Masalah pembagian tauhid - Mutiara Zuhud ?· Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas…

Download Masalah pembagian tauhid - Mutiara Zuhud ?· Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas…

Post on 09-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

Masalah pembagian tauhid

19 November 2012 sumber: http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/11/19/masalah-pembagian-tauhid/

Pembagian tauhid menjadi tiga yang bermasalah

Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/11/12/dalam-dunia-islam/ sudah dijelaskan beberapa permasalahan dalam dunia Islam.

Permasalahan lainnya dalam dunia Islam khususnya pengajaran dan pendidikan agama adalah pembagian tauhid menjadi tiga

Salah seorang ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Abuya Prof. Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas Bin Assayyid Abdul Aziz Almaliki Alhasani Almakki Alasyari Assyadzili dalam makalahnya pada pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqodah 1424 H di Makkah al Mukarromah mengatakan

***** awal kutipan ***** Tiga Pembagian Tauhid sebagai faktor dominan di antara faktor terpenting dan dominan yang menjadi sebab munculnya ekstremisme atau radikalisme adalah apa yang kita saksikan bersama pada metode pembelajaran tauhid dalam kurikulum sekolah. Dalam materi tersebut terdapat pembagian tauhid menjadi tiga bagian:

1) Tauhid Rububiyyah, 2) Tauhid Uluhiyyah, 3) Tauhid Asma was Shifaat.

(Padahal pembagian seperti ini), tidak pernah dikenal oleh generasi salaf dari masa Sahabat, Tabiin maupun Tabiit Taabiin. Bahkan, pembagian dengan format seperti ini tidak terdapat dalam al Quran atau Sunnah Nabawiyyah.

Jadi, pembagian (taqsiim) tersebut tak lebih merupakan ijtihad yang dipaksakan dalam masalah ushuluddin serta tak ubahnya seperti tongkat yang berfungsi membuat perpecahan di antara umat Islam dengan konsekuensi hukumnya yang memunculkan sebuah konklusi bahwa kebanyakan umat Islam telah kafir, menyekutukan Allah, dan lepas dari tali tauhid. ***** akhir kutipan *****

Imam Mazhab yang empat, para ulama yang telah diakui berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak, imam atau pemimpin ijtihad kaum muslim, tidak pernah menyampaikan adanya pembagian tauhid menjadi tiga

Pada hakikatnya tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyah tidak dapat dipisahkan karena ada keterkaitan (talazum) yang sangat erat. Salah satunya tidak terpenuhi maka tidak dikatakan bertauhid atau beriman.

Sampai kapanpun, orang-orang kafir tidaklah dapat dikatakan bertauhid atau beriman. Boleh jadi pembagiam tauhid jadi tiga adalah pengakuan mereka bahwa kaum Yahudi ataupun kaum Nasrani adalah termasuk orang-orang beriman. Hal ini telah dibantah dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/agama-hanya-islam/

Pembagian tauhid jadi tiga memunculkan istilah mukmin musyrik sebagaimana yang dapat diketahui dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/10/mukmin-musyrik/

2

Istilah mukmin (beriman) dan muysrik (menyekutukan Tuhan) dua term yang berbeda, sehinga tidak bisa disandingkan. Istilah mukmin musyrik adalah bahasa halus pengkafiran terhadap kaum muslim.

Pembagian tauhid jadi tiga dipergunakan untuk membenarkan pendapat mereka bahwa orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul dan tabarruk dengan para Wali Allah dan para Nabi itu telah beribadah kepada selain Allah dan melanggar Tauhid Uluhiyyah sehingga timbullah sikap ekstrimisme atau radikalisme dalam bentuk vonis syirik.

Salah satu gurunya ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yakni Syaikh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafii, menulis surat berisi nasehat:

Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul Azham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Contoh radikalisme dapat kita ketahui dari tulisan pada http://allangkati.blogspot.com/2010/07/keganasan-wahabi-di-pakistan.html

***** awal kutipan ***** Para pengikut ajaran wahhabi adalah kelompok yang sangat membencikan orang-orang sufi dan mengkafirkan mereka, mereka menganggap bahwa orang -orang sufi menyembah kuburan-kubura wali sehingga halal darahnya di bunuh, pemahaman ini bersumber dari aqidah mereka yang menyatakan bahwa tauhd itu terbagi kepada tiga bahagian, tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, tauhid asma` dan sifat, orang-orang sufi hanya percaya dengan tauhid rububiyyah dan tidak menyakini tauhid uluhiyyah, sebab itulah mereka kafir dan boleh di bunuh, bahkan mereka mengatakan bahwa orang-orang kafir qurasy lebih bagus tauhidnya daripada orang-orang sufi *****akhir kutipan *****

Begitu pula kita dapat belajar dari Somalia bahwa kehancuran negara tersebut terjadi justru setelah penerapan syariat Islam namun karena perbedaan pemahaman akan syariat Islam mengakibatkan terjadi perselisihan di antara faksi di Somalia. Hal ini telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/20/2011/08/29/belajar-dari-somalia/

Sebagaimana diketahui, setelah Syarif diangkat menjadi pemimpin Somalia pada Januari 2009 lalu, faksi pejuang Somalia terbagi menjadi dua, antara pendukung dan penentang.

