laporan hasil praktikum lapang

of 76 /76
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM LAPANG EKOLOGI TERESTRIAL KARAKTERISTIK EKOSISTEM DI TAMAN NASIONAL BALURAN OLEH: KELOMPOK 4 IZZAY AFKARINA (111810401005) RIKO ARISANDI (111810401010) KIKI IKROMATUZ (111810401016) M. ARIS HILMAN (111810401024) WULAN NURSYIAM (111810401034) HASA BELLA (111810401035) ANIS BAROKAH (111810401042) ZAENAL MAHMUDI (111810401050) RIZA OKTAVIANA (111810401052) JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Upload: syafiq-ubaidillah

Post on 02-Jan-2016

904 views

Category:

Documents


21 download

TRANSCRIPT

Page 1: Laporan Hasil Praktikum Lapang

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM LAPANG

EKOLOGI TERESTRIAL

KARAKTERISTIK EKOSISTEM DI TAMAN NASIONAL BALURAN

OLEH:

KELOMPOK 4

IZZAY AFKARINA (111810401005)

RIKO ARISANDI (111810401010)

KIKI IKROMATUZ (111810401016)

M. ARIS HILMAN (111810401024)

WULAN NURSYIAM (111810401034)

HASA BELLA (111810401035)

ANIS BAROKAH (111810401042)

ZAENAL MAHMUDI (111810401050)

RIZA OKTAVIANA (111810401052)

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS JEMBER

2013

Page 2: Laporan Hasil Praktikum Lapang

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, berkat serta karunia-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan laporan praktikum lapang yang berjudul “Laporan Hasil Praktikum Lapang Ekologi Terestrial Karakteristik Ekosistem di Taman Nasional Baluran”. Laporan ini kami buat dalam rangka memenuhi praktikum lapang ke Taman Nasional Baluran ,Situbondo.

Ucapan terima kasih tidak lupa penyusun sampaikan kepada pihak-pihak

yang turut menyelesaikan penyusunan makalah ini :

1. Yang terhormat Drs. Moh.Imron Rosyidi,Msc selaku dosen pengampu

mata kuliah Ekologi Terestrial yang telah membimbing kami dalam

penyusunan makalah ini.

2. Yang tercinta kedua orang tua kami yang telah memberikan motivasinya

sehingga laporan studi lapang ini dapat terselesaikan.

3. Serta teman-teman kami yang memberikan semangat dan motivasi

sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan studi lapang ini.

Penyusun menyadari dalam penyusunan laporan studi lapang ini jauh dari

kata sempurna, untuk itu kami selaku penyusun memohon saran dan kritik yang

membangun dari pembaca. Kami berharap dalam penyusunan laporan studi

lapang ini dapat memberikan informasi yang sifatnya membangun dan bermanfaat

dalam kehidupan sehari-hari pembaca.

Penyusun, 25 Mei 2013

Penyusun

Page 3: Laporan Hasil Praktikum Lapang

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Taman Nasional Baluran terletak di ujung timur Propinsi Jawa Timur

atau antara 7°° 45’ – 7 56’ LS dan 113° 59’ 114° 28’ BT berada dalam

wilayah Kabupaten Situbondo. Taman Nasional Baluran memiliki area yang

luas dimana terdapat berbagai macam vegetasi yang ditemukan dan

merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering terdiri dari tipe

vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan

pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun.

Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional

Baluran.

Taman Nasional Baluran merupakan kawasan Konservasi Sumberdaya

Alam yang didalamnya memiliki berbagai macam flora dan fauna dan

ekosistem, yang berarti di dalam kawasan Taman Nasional Baluran terdapat

pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara

bijaksana, untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap

memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Sebagai salah satu kawasan konservasi memiliki beragam manfaat baik

manfaat dalam pemanfaatan skala terbatas maupun manfaat yang berupa

produk jasa lingkungan, seperti udara bersih dan pemandangan alam. Tujuan

pembangunan konservasi sumberdaya alam yaitu mengusahakan terwujudnya

kelestarian sumberdaya alam hayatiserta keseimbangan ekosistemnya,

sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan

masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Taman Nasional Baluran memiliki 3 fungsi utama yaitu fungsi

perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis

tumbuhan dan satwa dan pemanfaatan secara lestari Sumber Daya Alam

Hayati (SDAH) beserta ekosistemnya, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan

penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya,

rekreasi dan pariwisata. Maka dari itu tujuan pengelolaan kawasan Taman

Page 4: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Nasional Baluran adalah melestarikan SDAH dan ekosistemnya agar dapat

memenuhi fungsinya secara optimal. Sasaran utama pengelolaan Taman

Nasional Baluran adalah SDAH, ekosistem dan kawasannya. Tingginya

potensi keanekaragaman hayati dan indahnya panorama alam Baluran,

merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik wisatawan mancanegara

maupun wisatawan nusantara untuk mengunjungi dan menikmatinya. Atas

dasar itu, kami melaksanakan Praktikum Lapang Ekologi Teristrial pada 5

ekosistem, yaitu Ekosistem Pantai Basah, Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem

Savana, Ekosistem Hutan Musim Dan Ekosistem Hutan Evergreen di kawasan

TN Baluran.

Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari

susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam

ekologi hutan, satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa

komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies

tetumbuhan yang menempati suatu habitat. Oleh karena itu, tujuan yang ingin

dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi spesies

dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari

(Tjitrosoepomo,2002)

Analisis vegetasi ini dengan mengamati berbagai macam tumbuhan

berupa pohon, semak dan herba. Dengan pengamatan itu didapatkan densitas,

dominansi dan frekuensi untuk mengetahui nilai penting, sehingga dapat

diketahui karakteristik dari ekosistem yang berada pada Taman Nasional

Baluran.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana karakter khusus dari 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah,

Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim

Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran.

Page 5: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Bagaimana perbedaan spesifik dari 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah,

Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim

Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran.

1.3 Tujuan

Mengetahui karakter khusus 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah,

Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim

Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran.

Mengetahui perbedaan spesifik dari 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah,

Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim

Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran.

Page 6: Laporan Hasil Praktikum Lapang

5 ekosistem (Ekosiste pantai basah, pantai kering, savana,

hutan musim dan hutan evergreen )

Garis sumbu5 Garis transek memasuki vegetasi dengan jarak 20 meter setiap tarnsek

BAB 2 METODE KERJA

2.1 Alat dan bahan

A. Alat

Higrometer

Soil tester

Termometer

Catok

Pita berskala

Pisau besar

Kamera digital

B. Bahan

Tampar ukuran 10 meter

Kapas

Aquadest

Tissue

Talirafia

Kantong plastik

2.2 Cara Kerja

A. Pembuatan plot

- dibuat

- dibuat

Page 7: Laporan Hasil Praktikum Lapang

GAMBAR 1 PLOT PENGAMATAN10 m

10 m5 m

1m

1m

10 m 10 m

20 m

5 m

5 m

- diukut 10 kedalam vegetasi

sebagai titik awal plot

- dibuwat

Page 8: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Semak HerbaPohon

Keterangan:

1. : sumbu Utama

2. : garis transek

3. : Plot Pohan

4. : Plot Semak

5. : Herba

B. Pemngamatan plot

Unsur botik

- diamati

- Dihitung

Untuk menghitung Ideks Nilai Penting (INP) setiap jenis tumbuhan

dilakukan penghitungan sebagai berikut:

a. Pohon

Plot

Jenis tumbuhan (Karakteristik)

Jenis tumbuhan (Karakteristik)

Jenis tumbuhan (Karakteristik)

INP (Indeks Nilai Penting)

-Keliling batang-Basal Area-Dominansi mutlak dan relatif-Frekuensi mutlak dan relatif

INP (Indeks Nilai Penting)

-% penutupan mutlak dan relatif-Dominansi mutlak dan relatif-Frekuensi mutlak dan relatif

INP (Indeks Nilai Penting)

-% penutupan mutlak dan relatif-Dominansi mutlak dan relatif-Frekuensi mutlak dan relatif

- diamati- diamati

- Dihitung - Dihitung

Page 9: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Untuk pohan dilakukan penghitungan Basal Area (BA), dominansi mutlak

dan dominansi relatif, dan frekuensi mutlak dan frekuensi relatif

D = K/∏ *) ∏ = 3,14

Basal Area (BA) = ¼ x ∏ (D)2

Dominansi Mutlak (DM) = ∑spesies A/luas area

Dominansi Relatif (DR) = (DM spesies A/∑ DM seluruh spesies) x

100%

Frekuensi Mutlak (FM) = ∑ plot yang diduduki Spesies A/∑ total

plot

Frekuensi Relatif (FR) = (∑ FM spesies A/∑ frekuensi seluruh

spesies) x 100%

INP = DR + FR

Pi = n/N

H = Pi Ln Pi

b. Semak

Untuk semak dilakukan penghitungan % Penutupan Mutlak dan Relatif,

Dominansi Mutlak dan Relatif, dan Frekuensi Mutlak dan Relatif.

% Penutupan Mutlak (PPM) = Penutupan total spesies A/luas area

% Penutupan Relatif (PPR) = (PPM spesies A/∑ % Penutupan

seluruh spesies) x 100

Dominansi Mutlak (DM) = ∑spesies A/luas area

Dominansi Relatif (DR) = (DM spesies A/∑ DM seluruh spesies) x

100%

Frekuensi Mutlak (FM) = ∑ plot yang diduduki Spesies A/∑ total

plot

Frekuensi Relatif (FR) = (∑ FM spesies A/∑ frekuensi seluruh

spesies) x 100%

INP = DR + FR

Page 10: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Pi = n/N

H = -(Pi Ln Pi)

c. Herba

Untuk semak dilakukan penghitungan % Penutupan Mutlak dan

Relatif, Dominansi Mutlak dan Relatif, dan Frekuensi Mutlak dan Relatif.

