2.1 konsep lanjut usia 2.1.1 pengertian lanjut usia

41
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai landasan teori yang mendasari penelitian ini, antara lain, konsep lanjut usia, konsep kecemasan, konsep religiusitas, kerangka teori, kerangka konsep, dan hipotesis penelitian. 2.1 Konsep Lanjut Usia 2.1.1 Pengertian lanjut usia Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimasa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap.(Azizah, 2011) Menurut organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) seseorang disebut lanjut usia (elderly) jika berumur 60-74 tahun. Berdasarkan pengertian lanjut usia secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun keatas (Effendi, 2013). Menurut WHO batasan lanjut usia meliputi usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia

Upload: others

Post on 24-Mar-2022

47 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai landasan teori yang mendasari penelitian

ini, antara lain, konsep lanjut usia, konsep kecemasan, konsep religiusitas, kerangka

teori, kerangka konsep, dan hipotesis penelitian.

2.1 Konsep Lanjut Usia

2.1.1 Pengertian lanjut usia

Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara

tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak anak, dewasa dan akhirnya

menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat

diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap

perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang di

tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses

menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimasa

ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara

bertahap.(Azizah, 2011)

Menurut organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization)

seseorang disebut lanjut usia (elderly) jika berumur 60-74 tahun. Berdasarkan

pengertian lanjut usia secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila

usianya 65 tahun keatas (Effendi, 2013). Menurut WHO batasan lanjut usia meliputi

usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia

(elderly), antara 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old), antara 75 sampai 90

tahun, usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun.

Lansia dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan

manusia. Berdasarkan Undang-Undang nomor 13 pasal 1 ayat (2), (3), (4) tahun

1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa lansia adalah seseorang yang telah

mencapai usia lebih dari 60 tahun. Menurut Undang-Undang nomor 23 pasal 19

tahun 1992, lansia atau lanjut usia merupakan seseorang yang karena pertambahan

usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Perubahan yang

terjadi pada lansia itu mengarah pada kemunduran, perubahan dari segi biologi

seperti menurunnya cairan tulang sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk

(kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram, tremor, tedon

mengerut, dan mengalami sklerosis, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia adalah suatu

proses bertambahnya usia dari masa muda ke masa yang lebih tua. Adapun lansia

yang akan di ambil peneliti sebagai sampel adalah lansia yang berusia 45 sampai

59 tahun.(siti nur kholifah, 2016)

2.1.2 KARAKTERISRTIK LANSIA

WHO (2020) menggolongkan lanjut usia berdasarkan usia kronologis/ biologis

menjadi 4 kelompok yaitu :

usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59

lanjut usia (elderly) berusia antara 60 dan 74 tahun

lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun

usia sangat tua (Very old) di atas 90 tahun.

Menurut Undang-Undang No. 4 Tahun 1965 Pasal 1 seseorang dapat

dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah bersangkutan mencapai

umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk

keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain

UndangUndang No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia bahwa

lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.

Penggolongan lansia menurut Depkes RI menjadi tiga kelompok yakni :

Kelompok lansia dini (55–64 tahun),kelompok yang baru memasuki lansia.

Kelompok lanjut usia (65 tahun ke atas).

Kelompok lanjut usia risiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70

tahun

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa batas usia lansia dimulai

dari masa dewasa dini dan menuju ke masa dewasa penuh lalu mencapai masa lanjut

usia yang berusia 65 tahun keatas.

2.1.3 PROSES MENJADI LANJUT USIA

Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti

seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan

masa tua (Nugroho, 2015). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun

psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun

psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih,

penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan

berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.

Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak

harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam

hal ini diartikan:

a. Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,

b. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari,

c. Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat

Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang

menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus-menerus. Apabila proses

penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai

masalah (Hurlock, E, 2011) menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia

yaitu:

a. Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain

b. Ketidakpastian ekonomi sehingga perubahan total dalam pola hidupnya

c. Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah

meninggal atau pindah

d. Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah

banyak.

e. Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan

dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik

yang mendasar adalah perubahan gerak.

Berkaitan dengan perubahan, kemudian mengatakan bahwa perubahan yang

dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan

tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang

ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari

pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag

diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah

peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Hurlock, E, 2011)

2.1.4 PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA

Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara

degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia,

tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga kognitif, perasaan, sosial dan seksual

(Azizah, 2011).

A. Perubahan Fisik

a) Sistem Indra, Sistem pendengaran; Prebiakusis (gangguan pada

pendengaran) oleh karena hilangnya kemampuan (daya)

pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau

nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-

kata, 50% terjadi pada usia di atas 60 tahun.

b) Sistem Intergumen: Pada lanjut usia kulit mengalami atropi, kendur,

tidak elastis kering dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan

sehingga menjadi tipis dan berbercak. Kekeringan kulit disebabkan

atropi glandula sebasea dan glandula sudoritera, timbul pigmen

berwarna coklat pada kulit dikenal dengan liver spot.

c) Sistem Muskuloskeletal, Perubahan sistem muskuloskeletal pada

lansia antara lain sebagai berikut: Jaringan penghubung (kolagen

dan elastin). Kolagen sebagai pendukung utama kulit, tendon,

tulang, kartilago dan jaringan pengikat mengalami perubahan

menjadi bentangan yang tidak teratur.

d) Kartilago: jaringan kartilago pada persendian lunak dan mengalami

granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata, kemudian

kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi

yang terjadi cenderung kearah progresif, konsekuensinya kartilago

pada persendiaan menjadi rentan terhadap gesekan.

e) Tulang : berkurangnya kepadatan tulang setelah di observasi adalah

bagian dari penuaan fisiologi akan mengakibatkan osteoporosis

lebih lanjut mengakibatkan nyeri, deformitas dan fraktur.

f) Otot: perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi,

penurunan jumlah dan ukuran serabut otot, peningkatan jaringan

penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek

negatif.

g) Sendi : pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon,

ligament dan fasia mengalami penuaan elastisitas.

h) Sistem kardiovaskuler : Massa jantung bertambah, vertikel kiri

mengalami hipertropi dan kemampuan peregangan jantung

berkurang karena perubahan pada jaringan ikat dan penumpukan

lipofusin dan klasifikasi Sa node dan jaringan konduksi berubah

menjadi jaringan ikat.

