hasil2 skripsi revisi efektifitas

170
BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Tujuan suatu negara melakukan pembangunan adalah untuk mencapai kesejahteraan dari rakyatnya. Adanya tujuan yang ingin mendapatkan konsep hidup yang lebih baik maka untuk mencapai hal itu diperlukan adanya kebijakan, sasaran serta indikator yang akan dilakukan. Tujuan tersebut diantara stabilisasi harga, pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan neraca pembayaran. Tujuan-tujuan tersebut yang ingin diwujudkan itu akan dapat terlihat dari kondisi perekonomian yang stabil, hal itu menjadi keinginan oleh setiap negara diberbagai dunia. Perekonomian yang stabil tersermin dari stabilitas ekonominya, yaitu membaiknnya oerkembangan output riil ( pertumbuhan ekonomi) dan stabilitas harga (laju inflasi). Pertumbuhan ekonomi yang baik dapat dijadikan menjadi ukuran kemajuan suatu negara tersebut. Menurut mankiw (2009: 17) bahwa pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian. Karena pertumbuhaan ekonomi memiliki

Upload: shinta-melani-

Post on 16-Dec-2015

73 views

Category:

Documents


15 download

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

A. LatarBelakangTujuan suatu negara melakukan pembangunan adalah untuk mencapai kesejahteraan dari rakyatnya. Adanya tujuan yang ingin mendapatkan konsep hidup yang lebih baik maka untuk mencapai hal itu diperlukan adanya kebijakan, sasaran serta indikator yang akan dilakukan. Tujuan tersebut diantara stabilisasi harga, pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan neraca pembayaran. Tujuan-tujuan tersebut yang ingin diwujudkan itu akan dapat terlihat dari kondisi perekonomian yang stabil, hal itu menjadi keinginan oleh setiap negara diberbagai dunia. Perekonomian yang stabil tersermin dari stabilitas ekonominya, yaitu membaiknnya oerkembangan output riil ( pertumbuhan ekonomi) dan stabilitas harga (laju inflasi).Pertumbuhan ekonomi yang baik dapat dijadikan menjadi ukuran kemajuan suatu negara tersebut. Menurut mankiw (2009: 17) bahwa pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian. Karena pertumbuhaan ekonomi memiliki cakupan yang luas untuk keseluruhan kondisi perekonomian. Indikator yang digunakan untuk menghitung laju pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah tingkat pertumbuhan angka-angka pendapatan nasional (GDP). Tetapi untuk memiliki ekonomi yang stabil tidak mudahjika tidak diikuti oleh kemampuan variabel ekonomi dalam mengatasi permasalahan. Stabilitas ekonomi dapat dilihat dari dampak guncangan variabel makroekonomi terhadap variabel makroekonomi yang lain. Dalam (Prasetyo, 2009: 165) menyaebutkan bahwa perekonomian sering mengalami ketidakpastian dan guncangan pada penawaran agregat dan permintaan agregat. Apabila dampak goncangan memiliki fluktuasi yang besar terhadap variabel makroekonomi dan dibutuhkan waktu lama untuk mencapai keseimbangan maka dapat dikatakan bahwa stabilisasi ekonomi memiliki kereentanan pada perubahan. Unruk mengatasi hal tersebut, pembuat kebijakan dapat menggunakan analisis makro ekonomi dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Kaum monetaris menyatakan bahwa kebijakan moneter lebih disukai dibandingkan dengan kebijakan fiskal, karena dapat dilihat bahwa kebijakan moneter lebih efektif dalam mencapai stabilitas. Kebijakan moneteer dilihat memiliki potensi lebih efektif tetapi penerapan kebijakannya harus dipertimbangkan strategi yang akan digunakan. Dan kebijakan moneter memiliki karakteristik sesuai dengan indikator nominal yang digunakan untuk acuan dasar atau sasaran antara dalam mencapai ssaran akhir Kebijakan moneter adalah upaya atau tindakan Bank Sentral dalam mepengaruhi perkembangan variabel monter( uang beredar, kredit dan nilai tukar) untuk mencapai tujuan (Miskhin, 2004: 83). Kebijakan moneter tersebut adalah faktor yang dapat dikontrol oleh pemerintah sehingga demikian dapat dipakai untukmencapai sasaran pembanguna ekonomi (Nopirin, 2009:51).Era globalisasi dengan adanya kemajuan teknologi dan informasi tidak dapat dihindari sehingga berdampak pada pasar keuangan. Kemajuan ini begitu pesat membuat mudahnya integrasi pasar keunagn internasional. Interaksi antar negara merupakan aspek yang tidak bisa ditinggalkan dengan perkembangan ekonomi suatu negara. Hal tersebut mendorong adanya keterbukaan ekonomi dan ketergantungan antarnegara. Dalam perekonomian sederhana dan tertutup kperekonomian suatu negara tidak berinteraksi dengan negara lain maka formulasi dan implementasi kebijakan moneteer dapat dilakuikan dengan lebih sederhana hal tersebut disebabkanvariabel variabel ekonomi internasional seperti perdagangan, aliran modal, nilai tukar dan suku bubga tidak berpengaruh terhadap perekonomian. Dengan semakin besar keterkaitan antarnegara, maka semakin terbuka perekonomian negara yang bersangkutan, keterbukaan tersebut berdampak pada peningkatan transaksi perdagangan antarnegara. Mankiw ( 2009: 327) menjelaskan bahwa meskipun kemakmuran domestik merupakan tujuan akhir, namun para pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan perkembangan di mancanegara arus barang dan jasa internasional serta aliran modalinternasional bisa mempengaruhi perekonomian dengan banyak cara. Kerterbukaan ekonomisuatu negara membawa dampak terhadap perencanaan dan pelaksaan