studi pengelolaan sampah b3 permukiman .kali sesuai dengan sni 19-3964 1995. ... sampling sampah

Download STUDI PENGELOLAAN SAMPAH B3 PERMUKIMAN .kali sesuai dengan SNI 19-3964 1995. ... Sampling sampah

Post on 15-Jul-2018

220 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    STUDI PENGELOLAAN SAMPAH B3 PERMUKIMAN KECAMATAN SUKOLILO, SURABAYA

    STUDY ON HOUSEHOLD HAZARDOUS WASTE

    MANAGEMENT IN SUKOLILO DISTRICT, SURABAYA

    ALIA RIANDANI dan Prof.DR. YULINAH TRIHADININGRUM, MAppSc

    Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

    Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya aleya.reeyan@gmail.com

    Abstrak

    Tujuan penelitian ini adalah menghitung jumlah timbulan dan komposisi sampah B3 serta menentukan

    pola pengelolaan sampah B3 pemukiman dengan mengambil daerah studi Kecamatan Sukolilo.

    Pengambilan dan pengukuran contoh timbulan, densitas dan komposisi sampah dilakukan sebanyak 8

    kali sesuai dengan SNI 19-3964 1995. Sampel sampah dikumpulkan dari 100 rumah. Sampling sampah B3

    dilakukan dengan metode acak terstratifikasi sesuai dengan tingkat sosial-ekonomi masyarakat, yaitu

    masyarakat kelas atas, menengah dan bawah.

    Timbulan sampah B3 Kecamatan Sukolilo adalah sebesar 0,15 ton/hari. Rata-rata prosentase komposisi

    sampah B3 yang ada di Kecamatan Sukolilo didominasi oleh jenis sampah beracun yaitu sebesar 44,90%.

    Selanjutnya, rata-rata prosentase sampah B3 yang bersifat mudah terbakar adalah 40,73%, dan korosif 14,38%.

    Pola pengelolaan sampah B3 permukiman yang disarankan dalam studi ini adalah i) sampah B3

    permukiman yang ada di sumber seharusnya dipisahkan dari komponen sampah lainnya, ii) setiap rumah tangga

    seharusnya memiliki wadah khusus sampah B3 berkapasitas 25 L yang mememuhi persyaratan untuk wadah

    sampah B3, iii) pengumpulan sampah B3 dapat menggunakan motor boks dengan volume kontainer sebesar 1

    m3, iv) TPS sampah B3 seharusnya memiliki kontainer khusus berkapasitas 5 m

    3

    Kata kunci : Kecamatan Sukolilo, sampah B3 permukiman, pengelolaan sampah B3

    Abstract

    The aims of this study are to measure the generation and the composition of household hazardous

    waste (HHW) and to determine the HHW management, using Sukolilo District as a study area.

  • 2

    Sample collection, measurements of density and composition of household solid waste were done 8

    times, following SNI 19 -3964-1995 method. Sampling program was performed by involving 100 households,

    which were selected using stratified random approach. Selection of the household samples was based on socio-

    economic levels, namely upper, middle, and lower classes.

    The Sukolilo District generated 151.80 kg/day of HHW. The composition of HHW was dominated by

    toxic waste (44.90%). The remaining was flammable (40.73%) and corrosive (14.386%) waste components.

    This study recommended a HHW management system for Sukolilo District as the following: i) HHW

    should be separated from other solid waste components at source, ii) a specific bin of 25 L volume, which met

    the criteria for hazardous waste container should be provided in every household, iii) motor cycle which was

    equipped with a box container of 1 m3 should be used as collection vehicle, iv) the transfer depot should be

    facilitated with a container of 5 m3 volume.

    Keywords : Sukolilo District, household hazardous waste, household hazardous waste management

    1. Pendahuluan

    Meningkatnya penggunaan bahan berbahaya dan beracun (B3) pada berbagai

    kegiatan antara lain kegiatan perindustrian, kesehatan, maupun kegiatan rumah tangga dapat

    dipastikan akan menghasilkan limbah B3. Limbah tersebut akan dapat menimbulkan dampak

    negatif bagi lingkungan maupun kesehatan manusia bila tidak dikelola dengan benar.

    Keberadaan limbah B3 sebagian besar memang berasal dari sektor industri, namun limbah B3

    dari sektor domestik atau yang disebut dengan sampah B3 permukiman juga perlu mendapat

    perhatian. Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah sisa suatu

    usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahayadan/atau beracun yang karena

    sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak

    langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat

    membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk

    hidup lain (Peraturan Pemerintah No. 18 Pasal 1 Tahun 1999). Sedangkan yang dimaksud

    dengan sampah B3 permukiman atau sampah B3 rumah tangga adalah sampah yang berasal

  • 3

    dari kegiatan rumah tangga dan mengandung bahan dan/atau bekas kemasan suatu jenis

    bahan berbahaya dan/atau beracun (Bagusirawan, 2008). Sampah B3 akan menjadi bahasan

    dalam studi ini, dengan menggunakan permukiman Kecamatan Sukolilo sebagai wilayah

    studi. Lokasi tersebut dipilih sebagai daerah studi karena masyarakat di kecamatan tersebut

    sangat heterogen sehingga penelitian dapat dilakukan pada tingkat sosial masyarakat yang

    berbeda. Selain itu, belum adanya upaya pengelolaan sampah yang baik di Kecamatan

    Sukolilo ini, sehingga penelitian ini akan dapat memberikan data mengenai sampah B3 yang

    diharapkan dapat menjadi masukan dalam upaya pengelolaan sampah permukiman secara

    keseluruhan. Kecamatan Sukolilo merupakan salah satu kecamatan yang cukup padat di

    Kota Surabaya. Luas wilayah Kecamatan Sukolilo sebesar 23,66 km2 dan jumlah penduduk

    pada tahun 2009 mencapai 94.871 jiwa.

