a tribute to maestro

Download A Tribute to Maestro

Post on 16-Mar-2016

228 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Gus Ajis life would change suddenly in 1939 when relatives in Tabanan, a royal capital in West Bali and his familys ancestral home, asked his parents to send him to live with them so that he could attend a newly established colonial school for Balinese children. Exchanging his sarong for shorts, shirt and a crew cut, he would rise every morning and walk about a kilometre to his school. Curious of the new environment, after seeing westerners for the first time, he learned that Tabanan was also the home of I Ketut Marya, the most famous Balinese dancer of the first half of the 20th century.

TRANSCRIPT

  • A TRIBUTE TO MAESTRO

    Balinese dance is my life , 75th Daimond Anniversary

    Date : 28 SEP - 7 OCT.2013Venue : Bentara Budaya Bali

    IDA BAGUS BLANGSINGA

  • 75LIFE OF

    BALINESE DANCE

    YEARS

    Contents

  • P2 . P4 . P12 . P21 - P48 .

    P56 .

    1

    Greetings from Bentara Budaya BaliThe Eternal Dance : Text by Bruce CarpenterHighlight of ExhibitionArtist Index

    Letter from Friend : Mr. Minoru Shirota

    IDA BAGUS OKA WIRJANA (BLANGSINGA)

    Sekaa Gong Tetamian PindaI Ketut Cater,SSn. / I Made Raditya I Wayan Kumpul / I wayan Yudiastra / I Wayan Karda / I Wayan Suwintara /I Made Kamar / I Wayan Kasman / I Nyoman Suweta / I Ketut Senter / I Nyoman Widana / I Nyoman Sukarnata / I Wayan Order / I KetutArta /I Wayan Rastawan / I Made Sumadiasa

    Sekaa Gong Tetamian PejengI Made Sukadana,SSp. / A.A. Semara / I Made Ariasa / Dewa Ngakan Putu Garjita / Dewa Ngakan Made Dedik / Dewa Ari Angga / I Wayan Mudita / Ngakan Balik / I Wayan Mawa / Wayan Tagel / A.A. Wahyu / Gusti Lanus / I Gusti Made Darmaputra / I Made Reindra

    PenariIda Ayu Tirtawati / Ida Ayu Ratnawati / Ida Bagus Witara / Ida Ayu Triana Titania Manuaba /I Wayan Purwanto / I Wayan Jayamerta / I Wayan Gede Aditya Pratita / I Wayan Karismayana / I Wayan Adi Gunawan / I Made Sukadana,SSp. / I Made Yoga Uthama / I Nyoman Ardiana / I Gede Wahyudi Suryawan / Ida Ayu Ketut Indah Cahyani / Ida Ayu Hita Dewi / A.A. Bagus Harjuntara Sutedja /Agus Adi Yustika / Cok Istri Nilam Kencana Ningrat / Gusti Ayu Indra Mahyurani / Gusti Ayu Sonia Wina Laksmi / Ni Putu Jati Ari Artini /Ni Kadek Sudarmanti / Ni Kadek Eva Meilani / Ni Nyoman Andra Kristina Susanti / Satomi Ono

    Jro Gadung Arwati / Jro Made Puspawati / Ida Ayu Made Barali Pundara Warsini, sst / Ni Komang Ratih Camaria Dewi / Ni Wayan Masri Yanti / Ni Luh Menek / Ni Ketut Arini,sst

    SenimanDoddy Obenk / Tjandra Hutama K / Yan Palapa / Indra Widi / D P Arsa Putra / Komang Parwata SSn. / Ismail ilmi / I Gusti Agung Wijaya Utama, S.Sn. / Dechi IDK. Rudita Widia Putra / Windujati / Rudi Waisnawa / I Putu Apriwidana /Adriaan Palar / Ida Bagus Gede Indra Sukma Advaita / Ida Bagus Ari Munartha / ida Bagus Alit / Carola Vooges / Irina / Miranda Risang Ayu Palar

  • A TRIBUTE TO OKA BLANGSINGA, ASTUNGKARA MAESTROWarih Wisatsana

    Bentara Budaya Bali

    28th, Sep 2013

    Suatu ketika, sekitar setahun yang lalu, di tengah pembukaan pameran Asian Watercolour Expression, kami bertemu dengan Bapak Adrian Palar dan Bli Wayan Purwanto, terbetik perbincangan perihal kehidupan para maestro tari yang rata-rata berusia lanjut. Terurailah gagasan untuk menghadirkan sebuah acara persembahan atau a tribute. Dengan gembira, kami, Bentara Budaya, membuka diri untuk bekerjasama. Sungguh sebuah kebahagiaan bagi kita dapat merayakan capaian luhur seorang kreator mumpuni, yang terbukti telah mendedikasikan hampir sebagian besar hidupnya untuk berkarya atau mencipta.