i) Sistem respirasi : pada penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru,

kapasitas total paru tetap, volume cadangan paru bertambah untuk

mengopensasi kenaikan ruang bagi paru, udara yang mengalir ke

paru berkurang. Perubahan otot kartilago dan sendi torak

mengakibatkan gerakan pernapasan terganggu dan kemampuan

peregangan toraks berkurang.

j) Pencernaan dan metabolisme : perubahan yang terjadi pada sistem

pencernaan, seperti penurunan produksi sebagai kemunduran fungsi

yang nyata :

Kehilangan gigi

Indra pengecap

Rasa lapar menurun (Sensifitas lapar menurun)

Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat

penyimpanan, berkurangnya aliran darah

k) Sistem perkemihan : pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang

signifikan. Banyak fungsi yang mengalami kemunduran contohnya

laju filtrasi, ekskresi, reabsorbsi oleh ginjal.

l) Sistem saraf : sistem susunan sistem saraf mengalami perubahan

anatomi dan atropi yang progresif pada serabut saraf lansia. Lansia

mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dan melakukan

aktifitas sehari-hari.

m) Sistem reproduksi : perubahan sistem reproduksi lansia ditandai

dengan menciutnya ovary dan uterus. Terjadi atropi payudara. Pada

laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun

adanya penurunan secara berangsur-angsur.

B. Perubahan Kognitif

Memory (Daya ingat, Ingatan)

IQ (Intellegent Quotient)

Kemampuan belajar (learning)

Kemampuan pemahaman (Comprehension)

Pemecah masalah (problem solving)

Pengambilan Keputusan (Decission Making)

Kebijaksanaan (Wisdom)

Kinerja (performance)

Motivasi

C. Perubahan Mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental

Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.

Kesehatan umum

Tingkat pendidikan

Keturunan (hereditas)

Lingkungan

Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutuhan dan

ketulian.

Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan

jabatan.

Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan

dengan teman dan keluarga

Hilangnya kekuatan dan ketanggapan dan ketegapan fisik,

perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri.

D. perubahan spiritual : Agama atau kepercayaan makin terintegrasi

dalam kehidupannya .Lansia makin matur dalam kehidupan

keagamaannya, hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam

sehari-hari.

E. Kesehatan Psikososial

1) Kesepian Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat

meninggal terutama jika lansia mengalami penurunan

kesehatan, seperti menderita penyakit fisik berat, gangguan

mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran.

2) Duka cita (Bereavement), Meninggalnya pasangan hidup,

teman dekat, atau bahkan hewan kesayangan dapat

meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada lansia.

Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan

kesehatan.

3) Depresi Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan

perasaan kosong, lalu diikuti dengan keinganan untuk

menangis yang berlanjut menjadi suatu episode depresi.

Depresi juga dapat disebabkan karena stress lingkungan dan

menurunnya kemampuan adaptasi.

4) Gangguan cemas, dibagi dalam beberapa golongan: fobia,

panik, gangguan cemas umum , gangguan stres setelah

trauma dan gangguan obsesif kompulsif, gangguan-

gangguan tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda

dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis,

depresi, efek samping obat, atau gejala penghentian

mendadak dari suatu obat.

5) Parafrenia

Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan

waham(curiga), lanjut usia sering merasa tetangganya

mencuri barang-barangnya atau berniat membunuhnya.

Biasanya terjadi pada lanjut usia yang terisolasi/diisolasi

atau menarik diri dari kegiatan sosial.

6) Sindroma diogenes, suatu kelainan dimana lansia

menunjukkan penampilan perilaku sangat mengganggu.

Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia bermain-

main dengan feses dan urin-nya, sering menumpuk barang

dengan tidak teratur. Walaupun telah di bersihkan, keadaan

tersebut dapat terulang kembali.

Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa perubahan yang

terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, kognitif, mental, spiritual dan

perubahan kesehatan.

2.1.5 TUGAS PERKEMBANGAN LANJUT USIA

Tugas perkembangan dimana lanjut usia

a) Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan

b) Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan

keluarga

c) Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup

d) Membentuk hubungan dengan orang-orang seusia

e) Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan

f) Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa tugas perkembangan

dimasa tua dimulai dari penyesuaian terhadap diri sendiri dengan menurunnya

semua fungsi-fungsi kekuatan fisik serta kesehatan kemudian membentuk suatu

keyakinan bahwasannya masa tua adalah masa terakhir dalam kehidupannya.

2.2 KONSEP SPIRITUALITAS

2.2.1 PENGERTIAN SPIRITUALITAS

Spiritualitas berasal dari mata spirit yang berasal dari bahasa latin yaitu

spiritus yang berarti nafas. Dalam istilah modern mengacu kepada energi batin yang

non jasmani meliputi emosi dan karakter. Dalam kamus psikologi, kata spirit berarti

suatu zat atau makhluk immaterial, biasanya bersifat ketuhanan menurut aslinya,

yang diberi sifat dari banyak ciri karakteristik manusia, kekuatan, tenaga, semangat,

moral atau motivasi ( J.P Caplin, 2010)

Istilah “spiritualitas” berasal dari kata spirituality, yang merupakan kata

benda, turunan dari kata sifa spiritual. Dalam bentuk kata sifat spiritual

mengandung arti “yang berhubungan dengan spirit”, “yang berhubungan dengan

fenomena dan makhluk supernatural”( Hendrawan, 2009: 18).(Nugroho, 2015).

Spiritual mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang merupakan sarana

pencerahan diri dalam menjalani kehidupan untuk mencapai tujuan dan makna

hidup( Hasan, 2008: 288) (Menjelaskan di Pargament (2013), spiritualitas diartikan

sebagai kesadaran atau keyakinan pada kekuatan yang lebih tinggi atau energi yang

menginspirasi seseorang untuk mencari makna dan tujuan di luar dirinya

kehidupan. Didefinisikan sebagai perubahan sebesar apapun dalam spiritual atau

orientasi atau pengalaman agama, ke segala arah (misalnya, pertumbuhan spiritual

dan perjuangan spiritual; Balk, 1999).

Spiritualitas menurut Nelson kerap kali dianggap sebagian besar masyarakat

sebagai istilah yang bersinggungan dengan agama dan pengalaman transendental.

Selama beberapa dekade, spiritualitas juga berada dalam konteks yang dianggap

sakral dan transenden. Nelson menggambarkan bahwa spiritual ini menjadi sesuatu

yang tidak dapat lepas dari agama dan Allah SWT, seperti halnya manusia

melakukan peribadatan maupun melakukan kegiatan yang berbau keagamaan (

Arina dan Yohaniz, 2014:3).