kebijakan ekonomi makro termasuk kebijakan moneter. Krisis keuangan global berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi berbagai negara di Asean termasuk Indonesia, krisis yang dimulai pada tahun 1997 ternyata sempat menghancurkan perekonomian. Krisis global ini menyebabkan perekonomian dunia terpengaruh buruk dari segi ekonomi dan politik khususnya Indonesia dan salah satu pemicu utama krisis adalah telah terjadi kelangkaan dana perbankan sebagai akibat penarikan dana oleh masyrakat yang sangat besar serta adanya kepercayaan pada mata uang rupiah yang mulai berkurang sehingga nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan. Penarikan dana masyarakat akibat turunnya nilai tukar rupiah berdampak pada bank-bank yang tidak mampu memnuhi semua penarikan nasabah. Peristiwa tersebut dinamakan krisis likuiditas dan penarikan besar-besaran dana masyarakat ini dinamakan Bank Runs. Kepanikan tersebut menyebabkan efek pada bank karena tidak bisa memenuhi kewajiban atas permintaan nasabah mengakibatkan ketidakpercayaan nasabah pada bank. Indonesia mengalami dampak krisi karena fundamental pada makroekonomi banyak kelemahan. Bank Indonesia adalah sebagai bank sentral yang memiliki otoritas moneter dalam memegang peran yaitu menjaga stabilitas nilai tukar dan stabilitas keuangan sehingga dalam memacu pertumbuhan wkonomi dan mengontrol inflasi. Bank indonesia menggunakan berbagai kebijakan moneter sebagai instrumen untuk mengendalikan besaran moneter seperti jumlah uang beredar, kredit perbankan dan suku bunga untuk mencapai sasaran perekonomian yang diinginkan. Dalam mengemban tugas urama yaitu mencapai dan memelihara kestabilan rupiah bukan masalah yang sederharna karena uang berkaitan erat dengan hampir seluruh aspek dalam perekonomian dan dengan alasan tersebut proses kebijakan moneter menyentuh sektor riil. Kebijakn moneter menyentuh kepada sektor riil menjadi masalah yang sangat komplek. Kemudian proses ini disebut dengan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter (MTKM) merupakan saluran penghubung kebijakan moneter terhadap perekonomian riil (Pohan, 2008: 43)Bekerjanya mekanisme transmisi kebijakan moneter tersebut membantu bank sentral selaku otoritas moeneter dalam mencapai tujuan serta dapat mempengaruhi kegiantan ekonomi riil dan harga melalui mekanisme tersebut. Untuk itu otoritas moneter harus memiliki pemahaman yang jelas tentang mekanisme transmisi dinegaranya dan pemahaman jalur-jalur mekanisme transmisi kebijakan moneter (Dombusch dan Fischer, 1991). Pemahaman tentang transmisi kebiajakn moneter bukan hal yang mudah, dan juga konteks memlakukan stabilitasi ekonomi digunakan untuk mencapai tujuan tersebut maka kemumbgkinan utnuk menghasilkan perubahan struktural dan perilaku dalam perekonomian bisa terjadi. Permasalahan yang berkaitan dengan mekanisme transmisi adalah masalah lamanya waktu yang dibutuhkan utnuk mencapai target. Dengan waktu tunda (time lag) dalam kebijakn tersebut maka hal itu dapat di gunakan untuk mendorong adanya pemahaman dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi. Adanya tenggat waktu memiliki alasan interval waktu yang panjang dan bervariasi. Oleh sebab itu maka untuk merencanakan dan melakasankan kebijakan moneter dengan baik harus mepertimbangkan waktu kapan kebijakan akan dilaksanakan dan pengaruh kebijakan terhadap perekonomian. Efektifitas kebijakan monter yang diambil tergantung dari mekanisme transmisi yang telah diambil. Keefektifan kebiajakn moneter dapat diukur dengan dua indikator yang pertama yaitu besar kecepatan atau tenggat waktu (time lag) yang dibutuhkan agara bisa mempengaruhi sasaran akhir kemudian yang kedua kekuatan variabel-variabel pada masing-masong jalur merespon adanya perubahan yang bersifat kejutan (shock) dan instrumen moneter serta variabel lain yang dgunakan utnuk mencapai sasaran akhir dari kebijakan monter. Dalam mekanisme transmisi memiliki beberapa jalur atau saluran, pada paradigma lama menggunakan pendekatan jalur kuantitas terdiri dari dari jalur langsung dan jalur kredit. Sedangkan pada paradigma baru dari pendekatan jalur harga, jalur tingkat suku bunga, jalur nilai tukar dan efek aset lain (Oh: 1999, 104 dalam Hakim). Banyak permaslaahan mengenai mekanisme kebijakan moneter yang akan di jadikan acuan masih mengalami perdebatan. Dalam bukunya Nopirin (2009:79) menyebutkan bahwa kurangnya informasi tentang jalur pengaruh (mekanisme transmisi) kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi (yang tercermin dengan output, harga dan employment) menyebabkan timbul beberapa dugaan atau hipotessa yang mencoba menjelaskan pengaruh ini. Terdapat perbedaan tentang hal ini. Pertama penelitian yang dilakukan oleh Norris (2005) dengan menggunakan alat analisis VAR menyatakan di Armenia bahwa dengan menggunakan VAR untuk mengetahui guncangan moneter mempengaruhi perekonomian. Hasilnya bahwa pada jalur nilai tukar memiliki dampak yang kuat terhadap inflasi dibanding dengan transmisi lainnya. Penelitian juga dilakukan oleh Erickson (2011) menyatakan bahwa pada peru dan Uruguay suku bunga berpengaruh lemah tetapi nilai tukar berpengaruh lebih besar terhadap inflasi dan output. Hal berbeda pada penelitian yang dilakukan di Nigeria tahun 2014 oleh Bature menunjukkan hasil bahwa saluran nilai tukar lemah bila