authority and power

Click here to load reader

Post on 18-Dec-2015

239 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

AUTHORITY AND POWER (minggu ke 7)

Misalkan anda bekerja paruh waktu sambil kuliah sebagai asisten agen belanja di supermarket, Anda mengeluarkan perintah belanja, menindak lanjuti para pemasok, dan mengerjakan berbagai macam tugas yang dibebankan oleh bos anda. Pada suatu hari, bos anda memberi instruksi seperti berikut ini. ini ada setengah lusin order yang belum dipenuhi, pergilah ke gudang dan periksa ulang seua kertas-kertas untuk melihat apakah sisa-sisa order sudah diterima. Jika belum telepon para pedagang dan cari tahu kapan kita bisa menerima kiriman-kiriman tersebut. Apakah anda akan aptuh dengna perintah atasan itu ? dan bagaimana reaksi anda ketika bos anda berkata seperti ini: Datanglah kerumah saya hari Minggu, itu karpet-karpet perlu divakum cleaner, dan lantai perlu dipel. Kemudian cuci jendela bagian luar dan rumput-rumput perlu dipotong, Apakah anda akan mengerjakan permintaannya yang kedua ini ? sayang mengharapkan anda hanya mengerjakan permintaan yang pertama saja karena permintaan tersebut dalam garis kewenangan bos anda. Sementara yang ke dua, tidak perlu dikerjakan. Kenapa ? Karena menyuruh pegawai mengerjakan pekerjaan rmah tangga jelas mensahkan / menghalalkan praktek superior.Ilustrasi diatas memberikan dua titik pandang yang pertama adalah menggambarkan posisi manajemen dengan kewenangannya, sedikit sekali dalam sebuah organisasi seorang bawahan yang tidak sudi mematuhi perinah atasasnnya. Sedangkan yang kedua adalah kewenangan tidak ada batasnya. Terbatasnya jumlah seorang pegawai menerima pemintaan bosnya.Kita sudah menggunakan istilah kewenangan dalam bab sebelumnya. Bab brikutnya akan dijelaskan pengertian kewenangan lebih dalam lagi. Kita akan membuat batasan pengertian kewenangan, meneliti sumber-sumbernya, mengkaji bermacam-macam jenis kewenangan, hubungan antara kewenangan dengan penyerahan kekuasaan dan menarik kesimpulan perbedaan antara kewenangan dengan konsep kekuatan.Apa itu kewenangan ?Kewenangan adalah hak yang dimiliki dalam menduduki posisi managerial untuk memberi perintah dan mengharapkan perintah itu dipatuhi. Oleh karena itu kewenangan ada hubungan dengan posisi seseorang dalam sebuah perusahaan dan mengenyampingkan kepribadian individu dari manager. Hal ini tidak ada hubungannya dengan individu. Ungkapan Raja mati, Hidup raja ! menggambarkan posisi ini. Siapapun yang menjadi raja memilii hak dalam posisi raja. Ketika posisi hak di lepas, orang yang meninggalkan posisi tersebut tidak lagi memiliki kewenangan. Kewenangan tertap bersama posisi dan pemangku berikutnyKetika kewenangan itu terlatih, kita harus rela / ikhlas dengan kata lain bawahan patuh tanpa ada pertanyaan. Mereka harus menangguhkan penilaian tentang kepantasan suatu perintah. Merka bahkan patuh sekalipun tidak sesuai dengan keinginan mereka. Akan tetapi dari manakah manager itu memperoleh kewenagannya? Atau sebagai seorang bawahan bolehkan dia bertanya apa hakmu menyuruh-nyuruhku untuk melakukan sesuatu?Sumber kewenanganAnda memasuki kelas pada awal semester. Anda mengambil tempat duduk, kemudian datang seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai dosen lalu ia membagi-bagikan silabus perkuliahan dan menggambarkan apa-apa yang dia harapkan dari anda selama perkuliahan. Anda menerima kewenangan tersebut, tai apa sumber-sumber kewenangan itu ?Menurut pemandangan tradisional tentang kewenangan adalah hak kekuasaan yang harus dipatuhi oleh bawahan mulai dari atas sampai ke bawah dalam suatu organisasi. Yang paling atas, dalam hal ini dosen bukanlah sebagai president dari sekolah tersebut. Sumbernya adalah masyarakt yang mengizinkan terbentuknya institusi sosial. Para pegawai Angkatan Darat Amerika mengamati kewenangan mereka dari konstitusi Amerika yang memberikan pertahanan nasional. Presiden Coca Cola membutuhkan haknya dari bagian Delawaic, dimana coca cola didirikan dan yang mengiinkan perusahaan berjalan dan pada ujungnya dari Konstitusi AS, yang menciptakan konsep kepemilikan pribadi.Posisi sebaliknya dari kewenangan itu adalah datang dari bawah, kewenangan pimpinan perguruan tinggi misalnya berasal dari kesediaan dari mahasiswa untuk menerimanya. Asal mulanya pengertian ini diusulkan oleh Chester Barnard, yang mana disebut dengan istilah penerimaan dukungan pandangan