camar jonathan

Click here to load reader

Post on 03-Jul-2015

499 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Untuk Jonathan Camar yang nyata Yang hidup di dalam diri kita semua

Didik Fotunadi, Happening Art, lapangan Rumah Sakit INCO, August 2000

Ambil keputusan sekarang juga untuk membuat diri anda lebih berdaya serta bertanggungjawab untuk sebuah pencapaian maksimum. Meskipun tersedia pengetahuan dan alat bantu luar biasa, pengetahuan dan alat bantu itu sendiri tidak akan menciptakan perubahan. Kitalah yang harus melakukan perubahan tersebut dengan cara bertindakLife will never be the same again

BAGIAN SATU Ketika itu pagi hari, matahari yang baru terbit membuat warna emas gemerlap di atas riak-riak laut yang tenang. Satu mil dari pantai sebuah perahu nelayan meluncur di permukaan air, dan berita untuk kawanan makan pagi menyebar di udara, sampai satu kelompok yang terdiri dari seribu ekor camar dating menukik dan berebut makanan. Itu adalah awal dari hari yang sibuk. Tetapi disana, jauh dari perahu-perahu dan pantai, Jonathan Camar sedang berlatih sendirian tanpa teman. Setinggi seratus kaki di langit dia menurunkan kakinya yang berselaput, mengangkat paruhnya, dan strained untuk menahan sakit dalam usaha keras untuk melengkungkan sayap-sayapnya. Lengkungan berarti dia akan terbang perlahan-lahan, dan sekarang dia melambatkan

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

1

terbangnya sampai terpaan angin merupakan bisikan pada wajahnya, sampai laut diam tidak bergerak di bawahnya. Dalam konsentrasi yang keras dia menyempitkan matanya, menahan nafas, memaksakan satu inci lagi lengkungan .. kemudian bulu-bulunya tegak, terbangnya terhenti dan jatuh. Burung camar, seperti yang anda tahu, tidak pernah terhenti luncurannya, tidak pernah mengalami kegagalan. Berhenti di udara bagi mereka memalukan dan itu merupakan kehilangan kehormatan. Tetapi Jonathan Livingston Camar bukanlah seekor burung biasa. Tanpa malu2 dia merentangkan sayapnya, mencoba melengkungkan kembali melambat, melambat, dan berhenti sama sekali. Kebanyakan dari burung camar tidak pernah repot-repot mempelajari lebih dari cara terbang yang paling sederhana bagaimana caranya pergi dari pantai untuk mencari makanan dan kembali lagi. Bagi kebanyakan camar, bukan terbang yang penting, melainkan makan. Walaupun demikian, bagi Jonathan Livingston Camar, bukan makan yang penting, melainkan terbang. Jonathan Livingston menyukai terbang lebih dari apapun lainnya. Dia tahu menemukan, cara berpikir seperti ini bukanlah cara untuk membuat dirinya disukai oleh burung2 lain. Bahkan ayah ibunya merasa kurang senang karena ia menghabiskan seluruh harinya sendirian, melakukan perconbaan ratusan kali luncuran dengan ketinggian rendah. Dia tidak tahu mengapa, misalnya, tetapi kalau dia terbang pada ketinggian kurang dari separuh rentangan sayapnya di atas permukaan air, dia bisa tetap tinggal di udara lebih lama, dengan upaya yang lebih ringan. Luncurannya berakhir bukan dengan ceburan kaki yang biasa dia melakukannya di laut, tetapi dengan saputan rata yang panjang sementara ia menyentuh permukaan air dengan kaki masih merapat ke tubuhnya. Kalau dia mulai meluncur dengan pendaratan kaki merapat ke tubuh di pantai, kemudian meneruskan luncurannya di pasir, kedua induknya benar-benar merasa tidak senang. Mengapa, Jon, mengapa? ibunya bertanya. Mengapa begitu sulit bagimu menjadi seperti anggota kawanan lainnya, Jon? Mengapa kau tidak menyerahkan saja terbang rendah kepada burung pelican, kepada burung albatross? Mengapa kau tidak makan? Nak, kau tinggal tulang dan bulu! Aku tidak peduli hanya menjadi tulang dan bulu, Mak. Aku hanya ingin tahu apa yang bisa kulakukan dan apa yang tidak bisa kulakukan di udara, itu saja. Aku hanya ingin tahu. Coba dengar, Jonathan, kata ayahnya, bukan dengan sikap kasar. Musim dingin tidak lama lagi tiba. Perahu akan sedikit sekali, dan ikan yang biasanya tinggal dipermukaan air akan menyelam lebih dalam. Kalau kau harus belajar, maka belajarlah tentang makanan, dan bagaimana cara mendapatkannya. Semua urusan terbang ini memang baik sekali, tetapi ketahuilah kau tidak bisa makan dengan kepandaian meluncur. Jangan lupa alasan mengapa kau harus terbang adalah untuk makan. Jonathan menganggukkan kepala dengan patuh. Selama beberapa hari berikutnya dia berusaha berperilaku sopan seperti camar-camar lainnya; dia benar-benar berusaha, memekik-nekik dan berkelahi dengan anggota kawanan lainnya di sekitar dermaga dan perahu-perahu nelayan, menukik mengejar kepingan-kepingan ikan dan roti. Tetapi ia tidak suka akan hal tersebut. Semua ini tidak ada gunanya, dia berfikir, sambil dengan sengaja menjatuhkan seekor ikan teri yang baru direbutnya dengan susah payah kepada

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

2

seekor camar tua kelaparan yang mengejarnya. Aku bisa melewatkan sepanjang waktu ini untuk belajar terbang. Banyak sekali yang harus dipelajari! Tak lama kemudian Jonathan Camar sudah kembali ke sifatnya semula, jauh dari laut, lapar, bahagia, belajar. Mata pelajarannya adalah kecepatan, dan dalam latihan seminggu dia sudah mempelajari tentang kecepatan lebih banyak daripada burung camar yang tercepat yang pernah hidup. Dari ketinggian seribu kaki, dengan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan sekeras-kerasnya, dia mendorong tubuhnya ke penerjunan tajam secepat kilat ke arah ombak, dan mengetahui mengapa camar tidak melakukan penerjunan tajam dan kuat secepat kilat. Hanya dalam waktu enam detik dia meluncur dengan kecepatan tujuh puluh mil per jam, sebuah kecepatan yang menyebabkan sayap menjadi tidak stabil pada gerakan ke atas. Berulang kali ini terjadi. Walaupun dia berhati-hati, berusaha dengan puncak kemampuannya, dia kehilangan kendali pada kecepatan tinggi. Dia naik kembali ke ketinggian seribu kaki. Dengan kekuatan penuh dia meluncur lurus ke depan lebih dulu, kemudian mendorong tubuhnya, dengan mengepakkan sayap, ke penerjunan vertical. Kemudian, setiap kali, sayap kirinya mengalami kemandekan pada gerakan ke atas, dia berguling dengan keras ke kiri, menghentikan gerakan sayap kananya untuk mengembalikan posisi, dan seperti kilat berguling jungkir balik ke kanan. Dia tidak bisa lebih berhati-hati pada gerakan ke atas itu. Sepuluh kali dia mencoba, dan dalam sepuluh kali itu, sementara dia meluncur dengan kecepatan tujuh puluh mil per jam, bulu-bulunya menjadi kacau, kehilangan kendali, dan tercebur ke air. Pada akhirnya dia berfikir, dengan tubuh basah kuyup, harus menahan kedua sayapnya tetap diam pada kecepatan tinggi mengepakkan sayap untuk mengurangi kecepatan menjadi lima puluh mil per jam dan kemudian menahan sayapnya agar tidak bergerak. Dari ketinggian dua ribu kaki dia mencoba lagi, berguling untuk terjun, paruh lurus ke bawah, sayap terentang penuh dan stabil sejak saat dia melewati kecepatan lima puluh mil per jam. Diperlukan tenaga yang luar biasa besarnya, kali ini dia berhasil. Dalam waktu sepuluh detik dia tampak kabur dalam kecepatan sembilan puluh mil per jam. Jonathan telah membuat rekor kecepatan bagi burung camar. Tetapi kemenangannya berumur pendek. Pada saat dia memulai tarikan, pada saat dia mengubah sudut sayapnya, dia terseret ke dalam bencana yang tak terkendali mengerikan, dan pada kecepatan sembilan puluh mil per jam bencana ini menghantamnya seperti dinamit. Jonathan Camar berantakan di udara dan terhempas ke permukaan laut yang kini sekeras batu bata. Setelah dia sadarkan diri kembali, hari sudah lewat senja, dan dia terapung-apung dalam sinar bulan di permukaan samudra. Saypnya seperti cabikan-cabikan batangan timah, tetapi beban kegagalan bahkan lebih berat pada punggungnya. Dia menginginkan, dengan lemah, bahwa bobot badanya cukup berat sehingga bisa menyeretnya pelahan ke dasar laut, dan mengakhiri segalagalanya. Sementara dia tenggelam tidak terlalu dalam di air, suara aneh yang kosong berbunyi pada di dalam dirinya. Tidak ada cara untuk menghindarinya.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

