modul praktikum perpetaanumpalangkaraya.ac.id/dosen/rudyyogalesmana/wp-content/... · web viewnilai...

of 30/30
MODUL PRAKTIKUM PERPETAAN PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA 2017

Post on 28-Oct-2020

1 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Modul Praktikum PERPETAAN

MODUL PRAKTIKUM

PERPETAAN

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA

2017

Prodi Teknik Lingkungan 2017

Modul Praktikum PERPETAAN

i |

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

i

PENJELASAN PRAKTIKUM PERPETAAN

ii

MODUL 02 – GPS

5

MODUL 03 –

10

MODUL 04 –

14

MODUL 05 –

21

LAMPIRAN

45

Prodi Teknik Lingkungan 2017

Modul Praktikum PERPETAAN

(i)

PENJELASAN PRAKTIKUM PERPETAAN

RESPONSI

1. Peserta wajib mengikuti responsi praktikum setiap minggu

2. Responsi diadakan setiap sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan dosen pengampu

3. Responsi terdiri dari penjelasan praktikum dan tes responsi, tidak mengikuti responsi otomatis nilai tes responsi nol

4. Nilai tes responsi akan dimasukan ke dalam nilai akhir praktikum.

PRAKTIKUM

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1. Praktikum dilaksanakan di Lapangan maupun di ruang perkuliahan

2. Praktikum dilaksanakan selama 90 menit, sudah termasuk tes awal dan tes akhir

3. Mahasiswa yang tidak mengikuti praktikum berarti tidak lulus praktikum dan otomatis tidak lulus Mata Kuliah Mekanika Fluida

4. Mahasiswa diharapkan hadir tepat waktu dengan toleransi keterlambatan 15 menit. Mahasiswa yang terlambat 5-10 menit dikenakan sanksi perorangan (10) dan sanksi kelompok (-5). Sedangkan untuk mahasiswa terlambat lebih dari 15 menit dianggap tidak hadir praktikum dan mendapat saksi perorangan (-20) dan sanksi kelompok (-5) tetapi masih berhak mengikuti dan mengerjakan laporan praktikum

5. Mahasiswa tidak diperkenankan bercanda ketika sedang melaksanakan praktikum

6. Bagi mahasiswa yang memecahkan dan/atau merusak properti laboratorium, segera lapor asisten dan mengganti item tersebut setelah kejadian tersebut

7. Mahasiswa tidak boleh menggunakan fasilitas apapun di laboratorium tanpa izin dari asisten yang bertugas

B. KELENGKAPAN PRAKTIKUM

1. Mahasiswa wajib mengisi daftar hadir praktikum yang telah disiapkan oleh asisten

2. Selama praktikum, Mahasiswa diwajibkan memakai jas laboratorium lengan panjang, pakaian rapi dan sopan, dan tidak memakai kaos Oblong. Jika kelengkapan tidak terpenuhi, praktikan tidak diizinkan mengikuti praktikum = nilai praktikum 0

3. Mahasiswa harus sudah memakai jas lab ketika memasuki ruangan laboratorium dan dibuka setelah praktikum selesai praktikum

4. Modul Praktikum Wajib dibawa pada saat mengikuti Praktikum, jika tidak dibawa maka akan terdapat pengurangan nilai

5. Tas mahasiswa disusun rapih diruang di tempat yg sudah disediakan dan disarankan tidak membawa barang berharga

6. Peralatan pribadi yang diperlukan untuk praktikum, meliputi stopwatch/HP/ berstopwatch (1 per kelompok), penggaris 30 cm (2 per kelompok), kalkulator (1 per kelompok), alat tulis (perorangan).

C. IJIN PRAKTIKUM

1. Mahasiswa yang tidak dapat mengikuti praktikum hanya diperbolehkan oleh 2 alasan :

1. Sakit, dengan melampirkan surat sakit (surat sakit dari dokter) paling lambat 1 minggu setelah praktikum, diberikan pada asisten yang bertugas saat praktikum. pemberitahuan bahwa mahasiswa sakit harus disampaikan oleh teman satu kelompok ke asisten yang bertugas pada saat praktikum dilaksanakan

2. Ijin, dengan melampirkan surat ijin (yang dibuat oleh wali/orangtua/Instansi) pada hari praktikum dilaksanakan, diberikan pada asisten praktikum

Pemberitahuan bahwa praktikan izin harus disampaikan oleh teman satu kelompok ke asisten yang bertugas pada saat praktikum dilaksanakan.

