Faktor Pencemaran Tanah Eksternal

Download Faktor Pencemaran Tanah Eksternal

Post on 23-Nov-2015

68 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>BAB IIIPEMBAHASAN3.1 Riwayat Sumber Pencemaran Tanah EksternalSampah menjadi masalah hingga saat ini, adapun sumber-sumber pencemaran tanah yang merupakan pencemaran tanah eksternal (akibat kegiatan manusia) diantaranya adalah:</p> <p>3.1.1 Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA)Menurut Sidik dkk.(1985) dalam Feranie (2008), pengolahan sampah adalah metode pemrosesan akhir yang dilakukan dengan teknik penimbunan sampah.Tujuan utama penimbunan akhir adalah menyimpan sampah padat dengan cara-cara yang tepat dan menjamin keamanan lingkungan, menstabilkan sampah (mengkonversi menjadi tanah), dan merubahnya kedalam siklus metabolisme alam. Lokasi penimbunan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Ekonomis dan dapat menampung sampah yang ditargetkan 2. Mudah dicapai oleh kendaraan-kendaraan pengangkut sampah 3. Aman terhadap lingkungan di sekitarnya.</p> <p>Supanca (2003), menyatakan ada tiga (3) sistem pemrosesan akhir sampah antar lain :1. Sistem Open DumpingSistem Open Dumping merupakan sistem yang tertua yang dikenal manusia dalam pemrosesan sampah. Sampah hanya dibuang atau ditimbun di suatu tempat tanpa ada perlakuan khusus sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Pada saat sekarang sebenarnya metode ini tidak direkomendasikan lagi di Indonesia, karena tingkat dan beban pencemaran terhadap lingkungan sekitar yang dihasilkan sangat tinggi. Demikian juga halnya dengan TPA Muara Fajar yang pada awalnya dirancang dengan metode Sanitary Landfill tetapi pada kenyataanya metode yang diterapkan adalah metode Open Dumping. </p> <p>Metode Open Dumping akan menyebabkan : 1. terjadi pencemaran udara berupa gas, bau dan debu, 2. terjadi pencemaran terhadap air tanah dengan terbentuknya air lindi (leachate), 3. resiko kebakaran cukup besar,4. mudah terjadi kabut yang ditimbulkan oleh asap, 5. mendorong tumbuhnya sarang-sarang vektor penyakit (tikus, lalat, nyamuk dan lain-lain), 6. mengurangi estetika lingkungan, 7. lahan tidak dapat digunakan kembali untuk waktu yang cukup lama.</p> <p>2. Sistem Control LandfillSistem Control Landfill (urug terkendali) adalah sampah dihamparkan pada lokasi cekungan dan permukaannya diratakan serta ditutupi tanah pada ketebalan tertentu yang dilakukan secara periodik.</p> <p>3. Sistem Sanitary LandfillSistem Sanitary Landfill adalah penutupan sampah dengan lapisan tanah yang dilakukan sedemikian rupa sesuai petunjuk yang ditetapkan, sehingga tidak lagi terlihat sampah yang terbuka. Metode ini harus memenuhi teknik perancangan yang berwawasan lingkungan meliputi : 1. pembentukan dasar TPA Sampah. Lapisan dasar TPA Sampah harus kedap air sehingga air lindi terhambat meresap ke dalam tanah dan tidak mencemari air tanah, dapat dilakukan dengan cara melapisi dasar TPA sampah dengan tanah lempung yang dipadatkan atau menggunakan geomembran, 2. saluran dan pengolahan air lindi yang dihasilkan oleh dekomposisi sampah harus diolah sebelum dibuang ke lingkungan karena memiliki Biochemical Oxygen Demand ( BOD) dan parameter-parameter lainnya, 3. ventilasi gas. Ventilasi gas dibangun atau dipersiapkan sebelum area TPA sampah digunakan untuk penimbunan sampah, tujuannya adalah untuk memudahkan pelepasan gas-gas (COx, Metan dan lainnya) ke udara bebas dan untuk mencegah terbakarnya sampah akibat panas dan gas yang dihasilkan dari penguraian sampah oleh mikroorganisme, 4. tanah penutup dibutuhkan untuk mencegah sampah berserakan, bahaya kebakaran, timbulnya lalat, perkembangbiakan lalat atau binatang pengerat dan mengurangi timbulnya air lindi, 5. daerah penyanggah atau zona penyanggah berfungsi untuk