3

Aku seekor burung camar. Aku terbatas dalam sifat-sifatku. Seandainya aku bisa belajar lebih banyak tentang terbang, aku seharusnya punya peta untuk otakku. Seandainya aku bisa terbang dengan kecepatan lebih tinggi, aku seharusnya punya sayap elang yang pendek, hidup dengan makan tikus bukannya ikan. Ayahku benar. Aku harus melupakan ketololan ini. Aku harus terbang pulang ke kelompokku dan merasa puas sebagai diriku sendiri, sebagai burung camar yang serba terbatas. Suara ini menghilang, dan Jonathan sependapat. Tempat bagi seekor burung camar di malam hari adalah di pantai, dan sejak saat ini dan seterusnya, dia bersumpah, dia akan menjadi camar yang normal. Itu akan membuat siapa saja lebih berbahagia. Dia mendorong tubuhnya dengan kelelahan dari air yang gelap yang gelap dan terbang menuju daratan, merasa bersyukur untuk apa yang telah dipelajarinya tentang terbang rendah yang menghemat tenaga. Tetapi tidak, pikirnya. Aku sudah mengakhiri cara-cara yang kulakukan dulu, aku sudah mengakhiri segala hal yang kupelajari. Aku seekor burung camar seperti setiap burung camar lainnya, dan aku akan terbang seperti burung camar. Maka dia naik dengan susah payah ke ketinggian seratus kaki dan mengepakngepakkan sayapnya lebih keras, tergesa-gesa menuju pantai. Dia merasa lebih baik dalam keputusannya hanya menjadi salah satu dari Kawanan. Sekarang tidak akan ada ikatan dengan daya yang mendorong untuk belajar, tidak akan ada lagi tantangan dan tidak akan ada lagi kegagalan. Dan ini menyenangkan sekali, hanya berhenti berfikir, dan terbang menembus kegelapan, menuju lampu-lampu di atas pantai. Gelap ! Suara kosong ini terdengar lagi dalam ketakutan. Burung camar tidak pernah terbang dalam gelap! Jonathan tidak siap mendengarkan suara itu. Ini bagus sekali, pikirnya. Bulan dan cahaya yang berkedip-kedip dipermukaan air, memantulkan berkas cahaya mercusuar yang kecil-kecil di malam hari., dan semua terasa begitu damai dan tenang Turun! Burung camar tidak pernah terbang dalam gelap! Kalau kau diciptakan untuk terbang dalam gelap, kau akan punya mata seekor burung hantu! Kau harus punya peta untuk otakmu! Kau harus punya sayap yang pendek burung elang! Di sana dalam kegelapan malam, setinggi seratus kaki di udara, Jonathan Livingstone Camar mengedip-ngedipkan matanya. Rasa sakitnya, tekadnya, semuanya lenyap Sayap pendek.Sayap pendek Burung Elang! Itulah jawabannya! Sungguh bodoh aku selama ini! Yang kuperlukan hanyalah sayap yang kecil, yang kuperlukan hanya melipat sayapku dan terbang hanya dengan ujung sayapku saja! Sayap pendek! Dia naik ke ketinggian dua ribu kaki di atas permukaan laut yang hitam, dan tanpa sesaat pun memikirkan kegagalan dan kematian, dia merapatkan pangkal sayapnya erat-erat ketubuhnya, hanya menyisakan ujung sayapnya yang sempit seperti pisau belati terjulur ke angin, dan dia jatuh meluncur tegak lurus ke bawah. Angin menderu mengerikan di kepalanya. Tujuh puluh mil perjam, sembilan puluh, seratus dua puluh, dan terus semakin cepat. Ketegangan sayapnya sekarang pada kecepatan seratus empat puluh mil perjam tidak sekeras sebelumnya pada kecepatan tujuh puluh mil perjam, dan dengan sedikit pilinan

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

4

pada ujung sayapnya dia meredakan penerjunan dan meluncur di atas ombak, bagaikan peluru meriam kelabu di bawah sinar bulan. Dia memejamkan mata menjadi celah sempit terhadap angin dan bersukacita. Seratus empat puluh mil per jam! Dan dibawah kendali! Seandainya aku terjun dari ketinggian lima ribu kaki dan bukannya dua ribu kaki, aku ingin tahu secepat apa Sumpahnya sesaat sebelumnya terlupakan, tersapu lenyap dalam tipuan angin yang kencang. Namun dia merasa tidak bersalah, melanggar janji yang dibuatnya untuk diri sendiri. Janji seperti itu hanya untuk burung camar yang menerima hal-hal yang biasa. Burung camar yang mencapai keunggulan dalam belajar tidak memerlukan janji seperti itu. Pada saat matahari terbit, Jonathan Camar berlatih lagi. Dari Ketinggian lima ribu kaki beberapa perahu nelayan hanya tampak seperti noktah-noktah kecil di permukaan air biru yang rata. Kawanan Makan Pagi hanya kelihatan seperti awan debu yang samara-samar, berputar-putar. Dia hidup, bergetar sedikit dengan rasa suka cita, bangga karena rasa takutnya kini di bawah kekuasaanya. Kemudian tiba-tiba dia merapatkan pangkal sayapnya, menjulurkan ujung sayapnya yang pendek dan menekuk, dan menukik langsung ke arah laut. Pada saat dia melalui ketinggian empat ribu kaki dia mencapai kecepatan puncak, angin merupakan dinding suara yang padat yang memukulnya dan dia tidak bisa bergerak lebih cepat melawannya. Dia sekarang terbang lurus ke bawah, dengan dua ratus empat belas mil per jam. Dia menelan ludah, tahu bahwa kalau sayapnya tidak dilipat pada kecepatan setinggi itu dia akan menjadi camar yang tercabik-cabik menjadi sejuta kepingan. Tetapi kecepatan adalah kekuatan, kecepatan adalah rasa senang, dan kecepatan adalah keindahan sejati. Dia menahan diri pada ketinggian seribu kaki, ujung sayapnya meletup dan kabur dalam angin kencang, perahu dan kelompok burung camar naik dan membesar dengan kecepatan meteor, langsung di jalan yang ditempuhnya. Dia tidak bisa berhenti, dia bahkan tidak tahu bagaimana harus membelok pada pada kecepatan setinggi itu. Tabrakan akan merupakan kamatian seketika. Maka dia memejamkan mata. Maka peristiwa ini terjadi pada pagi itu, tepat setelah matahari terbit, ketika Jonathan Livingstone Camar meluncur langsung menembus Kawanan Makan Pagi, dengan kecepatan dua ratus dua belas mil per jam, dalam lengkingan keras angin dan bulu. Camar keberuntungan tersenyum kepadanya kali ini, dan tidak ada satupun yang tewas. Pada waktu dia mengangkat paruhnya lurus ke langit dia masih meluncur terus dengan kecepatan seratus enam puluh mil perjam. Setelah dia melambat ke kecepatan dua puluh mil perjam dan akhirnya merentangkan sayap lagi, perahu tampak seperti seserpih remah roti di laut, empat ribu kaki di bawahnya. Yang dipikirkan adalah kemenangan. Kecepatan puncak! Seekor burung camar dengan kecepatan dua ratus empat belas mil per jam! Itu merupakan terobosan, satu saat yang paling hebat dalam sejarah kawanan. Dan pada saat itu sebuah zaman baru terbuka bagi Jonathan camar. Sambil terbang ke tempat latihannya yang terpencil, melipat sayapnya untuk penerjunan dari ketinggian delapan ribu kaki, dia seketika mempersiapkan dirinya untuk menemukan bagaimana caranya membelok.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