1. Tidak ada praktikum susulan bagi mahasiswa yang berhalangan mengikuti praktikum. Namun mahasiswa tetap diharuskan mengumpulkan laporan dengan data kelompoknya dan berhak mendapat nilai penuh laporan

2. Bagi mahasiswa yang tidak mengikuti praktikum tanpa keterangan tidak berhak mendapatkan nilai laporan praktikum modul yang dipraktikumkan

D. PENYUSUNAN LAPORAN

A. LAPORAN PRAKTIKUM

1. Laporan praktikum merupakan laporan perorangan ditulis di kertas A4.

2. Pengumpulan laporan dilakukan satu minggu setelah praktikum

3. Laporan diserahkan kepada asisten yang bertugas sesuai dengan jam praktikum secara berkelompok

B. KOMPONEN LAPORAN

1. Cover laporan

2. Tujuan praktikum (5)

3. Prinsip percobaan (10)

4. Dasar Teori (15)

5. Data awal (4)

6. Pengolahan data (10)

7. Data Akhir (4)

8. Analisa A (30)

9. Analisa B (10)

10. Kesimpulan (10)

11. Daftar pustaka (2)

C. KETENTUAN ISI LAPORAN:

1. Cover laporan : mengikuti format yang telah diberikan

2. Dasar Teori : dikerjakan secara perorangan (satu kelompok boleh sama)

3. Tujuan praktikum : berisi tujuan praktikum bukan sasaran praktikum

4. Prinsip Praktikum : dijelaskan dalam bentuk paragraf, merupakan prinsip praktikum (metoda yang dilakukan saat praktikum hingga tercapai tujuan praktikum)

5. Data Awal : berupa data hasil pengamatan di laboratorium (boleh berupa tabel)

6. Pengolahan data : berupa tahapan-tahapan perhitungan lengkap untuk 1 jenis variasi debit

7. Data Akhir : merupakan data hasil pengolahan dari data awal (boleh berupa tabel)

E. NILAI TOTAL PRAKTIKUM

Nilai total praktikum merupakan penggabungan dari nilai kehadiran mahasiswa pada saat responsi dan praktikum (10%), nilai tes responsi (15), nilai tes awal/akhir (15), dan nilai laporan (60%)

MODUL 01 – GLOBAL POSITIONING SYSTEM

A. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian dan fungsi GPS

2. Mahasiswa dapat menggunakan GPS secara sederhana dalam menentukan posisi di lapangan.

3. Mahasiswa mampu mem-plot hasil pembacaan GPS ke dalam peta google map

B. DASAR TEORI

GPS dalah bagian dari sistem radio navigasi berbasis satelit yang secara terus-menerus mentransmisikan informasi dalam bentuk kode, sehingga memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan lokasi / posisi, ketinggian, kecepatan dan waktu dengan mengukur jarak kita dengan satelit.

Global positioning system merupakan metode penentuan posisi ekstra-teristris yang menggunakan satelit GPS sebagai target pengukuran. Metode ini dinamakan penentuan posisi secara global karena koordinat yang dihasilkan bersifat geosentrik, artinya pusat massa bumi dianggap sebagai pusat sistem koordinat sehingga sistem koordinat ini berlaku untuk seluruh dunia. Sebagai bidang referensi (bidang datum) koordinat digunakan elipsoid World Geodetic System 1984 (WGS 1984).

Ada dua jenis alat penerima sinyal GPS yaitu navigasi dan jenid goedetik. Alat penerima jenis navigasi merupakan alat yang mempunyai bentuk sederhana, kecil, dan praktis dibawa kemana-mana karena tidak dilengkapi alat perlengkapan lainnya (seperti statip atau kaki tiga dan antena luar) sehingga, tidak memerlukan bantuan orang lain untuk membawanya.karena itu, alat ini sangat sesuai untuk digunakan sebagai alat petunjuk navigasi. Berbeda dengan jenis navigasi, jenis geodetik merupakan alat penerima sinyal satelit GPS yang mempunyai bentuk dan ukuran lebih besar dari jenis navigasi, serta dilengkapi dengna kaki tiga  (statip) untuk menempatkan antena tepat diatas titik yang akan diukur/ditentukan posisinya. Dengan demikian, untuk membawa seluruh perlengkapan kelapangan diperlukan dua atau tiga orang personal.