    Terlebih lagi, bukankah setiap penari Bali sewaktu tampil di depan khalayak, sesungguhnya tengah menjalani laku persembahan atau bakti. Tentu saja tidak semua pregina dapat mencapai tataran seluhur ini, yakni mengalami dan memahami tubuh sebagai keniscayaan penciptaan sekaligus luluh menjadi sebentuk lantunan puja doa bagi Sang Maha Indah. Dengan demikian, tarian-tarian klasik Bali, sebagai satu kesatuan yang menyempurnakan upacara, tak hanya menyuguhkan sesuatu yang rancak atau atraktif semata, melainkan juga adalah komposisi yang imajinatif dan sugestif, bahkan meditatif.

    Yang mencapai tingkatan ini kerap dinyatakan telah teberkati oleh Taksu, atau daya pukau linuwih yang lahir dari kedalaman kalbu. Prabawa ini menaungi Sang Maestro bukan hanya di atas panggung tapi hingga juga kehidupan kesehariannya. Ida Bagus Oka Wirjana (84 tahun), yang tersohor sebagai Oka Blangsinga adalah sedikit dari seniman tari Bali yang meraih keparipurnaan ini.

    Memaknai 75 tahun berkarya Ida Bagus Oka Blangsinga, Bentara Budaya Bali menyambut baik uluran kerjasama Yayasan Tetamian Griya Blangsinga. Ida Bagus Oka Wirjana, memang sungguh seorang maestro tari. Ia bukan hanya mumpuni atau piawai, terlebih membawakan Tari Kebyar Duduk, pelanjut paling unggul setelah I Mariya sang penciptanya, namun juga seorang kreator yang dedikasi berkeseniannya memberi inspirasi lintas generasi. Selain sebagai seorang penari dan koreografer, Oka Blangsinga juga terbilang cakap mengorganisir peristiwa-peristiwa seni berikut lawatan-lawatan tari yang lintas jaman.

    2

  • Kekuasaan boleh saja beralih, dari Belanda ke Jepang hingga ke Republik, dari satu presiden ke lain presiden, sejurus orde demi orde yang berganti, akan tetapi Oka Blangsinga tetap teguh kukuh dengan pilihannya sebagai seorang seniman. Riwayat hidup Oka Blangsinga adalah dari panggung ke panggung. Menari untuk upacara keagamaan di pura-pura atau upacara adat lainnya di Bali, hingga ke stage stage prestisius di mancanegara, termasuk rangkaian pertunjukan dari satu dari Istana Presiden ke Istana Presiden yang lain. Acara A Tribute to Maestro Blangsinga ini sejalan dengan program agenda Bentara Budaya. Setahun yang lalu, dalam rapat Dewan Kurator Bentara Budaya di Yogyakarta, selain ditetapkan tema Kebangsaan untuk tahun 2013, disertakan pula satu agenda acara yang wajib diadakan oleh empat venue (Bentara Budaya Jakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, Balai Soedjatmoko Solo dan Bentara Budaya Bali), yakni Alih Generasi.

    Program Alih Generasi dimaksudkan menggambarkan upaya pewarisan kecakapan berkesenian, berikut nilai-nilai filosofi luhurnya dari satu generasi ke generasi seterusnya. Acara ini diniatkan sebagai upaya untuk menghormati para kreator-kreator seni, terlebih seni-seni tradisi nusantara, yang tanpa pamrih dan penuh dengan kecintaan mengupayakan alih generasi agar memori kultural setempat tetap terjaga dan dikembangkan. Misalnya yang telah berlangsung di Bentara Budaya Jakarta yakni Wangsa Cirebon-Dermayu, Wayang Golek Pesisiran dari Tegal di Balai Soedjatmoko Solo dan Pembatik Giriloyo: Dari Masa Ke Masa di Bentara Budaya Yogyakarta.