5

Dia mendapatkan bahwa sehelai bulu ujung sayap, yang bergerak sepersekian inci, memberikan lengkungan sapuan yang mulus pada kecepatan yang luar biasa. Walaupun demikian, sebelum dia mempelajari ini, dia mendapatkan bahwa menggerakkan lebih dari sehelai bulu pada kecepatan setinggi itu akan memutarnya seperti peluru senapan dan Jonathan telah melakukan aerobatic pertama oleh burung camar manapun di dunia. Dia tidak membuang-buang waktu hari itu untuk bicara dengan burung camar lainnya, tetapi terbang terus sampai lewat matahari terbenam. Dia telah menemukan gerakan simpul jerat, gulingan pelahan, gulingan meruncing, pilihan terbaik, serudukan, putaran jentera. Setelah Jonathan Camar bergabung dengan Kawanan di Pantai, malam sudah tiba. Dia pusing dan sangat kelelahan. Namun dalam rasa sukacita dia terbang dengan membuat gerakan simpul jerat untuk mendarat, dengan gulingan cepat sebelum menyentuh tanah. Setelah mereka mendengar itu, dia berfikir tentang Terobosan, mereka akan senang luar biasa. Betapa jauh lebih banyak sekarang yang bisa dihayatinya dalam hidup! Bukannya sekedar terbang lambat pulang pergi ke perahu nelayan, sekarang ada alas an untuk hidup! Kita bisa mengangkat diri sendiri dari kebodohan, kita bisa menemukan diri kita sebagai mahluk yang unggul, cerdik, dan punya keahlian. Kita bisa bebas! Kita bisa Belajar terbang! Tahun-tahun mendatang mendengung dan bersinar dengan janji keberhasilan. Burung-burung camar berkelompok menuju Pertemuan Dewan ketika mendarat, dan rupanya sudah berkeplmpok beberapa waktu lamanya. Mereka, sebenarnya, sedang menunggu. Jonathan Livingston Camar! Berdiri di tengah! kata-kata Tetua terdengar dalam suara ucapan tertinggi. Berdiri di tengah hanya berarti rasa malu yang luar biasa atau kehormatan besar. Berdiri di Tengah untuk kehormatan adalah cara pemimpin camar yang paling terkemuka diatandai. Tentu saja, dia berpikir, pagi ini Kawanan Makan Pagi melihat Terobosan! Tetapi aku tidak menginginkan kehormatan. Aki tidak ingin menjadi pemimpin. Aku hanya ingin berbagi apa yang ku temukan, untuk menunjukkan cakrawala nun jauh di sana untuk kita semua. Dia melangkah ke depan. Jonathan Livingston Camar, kata Tetua, Berdiri di Tengah untuk Rasa Malu yang dilihat sesamamu burung camar! Rasanya seperti dipukul dengan sebilah papan. Lututnya menjadi lemah, bulu-bulunya lemas, ada bunyi gemuruh dalam telinganya. Berdiri di tengah untuk rasa malu? Mustahil! Terobosan! Mereka tidak mengerti! Mereka salah, mereka salah! kelancangan yang tidak bertanggung jawab, suara yang khidmat terdengar,melanggar martabat dan adat istiadat keluarga Camar Berdiri di tengah untuk rasa malu berarti bahwa dia harus dikucilkan dari masyarakat camar, di usir ke kehidupan menyendiri di Tebing Jauh. pada suatu kelak, Jonathan Livingston Camar, kau akan memetik pelajaran bahwa sikap tidak bertanggung jawab tidak membuahkan imbalan. Kehidupan adalah ketidaktahuan dan tidak akan bisa diketahui, kecuali bahwa kita diturunkan ke dunia ini untuk makan, untuk tetap hidup selama kita bisa. Seekor camar tidak pernah menjawab kata-kata Kawanan Dewan, tetapi suara Jonathan terdengar melengking. Tidak bertanggung jawab? Saudar-

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

6

saudaraku! dia berseru. Siapa yang lebih bertanggung jawab dari pada seekor burung camar yang menemukan dan mengikuti sebuah makna, sebuah tujuan hidup yang lebih tinggi? Selama seribu tahun kita hanya berebut kepala ikan, tetapi sekarang kita punya alasan untuk hidup-untuk belajar, untuk menemukan, untuk menjadi bebas! Beri aku satu kesempatan, biarkan aku menunjukkan kepada kalian apa yang telah kutemukan Kawanan tetap diam seakan-akan mereka batu. Persaudaraan telah dilanggar, semua burung camar berkata bersamasama dan dengan satu kesepakatan mereka secara khidmat menutup telinga dan berbalik membelakanginya. Jonathan Camar melewatkan sisa hari-harinya sendirian, tetapi dia terbang melampaui Tebing Jauh. Apa yang disedihkannya bukanlah kesendirian, melainkan kenyataan bahwa cama-camar lainnya tidak mau mempercayai kejayaan penerbangan yang menunggu mereka; mereka tidak mau membuka mata dan melihat. Dia belajar lebih banyak setiap hari. Dia mempelajari bahwa penerjunan kecepatan tinggi dengan tubuh dirampingkan bisa membuat dia berhasil menemukan ikan yang langka dan lezat yang berkelompok sedalam sepuluh kaki di bawah permukaan samudera; dia tidak lagi memerlukan perahu nelayan dan roti basi untuk mempertahankan kelesatarian hidup. Dia belajar tidur di udara, menetapkan arah di malam hari melintasi angin lepas pantai, menempuh jarak seratus mil dari matahari terbenam sampai matahari terbit. Dengan pengendalian batin yang sama, dia terbang menembus kabut laut yang tebal dan naik ke atasnya ke langit yang jernih menyilaukan tepat pada saat-saat ketika setiap burung camar lainnya berdiri di tanah, tidak mengetahui apapun selain kabut dan hujan. Dia belajar menunggangi angin kencang di atas daratan, untuk makan serangga yang lezat di sana. Apa yang dulu pernah diharapkannya untuk Kawanan, sekarang diperolehnya untuk dirinya sendiri saja; dia belajar terbang, dan tidak menyesal untuk harga yang telah dibayarnya. Jonathan Camar menemukan bahwa kejemuan, rasa takut dan amarah merupakan alasan mengapa kehidupan burung camar singkat, dan setelah hal ini lenyap dari pemikirannya, dia benar-benar menikmati umur panjang. Kemudian mereka datang di sore hari, dan menemukan Jonathan sedang melayang-layang dengan damai dan sendirian menembus langitnya yang tercinta. Dua burung camar yang muncul di dekat sayapnya jernih seperti sinar bintang, dan cahaya yang terpancar dari mereka lembut dan ramah di udara malam yang tinggi. Tetapi yang paling indah dari semuanya adalah keahlian mereka terbang, ujung sayap mereka bergerak persis dan tetap dalam jarak satu inci dari ujung sayapnya sendiri. Tanpa sepatah kata, Jonathan menguji mereka, dengan ujian yang belum pernah lulus dijalani oleh burung camar manapun lainnya. Dia memilin sayapnya, melambat ke kecepatan satu mil perjam dan kemungkinan berhenti. Kedua burung yang bercahaya ini melambat bersamanya, dengan mulus, tetap terkunci pada posisinya. Mereka mengetahi cara terbang lambat. Dia melipat sayapnya, berguling dan jatuh dalam tukikan sampai ke kecepatan seratus sembilan puluh mil per jam. Mereka terjun bersamanya, menukik dalam formasi yang tanpa cacat. Akhirnya dia membelokkan kecepatan lurus ke atas menjadi gulingan perlahan yang panjang vertical. Mereka berguling bersamanya, sambil tersenyum.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

7

Dia kembali terbang mendatar dan keadaan sunyi sebentar sebelum dia bicara. Baiklah,katanya, kalian siapa? Kami dari kawananmu, Jonathan. Kami saudara-saudaramu. Katakatanya kuat dan tenang. Kami datang untuk membawamu lebih tinggi, untuk membawamu pulang, Aku tidak punya tempat tinggal. Aku tidak punya kawanan. Aku anak buangan. Dan kita sekarang terbang di puncak Angin Gunung Besar. Melampaui ketinggian beberapa ratus kaki lagi, aku tidak bisa mengangkat tubuh tua ini lebih tinggi. Tetapi kau bisa, Jonathan. Sebab kau sudah belajar. Satu sekolah sudah selesai, dan waktunya sudah tiba untuk memulai sekolah lainnya. Seakan-akan sudah terpancar kepadanya seumur hidup, pengertian pada saat ini menyinari Jonathan Camar. Mereka benar. Dia bisa terbang lebih tinggi, dan sekarang sudah waktunya untuk pulang. Dia melayangkan satu pandangan terakhir melintasi langit, melintasi daratan keperakan yang indah tempat dia belajar begitu banyak. Aku sudah siap, dia berkata akhirnya. Dan Jonathan Livingston Camar naik bersama dua camar yang gemerlapan seperti bintang untuk lenyap kedalam langit gelap yang sempurna.

BAGIAN DUA Jadi inilah sorga, pikirnya, dan dia tersenyum sendiri. Sama sekali tanpa rasa hormat pada saat itu menganalisis sorga yang bisa dimasuki dengan terbang ke dalamnya. Sebagaimana dia datang dari Bumi yang ada di bawah sekarang, di atas awan dan dalam formasi yang berdekatan dengan dua camar yang gemerlapan, dia melihat tubuhnya sendiri semakin bercahaya terang seperti mereka. Benar, Jonathan Camar muda yang sama masih ada di sana yang selalu hidup di belakang matanya yang keemasan, tetapi bentuk luarnya sudah berubah. Tubuhnya masih terasa seperti tubuh seekor burung camar, tetapi dia sudah terbang jauh lebih baik daripada yang dilakukan oleh tubuhnya yang lama. Wah, hanya dengan upaya separuhnya, pikirnya, aku akan mendapatkan kecepatan dua kali lipat, kemampuan dua kali lipat hari-harinya yang terbaik di Bumi! Bulu-bulunya sekarang bersinar putih cemerlang, demikian pula sayapnya halus dan sempurna seperti lembaran perak yang dipoles. Dengan rasa senang dia mulai mempelajari tentang sayapnya, untuk menekankan kekuatan ke dalam sepasang sayapnya yang baru. Pada kecepatan dua ratus lima puluh mil per jam dia merasakan bahwa dia hampir mencapai kecepatan terbang maksimum. Pada kecepatan dua ratus tujuh puluh tiga mil per jam dia merasa dia sudah terbang paling cepat yang bisa dilakukannya, dan dia samar-samar merasa kecewa. Ada batas tentang sebanyak apa yang bisa dilakukan oleh tubuhnya yang baru, dan walaupun ini jauh lebih cepat daripada rekor terbang mendatarnya yang lama, rasanya itu masih merupakan batas yang bisa dipecahkannya dengan usaha besar. Di sorga, pikirnya, seharusnya tidak ada batas. Awan menyibak, kedua pengawalnya berseru, Selamat mendarat, Jonathan, dan lenyap tanpa bekas.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