Prinsip penentuan posisis degan GPS ini merupakan metode pengikatan keblakang. Pada metode pengikatan kebelakang yang asli, data yang diukur adalah sudut-sudut di titik yang dicari koordinatnya desatelit-satelit yang sedang diamati (paling sedikit diperlukan empat satelit untuk setiap satu titik ukur. Berhubung posisi/ koordinatnya sudah diketahui setiap saat, maka satelit-satelit tersebut bervungsi sebagai titik ikat. Posisi yagn diukut/ditentukan oleh metode GPS ini adalah dalam bentuk koordinat siku-siku tiga dimensi atau dapat pula dlam bentuk koordinat geodetis (lintang, bujur) yang semuanya ditentukan terhadap elipsoid geosentrik World Geodetic System 1984 (WGS-1984).

C. ALAT DAN BAHAN :

1. GPS

2. Alat Tulis

3. Komputer/ Laptop Untuk Input data

D. CARA KERJA

1. Siapkanlah peralatan yang sudah ditentukan

2. Ambillah Titik Koordinat dengan menggunakan GPS pada wilayah yang tidak tertutupi oleh Vegetasi

3. Trackinglah wilayah yang akan dilewati dengan menggunakan GPS, dan tandai wilayah-wilayah yang diaanggap penting dengan menggunakan waypoint.

4. Data yang sudah terekam di GPS selanjutnya di Eksport ke software Mapsource/Global mapper

MODUL 02 – SURVEY PENGUKURAN DENGAN WATERPASS

A. TUJUAN PRAKTIKUM

Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum Ilmu Ukur Tanah ini adalah sbb:

1. Praktikan dapat memahami cara menentukan jarak optis patok utama dan detail

2. Memahami cara menentukan beda tinggi,

3. Memahami cara menentukan koreksi kesalahan,

4. Memahami cara menentukan tinggi patok, dan

5. Memahami cara mentukan kemiringan patok

B. DASAR TEORI

1. Teori Pengukuran

Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara dua titik atau lebih. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data sebagai keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi. Hasil-hasil dari pengukuran waterpass di antaranya digunakan untuk perencanaan jalan, jalan kereta api, saluran, penentuan letak bangunan gedung yang didasarkan atas elevasi tanah yang ada, perhitungan urugan dan galian tanah, penelitian terhadap saluran-saluran yang sudah ada, dan lain-lain.Dalam pengukuran tinggi ada beberapa istilah yang sering digunakan, yaitu :

a) Garis vertikal adalah garis yang menuju ke pusat bumi, yang umum dianggap sama dengan garis unting-unting.

b) Bidang mendatar adalah bidang yang tegak lurus garis vertikal pada setiap titik. Bidang horisontal berbentuk melengkung mengikuti permukaan laut.

c) Datum adalah bidang yang digunakan sebagai bidang referensi untuk ketinggian, misalnya permukaan laut rata-rata.

d) Elevasi adalah jarak vertikal (ketinggian) yang diukur terhadap bidang datum.

e) Banch Mark (BM) adalah titik yang tetap yang telah diketahui elevasinya terhadap datum yang dipakai, untuk pedoman pengukuran elevasi daerah sekelilingnya.

Prinsip cara kerja dari alat ukur waterpass adalah membuat garis sumbu teropong horisontal. Bagian yang membuat kedudukan menjadi horisontal adalah nivo, yang berbentuk tabung berisi cairan dengan gelembung di dalamnya.

Dalam menggunakan alat ukur waterpass harus dipenuhi syarat-syarat sbb :

1) Garis sumbu teropong harus sejajar dengan garis arah nivo.

2) Garis arah nivo harus tegak lurus sumbu I.

3) Benang silang horisontal harus tegak lurus sumbu I.

2. Fungsi utama.

a. Memperoleh pandangan mendatar atau mendapat garis bidikan yang sama tinggi, sehingga titik – titik yang tepat garis bidikan/ bidik memiliki ketinggian yang sama.

b. Dengan pandangan mendatar ini dan diketahui jarak dari garis bidik yang dapat dinyatakan sebagai ketinggian garis bidik terhadap titik – titik tertentu, maka akan diketahui atau ditentukan beda tinggi atau ketinggian dari titik – titik tersebut

3. Poligon

Poligon adalah serangkaian garis lurus yang menghubungkan titik-titik yang terletak di permukaan bumi. Garis-garis lurus membentuk sudut-sudut pada titik-titik perpotongannya. Dengan menggunakan poligon dapat ditentukan secara  sekaligus koordinat beberapa titik yang letaknya berurutan dan memanjang.

