Pencemaran Lingkungan Kel 7

Download Pencemaran Lingkungan Kel 7

Post on 10-Oct-2015

13 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pencemaran Lingkungan

TRANSCRIPT

<p>Pencemaran Lingkungan</p> <p>Pencemaran LingkunganPencemaran UdaraKelompok 7IKMB 2012Nurvita Tri K.101211132025Nurul Kholifah101211133013Ratri Wira Sari101211131041Shofiyatur Rohmah 101211133066Iif Fahrija Z.101211133025Alya Hazfiarini101211132031Stella Herliantine101211131196</p> <p>Mekanisme Pencemaran Udara</p> <p>Penyebab Pencemaran UdaraMenurut Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta, tahun 2013, penyebab pencemaran dibagi menjadi : Faktor alam (internal) atau biogenikFaktor manusia (eksternal) atau antropogenik</p> <p>Sumber faktor Antropogenik dibagi menjadi:Sumber Antropogenik Tidak BergerakSumber Antropogenik Bergerak </p> <p>Jenis Pencemar UdaraA.Nitrogen Oksida (NOx)</p> <p>Sifat Fisik dan KimiaNitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Udara terdiri dari 80% Volume nitrogen dan 20% Volume oksigen.Reaksi pembentukan NO merupakan hasil samping dari proses pembakaran.</p> <p>Sumber dan DistribusiPenyebaran dan konsentrasi berbagai jenis gas NOx di lingkungan perkotaan prinsipnya di pengaruhi oleh :Topografi local.Keadaan meteorology.B.Belerang Oksida (SOx)</p> <p>Sifat Fisika dan KimiaSOx merupakan gas jernih yang tak berwarna, gas ini menyengat dan amat membahayakan manusia, kedalam daur belerang termasuk S02, H2S, dan H2SO4 yang merupakan asam dan garam yang merupakan aerosol tetes air di udara, selanjutnya gas H2S diproduksi oleh pembusukan bahan organik, letusan gunung api, dan sedikit industri.</p> <p>Sumber dan distribusiKonsekuensi yang timbulkan oleh belerang di udara (dalam bentuk SOx dan H2SO4) antara lain berupa :terbentuk hujan asam yang lebih asammenyebabkan proses korosi pada logam dan pemrosesan pemburaman permukaan bangunan yang mengandung karpet/ marmer.</p> <p>ToksisitasMenyebabkan hujam asamMenimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya bagi tanaman, hewan dan bahkan manusia.</p> <p>C.Partikel Molukuler (Debu, asam, pestisida)</p> <p>Sifat Partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna.</p> <p>SumberPartikulat debu melayang (SPM) dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna.Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu.Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara.</p> <p>ToksisitasPartikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara.D.Carbon Monoksida (CO)</p> <p>Sifat Fisika dan KimiaKarbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. </p> <p>Sumber dan distribusiKarbon monoksida yang terbentuk secara alamiah, dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan dan badai listrik alam.Sumber CO buatan berasal dari kendaraan bermotor bakar bensin. CO yang bersumber dari dalam ruang berasal dari alat pemanas ruang yang menggunakan bahan bakar fosil dan tungku masak.</p> <p>ToksisitasCO2 juga akan bereaksi di udara dengan batu silikat yang mengalami kehancuran iklim, terbentuklah CaCO2 dan batu kapur serta CaCO3 yang berakibat terganggunya daur siklus karbon di udara dan CO2banyak mengabsorpsi energi thermal yang seharusnya kembali keangkasa. CO2 kan menyimpang energi ini sehingga menyebabkan suhu naik dan menurut perhitungan dalam waktu 500 tahun suhu akan naik 22 0C (Sastrawijaya ,2000).</p> <p>E.Hidrokarbon</p> <p>SifatHC adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan. Semakin tinggi jumlah atom karbon, unsur ini akan cenderung berbentuk padatan. Hidrokarbon dengan kandungan unsur C antara 1-4 atom karbon akan berbentuk gas pada suhu kamar, sedangkan kandungan karbon diatas 5 akan berbentuk cairan dan padatan. HC yang berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila berupa cair maka HC akan membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk padatan akan membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi debu.