mengurangi dampak negative yang ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan akhir sampah terhadap lingkungan sekitarnya, 6. sumur monitoring berfungsi untuk memantau kemungkinan terjadinya pencemaran air lindi terhadao air tanah di sekitar TPA sampah </p> <p>Menurut KLH (2004), kondisi TPA sampah di kota-kota di Indonesia menunjukkan kondisi fisik rata-rata kurang baik, terkait dengan sarana dan prasarana yang ada di TPA sampah, antara lain: system drainase, pengolahan lindi, penanganan gas, pengaturan lahan, sumur monitoring dan penutupan lahan karena timbunan sampah yang terus meningkat dari tahun ke tahun tidak sebanding dengan kapasitas dan kualitas TPA sampah yang ada.</p> <p>Pengaruh TPA terhadap Lingkungan adalah :Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Muara Fajar pada awalnya dirancang dengan metode Sanitary Landfill, namun pada pelaksanaan operasionalnya merupakan metode Open Dumping. Metode Open Dumping yang merupakan yang merupakan sistem pemrosesan yang sederhana dan mudah dilakukan tetapi akibatnya tikus, lipas, lalat nyamuk, dan bakteri tumbuh dengan subur pada timbunan sampah.Penanganan TPA yang tidak bijaksana tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan karena bau yang tidak sedap mengundang banyak lalat yang dapat menyebabkan berbagai penyakit menular (Badan Lingkungan Hidup Kecamatan Rumbai Pesisir, 2009 2010).Amen (1987) dalam Tanauma (2000), menyebutkan bahwa metode Open Dumping dapat menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap lingkungan hidup di sekitar lokasi TPA yaitu menimbulkan dampak pencemaran air, tanah, udara dan bau yang tidak sedap serta gangguan lalat yang sangat banyak sampai ke rumah-rumah penduduk. Salah satu faktor menurunnya kualitas air tanah dangkal pada pemukiman penduduk di sekitar lokasi TPA disebabkan terkontaminasinya air tanah yang bersumber dari penimbunan sampah yang tidak sesuai dengan prosedur pemrosesan sampah (metode Open Dumping). Bila sampah tersebut ditimbun pada suatu daerah yang kondisi geologinya rawan, maka aka terjadi pencemaran air tanah dangkal di daerah tersebut. Kondisi geologi disebut rawan jika batuan dasar tempat menimbun sampah bersifat porus atau banyak mengandung retakan. Keadaan seperti itu akan memudahkan meresapnya air lindi, selanjutnya akan mencapai permukaan air tanah dangkal, sehingga air tanah dangkal menjadi terkontaminasi.Chandar (2007), menyatakan bahwa sistem pemrosesan akhir sampah di beberapa kota di Indonesia masih melakukan secara Open Dumping tanpa ada pengelolaan lebih lanjut. Sistem pemrosesan semacam itu selain memerlukan lahan yang cukup luas juga menyebabkan pencemaran udara, tanah dan air seta dapat menjadi tempat berkembangbiaknya agen dan vektor penyakit menular.KLH (2004), menyatakan bahwa semakin meningkatnya jumlah kasus penyakit yang ditularkan oleh tikus (leptospirosis) akibat penimbunan sampah selain itu polusi udara dari pembakaran sampah, bau dari sampah yang membusuk, merembesnya air lindi dari TPA ke sumber air penduduk (air tanah) dan pencemaran air sungai.Beberapa penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan dampak atua pengaruh TPA terhadap lingkungan diantaranya: Penelitian Sudamingsih (1996), menunjukkan bahwa tingginya kadar Cadmium (Cd) dan Sulfida (S) telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB), kandungan zat-zat seperti bahan berbahaya dan beracun (B3), BOD, COD, NO3 dalam air tanah telah melampaui baku mutu serta air sumur yang berbau agak amis karena tercemar oleh air lindi sampah (leachate).Sundra dkk (1997), juga melakukan penelitian tentang pengaruh pengelolaan sampah terhadap kualitas air sumur gali di sekitar tempat pemrosesan akhir sampah Suwung, Denpasar, Bali. Penelitian tersebut mengenai pengaruh TPA