Sebagian kelompok Mahakim Al Islami, yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Qadir Ali Umar, Harakah Al Ishlah (Ikhwan Al Muslimun), Harakah Tajammu Al Islami dan Jamaah Ahlu Sunnah wa al Jamaah adalah 4 faksi menyatakan dukungan kepada Syarif.

Sedangkan Harakah As Syabab Al Mujahidin serta Al Mahakim Al Islami wilayah Asmarah, Al Jabhah Al Islamiyah serta Muaskar Anuli, yang bergabung dalam Hizb Al Islami.

Syeikh Syarif sebagai kepala pemerintahan transisi menegaskan, Islam adalah dasar dalam setiap gerak pemerintah Somalia. Akan tetapi Syeikh Syarif menolak pemikiran Syabab Mujahidin yang menurutnya masih jauh dari konsep Islam ideal

Contohnya pemikiran radikalisme Syabab Mujahidin melakukan perngrusakan kuburan kaum muslim yang tidak pernah temukan pada masa Salafush Sholeh.

3

Berikut kutipan yang bersumber dari http://m.arrahmah.com/read/2010/03/24/7300-menjadi-pusat-kesyirikan-al-shabaab-hancurkan-kuburan.html

***** awal kutipan ***** Pejuang Islam dari harakah Al-Shabaab telah menghancurkan sebuah kuburan yang diyakini merupakan kuburan dari Sheikh Mohudin Eli, seorang ulama besar di Somalia. Jenazahnya dikuburkan di distrik Karan, utara Mogadishu, Selasa (23/3).

Mujahidin Al-Shabaab selain menghancurkan kuburan Sheikh Mohidin Eli, juga menghancurkan kuburan Sheikh Ahmed Haji.

Orang-orang melakukan pemujaan di kuburan ini. Untuk pertama kalinya kami membongkar kedua kuburan tersebut. Kami akan terus melanjutkan operasi seperti ini untuk menghancurkan kuburan yang dijadikan tempat pemujaan, ujar salah seorang petinggi Al-Shabaab.

Di sisi lain, Sheikh Abdukadir Sheik Abukar (Somow), salah seorang petinggi kelompok Ahlu Sunnah wal Jamaah yang ikut memerangi Mujahidin Al-Shabaab dan bekerjasama dengan pemerintah mengutuk keras perusakan kedua kuburan tersebut. **** akhir kutipan *****

Begitupula sikap radikalisme yang terjadi di Libya pada akhir-akhir ini seperti perusakan masjid dan kuburan kaum muslim adalah disebabkan oleh pembagian tauhid menjadi tiga seperti yang diberitakan pada

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/08/26/m9cioi-masjid-di-tripoli-dihancurkan-kelompok-bersenjata-aparat-cuek

***** awal kutipan ***** REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI Kelompok bersenjata membuldoser sebuah Masjid yang di dalamnya terdapat makam para Muslim Sufi di pusat kota Tripoli, Sabtu (25/8). Serangan yang terjadi di siang hari tersebut merupakan serangan sektarian terang-terangan yang terjadi sejak Muammar Gadhafi tersingkir.

Pejabat pemerintah mengecam aksi penghancuran Masjid Shaab dan menuding kelompok bersenjata melakukan tindakan anti-Islam. Penyerangan terhadap situs Sufi itu adalah yang kedua kalinya dalam dua hari. Islamis ultrakonservatif menghancurkan tempat-tempat suci milik Sufi dengan bom. Selain itu, mereka juga membuldoser dan membakar perpustakaan Masjid di kota Zlitan, Jumat (24/8). ***** akhir kutipan *****

http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/08/27/m9e51c-astagfirullah-makam-sufi-libya-dihancurkan

***** awal kutipan ***** Di dalam Masjid Shaab terdapat makam 50 sufi. Di luarnya juga ada kuburan tokoh Sufi Libya Abdullah al-Shaab dan pejuang Libya yang bertempur melawan kolonialis. Juru Bicara Dewan Tertinggi Keamanan Libya (SSC), Abdel Moneim al-Hurr, mengecam tindakan tersebut.

Pemimpin Libya terus berusaha mengendalikan kelompok bersenjata yang ingin menguasai Libya sejak Qadafi dilengserkan setahun yang lalu. Salah satu yang menjadi masalah, yakni konflik antara pendukung tradisi sufi dan mereka penganut Islam Konservatif. **** akhir kutipan *****

Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/20/penyesalan-tuanku/ terurai penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas perang Paderi dari tahun 1821 M s/d 1832 M

4

Sejak awal 1833 M, perang itu berubah menjadi perang antara yang dikatakan kaum adat dan kaum agama melawan Belanda setelah penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas ajaran Wahabi (Haji Miskin dan kawan kawannya)

Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB)lihat transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, 2004), sebuah sumber pribumi yang penting mengenai Perang Paderi yang cenderung diabaikan para sejarawan selama inimencatat bagaimana kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda.