</p> <p>Sumber dan DistribusiHC dapat berasal dari proses industri yang diemisikan ke udara dan kemudian merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan polutan primer karena dilepas ke udara ambien secara langsung, sedangkan oksidan fotokima merupakan polutan sekunder yang dihasilkan di atmosfir dari hasil reaksi-reaksi yang melibatkan polutan primer. Kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC adalah industri plastik, resin, pigmen, zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. </p> <p>F.Khlorin</p> <p>Sifat Fisika dan KimiaGas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat jenis gas khlorin 2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen khlorida yang toksik. </p> <p>Sumber dan DistribusiKhlorin merupakan bahan kimia penting dalam industri yang digunakan untuk khlorinasi pada proses produksi yang menghasilkan produk organik sintetik, seperti plastik (khususnya polivinil khlorida), insektisida (DDT, Lindan, dan aldrin) dan herbisida (2,4 dikhloropenoksi asetat) selain itu juga digunakan sebagai pemutih (bleaching agent) dalam pemrosesan sellulosa, industri kertas, pabrik pencucian (tekstill) dan desinfektan untuk air minum dan kolam renang. Terbentuknya gas khlorin di udara ambien merupakan efek samping dari proses pemutihan (bleaching) dan produksi zat/senyawa organik yang mengandung khlor.</p> <p>G.Timah Hitam</p> <p>Sifat Fisik dan KimiaTimah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada327,5 C dan titik didih 1.740C pada tekanan atmosfer. </p> <p>Sumber dan distribusiPembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada bahan bakar kendaraan bermotor merupakan bagian terbesar dari seluruh emisi Pb ke atmosfer berdasarkan estimasi skitar 8090% Penambangan dan peleburan batuan Pb, Peleburan Pb sekunder, penyulingan dan industri senyawa dan barang-barang yang mengandung Pb, dan insinerator juga dapat menambah emisi Pb ke lingkungan.Karena batubara seperti juga mineral lainnya (batuan dan sedimen) pada umumnya mengandung Pb kadar rendahDampak Terhadap KesehatanNitrogen Oksida (NOx)Bersifat racun terutama pada paru-paruPemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.</p> <p>Belerang Oksida (SOx)Pengaruh utama adalah iritasi sistem pernafasan</p> <p>Partikel Molukuler (Debu, asam, pestisida)partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan mengendap di alveoli. partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasipartikulat debu yang melayang dan berterbangan akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility). Carbon MonoksidaKeracunanGangguan metabolisme otot dan fungsi enzim intra-selulerkadar CO yang tinggi dapat menyebabkan perubahan tekanan darah, meningkatkan denyut jantung, ritme jantung menjadi abnormal gagal jantung, dan kerusakan pembuluh darah periferal</p> <p>Hidrokarbon</p> <p>KhlorinBau yang menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan peradangan.</p> <p>Timah Hitam (Pb)Bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobinGejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang dan gangguan penglihatan.</p> <p>Dampak Terhadap LingkunganHujan AsamEfek Rumah KacaPenipisan OzonTindakan Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran UdaraJangka PendekSosialisasi melalui media cetak dan elektronik berkaitan dengan bahaya pencemaran udara Relokasi kawasan industri yang berada di tengah kota ke daerah pinggiran kota dan pengembangan suatu daerah hijau (green belt) yang mengitari awasan industri yang akan dibangun.Penyelenggaraan analisis dampak lingkungan (AMDAL) secara rutin di pabrikpabrik yang berada di tengah kota atau di dekat lokasi permukiman pendudukPenyelenggaraan uji emisi gas buangan dari kendaraan bermotor secara berkala dan pembentukan sistem pemantauan pencemaran udara di setiap sudut kota.Perbaikan sarana transportasi darat tertama armada angkutan kota agar lebih manusiawi (aman, nyaman, dan murah) sehingga dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.Penerapan program 3in1 pada kendaraan pribadi selama jam-jam sibuk, terutama di jalan-jalan protokol di pusat kota.Pengawasan dan pelarangan pembakaran hutan terutama saat musim kemarau yang pada kenyataannya terjadi hampir setiap tahun.</p> <p>Jangka PanjangPerencanaan tata ruang kota yang mengacu pada wawasan kesehatan lingkungan.Mengganti bahan bakar untuk industri dan kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang ramah lingkungan misalnya bahan bakar gas dan bisolar yang berasal dari minyak kelapa sawit.Membangun sarana transportasi perkotaan dengan mempergunakan kereta api bawah tanah.Melakukan penghijauan atau membuat taman di setiap sudut kotaMempersiapkan suatu undang-undang tentang kesehatan lingkungan untuk menjamin terpeliharanya kualitas lingkungan. Nitrogen Dioksida (NOx)PENCEGAHANSumber BergerakSumber Tidak BergerakManusiaPENANGGULANGANmengunakan exhaust-fan.Bila terjadi korban keracunan, maka lakukan : Berikan pengobatan atau pernafasaan buatan serta kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.