Pada ujung awal poligon diperlukan satu titik yang telah diketahui koordinat dan sudut jurusannya. Karena untuk menentukan koordinat titik yang lain diperlukan sudut mendatar dan jarak mendatar, maka pada pengukuran di lapangan data yang diambil adalah data sudut mendatar dan jarak mendatar di samping itu diperlukan juga penentuan sudut jurusan dan satu titik yang telah diketahui koordinatnya.

C. ALAT DAN BAHAN

1. Pesawat penyipat datar (PPD)

Alat ukur waterpass secara umum memiliki bagian-bagian sebagai berikut :   

a. Lingkaran horizontal berskala,

b. Skala pada lingkaran horizontal,

c. Okuler teropong,

d. Alat bidik dengan celah penjara,

e. Cermin nivo,

f. Sekrup penyetel fokus,

g. Sekrup penggerak horizontal,

h. Sekrup pengungkit,

i. Sekrup pendatar,

j. Obyektif teropong,

k. Nivo tabung,

l. Nivo kotak.

2. Statif (Kaki Tiga)

Statif (kaki tiga) berfungsi sebagai penyangga waterpass dengan ketiga kakinya dapat menyangga penempatan alat yang pada masing-masing ujungnya runcing, agar masuk ke dalam tanah. Ketiga kaki statif ini dapat diatur tinggi rendahnya sesuai dengan keadaan tanah tempat alat itu berdiri. Seperti tampak pada gambar dibawah ini :

3. Unting – Unting

4. Rambu Ukur

5. Payung

6. Meteran

7. Patok

8. Kompas

D. CARA KERJA

1. Penentuan profil

a.  Profil Memanjang

·      Pemasangan patok dilakukan pada jarak tertentu. Dalam hal ini sesuai dengan keinginan anda. Namun demikian, terlebih dahulu tentukan arah utara dengan menggunakan kompas. Kemudian menolkan nilai dariwaterpass, dimana arah utara merupakan patokan utama. Waterpassdiletakkan di tengah-tengah antara kedua patok.

1) Waterpass diseimbangkan dengan melihat kedudukan nivo sambil memutar sekrup penyetel hingga gelembung yang berada di dalamnya dalam kedudukan yang seimbang (di tengah-tengah).

2) Pada pengukuran profil memanjang ini digunakan metode “Double Standing”, yaitu suatu metode dimana pengukuran pergi dan pengukuran pulang dilakukan serempak hanya dengan menggunakan kedudukan pesawat, misalnya pada pengukuran pergi, P0 sebagai pembacaan belakang dan P1 sebagai pembacaan muka, begitu pula sebaliknya.

3) Bak ukur diletakkan di atas patok dengan kedudukan vertikal dari segala arah.

4) Waterpass diarahkan ke patok pertama (P0) selanjutnya disebut pembacaan belakang. Pada teropong terlihat pembacaan benang atas, benang tengah dan bawah. Setelah itu waterpass diarahkan ke patok kedua (P1).

5) Selanjutnya dengan mengubah letak pesawat (waterpass) kita mengadakan pengukuran pulang dengan mengarahkan ke P1 (pembacaan belakang). Pada teropong terlihat pembacaan benang atas, tengah dan bawah.

6) Pengamatan selanjutnya dilakukan secara teratur dengan cara seperti di atas sampai pada patok terakhir.

7) Pembacaan hasil pengukuran dicatat pada tabel

b. Profil Melintang

1) Waterpass diletakkan pada patok utama dan diseimbangkan kembali kedudukan nivo nya seperti pada pengukuran profil memanjang.

2) Pada jarak yang memungkinkan diletakkan bak ukur. Titik yang diukur disebelah kanan waterpass diberi simbol a, b dan disebelah kiri diberi simbol c dan d.

3) Pengukuran dilakukan secara teliti mulai dari patok pertama sampai pada patok terakhir.