% Penutupan Mutlak (PPM) = Penutupan total spesies A/luas area

% Penutupan Relatif (PPR) = (PPM spesies A/∑ % Penutupan

seluruh spesies) x 100

Dominansi Mutlak (DM) = ∑spesies A/luas area

Dominansi Relatif (DR) = (DM spesies A/∑ DM seluruh spesies) x

100%

Frekuensi Mutlak (FM) = ∑ plot yang diduduki Spesies A/∑ total

plot

Frekuensi Relatif (FR) = (∑ FM spesies A/∑ frekuensi seluruh

spesies) x 100%

INP = DR + FR

Pi = n/N

H = Pi Ln Pi

Unsur abiotik

Plot

Soil TesterHigrometer

- Diukur pH, Kelembaban tanah

- Diulan 3 kali

- Setiap ulangan ujung soil tester di

cuci dengan aquadest dan di

keringkan dengan- Diukur kelembaban udara

Dengan memutar

- Diulang 3 kali

Page 11: Laporan Hasil Praktikum Lapang

C. Pengamatan karakter fisik ekosistem

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Analisis Vegetasi Herba

NO Spesies DM DR FM FR INP PI H

1 Spesimen 1 0.066670.5555555

6 0.0666667 1.11111 1.6666667 0.0055556 0.0288498

2 Spesimen 2 0.033330.2777777

8 0.0666667 1.11111 1.3888889 0.0027778 0.0163503

3 Spesimen 3 0.033330.2777777

8 0.0666667 1.11111 1.3888889 0.0027778 0.0163503

Termometer

Daerah Plotting

Layering

- Diukur suhu 1 meter diatas permukaan

dan di pemukaan tanah

- Diulang 3 kali

- Digambar

Page 12: Laporan Hasil Praktikum Lapang

4 Spesimen 15 0.466673.8888888

9 0.0666667 1.11111 5 0.0388889 0.126274

5 Spesimen 16 0.066670.5555555

6 0.0666667 1.11111 1.6666667 0.0055556 0.0288498

6 Spesimen 17 0.133331.1111111

1 0.1333333 2.22222 3.3333333 0.0111111 0.0499979

total 0.8 6.666667 0.4666667 7.7777814.44444

4 0.0666667 0.266672

Dominasi species adalah Spesies 15 (5%) - Spesies 2 dan 3 (1,389%)

ID<1 yaitu 0,26 sehingga data yang diambih adalah baik

Analisis Vegetasi Semak

NO. Spesies DM DR FM FR INP PI H

1spesimen 2 0.55 0.67402 0.1 1.666667

2.3406863 0.00134804 0.0089093

2Spesimen 7 24 29.41176 0.1 1.666667

31.078431 0.05882353 0.1666596

3Spesimen 10 16.3 19.97549 0.2 3.333333

23.308824 0.03995098 0.1286462

4spesimen 11 6.4 7.843137 0.1 1.666667

9.5098039 0.01568627 0.065176

5spesimen 12 11.2 13.72549 0.2 3.333333

17.058824 0.02745098 0.098696

6Spesimen 14 3.5 4.289216 0.1 1.666667

5.9558824 0.00857843 0.0408205

7Spesimen 15 4.8 5.882353 0.1 1.666667

7.5490196 0.01176471 0.0522665

8Spesimen 16 0.1 0.122549 0.1 1.666667

1.7892157 0.0002451 0.0020377

9Spesimen 17 2.4 2.941176 0.1 1.666667

4.6078431 0.00588235 0.0302106

10Spesimen 18 0.3 0.367647 0.1 1.666667

2.0343137 0.00073529 0.0053053

11Spesimen 19 0.2 0.245098 0.1 1.666667

1.9117647 0.0004902 0.0037356

12Spesimen 20 0.1 0.122549 0.1 1.666667

1.7892157 0.0002451 0.0020377

13Spesimen 21 4.7 5.759804 0.2 3.333333

9.0931373 0.01151961 0.0514201

14Spesimen 22 0.1 0.122549 0.1 1.666667

1.7892157 0.0002451 0.0020377

15Spesimen 23 0.5 0.612745 0.1 1.666667

2.2794118 0.00122549 0.0082162

16Spesimen 24 0.2 0.245098 0.1 1.666667

1.9117647 0.0004902 0.0037356

17Spesimen 25 3 3.676471 0.1 1.666667

5.3431373 0.00735294 0.0361225

Page 13: Laporan Hasil Praktikum Lapang

18Spesimen 26 2.1 2.573529 0.2 3.333333

5.9068627 0.00514706 0.0271216

19Spesimen 27 0.8 0.980392 0.1 1.666667

2.6470588 0.00196078 0.0122243

20Spesimen 28 0.1 0.122549 0.1 1.666667

1.7892157 0.0002451 0.0020377

21Spesimen 29 0.3 0.367647 0.1 1.666667

2.0343137 0.00073529 0.0053053

total 81.65 100.061 2.5 41.6667 141.728 0.2001225 0.75272

Dominasi species adalah Spesies 7 (31,07%) - Spesies 16, 20, dan 28 (1,789%)

ID<1 yaitu 0,75 sehingga data yang diambil adalah baik

Analisis Vegetasi Pohon

No Spesies Dm Total BA DR KM KR FM FR INP pi H1 Spesimen 1 2.777781 0.3185 2.38095 0.006 2.38 0.25 4 8.7619048 0.02381 0.088992 Spesimen 2 8.333344 3.1847 7.14286 0.018 7.14 0.25 4 18.285714 0.07143 0.18853 Spesimen 3 1.388891 3.2643 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 0.052754 Spesimen 4 1.388891 3.3439 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 0.052755 Spesimen 5 1.388891 3.1051 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 0.052756 Lamtoro 4.166672 0.9554 3.57143 0.009 3.57 0.5 8 15.142857 0.03571 0.435747 Kersen 1.388891 0.9554 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 0.782498 Spesimen 10 8.333344 3.7420 7.14286 0.018 7.14 0.25 4 18.285714 0.07143 1.376479 Spesimen 11 4.166672 4.4586 3.57143 0.009 3.57 0.5 8 15.142857 0.03571 2.7001910 Spesimen 12 20.83336 22.2930 17.8571 0.045 17.9 0.25 4 39.714286 0.17857 5.3476411 Bauhinia 1.388891 21.6561 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 10.642512 Salak 2.777781 19.0287 2.38095 0.006 2.38 0.25 4 8.7619048 0.02381 20.849313 Serut 29.16671 53.4236 25 0.063 25 0.25 4 54 0.25 40.916114 Spesimen 13 1.388891 35.5892 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 80.455815 Spesimen 14 2.777781 35.8280 2.38095 0.006 2.38 0.25 4 8.7619048 0.02381 158.21116 Spesimen 15 5.555563 36.7834 4.7619 0.012 4.76 0.5 8 17.52381 0.04762 311.07517 Spesimen 16 1.388891 1.7516 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 611.50818 Spesimen 17 1.388891 1.7516 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 1202.1719 Spesimen 18 12.50002 7.8822 10.7143 0.027 10.7 0.25 4 25.428571 0.10714 2363.4220 Spesimen 19 1.388891 6.6879 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 4646.3821 liana sp. 1.388891 6.6879 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 9134.5522 Palmae 1.388891 6.6879 1.19048 0.003 1.19 0.25 4 6.3809524 0.0119 17958

Page 14: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Dominasi species adalah Spesies 12 (39,7%) - Spesies 5 (6,38%)

ID<1 yaitu 0,75 sehingga data yang diambil adalah baik

Stratifikasi Hutan Pantai Kering

Stratifikasi Hutan Pantai Basah (Bakau)

Page 15: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Stratifikasi Hutan Savana

Stratifikasi Hutan Evergreen

Page 16: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Stratifikasi Hutan Musim

Nb: = Herba

= semak

= pohon

Page 17: Laporan Hasil Praktikum Lapang

3.2. Pembahasan

Taman Nasional Baluran merupakan salah satu taman nasional terbesar di

Indonesia. Pada Taman Nasional ini terdapat bnyak ekosistem di dalamnya yaitu

ekosistem hutan pantai basah, hutan pantai kering, hutan savana, hutan evergree

dan hutan musim. Dalam pembahasan ini yang menjadi focus dalam kelompok

kami adalah ekosistem hutan evegreen. Ekosistem yang lain merupakan

perbandingan untuk mengetahui karakteristik ekosistem secara umum.

A. Hutan Evergreen

Hutan hujan tropika merupakan jenis wilayah yang paling subur. Hutan

jenis ini terdapat di sekitar wilayah tropika atau dekat wilayah tropika di bumi ini

yang menerima curah hujan berlimpah sekitar 2000-4000 mm setahunnya.

Suhunya tinggi (rata-rata sekitar 25-26oC) dan dengan kelembaban rata-rata

sekitar 80%. Komponen dasar hutan tersebut adalah pohon tinggi dengan tinggi

maksimum rata-rata 30 meter (Ewusie, 1980).

Pada umumnya wilayah hutan hujan tropis dicirikan oleh adanya 2 musim

dengan perbedaan yang jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Ciri

lainnya adalah suhu dan kelembapan udara yang tinngi, demikian juga dengan

curah

hujan, sedangkan hari hujan merata sepanjang tahun (Walter, 1981).

Hutan hujan tropika (tropical rain forest) memiliki ciri-ciri sebagai berikut

(Soerianegara dan Indrawan, 2002):

1. Mempunyai curah hujan yang tinggi, berkisar antara 2000 – 3000 cm / th.

2. Mempunyai perbedaan temperatur yang rendah.

3. Mempunyai kelembaban udara yang tinggi.

4. Mempunyai tajuk yang berlapis-lapis atau berstrata.

5. Mempunyai tingkat keaneka ragaman jenis atau Biodeversitas yang tinggi

Page 18: Laporan Hasil Praktikum Lapang

6. Selalu hijau atau evergreen.

Hutan hujan tropis yang berada di Taman Nasional Baluran

berbeda dengan hutan hujan tropis yang berada di garis kahtulistiwa. Umumnya

hutan hujan tropis terlihat sejuk dan gelap karena jarang masuk cahaya matahari

pada hutan ini. Selain itu pada hutan ini membentuk kanopi atau sebuah tudung

atap yang sangat lebat sehingga menyebabkan banyak tanaman tidak bisa hidup di

bawa kanopi tersebut karena rimbunnya kanopi dan jarangnya cahaya matahari

yang masuk. Tetapi berbeda dengan hutan hujan tropis yang berada di Taman

Nasional Baluran, meskipun kanopi tumbuh sangat lebat pada hutan ini masih bisa

tumbuhan lain untuk hidup di dasar lantai hutan karena disinyalir pada air tanah

yang berasal dari mata air Gunung Baluran yang mengalir dibawah tanah karena

ada lapisan batuan kedap air dan dapat dijangkau oleh akar tanaman dan didukung

oleh tekstur tanah yang termasuk Poin Mikro mengakibatkan tanah mengikat air

yang diterimanya sehingga tidak meresap sampai ke dalam tanah. 