</p> <p>Belerang Oksida (SOx)PENCEGAHANSumber BergerakSumber Tidak BergerakBahan BakuManusiaPENANGGULANGANBila terjadi/jatuh korban, pindahkan korban ke tempat aman/udara bersih.Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.</p> <p>Partikel Molukuler (Debu, asam, pestisida)PENCEGAHANDengan melengkapi alat penangkap debu ( Electro Precipitator ).Dengan melengkapi water sprayer pada cerobong.Pembersihan ruangan dengan sistim basah.Menggunakan masker.PENANGGULANGAN, untuk penanggulangan dapat dilakukan dengan memperbaiki alat yang rusak.</p> <p>Carbon MonoksidaPENCEGAHANSumber BergerakSumber Tidak BergerakManusiaPENANGGULANGANMengatur pertukaran udara didalam ruang seperti mengunakan exhaust-fan.Bila terjadi korban keracunan, berikan pengobatan atau pernafasan buatanKirim segera ke rumah sakit atau puskesmas terdekat</p> <p>HidrokarbonPENCEGAHANa. Sumber Bergerakb. Sumber Tidak Bergerakc. ManusiaPENANGGULANGANMengganti peralatan yang rusak.Mengatur pertukaran udara didalam ruang, seperti menggunakan exhaust-fan.Bila jatuh korban keracunan maka berikan pengobatan atau pernafasan buatan.</p> <p>KhlorinPENCEGAHANa. Sumber Tidak Bergerakb. ManusiaPENANGGULANGANMengganti peralatan yang rusak.Mengatur pertukaran udara di dalam ruang seperti mengunakan exhaust-fan.Bila terjadi korban keracunan chlorin maka lakukan :Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.Timah HitamPENCEGAHANa. Sumber Tidak Bergerakb. ManusiaPENANGGULANGANa. Memperbaiki alat yang rusakb. Bila terjadi keracunan maka lakukan :Pemberian pengobatan.Kirim segera ke rumah sakit atau puskesmas terdekat.SaranPengurangan efek rumah kaca;Reboisasi hutan yang gundul;Pengurangan jumlah kendaraan bermotor, dan standarisasi emisi gas buang kendaraan bermotor;Penanaman hutan kota;Peningkatan jumlah kendaraan massal;Pengurangan jumlah industri yang dapat menyebabkan pencemaran udara dan peraturan yang dipertegas</p> <p>Daftar PustakaAgustiarni, Y. (2008) PENGARUH HUTAN KOTA DALAM MENGURANGI HUJAN ASAM DI KAWASAN INDUSTRI (Studi Kasus di Kawasan Industri Medan, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Medan, Medan: Universitas Sumatera Utara.</p> <p>Astra, I.M., 2010. Energi dan Dampaknya terhadap Lingkungan. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta Universitas Negeri Jakarta.</p> <p>Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta, 2013. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. [Online] Available at: http://bplhd.jakarta.go.id/filing/pelatairudara2013/Penyebab%20Sumber%20Pencemaran%20Udara%20Waty.pdf [Accessed 24 Mei 2014].</p> <p>Cahyono, W.E. (2007) 'URGENSI MENJAGA LAPISAN OZON BAGI PENGHUNI BUMI', BERITA DIRGANTARA, vol. 8, no. 2, Juni, pp. 38-41, Available: http://jurnal.lapan.go.id/index.php/berita_dirgantara/article/viewFile/734/651 [10 Juni 2014].</p> <p>Chandra, B., 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.</p> <p>Davis, , 1965. The Urbanization of the Human Population. America: Scientific America.</p> <p>DepKes, n.d. Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. [Online] Available at: www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF[Accessed 30 May 2014].Iwan Setiawan Basri (2010) 'Pencemaran Udara Dalam Antisipasi Teknis Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan', Jurnal SMARTek, Vol. 8(No. 2), pp. 120 - 129.Moeis, S., 2008. Direktori Universitas Pendidikan Indonesia. [Online] Universitas Pendidikan Indonesia Available at: http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/195903051989011-SYARIF_MOEIS/Masyarakat_Urban/Bab_IX.pdf [Accessed 24 Mei 2014].</p> <p>Rahmawaty (2002) DAMPAK PENCEMARAN UDARA TERHADAP TUMBUHAN, Medan: Universitas Sumatera Utara.</p> <p>RSPO (2011) 'EMS-P13 Greenhouse Gases Mitigation', ENVIRONMENTAL MANAGEMENT SYSTEM, no. 1, Juni, pp. 1-7, Available: http://www.rspo.org/file/acop/pt-pp-london-sumatra-indonesia-tbk/G-GHG-Public-Report-existing-op.pdf. [10 Juni 2014].</p> <p>Sastrawijaya, A.Tresna, 2000, Pencemaran Lingkungan, PT. Rineka Cipta, Jakarta</p> <p>Sutra, D.E., 2009. Hubungan antara pemajanan particulate matter 10 m (PM10) dengan gejala infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada pekerja pertambangan kapur tradisional (studi di pertambangan apur tradisional gunung masigit, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat Tahun 2009). Skripsi. Depok: Universitas Indonesia Universitas Indonesia.TERIMAKASIH</p>