Menurut Adler, manusia adalah makhluk yang sadar, yang berarti bahwa ia

sadar terhadap semua alasan tingkah lakunya, dan menyadari sepenuhnya arti dari

segala perbuatan untuk kemudian dapat mengaktualisasikan dirinya. Spiritualitas

diarahkan kepada pengalaman subjektif dari apa yang relevan untuk manusia.

Spiritualitas tidak hanya memperhatikan apakah hidup itu berharga, namun juga

fokus pada mengapa hidup itu berharga. Spiritualitas kehidupan adalah inti

keberadaan dari kehidupan. Spiritualitas adalah mengenai kesadaran tentang

dirinya dan kesadaran individu tentang asal, tujuan, dan nasib.

Menurut Fontana dan Davic, mendefinisikan spiritual lebih sulit

dibandingkan mendefiniskan agama atau religion, dibanding dengan kata religion,

para psikolog membuat beberapa definisi spiritual, pada dasarnya spiritual

mempunyai beberapa arti, diluar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang

dengan spirit atau menunjukkan spirit tingkah laku. Kenyakan spirit selalu

dibandingkan dengan faktor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi

baik secara fisik dan psikologis ( Tamani, 2011: 19)

Spiritualitas adalah konsep yang luas dengan berbagai dimensi dan perspektif

yang ditandai adanya perasaan keterikatan (koneksitas) kepada sesuatu yang lebih

besar dari diri kita, yang disertai dengan usaha pencarian makna dalam hidup atau

dapat dijelaskan sebagai pengalaman yang bersifat universal dan menyentuh.

Beberapa individu menggambarkan spiritualitas dalam pengalaman-pengalaman

hidupnya seperti adanya perasaan terhubung/transendental yang suci dan

menentramkan. Spiritualitas yang berhubungan dengan Tuhan dikuatkan oleg

pendapat Mickle yang dikutip dari Achir Yani bahwa spiritualitas sebagai suatu

yang multidimensi, yaitu dimensi ekstensial dan dimensi agama. Dimensi

eksistensial berfokus pada tujuan dan arti kehidupan, sedangkan dimensi agama

lebih berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Penguasa ( Young

dan Koopsen, E-book, 2011)

Berdasarkan konsep spiritual yang dikenalkan oleh Piedmont secara garis

besar terdapat tiga indicator yang bisa diterapkan dalam mengukur spsiritualitas.

Tiga hal tersebut selain menajdi indikator juga merupakan aspek dan dimensi pokok

dalam spiritualitas. Tiga hal tersebut adalah pencapaian dalam ibadah yang menurut

Piedmont adalah suatu perasaan positif seperti kebahagiaan atau ketenangan, hal

yang kedua adalah universalitas yaitu sebuah kesadaran akan kesesuaian hubungan

antara manusia, makhluk lain, alam dan pencipta. Hal yang ketiga adalah

ketertarikan antara hubungan manusia dengan sesamanya, hubungan manusa

dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Menurut Piedmont spiritualitas merupakan dimensi yang berbeda dari

perbedaan individu. Sebagai dimensi yang berbeda, spiritualitas membuka pintu

untuk memperluas pemahaman kita tentang motivasi manusia dan tujuan kita

sebagai makhluk, mengejar dan berusaha untuk memuaskan diri ( Piedmont,

2001:9-10)Dari beberapa pendapat beberapa ahli diatas dapat digaris besari bahwa

definisi tentang spiritualitas dengan pendekatan yang berbeda-beda, berpendapat

bahwa spiritualitas adalah aspek kemanusiaan yang mengacu pada cara individu

mencari makna tersurat, tujuan dan cara mereka mengalami keterhubungan mereka

untuk saat ini, untuk diri, orang lain, dengan alam, dan dengan kebermaknaan atau

suci.

Jadi, dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa spiritualitas adalah

dimensi supranatural yang dapat mempengaruhi dan membentuk kualitas jiwa,

mensinergikan hubungan dengan Tuhan dan alam semesta demi keseimbangan dan

tujuan hidup yang baik.

2.2.2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SPRIRITUALITAS

Menurut ( Taylor et al., 1997) dalam ( Astaria, (2010)ada beberapa faktor

penting yang dapat mempengaruhi spiritual seseorang, yaitu:

1. Tahap perkembangan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat agama

yang berbeda ditemukan bahwa mereka memiliki konsep spiritualitas yang

berbeda menurut usia, jenis kelamin, agama dan kepribadian anak.

2. Keluarga

Peran orang tua sangat penting dalam perkembangan spiritualitas

seorang anak karena orang tua sebagai role model. Keluarga juga sebagai

orang terdekat di lingkungan dan pengalaman pertama anak dalam mengerti

dan menyimpulkan kehidupan di dunia, maka pada umumnya pengalaman

pertama anak selalu berhubungan dengan orang tua ataupun saudaranya.

3. Latar belakang etnik budaya

Sikap, keyakinan dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan

sosial budaya. Hal yang perlu diperhatikan adalah apapun tradisi agama atau

system keagamaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual

tiap individu berbeda dan mengandung hal unik.

4. Pengalaman hidup sebelumnya

Pengalaman hidup baik positif maupun negatif dapat mempengaruhi

spiritualitas seseorang. Selain itu juga dipengaruhi oleh bagaimana

seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman tersebut.

Peristiwa dalam kehidupan sering dianggap sebagai suatu ujian. Pada saat

ini, kebutuhan spiritual akan meningkat yang memerlukan kedalaman

spiritual dan kemampuan koping untuk memenuhinya.

5. Krisis dan perubahan

Krisis dan perubahan dapat memperkuat kedalaman spiritual seseorang.

Krisis sering dialami ketika individu dihadapkan dengan hal sulit. Apabila

klien mengalami krisis, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk

melakukan kegiatan spiritual menjadi lebih tinggi.

6. Terpisah dari ikatan spiritual

Individu yang biasa melakukan kegiatan spiritual ataupun tidak dapat

berkumpul dengan orang terdekat biasanya akan mengalami terjadinya

perubahan fungsi spiritual.