dibandingkan dengan jalur kredit karena pada penduduk Nigeria membutuhkan kredit dari bank untuk usaha mereka dengan jalur kredit tersebut memeberikan dampak pada ouput dan inflasi. Dan penelitian yang sama hasilnya dilakukan oleh Allum (2013) jalur suku bunga tidak berpangaruh signifikan terhadap infalsi dan output riil dan lebih berpengaruh jalur kredit. Serta penelitian oleh Sichei (2010) menggunakan data tahunan 2001-2008 jalur kredit lebih operatif dalam mempengaruhi perekonomian.Paradigma lama yaitu jalur uang beredar dalam literatur ekonomi moneter, kajian tentang mekanisme transmisi kebijakan moneter umumnya akan mengacu pada peranan uang dalam perekonomian, yang pertama kalinya dijelaskan dengan Quantity Theory of money, yaitu MV = PT, tetapi dalam perkembangannya pakar ekonom menganggap mekanisme dengan saluran tersebut tidak dapat menegndalikan secara pasti perkembangan agregat-agregat moneter. Hal tersebut terbukti dengan hanya 70% saja merupakan uang kartal dan sisanya 30% tidak dapat dipengaruhi oleh Bank Indonesia. Hal tersebut bisa berdampak pada kebijakan pemerintah seperti operasi pasar terbuka untuk mempengaruhu permintaan uang akan menjadi sulit untuk diperkirakan. Dalam perkembangan selanjutnya selain jalur moenter langsung mekanisme transmisi kebijakam moneter pada umumnya juga dapat terjadi melalui jalur suku bunga, jalur niali tukar, jalur kredit, jalur harga asset dan jalur ekspektasi (Warjiyo dan Solikin, 2004: 32).Jalur nilai tukar menjadi hal penting karena mekanisme dengan jalur ini menjadi sangat penting karena perekonomian Indonesia adalah perekonomian terbuka (open economy). Integrasi perekonomian negara kedalam perekonomian global menjadi keharusan untuk ikut dalam pasar global. Dampak dari hal tersebut setiap negara akan memiliki ketergantungan satu dengan negara lain dalam aspek perdagangan internasional dari barang maupun jasa dan juga integrasi pasar keuangan di berbagai negara (Abel dan Bernake dalam Mukhlis, 2004: 66). Nilai tukar atau kurs pada intinya ditentukan oleh besarnya permintaan dan peanwaran mata uang tersebut (Levi dalam Mukhlis, 2004: 67). Nilai tukar menjadi salah satu harga yang lebih penting dalam perekonomian terbuka, karena nilai tukar memilik pengaruh terhadap transaksi berjalan maupun variabel makro yang lain. Pertumbuhan nilai mata uang ang stabil menunjuukan bahwa negara tersebut memeiliki kondisi ekonomi yang relatif baik. Dengan kestabilan nilai tukar dapat mempengaruhi arus modal atau investasi dan perdagangan internasional.Dampak krisis pada tahun 1997 tersebut dan dilakukan upaya penyehatan dan pemberdayaan sektor perbankan telah meniyita perhatian dari pemerintah dan otoritas moneter karena pentingnya peran perbankan dalam proses pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, disamping perannya dalam proses transaksi pembayaran nasional dan internasional serta menjalankan fungsi intermediasi (penyaluran danan dari penabung / pemilik dana ke investor), sektor perbankan juga berfungsi sebagai alat transmisi kebijakan moneter. Industri perbankan yang pada umumnya mengalami kesulitan, transmisi kebijakan moneter melalui sektor perbankan tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Hal tersebut akan berakibat pada kebijakan moneter yang kurang efektif dalam mencapai sasarannya. Pemberian kredit banyak digunakan untuk belanja konsumsi rumah tangga, dan bukan untuk kebutuhan investasi. Kredit seperti ini sangat rentan terhadap kenaikkan suku bunga, yang dalam jangka panjang dapat menambah kredit macet. Kondisi tersebut akan mengakibatkan kredit perbankan yang dikucurkan tidak mendorong tingkat pendapatan riil (Nasution, 2006: 93). Kegagalan dunia usaha pada akhirnya kembali memperburuk kualitas pinjaman bank dan berisiko terjadi kembali krisis moneter. Bagi kepentingan pengendalian moneter, kredit memiliki implikasi terhadap efektifitas pengendalian moneter. Hal ini akibat dari respon perbankan dalam mentransmisikan sinyal kebijakan moneter terhadap berbagai aktifitas keuangan dan ekonomi tidak seperti yang menjadi harapan Bank Sentral (Warjiyo, 2007: 66) Prinsipnya pertumbuhan ekonomi merupakan hasil dari efek pertumbuhan kredit, sehingga dibandingkan dengan pertumbuhan uang terlihat bahwa pertumbuhan kredit lebih kuat dalam menjelaskan besarnya pertumbuhan pendapatan nasional (Hadori, dkk, 2002: 84)Meskipun telah banyak telah dilakukan penelitan tentan peranan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter (MTKM) yang menyagkut dengan keefektifan MTKM baik secara parsial maupun terintragasi namun karena ada faktor ketidakpastian dan kecenderungan baru yan dapat mempengaruhi MTKM, maka penelitian lanjutan untuk masalah tersebut tetap relevan untuk dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut maka penelitian ini akan mengambil judul bagaimana pengaruh jalur kredit dan nilai tukar terhadap sasaran akhir yaitu GDP dan inflasi dengan variabel yang digunakan untuk menguji yaitu SBI, suku bunga deposito, jumlah uang beredar, suku bunga kredit dan investasi untuk jalur kredit. Sedangkan jalur nilai tukar menggunakan SBI, suku bunga deposito, kurs, capital inflow, dan ekspor netto. Hal ini karena akan dilihat hasilnya, bagaimana dengan memilih variabel perantara itu dalam mempengaruhi jalur terhadap kebijakan moneter.