Hutan hujan merupakan suatu komunitas yang sangat kompleks dengan

ciri yang utama adalah pepohonan dengan berbagai ukuran. Kanopi hutan

menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan di luarnya; cahaya

kurang dan kelembaban yang lebih tinggi dengan suhu yang rendah (Whitmore,

1998). ciri hutan hujan tropika yang mencolok yaitu penutupnya mayoritas terdiri

dari tanaman berkayu berbentuk pohon. Sebagian besar tanaman pemanjat dan

beberapa jenis epifit yang berkayu (woody). Tumbuhan bawah terdiri dari

tumbuhan berkayu, semai (seedling) dan pancang (sapling), belukar (shurb) dan

pemanjat-pemanjat muda. Tumbuhan herba yang terdapat ialah beberapa epifit

sebagai bagian dari tumbuhan bawah dalam proporsi yang relatif kecil.

Soerianegara dan Indrawan (2005) membagi formasi hutan Indonesia ke dalam

tiga zone vegetasi, yaitu :

1. Zone barat, yang berada dibawah pengaruh vegetasi Asia, meliputi pulau

Sumatera dan Kalimantan dengan jenis-jenis kayu yang dominan dari

famili Dipterocarpaceae.

Page 19: Laporan Hasil Praktikum Lapang

2. Zone timur, berada dibawah pengaruh Australia meliputi vegetasi pulau

Maluku, Nusa Tenggara dan Irian. Jenis dominan adalah dari famili

Araucariaceae dan Myrtaceae.

3. Zone peralihan, dimana pengaruh dari kedua benua tersebut bertemu yaitu

pulau Jawa dan Sulawesi, terdapat jenis dari famili Araucariaceae,

Myrtaceae dan Verbenaceae. Sekalipun dapat dikatakan pemisahan

demikian tidaklah berarti bahwa batas tersebut merupakan garis tegas dari

penyebaran vegetasi. Selanjutnya dikemukakan bahwa penyebaran hutan

hujan tropis di Indonesia terdapat terutama di pulau Sumatera,

Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Irian.

Hutan hujan tropis terkenal karena adanya pelapisan atau stratifikasi. Ini

berarti bahwa populasi campuran didalamnya disusun pada arah vertikal dengan

jarak teratur secara tidak berkesinambungan. Meskipun ada beberapa keragaman

yang perlu diperhatikan kemudian, hutan menampilkan tiga lapisan pohon yaitu

lapisan atas (tingkat A) terdiri dari pepohonan setinggi 30-45 m dengan tajuk yang

diskontinu, lapisan pepohonan kedua (tingkat B) terdiri dari pohon dengan tinggi

sekitar 18-27 m dengan tajuk yang kontinu sehingga membentuk kanopi, lapisan

pepohonan ketiga (tingkat C) terdiri dari pepohonan dengan tinggi sekitar 8-14 m

cenderung membentuk lapisan yang rapat. Selain laisan pepohonan juga terdapat

semak belukar yang tingginya kurang dari 10 m dan yang terakhir adalah lapisan

terna yang terdiri dari tetumbuhan yang lebih kecil yang merupakan kecambah

dari pepohonan yang lebih besar dari bagia atas atau spesies terna (Ewusie, 1980).

Soerianegara dan Indrawan (2005) menyatakan bahwa di dalam

masyarakat hutan, sebagai akibat persaingan, jenis-jenis tertentu lebih berkuasa

(dominan) dari jenis yang lain. Pohon-pohon tinggi dari stratum (lapisan) teratas

mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah, merupakan pohon yang mencirikan

masyarakat hutan yang bersangkutan. Hutan hujan tropika terkenal dengan

stratifikasinya. Ini berarti bahwa populasi campuran di dalamnya tersusun secara

vertikal dengan jarak teratur secara tidak berkesinambungan (Ewusie,1980).

Page 20: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Stratifikasi tajuk dalam hutan hujan misalnya sebagai berikut (Soerianegara dan

Indrawan, 2005) :

1. Stratum A : Lapisan teratas, terdiri dari pohon-pohon yang tinggi totalnya

30 m keatas. Biasanya mempunyai tajuk diskontinu, batang pohon tinggi

dan lurus, batang bebas cabang (clear bole) tinggi. Jenis-jenis pohon dari

stratum ini pada waktu mudanya, tingkat semai hingga sapihan (seedling

sampai sapling), perlu naungan sekedarnya, tetapi cukup untuk

pertumbuhan selanjutnya perlu cahaya yang cukup banyak.

2. Stratum B : Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 20-30 m, tajuknya

kontinu, batang pohon bisanya banyak bercabang, batang bebas cabang

tidak terlalu tinggi. Jenis-jenis ppohon dari stratum ini kurang memerlukan

cahaya atau tahan naungan (toleran).

3. Stratum C : Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 4-20 m, tajuknya

kontinu. Pohon-pohon dalam stratum ini rendah, kecil, banyak bercabang.

Di samping ketiga strata pohon tersebut terdapat pula strata perdu-semak dan

tumbuh-tumbuhan penutup tanah, yaitu :

4.    Stratum D : Lapisan perdu dan semak. Tingginya 1-4 m.

5.    Stratum E : Lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah (ground cover),

tingginya 0-1 m.

Berdasarkan komponen penyusunnya hutan hujan tropika meliputi

(Ewusie, 1980) :

1. Komponen abiotik yang terdiri dari

a. Suhu. Iklim hutan hujan tropika ditandai oleh suhu yang tinggi dan

sangat rata. Rataan suhu tahunan berkisar antara 200C dan 280C

dengan suhu terendah pada musim hujan dan suhu tertinggi pada

musim kering. Setiap naik 100 m di pegunungan, rataan suhu itu

berkurang 0.4 – 0.70C.

Page 21: Laporan Hasil Praktikum Lapang

b. Curah hujan. Hutan hujan tropik menerima curah hujan berlimpah

sekitar 2000 – 3000 mm dalam setahunnya.

c. Kelembaban atmosfer. Kelembaban hutan hujan tropika rata-rata

sekitar 80%. Pada tumbuhan teduhan lamanya kelembaban

maksimum bertambah dari sekitar 14 jam selam musim kering

menjadi 18 jam pada musim hujan.

d. Angin. Di wilayah tropika kecepatan angin biasanya lebih rendah

dan angin topan tidak begitu sering. Rataan kecepatan angin

tahunan di daerah hutan hujan pada umumnya kurang dari 5

km/jam dan jarang melampaui 12 km/jam.

e. Cahaya. Meskipun jumlah sinar matahari harian tidak pernah

kurang dari 10 jam dimanapun diwilayah tropika, tetapi jumlah

sinar matahari cerah sesungguhnya selalu kurang dari jumlah

tersebut diatas, karena derajat keberawanan yang tinggi.

f. Karbondioksida. Karbondioksida dianggap penting dari segi

ekologi karena bersama-sama dengan cahaya merupakan faktor

pembatas bagi fotosintesis dan perkembangan tumbuhan.

Sebelum dilakukan pengukuran komponen faktor biotik terlebih

dahulu dilakukan pengukuran faktor biotik hutan hujan tropis.

Pengukuran yang dilakukan yaitu kelembapan udara , pH tanah dan

kelembapan tanah, suhu dan kecepatan angin. Didapatkan bahwa data hasil

pengukuran lima kelompok diambil rata-rata dari pengukuran tersebut

bahwa kelembapan udara 9,14%, pH tanah 5,7, kelembapan tanah 16 %,

suhu 26,3°C dan kecepatan angin 5,6 km/jam.

Faktor abiotik ini sangat berhubungan satu sama lain dalam hal

produktivas dalam ekosistem. Seperti halnya suhu, cahaya matahari dan

curah hujan. Hutan hujan memiliki curah hujan yang sangat tinggi setiap

tahun dan hal tersebut dipengaruhi oleh suhu karena akan menghasilkan

kelembapan yang sangat tinggi untuk meningkatkan produktivitas. Pada

ekosistem ini diapatkan pH tanah bersifat asam, itu menunjukkan bahwa

kualitas tanah baik karena tanah dengan ber pH asam dapat menyediakan

Page 22: Laporan Hasil Praktikum Lapang

hara terbanyak sehigga tumbuhan dapat tumbuh baik pada tempat tersebut.

Untuk faktor abiotik yang lain hasil yang didapatkan sudah sesauai dengan

faktor abiotik yang sesuai pada hutan hujan tropis sehingga kualitas

vegetasi juga baik.

2. Komponen biotik

Komponen dasar hutan hujan tropika adalah pepohonan yang

tergabung dalam tumbuhan terna, perambat, epifit, pencekik, saprofit, dan

parasi.

Vegetasi yang mendominasi adalah golongan semak, karena

pencahayaan di ekosistem tersebut sedikit. Sehingga tanaman yang ada

saling bersaing untuk mendapatkan cahaya.

Selain didapatkan faktor biotik berupa tumbuhan tetapi juga

didapatkan hewan pada plot ekosistem hutan hujan tropis pada Taman

Nasional Baluran yaitu hewan invertebratra dan hewan vertebrata. Hewan

invertebrata yang didapatkan pada plot (1xi) m2 yaitu cangkat bekicot,

semut hutan, hewan berkaki banyak, hewan seperti kumbang,, ulat,

bekicot, serangga, laba-laba abu-abu, nyamuk, lalat kecil, kelabang, semut

hitam, laba-laba putih, rayap, kupu-kupu, semut, laba-laba. Dan hewan

yang memiliki jumlah paling terbanyak adalah hewan berkaki banyak

dengan jumlah 186. Untuk hewan vertebrata pada plot (5x5) m2 tidak

ditemukan hewan apapun. Sehingga hewan yang mendominasi ekosistem

hutan hujan tropis adalah hewan vertebrata.