2.2.3 Faktor-faktor Spiritualitas

Menurut Glock & Stark dalam ( Suroso, 2011), ada lima macam

spiritualitasyaitu:

a. Keyakinan. Berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius

berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran

doktrindoktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat

kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan taat. Walaupun

demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya di

antara agama-agama.

b. Praktek Agama Mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang

dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang

dianutnya, terdiri dari ritual yang pada seperangkat berupa tindakan

keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang semua agama

mengharapkan para penganutnya melaksanakannya, contohnya shalat di

masjid, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang

mampu.

c. Pengalaman

Berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung

pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan

seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai

pengetahuan respodentif dan langsung mengenai kenyataan terakhir

(kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kotak dengan kekuatan

supranatural). Hal ini berkaitan dengan pengalaman kegamaan, perasaan-

perasaan, persepsi,persepsi, dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang.

d. Pengetahuan agama

Mengacu kepada harapan orang-orang yang beragama paling tidak memiliki

sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus,

kitab suci, dan tradisi-tradisi.

e. Pengalaman atau konsekuensi

Mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik

pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Dan konsekuensi

ini di tiap komitmen agama berlainan.

Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan macam-macam reigiusitas dapat

di lihat dari cara kita perlu suatu ketegasan secara nyata yang dapat di ambil dari

salah satu hukum agama yang tertulis yang terdapat di dalam kitab agama masing-

masing, untuk mengantisipasi hal-hal yang dapat menjerumuskan kehidupan

bermasyarakat.

2.2.4 ASPEK-ASPEK SPIRITUALITAS

Menurut Piedmont mengembangkan sebuah konsep spiritualitas yang

disebutnya Spiritual Transendence. Yaitu kemampuan seseorang untuk berada di

luar pemahaman dirinya akan waktu dan tempat, serta melihat kehidupan dari

perspektif yang lebih luas dan objektif. Perspektif transendensi tersebut merupakan

suatu perspektif dimana seseorang melihat satu kesatuan fundamental yang

mendasari beragam kesimpulan akan alam semesta. Konsep ini terdiri atas tiga

aspek, yaitu:

a. Prayer Fulfillment (pengalaman ibadah), yaitu suatu perasaan

gembira dan bahagia yang disebabkan oleh keterlibatan diri

dengan realitas transeden.

b. Universality (universalitas), yaitu sebuah keyakinan akan

kesatuan kehidupan alam semesta (nature of life) dengan

dirinya.

c. Connectedness (keterkaitan), yaitu sebuah keyakinan bahwa

seseorang merupakan bagian dari realitas manusia yang lebih

besar yang melampaui generasi dan kelompok tertentu (

Suroso, 2011).

Sedangkan Underwood mengungkapkan aspek-aspen spiritualitas

mencangkup dua dimensi yakni dimensi Tuhan dan makhluk alam semesta. Adapun

aspek spiritualitas dalam dua dimensi ini adalah sebagai berikut ( El Fath, 2015: 19)

a. Hubungan

Individu yang memiliki spiritualitas yang kuat ialah mereka yang

menjalin hubungan baik dengan Tuhan. Keyakinan dan kepercayaan yang

mendalam sengan Tuhan senantiasa dirasakan dalam setiap aspek

kehidupan. Tuhan telah menjadi pegangan hidup dimananapun dan dalam

keadaan apapun. Sehingga hal tersebut menciptakan persepsi bahwa

manusia tidaklah hidup sendiri tapi juga campur tangan Tuhan.

b. Aktivitas spiritual

Kesadaran terhadap keberadaan Tuhan akan termanifestasikan

dengan aktivitas-aktivitas spiritual seperti ritual pribadatan bagi individu

yang beragama. Hal sederhana yang dapat dilakukan dalam aktivitas

spiritual seperti memanjatkan doa, sembahyang, meditasi dan lain-lain.

Kontinuitas dalam aktivitas spiritual memberikan pengalaman dan

hubungan yang kuat terhadap Tuhan.

c. Rasa nyaman dan kekuatan

Rasa nyaman dan kekuatan yang ada pada diri individu akan

membentuk pribadi yang tangguh dn bertahan dalam kondisi apapun.

Dengan modal kekuatan individu lebih berani menghadapi tantangan hidup,

tidak mudah lemah dan putus asa.

d. Kedamaian

Kedamaian hidup merupakan hasil dari rasa tenang dalam hati

individu. Ketenangan hati dapat didapatkan ketika individu melakukan

kegiatan spiritual. Perasaan gelisah, cemas, stress, khawatir, kecewa adalah

sebab dari harapan-harapan duniawi yang tidak terkabulkan sehingga

kedamaian hidup tidak akan tercapai. Karena ketenangan hati hanya bisa

dirasakan dan dipasrahkan kepada harapan yang Maha Tinggi yaitu Tuhan

semesta Alam.

e. Merasakan pertolongan

Dalam kehidupan seseorang pasti akan mengalami masa-masa sulit

seberapapun kadarnya. Memohon pertolongan dan perlingdungan kepada

Tuhan Yang Maha Esa adalah bentuk dari seberapa kuat spiritualitas

seseorang. Aspek inilah yang menjadi salah satu upaya pembentukan

kesejahteraan psikologi seseorang. Sehingga ia akan selalu yakin bahwa

Tuhan selalu membimbing dalam menghadapi masalah kehidupan dan

terciptanya rasa aman dimanapun tempatnya.

f. Merasakan kasih saying

Tuhan Seseorang yang dekat dengan Tuhan ialah mereka yang bisa

merasakan Rahmat dan kassih saying Tuhan dalam kehidupan. Pengalaman

dan perjalanan hidup tidak lain adalah bentuk kasih saying Tuhan tidak

selalu dikemas dengan keindahan atau hal-hal yang baik. Namun kesadaran

dalam menerima segala bentuk pengalaman hidup baik perasaan sedih,

bahagia, sakit adalah wujud kassih saying Tuhan terhadap hambanya.

g. Kekaguman

Rasa kagum tercipta atas kesadaran manusia terhadap ciptaan Tuhan

di alam semesta ini dengan merasakan penyatuan diri terhadap setiap

pesona, peristiwa besar, kejadian luar biasa, pemandangan alam dan

keajaiban lainnya yang ada dialam ini. Sebagai mahkluk ciptaan Tuhan

tentu seseorang manusia harus percaya bahwa segala bentuk ciptaan Tuhan

adalah makhluk hidup yang harus kita nikmati dan syukuri.

h. Kepedulian terhadap sesama

Aspek terpenting dalam kehidupan spiritual adalah sikap altruis dan

sikap empati seseorang dalam bersosial. Wujud dari spiritualitas yang tinggi

yakni memiliki rasa tanggung jawab terhadap makhluk sosial. Kepedulian

terhadap orang lain harus ditingkatkan, membangun relasi yang baik, saling

tolong menolong, dan salin mendukung dalam bersosial yang sehat.