8

Dia terbang di atas laut, menuju garis pantai yang bergerigi. Beberapa ekor burung camar sedang melawan angin menuju tebing. Jauh ke arah utara, di kaki langit sendiri, terbang beberapa ekor burung camar lainnya. Pemandangan baru, pemikiran baru, pertanyaan baru. Mengapa hanya sedikit burung camar? Sorga seharusnya penuh dengan kawanan burung camar! Dan mengapa aku begitu kelelahan, secara tiba-tiba? Burung camar di sorga seharusnya tidak kelelahan, atau tidur. Di mana dia pernah mendengar itu? Ingatan tentang kehidupannya di Bumi semakin jauh. Bumi adalah tempat dia banyak belajar, tentu saja, tetapi perinciannya kabur-sesuatu tentang berkelahi untuk berebut makanan, dan menjadi Buangan. Selusin burung camar di garis pantai datang menyongsongnya, tidak ada satu pun yang mengucapkan sepatah kata. Dia hanya merasa bahwa dia mendapat sambutan baik dan bahwa ini tempat tinggalnya. Ini hari besar baginya, hari yang matahari terbitnya tidak lagi diingatnya. Dia membelok untuk mendarat di pantai, mengepak-ngepakkan sayapnya untuk berhenti sejauh satu inci di udara, kemudian menjatuhkan diri perlahan ke pasir. Burung-burung camar lainnya juga mendarat, tetapi tidak ada satupun yang menggerahkan barang sehelai bulu. Mereka meluncur dalam angin, sayap yang bercahaya terentang, kemudian dengan suatu cara mereka mengubah lengkungan bulu-bulunya sampai pada saat yang sama kaki mereka menjejak tanah. Itu pengendalian yang indah, tetapi sekarang Jonathan terlalu kelelahan sehingga tidak ingin mencobanya. Sambil berdiri di sana, masih tanpa mengucapkan sepatah kata, dia tertidur. Pada hari-hari yang menyusul, Jonathan melihat banyak sekali yang harus dipelajari tentang terbang di tempat ini seperti dalam kehidupan yang telah ditinggalkannya. Tetapi ada perbedaannya. Di sini terdapat burung-burung camar dengan pemikiran yang sama seperti pemikirannya. Bagi mereka masing-masing, hal yang paling penting dalam kehidupan adalah menjangkau dan menyentuh kesempurnaan yang paling senang mereka lakukan, dan itu adalah terbang. Mereka burung-burung yang hebat, mereka semua, dan mereka melewatkan jam demi jam setiap hari berlatih terbang, menguji aeronautika yang maju. Dalam waktu yang lama sekali Jonathan melupakan tentang dunia tempatnya berasal, tempat Kawanan hidup dengan mata tertutup rapat-rapat terhadap kenikmatan terbang, menggunakan sayapnya sebagai sarana untuk mengakhiri penemuan dan berkelahi berebut makanan. Tetapi sekarang dan kemudian, hanya sesaat, dia teringat. Dia teringat kepada hal itu pada suatu pagi ketika dia keluar denga instrukturnya, sementara mereka beristirahat di pantai setelah acara latihan melakukan gulingan cepat dengan sayap terlipat. Di mana semua yang lain, Sullivan? dia bertanya tanpa suara, sekarang sudah terbiasa dengan telepati sederhana yang digunakan oleh camar-camar ini dan bukannya jeritan dan teriakan. Mengapa kita tidak lebih banyak lagi berada di sini? Wah, di tempat aku berasal burung camar. .berjumlah beribu-ribu. Aku tahu. Sullivan menggelengkan kepalanya. Satu-satunya jawaban yang kuketahui, Jonathan, adalah bahwa kau adalah satu dari sejuta burung yang baik sekali. Kita kebanyakan datang begitu lambat. Kita pergi dari satu dunia ke dunia lainnya yang hampir tepat sama, langsung melupakan tempat kita berasal, tidak mempedulikan tempat yang kita tuju, hidup untuk satu saat. Apakah kau tahu berapa banyak kehidupan yang harus

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

9

kita jalani sebelum kita bahkan mendapat gagasan pertama bahwa kehidupan lebih dari hanya sekadar makan atau berkelahi, atau kekuasaan dalam kawanan? Seribu kehidupan, Jon, sepuluh ribu kehidupan! Dan kemudian seratus kehidupan lagi sampai kita mulai mempelajari bahwa ada yang namanya kesempurnaan, dan seratus kehidupan lagi untuk mendapatkan gagasan bahwa tujuan hidup kita adalah menemukan kesempurnaan itu dan menunjukkannya. Ketentuan yang sama berlaku bagi kita sekarang, dan dunia berikutnya sama seperti yang ini, tentu saja: kita memilih dunia kita selanjutnya melalui apa yang kita pelajari di dunia yang sekarang. Kalau kita tidak mempelajari sesuatu, maka dunia berikutnya akan sama dengan yang ini. Semua keterbatasan yang sama dan beban yang sama untuk diatasi. Dia merentangkan sayapnya dan membelok untuk menghadapi angin. Tetapi kau Jon, katanya, belajar begitu banyak pada satu waktu sehingga kau tidak perlu melalui seribu kehidupan untuk mencapai kehidupan ini. Sesaat kemudian mereka sudah terbang berrlatih kembali. Formasi berguling menukik sulit, sebab selama dalam keadaan separuh terbalik Jonathan harus berpikir dalam keadaan terbalik, membalikkan lengkungan sayapnya, dan membalikkan lengkung sayapnya, dan membalikkannya tepat dalam keserasian dengan instrukturnya. Mari kita coba lagi, kata Sullivan, berulang kali. Mari kita coba lagi. Kemudian, akhirnya, Bagus. Dan mereka mulai melatih gerakan jerat simpul ke luar. Pada suatu sore burung-burung camar yang tidak terbang malam berdiri berkumpl di pasir, berpikir. Jonathan mengerahkan semua keberanian yang dimilikinya dan berjalan menghampiri camar tertua, yang dikatakan tidak lama lagi akan pindah meninggalkan dunia ini. Chiang katanya, sedikit gelisah. Camar tua ini melihat kepadanya dengan sikap manis. Ya anakku? Bukannya dilemahkan oleh usianya, Tetua bahkan mendapatkan kekuatan dengan bertambahnya umur; dia bias terbang mengalahkan camar mana pun juga dalam Kawanan, dan dia telah mempelajari keahlian yang hanya dengan cara berangsurangsur baru, mulai diketahui oleh yang lain-lainnya. Chiang, dunia ini sama sekali bukan sorga, bukan? Tetua tersenyum dalam sinar bulan. Kau belajar lagi, Jonathan Camar, katanya. Nah apa yang terjadi setelah ini? Ke mana kita akan pergi? Adakah tempat yang namanya sorga? Tidak, Jonathan, tidak ada tempat yang seperti itu. Sorga bukan tempat, dan bukan waktu. Sorga adalah keadaan menjadi sempurna. Dia terdiam sesaat. Kau penerbang yang cepat sekali, bukan? Akuaku menyukai kecepatan, Jonathan berkata, terkejut tetapi bangga karena Tetua memperhatikan. Kau akan mulai menyentuh sorga, Jonathan, pada saat kau menyentuh kecepatan yang sempurna. Dan itu bukanlah terbang dengan kecepatan seribu mil per jam, atau sejuta mil per jam, atau terbang dengan kecepatan cahaya. Sebab bilangan apa saja adalah batas, dan kesempurnaan tidak punya batas. Kecepatan yang sempurna, anakku, adalah berada disana. Tiba-tiba sekali, Chiang menghilang dan muncul di tepi air sejauh lima puluh kaki dari sana, hanya dalam sekejap mata. Kemudian dia menghilang kembali dan

