t. >.~ --.. x, piala dunia dan komunikasi · pdf filenerapkan berbagairagam...

Click here to load reader

Post on 10-Mar-2019

220 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

~'Pikiran Rakyat2 3

19iJPeb

... ~~...::,:;.~ ~. ~~ l'\!C) Setasa () Rabu .) Kamis ,_) Jumat C) Sabtu () Minggu'-J

4 5 6 7

berapa kemiripan aspek nonverbalantara budaya warga Afrika Selatandengan budaya Eropa. Selain berbi-cara lugas, mereka bertatap mata saatberkomunikasi, dengan atasan sekali-pun. Dalam beberapa budaya Afrikalainnya, seperti Nigeria, kontak matayang kelamaan dari orang berstatuslebih rendah dianggap tidak sopan.Karena itu atasan bisa marah danmembentak bawahan.

Berpegangan tangan sesama jenissaat diam atau berjalan kaki tidaklahlazim diAfrika Selatan. Namun diGhana, seperti dikemukakan Dr. Au-drey S. Gadzekpo, dosen UniversitasGhana yangjuga peserta WJEC, halitu biasa saja. Hal itu juga sebe-narnya dapat kita temukan di AfrikaUtara, juga dalam budaya Cina,Eropa Selatan dan tentu juga di ne-gara kita. Dalam penerbangan dariJohannesburg ke Port Elizabeth itu,seorang sejawat Audrey yang dudukdi -sampingnya menceritakan pen-galaman ganjilnya. Pria yang pemahkuliah di Universitas Columbia New

.York itu sempat disangka homsek-sual karena ia pemah terlihat ber-jalan kaki sambil berpegangan ta-ngan dengan teman senegaranyaoleh seorang pebisnis toko asal Puer-to Rico di kota itu. "Saya akan perke-nalkan Anda kepada teman sayaorang Puerto Rico yang gay," katapemilik toko itu.

Literatur menunjukkan ada be-berapa jenis bahasa tubuh ala Afrika.Acungan dua jari, jempol dan keling-king, sementara ketigajari lainnyaterlipat ke bawah (dus menyerupaitanduk) berarti kutukan di beberapabagian Afrika. Uluran satu tangandengan telapak tangan ke depanyang berarti "stop!" di Amerika, diYunani---disebut moutza---ditafsirkan sebagai dorongan tangankarena itu bermakna konfrontasi. DiAfrika Barat isyarat yang sama lebihjorok daripada acungan jari tengahdi Amerika. Di wilayah itu telapaktangan terbuka yang didorongkan kearah wajah orang lain adalah tandahinaan dan bermakna lebih jorokdaripada acungan jari tengah diAmerika. Beberapa suku Afrika yangmenunjuk dengan mencibirkan bibirbawah menganggap cara menunjukAmerika sebagai kasar. Di Ethiopia,menunjuk dan memanggil "ke sini"

dengan satu jari dianggap menghinadan hanya digunakan terhadapanak-anak dan anjing. Untukmemperingatkan anak keeil agartidak ribut, orang Ethiopia mele-takkan satujari pada bibimya, danempat jari untuk memperingatkanorang dewasa. Menggunakan satujari untuk maksud itu dianggap tidaksopan, sama tidak sopannya denganmenggoyangkan telunjuk dari sisi kesisi untuk orang dewasa di Amerika.

Di Eropa Utara (Inggris,' Belanda,Perancis dan Belgia), memanggil di-lakukan dengan telapak di atas; diEropa Selatan, termasuk di kebanya-kan wilayah di Italia, sebagian Spa-nyol, caranya terbalik: telapak dibawah, begitu juga di kebanyakannegeri di Asia (termasuk di Indone-sia), juga di kebanyakan negaraArab, meski ada variasi. Akan halnyadi Afrika Selatan, umumnya orangmemanggil orang lain dengan tela-pak tangan di bawah, sementara diGhana justru sebaliknya.

Di beberapa wilayah Afrika peluk-an atau sentuhan oleh orang berbedajenis boleh jadi bermakna negatif.Frazier (1996) pemah melukiskan,"Saya punya seorang mahasiswa dariAfrika. la sulit memahami bahasaInggris dan istilah-istilah komputer,Saya pasangkan dia dengan seorangpria lainnya yang senang komputer.Berhasil memaharni dan memprak-tikkan suatu program komputer, iabegitu gembira. Saya mendekatinyadan memeluknya. Pria itu tiba-tibahisteris, menjerit dan lari keluar darikelas. Saya terkejut dan kawannyamenyusul untuk mengetahui apayang terjadi. la menangis di niangan,dan saya tak mengerti apa yang telahsaya lakukan. Temyata, dalam bu-dayanya dipeluk seorang perempuanberkulit putih adalah suatu pelang-garan berat yang mendatangkan hu-kuman mati. la harus menikahi pe-rempuan yang menyentuhnya. Yicks,kawannya menenangkannya, menga-takan kepadanya bahwa tak seorangpun yang akan membunuhnya, sayatidak harus menikah dengannya dansegala sesuatunya baik-baik saja. Ak-hirnya pria muda itu tidakjadi me-ngikuti kuliah saya. Saya telah mem-pelajari seni memuji tanpa menyen-tuh, atau hanya menyentuh tangan.Suatu pelajaran yang berat, tetapi

adil saat Anda bekerja di universitasyang mahasiswa-mahasiswanya be-rasal dari banyak budaya."

**ALHASIL, betapa rumitnya bu-

daya koniunikasi bangsa-bangsa Afri-ka, meski kita sering menyeder-hanakannya. Warga Afrika Selatansendiri tampaknya menyadari hal itu.Mereka terns berupaya untuk mem-bangun bangsa yang multibudayadengan tetap mengedepankan ke-bangsaan mereka, juga untuk memi-liki citra yang positif di mata bangsa-bangsa lain, khususnya Eropa danAmerika yang sering menyepelekan-nya. Seorang pembicara di WJECmenyatakan bahwa Piala Dunia 2010menjadi wahana yang dahsyat untukmempromosikan citra bangsa AfrikaSelatan khususnya dan bangsa-bangsa Afrika umumnya di m tadunia. Kemampuan School of Jour-nalism, Rhodes University di Gra-hamstown, Afrika Selatan unmenyelenggarakan WJEC ke-a (yangpertama di Singapura tahun 2 07)selama tiga hari (S-7Juli 2010) de-ngan mendatangkan kaum akademisiyang mengajar Jumalistik di niver-sitas dan parajumalis profesional se-jumlah kurang lebih 300 oran dari40 negara di lima benua men -jukkan upaya ke arah itu.

"Sebelum tahun 1994 kami argakulit hitam tak boleh memas . seko-lah, gereja, restoran dan bahkan toiletyang dimasuki orang kulit putih.Waktu itu sulit sekali bagi orang kulit

. hitam untuk menjadi dokter atau in-sinyur. Sulit dibayangkan bahwasetelah itu justru warga kulit hitamlah yang berkuasa. Kaum pere puankami kini menduduki jabatan-ja-batan penting," kata Tshamano.Perempuan yang Tshamano maksuditu saya kira termasuk Pansy Tlakula,keynote speaker dalam WJEC haripertama. la adalah Ketua de Uni-versitas North West, Ketua KomisiPemilihan Elektoral Independen,yangjuga seorang AdvokatMahkamah Agung Afrika Selatan dimpemah menjadi Ketua "KPU"-nya ne:gara itu tahun 2002. (DeddyMulyana, Guru Besar dan DekanFikom Unpad,jasilitator di WorldJournalism Education Congress diRhodes University, Grahamstown,Afrika Selatan)***