Dari hasil pengamatan biotik yang dilakukan di Taman Nasinal

Baluran dengan cara membuat plot di beberapa ekosistem, ditemukan

sejumlah spesies tanaman dari habitus pohon, semak dan herba yang

tumbuh di ekosistem evergreen. Beberapa tanaman pohon diantaranya

Serut dengan INP 54 %, Lamtoro dengan INP 15,14 %, Salak dengan INP

8,76 %, Bauhinia dangan INP 6,38 %, Kersen dengan INP 6,38 %, Liana

sp. dengan INP 6,38 %, Palmae dengan INP 6,38 %, dan beberapa

tanaman lainnya yang tidak teridentifikasi sehingga diberi nama Spesimen

1 dengan INP 8,76%, Spesimen 2 dengan INP 18,28 %, Spesimen 3

Page 23: Laporan Hasil Praktikum Lapang

dangan INP 6,38 %, Spesimen 4 dangan INP 6,38 %, Spesimen 5 dengan

INP 6,38 %, Spesimen 10 dengan INP 18,28 %, Spesimen 11 dangan INP

15,14 %, Spesimen 12 dengan INP 39,71 %, Spesimen 13 dengan INP

6,38%, Spesimen 14 dengan INP 8,76 %, Spesimen 15 dangan INP 17,52

%, Spesimen 16 dangan INP 6,38 %, Spesimen 17 dengan INP 6,38 %,

Spesimen 18 dengan INP 25,42 %, Spesimen 19 dangan INP 6,38 %. Dari

data INP tersebut dapat diketahui bahwa Dominansi spesies adalah

Spesimen 12 (39,71 %) – spesimen 5 (6,38 %). Indeks Dominansi (ID) > 1

jadi pertumbuhan Pohon pada ekosistem Evergreen baik.

Tanaman berhabitus semak antara lain Spesimen 2 dengan INP

2,34 %, Spesimen 7 dengan INP 31,07 %, Spesimen 10 dengan INP 23,30

%, Spesimen 11 dengan INP 9,5 %, Spesimen 12 dengan INP 17,05 %,

Spesimen 14 dengan INP 5,95 %, Spesimen 15 dengan INP 7,54 %,

Spesimen 16 dengan INP 1,78 %, Spesimen 17 dengan INP 4,60 %,

Spesimen 18 dengan INP 2,03%, Spesimen 19 dengan INP 1,9 %,

Spesimen 20 dengan INP 1,78 %, Spesimen 21 dengan INP 9,09 %,

Spesimen 22 dengan INP 1,78 %, Spesimen 23 dengan INP 2,27 %,

Spesimen 24 dengan INP 1,91 %, Spesimen 25 dengan INP 5,34 %,

Spesimen 26 dengan INP 5,90 %, Spesimen 27 dengan INP 2,64 %,

Spesimen 28 dengan INP 1,78 %, Spesimen 29 dengan INP 2,03 %. Dari

data INP tersebut dapat diketahui bahwa Dominansi spesies adalah

Spesimen 7 (31,07 %) – Spesimen 16, 20, dan 28 (1,78 %). Indeks

Dominansi (ID) > 2 jadi pertumbuhan Semak pada ekosistem Evergreen

sangat baik.

Beberapa tanaman berhabitus herba antara lain Spesimen 1 dengan

INP 1,67 %, Spesimen 2 dengan INP 1,389 %, Spesimen 3 dengan INP

1,389 %, Spesimen 15 dengan INP 5 %, Spesimen 16 dengan INP 1,67 %,

Spesimen 17 dengan INP 3,33%. Dari data INP tersebut dapat diketahui

bahwa Dominansi spesies adalah Spesimen 15 (5 %) – Spesimen 2 dan

Page 24: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Spesimen 3 (1,389 %). Indeks Dominansi (ID) > 1 jadi pertumbuhan

Herba pada ekosistem Evergreen baik.

B. Hutan Pantai Basah ( Mangrove)

Menurut FAO, Hutan Mangrove adalah komunitas tumbuhan yang tumbuh

di daerah pasang surut di atas rawa-rawa berair payau dan dipengaruhi oleh

pasang surut air laut. Kondisi habitat tanah berlumpur, berpasir, atau lumpur

berpasir. Ekosistem tersebut merupakan ekosistem yang khas untuk daerah tropis

dan sub tropis, terdapat di derah pantai yang berlumpur dan airnya tenang

(gelombang laut tidak besar).

Ekosistern hutan mangrove disebut juga ekosistem hutan payau karena

terdapat di daerah payau (estuarin), yaitu daerah perairan dengan kadar

garam/salinitas antara 0,5 °/oo dan 30°/oo Ekosistem hutan bakau bersifat khas,

baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi sanilitas

tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air

laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini,

dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati

proses adaptasi dan evolusi tanah. 

Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya

pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang. Pantai-pantai ini tepat di

sepanjang sisi pulau-pulau yang terlindung dari angin, atau serangkaian pulau atau

pada pulau massa daratan di belakang terumbu karang di lepas pantai yang

terlindung.

Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau, tumbuhan

beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove

menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan

kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona

terluar, mengembangkan akar tunjang untuk bertahan dari ganasnya gelombang.

Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada(Sonneratia spp.) menumbuhkan

Page 25: Laporan Hasil Praktikum Lapang

akar napas yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari

udara. Pohon kandeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut(knee root),

sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang

berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur,

sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Sistem dari jenis perakaran

ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen

atau bahkan anaerob.

Vegetasi yang terdapat dalam ekosistem hutan payau didominasi oleh

tumbuh-tumbuhan yang mempunyai akar napas atau pneumatofora (Ewusie,

1990).

Di samping itu, spesies tumbuhan yang hidup dalam ekosistem hutan

payau adalah spesies tumbuhan yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi

terhadap salinitas payau dan harus hidup pada kondisi lingkungan yang demikian,

sehingga spesies tumbuhannya disebut tumbuhan halophytes obligat. Tumbuh-

tumbuhan itu pada umumnya merupakan spesies pohon yang dapat mencapai

ketinggian 50 m.

Ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi yang sangat kompleks, antara

lain sebagai peredam gelombang laut dan angin badai, pelindung pantai dari

proses abrasi dan erosi, penahan lumpur dan penjerat sedimen, penghasil detritus,

sebagai tempat berlindung dan mencari makan, serta tempat berpijah berbagai

spesies biota perairan payau, sebagai tempat rekreasi, dan penghasil kayu. Di

samping itu, ekosistem hutan payau juga sebagai tempat/habitat berbagai satwa

liar, terutama spesies burung/aves dan mamalia, sehingga kelestarian hutan payau

akan berperan dalam melestarikan berbagai satwa liar tersebut.

Sebelum mengidentifikasi faktor biotik yang hidup di hutan mangrove,

kami mengidentifikasi faktor abiotiknya terlebih dahulu. Berdasarkan hasil

pengamatan kami , kelembaban udara di daerah hutan mangrove ini berkisar ±72

% ( menunjukkan radiasi matahari di daerah ini sebenarnya cukup tinggi namun

karena adanya angin yang bertiup cukup kencang menyebabkan di daerah ini

memiliki lelembaban udara yang relative agak tinggi), ph tanah ±

Page 26: Laporan Hasil Praktikum Lapang

6,4( menunjukkan bahwa didaerah ini memiliki tingkatan keasaman tanah yang

rendah )dengan kelembaban tanahnya ±14,56, kecepatan anginnya ±0,34 m/s,

suhu pada permukaan tanah ±28◦C dan suhu pada 1 meter diatas permukaan tanah

±28,5◦C (menunjukkan suhu didaerah ini sedang, ditandai dengan adanya

hembusan angin yang sepoi-sepoi.

Faktor biotic yang hidup disekitar hutan bakau pada plot kami diantaranya,

hutan ini dihuni oleh jenis flora pohon bakau (Rhizophora spp.), yang tumbuh di

zona terluar, dengan cirri-ciri memiliki akar tunjang sebagai perrtahanan dari

ganasnya gelombang. Untuk jenis tumbuhan lain tidak kami temukan selainnya,

baik dalam plot 1x1m, 5x5m, maupun pada plot 10x10m. untuk jenis fauna yang

kami temukan pada plot 1x1m diantaranya kecomang, keong mas, dan semut

merah (hewan invertebrate) sedangkan pada plot 5x5m dan 10x10m tidak

ditemukan jenis hewan vertebrata).

Dari perhitungan beberapa data tiap-tiap kelompok kami dapatkan data

kumulatif untuk indeks nilai penting (INP) jenis pohon bakau di hutan mangrove

ini adalah 300, dengan nilai kelimpahan mutlak (KM) 0,046, kelimpahan

relativenya (KR) 100, persentase penutupan mutlak adalah (DM) 35,595781,

persentase penutupan relatifnya (DR) 100, frekuensi mutlak jenis bakau (FM) 1

dan frekuensi relativenya (FR) 100. Sehingga dapat disimpulkan keanekaragaman

jenis tumbuhan di hutan mangrove rendah dikarenakan jenis spesies yang hidup

didaerah ini sedikit dan hanya ada spesies yang dominan.

C. Ekosiste Hutan Musim

Ekosistem hutan musim merupakan ekosistem hutan campuran yang

berada di daerah beriklim muson (monsoon), yaitu daerah dengan perbedaan

antara musim kering dan basah yang jelas. Tipe ekosistem hutan musim terdapat

pada daerah-daerah yang memiliki tipe iklim C dan D (tipe iklim menurut

klasifikasi Schmidt dan Ferguson) dengan rata-rata curah hujan 1.000-2.000 mm

Page 27: Laporan Hasil Praktikum Lapang

per tahun dengan rata-rata suhu bulanan sebesar 21°-32°C(Kusmana & Istomo,

1995).

Penyebaran lokasi ekosistem hutan musim meliputi wilayah negara-negara

yang beriklim musim (monsoon), misalnya di India, Myanmar, Indonesia, Afrika

Timur, dan Australia Utara. Di Indonesia, tipe ekosistem hutan musim berada di

Jawa (terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur), di kepulauan Nusa Tenggara,

Maluku, dan Irian( Arief,1994).

