laporan pelaksanaan pelaksanaan konseling karier

Download Laporan Pelaksanaan Pelaksanaan Konseling Karier

Post on 13-Nov-2015

237 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

LAPORAN PELAKSANAAN KONSELING KARIER

TRANSCRIPT

LAPORAN PELAKSANAAN KONSELING KARIER

A. PENDAHULUAN1. Rasional Pelaksanaan Konseling KarierDari perkembangan zaman ini memiliki pengaruh pada perkembangan di kehidupan sehari-hari termasuk didalamnya pemilihan pekerjaan dan perkembangan karier yang sesuai dengan diri. Pekerjaan tidak akan bisa dipisahkan dari kehidupan individu. Terkadang pekerjaan dan karier seringkali disamakan, pekerjaan terdiri dari aspek mengerjakan dan aspek imbalan tanpa ada aspek psikologis jadi individu tidak membutuhkan kesenangan, kesesuaian dan pemilihan. Seseorang bekerja karena harus dan butuh untuk bekerja. Ketika masuk pada pekerjaan tertentu, individu kemungkinan besar akan menemukan istilah jabatan. Jabatan merupakan tangga struktual yang boleh didaki individu untuk bisa sampai ke tingkat teratas dalam perkembangan karier. Sayangnya, tidak semudah pekerjaan yang bisa dilakukan begitu saja, jabatan perlu memerlukan karakteristik lebih khusus yaitu memerlukan pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan individu untuk bisa naik kelevel yang tinggi.Dalam lingkup sempit karier dimaknai sebagai pekerjaan yang dilakukan sebagai panggilan hidup dan pekerjaan yang meresap ke dalam hidup, mewarnai pola pikiran, tumbuh atau berkembang sebagai gaya hidup (life style). Secara luas Gybers (1983) menjabarkan karier ke dalam tiga ranah yaitu pernana hidup (life role), lingkup kehidupan (life setting) dan peristiwa hidup (live event). Jadi kombinasi aspek fisik, psikis, sosial, edukasi dan kesempatan dalam pembentukan karier individu pada keseluruhan jangka hidup individu (life span). Dalam menentukan karier terkadang individu masih mengalami kesulitan atau masalah karier dalam membuat konsep karier atau perkembangan karier kedepan disini konseling karier berperan untuk membuat konsep karier dan perkembangan karier kedepan. Konseling karier ini sendiri adalah proses pemberian bantuan yang bertujuan untuk membantu individu memfasilitasi permasalhan dalam hubungannya dengan perkembangan karier (meliputi proses untuk mengenal, mengeksplorasi, memilih, masuk menyesuaikan diri dan meningkatkan kariernya).2. KonfidensialitasKonfidensialitas merupakan prinsip dalam menjaga kerahasiaan konseli. Asas kerahasiaan merupakan kode etik seorang konselor. Asas konselor merupakan asas kunci dalam upaya konseling. Dalam hal ini masalah yang dihadapi konseli tidak akan disampaikan kepada orang lain yang tidak berkepentingan. Segala sesuatu yang disampaikan oleh konseli kepada konselor akan dijaga kerahasiaannya. Jika asas ini benar-benar dilakukan maka konselor akan mendapat kepercayaan dari konseli dan layanan konseling akan dimanfaatkan secara baik oleh konseli, akan tetapi jika sebaliknya konselor tidak menerapkan asas kerahasiaan tersebut maka konseli tidak akan menaruh kepercayaannya kepada konselor dan konselor akan kehilangan dari kepercayaan konseli.