Sehingga seseorang tidak hanya membangun hubungan dengan Tuhan

tetapi juga dengan ciptaan Tuhan.

i. Dekat dengan Tuhan

Aspek ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki kedekatan

dengan Tuhan tidak sebatas merasa dekat. Namun, lebih pada penyatuan

dengan Tuhan artinya Tuhan tidak akan lepas dalam hati seseorang. Mereka

akan selalu membutuhkan dimanapun berada. Oleh karena itu seseorang

senantiasa melakukan kegiatan spiritual demi ketaatan kepadaNya.

Menurut Schreurs (2002) spiritualitas terdiri dari tiga aspek yaitu

aspek eksistensial, aspek kognitif, dan aspek relasional:

a. Aspek eksistensial, dimana seseorang belajar untuk “mematikan”

bagian dari dirinya yang bersifat egosentrik dan defensif. Aktivitas

yang dilakukan seseorang pada aspek ini dicirikan oleh proses

pencarian jati diri (true self).

b. Aspek kognitif, yaitu saat seseorang mencoba untuk menjadi lebih

reseptif terhadap realitas transenden. Biasanya dilakukan dengan

cara menelaah literature atau melakukan refleksi atau suatu bacaan

spiritual tertentu, melatih kemampuan untuk konsentrasi, juga

melepas pola pemikiran kategorikal yang telah terbentuk

sebelumnya agar dapat memperepsi secara lebih jernih pengalaman

yang terjadi serta melakukan refleksi atas pengalaman tersebut,

disebut aspek kognitif karena aktivitas yang dilakukan pada aspek

ini merupakan kegiatan pencarian pengetahuan spiritual.

c. Aspek relasional, merupakan tahap kesatuan dimana seseorang

merasa bersatu dengan Tuhan (dan atau bersatu dengan cintaNya).

Pada aspek ini seseorang membangun, mempertahankan, dan

memperdalam hubungan personalnya dengan Tuhan.

Schereus juga mendenefisikan spiritualitas sebagai hubungan

personal seseorang terhadap transenden. Spiritualitas mencakup:

a) Inner life individu merupakan suatau hakikat kehidupan

yang telah dirasakan dalam diri seseorang.

b) Idealisme merupakan aliran yang mengedepankan akal

pikiran manusia.

c) Sikap merupakan perasaan, pikiran, dan kecenderungan

seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai

aspek-aspek tertentu dalam lingkungan.

d) Pemikiran merupakan aksi yang menyebabkan pikiran

mendapat pengertian baru dengan perantara hal yang sudah

diketahui.

e) Perasaan merupakan suatu keadaan kerohanian atau

peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak

senanag dalam hubungan dengan peristiwa mengena dan

subjektif.

f) Pengharapan kepada yang mutlak merupakan mengharapkan

segala sesuatu hanya kepada Tuhan yang menguasai alam

semesta ( Zakki, 2013:23)

Dalam mencapai ketiga konsep spiritualitas Piedmont diperlukan

pendalaman terhadap empat hal yaitu yang pertama toleransi dalam sudut

pandang (Tolerance of Paradoxes). Toleransi dalam paradoks adalah sebuah

cara untuk melihat sesuatu dengan menggunakan sudut pandang keduanya

dalam artian tidak ada baik atau buruk melainkan keduannya ada secara

bersamaan. Fokus dalam toleransi dalam paradoks adalah menggunakan

kedua pilihan dari pada memilih salah satu sehingga menimbulkan konflik

karena tidak terciptanya sikap toleransi.

Kedua, adalah nonjudgmentality sebuah kemampuan untuk

menerima situasi kehidupan bermacam-macam sehingga mampu melihat

bahwa segala sesuatu memiliki masa dan ukurannya sendiri sebagai contoh

seseorang yang menerapkan nonjudgementality akan melihat kegagalan

sebagai suatu proses dalam perkembangan dan bukan sebuah takdir yang

tidak bisa diubah.

Ketiga, adalah eksistensialitas (exsitentiality) yaitu sebuah

pemaknaan akan keberadaan manusia didunia. Melalui pengalaman dalam

kehidupan manusia akan menggali makna terhadap eksistensinya di sunia

sehingga menumbuhkan hasrat untuk tumbuh dan berkembang. Hal yang

terakhir dalam mencapai dimensi spiritual adalah Gratefulness. Rasa

bersyukur merupakan kemampuan untuk tetap bisa mensyukuri dan

berterimakasih terhadap segala macam kondisi yang dialami.

2.3 KONSEP KECEMASAN

2.3.1 PENGERTIAN KECEMASAN

Kecemasan adalah emosi, perasaan yang timbul sebagai respon awal

terhadap stres psikis dan ancaman terhadap nilai-nilai yang berarti bagi individu.

Kecemasan sering di gambarkan sebagai perasaan yang tidak pasti, ragu-ragu, tidak

berdaya, gelisah, kekhawatiran, tidak tentram yang sering disertai keluhan fisik.

Cemas berbeda dengan takut. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap

stimulus dan objek jelas, sedangkan cemas merupakan respon emosional terhadap

penilaian. Menurut Sigmun Freud kecemasan merupakan ketegangan dalam diri

sendiri tanpa objek yang jelas, objek tidak disadari dan berkaitan dengan kehilangan

self image. Kecemasan timbul karena ancama terhadap self image/esteem oleh

orang terdekat. Pada dewasa oleh karena prestige dan martabat diri terhadap

ancaman dari orang lain. Menurut Cook and Fontaine kecemasan adalah perasaan

tidak nyaman yang terjadi sebagai respon pada takut terjadi perlukaan tubuh atas

kehilangan sesuatu bernilai.

Kecemasan merupakan kekuatan yang mempengaruhi hubungan

interpersonal, suatu respon terhadap bahaya yang tidak di ketahui yang muncul bila

ada hambatan dalam upaya memenuhi kenutuhan. Kecemasan dapat sebagai alarm

tubuh untuk melindungi diri, dikomunikasikan secara interpersonaldan merupakan

tanda ancaman yang dapat berhubungan dengan isolasi, kehilangan, gangguan

identitas, hukuman dan hubungan interpersonal. Kecemasan dibedakan menjadi

tiga yaitu kecemasan relistik, kecemasan neurotik dan kecemasan moral.