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

10

berdiri, pada milidetik yang sama, di sisi bahu Jonathan, Ini rasanya menyenangkan, katanya. Jonathan merasa sangat takjub. Dia lupa menanyakan tentang sorga. Bagaimana kau melakukan itu? Seperti apa rasanya? Sejauh apa kau bisa pergi? Kau bisa pergi ke tempat mana pun juga dan ke waktu mana pun juga yang ingin kau datangi, kata Tetua. Aku sudah ppergi ke tempat manapun juga dan waktu mana pun juga yang bisa kupikirkan. Dia melihat melintasi laut. Ini aneh. Burung-burung camar yang mencemoohkan kesempurnaan demi perjalanan tidak pergi kemana pun juga, dengan lambat. Mereka yang mengesampingkan perjalanan demi kesempurnaan pergi kemana saja, seketika. Ingat Jonathan, sorga bukanlah tempat atau waktu, sebab tempat dan waktu sangat tidak berarti. Sorga adalah Dapatkah kau mengajarkan kepadaku tentang terbang seperti itu? Jonathan Camar bergetar ingin menaklukan ketidaktahuan lainnya. Tentu saja, kalau kau ingin belajar. Aku ingin. Bilamana kita bisa mulai? Kita bisa mulai sekarang juga, kalau kau mau. Aku ingin belajar terbang seperti itu, Jonathan berkata, dan cahaya aneh bersinar dalam matanya. Katakan kepadaku apa yang harus kulakukan. Chiang bicara perlahan-lahan dan mengawasi burung camar yang lebih muda ini dengan cermat. Untuk bias terbang secepat pikiran ke mana saja, dia berkata, kau harus mulai dengan mengetahui bahwa kau sudah tiba Taktiknya, menurut Chiang, adalah agar Jonathan berhenti memandang dirinya terperangkap di dalam sesosok tubuh yang terbatas, yang punya rentang sayap sepanjang 42 inci dan unjuk kerja yang bias dirancang di atas sebuah peta. Taktiknya adalah mengetahui bahwa hakikatnya yang sejati hidup, sesempurna bilangan yang tidak tertulis, ke mana-mana seketika melintasi ruang dan waktu. Jonathan terus memperhatikannya, dengan tekun, hari demi hari, sejak matahari terbit sampai lewat tengah malam. Dan untuk semua upayanya dia tidak beranjak barang selebar sehelai bulu dari tempatnya. Lupakan tentang keyakinan! Chiang berkata berulang kali. Kau tidak memerlukan keyakinan untuk terbang, kau hanya memerlukan pemahaman tentang terbang. Ini sama saja. Sekarang coba lagi Kemudian pada suatu hari Jonathan, yang berdiri di pantai, memejamkan matanya, memusatkan perhatian, dan secepat kilat memahami apa yang di katakana Chiang kepadanya. Wah, ini benar! Aku burung camar yang sempurna, tidak punya batas! Dia merasakan kejutan besar rasa sukacita. Bagus! kata Chiang, dan ada kemenangan di dalam suaranya. Jonathan membuka matanya. Dia berdiri sendirian bersama Tetua di tepi laut yang sama sekali berbeda pohon-pohon merunduk ke tepi air, matahari kembar yang kuning bergerak di atas kepala. Akhirnya kau mendapatkan gagasannya, kata Chiang, tetapi pengendalianmu masih perlu sedikit garapan Jonathan tertegun. Kita ada di mana? Sama sekali tidak terkesan oleh keadaan sekitar yang aneh, Tetua mengesampingkan pertanyaannya. Kita berada di suatu planet, jelas sekali, dengan langit hijau dan sepasang bintang sebagai mataharinya.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

11

Jonathan membuat pekikan kegirangan, bunyi pertama yang di keluarkannya sejak dia meninggalkan Bumi. INI BERHASIL! Nah, tentu saja ini berhasil, Jon, kata Chiang. Ini selalu berhasil, kalau kau tahu apa yang kau lakukan. Sekarang tentang pengendalianmu Pada waktu mereka kembali, hari sudah gelap. Burung-burung camar lainnya melihat kepada Jonathan dengan pancaran kagum dalam mata mereka yang keemasan, sebab mereka telah melihat dia lenyap dari tempatnya berada begitu lama. Dia menerima ucapan selamat dari camar lainnya dalam waktu kurang dari satu menit. Aku pendatang baru di sini! Aku baru saja mulai! Akulah yang harus belajar dari kalian! Aku meragukan itu, Jon, kata Sullivan, yang berdiri tidak begitu jauh. Kau punya rasa takut yang lebih sedikit untuk belajar dibandingkan dengan burung camar mana pun juga yang pernah kulihat dalam sepuluh ribu tahun. Kawanan terdiam, dan Jonathan gelisah dalam rasa malu. Kita bisa mulai bekerja dengan waktu kalau kau menghendaki, kata Chiang, sampai kau bisa terbang ke masa lalu dan masa mendatang. Dan kemudian kau akan siap untuk memulai yang paling sulit, yang paling kuat, yang paling menyenangkan dari segala-galanya. Kau akan siap untuk terbang ke atas dan mengetahui makna kebaikan hati dan cinta. Waktu satu bulan berlalu, atau satu jangka waktu yang rasanya seperti sebulan, dan Jonathan belajar dengan kecepatan yang luar biasa. Dia selalu belajar cepat dari pengalaman yang luar biasa, dan sekarang, sebagai murid istimewa Tetua, dia menerima banyak gagasan baru seperti sebuah komputer berbulu yang ramping. Tetapi kemudian tibalah hari ketika Chiang menghilang. Dia baru saja bicara dengan suara perlahan kepada mereka semua, mendorong mereka untuk tidak berhenti belajar, berlatih dan berjuang untuk memahami lebih banyak prinsip semua kehidupan yang tidak kasat mata dan sempurna. Kemudian, sementara dia berbicara, bulunya menjadi semakin terang dan semakin terang sampai akhirnya begitu gemerlapan sehingga tidak ada burung camar yang bisa melihatnya. Jonathan, katanya, dan ini adalah kata-kata terakhir yang diungkapkannya, terus berusaha memahami cinta. Setelah mereka bisa melihat kembali, Chiang sudah lenyap. Sementara hari-hari berlalu dengan cepat, Jonathan mendapatkan dirinya berulang kali memikirkan Bumi tempatnya berasal. Seandainya ketika itu dia mengetahui sepersepuluhnya saja, seperseratusnya saja, dari apa yang diketahuinya disini, betapa kehidupan akan jauh lebih berarti! Dia berdiri di pasir dan bertanya-tanya dalam hati apakah ada seekor burung camar di sana yang mungkin sedang berjuang mendobrak keluar dari keterbatasannya, untuk melihat makna penerbangan melampaui cara bepergian untuk mendapatkan seserpih remah roti dari sebuah perahu dayung. Mungkin bahkan ada satu yang dijadikan Buangan karena mengatakan kebenaran di hadapan Kawanan. Dan semakin banyak Jonathan mengamalkan pelajaran tentang kebaikan hati, dan semakin banyak dia berusaha memahami hakikat cinta, semakin besar keinginannya untuk kembali ke Bumi. Sebab walaupun masa lalunya dilewatkan dalam rasa kesepian, Jonathan Camar dilahirkan untuk menjadi instruktur, dan caranya sendiri memperagakan cinta adalah memberikan sesuatu yang benar yang telah dilihatnya

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

12

kepada seekor burung camar yang hanya meminta kesempatan untuk melihat kebenarannya sendiri. Sullivan, yang sekarang sudah cakap dalam hal penerbangan dengan kecepatan pikiran dan membantu lain-lainnya belajar, merasa penuh keraguan. Jon, kau sudah pernah menjadi Buangan. Mengapa kau berpikir ada burung camar dari masa lalumu yang akan mendengarkan kata-katamu sekarang? Kau mengetahui pepatahnya, dan itu benar: Burung camar melihat paling jauh yang terbang paling jauh. Burung-burung camar dari tempat asalmu berdiri di tanah, memekik-mekik dan berkelahi antara sesamanya. Mereka sejauh seribu mil dari sorga dan kau mengatakan ingin menunjukkan kepada mereka sorga dari tempat mereka berdiri! Jon, mereka bahkan tidak bisa melihat ujung sayapnya sendiri. Tetaplah tinggal disini. Bantulah camar-camar yang baru di sini, yang cukup tinggi untuk melihat apa yang akan kau katakan kepada mereka. Dia terdiam sejenak dan kemudian berkata, Bagaimana kalau Chiang kembali ke dunianya yang lama? Dimana kau akan berada hari ini? Butir terakhir adalah yang mengungkapkan kebenaran, dan Sullivan benar. Burung camar melihat paling jauh yang terbang paling tinggi. Jonathan tetap tinggal dan bekerja dengan burung-burung yang baru datang, yang semuanya sangat cerdas dan cepat menerima pelajarannya. Tetapi perasaan yang lama kembali lagi, dan dia tidak mau berpikir bahwa mungkin ada dua ekor burung camar di bumi yang juga akan bisa belajar. Betapa jauh lebih banyak yang di ketahuinya sekarang seandainya Chiang dating kepadanya pada hari dia menjadi Buangan! Sully, aku harus kembali, kata Jonathan akhirnya. Murid-muridmu maju pesat. Mereka bisa membantumum mengajar para pendatang baru. Sullivan menghela nafas, tetapi dia tidak membantah. Kurasa aku kehilangan kau Jonathan, hanya itulah yang dikatakannya. Sully, sikapmu memalukan ! kata Jonathan sebagai teguran, dan jangan bodoh! Apa yang kita coba untuk kita amalkan setiap hari? Kalau persahabatan kita tergantung pada hal-hal seperti ruang dan waktu, maka setelah akhirnya kita mengatasi ruang dan waktu, kita akan merusak persaudaraan kita sendiri! Tetapi atasilah ruang dan yang tersisa bagi kita adalah di Sini. Atasilah waktu dan yang tersisa bagi kita adalah Sekarang, dan di tengah-tengah di Sini dan Sekarang, bukankah kau berpikir bahwa kita mungkin akan saling bertemu satu atau dua kali? Sullivan Camar tertawa walaupun perasaannya kurang senang. Kau burung gila, katanya dengan sikap manis. kalau ada siapa saja yang bisa menunjukkan kepada lainnya di tanah bagaimana caranya melihat sejauh seribu mil, itu adalah Jonathan Livingstone Camar. Dia melihat ke pasir Selamat berpisah Jon sahabatku. Selamat berpisah Sully. Kita akan bertemu lagi. Dan setelah mengatakan itu, Jonathan dalam pikirannya punya bayangan tentang kawanan burung camar yang besar di pantai pada waktu yang lain, dan dia tahu dengan mudah karena kemampuannya sudah terlatih bahwa dia bukanlah tulang dan bulu, melainkan gagasan yang sempurna dari kebebasan dan penerbangan, yang tidak dibatasi oleh apapun juga. Fletcher Lynd Camar masih muda sekali, tetapi dia sudah tahu bahwa tidak ada burung lainnya yang pernah diperlakukan begitu kasar oleh Kawanan manapun, atau dengan ketidakadilan yang begitu besar.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

