hitam Putih dalam nostalgia

Download hitam Putih dalam nostalgia

Post on 21-Oct-2015

15 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hitam putih erat sekali dengan hal yang berbau nostalgia. disini saya menceritakan nostalgia saya semasa kecil. apakah serupa dengan masa kecil anda?

TRANSCRIPT

<ul><li><p>HITAMPUTIH</p><p>NOSTALGIAhal RINGAN, tapi MENGENA</p><p>Teks dan Foto</p><p>Ghozali Qodratullahghozaliq.wordpress.comghozaliq88@gmail.com</p><p>MASA LALU ada untuk membuat MASA SEKARANG agar lebih baikMASA SEKARANG ada untuk membuat MASA DEPAN yang jauh lebih baik</p></li><li><p>Awal HARIAkan Selalu Ada HARAPAN BaruDan Semuanya Harus Kita Perjuangakan</p></li><li><p>Awal HARIAkan Selalu Ada HARAPAN BaruDan Semuanya Harus Kita Perjuangakan</p><p>Entah sudah berapa ratusan mungkin bahkan sampai ribuan kali saya melewatkan matahari terbit yang hadir setiap hari secara gratis ini.berbagai aktivitas dan kemalasan untuk beranjak dari tempat peraduan semasa gulita terkadang membuat sebuah kesesalan tersendiri.</p><p>Ketika masih sekolah dasar, saya sering dibangunkan paksa oleh orang tua untuk segera mempersiapkan diri untuk sekolah. hal itu masih saja saya rasakan hingga beranjak ke masa SMA. Hal yang kurindukan semasa kecil, bertingkah manja kepada orang tua, berharap mendapat belaian hingga dekap hangat beliau.</p></li><li><p>Bal itaSaat pagi masih terlalu mudaitulah saatmu untuk menyalakanjiwa mudamu</p><p>Saat masih duduk di bangku menengah pertama, sering saya menanti angkutan umum ditemani oleh kabut pagi yang seakan mengantarkan setiap langkah kaki ini, yang berjalan memikul besarnya harapan dari kedua Orang Tua agar dapat menjadi kebanggaan di masa yang akan datang</p></li><li><p>S A P U L I D Iklas ik namun tetap saja asy ik</p><p>Hari mingguadalah hari yangsangat ditungguwalau tak pergimenatap layar TVmerupakan sudahmenjadi hal yang seruSelalu saja sayabersama kakak sayamaupun adik berusahauntuk melarikandiri dari tugas rumahseperti menyapu halamanmengepel, membersihkan debu, cuci piring dan juga pekerjaan yang tidakberat untuk anak kecil pada masa itu.</p><p>mungkin karena sifat kami saat itu yang masih </p><p>ingin dimanjatetapi semua itu menjadi hal yang terindukan lagi, dimarahi, dicari, disiram, dilempar, dinasehati, dll</p><p>semua makin pudar selaras dengan pandangn </p><p>ortu bahwa kita telah DEWASA</p><p>Bila kembali pulang ke rumah dan melihat </p><p>kembali sebuah sapu lidi. maka pikiran ini kembali melayang di saat disuruh </p><p>menyapu halaman. dan kami melakukannya </p><p>dengan seadanya agar cepat selesai walau tetap </p><p>saja halamannya tidak bisa dikatakan bersih.</p></li><li><p>SecangkirKopiTeman Akrab Menjelang Ujian</p></li><li><p>SecangkirKopiTeman Akrab Menjelang Ujian</p><p>Pasti anda juga pernah melakukan juga, belajar semalaman saat esok akan ada ujian di sekolah. inilah efek buruk karena tidak memiliki sifat rajin belajar setiap hari pada sela waktu di rumah. Memiliki pemikiran bawha dengan belajar semalam dapat menyelamatkan nilai pada ujian esok hari.