Kecemasan realistik terjadi apabila individu merasa adanya bahaya yang

mengancam dari luar, misalnya seorang anak yang takut akan kegelapan atau

seseorang yang takut akan serangga. Kecemasan neurotik yaitu kecemasan yang

menampakkan wujudnya sebagai penyakit objeknya tidak jelas dan berupa benda-

benda atau hal-hal tertentu yang sebenarnya tidak perlu di takuti misalnya seseorang

yang beranggapan akan ada sesuatu yang hebat atau yang menakutkan akan terjadi

dan ketakutan yang irrasional(phobia).kecemasan moral muncul apabila individu

melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hal nuraniya, misalnya seseorang

yang merasa kecantikannya ditandingi oleh orang lain sehingga timbul sikap dengki

dan kebencian.( Henderson,2011) menyatakan bahwa kecemasan terjadi ketika

seseorang memikirkan kematian.

Menurut belsky ( Henderson,2011)kecemasan menghadapi kematian

didefinisikan sebagai pikiran, ketakutan, dan emosi tentang kejadian akhir dari

hidup yang di alami individu. Lebih lanjut dijelaskan oleh ( Zubair2015,wijayanti

dkk,2018) bahwa kecemasan menghadapi kematian melekat pada orang yang

mengetahui apa hakikat mati atau orang yang menyangka bahwa setelah

jasmaninya rusak maka dirinya juga akan hilang atau orang yang mengira bahwa

alam ini akan terus lestari sedangkan dirinya musnah. Kecemasan menghadapi

kematian merupakan halyang wajar dimana yang hidup akan mati.

Perkembangan pada usia lanjut berada dalam fase masa dewasa akhir

berusia antara 60 tahun keatas, yang mengalami diferensiasi sebagai proses

perubahan yang dinamis pada masa dewasa berjalan bersama dengan keadaan

menjadi tua ( monks, 2014)selain itu (Cerika Rismayanthi & UNY, 2013)

mendefinisikan menua sebagai berkurangnya kemampuan organisme untuk

mempertahankan diri atau suatu proses kemunduran yang terjadi dalam tahap-tahap

akhir dari hidup yang akhirnya mengakibakan kematian.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi

kematian yaitu sebagai pikiran, ketakutan, dan emosi tentang kejadian akhir dari

hidup yang dialami individu, individu dalam hal ini adalah lansia selain itu

kecemasan menghadapi kematian termasuk dalam jenis kecemasan neurotik yaitu

kecemasan yang menampakkan wujudnya sebagai penyakit, objeknya tidak jelas

dan berupa benda-benda atau hal-haltertentu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti.

2.3.2 ASPEK-ASPEK KECEMASAN TERHADAP KEMATIAN

Kecemasan dapat diketahui melalui aspek-aspek kecemasan menurut (

Nevid, 2011) membagi dalam tiga aspek yaitu :

a) Aspek fisik

Seseorang yang mengalami kecemasan dapat tercermin dari kondisi

fisiknya, seperti tangan bergetar, muncul banyak keringat, kesulitan

berbicara, suara bergetar, timbul keinginan buang aor kecil, jantung

berdebar lebih keras, kesulitan bernafas merasa lemas, atau pusing.

b) Aspek kognitif

Kecemasan dapat ditandai dengan adanya ciri kognitif seperti

sulituntuk berkonsentrasi, berpikir tidak dapat mengendalikan masalah,

ketakutan tidak biasa menyelesaikan masalah, adanya rasa khawatir,

ketakutan akan terjadi sesuatu di masa depan, timbul perasaan terganggu,

atau adanya keyakinan yang muncul tanpa alasan yang jelas bahwa akan

segera terjadi hal yang mengerikan.

c) Aspek perilaku

Kecemasan yang dialami seseorang dapat terlihatdari perilakunya.

Perilaku individu yang mengalami kecemasan seperti menghindar, melekat

dan dependen, dan perilaku terguncang. Pendapat kedua diungkapkan oleh

Clark (2010) yang menyebutkan empat aspek penanda kecemasan :

d) Aspek afektif

Ciri afektif dari kecemasan merupakan perasaan seseorang yang

mengalami kecamasan, seperti gugup, tersinggung, takut, tegang, gelisah,

tidak sabar, atau kecewa.

e) Aspek fisiologis

Ciri fisiologis merupakan ciri dari kecemasan yang terjadi di fisik

seseorang seperti peningkatan denyut jantung, sesak napas, napas cepat,

nyeri dada, sensasi tersedak, pusing, berkeringat, kepanasan, menggigil,

mual, sakit perut, diare, gemetar, kesemutan atau mati rasa di lengan atau

kaki, lemas, pingsan, otot tegang dan kaku, dan mulut kering.

f) Aspek kognitif

Ciri kognitof merupakan ciri yang terjadi dalam pikiran seseorang

saat merasakan kecemasan. Ciri ini dapat berupa takun akan kehilangan

kontrol, takit tidak mampu mengatasi masalah, takut evaluasi negatif oleh

orang lain, adanya pengalaman yang menakutkan, adanya persepsi tidak

nyata, konsentrasi rendah, kebingungan, mudah terganggu, rendahnya

perhatian, kewaspadaan berlebih terhadap ancaman, memori yang buruk,

kesulitan dalam penalaran, serta kehilangan objektivitas.

g) Aspek perilaku

Ciri perilaku dari kecemasan tercermin dari perilaku individu saat

mengalami kecemasan, seperti menghindari situasi atau tanda yang

mengancam, melarikan diri mencari keselamatan, mondar-mandir, terlalu

banyak bicara, terpaku, diam, atau sulit berbicara. Berdasarkan uraian diatas

dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kecemasan yaitu fisik, kognitif,

perilaku dan fisiologis.

2.3.3 FAKTOR-FAKTOR KECEMASAN TERHADAP KEMATIAN

( Henderson 2011) mengatakan ada lima faktor yang mempengaruhi

kecemasan terhadap kematian seseorang, yaitu :

a. Faktor usia

Faktor usia diduga mempengaruhi tangkat kecemasan terhadap

kematian seseorang. Seseorang menjadi lebih tua dan lebih dekat dengan

kematian maka akan memiliki tingakat kecemasan terhadap kematian lebih

tinggi.

b. Integritas ego

Integritas ego adalah perasaan utuh pada diri individu ketika

individu tersebut mampu menemukan arti atau tujuan hidupnya. Integritas

ego merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dampak lingkungan

dimana individu tinggal dengan dengan kecemasan menghadapi kematian.