4) Semua data yang diperoleh dicatat pada tabel yang tersedia

c. Cara Mengoperasikan Alat Ukur Waterpass Ada 4 jenis kegiatan yang harus dikuasai dalam mengoperasikan alat ini, yaitu :

1) Memasang alat di atas kaki tiga Alat ukur waterpass tergolong kedalam Tripod Levels, yaitu dalam penggunaannya harus terpasang diatas kaki tiga. Oleh karena itu kegiatan pertama yang harus dikuasai adalah memasang alt ini pada kaki tiga atau statif. Pekerjaan ini jangan dianggap sepele, jangan hanya dianggap sekedar menyambungkan skrup yang ada di kaki tiga ke lubang yang ada di alat ukur, tetapi dalam pemasangan ini harus diperhatikan juga antara lain :

2) Kedudukan dasar alat waterpass dengan dasar kepala kaki tiga harus pas, sehingga waterpass terpasang di tengah kepala kaki tiga.

3) Kepala kaki tiga umumnya berbentuk menyerupai segi tiga, oleh karena itu sebaikny tiga skrup pendatar yang ada di alat ukur tepat di bentuk segi tiga tersebut.

4) Pemasangan skrup di kepala kaki tiga pada lubang harus cukup kuat agar tidak mudah bergeser apalagi sampai lepas Skrup penghubung kaki tiga dan alat terlepas.

5) Mendirikan Alat ( Set up ) Mendirikan alat adalah memasang alat ukur yang sudah terpasang pada kaki tiga tepat di atas titik pengukuran dan siap untuk dibidikan, yaitu sudah memenuhi persyaratan berikut:

6) Sumbu satu sudah dalam keadaan tegak, yang diperlihatkan oleh kedudukan gelembung nivo kotak ada di tengah.

7) Garis bidik sejajar garis nivo, yang ditunjukkan oleh kedudukan gelembung nivo tabung ada di tengah atau nivo U membentuk huruf U.

8) Membidikan Alat Membidikan alat adalah kegiatan yang dimulai dengan mengarahkan teropong ke sasaran yang akan dibidik, memfokuskan diafragma agar terlihat dengan jelas, memfokuskan bidikan agar objek yang dibidik terlihat jelas dan terakhir menepatkan benang diafragma tegak dan diafragma mendatar tepat pada sasaran yang diinginkan.

D. Membaca Hasil Pembidikan Ada 2 hasil pembidikan yang dapat dibaca, yaitu :

a.       Pembacaan Benang atau pembacaan rambu.

Pembacaan benang atau pembacaan rambu adalah bacaan angka pada rambu ukur yang dibidik yang tepat dengan benang diafragma mendatar dan benang stadia atas dan bawah. Bacaan yang tepat dengan benang diafragma mendatar biasa disebut dengan Bacaan Tengah (BT), sedangkan yang tepat dengan benang stadia atas disebut Bacaan Atas (BA) dan yang tepat dengan benang stadia bawah disebut Bacaan Bawah (BB). Karena jarak antara benang diafragma mendatar ke benang stadia atas dan bawah sama, maka :

BA – BT = BT – BB atau BT = ½ ( BA – BB)

Persamaan ini biasa digunakan untuk mengecek benar atau salahnya pembacaan. Kegunaan pembacaan benang ini adalah :

1) Bacaan benang tengah digunakan dalam penentuan beda tinggi antara tempat berdiri alat dengan tempat rambu ukur yang dibidik atau diantara rambu-rambu ukur yang dibidik.

2) Bacaan benang atas dan bawah digunakan dalam penentuan jarak antara tempat berdiri alat dengan tempat rambu ukur yang dibidik.Pembacaan rambu ukur oleh alat ini ada yang terlihat dalam keadaan tegak dan ada yang terbalik, sementara pembacaannya dapat dinyatakan dalam satuan meter (m) atau centimeter (cm).

3) Pembacaan Sudut Waterpass seringkali juga dilengkapi dengan lingkaran mendatar berskala, sehingga dapat digunakan untuk mengukur sudut mendatar atau sudut horizontal.

4) Ada 2 satuan ukuran sudut yang biasa digunakan, yaitu :

a) Satuan derajat

Pada satuan ini satu lingkaran dibagi kedalam 360 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 derajat (1°), setiap derajat dibagi lagi menjadi 60 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 menit (1’) dan setiap menit dibagi lagi kedalam 60 bagian dan setiap bagian dinyatakan dengan 1 detik (1”).

 b) Satuan grid.