</p><p>Karena dahulu saya bukan tipe anak yang betah untuk tidak memejamkan mata saat malam. KOPI hangatlah solusi dari semua cara untuk dapat bertahan belajar di tengah godaan tempat tidur yang empuk dan berantakan itu. Sering pula tertidur dengan buku di tangan dan terbangun karena sinar matahari telah masuk ke dalam kamar.Efek kopi ternyata ada batasnya :D</p></li><li><p> Harus RapiSaat Dipakai Berangkat Ke Sekolah</p><p>Masih tercium dengan jelas dalam ingatan aroma baju osis maupun pramuka yang digosok setelah disemprot oleh cairan yang katanya melicinkan pergerakan lempengan baja panas ini. salah satu bau yang saya benci karena esok hari harus sudah berangkat ke sekolah, berhadapan dengan setumpuk tugas yang seakan berlari saat saya akan mengerjakannya. </p><p>Sekarang sudah bukan lagi baju osis maupun baju pramuka, namun lebih baik jika disebut baju perang. perang menghadapi kenyaataan kehidupan ini. perang melawan rasa malas, perang melawan rasa putus asa, perang melawan rasa sombong, perang melawan ketidakjelasandalam menjalani hari-hari yang terasa terlalu cepat untuk dilewati.</p></li><li><p> Harus RapiSaat Dipakai Berangkat Ke Sekolah</p><p>Kemanakah?Aku Selama Ini, Tak Terasa Lelah Ketika Semua Melangkah</p><p>Dahulu saya hanya tau jalan dari rumah ke sekolah, dan beberapa tempat publik lainnya. tak sedikitpun ada rasa untuk bertualang ke suatu tempat yang jauh walaupun telah bermain monopoli edisi nusantara seharian. Hasrat untuk berkunjung ke tempat yang jauh dari rumah belum menggebu seperti saat ini. </p><p>Anak sekolah kapan sih punya uang? kapan sih dikasih ijin sama ortu untuk pergi jauh? kalo pergi naik angkutan umum, trus nyasar bagaimana? kan gak punya hape.... :D</p><p>Mungkin itulah beberapa sebab kenapa saya tidak memiliki hasrat untuk berkunjung ke tempat lain. banyak faktor yang membuat saya untuk tidak jauh-jauh dari rumah. </p><p> Kapan ke merauke? </p></li><li><p>Jatuh? Gak Bosan?Ingatlah, Anda Punya hatiUntuk Mampu berdiri [Lagi]</p><p>Pertama berlatih berjalan tentu anda merasa sakit walaupun anda tidak dapat mengingatnya. mungkin ketika anda belajar menaiki sepeda, bagi anda yang takut resiko pasti anda membeli sepasang roda bantu untuk sepeda anda. Pertama menaiki sepeda yang hanya memiliki 2 roda, membuat beberapa luka yang kini sudah hilang tak membekas di kulit. mulai dari lutut hingga siku yang kadang memar dan berdarah. sudah pernah jatuh, tapi tetap saja saja melakukan itu lagi karena ingin pandai bersepeda. beranjak dewasa saatnya beralih ke sepeda motor, beberapa kali jatuh karena keteledoran namun saya bersyukur hingga saat ini belum pernah bertabrakan (semoga saja jangan).</p><p> Sama seperti hidup, walau mungkin anda terkadang merasa tidak melaluinya tapi cobalah merenung sejenak. kapan anda berani mengambil resiko, kapan anda terjatuh dari kondisi anda kapan anda mulai dapat bangun lagi, apa yang membuat anda bersemangat lagi </p><p> tanyakan kepada hati kecil anda</p></li><li><p>1000 KmBerawal dari 1 Langkah IKHLAS</p><p>Jika kembalimengingat kembali</p><p>perjalanan yang telah dilaluisampai saat ini</p><p>entah berapa jarak yang telah terlewati</p><p>sama ketikakembali mencoba</p><p>mengingat saatmasih kecil hingga</p><p>sekarang telah besarlangkah perjuangan</p><p>yang bertahap dilaluitanpa terasa telah </p><p>mencapai titik yangsangat jauh dari </p><p>titik awal kita melangkah</p></li><li><p>Koin Koin KoinYang Membuat Gemar Menabung</p><p>Semenjak kecil saya telah dididik untuk mengatur uang secara bulanan, sejak bangku sekolah dasar. tiap awal bulan orangtua saya selalu memberikan sekantong plastik berisi uang koin untuk uang jajan saya di sekolah selama satu bulan. Saat masih kelas 3 