kewenangan.Disamping mengikuti dukungan pandangan, tidak ada apa-apanya dengan kewenangan seseorang, melainkan hanya kepada siapa kewenangan itu ditujukan. Haruskah seorang pegawai membantah arahan daria tasannya ? ketidakpatuhan ini adalah semacam penolakan kewenangan atasan terhadap dirinya.Apabila dosen memberikan tugas agar menulis paper sebanyak 6 halaman pada akhir semester dan mahasiswanya menolak untuk melakukan itu berarti mahasiswa tersebut menolak kewenangan dosen tersebut.Maka bila kewenangan tersebut ditolak bawahan, menurut Barnard kewenangan tersebut tidaka da lagi. Tentu saja mahasiswa yang menolak melaksanakn perintah dosen bisa saja digagalkan pada mata kuliah di semester tersebut. Akan tetapi intinya adalah atasan bisa menghukum bawahan yang tidak patuh, akan tetapi printah atasan sudah tidak dipatuhi lagi.Barnard mengembangkan pandangan ini dengan menggambarkan ada 4 hal yang dibutuhkan sebelum kewenangan diterima, yaitu :1. Atasan harus bisa memahami cara erkomunikasi.2. Bawahan harus yakin bahwa perintah atasan tidak bertentangan dengan tujuan institusi3. Perintah itu sesuai dengan minat bawahan secara keseluruhan maka dari itu perintah yang tidak sopan dan tidak etis menurut bawahan akan ditolak.4. Bawahan haruslah siap mematuhi perintah secara fisik maupun mental. Tuntutan yang sedikit kemungkinannya, akan tetapi tidak mungkin karena sudah diluar kempuan dan kepatuhan bawahan. Selama perang di Asia Tenggara tahun 1960-an, diceritakan bahwa Charlie sebuah Angkatan Dasat USA memiliki tingkat kematian yang rendah. Setelah beberapa bulan seorang komanda baru diempatkan di unit tersebut. Para anggota perusahaan Charlie ini yakin bahwa aasan utama tingkat kematian yang rendah karena ketegasan komandan sebelumnya, bahwa semua perjalanan dilakukan diatas jalan yan sudah dirancang, standar jalan yang sebetulnya itu adalah jalan yang ditandai. Komandan baru in merasa yakin bhwa, semakin tradisional pendekatan yang digunakan untuk menggerakkan anak buahnya, akan semakin disukai, maka ia memerintahkan agar anak buahnya mengikuti jalur yang telah dipersiapkan. Namun dia kaget anakbuahnya tidak mematuhi perintahkanya dan menolak, apabila tidak mengikuti jalur yang biasa dilakukan mereka. Bahkan setelah diadakan diskusi, para pegawai tidak dapat diperoleh kesepakatan. Masalah ini masih tetap tidka terpecahkan sekalipun pimpinan ayng lebih tinggi di ajak untuk membuat rekosiliasi konflik tersebut.Intinya yang perlu dicatata adalh dalam insident ini adalah walaupun pegawai komandan memiliki wewenang untuk memerintahkan bawahannya, bawahan punya hak untuk menentang perintah tersebut. Jadi generalisasi dari contoh adalah pimpinan tidak akan memiliki kewenangan kalau bawahan tidak menerima kewenangan tersebut. Dengan kata lain bawahan memiliki hak ultimatum untuk meniadakan apa yang biasa dikita pikirkan sebagai legitimasi ewenangan sebuah posisi dalam organisasi.Bernard lebih jauh mengetengahkan konsep-konsep yang disebut dengan zona ketidaktertarikan, yang merupakan tabahan dari empat syarat kewenangan yang sudah dibalas sebelumnya, menjelaskan penerimaan kewenangan tanpa pertanyaan. Dalam zona ini bawahan tidak peduli dengan suruhan spesifik apa yang diperintahkan kepada mereka. Diluar zona permintaan karena satu atau lain alasan kadang bawahan tidak menerima apabila zona sang manager besar atau kecilnya tergantung pada bagaimana bawahan memandang didorong oleh rasa keunungan secara material atau sekedar pengorbanan. Seorang polisi mungkin tidak tertarik apakah dia ditugasi patroli lalu lintas atau razia detail, akan tetapi dia menolak menerima tugas patroli jalan tanpa partner di kota yang rawan tingkat kejahatan tinggi.Pernyataan ideal bagi seorang manager adalah menyuruh bawahannya menjaga padangan yang luas terhadap zona ketiaktertarikan mereka kepada arahannya ketika bagian ini ada, sejalan dengan empat syarat barnard seorang manager mendapati permintaannya dituruti. Secara umum kita temukan bahwa orang yang bergerak diatas, khususnya bawahan tingkat menengah dan manager tingkat atas cenderung menafsirkanzona mereka lebih luas. Pada sisi ekstrinya tukang las yang menolak perintah induk semangnya untuk memindahkan gulungan akwat, karena ia memandang pekerjaan itua dalah tugas pegawai bagian listrik dan tia telah membuat batasan zona yang sempit.Jenis-jenis Kewenangan1. kewenangan lurus2. kewenangan staf3. kewenangan fungsi