13

aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakana, pikirnya keraskeras, dan banyangannya kabur ketika dia terbang menuju Tebung Jauh. Tidak ada apa pun mengenai terbang yang melebihi sekedar mengepakkan sayap dari satu tempat ke tempat lainnya! Seeokorseekor nyamuk pun melakukan itu! Hanya satu gulingan di dekat Camar Tetua, hanya untuk bersenang-senang, dan jadilah aku Buangan! Apakah mereka buta? Tidakkah mereka melihat? Tidak dapatkan mereka memikirkan kejayaan setelah kita benar-benar belajar terbang? Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan. Aku akan menunjukkan pada mereka apa terbang itu! Aku akan menjadi penjahat sejati, kalau itu cara mereka menginginkannya. Dan aku akan membuat mereka menyesal sekali Suara itu timbul di dalam pikirannya sendiri, dan walaupun itu lembut sekali, dia begitu terkejut sehingga gerakannya terhendi dan di terjungkal di udara. Jangan terlalu keras pada mereka. Fletcher Camar. Dalam membuangmu, camar-camar lainnya hanyalah menyakiti diri sendiri, dan pada suatu hari kelak mereka akan menyadari ini, dan pada suatu hari kelak mereka akan melihat apa yang bisa kau lihat. Maafkan mereka, dan Bantu mereka supaya bisa memahami. Sejauh satu inci dari sayapnya terbang burung camar putih yang paling gemerlapan di seluruh dunia, meluncur dengan mudahnya di udara, tanpa menggerakkan sehelai bulu pun, dengan kecepatan yang hampir merupakan kecepatan tertinggi Fletcher Sesaat terjadi kekalutan di dalam hati si burung muda apakah yang terjadi? Apakah aku sudah gila? Apakah aku sudah mati? Apa ini? Rendah dan tenang, suara terdengar lagi di dalam pikirannya menuntut jawaban. Fletcher Lynd Camar, apakah kau ingin terbang YA, AKU INGIN TERBANG Fletcher Lynd Camar, apakah kau begitu ingin terbang sehingga kau mau memaafkan Kawasnan dan belajar, dan kembali pada mereka suatu hari kelak dan bekerja untuk membantu mereka mengerti? Tidak mungkin bisa berbohong kepada makhluk yang sangat ahli ini, tidak peduli betapapun sombong atau sakit hati burung yang bernama Fletcher Camar ini. Aku mau, katanya perlahan Kalau begitu Fletch, makhluk gemerlap ini berkata padanya, dan suaranya lembut sekali, Mari kita mulai dengan penerbangan datar BAGIAN TIGA Jonathan mengawasi berkeliling perlahan-lahan di atas Tebing Jauh. Flethcer Camar muda yang masih kasar ini adalah siswa penerbangan yang sempurna. Dia kuat, ringan dan cepat di udara, tetapi yang jauh lebih penting, dia punya semangat yang berkobar-kobar untuk belajar terbang. Dia dating saat ini, bentuk kelabu yang kabur yang menderu dalam penerjun, berkelabat dengan kecepatan seratus lima puluh mil per jam melewati instrukturnya. Dia menahn diri tiba-tiba untuk mencoba lagi melakukan putaran perlahan vertical enam belas poin, dengan menyebutkan poinnya keras-keras. delapan sembilan sepuluh lihat-Jonathan-aku-meluncurmelampaui kecepatan udara sebelas aku-ingin berhenti-mendadak-dengan-

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

14

baik-seperti-kau dua belas tetapi-sialan-aku-tidak-berhasil tiga belas tiga-poin yang-terakhir-ini tanpa empat be aaakk Kemandekan Fletcher di puncak semakin diperburuk oleh kekesalan dan kemarahannya karena gagal. Dia terjengkang ke belakang, jungkir balik, berputarputar, dan akhirnya berhasil memulihkan posisinya, dengan nafas terengah-engah, seratus kaki dibawah ketinggian instrukturnya. Kau membuang-buang waktumu, Jonathan! Aku terlalu bodoh! Aku terlalu tolol! Aku berusaha dan berusaha terus, tetapi aku tidak akan berhasil Jonathan Camar melihat kebawah, kepada Flecther dan mengangguk. Kau tidak akan berhasil selama kau menahan diri begitu keras. Fletcher, kau kehilangan empat puluh mil per jam ketika kau baru mulai! Kokoh tetapi mulus, ingat? Jonathan menjatuhkan dirinya ketingkat ketinggian camar yang lebih muda. Mari kita coba bersama-sama sekarang, dalam formasi. Dan perhatikan caramu menahan diri. Kau harus melakukannya dengan mulus, dengan enak. Pada akhir tiga bulan Jonathan sudah punya enam murid lainnya, semuanya Buangan, namun penuh perhatian kepada gagasan baru terbang yang aneh ini, untuk kenikmatan terbang. Walaupun demikian lebih mudah bagi mereka untuk memprkatekkan performa tingkat tinggi dibandingkan memahami alasan di baliknya. Kita masing-masing kenyataannya adalah sebuah gagasan dari Camar Agung, gagasan kebebasan tanpa batas, Janathan mengatakan setiap sore hari dipantai, dan ketepatan terbang adalah satu langkah menuju pernyataan hakikat kita yang sesungguhnya. Itulah sebabnya kita melakukan praktek kecepatan tinggi, kecepatan rendah dan aerobatic Dan murid-muridnya tertidur, kehabisan tenaga karena terbang seharian. Mereka menyukai latihan, karena dilakukan dengan cepat dan menyenangkan serta memuaskan dahaga akan belajar dan makin meningkat setiap pemberian pelajaran. Tetapi tidak ada satupun diantara mereka, bahkan Fletcher Lynd Camar pun tidak, yang bisa sama nyatanya dengan terbangnya angin dan bulu. Seluruh tubuhmu, dari satu ujung sayap sampai ke ujung sayap lainnya, kata Jonathan pada kesempatan lainnya, tidak lebih dari pemikiranmu sendiri, dalam bentuk yang bisa kau lihat. Putuslah rantai pemikiranmu, dank au juga akan memutus rantai tubuhmu Tetapi tidak peduli bagaimana cara dia mengatakannya, dan mereka memerlukan waktu untuk tidaur. Hanya sebulan kemudian Jonathan mengatakan sudah tiba waktunya untuk kembali kepada kawanan. Kami belum siap! kata Henry Calvin Camar. Kami tidak akan disambut baik! Kami Buangan! Kami tidak bisa memaksa diri sendiri untuk pergi ketempat kami dan tidak akan disambut baik, bukan? Kita bebas untuk pergi kemana saja yang kita inginkan dan menjadi diri kita seperti apa adanya, jawab Jonathan, dan dia mengangkat darinya dari pasir dan membelok ke timur, menuju tanah kediaman Kawanan. Ada penderitaan sejenak dikalangan para muridnya, sebab merupakan Hukum Kawanan bahwa Buangan sama sekali tidak boleh kembali, dan Hukum belum pernah dilanggar barang sekali dalam sepuluh ribu tahun. Hukum tetap bertahan; Jonathan mengatakan pergi; dan sekarang dia sudah sejauh satu mil melintasi air. Kalau mereka menunggu lebih lama, dia akan sampai ke tempat Kawanan yang penuh permusuhan sendirian dan kebencian.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