Pihak-pihak yang dulunya bertentangan akhirnya bersatu melawan musuh bersama: Kompeni Belanda. Di ujung penyesalan muncul kesadaran bahwa mengundang Kompeni ke dalam konflik itu telah semakin menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri.

Di dalam MTIB terefleksi rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan Kaum Paderi terhadap sesama orang Minang dan Mandailing.

Tuanku Imam Bonjol sadar bahwa perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. Adapun hukum Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran kita? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), demikian tulis Tuanku Imam Bonjol dalam MTIB (hlm.39).

Sadar akan kekeliruan itu, Tuanku Imam Bonjol lalu mengirim kemenakannya, Fakih Muhammad, dan Tuanku Tambusai ke Mekah untuk belajar mengenai kitabullah nan adil (Hukum Kitabullah yang sebenarnya).

Ikut juga kemenakan Tuanku Rao bernama Pakih Sialu, dan Kemenakan Tuanku Kadi (salah seorang rekan Tuanku Imam Bonjol) bernama Pakih Malano (MTIB, hlm. 36-40).

Pada 1832, empat orang utusan itu kembali dan membawa kabar tentang penyerbuan Nejed oleh pasukan Mesir yang diutus Sultan Turki Utsmani. Para pengikut Muhammad bin Abdil Wahhab telah ditaklukkan secara brutal oleh Turki Utsmani.

Mengetahui kabar seperti itu, Imam Bonjol mengadakan pertemuan penting, masih pada 1832 itu juga. Di tengah para tuanku, hakim-hakim syariat dan penghulu-penghulu, Imam Bonjol mengumumkan semacam gencatan senjata. Semua harta rampasan turut dikembalikan.

Lebih dari itu, Imam Bonjol menarik diri dari segala bentuk keyakinan yang pernah ia pegang. Ia juga menginsafi segala keinginannya untuk ikut-campur dalam wewenang adat dan meminta maaf kepada para pemuka adat yang telah banyak dirugikan.

Semua itu terjadi jauh sebelum penangkapannya. Imam Bonjol sendiri baru ditangkap pemerintah Hindia Belanda pada 1838, setelah terjadi perang besar-besaran antara pasukan Belanda dan rakyat Minangkabau. Setahun kemudian Imam Bonjol dibuang ke Ambon dan pada 1841 dipindahkan ke Manado. Ia meninggal-dunia di pembuangan pada 1864 sebagai seorang laki-laki tua yang bercocok-tanam di sebidang tanah kecil.

Sebelum meninggal-dunia, Imam Bonjol sempat berwasiat kepada putranya. Akui hak para penghulu adat, pesannya. Taati mereka. Kalau ini tidak bisa ditaati, maka ia bukan penghulu yang benar dan hanya memiliki gelar saja. Sedapat mungkin, setialah pada adat. Dan kalau pengetahuannya belum cukup, pelajarilah dua puluh sifat-sifat Allah.

Dari wasiat Imam Bonjol untuk mempelajari kembali dua puluh sifat-sifat Allah adalah pengakuan beliau bahwa pembagian tauhid jadi tiga telah menjadi faktor terpenting dan dominan yang menjadi sebab munculnya ekstremisme atau radikalisme.

5

20 sifat yang wajib bagi Allah adalah hasil istiqro (telaah) para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam mazhab yang empat yang bersumber dari Al Quran dan Hadits .

Aqidatul Khomsin, Lima puluh Aqidah dimana di dalamnya ada 20 sifat yang wajib bagi Allah, ada sedikit dikupas pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/08/07/50-aqidah/

20 sifat yang wajib bagi Allah adalah sarana atau batasan-batasan untuk dapat memahami ayat-ayat mutsyabihat tentang sifat.

Contoh sifat wajib bagi Allah adalah Qiyamuhu bin Nafsi (Maha Berdiri Sendiri), para ulama menetapkan sifat wajib ini berlandaskan firmanNya antara lain yang artinya,

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS Faathir [35]:15)

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS Al Ankabuut [29]:6)

Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman (QS Thaha [20]:111)

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi (QS Al Baqarah [2]:255 )

Allah Azza wa Jalla, Qiyamuhu bin Nafsi, Maha Berdiri Sendiri terus menerus mengurus makhlukNya dan tidak membutuhkan apa-apa pun dari makhlukNya termasuk tempat atau Arsy atau langit atau kursi, sebaliknya kita membutuhkan Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla Allah itu Qidam (Terdahulu). Mustahil Allah itu Huduts (Baru), Para ulama menetapkan sifat wajib ini berlandaskan firmanNya antara lain yang artinya,

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir (QS Al Hadiid [57]:3)

Allah taala sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya. Tidak berubah, tidak berpindah

Imam al-Baqilani berkata Dan wajib diketahui bahwa setiap sesuatu yang menunjuki kepada baharu [huduts] atau menunjuki atas tanda kekurangan, maka Allah taala maha suci dari demikian, maka karena itu, sesungguhnya Allah taala itu maha suci dari terkhusus dengan arah [jihat], dan maha suci dari bersifat dengan sifat yang baharu [sifat makhluk], dan demikian juga Allah tidak disifatkan dengan berubah dan berpindah, dan tidak dengan berdiri dan tidak dengan duduk, karena...