Vegetasi yang berada dalam ekosistem hutan musim didominasi oleh

spesies-spesies pohon yang menggugurkan daun di musim kering, sehingga type

ekosistem musim disebut juga hutan gugur daun atau deciduous forest. Pada

ekosistem hutan ini umumnya hanya memiliki satu lapisan tajuk atau satu stratum

dengan tajuk-tajuk pohon yang tidak saling tumpang-tindih, sehingga masih

banyak sinar matahari yang bisa masuk hutan sampai ke lantai hutan, apalagi pada

saat sedang gugur daun. Hal ini memungkinkan tumbuh dan berkembangnya

berbagai spesies semak dan herba yang menutup lantai hutan secara rapat,

sehingga menyulitkan bagi orang untuk masuk ke dalam hutan(

Pada musim kering, mayoritas pepohonan di hutan musim menggugurkan

semua daunnya, tetapi lamanya daun gugur bergantung kepada persediaan air

dalam tanah, dan hal demikian itu dapat berbeda-beda antartempat dalam hutan

yang sama. Sebagai contoh untuk tempat-tempat yang ada di pinggir sungai yang

selalu ada cukup air, menyebabkan daun-daun pohon gugur secara bergantian,

bahkan di sini tidak setiap spesies pohon menggugurkan semua daunnya. Pada

akhir musim kering, banyak dijumpai pohon yang mulai berbunga. Transpirasi

melalui bunga sangat kecil, sehingga tidak mengganggu keseimbangan air dalam

tubuh tumbuhan. Kemudian setelah masuk musim hujan, pepohonan mampu

memproduksi daun baru, buah, dan biji, sepanjang air tanah cepat tersedia bagi

tumbuhan.

Bunga yang dihasilkan oleh pepohonan di hutan musim sering berukuran

besar dan memiliki warna yang terang, dan berbeda jika dibandingkan dengan

Page 28: Laporan Hasil Praktikum Lapang

bunga yang dihasilkan oleh pepohonan di hutan hujan tropis (pohon yang selalu

hijau = evergreen). Bunga pohon di hutan musim umumnya kelihatan pada bagian

luar tajuk, sehingga sangat mudah dilihat oleh binatang atau serangga- serangga

penyerbuk.

Spesies pepohonan yang ada pada ekosistem hutan musim antara lain

Tectona grandis, Dalbergia latifolia, Acacia leucophloea, Schleieera oleosa,

Eucalyptus alba, Santalum album, Albizzia chinensis, dan Timonius cerysus.

Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut, hutan musim dibedakan menjadi

dua zona atau wilayah sebagai berikut

1. Zona 1 dinamakan hutan musim bawah karena terletak pada daerah

dengan ketinggian tempat 0-1.000 m dari permukaan laut.

2. Zona 2 dinamakan hutan musim tengah dan atas karena terletak pada

daerah dengan ketinggian tempat 1.000-4.100 m dari permukaan laut.

1. Zona Hutan Musim Bawah

Spesies-spesies pohon yang merupakan ciri khas tipe ekosistem hutan

musim bawah di daerah Jawa antara lain Tectona grandis, Acacia leucophloea,

Aetinophora fragrans, Albizzia chinensis, Azadirachta indica, dan Caesalpinia

digyna. Di kepulauan Nusa Tenggara dijumpai spesies-spesies pohon yang

menjadi ciri khas hutan musim, yaitu Eucalyptus alba dan Santalum album,

sedangkan spesies pohon khas hutan musim di Maluku dan Irian antara lain

Melaleuca leucadendron, Eucalyptus spp., Corypha utan, Timonius cerycus, dan

Banksia dentata.

2. Zona Hutan Musim Tengah dan Atas

Spesies pohon yang merupakan ciri khas ekosistem hutan musim tengah

dan alas adalah sebagai berikut. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur tessrdapat

pohon Casuarina junghuhniana sebagai spesies pohon dominan dan khas untuk

Page 29: Laporan Hasil Praktikum Lapang

tipe ekosistem hutan musim tengah dan atas. Hutan musim tengahs dan atas di

daerah Indonesia Timur mengandung spesies pohon khas untuk sekosistem

tersebut, yaitu Eucalyptus spp. Adapun spesies pohon khas untuk hutan musim

tengah dan alas di daerah Sumatra yaitu Pinus merkusii.

Karakteristik hutan musim pada taman nasioanal baluran dipengaruhi oleh

adanya factor biotik dan faktor abiotik

a. Faktor biotik

Factor biotik dicirikan oleh jenis tumbuhan dan jenis hewan yang hidup

pada ekosistem tersebut, jenis tumbuhan yang hidup pada ekosistem hutan musim

di taman nasional baluran didominasi oleh tumbuhan jenis semak seperti family

Mimosaceae dan beberapa jenis pohon dianteranya Acacia sp,

Faktor biotik lainnya adalah hewan, jenis hewan yang dapat ditemukan

pada pengamtan ekosistem hutan musim di taman nasional baluran banyak hewan

jenis hewan avertebrata seperti serangga. Hal ini menandakan hewan yang dapat

bertahan pada ekosistem hutan musim adalah hewan jenis serangga seperti jenis

semut hitam.

b. Faktor Abiotik

Faktor abiotikyangn mempengaruhi karakteristik pada ekosistem hutan

musim di taman nasional baluran antara lain kecepatan angin, PH, kelembaban

udara kelmbaban tanah, suhu udara, intensitas cahaya

Pada pengamatan ekosistem hutan musim yang telah dilakukan pada

praktikum lapang kemarin didapatkan hasil sebagai berikut:

1. Plot 1X1m adalah plot yang digunakan untuk menganalisis jenis herba

yang terdapat dalam ekosistem hutan musim. Selain untuk analisis herba,

disini juga digunakan untukan untuk analisis hewan invertebrata. Dari

hasil kerja dilapanng didapatkan hasil sebagai berikut:

Page 30: Laporan Hasil Praktikum Lapang

a. Plot 1 X 1m pertama

Dalam plot 1X1m pertama didaptkan beberapa spesimen yaitu:

Spesimen 39 dengan ciri-ciri morfologi sebagai berikut:

- Batang berambut

- Ukuran daun kecil

- Bentuk daun oval

- Daun majemuk ganda dua

Spesimen 39 ini memiliki INP sebesar 30%. Dari INP yang sebesar

itu menunjukkan bahwa tumbuhan ini tidak terlalu mendominasi

dari jenis herba yang ada disana.

Spesimen 42 dengan ciri-ciri morfologi sebagai berikut:

- Daun berambut

- Bunga didominasi oleh kelopak

- Memiliki warna mahkota kuning

Spesimen 42 ini memiliki INP sebesar 65%. Sehingga dapat

dianggap bahwa spesimen ini lah yang mendominasi ekosistem

hutan musim pada plot 1X1m yang pertama dari kelompok herba.

b. Plot 1X1m kedua

Dalam plot 1X1m kedua kedua didapatkan beberapa spesimen, yaitu:

Spesimen 39 dengan ciri morfologi yang sama dengan diatas.

Adapun INP dari spesimen ini sebesar 40%. Dari hal ini

mencerminkan bahwa spesimen 39 memiliki kenaikan jumlah

dalam dominasi herba dalam plot 1X1m

Spesimen 42 dengan ciri morfologi yang sama dengan sebelumnya.

Memiliki INP 60%, dengan INP ini menunjukkan bahwa

memanglah spesimen 42 yang mendominasi ekosiste hutan musim

dari kelompok herba.

c. Plot 1X1m ketiga

Dalam plot 1X1m ketiga ini didapatkan spesimen 5 dengan ciri morfologi

sebagai berikut:

- Daun berambbut

Page 31: Laporan Hasil Praktikum Lapang

- Daun tunggal

- Akar serabut

Pada spesimen ini didapatkan INP 100%, berarti dominasi penuh pada plot

ke 3 adalh keseluruhan spesimen 5.

Apabila ketiga spesimen ini diambil rata-rata dan dihitung dengan hukum

shanon winner didapatkan 1<H<3 maka keanekaragaman herba pada ekositem

hutan musim sedang. Karena dapat dilihat dari spesimen yang ditemukan hanya

beberapa jenis saja.

Adapun hewan invertebrata yang didapatkan dalam plot 1X1m adalah: semut,

lalat, semut hitam, lalat, tawon, dan belalang. Lalu dilakukan perhitungan untuk

mengetahui keanekaragaman invertebrata dalam plot 1X1 m. Ternyata yang

didapatkan adalah sedang, karena 1<H<3.

2. Plot 5X5 m adalah plot yang digunakan untuk analisis jenis semak yang

terdapat dalam ekosistem hutan musim. Didapat data sebagai berikut:

Plot 5X5 m didapat spesimen semak, yaitu:

Spesimen 3 dengan ciri morfologi:

- Permukaan daun kasap

- Daun tunggal

- Pertulangan daun menjari

Memiliki INP sebesar 21%, mengartikan bahwa dominasi dari jenis

ini cukup.

Spesimen 4 dengan ciri morfologi:

- Daun majemuk

- Tepi bergerigi

- Bunga muncul dinodus

- Batang berduri

- Akar tunggang

Memilliki INP sebesar 13%, berarti bahwa spesimen ini dominasi rendah

di ekosistem hutan musim.

Spesimen 7 dengan ciri morfologi:

Page 32: Laporan Hasil Praktikum Lapang

- Tepi daun bergerigi

- Memiliki ala pada daun

- Perakaran tunggang

Memiliki INP sebesar 31%, berarti spesimen ini yang mendominasi pada

ekosistem hutan musim.

Spesimen 8 dengan ciri morfologi:

- Daun bulat lonjong

- Batang berduri

- Perakaran tunggang

Memiliki INP sebesar 27%, berarti spesimen ini cukup mendominasi pada

ekosistem hutan musim.

Spesimen 9 dengan ciri morfologi:

- Permukaan atas dan bawah daun licin

- Tepi daun bergelombang

- Daun tunggal

Memiliki INP sebesar 19%, berarti spesimen ini dominasi terhadap

ekosistem rendah.

Dari keseluruhan data diatas kemudian dihitung keragamannya, ternyata

nilai H > 2, maka keanekaragaman semak pada ekosistem hutan musim

cukup tinggi.

3. Plot 10X10 m merupakan pot yang digunakan untuk analisis pohon dan

hewan vertebrata. Adapun spesies yang diapatkan adlah sebgai berikut:

Akasia dengan ciri mofologi:

- daun tunggal

- bentuk daun jorong

- tepi daun bergelombang

memiliki INP sebesar 91.78%, berarti bahwa hutan musim untuk jenis

pohon didominasi sangat oleh akasia.