15

Nah, kita tidak harus mematuhi hokum kalau kita bukan lagi bagian dari Kawanan, bukan? Fletcher berkata, agak malu-malu. Lagi pula, seandainya terjadi perkelahian, kita akan mendapatkan jauh lebih banyak bantuan disana daripada di sini. Dan demikianlah mereka terbang dari barat pagi itu, mereka berdelapan dalam formasi intan ganda, ujung sayap hamper saling bersentuhan. Mereka datang melintasi Pantai Dewan Kawanan dengan kecepatan seratus tiga puluh mil per jam, Jonathan memimpin didepan, Fletcher dengan mulus terbang di ujung sayap kanannya, dan Henry Calvin bergerak dengan mudah disisi kirinya, kemudian seluruh formasi berguling dengan perlahan-lahan ke kanan, sementara seekor burung mendatar kemuidan berbalik kemuidan mendatar, angina melecut mereka semua. Pekikan dan kotekan kehidupan sehari-hari dalam kawanan terpotong seakan-akan formasi ini sebilah pisau raksasa, dan delapan ribu mata camar mengawasi, tanpa dikedipkan sekali pun. Satu demi satu masing-masing dari kedelapan burung menukik dan melayang keatas dalam gerakan jerat simpul penuh dan terbang berkeliling ke pendaratan berdiri yang sangat lambat nyaris berhenti sama sekali di atas pasir. Kemudian seakan-akan hal seperti itu terjadi setiap hari, Jonathan Camar memulai kritikya terhadap penerbangan. Pertama sekali, katanya sambil tersenyum masam, kalian semua agak terlambat pada gerakan bergabung Semua ini terjadi secepat kilat di dalam Kawanan. Semua burung itu adalah Buangan! Dan mereka kembali! Dan itu itu tidak boleh terjadi! Ramalan Fletcher tentang pertempuran meleleh dalam kekalutan Kawanan. Ya, tentu saja, oke, mereka memang buangan, kata beberapa ekor camar yang lebih mudah,tetapi, hai, Kawan, di mana mereka belajar terbang seperti itu? Diperlukan waktu hampir satu jam untuk memungkinkan Sabda Tetua beredar ke seluruh Kawanan: Jangan pedulikan mereka. Burung camar yang bicara kepada buangan dia sendiri adalah Buangan. Burung camar yang melihat kepada Buangan melanggar Hukum Kawanan. Punggung-punggung berbulu kelabu dibalikkan menghadap kepada Jonathan sejak saat itu dan seterusnya, tetapi dia tampaknya tidak memperhatikan. Dia melangsungkan acara pemberian latihannya langsung di atas Pantai Dewan dan untuk pertama kalinya mulai memaksa murid-muridnya mencapai batas kemampuan mereka. Martin Camar! dia berseru melintasi langit. Kau mengatakah kau tahu terbang dengan kecepatan rendah. Kau tidak tahu apa-apa sebelum kau membuktikannya. TERBANG! Begitu lama Martin William Camar terdiam, terkejut menerima berondongan dampratan instrukturnya, mengejutkan dirinya dan menjadi jagoan terbang dengan kecepatan rendah. Dalam angin yang pelahan sekali dia bias melengkungkan bulu-bulunya untuk mengangkat dirinya tanpa satu kepakan sayap pun dari tanah naik kea wan dan turun kembali. Dengan gerakan yang sama Charles-Ronald Camar terbang dalam Angin Gunung Besar ke ketinggian empat ribu kaki, turun dengan tubuh berwarna biru dari udara dingin yang tipis, takjub dan bahagia, bertekad akan lebih tinggi lagi besok pagi. Fletcher Camar, yang menyukai aerobatic jauh melebihi siapa pun juga lainnya, menaklukkan kesulitan gulingan pelahan vertical enam belas poin dan

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

16

pada hari berikutnya mengakhirinya dengan jungkir balik tiga kali, bulu-bulunya memantulkan sinar matahari yang putih ke pantai tempat lebih dari satu mata melihat dengan mencuri-curi. Setiap jam Jonathan berada di sana di sisi setiap muridnya, melakukan peragaan, memberikan saran menekan, membimbing. Dia terbang bersama mereka menembus kegelapan malam serta kabut dan badai, hanya untuk bersenang-senang, sementara Kawanan berkumpul berdekatan dalam keadaan menyedihkan di tanah. Setelah penerbangan dilakukan, para muridnya beristirahat di pasir, dan pada waktunya mereka mendengarkan kata-kata Jonathan lebih cermat. Dia mempunyai beberapa gagasan gila yang tidak bisa mereka pahami, tetapi kemudian dia punya beberapa gagasan yang bagus dan mereka bisa mengerti. Secara berangsur-angsur, di malam hari, lingkaran lainnya terbentuk mengelilingi lingkaran para murid-lingkaran burung burung camar yang ingin tahu dan mendengarkan dalam gelap sampai berjam-jam, tidak ingin dilihat dan saling melihat lainnya, menyelinap pergi sebelum fajar merekah. Sebulan setelah kedatangan kembali burung camar pertama dalam Kawanan melintasi garis dan minta belajar bagaimana caranya terbang. Karena permintaannya, Terrence Lowell Camar menjadi burung yang dikutuk, diberi cap Buangan; dan diapun menjadi murid kedelapan Jonathan. Pada malam berikutnya dari Kawanan datang Kirk Maynard Camar, berjalan terseok-seok melintasi pasir, menyeret sayap kirinya, dan tak berdaya di dekat kaki Jonathan. Tolonglah aku, katanya pelahan sekali, berbicara seperti burung yang hampir sampai ajalnya. Aku ingin terbang melebihi apapun lainnya di dunia Kalau begitu ikutlah dengan kami, kata Jonathan. Naiklah bersamaku meninggalkan tanah, dan kita akan mulai. Kau tidak mengerti. Sayapku. Aku tidak bisa menggerakkan sayapku. Maynard Camar, kau punya kebebasan untuk menjadi dirimu, dirimu yang sesungguhnya, di sini dan sekarang juga, dan tidak ada apa pun yang bisa menghalangi jalanmu. Itu adalah Hukum Camar Agung, Hukum yang Ada. Apakah kau mengatakan aku bisa terbang? Aku mengatkan kau bebas. Hanya semudah dan secepat itu, Kirk Maynard Camar merentangkan sayapnya, tanpa susah payah, dan naik ke udara malam gelap. Kawanan terkejut bangun dari tidur oleh pe-kikannya, sekeras dia bisa menjeritkannya, dari ketinggian lima ratus kaki: Aku bisa terbang! Dengar! AKU BISA TERBANG! Pada saat matahari terbit hampir terdapat seribu ekor burung berdiri di luar lingkaran para murid, melihat dengan penuh perhatian kepada Maynard. Mereka tidak peduli apakah mereka dilihat atau tidak, dan mereka mendengarkan, berusaha memahami ajaran Jonathan Camar. Dia bicara tentang setiap hal yang sederhana-bahwa merupakan hal yang benar bagi seekor burung camar untuk terbang , bahwa kebebasan adalah hakikat dari keberadaan itu sendiri, bahwa apapun yang menghalangi kebebasan harus disingkirkan, apakah itu ritual atau tahayul atau ketebatasan dalam bentuk apapu juga. Disingkirkan, datang suara dari kelompok, bahkan seandainya itu Hukum Kawanan? Satu-satunya hukum yang sejati adalah yang membimbing ke kebebasan , kata Jonathan . Tidak hukum yang ada lainnya.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