    Kebanyakan warga tidak mengetahui bahwa aktivitas rumah tangga dapat

    menghasilkan sampah yang tergolong cukup berbahaya dan rawan terhadap kesehatan tubuh

    dan lingkungan sekitar. Banyak produk dalam rumah tangga mengandung bahan kimia yang

    sama dengan limbah industri dan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan

    (Lakshmikantha, 2007). Sampah B3 permukiman umumnya dibuang bersama dengan

    sampah rumah tangga lainnya. Upaya penanganan limbah B3 juga masih terfokus pada

    penanganan limbah B3 untuk industri. Limbah B3 yang berasal dari sektor domestik atau

    sampah B3 permukiman masih kurang menjadi perhatian. Dalam Peraturan Pemerintah No.

    18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun, disebutkan

    bahwa ketentuan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga dan

    kegiatan skala kecil ditetapkan kemudian oleh instansi yang bertanggung jawab. Hal tersebut

    menunjukkan belum adanya upaya lebih lanjut yang dilakukan untuk mengelola sampah B3

    rumah tangga pada saat ini.

  • 4

    Jenis sampah B3 rumah tangga dapat dikelompokkan berdasarkan jenis aktivitas rumah

    tangga, yaitu bahan atau bekas kemasan produk yang berasal dari (1) aktivitas dapur seperti

    pembersih lantai, pembersih oven, pengkilat logam, dll. (2) aktivitas kamar mandi seperti

    pembersih kamar mandi, pembersih toilet, pemutih pakaian, dll. (3) aktivitas garasi dan

    pembengkelan seperti pembersih badan mobil, berbagai cat untuk mobil, aki, dll. (4) aktivitas

    ruangan di dalam rumah seperti baterai, cairan untuk pengkilap mebel, cat, pengencer cat,

    cairan penghilang karat, pembasmi serangga, lampu neon, parfum, obat-obatan kadaluarsa,

    dll. (5) aktivitas pertamanan seperti pestisida, cairan pembunuh jamur, racun tikus, dll

    (Bagusirawan, 2008). Jenis-jenis sampah B3 tersebut memiliki karakteristik berbeda.

    Karakteristik B3 antara lain mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun,

    menyebabkan infeksius, dan korosif ( PP No. 85 tahun 1999). Dari berbagai macam sampah

    B3 permukiman, sampah baterai merupakan sampah B3 yang sering ditemukan dalam rumah.

    Baterai merupakan sampah B3 karena mengandung berbagai logam berat seperti merkuri,

    mangan, timbal, cadmium, nikel dan lithium yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia

    dan lingkungan. Sampah baterai seharusnya tidak dibuang ke tempat sampah bersama

    sampah lainnya.

    Jumlah sampah B3 yang dihasilkan tiap rumah tangga mungkin tidak terlalu banyak,

    namun karena tingginya jumlah penduduk maka jumlah sampah yang dihasilkan juga akan

    semakin banyak, demikian juga dengan jumlah sampah B3 yang dihasilkan. Selain itu,

    dengan pola pembuangan akhir sampah kota yang masih menganut sistem Open Dumping

    seperti saat ini, sampah di TPA tidak dipilah, sampah hanya akan ditimbun begitu saja. Tidak

    adanya upaya dalam pengelolaan sampah lebih lanjut tentu akan berpotensi menimbulkan

    akumulasi dari bahan berbahaya dan beracun yang ada di TPA. Akumulasi tersebut pada

    suatu saat akan dapat menyebabkan dampak negatif seperti pencemaran tanah dan air tanah

    yang berada di sekitar lahan pembuangan akhir. Jika pencemaran tersebut sampai di

  • 5

    pemukiman terdekat maka akan timbul masalah yang cukup serius. Bahaya yang ditimbulkan

    adalah masuknya bahan-bahan yang berkategori B3 tersebut ke dalam aliran bawah tanah

    atau kontak langsung dengan manusia atau makhluk hidup lainnya. Selain itu, bila sampah

    B3 tidak dipisahkan dari sampah lainnya dan tidak ditangani tersendiri, maka bila dilakukan

    proses kompaksi dengan alat berat, wadah atau kemasan yang mengandung B3 dapat rusak

    sehingga dapat mengkontaminasi sampah lainnya, selain itu dapat timbul pula bermacam

    reaksi, gas beracun atau api. Tingkat bahaya terbesar tentu akan diterima oleh para pemulung

    dan petugas sampah yang biasa bekerja tanpa peralatan pelindung yang memadai sehingga

    berisiko membahayakan kesehatan.

    Mengingat potensi dampak yang dapat ditimbulkan oleh sampah B3 permukiman, maka

    upaya pengelolaan sampah B3 permukiman sudah seharusnya mulai dilakukan dengan baik.

    Sosialisasi terhadap keberadaan produk B3 dalam rumah tangga pe

Recommended

View more >