Mengenal Kantong Semar Yang Indah Dan Keunikannya ?· Sebagaimana yang dijanjikan maka pada pagi hari…

Download Mengenal Kantong Semar Yang Indah Dan Keunikannya ?· Sebagaimana yang dijanjikan maka pada pagi hari…

Post on 02-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

TRANSCRIPT

<p>PENDIDIKAN LINGKUNGAN/KONSERVASI PENGENALAN DUNIA FLORA TENTANG NEPHENTES spp. SERI : 2 (KEDUA). </p> <p>Ditulis oleh Sudarsono Djuri *) </p> <p>Mengenal Kantong Semar Yang Indah </p> <p>Dan Keunikannya </p> <p>PRAKATA : Dalam penerbitan bulletin yang lalu telah disampaikan pengenalan tentang mengapa Nephentes </p> <p>spp dikenal dengan nama Kantong Semar, maka dalam penulisan seri kedua ini akan penulis </p> <p>sajikan kelanjutannya dalam pengenalan segi ilmiah atau pengetahuan secara ilmu biologi tentang </p> <p>Jenis Tanaman Kantong Semar ini. </p> <p>Sebagaimana yang dijanjikan maka pada pagi hari minggu tibalah saatnya Farel dan Fares </p> <p>menemui Wa Ujon untuk mengetahui lebih lanjut tentang jenis tanaman yang telah menarik </p> <p>perhatian mereka berdua. </p> <p> Nah, sekarang kalian dengarkan dan tanyakan bila kurang mengerti. Nanti pulangnya kalian </p> <p>bawa saja dulu buku-buku tentang tanaman tersebut kata Wa Ujon, setelah mereka duduk </p> <p>melingkar diatas dipan. Oya, tuh minuman dan makanan yang sengaja wa istrimu buat didepan </p> <p>juga jangan lupa dicicipi . Kemudian Wa Ujonpun memulai bercerita tentang jenis tanaman ini. </p> <p>A. TAKSONOMI </p> <p>Anonimus ( Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia 2008 ), </p> <p>menyatakan bahwa secara taksonomi (tata nama) dalam pelajaran biologi, klasifikasi ilmiah </p> <p>Nephentes adalah sebagai berikut : </p> <p>Kerajaan : Plantae </p> <p>Filum : Magnoliophyta </p> <p>Kelas : Magnoliopsida </p> <p>Ordo : Caryophyllales </p> <p>Familia : Nepenthaceae </p> <p>Genus : Nepenthes </p> <p>Spesies : Nepenthes spp </p> <p>Nama binomial : Linnaeus, </p> <p>Tata nama dalam biologi (Nama Binomial) telah mengalami perubahan berkali-kali semenjak </p> <p>manusia mencatat berbagai jenis organisme. Plinius dari masa Kekaisaran Romawi telah </p> <p>menulis sejumlah nama tumbuhan dan hewan dalam ensiklopedia yang dibuatnya dalam </p> <p>bahasa Latin. Sistem penamaan organisme selanjutnya selalu menggunakan bahasa Latin </p> <p>dalam tradisi pencatatan Eropa. Hingga sekarang sukar dijumpai sistem penulisan nama </p> <p>organisme yang dipakai dalam tradisi Arab atau Tiongkok. Kemungkinan dalam tradisi ini </p> <p>penulisan nama menggunakan nama setempat (nama lokal). Keadaan berubah setelah cara </p> <p>penamaan yang lebih sistematik diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus dalam kitab yang </p> <p>ditulisnya, Systema Naturae ("Sistematika Alamiah") (Anonimus, Wikipedia Indonesia, </p> <p>ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, 2008). </p> <p>Genus Nepenthes (Kantong semar, bahasa Inggris: Tropical pitcher plant), yang termasuk </p> <p>dalam familia monotypic, terdiri dari 80-100 spesies, baik yang alami maupun hibrida. Genus </p> <p>ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis Dunia Lama, kini meliputi negara </p> <p>Indonesia (55 spesies, 85%), Tiongkok bagian