3. Identitas Konselia. Proses Menemukan KonseliKonseli adalah salah satu teman konselor dimana dulu sempat tinggal di kost yang sama. Dulu konseli pernah menceritakan kebingungan kariernya karena jurusan konseli saat ini bukan pilihan diri sendiri namun pilihan dari orang tua konseli dan konseli saat itu belum memiliki pandangan mengenai kariernya kedepan. Kemudian konselor menghubungi konseli dan membuat janji dengan konseli untuk bertemu dan menanyakan kembali kepada konseli apakah masih merasa bingung mengenai kariernya dan ternyata konseli masih merasa bingung untuk menentukan kariernya. Konseli pun bersedia untuk melakukan konseling mengenai karier dimasa depan.b. Ringkasan MasalahSaat ini konseli menempuh kuliah di Fakultas FKIP dengan jurusan Bahasa Inggris semester 5, jurusan FKIP ini bukanlah keinginan konseli sendiri tetapi keinginan dari ibu konseli dimana ibu konseli menginginkan konseli menjadi seorang guru namun untuk jurusannya sendiri yaitu bahasa inggris adalah keinginan konseli sendiri karena konseli merasa menguasi atau menyukai pelajaran bahasa inggris saat SMA. Setelah lulus kuliah konseli sudah memiliki pandangan untuk menjadi guru Bahasa Inggris namun konseli bingung akan menjadi guru di SD atau SMP karena konseli sendiri belum mengetahui peluang kemungkinan besar untuk diterima. Sehingga masalah konseli disini masih belum dapat menentukan atau memutuskan untuk menjadi guru SD atau SMP, jadi masalah konseli adalah konseli tidak dapat membuat keputusan mengenai karier (indecisiveness).c. Identitas KonseliNama Lengkap: Diah WahyuniNama Panggilan: DiahTempat/Tanggal Lahir: Mojokerto, 11 Juni 1994Jenis Kelamin: PerempuanAgama: IslamPendidikan: Penguruan TinggiAlamat: Jl. Arumba, Arumba Hill RecidenceHobi: MelukisAnak ke: Pertama dari satu bersaudaraNama Ayah: Alm. Edi SuprayinthoPendidikan Ayah: -Pekerjaan: -Nama Ibu: KartiniPendidikan: SMPPekerjaan Ibu: SwastaLatar Belakang Budaya: Jawa

B. PELAKSANAAN KONSELING KARIER1. Waktu dan Tempat PelaksanaanPertemuan dengan konselo dilaksanakan sebagai berikut :Hari / TanggalWaktuTempatKeterangan

Kamis, 4 Des 201413.00 14.00Di Kos KonseliSesi I, Wawancara awal dan Asesmen

Jumat, 5 Des 201413.00 14.00Dirumah KonselorSesi II, Hasil asesmen & Goal Setting

Jumat, 19 Des 201416.00 17.00Di CafeSesi III, Intervensi I

Sabtu, 20 Des 201416.00 17.00Di CafeSesi IV, Intervensi II & Terminasi

2. Tabel Keterlaksanaan Tahapan Konseling Karier NoTahapTerlaksanaTidak TerlaksanaKeterangan

1Wawancara awalBaik

2AsesmenCukup

3Goal SettingBaik

4IntervensiBaik

5TerminasiBaik

3. Jabaran Keterlaksanaan Tahapan Konseling Karier1. Wawancara AwalTujuan Pelaksanaan:Dalam wawancara awal ini dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi mengenai masalah karier konseli. Menggali data hal-hal apa saja yang terkait dengan masalah karier yang dihadapi saat ini dari masalah yang diceritakan konselor dapat menyimpulkan atau mengetahui masalah apa dihadapi. Membantu konseli untuk menemukan solusi mengenai masalahnya dengan cara berpikir bersama secara rasional dan konseli juga dapat membuat keputusan mengenai masalah yang dihadapi.Cara melaksanakan:Sub Langkah WawancaraApa yang dilakukan oleh konselorApa yang dilakukan oleh Konseli

Wawancara pertamaMembangun raport seperti menanyakan kabar dan kegiatan sehari-hari, dari membangun rapot ini konseli dapat lebih terbuka untuk menceritakan masalahnya.Merespon pembangunan raport, menjawab dan menceritakan kegiatannya sehari-hari.