Pada satuan ini satu lingkaran dibagi kedalam 400 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 grid (1g), setiap grid dibagi lagi menjadi 100 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 centigrid (1cg) dan setiap centigrid dibagi lagi kedalam 100 bagian dan setiap bagian dinyatakan dengan 1 centi-centigrid (1ccg). Salah satu contoh pembacaan sudut horizontal dari alat ukur waterpass NK2 dari Wild.

E. Cara Penentuan Beda Tinggi

Dalam praktikum ini, alat yang digunakan adalah alat untuk penyipat datar (waterpass). Penentuan beda tinggi dengan menggunakan alat ukurwaterpass dapat dilakukan dengan tiga cara tergantung keadaan di lapangan:

a. Menempatkan alat ukur penyipat datar pada salah satu titik. Misalnya pesawat di letakkan di titik B.  Tinggi A (garis bidik) atau titik tengah teropong di atas titik B di ukur dengan mistar. Dengan gelembung di tengah–tengah lingkaran, garis bidik diarahkan ke mistar (bak) ukur yang diletakkan di titik A.

b. Besarnya pembacaan benang tengah pada bak ukur dinamakan J, maka beda tinggi antara titik A dan B adalah :

b.   Alat ukur penyipat datar ditempatkan diantara titik A dan B. Jarak alat ukur penyipat datar antara kedua bak ukur diambil kira-kira sama. Diusahakan agar pesawat tetap berada ditengah – tengah. Pada kedua titik tersebut diletakkan bak ukur. Arahkan pesawat ke bak ukur A (pembacaan belakang) dan hasil pembacaannya dinamakan R. Lalu pesawat diputar searah jarum jam untuk melakukan pembacaan benang tengah pada bak ukur B (pembacaan muka) dan hasil pembacaannya dinamakan V. Maka beda tinggi antara titik A dan B:

c.   Menempatkan alat ukur di luar titik A dan titik B, hal ini dilakukan dilakukan bila keadaan terpaksa, mungkin karena adanya penghalang seperti sungai, selokan atau saluran-saluran air lainnya antara kedua titik tersebut. Pada gambar dibawah ini, pesawat ditempatkan di sebelah kanan titik B selanjutnya dilakukan pembacaan benang tengah dan hasil pembacaan bak ukur B disebut V, maka beda tinggi antara titik A dan B adalah :

Dari ketiga cara tersebut, yang paling teliti adalah dengan cara menempatkan alat ukur tersebut di antara dua titik yang akan diukur beda tingginya karena dengan mengubah arahnya sesuai dengan arah jarum jam maka kesalahannya negatif, juga kesalahan atmopsferiknya saling berbagi.

3.5.  Kesalahan Yang Terjadi Dalam Pengukuran

Dalam melakukan pengukuran kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Kesalahan itu dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu :

a.    Kesalahan Besar ( Mistakes Blunder )

Kesalahan ini dapat terjadi karena kurang hati-hati dalam melakukan pengukuran atau kurang pengalaman dan pengetahuan dari praktikan. Apabila terjadi kesalahan ini, maka pengukuran harus di ulang atau hasil yang mengalami kesalahan tersebut dicoret saja.

b.    Kesalahan Sistimatis ( Sistematic Error )

Umumnya kesalahan ini terjadi karena alat ukur itu sendiri. Misalnya panjang meter yang tidak tepat atau mungkin peralatan ukurnya sudah tidak sempurna. Kesalahan ini dapat dihilangkan dengan perhitungan koreksi atau mengkaligrasi alat/memperbaiki alat.

c.    Kesalahan Yang Tidak Terduga/Acak ( Accidental Error )

Kesalahan ini dapat terjadi karena hal–hal yang tidak diketahui dengan pasti dan tidak diperiksa. Misalnya ada getaran pada alat ukur ataupun pada tanah. Kesalahan dapat diperkecil dengan melakukan observasi dan mengambil nilai rata– rata sebagai hasil.

Hambatan

Hambatan yang terjadi di lapangan ada beberapa faktor yang mempengaruhi jalannya / proses pengukuran yaitu :

1. Faktor Kurangnya pemahaman tentang teori pengukuran,

2. Faktor bahan dan alat,

 Terlebih lagi faktor cuaca juga memperlambat proses pengukuran karena apabila cuaca hujan otomatis tim pengukur berhenti sejenak untuk berteduh dari hujan.