selatan, Malaysia, Filipina, Madagaskar, </p> <p>Seychelles, Australia, Kaledonia Baru, India, dan Sri Lanka. Habitat dengan spesies </p> <p>terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatra (Anonimus, Wikipedia Indonesia, ensiklopedia </p> <p>bebas berbahasa Indonesia, 2008) </p> <p>Kantong semar atau dalam nama latinnya Nepenthes sp. pertama kali dikenalkan oleh J.P </p> <p>Breyne pada tahun 1689. Di Indonesia, sebutan untuk tumbuhan ini berbeda antara daerah </p> <p>satu dengan yang lain. Masyarakat di Riau mengenal tanaman ini dengan sebutan periuk </p> <p>monyet, di Jambi disebut dengan kantong beruk, di Bangka disebut dengan ketakung, </p> <p>sedangkan nama sorok raja mantri disematkan oleh masyarakat di Jawa Barat pada tanaman </p> <p>unik ini. Sementara di Kalimantan setiap suku memiliki istilah sendiri untuk menyebut </p> <p>Nepenthes sp. Suku Dayak Katingan menyebutnya sebagai ketupat napu, suku Dayak </p> <p>Bakumpai dengan telep ujung, sedangkan suku Dayak Tunjung menyebutnya dengan selo </p> <p>bengongong yang artinya sarang serangga (Mansur, 2006). Sampai dengan saat ini tercatat </p> <p>terdapat 103 jenis kantong semar yang sudah dipublikasikan (Firstantinovi dan Karjono, </p> <p>2006). </p> <p>Tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai tumbuhan karnivora karena memangsa serangga. </p> <p>Kemampuannya itu disebabkan oleh adanya organ berbentuk kantong yang menjulur dari </p> <p>ujung daunnya. Organ itu disebut pitcher atau kantong. Kemampuannya yang unik dan </p> <p>asalnya yang dari negara tropis itu menjadikan kantong semar sebagai tanaman hias pilihan </p> <p>yang eksotis di Jepang, Eropa, Amerika dan Australia. Sayangnya, di negaranya sendiri justru </p> <p>tak banyak yang mengenal dan memanfaatkannya (Witarto, 2006). Selain kemampuannya </p> <p>dalam menjebak serangga, keunikan lain dari tanaman ini adalah bentuk, ukuran, dan corak </p> <p>warna kantongnya. Secara keseluruhan, tumbuhan ini memiliki lima bentuk kantong, yaitu </p> <p>bentuk tempayan, bulat telur/oval, silinder, corong, dan pinggang (Fatahul Azwar dkk., </p> <p>2006). </p> <p>B. HABITAT ( TEMPAT TUMBUH ). </p> <p>Di alam, Nepenthes (Kantong Semar) ada yang tumbuh di ketinggian 0 diatas permukaan laut </p> <p>dan ada pula spesies yang tumbuh di ketinggian lebih dari 3000 m dpl. Kebanyakan tanaman </p> <p>nepenthes hidup terrestrial di tanah pasir, gambut, kapur, bebatuan, ranting dan daun yang </p> <p>membusuk, dan tanah/bebatuan vulkanik. Namun ada juga yang tumbuh menempel di pohon </p> <p>besar sebagai tanaman epifit, dan lainnya tumbuh terrestrial di tanah gambut, berpasir, </p> <p>berkapur, celah bebatuan, serasah daun, ataupun tanah gunung. Kesamaan dari tempat </p> <p>tumbuh semua spesies nepenthes adalah mereka sama-sama tumbuh di tempat yang lembab </p> <p>dengan curah hujan yang tinggi (Anonimus, 2007). </p> <p>Berdasarkan lokasi ketinggian tempat tumbuhnya Nephentes dapat dibedakan atas 3 lokasi, </p> <p>yaitu : </p> <p>1. Nepenthes dataran rendah (0 1000 m dpl) : Umumnya hidup pada kisaran suhu 20 35 </p> <p>derajat Celsius </p> <p>2. Nepenthes dataran tinggi (&gt; 1000 m dpl) : Suhu 10 30 derajat Celcius. Ada beberapa </p> <p>jenis nepenthes