B. Rumusan Masalah Mekanisme transmisi kebijakan moneter selalu dikaitkan dengan pertanyaan dari Bernake dan Blinder (1992) dan Taylor (1995) dalam salah satu pertanyaan melalui mekanisme transmisi apa pengaruh kebijakan moneter terhadap ekonomi riil tersebut terjadi dan efektif. Efektifitas kebijakan moenter diukur dengan dua indikator (Natsir, 2007) yaitu berapa besar kecepatan atau tenggat waktu (time lag) dan berapa kekuatan variabel-variabel pada masing-masing jalur merespons adanya perubahan (shock) instrumen kebijakan r SBI yang sekarang digunakan oleh Bank Indonesia dan variabel lainnya hingga terwujud sasaran akhir kebijakan moneter.Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah:1. Bagaimana pengaruh mekanisme transmisi jalur nilai tukar dan jalur kredit terhadap PDB dan inflasi 2. Bagaimana pola hubungan jalur nilai tukar dan jalur kredit terhadap PDB dan inflasiC. Tujuan penelitianTujuan peneletian secara umum untuk mengetahui pengaruh jalur dengan mengunakan variabel yang digunakan dalam mempengaruhi sasaran akhir. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah :1. Untuk menganalisis pengaruh mekanisme transmisi jalur nilai tukar dan jalur kredit terhadap PDB dan inflasi 2. Untuk mengetahui pola hubungan jalur nilai tukar dan jalur kredit terhadap PDB dan inflasi