Spesimen 20 dengan ciri morfologi :

- Batang memiliki duri pada ndus

Page 33: Laporan Hasil Praktikum Lapang

- Daun tunggal

- Daun bentuk oval, berkarang

- Permukaan daun licin

Memiliki INP sebesar 76.031, berarti spesimen ini mendominasi hutan

musim dari jenis pohon.

Spesimen 21 dengan ciri morfologi:

- Cara tumbuh merambat

- Ujung daun bertorehdalam

- Memiliki tendril

- Permukaan daun licin

Memiliki INP sebesar 29.401%, berarti dominasi dari jenis ini cukup

rendah.

Dari keseluruhan data ini kemudian dihitung keanekaragamannya.

Sehingga didapatkan hasil H<1, maka keanekaragaman pohon pada hutan

musim sangatlah rendah.

Setelah membahas tentang faktor biotik yang terdapt dalam hutan musim,

selanjutnya dibahas tentang faktor biotik dalm hutan musim. Adapun faktor-faktor

biotik yang diamati adalah sebagai berikut:

a. Kecepatan Angin

Merupakan kecepatan udara yang bergerak secara horizontal pada

ketinggian diatas tanah. Perbedaan tekanan udara antara asal dan tujuan

angin merupakan faktor yang menentukan kecepatan angin. Angin

memiliki fungsi yang besar bagi keberadaan makhluk hidup. Salah satunya

adalah untuk membangtu penyerbukan tumbuhan.

Adapun kecepatan angin yang terdapat pada hutan musim didapat sebesar

0.221m/s. Maka disini kecepatan angin sangatlah rendah, tidak salah

apabila keadaan huatn musim kering dan panas. Serta keanekaragaman

tumbuhan rendah karena minimnya proses penyerbukan.

Kecepatan angin yang ideal adalah 19-35 km/jam. Pada keadaan kecepatan

angin yang tidak kencang, serangga penyerbuk bisa lebih aktif membantu

Page 34: Laporan Hasil Praktikum Lapang

terjadinya persarian bunga. Sedangkan pada keadaan kecepatan angin

kencang, kehadiran serangga penyerbuk menjadi berkurang sehingga akan

berpengaruh terhadap keberhasilan penangkaran benih.

b. Kelembaban Udara

Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air

selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kelembaban udara juga

berpengaruh pada keberadaan organisme karena membantu dalam proses

metabolisme tubuhnya. Pada pengamatan kelembaban udar didapatkan

hasil 70.33 mmHg disini tidak terlalu tinggi. Karena masih dalam taraf

30% kelembaban udara yang dimilki.

Adapun kelembaban udara yang baik untuk organisme adalah 6-7%.

Berarti pada hutan musim keadaannya terlalu lembab. Menyebabkan

banyak organisme yang mudah terserang penyakit dengan keadaan yang

sangat lembab.

c. pH dan Kelembaban Tanah

pH tanah adalah tingkat keasaman yang dikandung oleh tanah. pH ini

berfungsi pula untuk metabolisme organisme. Pada pengukuran pH tanah

di hutan musim didapatkan 6.333. hampir mendekati netral, maka dapt

dikatan baik keadaan tanah di hutan musim. pH yang baik untuk

pertumbuhan adalah pH netral atau mendekati alkalin.

Kelembaban tanah adalah tingkat uap keadaan uap air yang terkandung di

dalam tanah. Mempengaruhi tingkat kegemburan tanah dan penyerapan

mineral tanah. Didapatkan hasil 24.167 mmHg kelembaban tanah pada

hutan musim. Termasuk dalam tingkat sedang. Sehingga dapt dihuni oleh

organisme untuk hidup.

d. Suhu Tanah

Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan

kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhu

tanah juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat

Celcius, derajat Fahrenheit, derajat Kelvin dan lain-lain. Dari pengukuran

didapatkan hasil 31 derajat celcius. Masih dianggap standar untuk

Page 35: Laporan Hasil Praktikum Lapang

pertumbuhan organisme. Suhu yang baik untuk tumbuh adalah 36-37

derajat celcius atau suhu normal. Karena terlalu tinggi atau rendah suhu

akan menghambat pertumbuhan.

e. Intensitas Cahaya Matahari

Penyinaran cahaya matahari berpenngaruh pula pada keberadaan

organisme. Semakin tinggi penyinaran, maka semakin baik pula

pertumbuhan dan keberadaan organisme. Dari pengukuran di dapat 90%

cahaya matahari yang masuk plot. Maka hampir seluruh organisme

mendapat penyinaran. Sehingga baik untuk pertumbuhan organisme yang

terdapat di hutan musim. Namun, disini karena keterpaparan cahaya yang

terlalu menjadikan herba tidak dapat hidup disana.

D. Ekosistem Savana

Hutan savanna merupakan padang rumput yang mengalami musim

kemarau sangat panjang dan kering, ditumbuhi oleh pohon- pohon dengan jarak

yang berjauhan dan terdapat rerumputan yang mendominasi area tersebut. Di

Indonesia savanna terletak pada Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya bagian

tenggara. Savana termasuk ekosistem yang kurang stabil, Karena

keseimbangannya tergantung iklim, api, penggunaan oleh margasatwa dan lain-

lain. Savana memiliki peranan penting bagi kelestarian satwa di TN Baluran yang

terdiri dari:

a. Rusa (Cervus timorensis)

b. Kerbau liar (Bubalus bubalis)

c. Banteng Jawa (Bos javanicus)

d. Merak (Pavo muticus).

Sedangkan untuk vegetasi pada daerah savana lebih kurang ada 11 jenis

tumbuhan herba dan rumput- rumputan. Jenis yang paling mendominasi pada

wilayah Bekol- Bama adalah Dichantium caricosum, Digitaria adnascens, Eutalia

amaora, dan Fimbristylis dicotoma.

Taman Nasional Baluran memiliki beberapa savana alami yang tersebar

di berbagai tempat dengan area yang cukup luas yaitu ± 10.000 ha. Savana

Page 36: Laporan Hasil Praktikum Lapang

tersebut diantaranya adalah Karangtekok, Balanan, Semiang, Kramat, Talpat, dan

Bekol. Berdasarkan topografi, terdapat dua jenis savanna di TN Baluran yaitu

Flat Savana (padang rumput alami datar) yang dijumpai didekat pantai dengan

ketinggian 50 m diatas permukaan laut dan Undulting Savana (padang rumput

alami bergelombang) yang tersebar didaerah gunung kelosot dan gunung kembar

(Michael,1994).

Didalam pengamatan plot didapatkan hanya jenis herba yang mendominasi

kawasan tersebut yang meliputi:

JENIS SPESIES INDEKS NILAI

PENTING

INDEKS

KEANEKARAGAMAN

Suku Poaceae 61,04% 0,37

Phylantus niruri 5,15% 0,01

Centela asiatica 5,15% 0,01

Dari indeks nilai penting yang didapatkan, diketahui kepentingan

tumbuhan dalam plot yang tertinggi adalah suku poaceae yang memiliki nilai

hingga 61,04%, sedangkan dari data tersebut didapatkan bahwa keragaman pada

savana didalam plot yang diamati relative rendah karena memiliki indeks

keragaman dibawah satu.

Dalam plot herba ditemukan jenis- jenis hewan avertebrata yang terdiri dari:

NAMA HEWAN JUMLAH INDEKS KERAGAMAN

Capung 1 0,23

Belalang 8 1,24

Tomcat 2 0,32

Kumbang 1 0,15

Semut 5 0,40

Kemudian dalam pengamatan hewan vertebrata pada plot ukuran 10x10

meter didapatkan jenis hewan yaitu burung walet sebanyak 7 ekor. Kemudian

Page 37: Laporan Hasil Praktikum Lapang

pada pengamatan didalam plot ditemukan tinja yang diketahui merupakan tinja

dari rusa yang memiliki ciri- ciri berbutir- butir kecil dan berwarna coklat.

Dari hasil pengamatan tersebut dapat di pastikan terjadi aliran energi

antara spesies didalam plot yang dapat digambarkan sebagai berikut:

RumputRusa

Dalam pengamatan faktor abiotik diketahui bahwa dalam plot yang dibuat

mempunyai kelembaban tanah dengan rata- rata 8,27%, kemudian PH tanah

sebesar 6,82, dan kelembaban udara dalam daerah plot tersebut adalah 82,67

mmhg, sedangkan kecepatan angin dengan rata-rata 0,728 m/s. Sedangkan untuk

suhu rata- rata 1 m diatas permukaan tanah adalah 28,67°C, kemudian untuk suhu

permukaan tanah adalah 30,3°C. Dari hasil yang didapatkan tersebut diketahui

bahwa aliran energi yang terjadi pada savana yaitu siklus air terjadi sangat jarang

karena kondisinya yang relatif kering, kekurangan air, dan curah hujan sangat

rendah, namun proses evaporasi dan transpirasi pada daerah tersebut berjalan

dengan baik.

E. Ekosistem Hutan Pantai Kering

Daerah pantai merupakan daerah perbatasan antara ekosistem laut dan

ekosistem darat. Karena hempasan gelombang dan hembusan angin membawa

pasir dari pantai membentuk gundukan kearah barat.Gundukan pasir tersebut

dinamakan hutan pantai. Hutan pantai merupakan jalur hijau daerah pantai yang

mempunyai fungsi ekologis dan sosial ekonomi.Hutan pantai dapat memecah

energi angin laut sehingga berfungsi sebagai zona penyangga.Hutan pantai juga

dimanfaatkan sebagai lahan tanaman tahunan yang diharapkan dapat memberikan

kontribusi yang nyata terhadap pengurangan dampak pemanasan

global(Indriyanto, 2006).

Berdasarkan habitat vegetasinya,pantai dibedakan atas hutan yang

vegetasinya tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang sering dikenal

dengan sebutan Hutan Pantai Kering dan Hutan yang vegetasinya dipengaruhi

oleh pasang surut air laut atau lebih dikenal dengan hutan Hutan Mangrove.Hutan

Page 38: Laporan Hasil Praktikum Lapang

pantai kering terdapat di sepanjang pantai laut berpasir dengan tanah kering,Jenis

tanahnya yakni regosol kering yang tidak pernah tergenang air. Keadaan hutan ini

telah menyesuaikan diri dengan situasi tempat tumbuh yang kering, tidak terdapat

air tawar secara terus menerus dan air hujan. Tipe ekosistem hutan pantai kering

terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir atau

berbatu dan terletak di atas garis pasang tertinggi.Daerah ini jarang tergenang air

laut,namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan hembusan

garam.Pengamatan yang dilakukan pada ekosistem ini sama halnya dengan

pengamatan terhadap ekosistem lain yang diwakili oleh 1 plot berukuran 10m x

10m untuk pohon, 2 plot berukuran 5m x 5m untuk semak, serta 3 plot ukuran 1m

x 1m untuk vegetasi herba(Michael,1994).