    Pada agenda Alih Generasi ini, selain ditampilkan karya-karya Oka Blangsinga yang dibawakan oleh anak, cucu dan murid-muridnya, dihadirkan pula serangkaian diskusi yang mengelaborasi sosok Oka Blangsinga sebagai pencipta sekaligus sebagai penari. Tidak itu saja, akan ditampilkan juga karya-karya potret serta seri-seri fotografi seni yang sama-sama berangkat merespon kesejarahan Sang Maestro. Dipresentasikan pula patung-patung karya sejumlah seniman, ditambah workshop-workshop yang mencerminkan bagaimana Oka Blangsinga memberikan pelatihan di sanggarnya selama ini guna melakukan transfer of knowledge atau alih pengetahuan kepada murid-muridnya.

    Hal tersebut di atas menjadi penting mengingat pengalaman Oka Blangsinga sendiri sewaktu berproses menguasai Tari Kebyar Duduk. Ia berlatih menguasai tarian itu secara sendiri praktis tanpa guru, mereka-reka gerak dan komposisinya berdasarkan amatan dan ingatannya kepada sosok I Mariya -- yang sempat disaksikannya sewaktu masih duduk di sekolah dasar dan hendak melanjutkan ke tingkat Opschool (SMP), di Tabanan pada tahun 1939. Sepanjang masa itulah ia kerap menyaksikan bagaimana Sang Legendaris I Mariya berlatih dan menari Kebyar Duduk. Belum sempat belajar menari langsung pada yang bersangkutan, Jepang keburu datang dan menguasai kota Tabanan. Sekolah bubar dan ia pun terpaksa kembali ke desa kelahirannya di Banjar Blangsinga, Gianyar. Boleh jadi dengan cara berlatih seperti itulah, Ida Bagus Oka Wirjana berhasil menghayati tarian Kebyar Duduk dan mengekspresikannya selaras kekhasan dan kekuatan karakter dirinya.

    Terimakasih kepada Keluarga Besar Griya Blangsinga, Bapak Adriaan Palar, Bli Wayan Purwanto, Doddy Obenk, Yoko Yoshida, teman-teman Komunitas Lingkara dan para seniman seniwati pendukung acara A Tribute to Maestro Blangsinga : 75 Tahun Berkarya. Semoga kerjasama ini turut mendorong lahir generasi penerus yang kelak menjadi mestro-maestro tari berikutnya.

    Mari berbagi dan berapresiasi, demi kelanjutan keluhuran seni budaya Bali. Astungkara.3

  • The ETERNAL DANCE

    One of the greatest and most influential dancers of the post World War II generation, Ida Bagus Oka Wirjana of Blangsinga stands out as one of only a handful or living Balinese artists whose careers begin during the colonial era. He and a handful of other young dancers would

    define the art of Balinese dancing during the heady early days of the Indonesian Republic, a time of great hopes and suffering. Remarkably

    Gus Aji or Father Gus, as he is nicknamed, continues to perform and teach a new generation of dancers. At 84 years of age, he remains

    dynamic and vivacious. With a sharp memory and sharper wit he describes his drive as a wish to manifest the higher calling of honouring

    his ancestors to whom he ascribes his talent and success. .

    Gus Aji was born in the village of Blangsinga, Gianyar in 1929 and nurtured in the cultural heartland of South Bali. Two of Balis most

    remarkable temples were located only a stone throw away from his family compound the 10th century Pura Bukit Dharma Durga Kutri

    and Pura Kebo Gaduh Kebo Iwo, named after a heirloom dancing mask depicting Gadjah Mada, the 14th century Majapahit General who

    defeated the giant Kebo Iwo after whom the temple is named. Although Bali had been violently incorporated into the Dutch East Indies only

    one generation before, Gianyar and its royal family who had allied themselves with the Dutch had been little affected. The inhabitants of

    Blangsinga were blissfully unaware of the outside world.

    A member of the Brahmana priestly caste, the slim young boy demonstrated a precoc