Rumus – rumus yang di gunakan

Rumus Perhitungan Profil Memanjang

a.    Perhitungan Jarak Optis patok utama

Rumus   :

D         = ( Ba – Bb ) x 100

Dimana  :

D         =   Jarak Optis  (m)

Ba        =   Benang atas  (mm)

Bb        =   Benang bawah  (mm)

b.    Perhitungan Beda Tinggi Patok Utama

Rumus   :

∆H        =  Bt  blkn – Bt muka

Dimana  :

∆H       =   Beda Tinggi (m)

Bt blkn    =   Benang Tengah (mm)

Bt muka  =   Benang Tengah (mm)

c.    Perhitungan Koreksi Kesalahan

·             Perhitungan Kesalahan Keseluruhan

Rumus   :

Z       =∑ ∆H ±  ∆H

Dimana   :

Z       =  Kesalahan

∑ ∆H   =  Jumlah Total Beda Tinggi Pengukuran

∆H     =  Jumlah Beda Tinggi Pengukuran per patok

·             Perhitungan Kesalahan Perpatok

Rumus   :

K   =  - (Z /  ( n – 1 ))

Dimana   :

K       =   Nilai Koreksi

Z       =   Kesalahan

N       =   Banyaknya Patok

d.   Perhitungan Tinggi Titik Patok Utama

Rumus   :

Pn   =  Pn-1  ±  ∆H n-1 ±  K

Dimana   :

Pn      =   Tinggi Titik Utama

Pn-1     =   Tinggi Titik Utama sebelum Pn

∆H    =   Beda tinggi

K       =   Koreksi

e.    Perhitungan Kemiringan Patok Utama

Rumus   :

/ Tn  =  (∆H/ D )  /  100 %

Dimana  :

/ Tn    =  Kemiringan Titik Yang ditinjau

∆H    =  Jarak Optis Rata-Rata Tiap Patok Utama

Rumus Perhitungan Profil Melintang

a.    Perhitungan Jarak Optis Detail’

Rumus   :

D  =  ( Ba – Bb ) x 100

Dimana  :

D       =  Jarak Optis

Ba      =  Benang Atas

Bb      =  Benang Bawah

b.    Perhitungan Beda Tinggi Detail

Rumus   :

∆H  =  Tinggi Pesawat – Bt Detail

Dimana  :

∆H    =  Beda Tinggi

Bt      =  Benang Tengah

c.    Perhitungan  Tinggi Titik Detail

Rumus   :

T  =  Pn  ±  ∆H

Dimana  :

T       =  Tinggi Titik Detai Yang ditinjau

Pn        =  Tinggi Titik Patok Utama

d.   Perhitungan Kemiringan Detail

Rumus   :

/ T det  =  ( ∆H Detail  /  D det ) * 100 %

Dimana  :

/ T det         =   Kemiringan detail

∆H Detail   =   Beda tinggi detail

D det          =   Jarak Optis detail

MODUL 03 – PEMBUATAN PETA DENGAN ARCVIEW

A. TUJUAN PRAKTIKUM

B. DASAR TEORI

Registrasi peta merupakan langkah awal dalam pemasukan data di ArcView. Sebelum proses digitasi, peta harus diregistrasi dulu utk menyamakan koordinat peta hasil scan dengan koordinat bumi sebenarnya. Proses ini biasa disebut koreksi geometric. Di ArcView ada beberapa cara utk meregistrasi peta, seperti memanfaatkan Extensions Register and Transform tool dan Extensions Spasial Anayst. Disini saya akan coba membagi pengalaman saya dalam meregistrasi peta menggunkana extensions Register and Transform tool (Syakur, 2008)

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengaktivkan extension ini dan extensions JPGE (JFIF) Image Support dengan memilih menu file à extensions. Setelah itu di menu view akan muncul sub menu register and tranform sprt gambar di bawah. Selanjutnya panggil peta yg akan di register dalam bntuk *.JPG, atau *.TIFF

C. ALAT DAN BAHAN

1. Alat Tulis

2. Komputer/ Laptop Untuk Input data

D. CARA KERJA

1. Sediakan lembar peta berformat JPG yang akan diregistrasi

2. Masukan peta berformat JPG kedalam software ArcView untuk di registrasi

3. Kemudian digitasi peta sesuai sesuai dengan wilayah yang sudah ditentukan

4. Sajikan peta sesuai format penyajian peta yang baik

5. Untuk lebih jelasnya liat video tutorial yang sudah diberikan

6