Pada peraktikum lapang ini,hal yang diamati adalah faktor abiotik serta

faktor biotik yang meliputi struktur dan komposisi komunitas tumbuhan dan

hewan.Faktor abiotik yang diamati meliputi pH tanah,suhu udara dan suhu

tanah,kelembapan udara dan kelembapan tanah serta kecepatan angin.Pada

pengamatan faktor abiotik yang dilakukan secara berseling diketahui suhu udara

rata-rata dilingkungan ekosistem hutan pantai kering ini adalah 25,5oC.Suhu

diekosistem ini relatif konstan karena pada pengeplotan yang telah dilakukan suhu

tanah rata-rata adalah 25oC.Suhu sangat mempengaruhi komponen biotik yang

tumbuh didaerah tersebut, sehingga tumbuhan yang dapat hidup didaerah tersebut

hanya tumbuhan yang memiliki adaptasi yang sesuai. Kelembaban udara di

ekosistem ini rata-rata 73,33 %. Kondisi ini dapat dikatakan cukup lembab.Pada

dasarnya kelembaban berhubungan erat dengan suhu udara dan curah hujan.

Dengan suhu udara yang rendah mengakibatkan kelembaban tinggi akibat adanya

uap air hasil evapotranspirasi dari penyusun ekosistem.Sedangkan untuk rata-rata

kelembapan tanah adalah 8,33 %. Hal ini menunjukkan bahwa tanah pada

ekosistem hutan pantai kering relatif kering.Nilai kelembaban udara dan tanah

disuatu tempat akan membentuk karakter yang khas bagi formasi-formasi

vegetasi.Hal ini mengakibatkan adanya hewan-hewan yang khas pada lingkungan

vegetasi tertentu karena tumbuh-tumbuhan merupakan produsen yang

menyediakan makanan bagi hewan (Ewusie,1980).

Page 39: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Pada pengamatan selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap pH tanah dan

diperoleh rata-rata pH tanah adalah 6,8. Kondisi keasaman pada ekosistem ini

dapat dikatakan netral. Keasaman tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu

tanaman, hal itu dikarenakan apabila pH tanah kurang dari 4,5 (terlalu asam) akan

menyebabkan rusaknya akar tanaman begitu juga sebaliknya apabila pH tanah

terlalu basa juga dapat menyebabkan kerusakan pada akar tanaman. pH asam

dalam tanah merupakan pengaruh dari proses oksidasi ammonium menjadi nitrit

oleh mikroba tanah yaitu Nitrosomonas.Pada pengamatan faktor abiotik yang

terakhir dilakukan pengamatan terhadap kecepatan angin dan dari data yang

diperoleh diketahui bahwa kecepatan angin rata-rata pada ekosistem ini

sebesar……kearah barat daya.Kecepatan angin ini akan berdampak pada aktivitas

hewan misalnya terbangnya serangga dan rata-rata evapotranspirasi air dari

habitat(Ryan,2008).

Setalah dilakukan proses pengamatan terhadap faktor abiotik selesai

kemudian dilanjutkan dengan proses pengaman terhadap keragaman dan

komposisi vegetasi dan hewan. metode yang digunakan adalah metode plot

dengan bentuk persegi. Digunakannya bentuk persegi bukan termasuk patokan

dalam pengambilan plot. Hanya saja teknik ini memudahkan dalam pengambilan

sample ketika di lapangan. Adapun pengambilan data vegetasi yang di amati

meliputi nama dan jenis tumbuhan, jumlah individu setiap jenis, diameter batang

yang diukur pada ketinggian kira – kira setinggi dada atau sekitar 1,3 meter,

persen penutupan setiap jenis yang terdapat di dalam. Selanjutnya dilakukan

perhitungan dan analisis data yang meliputi komposisi, kekayaan jenis, dominasi

setiap jenis, densitas atau kerapatan masing – masing jenis, frekuensi dan juga

keanekaragaman jenis(Michael,1994).

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa untuk

habitus pohon Tamarindus indica atau pohon asam adalah tumbuhan yang paling

mendominasi vegetasi dengan Basal Area (BA) sebesar 2,06%.sedangkan untuk

habitus semak yang paling mendominasi adalah specimen 1 dengan Indeks Nilai

Penting (INP) sebesar 70,09%.dan untuk habitus herba yang paling mendominasi

adalah specimen 1 dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 77,5%.sedangkan

Page 40: Laporan Hasil Praktikum Lapang

untuk data hewan ditemukan hewan jenis hewan invertebrate seperti semut

sebanyak 10 ekor dan kupu-kupu sebanyak 1 ekor.sedangkan untuk hewan

vertebrata tidak ditemukan seekor hewanpun dalam plot.

BAB IV PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Hasil studi lapang yang telah dilakukan pada kawasan Taman

Nasional Baluran Kabupaten Situbondo, terdapat 5 macam ekosistem

Page 41: Laporan Hasil Praktikum Lapang

antara lain ekosistem hutan pantai kering, hutan musim, mangrove,

evergreen, dan savana. Akan tetapi yang menjadi fokus kelompok kami

adalah ekosistem hutan evergreen. Hutan evergreen memiliki kanopi yang

sangat lebat sehingga sedikit cahaya matahari yang masuk. Ph tanah bersifat

asam dengan kelembapan tanah juga relatif basah. Sedangkan suhu udara

yang relatif basah dengan kelembaban udara yang lembab.

Spesies yang mendominasi pada ekosistem hutan pantai kering

yaitu, untuk habitus pohon, Spesimen 12 yang mendominasi dengan Indeks

Nilai Penting (INP) sebesar (39,71 %), sedangkan untuk spesies

kodominannya adalah spesimen 5 dengan besar INP (6,38 %). Pada plot

semak, Spesimen 7 paling mendominasi dengan INP sebesar (31,07 %) .

Dan sebagai spesies kodominannya adalah Spesimen 16, 20, dan 28 dengan

INP sebesar (1,78 %). Sedangkan pada plot herba, spesies yang paling

mendominasi adalah spesimen 15 dengan prosentase INP (5 %) Dan untuk

spesies kodominannya adalah spesimen 3 dengan prosentase INP adalah

(1,389 %).

Stratifikasi tumbuhan dapat dikatakan lengkap. Terdiri dari

beberapa tingkatan, yakni lapisan paling atas terdiri dari pohon. Lapisan

tengah didominasi oleh beberapa jenis pohon pendek dan semak, seperti dan

Dan lapisan bawah adalah kelompok herba. Hewan invertebarata yang

berhasil ditemukan adalah hewan berkaki banyak yang mendominasi

ekosistem ini. Untuk hewan vertebarta tidak ditemukan hewan apapun.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan

Obor Indonesia Jakarta.

Page 42: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Ewusie JY. 1980. Pengantar Ekologi Tropika. Tanuwidjaya Usman, penerjemah.

Bandung : ITB Press. Terjemahan dari : Elements of Tropical

Ecology.

Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian

Bogor, Bogor.

Michael, P..1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan

Laboratorium. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego.

California.

Ryan. 2008. Macam-macam bioma di Dunia. Diakses tanggal 24 Mei 2012.

http://riyn.multiply.com/journal/item/15?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal

%2Fitem

Soerianegara I dan A. Indrawan. 2005. Ekosistem Hutan Indonesia. Bogor :

Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.

Tjitrosoepomo, G. 2002. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada

University Press

Whitmore TC. 1998. An Introduction to Tropical Rain Forests. Oxford Universty

Press. New York.

EVERGREEN

A. Faktor Biotik Data Vegetasi

Page 43: Laporan Hasil Praktikum Lapang

kelompok PlotNama

spesimenDiameter

pohon(cm)∑ % penutupan

Ciri- cirri specimen yang tidak diketahuinama Jenis

1

Herba (1 x 1) pertama

Spesimen 1 - 1 1%

- Akar serabut- Daun oval- Permukaan daun

berambut- Batang berambut

Herba(1 x 1) kedua

- - - - -

Herba(1 x 1) ketiga

Spesimen 2 - 1 0,5%- Akar serabut- Daun lonjong- Daun licin

Spesimen 3 - 1 0,5 %

- Akar serabut- Daun tepi

bergelombang- Bentuk lanset

Semak (5 x 5) pertama

Spesimen 14 - 35 35/500

- Daun lonjong- Permukaan bawah

kasap- Permukaan batang

kasar- Ujung daun runcing

Spesimen 15 - 48 48/500

- Daun lonjong- Ada duri pada nodus- Tepi daun

bergelombang- Batang berkayu- Permukaan halus

Spesimen 16 - 1 1/500

- Tiap nodus 2 daun- Bentuk oval- Tepi rata- Daun halus

Spesimen 17 - 24 24/500- Nodus- Daun tunggal- Bentuk lonjong

Spesimen 18 - 3 3/500- Daun tunggal- Berstipula- Daun berambut

Spesimen 19 - 2 2/500 - Daun lonjong- Terdapat stipula- Permukaan atas dan

bawah berambut- Batang berkayu

Page 44: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Semak (5 x 5) kedua

Spesimen 14 - 35 35/500

- Daun lonjong- Permukaan bawah

kasap- Permukaan batang

kasar- Ujung daun runcing

Spesimen 15 - 48 48/500

- Daun lonjong- Ada duri pada nodus- Tepi daun

bergelombang- Batang berkayu- Permukaan halus

Spesimen 16 - 1 1/500

- Tiap nodus 2 daun- Bentuk oval- Tepi rata- Daun halus

Spesimen 17 - 24 24/500- Nodus- Daun tunggal- Bentuk lonjong

spesimen 18 - 3 3/500- Daun tunggal- Berstipula- Daun berambut

Spesimen 19 - 2 2/500

- Daun lonjong- Terdapat stipula- Permukaan atas dan

bawah berambut- Batang berkayu

Pohon(10x10)