Suwung Denpasar terhadap kualitas air sumur penduduk disekitarnya. Metode yang digunakan adalah pengambilan contoh air sumur penduduk selanjutnya dianalisis sifat fisik, kimia, dan biologinya. Disamping itu dilakukan pula pengambilan data sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar TPA untuk mengetahui karakteristik pengaruh pengelolaan sampah terhadap kualitas air sumur galiRudianto (2003), melakukan penelitian tentang perbedaan jarak perumahan ke TPA sampah Open Dumping dengan indikator tingkat kepadatan lalat dan kejadian diare di Kabupaten Kenep Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruhan.Kesimpulan yang mereka dapatkan setelah melakukan penelitian adalah terdapat perbedaan tingkat kepadatan lalat dari beberapa area yang diteliti.Semakin dekat letak perumahan dengan TPA maka semakin tinggi tingkat kepadatan lalatnya.Arbain (2008), meneliti pengaruh air lindi tempat pemrosesan sampah Suwung terhadap kualitas air tanah dangkal di sekitar kelurahan Pedungan Kota Denpasar. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa parameter kualitas air lindi (leachate) dari TPA Sampah Suwung konsentrasinya telah melampaui ambang batas baku mutu air. Air lindi sampah (leachate) dari TPA Sampah Suwung berpengaruh terhadap kualitas air tanah damgkal.Feranie, dkk.(2008), melakukan penelitian mengenai zona migrasi pencemaran air di sekitar TPA Babakan Ciparay Kabupaten Bandung dengan menggunakan metode geolistrik tahanan jenis.Pada penelitian ini disimpulkan bahwa aliran atau rembesan lindi mengarah ke daerah pemukiman penduduk yang tinggal di sekitar TPA Babakan Ciparay Bandung.Wijaya (2009), melakukan penelitian pencemaran air tanah di wilayah Ngringo Jaten Karanganyar dengan metode geolistrik.Pada penelitian ini dilakukan survei geolistrik resistivitas sounding dengan konfigurasi Schlumberger sebanyak 4 titik.Hasil penelitian yaitu persebaran pencemaran air tanah di Desa Ngringo tidak merata. Pencemaran diidentifikasi pada kedalaman 13,6 23,6 meter dengan arah aliran dari utara ke selatan dengan daerah persebaran di selatan.Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan seperti yang disebut di atas semuanya menyimpulkan bahwa selama ini pengelolaan sampah khususnya yang dilakukan di TPA sebagian besar masih berdampak negatif terhadap lingkungan, baik terhadap lingkungan fisik, kimia maupun biologis.</p> <p>Kontaminasi Air Lindi terhadap Kualitas Air Tanah :Keberadaan Tempat Proses Akhir Sampah (TPA) memiliki fungsi yang sanag penting, yaitu sebagia pengolahan akhir sampah baik yang akan didaur ulang sebagaikompos ataupun hanya ditimbun setelah disortir oleh pemuling. Jumlah sampah di TPA yang sangat besar akan menyebabkan proses dekomposisi alamiah berlangsung secara besar-besaran pula.Proses dekomposisi tersebut akan mengubah sampah menjadi pupuk organikdan menimbulkan hasil samping yaitu air lindi (leachate). Penumpukan sampah selain mengganggu estetika, sanitasi, kelestarian lingkungan juga.Air lindi di sebabkan oleh terjadinya presipitasi cairan ke TPA, baik dari resapan air hujan maupun kandungan air pada sampah itu sendiri.Lindi bersifat toksik karena adanya zat pengotor dalam timbunan yang mungkin berasal dari buangan limbah industri, debu, lumpur hasil pengolahan limbah, limbah rumah tangga yang berbahaya, atau dari dekomposisi yang normal terjadi pada sampah.