SD, uang koin Rp.100 sudah dapat untuk membeli 2 buah gorengan, satu ketupat dan satu bungkus teh manis. Uang koin lah yang banyak mengisi celengan dari kendi yang membuat hati berdegup keras saat tiba waktu untuk memecahkannya</p><p>Semakin dewasa, pengeluaran s emak i n banyak. nilai rupiah j u g a tak setegar dahulu. serta k e h i d u p a n ditengah tingkat status sosial yang hanya dinilai dari harta yang mereka pamerkan di depan sesamanya.Apalah arti kesemuanya jika hanya untuk dirimu sendiri? cobalah sedikit saja berbagi dengan hati yang ikhlas kepada sesamamu. untuk menambah jumlah tabungan amal ibadah anda di suatu masa yang abadi kelak.</p></li><li><p>TELEVIS ISi Layar Kaca Yang .............</p><p>Masih ingatkah anda pada masa 90an ketika Si Baja Hitam beraksi di sore hari? saat itu hanya antena parabola saja yang mampu menangkapnya. Rumah yang memiliki Televisi </p><p>dengan parabola tersebut selalu ramai setiap sorenya ketika anak kecil yang masih ingusan berbondong-bondong untuk menyaksikan tokoh hitam yang perkasa tersebut. </p><p>Lagu semasa kecil juga m a s i h tengiang jelas dalam ingatan jika terdengan dendangan nada walau hanya sepatah syair yang terdengar dari telinga ini. </p><p>Semua terasa berbeda sekali saat ini, tayangan p e n d i d i k a n sudah tidak membosankan s e p e r t i dahulu. acara yang mencoba mendidik ke ranah lain juga lebih mengasyikkan dari pada menyaksikan tayangan yang mendidik. Jadi menurut anda, bagaimakah peran televisi?</p></li><li><p>Gelembung SabunWalau Beberapa Kali Menelan Air Sabun Tapi Tak Pernah kapok</p><p>Gelembung yang tercipta dari air sabun saat ditiup menggunakan sedotan pernah menjadikannya hal yang betah berlama-lama di kamar mandi. sampai kulit ini keriput, sampai air hangat yang dimasakkan oleh ibu menjadi dingin lagi, dan sampai lupa makan.</p></li><li><p>MusikKu MusikMuSatu Irama Melangkah Diringi Nada Dalam Jiwa</p><p>Musik merupakan salah satu hal yang tidakbisa saya hilangkan, bahkan sampai naik ke puncak gunungpun saya masih tetap memutar sebuah lagu. Tujuannya sederhana sebenarnya, hanya ingin membuat sebuah kenangan saat memutar lagu tersebut dikemudian hari. sama halnya dengan ketika saya mendengarkan sebuah lagu yang pernah diputar baik di radio maupun di televisi. lagu-kagu masa kecil yang membuat sejuta imajinasi melintas dalam pikiran ini. </p><p>Kasihan anak kecil masa sekarang, mereka seakan diarahkan untuk berimajinasi jauh di depan dari umur mereka saat ini.</p></li><li><p>Obat TradisionalPernah Mimisan? Pasti Anda Familiar Dengan Daun Ini</p></li><li><p>Obat TradisionalPernah Mimisan? Pasti Anda Familiar Dengan Daun Ini</p><p>Semasa kecil, ketika badan panas mendadak maka tanpa terasa langsung keluar darah dari hidung. tanpa merasa takut, segera mengadu kepada orangtua kalau ada darah di hidung ini. orang tua saya panik bukan kepalang, segera dibersihkannya hidung ini sembari menyuruh untuk berbaring. Tanpa lama, kembalilah beliau membawa segulung daung sirih yang telah dibersihkan untuk dimasukkan pada hidup saya yang mengeluarkan darah. Dengan sabar beliau mendampingi saya sembari mengompres kening saya dengan handuk basah untuk menurunkan panas yang menempel pada diri ini</p></li><li><p>TeknologiMembantukah? atau Menyusahkankah?