Specimen 1

151

6 -

- Daun tunggal- Daun bentuk oval- Daun kaku- Permukaan daun

kasap- Batang kasar

35

16

7

7

4

Specimen 2 80 1 - - Kayu berbau khas- Batang mengelupas- Daun licin

Page 45: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Specimen 3 8 1 -

- Batang mengelupas- Daun tunggal- Tepi daun

bergelombang- Permukaan daun licin

Specimen 4 7 1 -

- Batang berwarna coklat

- Tepi daun bergerigi- Percabangan pada

pangkal- Daun tunggal

Specimen 5 8 1 -

- Batang mengelupas- Daun tunggal- Tepi daun

bergelombang

Lamtoro 6 1 -- Bunga bongkol- Daun majemuk

Kersen 4 1 -- Daun berambut- Daun bentuk lonjong- Buah berair

2 Herba (1 × 1)pertama

Specimen 15 - 7 7%- Daun bentuk oval- Arah tumbuh menjalar

Herba (1 x 1)kedua

- - - - -

Herba (1 × 1)ketiga

Specimen 16 - 1 1%- Akar tunggang- Batang herbaceous- Daun berkarang

Specimen 17 - 1 1%

- Akar tunggang- Terdapat pelepah- Daun tidak lengkap- Buah bulir- Termasuk anggota

poaceaeSemak (5 x 5)

pertamaSpecimen 20 - 1 1%

- Batang berduri pada nodus

- Daun tunggal,bentuk oval,berkarang,permukaan daun licin

Specimen 21 - 7 7% - Arah tumbuh merambat

- Ujung daun bertoreh dalam

Page 46: Laporan Hasil Praktikum Lapang

- Memiliki tendril- Permukaan daun licin

Semak (5 x 5)kedua

Specimen 22 - 1 1%

- Daun tunggal,bentuk oval

- Batang segiempat- Terdapat duri pada

nodus- Tepi daun rata

Specimen 23 - 3 5%

- Daun oval permukaan kasap

- Batang berambut- Akar tunggang

Specimen 24 - 1 2%

- Daun oval- Terdapat duri pada

nodus- Daun berhadapan- Akar tunggang

Pohon (10x10)

Specimen 13 5,1 1 -

- Daun oval bergerigi- Duduk daun

berhadapan, permukaan licin

- Batang memiliki bercak hijau,daun berwarna putih

Specimen 14 3,82 2 -

- Daun beringgit, permukaan licin, duduk daun opposite

- Tepi daun berduri- Batang memiliki

bercak putih

Specimen 15 6,52 1 -

- Daun tunggal,oval, permukaan kasap,duduk daun berseling

- Permukaan daun berambut kecil

- Batang memiliki lentisel

3

Herba (1x1)pertama

Specimen 17 - 1 1%

- Akar serabut- Batang herbaceous- Batang berwarna hijau

keputihan- Daun bentuk jantung- Pertulangan daun

menjari- Permukaan daun licin

Page 47: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Herba (1x1)kedua

- - - - -

Herba (1x1)ketiga

- - - - -

Semak (5x5)Pertama

Specimen 25 - 23 30%

- Arah tumbuh menjalar- Batang bulat berbintil

pada batang tua- Akar serabut- Daun bentuk oval- Permukaan daun licin

Specimen 21 - 35 40%

- Arah tumbuh menjalar- Bentuk batang bulat- Terdapat tendril

disetiap nodusnya- Daun bentuk kupu-

kupu- Permukaan daun licin

Specimen 26 - 16 15%

- Arah tumbuh menjalar- Batang berduri- Daun bentuk oval- Permukaan daun licin

Semak (5x5)kedua

Specimen 27 - 2 8%

- Arah tumbuh tegak- Duduk daun

berhadapan- Permukaan daun licin- Daun bentuk oval- Batang berkayu- Akar tunggang

Specimen 2 - 1 5,5%- Akar tunggang - Daun berkayu- Arah tumbuh tegak

Specimen 26 - 2 6%

- Arah tumbuh menjalar- Batang berduri- Daun bentuk oval- Permukaan daun licin

Specimen 28 - 1 1%- Daun lebar bentuk oval- Tepi daun beringgit- Permukaan daun kasap

Specimen 29 - 2 3%- Daun bentuk oval- Daun memiliki bercak

putih

Pohon (10x10)

Lamtoro15

2-

- Batang berduri jarang- Daun majemuk

menyirip genap- Batang tua terkelupas28 -

Page 48: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Liana sp. 13,5 1 -- Batang membelit- Batang muda berduri

Palmae - 1 1%

- Daun bentuk bulat bertoreh dalam

- Pertulangan daun menjari

Specimen 10

54

6

-

- Batang terkelupas- Batang muda berduri- Percabangan banyak- Bentuk daun oval- Permukaan daun kasap

56 -

44 -

30 -

40 -

34 -

4

Semak (5x5)pertama

Specimen 7 - 12 240/500- Tepi daun bergerigi- Memiliki ala- Akar tunggang

Specimen 10 - 33 93/500

- Bunga bulir- Daun bentuk oval- Akar tunggang- Permukaan daun kasap

Specimen 12 - 15 85/500

- Batang berambut- Tepi daun

bergelombang- Daun bentuk oval- Ujung daun meruncing- Bunga terompet

Semak (5x5)Kedua

Specimen 10 - 48 70/500

- Bunga bulir- Daun bentuk oval- Akar tunggang- Permukaan daun kasap

Specimen 11 - 2 64/500- Tepi daun bergerigi- Memiliki ala- Akar tunggang

Specimen 12 - 7 27/500

- Batang berambut- Tepi daun

bergelombang- Daun bentuk oval- Ujung daun meruncing- Bunga terompet

Page 49: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Pohon (10x10)

Specimen 11Cabang 1

91

2

-

- Daun bentuk jantung besar

- Permukaan daun berambut

81 -

30 -

35 -

22 -

11 -

Spesimen 11Cabang 2

36 -

31 -

30 -

53 -

34 -

16 -

Specimen 12 -

15

-

- Daun oval bergerigi- Duduk daun

berhadapan- Permukaan daun licin

Serut5

21- - Daun tunggal

- Daun bentuk oval- Permukaan daun kasap- Batang kasar4 -

Bauhinia sp. - 1 -

- Permukaan daun atas bawah licin

- Daun bentuk kupu-kupu

- Akar tunggang

Specimen 1511

3 -- Daun tunggal,

oval,permukaan kasap, duduk daun berseling5

Page 50: Laporan Hasil Praktikum Lapang

- Permukaan daun berambut kecil

- Batang memiliki lentisel

30

Spesimen 16 - 1 -

- Daun beringgit- Duduk daun

berhadapan- Permukaan daun licin

Specimen 17 4 1 -- Duduk daun opposite- Tepi daun

bergelombang

Specimen 18 4 9 -- Daun berhadapan - Akar tunggang- Daun bentuk oval

Specimen 19

9

1 -

- Daun kasap- Duduk daun berseling- Arah tumbuh erektus- Akar tunggang

7

6

Salak 0 2 -

- Batang berduri- Daun tunggal- Pertulangan daun

sejajar- Bentuk daun lanset

5 herba (1x1)pertama,kedua dan ketiga

- - - - -

Semak (5x5)pertama

Specimen 37 - 1 0,4%

- Daun bentuk oval- Permukaan daun licin- Batang berwarna

coklat

Specimen 21 - 1 2%

- Daun bertoreh dalam- Arah tumbuh menjalar- Permukaan atas dan

bawah daun licin- Batang licin

Specimen 38 - 1 0,4% - Batang berambut - Daun kasap- Bentuk daun oval- Ujung daun meruncing- Tumbuhan muda

berwarna hijau- Terdapat stipula

diketiak daun

Page 51: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Specimen 36 - 1 0,4

- Daun bentuk lanset- Terdapat duri dinodus- Permukaan daun licin- Batang licin

Semak (5x5)kedua

Specimen 21 - 2 4%

- Daun bertoreh dalam- Arah tumbuh menjalar- Permukaan atas dan

bawah daun licin- Batang licin

Pohon (10x10)

Specimen 1118

2 -

- Daun bentuk jantung besar

- Permukaan daun berambut22

Specimen 19

60

4 -

- Batang bulat berwarna coklat

- Daun bentuk oval- Permukaan daun kasap

24

82

51

Bauhinia sp

5

3 -

- Permukaan daun atas bawah licin

- Daun bentuk kupu-kupu

- Akar tunggang

1

3,5

Data Hewan

kelompok Nama Hewan∑ Hewan (ekor)

Invertebrata (1x1) m2 Vertebrata (10x10) m2

1

Cangkang bekicot 1

-Semut hutan 59

Hewan berkaki banyak 186

Page 52: Laporan Hasil Praktikum Lapang

Hewan seperti kumbang 1

Rayap 29

Nyamuk 17

Ulat 1

Lebah 21

2 - - -

3

Bekicot 4

-

Serangga 5

Laba-laba abu-abu 1

Nyamuk 6

Lalat kecil 1

Kelabang 1

Semut hitam 2

Laba-laba putih 2

4

Rayap 67

-

Kupu-kupu 1

Nyamuk 2

Ulat 3

Semut 8

Laba-laba 1

Page 53: Laporan Hasil Praktikum Lapang

5 - - -

B. Faktor Abiotik

kelompok

Kelembaban udara(%)

pHKelembaban

tanah (%)Suhu Kecepatan angin

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1m 0cm 10cm 1 2 3

1 92 91 92 4,5 5 5,8 6,8 5 5,4 21,7 - 28 7,04 37,6 9,9

2 85 92 92 6,2 6,5 5,5 2,5 2 4,6 27,3 27 26 0,33 14,5 15

3 92 92 92 5,8 5,7 5 2,5 3,5 5,5 28 27,5 27,8 0,05 0,1 0,02

4 92 92 92 6,6 6,4 6.2 20 23 30 25,5 25,3 - 0,06 0,15 0,01

5 92 92 92 5,6 5,7 5,7 43 42 44 27 26 25 0,17 0,21 0,23

Rata-rata90,6

91,8

92 5,7 5,8 5,6 15 15,1 18 26 26,4 26,6 1,53 10,5 5

91,4 5,7 16 26,3 5,6

Ket : suhu 0 cm : dipermukaan tanah