Orang yang tinggal di panti mempunyai tingkat kecemasan terhadap

kematian yang lebih tinggi dari pada orang dengan tingkat integritas ego

yang rendah yang tinggal dengan keluarga.

c. Kontrol diri

Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menyesuaikan diri

terhadap permasalahan yang berasal dari lingkungan eksternal maupun

lingkungan internal. Lebih lanjut dijelaskan oleh orang yang mempunyai

kontrol diri akan mampu mengatasi masalah yang berasal dari luar atau

eksternal. Henderson menjelaskan orang yang mempunyai kontrol diri

rendah cenderung memiliki tingkat stress yang tinggi, khususnya berkaitan

dengan persoalan yang tidak terkonrol seperti kematian, sehingga tingkat

kecemasan terhadap kematiannya cenderung tinggi.

d. Spiritualitas

Faktor spiritualitas mampu mempengaruhi tingkat kecemasan

terhadap kematian. Spiritualitas sebagai konsistensi seseorang dalam

menjalankan agamanya. Spiritualitas memberikan kesadaran pada manusia

akan hakikat hidup yang sesungguhnya, di samping merangsang manusia

untuk lebih tahan terhadap segala duka dan nestapa, kepedihan serta

rutinitas hidup sehari-hari dan tidak lekang dari krisis eosional dan depresi.

Semua penderitaan mengandung nilai dan arti tersendiri yang menjadi

elemen-elemen konstruktif bagi pembentuk kepribadian manusia. Selain itu

menunjukkan bahwa komunitas yang memiliki tingakat spiritualitasyang

tinggi mempunyai kecemasan terhadap kematian yang lebih rendah.

e. Personal Sense Of Fulfillment

Personal Sense Of Fulfillment diartikan sebagai kontribusi apa saja yang

telah di berikan seseorang dalam mengisi kehidupannya. Kontribusi

tersebut terkait dengan seberapa besar kesempatan yang dimiliki seseorang

untuk hidup secara penuh. Kehidupan yang demikian berkaitan dengan

waktu yang dimiliki seseorang dalam hidupnya, sedangkan kesempatan

untuk hidup sepenuhnya berkaitan dengan pencapaian-pencapaian tujuan

dalam hidup.

Kecemasan seringkali berkembang selam jangka waktu dan sebagian besar

tergantung pada seluruh pengalaman hidup seseorang. Peristiwa-peristiwa atau

situasi khusus dapat mempercepat munculnya serangan kecemasan. Ada beberapa

faktor yang menunjukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :

A. Lingkungan

Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir

individu tentang diri sendiri maupun orang lain. Hal ini di sebabkan karena

adanya pengalaman yang tidak menyenangkan pada individu dengan

keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan kerja. Sehingga individu tersebut

merasa tidak aman terhadap lingkungannya.

B. Emosi yang di tekan

Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan

keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama

jika dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang

sangat lama.

C. Sebab-sebab fisik

Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat

menyebabkan timbulnya kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi seperti

misalnya kehamilan, semasa remaja dan sewaktu pulih dari suatu penyakit.

Selama ditimpa kondisi-kondisi ini, perubahan-perubahan perasaan lazim

muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan. ( Daradjat dan

Rochman,2015) mengemukakan beberapa penyebab dari kecemasan yaitu:

a) Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam

dirinya. Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya

terlihat jelas didalam pikiran.

b) Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal

yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini

sering pula menyertai gejala-gejala gangguan mental, yang kadang-

kadang terlihat dalam bentuk yang umum.

c) Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk.

Kecemasan ini di sebabkan oleh hal yang tidak jelas dan

berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan takut

yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderitaannya. Kecemasan

hadir karena adanya suatu emosi yang berlebihan. Selain itu, keduanya

mampu hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik lingkungan

keluarga, sekolah, maupun penyebabnya. Az-Zahrani(2015) menyebabkan

faktor yang mempengaruhi adanya kecemasan yaitu:

1) Lingkungan keluarga

Keadaan dengan kondisi yang penuh dengan pertengkaran atau

penuh dengan kesalah pahaman serta adanya ketidakpedulian orangtua

terhadap anak-anaknya, dapat menyebabkan ketidaknyamanan serta

kecemasan pada anak saat berada di dalam rumah.

2) Lingkungan sosial

Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi kecemasan individu. Jika individu tersebut berada pada

lingkungan yang tidak baik, dan individu tersebut menimbulkan suatu

perilaku yang buruk, maka akan menibulkan adanya berbagai penilaian

buruk dimata masyarakat.

Sehingga dapat menyebabkan muculnya kecemasan. Kecemasan

timbul karena adanya ancaman atau bahaya yang tidak nyata dan sewaktu-

waktu terjadi pada diri individu serta adanya penolakan dari masyarakat

menyebabkan kecemasan berada di lingkungan yang baru dihadapi.

Sedangkan page ( Rufaidah,2011)menyatakan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi kecemasan adalah:

a) Faktor fisik

Kelelahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga

memudahkan timbulnya kecemasan.

b) Trauma atau konflik

Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi

individu, dalam arti bahwa pengalaman- pengalaman emosional atau

konflik mental yang terjadi pada individu akan memudahkan

timbulnya gejala-gejala kecemasan.

c) Lingkungan awal yang baik.

Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi

kecemasan individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan

menghalangi pembentukan kepribadian sehingga muncul gejala

gejala kecemasan.

Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi kecemasan adalah : tingkat keluarga, lingkungan sosial serta faktor

fisik.

2.3.4 JENIS- JENIS KECEMASAN

Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan di dalam

dirinnya sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya rangsangan dari luar. (

Pedak,2010)membagi kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan yaitu :

a. Kecemasan rasional

Merupakan suatu kekuatan akibat adanya objek yang memang mengancam,

misalnya ketika menunggu hasil ujian. Kekuatan ini dianggap sebagai suatu

unsur pokok normal dari mekanisme pertahanan dasariah kita.

b. Kecemasan irrasional

Yang berarti bahwa mereka mengalami emosi ini di bawah keadaan spesifik

yang biasanya tidak di pandang mengancam.

c. Kecemasan fundamental

merupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dan

akan kemanakah kelah hidupnya berlanjut. Kecemasan ini di sebut sebagai

kecemasan eksistensial yang mempunyai peran fundamental bagi

kehidupan manusia.