D. Manfaat penelitianAdapaun manfaat yang ingin didapatkan dari penelitian ini adalah:1. Sebagai bahan pertimbangan dan masukian bagi pemerintah dan otoritas moneter dalam pengambilan kebijakan moeneter dengan jalur yang akan dilaksanakan2. Sebagai bahan informasi bagi pemerintah, otoritas moneter dan pelaku bisnis dalam hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi3. Sebagai bahan referensi dan imformasi ilimiah ilmu pengetahuan

BAB IITINJAUKAN PUSTAKAA. Kebijakan MoneterMenurut Mankiw (2007: 122) kebijakan dijalankan menurut aturan jika para pembuat keputusan mengumumkan kebijakan yang akan menanggapi berbagai situasi dan sungguh-sungguh menjalankannya, kebujakan dijalankan menurut kebijaksaan jika para pembuat kebijakan bebas membuat penilaian atas berbagai peristiwa yang terjadi dan memilih yang akan tampak cocok pada saat itu. Mankiw juga menjelaskan pengertian dari kebijakan moeneter pada dasarnya adalah pilihan dari bank sentral menyangkut jumlah uang beredar baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebijakan moneter adalah upaya atau tindakan Bank Sentral dalam mempengaruhi perkembangan variabel moneter (uang beredar, suku bunga,kredit dan nilai rukar) untuk mencapai tujuan teretntu (Miskin, 2004).Dan mata rantai yang terjadi dari kebujakan moeter menurut keynes yaitu kebijakan moneter dapat diartikan sebagai tindakan makro banks entral dengan cara mempengaruhi proses penciptaan uang pemerintah bisa mempengaruhi jumlah uang beredar, dengan mempengaruh JUB kemudian dapat mempengaruhi tingkat bunga yang berlaku dipasar uang, dengan adanya pengaruh terhadap suku bunga bisa mempengaruhi pengeluaran investasi (I) selanjutnya permintaan agregat (Z) dan akhirnya harga (P) dan GDP riil (Q).Kebiajakan moneter Ms r I Z P, QPohan (2008:11) menyatakan bahwa kebijakan moneter atau monetary policy adalah merupakan sebuah kebijakan moneter yang pada umumnya bertjuan untuk menjaga dan memlihara kestabilan uang dan mendorong kelancaran produksu dan pembangunan guna meningkatkan taraf hidup rakyat. Pengaruh kebijakan moeneter pertama kali akan dirasakan oelh sector perbankan (tingkat bunga, inflasi , kredit dan sebagainya) yang kemudian pada sector riil. Dalam pelaksaan srategi kebijakan moneter dalam setiap negara berbeda-beda sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan mekanisme yang diterapkan dan dijalankan dalam perekonomian tersebut. Dalam kajiannya ada dua jenis kebijakan moneter yang dikenal, yaitu kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan moneter yand ditujukan untuk mendorong kegiatan ekonomi yang dilakukan melalui peningkatan jumlah uang beredar, yang kedua adalah kebijakan moneter kontraktif adalah kebijakan yang ditujukan utnuk memperlambat kegiatan ekonomi yang antara lain dilakukan melalui penurunan jumlah uang beredar.Ada empat masalah yang penting (issues) yang sering jadi pembahasan di kalangan ekonom yaitu, (Boediono, 1994:137 dalam Prasetyo, 2009:170)1. Pilihan tentang manakah yang sebaiknya dijadikan sebagai sasaran antara (intermediate target) bagi kebijakan moneter, yaitu pilihan antara tingkat bunga dan jumlah uang beredar2. Pilihan tentang konsep uang beredar yang mana yang paling baik dijadikan sebagai ssaran seandainya dalam keadaan tertentu jawabab utnuk masalah pertama di atas adalah menggunakan JUB sebagai sasaran antara dan dsini memiliki pilihan untuk kombinasi misal B, M1,M2 atau L serta kombinasi lainnya.3. Pilihan mengenai apakah kebijakan moneter perlu dilaksanakan secara aktif (discretionary monetray policy) atau lebih bersifat otomatis dengan mengikuti aturan tertentu (monetary rule)4. Berkaitandengan oerkembangan penting di dalam teori kebijakan meoneter dan ekonom makro pada umumnya, perkembangan berkaitan dengan peran dari psikologi dan reaksi dari masyarakat dalam pelaksaan kebijakn moeter. Maasalah terkait dengan aliran baru dlama teori makro juga disebut dengan alirab rasional yang artinya dalam suatu masalah masyarakat sudah bukan lagi sebagai objek pasif tetapi memiliki sikap dan reaksi yang rasional dalam menghadapi kebijakan pemerintah. Adapun beberapa instrumen dasar yang dapat digunakan dalam kebijakan moneter yaitu:1. Tingkat diskonto (discount rate)Tingkat bunga yang dikenakan bank sentral ketika memberi pinjaman kepada bank-bank umum. Semakin kecil tingkat diskonto semakin murah cadangan yang dipinjamkan maka akan semakin banyak bank yang akan meminjam dengan fasilitas discount window bank sentral. Bila pemerintah dan bank sentral ingin jumlah uang beredar di masyarakat tutun, maka cadangan minimum perbankan dinaikkan. Sebaliknya jiak menginginkan jumlah uang beredar bertmbah maka pemerintah mengurangi cadangan minimum. 2. Operasi pasar terbuka (open market operation)Pengendalian jumlah uang beredar dengan cara pembelian dan penjualan obligasi pemerintah oelh bank sentral. Ketika bank sentral membeli obligasi dari publik, jumlah uang yang dibayarkan untuk obligasiitu akan meningkatkan basis moneter sekaligus meningkatkan jumlah uang beredar. Ketika obligasi itu dijual kepada publik maka akan menurunkan jumlah uang beredar.3. Persyaratan cadangan (reserve requirment)Kebijakan bank sentral dengan penentuan cadangan minimum bagi bank umum. Apabila pemerintah menghendaki jumlah uang beredar di masyarakat turun, maka cadangan minimum perbankan akan dinaikkan. Dan sebaliknya jika ingin menambah jumlah uang beredar maka pemerintah akan mengurangi cadangan minumum di bank sentral.4. Imbauan moral (moral persuasion)Adalah otoritas moneter mencoba mengarahkan atau mengendalikan jumlahuang beredar. Misal cara yang di gunakan yaitu dengna menaikkan atau menurunkan kredit di perbankan sehingga merangsang masyarakat utnuk