dataran tinggi yang menghendaki suhu rendah hingga 4 derajat celcius </p> <p>untuk dapat tumbuh dengan baik. Bagi mereka yang tinggal di dataran rendah dapat </p> <p>menggunakan ruangan berpendingin ataupun lemari es untuk menaruh tanaman jenis </p> <p>dataran tingginya pada malam hari. </p> <p>3. Nepenthes intermediate, yg dapat tumbuh baik di dataran rendah dan tinggi </p> <p>Kantong semar hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang miskin </p> <p>unsur hara dan memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi. Tanaman ini dapat hidup di </p> <p>hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung </p> <p>kapur, maupun padang savana..Karakter dan sifat kantong semar berbeda pada tiap habitat. </p> <p>Beberapa jenis kantong semar yang hidup di habitat hutan hujan tropik dataran rendah dan </p> <p>hutan pegunungan bersifat epifit, yaitu menempel pada batang atau cabang pohon lain. </p> <p>Pada habitat yang cukup ekstrim seperti di hutan kerangas yang suhunya bisa mencapai 30 C </p> <p>pada siang hari, kantong semar beradaptasi dengan daun yang tebal untuk menekan </p> <p>penguapan air dari daun. Sementara kantong semar di daerah savana umumnya hidup </p> <p>terestrial, tumbuh tegak dan memiliki panjang batang kurang dari 2 m (Anonimus, 2007). </p> <p>C. BENTUK FISIK NEPHENTES. </p> <p>1. Bentuk Bunga. </p> <p>Tanaman nepenthes berumah dua, dimana masing-masing tanaman hanya memiliki </p> <p>bunga jantan atau bunga betina saja. Bunga biasanya baru muncul pada saat tanaman </p> <p>telah tumbuh menjalar/merambat dan telah membentuk kantung atas. Pada tanaman </p> <p>muda, jenis kelamin tanaman tak dapat dibedakan berdasarkan morfologi tanaman. </p> <p>Bunga nepenthes bentuknya sangat sederhana, dengan empat kelopak tanpa mahkota dan </p> <p>terangkai dalam satu tandan. Ukuran masing-masing bunga biasanya tak lebih dari 1 cm </p> <p>diameternya (Anonimus, 2007). </p> <p>2. Bentuk Daun </p> <p>Menurut Anonimus (2007), lebih lanjut menytakan bahwa ciri khas yang ada pada </p> <p>keluarga ini adalah kemampuannya untuk memangsa binatang, terutama serangga, </p> <p>sebagai nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhannya, dengan membentuk kantung pada </p> <p>ujung daunnya. Banyak yang mengira kantung tersebut adalah bunga. Padahal </p> <p>sebenarnya kantung itu adalah daun yang berubah fungsi menjadi alat bagi tanaman </p> <p>untuk memperoleh nutrisi yang dibutuhkannya. Sedangkan yang tampak seperti daun </p> <p>sebenarnya adalah tangkai daun yang melebar seperti tangkai daun pada tanaman akasia. </p> <p>Umumnya, setiap jenis nepenthes memiliki setidaknya dua bentuk kantung, yakni </p> <p>kantung bawah, dan kantung atas. Bentuk kantung ini diberi nama berdasarkan letak </p> <p>kantung di tanaman. Pada beberapa jenis nepenthes, mereka memiliki bentuk kantung </p> <p>peralihan antara bentuk kantung bawah dan bentuk kantung atas yang disebut kantung </p> <p>antara. Sedangkan pada beberapa jenis lainnya seperti N. ampullaria dan N. pectinata, </p> <p>biasanya tidak membentuk kantung atas (Anonimus, 2007). Untuk membedakan antar </p> <p>spesies nepenthes, warna dan corak kantung umumnya tidak digunakan. Spesies </p> <p>nepenthes biasanya