</p><p>Kelas 3 SMP saya masih merasakan membuat karya tulis dengan mengetik mesin ketik manual. semua usaha yang keras untuk dapat menekan huruf agar tercetak dengan baik pada selembar kertas HVS itu. Satu kata saja salah maka harus memulai dari awal lagi. Suara dentuman ketika panel huruf mengenai kertas yang berlandaskan pipa hitam itu seakan menjadi irama tersendiri saat mengerjakan karya tulis tersebut.</p><p>Kini semua telah berubah, teknologi merambah dalam semua sektor, termasuk dalam dunia ketik mengetik. aplikasi pengolah kata yang juga didukung dengna berbagai fitur yang membingungkan terkadang memaksa diri ini untuk belajar lebih banyak yang sesekali merasakan lelah pada kondisi dimana kejenuhan dan kebimbangan berjabat tangan.</p></li><li><p>Main Yuuukk...!!Panggilan Yang [DULU] Sering Terdengar Dari Luar Jendela </p><p>Permainan anak sekarang memang sudah sangat menarik, terlebih sudah disisipi dengan kecanggihan teknologi. beberapa permainan anak yang edukatif ternyata hanya merangsang di aspek kecerdasan intelektual dan gerak. namun kehilangan rasa aspek sosial dan bersikap.</p><p>Permainan masa kecil yang masih tradisional seperti petak umpet, congklak, atau permainan yang menggunakan peralatan sederhana mampu mengasah kemampuan anak dalam berinteraksi secara sosial kepada teman sebayanya. bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial yang harus terus bisa berinteraksi dengan dunianya, dunia anak-anak yang harus tertancap pondasi kecerdasan sosialnya.</p></li><li><p>Menembus BatasTeknologi Mampu Menembus Batas Apapun, Bahkan Batas ..........</p><p>Dahulu harga komputer pentium II saja masih selangit dan susah dijangkau. seiring dengan perkembangannya, sekarang teknologi semakin murah untuk dapat dinikmati berbagai lapisan masyarakat. sebuah kemampuan hidup yang harus dimiliki seseorang untuk dapat mencari sesuap nasi pada masa sekarang. semua sudah berbasis teknologi yang terkadang sulit diterima akal logika.</p><p>Dalam setiap yin pas ada yang. dimana efek negatif yang tak dapat dibendung membuat beberapa batas dapat tertembus oleh hasrat pengguna tersebut. pengendalian dari berbagai macam aplikasi untuk dapat menahan efek negatif tersebut di buat. namun kembali lagi, penggunalah benteng terakhir dari serangan efek negatif tersebut.</p></li><li><p>Penerus atau Pelurus BangsaSemua Kembali Kepada Kita</p><p>Lurus atau tidaknya tidak ada sebuah tolak ukur yang subyektif. Semoga kita masih diberi kemampuan untuk merenung tentang sebuah masa lalu yang menjadikannya pelajaran untuk masa depan yang lebih baik.</p><p>Mari tanyakan kepada hati kita. MAU DIBAWA KE MANA MASA DEPAN BANGSA INI.</p></li><li><p>Hanya Ikan Mati Yang Mengikuti Air MengalirDan Anda Bukanlah Ikan [mati]</p></li><li><p>Hanya Ikan Mati Yang Mengikuti Air MengalirDan Anda Bukanlah Ikan [mati]</p><p>Sebuah curahan hati yang semakin menggebu ketika menyandingkan masa lalu dangan masa sekarang. Pemikiran yang harus jauh lebih diasah untuk semakin bertahan hidup dalam masa sekarang. Semakin dalam kita merenung, semakin dalam kita dapat melihat sebuah cahaya terang dari hati kita.</p><p>Meoncoba meresapi setiap ucap hati nurani yang jangan sampai redup oleh gempita semu hidup ini.</p><p>Sekian, semoga tulisan tak bermakna ini dapat sedikit menggugah anda ketika anda mencoba untuk melompat satu langkah menuju masa depan. renungkan apa yang terjadi pada masa lalu anda.</p><p>Ghozali Qodratullahghozaliq.wordpress.comghozaliq88@gmail.com</p></li></ul>