mengurangi atau menambha kredit mereka.Peran kebijakan moneter di dalam ekonomi makro sangat berpengaruh terhadap perekonomian suatu negara. Taylor (1995) menyebutkan bahwa mekanisme kebijakan moeneter adalah the process through which monetray policy decisions are transmitted into changes in real GDP and inflation yang memiliki arti mekanisme transmisi kebijaikan moneter merupakan jalur-jalur yang dilalui kebijakan moneteer untuk dapat mempengaruhi sasaran akhir kebijakan moneter yaitu pendapatan nasional riil dan inflasi. Mekanisme ini menggambarkan tindakan otoritas moneter melalui perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya mempengaruhi variabel ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ketujuan yang ingin diharapkan. Menurut Mankiw (2007: 122) mekanisme transmisi kebijakan moneter merupakan suatu proses yang kompleks dan dalam teori ekonomi para ekonom sering menyebut black box. Karena transmisi yang disebutkan banyak dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:1. Perubahan perilaku bank sentral,perbankan serta pelaku ekonomi dalam berbagai aktifitas ekonomi dan keuangan2. Lamanya tenggang waktu (time lag) sejak tindakan otoritas moneter sampai sasaran akhir tercapai3. Terjadinya perubahan pada jalur-jalur transmisi moenter tersebut sesuai dengan perkembangan ekonomi dan keuangan dinegara yang bersangkutanMekanisme transmisi kebijakan moneter dimulai sejak otortitas moneter atau bank sentral bertindak menggunakan instrument moneter dalam implementasi kebijakan moneternya sampai terlihat terhadap aktifitas perekonomian moneternya sampai terlihat pengaruh terhadap aktifitas perekonomian bak secara langsung maupun bertahap. Pengaruh indicator otoritas moenetr terhadap aktifitas perekonomian terjadi melalui berbagai jalur (channels) yaitu jalur langsug atau jalur uang, jalur suku bunga, jalur kredit jalur harag asset dan jalur ekspektasi. Di bidang keuangan kebiajkan moneter berpengaru terhadap perkembangan suku bunga, nilai tukar dan harga saham disampin volume dana masyarakat yang disimpan di bank. Kredit yang disalurkan bank kepada dunia usaha, penenanaman dana obligasi dan saham. Sementara itu di sector riil kebijakan moenetr selanjutnya mempengaruhi kegiatan konsumsi, investasi dan produksi, ekspor dan impor serta barang dan jasa pada umumnya. Sejalan dengan perubahan struktur perekonomian dan perkembangan yang cukup pesat di bidang keuangan terdapat jalur-jalur yang dilalui yaitu jalur langsung, jalur uku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset dan jalur ekpekstasi (Warjiyo, 2003:18-20): 1. Jalur langsungTransmisi kebijakan moeneter dengan jalur langsung atau jalur uang yang pertama kali pada teori klasik tentang peranan uang dalam perekonomian dijelaskan dengan teori kuantitas uang atau Quantity theory of money (Fisher, 1911 dalam Warjiyo, 2003:18). Dasar dari teori ini adalah kerangka hubungan langsung uang beredar dengan harga yang dinyatakan dengan persamaan.MV = PTDimana jumalh uang beredar (M) dikalikan dengan tingakt perputaran uang atau income velocity (V) sama dengan jumlah output atau transaksi riil (T) dikalikan dengan tingkat harga barang dan jasa (P). Dalam keseimbangnanya jumlah uang beredar yang digunakan dalam kegiatantransaksi ekonomi (MV) sama dengan jumlah output yang dihitung dengan harga berlaku yang ditransaksikan dengan (PT). Pada teori ini dijelaskan bahwa permintaan uang yang dilakukan masyrakat hanya untuk transaksi tetapi dalam perkembangna teori ini diperbaharui oleh keynes dengna menyebut bahwa motif permintaan masyarakat terhadap uang adaalah transaskis, berjaga-jaga, dan spekulasi. Mekanisme dengan jalur ini adalah konsekuensi langsung terhadap proses perputaran uang dari perekonomian ada dua tahap yaitu yang pertama, banks sentral akan melalukakan operasi moneter utnutk mengendalikan uang beredar dimasyarakat, M1 ataupun M2 dengan pengaturan uang primer (base mioney) sebagai sasaran operasiona. Yang kedua, bank-bank akn mengelola likuiditas dalam bentuk cadangan yang dapat digunakan sewaktu-waktu utntuk kegiatan utma dari bank yaitu perkreditan dan pengerahan dana. Mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur uang dapat dilihat dari tindakan bank sentral untuk mencapai sasaran yang indin dicapai akan berpengaruh terhadap uang primer (M0), perubahan yang terjadi deisebut dengan proses penggandaan uang yang ditransmisikan keuang (M1, M2) yang kemudian diedarkan untuk pemenuhan permintaan uang oleh masyarakat. Dengan proses penawarn uang beredar yang kemudian terjadi perubahan pada jumlah uang beredar dalam masyarakat akan dapat berpengaruh pada pelaksanaan kegiatan perekonomian terutama inflasi dan output riil. 2. Jalur Suku Bungaa). Paradigma Uang Aktif (Active Money)melalui paradigma uang aktif ini kebijakan moneter dengan jalur ini merupakan kunci model IS, LM, AD dan AS. Aadanya peningkatan stok uang akan menurunkan tingkat bunga riil dan biaya modal dan meningkatlkan investasi bisnis. Pada khirny meningkatkan outpu agregat. Turunnya tingkat bunga riil akan meningkatkan pengeluatran yang digunakan untuk pembelian rumah dan barang dengan jangka lam penggunaannya. Oleh kerena itu, maka turunnya tingkat bunga akibat ekspansi moneter akan meningkatkan konsumsi dan permintaan agregat. pada tingkat bunag nominal sangat rendah,ekspansi moeneter akan meningkatkan ekspektasi tingkat harga dan inflasi, hal tersebut mengakibatkan turunnya tuingkat bunga riil. Turunnya tingkat bnga riil akan berakibat pada turunnya biatya modal dan biaya memegnag uang, yang kemudian akan mmebawa dapak pada bisnis dan konsumen yang kemudian adanya peningkatan permintaan agregat. mekanisme tansmisi ringkat bunga dirumuskan denganm p r i y