Wawancara dasar asesmenKonselor memulai untuk menggali atau mencari informasi mengenai masalah karier konseli dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait karier konseli dimana konseli merasa bingung atau tidak dapat menentukan pilihan mengenai kariernya.Konseli menceritakan masalah yang dialami terkait kariernya dimana konseli belum dapat menentukan keputusannya mengenai kariernya.

Identifikasi cognitive clarityKonselor mengidentifikasi cognitive clarity konseli dimana setelah konselor mengetahui ketidakjelasan dari pemikiran konseli, konselor berupaya untuk menghilangkan ketidakjelasan pemikiran konseli. Setelah itu konselor memetakan kejelasan pemikiran konseli.Konseli mulai membuka pikirannya untuk menyadari akan kesalahan pemikiran konseli.

Mengenali permasalahan karierKonselor menggali masalah konseli yang dimana konseli merasa bingung untuk menentukan pilihan kariernya dengan mengajukan pertanyaan alasan apa yang membuat konseli merasa bingung dan yang membuat konseli bingung adalah rasa takut, konselor mengajukan pertanyaan alasan mengapa konseli takut.Konseli menjelaskan alasan mengapa ia merasa bingung dan menceritakan keadaannya saat ini dalam menentukan keputusan mengenai kariernya.

Memunculkan tujuan awalKonselor mengarahkan konseli untuk menetapkan tujuanKonseli memulai untuk menetapkan tujuan awal.

Data yang Diperoleh dari hasil wawancara awal :a. Wawancara pertama pembinaan hubungan dan structuringDalam wawancara awal konselor membangun raport dengan konseli agar konseli merasa gugup atau canggung ketika mengutarakan masalah karier yang dihadapi dan konseli dengan terbuka menyampaikan informasi-informasi yang diperlukan oleh konselor. Konseli datang pada konselor untuk dapat menceritakan masalah kariernya karena konseli merasa bingung untuk menentukan pilihannya terkait karier.b. Wawancara sebagai dasar dalam asesmenDalam wawancara dasar ini konselor menggali atau mencari informasi terkait kebinggungan konseli, dimana konseli merasa bingung untuk mennetukan pilihanya untuk menjadi guru bahasa inggris di SD atau di SMP kemudian konselor menanyakan alasan mengapa konseli bingung konseli mengatakan bahwa pilihannya untuk menjadi guru bukannya keputusannya sendiri tetapi keinginan dari ibunya. Konseli memiliki keinginan untuk menjadi guru bahasa inggris di SMP karena menurut konseli menjadi guru bahasa inggris SD peluangnya dapat dikatakan kecil, konseli sendiri pun juga tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru bahasa inggris di SMA karena konseli merasa siswa-siswa SMA dirasa sulit untuk diajak bekerja sama karena perilaku mereka yang nakal dan sudah memasuki usia remaja. c. Identifikasi cognitive clarityKetika konseli mengatakan untuk menjadi guru di SMP konseli masih terlihat ragu-ragu karena konseli sendiri merasa takut untuk berhadapan dengan siswa-siswa yang nakal yang sulit untuk diatur dan memiliki pikiran yang kritis, disini konseli takut tidak dapat menghadapi siswanya dan tidak tahu apa yang nantinya akan dilakukan. Dari rasa takut ini konseli masih merasa bimbang dengan keputusannya dan konseli juga tidak memiliki pilihan lain karena konseli juga tidak memiliki ketertarikan untuk menjadi guru bahasa inggris di sekolah SMA yang dirasa bahwa siswa SMA lebih sulit untuk diatur daripada siswa SMP karena siswa SMA sudah memasuki masa-masa remaja yang selalu memiliki pikiran sendiri. Pada perkulihan konseli mendapatkan mata kuliah yaitu magang di sekolah sebagai pengajar pada magang pertama konseli ditempatkan pada seko

Recommended

View more >