Sedangkan menurut stuart dalam ( Rahmatiah,2014), ada empat tingkat

kecemasan yang di alami oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan panik.

a. Kecemasan Ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari, individu masih

waspada serta lapang presepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat

memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara

efektif dan menghasilkan pertumbuhan.

b. Kecemasan sedang

Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan

mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang presepsi

individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak perhatian yang

selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika di arahkan untuk

melakukannya.

c. Kecemasan berat

Lapangan presepsi individu sangat sempit. Individu cenderung berfokus

pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain.

Semua perilaku di tujukan untuk mengurangi ketegangan individu tersebut

memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.

d. Panik

Berhubungan dengan ketakutan, dan teror. Hal yang rinci terpecah dari

proporsinya. Karena mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu

walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan

menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan

untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan

kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan

dengan kehidupan, jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat

terjadi kelelahan dan kematian.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis kecemasan

adalah kecemasan rasional, kecemasan irasional, kecemasan ringan, kecemasan

berat, dan kecemasan panik.

2.4 HUBUNGAN SPIRITUALITAS DENGAN KECEMASAN TERHADAP

KEMATIAN PADA LANSIA

Pada dasarnya, kecemasan merupakan hal wajar yang pernah dialami oleh

setiap manusia. Kecemasan sudah di anggap bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kecemasan adalah suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa

ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya

(wiramihardja,2015). Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir semua

orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi

normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang. Kecemasan

bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai

gangguan emosi ( Ramaiah, 2011).)Zubair ( Wijayanti dkk, 2012)menjelaskan

bahwa kecemasan menghadapi kematian merupakan sesuatu yang wajar, namun

kecemasan memiliki dampak yang negatif khususnya bagi lansia. Sehingga

kecemasan khususnya dalam menghadapi kematian harus dihilangkan, misalnya

lansia tidak lagi mengalami gangguan pencernaan ketika memikirkan kematian,

dada tidak lagi terasa sesak dan tidak lagi mengalami sulit tidur ketika memikirkan

apapaun yang berkaitan dengan kematian. Hal ini bisa terjadi ketika lansia

menganggap kematian sesuatu hal yang wajar dan pasti akan dialami oleh semua

individu sehingga lansia mampu meyikapinya dengan tenang dan besar hati.

Henderson (2011) mengatakan ada lima faktor yang mempengaruhi tingkat

kecemasan terhadap kematian salah satu nya adalah religiusitas.

Spiritualitasmerupakan komitmen yang berhubungan dengan keyakinan dan agama

yang dapat dilihat melalui aktivitas sehari-hari atau perilaku individu yang

bersangkutan pada agama atau keyakinan yang dianutnya. Spiritualitasmampu

memberikan kesadaran pada manusia akan hakikat hidup yang sesungguhnya,

disamping merangsang manusia untuk lebih tahan terhadap segala duka dan

nestapa, kepedihan serta rutinitas hidup sehari-hari dan tidak lekang dari krisis

emosional dan depresi. Menurut Glock & Stark ( Ancok dan Suroso, 2011)ada lima

dimensi spiritualitasyaitu dimensi keyakinan, dimensi praktik agama, dimensi

penghayatan, dimensi pengalaman dan dimensi pengetahuan agama. Individu yang

memiliki spiritualitastinggi cenderung akan memiliki tingkat kecemasan rendah,

hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh ( Henderson, 2011)yang menyatakan

spiritualitasmampu mempengaruhi tingkat kecemasan terhadap kematian.

Henderson mengartikan spiritualitassebagai konsistensi seseorang dalam

menjalankan agamanya. Individu yang memiliki tingkat spiritualitasyang rendah

akan cenderung mengalami kecemasan dalam menghadapi kematian, ciriciri

kecemasan yang muncul seperti ciri fisik (jantung berdebar, berkeringat, pusing,

sulit tidur dan nafsu makan turun), ciri perilaku (sikap menghindar) dan ciri kognitif

(khawatir dengan masa yang akan datang, bingung, takut dan selalu.

2.5 Kerangka teori

Tabel 2.1Kerangka Teori Hubungan Spiritualitas dengan Kecemasan terhadap Kematian Pada Lansia

di desa Bendungan kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan.

Lanjut usia Spiritualitas

Perubahan

1. Biologis

2. Psikologis

3. sosial

Kecemasan

Tingkat kecemasan

Cemas ringan

Cemas sedang

Cemas berat

Panik

Faktor-faktor

kecemasan (Az-

Zahrani, 2015)

a. Lingkungan

keluarga

b. Lingkungan

sosial

c. Faktor

fisik

d. Trauma

atau

konflik

Faktor-faktor

kecemasan terhadap

kematian (Henderson,

2011)

a. Faktor usia

b. Integritas ego

c. Kontrol diri d. Religiusitas

e. Personal Sense

Of Fulfillment

Personal Sense

Of Fulfillment

Faktor-faktor Spiritualitas

a. Keyakinan

b. Praktek Agama

Mencakup

perilaku

pemujaan

c. Pengalaman

d. Pengetahuan agama

e. Pengalaman

atau

konsekuensi

KECEMASAN

Aspek-aspek yang mempengaruhi

1. Prayer Fulfillment (pengalaman

ibadah)

2. Universality (universalitas)

3. Connectedness (keterkaitan)

2.6 KERANGKA KONSEP

;

Keterangan :

Diteliti :

Tidak Diteliti :

Aspek yang mempengaruhi

Spiritualitas

1. Prayer Fulfillment

(pengalaman ibadah)

2. Universality

(universalitas)

3. Connectedness

(keterkaitan)

(Nevid , 2011 membagi dalam tiga

aspek yaitu:

1. Aspek fisik

2. Aspek Kognitif

3. Aspek Perilaku

Panik Berat Sedang Ringan

Kecemasan

Lansia

Faktor-faktor Kecemasan

Menghadapi Kematian

Faktor Usia

Integritas Ego

Kontrol Diri

Religiusitas

Personal Sense of

Fulfillment Personal

sense of fulfillment

Faktor-faktor Spiritualitas

Keyakinan

Praktek agama

Pengalaman

Pengetahuan

agama

Pengalaman/kons

ekuensi

Rendah Cukup Tinggi

Spiritualitas

2.7 Hipotesis

Dari tinjauan teori di atas dan berdasarkan uraian permasalahan yang dikemukakan, maka

diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: Ada hubungan negatif antara spiritualitas dengan

kecemasan. Diasumsikan bahwa semakin tinggi spiritualitas maka akan semakin rendah

kecemasan yang dialami lansia menghadapi kematian atau sebaliknya spiritualitas semakin rendah

maka semakin tinggi tingkat kecemasan pada lansia menghadapi kematian.