dimana m : stok uang nominal r : tingkat bunga riil, p : ekpektasi tingkat harga i : investasi riil y : output agregatb). Paradigma Uang Pasif (Passive Money)Cukup besarnya pengaruh jalur suku bunga dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter ke PDB ini dapat memperkuat beberapa argumen tentang keberadaan jalur suku bunga walaupun belum sepenuhnya optimal. Ada riset yang telah menyebutkan bahwa perubahan suku bunga berdampak pada pertumbuhan ekonomi (adnin 2008:10 dalam Rowland). Kebijakan moneter yang ditransmisikan oleh jalur ini dapat dijelaskan dengan dua tahap. Tshsp pertama akan mempengaruhi sektor keuanngan yaitu awalnya adanya perubahan kebiajakn dengan dirubahnya instrumen moneter (rSBI) dapat berepengaruh terhadap suku unga PUAB, suku bungan deposito, suku bunga kredit. Adanya proses tersebut diperlukan waktu atau time lag. Selanjutnya dari tahap pertama kemudian akan ditransmisikan ke sektor riil. Hal itu tergantung dari konsumsi dan investasi. Pengaruh suku bunga terhadapa konsumsi, berasal dari suku bunga deposito merupakan komponen pendapatan masyarakat dan suku bunga kredit adalah komponen dari pembiayaan konsumsi. Kemudian pengaruh suku unga terhadap investasi bisa terjadi karena suku bunga kredit adalah komponen biaya modal.3. Jalur Harga AsetMekanisme ini menekan pada kebijaksanaan yand dilakukan untuk mempengaruhi perubahan harga aset dan kekayaan masyarkat yang kemudian akan berpengaruh terhadap investasi dan konsumsi. Pada jalur harga aset jika banksentral melalukan kebijakan moneteer kontraktif akan mendorong peningkatan suku bunga yang kemudian akan menekan harga pasar aset perusahaan. Adanya perubahan suku bunga dan nilai tukar akan berpengaruh terhadap volume transaksi, harga obligasi, saham. Adanya perubhan harga aset yang kemudian akan berdampak pada aktifitas sektor riil yaitu permintaan konsumsi karena adanya perubahan kekayaan dan pendapatan dan berdampak pada permintaan investasi oelh dunia usaha. Adanya perubahan terhadapharga aset terhadap biaya modal yang dikeluarkan dalan produksi dan investasi selajutnya berdampakpada permintaan agregat, output dan inflasi.Menurut Miskhin (1995) melalui jalur ini dapat melalui dua saluran yaitu saluran kekayaan dan saluran Tobin-q. Pertama,pada saluran kekayaan (wealth effect) mmepengaruhi tingkat konsumsi dengan cara memberikan pengaruh terhadap agregat demand dan kemudian akan mempengaruhi output . Mekanisme dengan salura kekayaan dapat dirumuskan dengan:m s w c y