17

Bagaimana kau mengharapkan kami bisa terbang seperti caramu terbang? dating perkataan lainnya. Kau istimewa, berbakat dan memiliki keagungandi atas burung-burung lainnya. Lihatlah Fletcher! Lowell! Charles-Roland! Judy Lee! Apakah mereka juga berbakat dan memiliki keagungan? Tidak lebih dari kalian, tidak lebih dari aku. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka mukai memahami apa sesungguhnya diri mereka dan mulai mengamalkannya. Murid-muridnya, kecuali Fletcher, menggeserkan tubuhnya dengan gelisah. Mereka tidak menyadari bahwa inilah yang mereka lakukan. Kelompok burung bertambah besar setiap hari, datang untuk mengagungkan, dan juga untuk mencemooh. Mereka mengatakan dalam Kawanan bahwa kalau kau bukan Putra Camar Agung Sendiri, Fletcher mengatakan kepada Jonathan pada suatu pagi setelah latihan kecepatan lanjutan, maka kau seribu tahun mendahului zamanmu. Jonathan menghela napas. Harga yang harus dibayar untuk kesalahpahaman, pikirnya. Mereka menyebutmu Tuhan. Bagaimana pendapatmu, Fletch? Apakah kita mendahului Zaman kita? Lama sekali mereka terdiam. Yah, jenis penerbangan ini selamanya sudah ada disini untuk dipelajari oleh siapa pun juga yang ingin menemukannya; itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan zaman. Kita mendahului dalam gaya, barangkali. Mendahalui dalam cara sebagian besar camar terbang. Itu hal yang bagus sekali, kata jonathan, berguling untuk meluncur terbalik beberapa waktu lamanya. Itu tidak ada setengahnya keburukan yang mendahului zaman kita. Itu terjadi hanya seminggu kemudian. Fletcher sedang memperagakan unsur-unsur terbang dengan kecepatan tinggi kepada satu kelas murid baru. Dia baru saja menahan diri dari penerjnan setinggi tujuh ribu kaki, dan sebagai gantinya merupakan satu luncuran panjang kelabu bagaikan peluru yang ditembakkan beberapa inci di atas panta, ketika seekor camar muda pada penerbangannya yang pertamamelayang langsung menghalangi langsung menghalangi jalurnya, memanggil-memanggil ibunya. Dalam waktu sepersepuluh detik untuk menghindari si camar muda, Fletcher Lynd Camar menyentakkan dirinya dirinya dengan keras ke kiri, dengan kecepatan lebih dari dua ratus mil per jam, menabrak tebing batu granit keras. Bagi Fletcher, seakan-akan batu karang itu sebuah pintu raksasa yang keras ke dunia lain. Satu ledakan ketakutan dan guncangan serta kegelapan terasa ketika dia terapung-apung di langit yang asing, melupakan, teringat, melupakan; takut, sedih dan menyesal, sangat menyesal. Sebuah suara datang kepadanya seperti pada hari pertama ketika dia bertemu dengan Jonathan Livingston Camar. Rahasianya, Fletcher, adalah bahwa kita berusaha mengatasi keterbatasan kita sendiri secara berurutan, dengan sabar. Kita baru akan mempelajari terbang menembus batu karang nanti tidak lama lagi dalam program kita. Jonathan! Juga dikenal sebagai Putra Camar agung, kata instrukrut dengan tandas. Apa yang kau lakukan disini? Tebing! Apakah aku belumapakah aku tidakmati? Ah, Fletch, sudahlah. Berpikirlah. Kalau kau bicara padaku sekarang, maka jelas saja kau tidak mati, bukan? Yang tadi kulakukan hanyalah mengubah

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

18

tingkat kesadanmu secara agak mendadak. Sekarang kau boleh memilih. Kau bias tetap tinggal di sini dan belajar pada tingkat ini yang sedikit lebih tinggi daripada tingkat yang baru saja kautinggalkan, bagaimanapun juga atau kau bisa kembali dan terus bekarja bersama Kawanan. Para Tetua mengharapkan terjadinya suatu jenis bencana, tetapi mereka terkejut karena kau mematuhi mereka dengan begitu baik. Aku ingin kembali kepada Kawanan, tentu saja. Aku hamper-hampir belum memulai dengan kelompok yang baru! Bagus sekali, Fletcher. Ingat apa yang kita katakana tentang tubuh kita tidaklah lebih dari pemikiran kita sendiri.? Fletcher menggeleng-gelengkan kepala dan merentangkan sayapnya serta membuka mata dibawah tebing, di tengah-tengah kumpulan seluruh Kawanan. Terjadi keributan besar dalam bentuk jeritan dan pekikan dari kumpulan burungburung ketika dia mulai bergerak. Dia hidup! Dia yang sudah mati hidup! Menyentuhnya dengan ujung sayap! Membuatnya hidup kembali! Putra Camar Agung. Tidak! Dia menyangkalnya! IBLIS! Datang untuk menghancurkan kawana! Terdapat empat ribu burung camar dalam kumpulan, ketakutan menyaksikan apa yang terjadi, dan seruan IBLIS! Sampai kepada mereka seperti angin badai samudra. Dengan mata bersinar-sinar, paruh yang tajam, mereka datang untuk menghancurkan. Apakah kau akan merasa lebih senang kalau kita pergi, Fletcher? Tanya Jonathan. Tentu saja aku tidak akan terlalu keberatan kalau kita melakukannya Seketika mereka berdiri bersama-sama sejauh setengah mil dari sana, dan paruh burung yang berkila-kilat mendekati udara kosong. Mengapa, kata Jonathan keheranan, hal yang paling sulit dilakukan di dunia adalah meyakinkan seekor burung bahwa dia bebas, dan bahwa dia bisa membuktikannya sendiri kalau dia baru saja melewatkan sedikit waktu untuk berlatih? Mengapa itu bisa begitu sulit? Fletcher masih mengejap-ngejapkan mata dari perubahan pemandangan. Apa yang baru kaulakukan? Bagaimana kita bisa sampai ke sini? Kau baru mengatakan kau ingin meninggalkan kelompok, bukan? Ya! Tetapi bagaimana kau bisa Seperti segala hal lainnya, Fletcher. Latihan. Keesokan paginya Kawanan telah melupakan kegilaannya, tetapi Fletcher tidak. Jonathan, ingat apa yang kaukatakan lama berselang, tentang cukup mencintai Kawanan sehingga mau kembali kepada mereka dan membantu mereka belajar? Tentu. Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa mencintai kumpulan burung yang baru saja berusaha membunuhmu. Oh, Fletch, kau tidak mencintai seperti itu! Kau tidak menyukai kebencian dan kejahatan, tentu saja. Kau harus berlatih dan melihat burung camar yang sesungguhnya, kebaikan dalam diri mereka masing-masing, dan membantu mereka melihatnya di dalam diri mereka sendiri. Itulah yang kumaksudkan

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

19

dengan cinta. Itu menyenangkan, setelah kau memiliki kemampuan tentang hal itu. Aku masih ingat kepada seekor burung muda yang keras prinsipnya, misalnya Fletcher Lynd Camar namanya. Dia baru saja dijadikan Buangan, siap untuk berkelahi melawan Kawanan sampai mati, mulai membangun nerakanya sendiri yang penuh kepahitan di Tebing Jauh. Dan di sinilah sebaliknya dia hari ini membangun sorganya sendiri, dan memimpin seluruh Kawanan menuju arah tersebut. Fletcher menoleh kepada instrukturnya, dan sesaat ada rasa takut dalam matanya. Aku memimpin? Apa maksudmu aku memimpin? Kau instruktur di sini. Kau tidak bisa pergi! Apakah aku tidak bisa? Jangan sekali-kali kau berpikir bahwa mungkin ada kawanan lainnya, Fletcher-Fletcher lainnya, yang memerlukan instruktur melebihi yang ini, yang sedang dalam perjalanan menuju sumber cahaya? Aku Jon, aku hanya burung camar biasa, dan kau hanya Putra Camar Agung, aku rasa? Jonathan menghela napas dan melayangkan pandangan ke laut. Kau tidak lagi memerlukan diriku. Kau perlu terus menemukan dirimu, sedikit lebih banyak tiap hari, Fletcher Camar memahaminya dan melatihnya. Sesaat kemudian tubuh Jonathan bergetar di udara, berpendar-pendar, dan mulai tembus pandang. Jangan biarkan mereka menyebarkan desas-desus konyol tentang diriku, atau menjadikan diriku tuhan. Oke Fletch? Aku hanya seekor burung camar. Aku suka terbang, mungkin JONATHAN! Kasihan Fletch. Jangan percaya dengan apa yang dikatakan matamu. Yang kau lihat adalah keterbatasanmu. Lihatlah dengan pengertianmu, temukan apa yang sudah kauketahui, dan kau akan melihat caraku terbang. Getaran yang berpendar-pendar berhenti. Jonathan Camar sudah lenyap tanpa bekas. Setelah beberapa waktu lamanya, Fletcher Camar menyeret dirinya ke langit dan menghadapi satu kelompok murid yang baru, yang bergairah ingin mendapatkan pelajaran pertama. Sebagai permulaan, katanya dengan berat kalian harus memahami bahwa seekor burung camar adalah satu gagasan kebebasan, citra dari Camar Agung, dan seluruh tubuh kalian, dari ujung sayap yang satu ke ujung sayap yang lainnya, tidak lebih dari pemikiran kalian sendiri. Camar-camar muda ini melihat kepadanya kebingungan. Hai, Kawan, mereka mulai berpikir, ini tidak kedengaran seperti cara-cara membuat gerakan jerat simpul. Fletcher menghela napas dan memulai lagi. Hhm. Ah baiklah, katanya, dan memandangi mereka dengan sikap mencela. Mari kita mulai dengan Penerbangan Datar. Dan setelah mengatakan itu, dia memahami seketika bahwa sahabatnya dengan sejujurnya tidak lebih agung daripada Fletcher sendiri. Tidak ada batasnya, Jonathan? Pikirnya. Baiklah, kalau begitu, waktunya tidak akan lama lagi ketika aku akan muncul dari ketiadaan di pantai-mu, dan memperlihatkan satu atau dua hal tentang terbang! Dan walaupun dia berusaha agar kelihatan benar-benar bengis kepada murid-muridnya, Fletcher Camar tiba-tiba melihat mereka sebagai diri mereka yang sesungguhnya, hanya sesaat, dan dia lebih dari menyukai, dia mencintai apa

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

20

yang dilihatnya. Tidak ada batasnya, Jonathan? Pikirnya, dan dia tersenyum. Pacuan untuk belajar telah dimulai.

Didik Fotunadi - Theater material, 2006

21