 + C 2 CO</p> <p>industri yang terjadi dalam tanur:</p> <p>Penguraian gas karbon dioksida pada suhu tinggi: 2 CO2 2 CO + O 2 Gas karbon monoksida yang dihasilkan secara alami yang</p> <p>masuk ke atmosfer lebih sedikit bila dibandingkan dengan yang dihasilkan dari kegiatan manusia. 2.2.1 Sifat Fisika dan Kimia Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin. 2.2.2 Sumber dan Distribusi Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia, Korban monoksida yang berasal dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan dan badai listrik alam. Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin. Berdasarkan estimasi, Jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta Ton per tahun. Separuh dari jumlah ini berasal dari11</p> <p>kendaraan bermotor yang menggunakan bakan bakar bensin dan sepertiganya berasal dari sumber tidak bergerak seperti pembakaran batubara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik. Didalam laporan WHO (1992) dinyatakan paling tidak 90% dari CO diudara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor. Selain itu asap rokok juga mengandung CO, sehingga para perokok dapat memajan dirinya sendiri dari asap rokok yang sedang dihisapnya. Sumber CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan tungku pemanas ruang. Dalam beberapa penelitian ditemukan kadar CO yang cukup tinggi didalam kendaraan sedan maupun bus. Kadar CO diperkotaan cukup bervariasi tergantung dari kepadatan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin dan umumnya ditemukan kadar maksimum CO yang bersamaan dengan jam-jam sibuk pada pagi dan malam hari. Selain cuaca, variasi dari kadar CO juga dipengaruhi oleh topografi jalan dan bangunan disekitarnya. Pemajanan CO dari udara ambien dapat direfleksikan dalam bentuk kadar karboksi-haemoglobin (HbCO) dalam darah yang terbentuk dengan sangat pelahan karena butuh waktu 4-12 jam untuk tercapainya keseimbangan antara kadar CO diudara dan HbCO dalam darah. Oleh karena itu kadar CO didalam lingkungan, cenderung dinyatakan sebagai kadar rata-rata dalam 8 jam pemajanan. Data CO yang dinyatakan dalam rata-rata setiap 8 jam pengukuran sepajang hari (moving 8 hour average concentration) adalah lebih baik dibandingkan dari data CO yang dinyatakan dalam rata-rata dari 3 kali pengukuran pada periode waktu 8 jam yang berbeda dalam sehari. Perhitungan tersebut akan lebih mendekati gambaran dari respons tubuh manusia tyerhadap keracunan CO dari udara. Karbon monoksida yang bersumber dari dalam ruang (indoor) terutama berasal dari alat pemanas ruang yang12</p> <p>menggunakan bahan bakar fosil dan tungku masak. Kadar nya</p> <p>akan lebih tinggi bila ruangan tempat alat tersebut bekerja, tidak memadai ventilasinya. Namun umunnya pemajanan yang berasal dari dalam ruangan kadarnya lebih kecil dibandingkan dari kadar CO hasil pemajanan asap rokok. Beberapa Individu juga dapat terpajan oleh CO karena lingkungan kerjanya. Kelompok masyarakat yang paling terpajan oleh CO termasuk polisi lalu lintas atau tukang pakir, pekerja bengkel mobil, petugas industri logam, industri bahan bakar bensin, industri gas kimia dan pemadam kebakaran. Pemajanan Co dari lingkungan kerja seperti yang tersebut diatas perlu mendapat perhatian. Misalnya kadar CO di bengkel kendaraan bermotor ditemukan mencapai setinggi 600 mg/m3 dan didalam darah para pekerja bengkel tersebut bisa mengandung HbCO sampai lima kali lebih tinggi dari kadar nomal. Para petugas yang bekerja dijalan raya diketahui mengandung HbCO dengan kadar 47,6% (porokok) dan 1,43,8% (bukan perokok) selama sehari bekarja. Sebaliknya kadar HbCO pada masy...</p>