pengaruh financial distress terhadap penerimaan fe- ?· pengaruh financial distress terhadap...

Download PENGARUH FINANCIAL DISTRESS TERHADAP PENERIMAAN fe- ?· pengaruh financial distress terhadap penerimaan…

Post on 12-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENGARUH FINANCIAL DISTRESS TERHADAP PENERIMAAN OPINI

AUDIT GOING CONCERN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG

TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2006-2010

ABSTRAK

Oleh:

WINDA JULIANA

NPM : 0851031063

Tlpn : 08978921547

Email : windajuliana@rocketmail.com

Pembimbing I : Dr. Einde Evana, S.E., M.Si., Akt.

Pembimbing II : Retno Yuni Nur S, S.E., M.Sc, Akt

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh financial

distress terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia perioda 2006-2010. Opini

audit going concern sebagai variabel dependen diukur dengan variabel dummy.

Financial distress sebagai variabel independen diukur dengan menggunakan

metoda Revised Altman. Opini audit tahun sebelumnya sebagai variabel kontrol

diukur dengan menggunakan variabel dummy. Dengan dugaan hipotesis bahwa

financial distress berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going

concern dan opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap

penerimaan opini audit going concern.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu sebanyak 141

perusahaan, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan

sampel sebanyak 21 perusahaan dengan perioda pengamatan selama 5 tahun

(2006-2010). Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi

logistik.

Hasil penelitian menggunakan tingkat signifikasi 5% menunjukkan bahwa

variabel financial distress mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap

penerimaan opini audit going concern dan opini audit tahun sebelumnya

mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan opini audit

going concern.

Kata Kunci : Opini audit going concern, financial distress, opini audit tahun

sebelumnya

THE EFFECT OF FINANCIAL DISTRESS TOWARDS THE

ACCEPTANCE OF AUDIT OPINION GOING CONCERN IN

MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK

EXCHANGE 2006-2010 PERIOD

ABSTRACT

By:

WINDA JULIANA

NPM : 0851031063

Tlpn : 08978921547

Email : windajuliana@rocketmail.com

Pembimbing I : Dr. Einde Evana, S.E., M.Si., Akt.

Pembimbing II : Retno Yuni Nur S, S.E., M.Sc, Akt

This research aims to find out the effect of financial distress towards the

the acceptance of audit opinion going concern in manufacturing companies

listed in Indonesia Stock Exchange 2006-2010 period. Audit opinion going

concern as dependent variable is measured with dummy variables. Financial

distress as independent variable is measured with Revised Altman method.

Audit opinion in the previous years as controling variable is measured with

dummy variables. The hypothesis are financial distress negatively affect the

acceptance of audit opinion going concern and the previous year audit opinion

positively affect the acceptance of audit opinion going concern.

Population of data which used in this research are 141 manufacturing

companies listed in Indonesia Stock Exchange, but after using purposive

sampling method only 21 companies qualified for being sample with 5 years

observation period. Hypothesis examining using logistic regression analysis.

The results of the research using 5% level of significance shows financial

distress negatively significant affect the acceptance of audit opinion going

concern and the previous year audit opinion positively significant affect the

acceptance of audit opinion going concern.

Keywords : Audit opinion going concern, financial distress, the previous year

audit opinion.

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Krisis keuangan global telah mengubah bentuk perekonomian dunia dan sebagian

besar di setiap negara merasakan dampak dari krisis keuangan global termasuk

negara-negara di Asia salah satunya adalah Indonesia yang membawa dampak

yang signifikan terhadap keberadaan entitas bisnis. Contohnya adalah

kelangsungan hidup perusahaan di Indonesia. Dikarenakan mengalami

keterpurukan, sehingga banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan

sehingga tidak dapat melanjutkan kegiatan usahanya. Akibatnya terjadi

peningkatan jumlah perusahaan yang mendapatkan opini audit Qualified Going

Concern dan Disclaimer (Praptitorini dan Januarti, 2007).

Going concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha dan merupakan

asumsi dalam pelaporan keuangan suatu entitas bisnis, sehingga jika suatu entitas

bisnis tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya sampai satu perioda

atau satu tahun kedepan, maka going concern perusahaan diragukan dan entitas

bisnis tersebut mengalami masalah (Petronela, 2004).