</p> <p>Tabel 2.3Komposisi Lindi dari TPA Secara UmumParameter Kisaran </p> <p>Ph 6,2 7,4COD 66 11.600 mg/lBOD &lt; 2 8.000 mg/lSulfat 56 456 mg/lCadmium (Cd) &lt; 0,005 0,01 mg/lPlumbum (Pb) &lt; 0,05 0,22 mg/lChromim (Cr) &lt; 0,005 0,14 mg/l</p> <p>Sumber: Diklat Landfilling Limbah- FTSL ITB (2008)</p> <p>Kualitas lindi akan tergantung dari beberapa hal, seperti variasi dan proporsi komponen sampah yang ditimbun, curah hujan dan musim, umur timbunan, pola operasional, waktu dilakukannya sampling. Gambaran variasi kualitas lindi dari beberapa TPA di Indonesia ditampilkan dalam Tabel 2.4.Fachruddin (1989) dalam Tanauma (2000), menyatakan bahwa air lindi dicirikan oleh komponen fisika dan kimia berkadar tinggi dan mengandung logam berat berbahaya.Air tanah terkontaminasi air lindi sejauh 174 meter dari pusat penimbunan sampah.Menurut Slamet (1994), air lindi (leachate) adalah cairan yang mengandung zat padat tersuspensi yang sangat halus dari hasil penguraian mikroba, biasanya terdiri dari atas Ca, Mg, Na, K, Fe, Klorida, Sulfat, Fosfat, Zn, CO2, H2O, N2, NH3, H2S, Asam organic dan H2,tergantung dari kualitas sampah, maka didalam leachate biasanya pula terdapat mikroba pathogen, logam bewrat dan zat lainnya yang berbahaya. Berdasarkan hasil penelitian Tanauma di TPA Sampah Yogyakarta (2000), air lindi sampah mengandung senyawa-senyawa kimia anorganik antara lain: nitrit, nitrat, ammonia, kalsium, kalium, magnesium, kesadaha, klorida, sulfat, BOD, COD, pH dan mikrobiologi (total koliform) yang konsentrasinya sangat tinggi.Menurut Damanhuri (1996), lindi adalah limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah, melarutkan, dan membilas materi-materi terlarut, termasuk juga materi organic hasil proses dekomposisi biologis. Dari proses ini dapat diramalkan bahwa kualitas dan kuantitas lindi akan sangat bervariasi dan berfluktuasi. Dapat dikatakan bahwa kuantitas lindi yang dihasilkan akan banyak bergantung pada masuknya air dari dari luar, sebagian dari air hujan, disamping dipengaruhi oleh aspek operasional yang diterapkan seperti aplikasi tanah penutup, kemiringan permukaan, kondisi iklim, dan sebagainya.Air eksternal yang masuk ke timbunan sampah melalui dua jenis media, yaitu tanah penutup dan timbunan sampah itu sendiri. Tanah penutup akan langsung berinteraksi dengan udara luar dan akan menentukan jumlah infiltrasi dengan udara luar dan akan menentukan jumlah infiltrasi air ke lapisan bawahnya, sedangkan lapisan sampah yang mempunyai kemampuan cukup besar dalam menahan kelembaban akan menentukan jumlah dan waktu pertama kali lindi timbul. </p> <p>Mekanisme Masuknya Air Lindi ke Air Tanah yaitu :Menurut Jagloo (2002), air tanah tidaklah statis melainkan bergerak karena adanya perbedaan gradient hidrolika. Aliran ini menyebabkan air tanah yang terkontaminasi bergerak mengikuti system alirannya sehingga mencapai air tanah. Air lindi akan semakin cepat mencapai air tanah terlebih lagi didukung oleh kondisi tanah yang bersifat porous dan permeable, seperti pasir, kerikil dan batu pasir. Bahan-bahan tersebut mempunyai meabilitas tinggi sehingga air lindi dapat dengan mudah bergerak dan menyebar. Komposisi air lindi dipengaruhi oleh beberapa factor seperti jenis sampah terdeposit, jumlah curah hujan di TPA, dan kondisi spesifik tempat.</p> <p>Gambar 2.3 Skema Proses Terjadinya Lindi (Hendrajaya, 1990)</p> <p>Menurut Todd (1980) dalam Tanauma (2000), air lindi dicirikan bahwa pada daerah yang bercurah hujan tinggi, air lindi menjadi lebih mudah terbentuk dan jumlahnya akan lebih banyak. Mekanisme masuknya air lindi ke lapisan air tanah, terutama air tanah dangkal (sumur) melalui proses sebagai berikut : 1. Air lindi ditemukan pada lapisan tanah yang digunakan sebagai Open Dumping, yaitu kira-kira berjarak 2 meter di bawah permukaan tanah, 2. Secara khusus, bila air lindi masuk dengan cara infiltrasi di tanah, segera permukaan tanah dijenuhi air, 3. Akibat adanya factor seperti air hujan, mempercepat air lindi masuk ke lapisan tanah yaitu zona aerasi yang mempunyai kedalaman 10 meter di bawah permukaan tanah, 4. Akibat banyaknya air lindi yang terbentuk menyebabkan air lindi masuk ke lapisan air tanah...</p>