Penulis terdahulu dalam bidang managemen membuat perbedaan dua bentuk kewenangan: kewenangan lurus dan kewenangan staf. dalam sesi ini kita akan menetapkan masing-masing pengertian, memperkenalkan jenis ketiga yang dieknal dengan kewenangan fungsi, dan menganggap bagaimana hubungan perbedaan jalur staf dengan manager sementara.1. Kewenangan lurusKewenangan garis/lurus adalah kewenangan dimana seorang manager mengarahkan kerja bawahan. Ini adalah hubungan kewenangan atasan ke bawahan yang memperpanjang ulai dari puncak atas organisasi sampai ke eselon yang paling bawah, berikutnya disebut dengan perintah berantai. Ini ditunjukkan melalui gambar 10-1. Sebagaimana hubungan ranai pimpinan, manager dengan kewenangan garisnya memiliki hak untuk memimpin kerja bawahan dan membuat keputusan tertentu tanpa perlu berkonsultasi dengna mereka. Tentu saja dalam rantai pimpinan, setiap manager juga merupakan subjek perintah dari atasannya pula.Kadang-kadang istilah garis digunakan untuk para manager ketimbang garis staf. Dalam konteks ini garis, garis tersebut menekankan pada para mnager tersebut fungsi organisasi berkontribusi langsung pada penguasaan tujuan organisasi. Dalam firma pabrik garis manager adalah tipical dalam fungsi produk dan fungsi penjualan, dimana eksekutif dan akunting dian

View more