Banyak kasus mengenai manipulasi data keuangan yang tidak dapat dideteksi dan

informasi mengenai going concern yang belum diungkapkan oleh auditor

menyebabkan hilangnya kepercayaan pengguna informasi kepada auditor itu

sendiri. Sehingga apabila masalah ini terus berlanjutan maka akan berdampak

pada hilangnya kepercayaan terhadap auditor dan menyebabkan kerugian pada

pihak lain pengguna informasi seperti stakeholders dan shareholders. Auditor

sebagai pihak independen yang diharapkan dapat mendeteksi kecurangan dan

mengungkapkan informasi mengenai laporan keuangan perusahaan secara

menyeluruh. Peran auditor diperlukan untuk mencegah diterbitkannya laporan

keuangan yang menyesatkan, sehingga dengan menggunakan laporan keuangan

yang telah diaudit para pemakai laporan keuangan diharapkan dapat membuat

keputusan dengan benar. Menurut SA Seksi 341 (IAPI, 2011) auditor juga

bertanggungjawab untuk menilai apakah ada kesangsian terhadap perusahaan

dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu tidak lebih

dari satu tahun sejak tanggal laporan audit. Dengan demikian, topik mengenai

going concern sangat menarik untuk dilakukan penelitian karena masih sering

terjadi dan berhubungan dengan kepentingan banyak pihak baik eksternal dan

internal perusahaan.

Auditor dapat memberikan opini audit going concern jika terdapat keraguan pada

perusahaan dalam menjalankan kelangsungan usahanya selama setahun kedepan

terhitung dari dikeluarkannya laporan audit (IAPI, 2011). Opini audit going

concern merupakan kabar buruk bagi pengguna laporan keuangan baik internal

(stakeholders) maupun eksternal (shareholders). Masalah yang sering timbul

adalah sulit untuk memperkirakan going concern suatu perusahaan, sehingga

auditor menghadapi pilihan antara moral dan etika dalam memberikan opini audit

going concern. Hal ini disebabkan adanya self fulfilling prophecy (Venuti, 2007).

Penyebab lainnya adalah tidak terdapatnya pedoman penetapan status going

concern yang terstruktur (Joanna, 1994).

Perusahaan akan menerima opini audit going concern jika terdapat masalah pada

pendapatan, reorganisasi, ketidakmampuan dalam membayar bunga, menerima

opini audit going concern tahun sebelumnya, dan dalam proses likuidasi

mengalami modal yang negatif, arus kas negatif, pendapatan operasi negatif,

modal kerja negatif, mengalami kerugian selama 2 s/d 3 tahun berturut-turut, laba

ditahan negatif (Mutchler, 1985 dalam Januarti, 2009).

Perkiraan pada perusahaan akan mengalami kebangkrutan dimasa mendatang dan

keraguan terhadap kelangsungan hidup perusahaan juga merupakan pertimbangan

bagi auditor dalam pengeluaran opini audit going concern. Kondisi kebangkrutan

suatu perusahaan yang mengalami financial distress, yaitu adalah keadaan dimana

kondisi keuangan perusahaan selama perioda tertentu menghasilkan laba bersih

(net profit) negatif selama beberapa tahun yang akhirnya akan mengarah ke

kebangkrutan dan arus kas operasi perusahaan tidak mencukupi untuk melakukan

tindakan perbaikan untuk mencegah terjadinya kebangkrutan (Endri, 2009).

Carcello dan Neal (2000) dalam Setyarno, dkk., (2006) menyatakan bahwa

semakin buruk kondisi keuangan perusahaan maka semakin besar kemungkinan

perusahaan menerima opini audit going concern. Altman dan McGough (1974)

dalam Fanny dan Saputra (2005) mengatakan bahwa tingkat prediksi

kebangkrutan dengan menggunakan model prediksi mencapai tingkat keakuratan

82% dibandingkan dengan menggunakan metoda lain seperti hanya melihat laba

bersih sebelum pajak yang negatif dan menyarankan penggunaan model prediksi

kebangkrutan sebagai alat bantu auditor untuk memutuskan apakah perusahaan

mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Masalah financial distress akan mengarah pada going concern yang diragukan

dalam waktu pantas. Ross et al., (2002) menyatakan bahwa financial distress akan

menyebabkan perusahaan mengalami gangguan dalam keuangan seperti: arus kas

negatif, rasio keuangan yang buruk, dan gagal bayar pada perjanjian utang. Fanny

dan Saputra (2005) dan Setyarno,dkk (2006) menemukan bukti bahwa jika

kondisi perusahaan dengan kondisi kinerja keuangan yang baik maka

kemungkinan kecil perusahaan tersebut akan mendapat opini going concern dari

Recommended

View more >