berdasarkan pada perbedaan bentuk kantung, daun, batang dan </p> <p>bunganya. Karena umumnya nepenthes memiliki bentuk kantung bawah dan kantung atas </p> <p>yang berbeda, banyak sekali terjadi kesalahan identifikasi spesies (Anonimus, 2007). </p> <p>D. PENYEBARAN JENIS-JENIS NEPHENTES </p> <p>Penyebaran nepenthes di bumi ini cukup luas, mulai dari Madagaskar di barat hingga New </p> <p>Caledonia di timur. Dari China Selatan di utara hingga Australia Utara di selatan </p> <p>sebagaimana terlihat pada pada peta penyebaran nephentes dibawah. </p> <p> Sumber : Based on Kurata Iden 26(10) : 43-51, 1972, Clarke 2001, Schlauer CP Database </p> <p>2007, and others, with modifications. Carnivorous Plants Distribution Map based on Juniper et al.(1989), Komiya (1994), Lowrie (1998), Schnell (2002), and others </p> <p>Gambar 2 : Peta Penyebaran Jenis-jenis Nephentes di dunia. </p> <p>Dari 90 lebih spesies nepenthes yang telah di identifikasi, lebih dari 60 spesiesnya berasal </p> <p>dari Indonesia. Indonesia sendiri memiliki Pulau Kalimantan dan Sumatera sebagai surga </p> <p>habitat tanaman ini. Dari 64 jenis yang hidup di Indonesia, 32 jenis diketahui terdapat di </p> <p>Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) sebagai pusat penyebaran kantong semar. </p> <p>Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi. </p> <p>Keragaman jenis kantong semar di pulau lainnya belum diketahui secara pasti (Fatahul </p> <p>Azwar dkk., 2006). </p> <p>Namun berdasarkan hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, Bogor, </p> <p>ditemukan bahwa di Sulawesi minimum sepuluh jenis, Papua sembilan jenis, Maluku empat </p> <p>jenis, dan Jawa dua jenis (Mansur, 2006). </p> <p>E. POTENSI NEPHENTES. </p> <p>Lebih lanjut Fathul Azwar dkk. (2006), menyatakan bahwa kantong semar memang belum </p> <p>sepopuler tanaman hias lainnya seperti anggrek, dan aglaonema. Namun, saat ini kepopuleran </p> <p>kantong semar sebagai tanaman hias yang unik semakin meningkat seiring dengan minat </p> <p>masyarakat pecinta tanaman hias untuk menangkarkannya. Nama tanaman dari famili </p> <p>Nepenthaceae ini sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan di negara-negara seperti </p> <p>Australia, Eropa, Amerika, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka budidaya tanaman ini </p> <p>sudah berkembang menjadi skala industri. Ironisnya, tanamanan pemakan serangga ini </p> <p>kebanyakan jenisnya berasal dari Indonesia. </p> <p>Selain berpotensi sebagai tanaman hias, kantong semar juga dapat digunakan sebagai obat </p> <p>tradisional (Mansur, 2006). Sementara itu, kandungan protein di dalam kantongnya </p> <p>berpotensi untuk pengembangan bertani protein menggunakan tanaman endemik Indonesia </p> <p>(Witarto, 2006). Dalam penelitiannya baru-baru ini, Witarto (2006), berhasil mengisolasi </p> <p>protein dalam cairan kantong atas dan kantong bawah dari N. gymnamphora dari Taman </p> <p>Nasional Gunung Halimun. Dari masing-masing 800 ml cairan yang dikumpulkan dari </p> <p>kantong, dapat dimurnikan protein sebanyak 1 ml. Uji aktivitas terhadap protein yang telah </p> <p>dimurnikan menunjukkan bahwa protein itu adalah enzim protease yang kemungkinan besar </p> <p>adalah Nepenthesin I dan Nepenthesin II </p> <p>F. STATUS PERLINDUNGAN </p> <p>Menurut Fatahul Azwar dkk.( 2006 ), bahwa status tanaman kantung semar termasuk </p> <p>tanaman yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi </p> <p>Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang </p> <p>Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini sejalan dengan regulasi Convention on </p> <p>International Trade in Endangered Species (CITES), dari 103 spesies kantong semar di dunia </p> <p>yang sudah dipublikasikan, 2 jenis: N. rajah dan N. khasiana masuk dalam kategori </p> <p>Appendix-1. Sisanya berada dalam kategori Appendix-2. Itu berarti segala bentuk kegiatan </p> <p>perdagangan sangat dibatasi. </p> <p>KE UNIKAN KANTONG SEMAR </p> <p>Pepenx (2008), menyatakan bahwa keunikan dari tanaman kantong semar atau nepenthes adalah </p> <p>dengan dikaruniainya peranti penyergap berwujud kantung ajaib. Terletak di ujung daun. Organ </p> <p>pembantai itu dilengkapi senjata kimia di dalamnya. Kantung maut yang dimiliki Nephentes </p> <p>dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu kantung atas, kantung antara dan kantung bawah. </p> <p> Sumber Foto : Singer Photos, va Flickr Sumber Foto : AlexF </p> <p>Gambar 3. Kantung atas (a), Kantung antara (b) dan Kantung bawah (c) pada nephentes. </p> <p>Kantung atas memiliki helaian daun penutup. Sewaktu daun masih muda, pundi pemangsa </p> <p>tertutup. Lantas, membuka ketika sudah dewasa. Namun bukan berarti kantung penyamun ini </p> <p>menutup sewaktu masih muda saja. Ia menutup diri ketika sedang mengganyang mangsa. </p> <p>Tujuannya supaya proses pencernaan berjalan lancar dan tidak diganggu kawanan musuh yang </p> <p>siap merebut makanan yang sudah ia peroleh. </p> <p> Sumber Foto : AlexF Sumber Foto : Roberto </p> <p>Gambar 4. Helaian daun penutup (d) pada kantung atas nephentes. </p> <p>Bibir lubang kantung dilengkapi dengan alat penipu. Organ itu berwarna merah serta mampu </p> <p>menebarkan aroma manis. Binatang penyuka menu bercitarasa manis dan beraroma busuk adalah </p> <p>sasaran empuk bagi Nephentes. Semisal semut dan lalat. Warna bibir nepenthes yang merona </p> <p>serta beraroma manis itu akan memikat dan membuat lengah calon mangsa. Binatang yang </p> <p>terpikat dan bernasib apes tergelincir masuk ke dalam kantung antara yang licin. Semut (atau </p> <p>lalat) sudah terpeleset karena bibir kantong memang licin. Ia mencoba naik melalui dinding yang </p> <p>kelihatannya kering, tapi bagaimana mungkin bisa keluar, kalau setelah mencapai tepi lubang ia </p> <p>terpeleset lagi karena bagian itu licin terus!. Sesudah empat lima kali sia-sia mencoba </p> <p>membebaskan diri dari lubang maut, biasanya semut (atau lalat) kehabisan tenaga dan tenggelam </p> <p>pasrah untuk selama-lamanya (Slamet Suseno, 1998). </p> <p>Cairan yang berada dalam kantung tengah lalu mencerna tubuh mangsa itu. Cairan asam itu </p> <p>taklain adalah ramuan enzim pemecah protein yang dikeluarkan deretan kelenjar pada dinding </p> <p>kantong bernama proteolase. Dihasilkan oleh kelenjar di permukaan kantung bawah. Tubuh </p> <p>mangsa naas itu kemudian diolah menjadi garam Posphat dan nitrat. Nah, sekarang...</p>

Recommended

View more >