Dimana m : stok uang nominal s : ekspektasi harga saham w : kekayaan keuangan atau neraca konsumen c : konsumsi riil rumah tangga y : output riilPada saluran Tobin-q akan memoengaruhi tingkat investasi dan berdampak pada output. Dalam teori ini bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi penilaian saham. Tobin mendefiniskan bahwa q sebagai rasio harga pasar perusahaan dengan biaya penggantian modal. Jika q tinggi maka rasio harga pasar perusahaan dengan biaya penggantian modal tinggi dan jika q rendah maka rasio harga pasar perusahaan dengan biaya penggantian modal juga rendah. Mekanisme ini dirumuskan dengan:m s q i y

Dimana m : stok uang nominal s : ekspekstasi harga saham q : rasio harga saham dengan biaya penggantian modal i : investasi riil y : output riil4. Jalur KreditMekanisme dengan jalur ini akan didasarkan pada asumsi bahwa tidak semua simpanan masyarakat dalam bentuk uang (M1,M2) kemudian disalurkan dari bank kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Maksudnya bahwa adanya kenaikan simpanan masyrakat tidak selalu diikuti dengan naiknya kredit yang diberikan kepada masyrakat. Dan yang lebih memiliki pengaruh terhadap ekonomi riil adalah kredit perbankan bukan simpanana masyarakat.Dampak dari sisi moneter diharapkan dapat meningkatkan investasi yang kemudian akan meningkatkan hasil produksi barang dan jasa. Kemudian dari sisi sektor riil diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nasional melelui investasi dan juga dapat meningkatkan usaha secara. Menurut benake dan gertler (1995) terdapat dua teori tentang saluran kredit yaitu pinjaman bank (bank lending channel) dan neraca bank (balance sheet channel) yaitu:i). Alur pinjaman bankdalam mekanisme ini didasarkan pada peran daris sitem perbankan dalam sistem keuangan. Tetepi adanaynya informasi asimetri pada pasar keuangan dapat menciptakan masalah pada pasar kredit. Peran dari sistem perbankan yaitu membuka akses debitur tertentu terhadap pasar kredit. Mekanisme transmisi pinjaman bank dapat dirumuskan:m d l i y

dimana m : stok uang nominal d : deposit system perbankan l : kredit perbankan i : investasi riily : outputii). Alur NeracaMekanisme dengan alur neraca ini didasarkan pada peranan khusus dari sistem perbankan dalam sisitem keuangan. Adanya informasi yang asimetris dipasar keuangna menyebabkan masalah dalam pasar kredit yang dapat menurunkan nilai perushaan. Penurunan biali tersebut bisa memberikan dampak kerugian bagi bisnissehuingga kredit perbankan turun. Mekanisme dengan alur neraca dirumuskan dengan: m as md d l i y y

dimana m : stok uang nominal d : deposit system perbankan l : kredit perbankan i : investasi riil as : adverse selection mz : moral hazarsd y : output5. Jalur Nilai TukarComment by Hery Sriwiyanto: Setiap Awal Kata huruf besar ya untuk semua sub-judul..Perubahan suku bunga SBI juga dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme ini sering disebut dengan jalur nilai tukar. Secara teoritis dan empirirs ditemukan bahwa di negara maju dan negara berkembang ternayata variabel nilai tukar dan inflasi memiliki Granger Causality yang signifikan atau hubungan yang kuat (Ramlongan, 2005 dalam Rowland). Transmisi kebiajakn moneter melalui niali tukar adalah konsekuensi dari perekonomian terbuka. Perubahan nilai tukar dapat berpengaruh terhadap peruabahan suku bunga dalamnegeri. Dengan adanya selisih suku bunga dalam negeri dengan luar negeri akan terjadi perbedaan suku bunga nominal domestik dan suku bunga luar negeri. Dengan adanya selisih tersebut akan mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrumen keuangan dalam negeri,misal SBI. Dengan masuknya aliran modal dari asingakan mendorong/ apresiasi niali tukar rupiah, apresiasi ini mengakibatkan harga barang impor lebih murah dibanding harga barang yang akan diekspor akan cenderung mahal atau akan kurang kompetitif sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya ekspor riil juga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian. Mekanisme dari jalur ini dapat dirumuskan dengan:m r e i x y

Dimana m : stok uang nominal r : suku bunga e : nilai tukar mata uang i : investasi riil x : ekspor riil y : ouput riil6. Jalur Ekpekstasi Mekanisme melalui jalur ini menekannkan bahwa kebijakan moneter dapat untuk mempengaruhi pembentukan ekspektasi tentang inflasi dan kegiatan ekonomi. Kondisi tersebut akan dapat mempengaruhi perialaku pelaku ekonomi dalam pengambilan keputusan konsumsi dan investasi yang kemudian dapat mendorong output dan inflasi.B. Tenggang Waktu (Lag) Efek dari Kebijakan MoneterKebijakan meneter untuk tujuan stabilisasi ekonomi tergantung pada kuatdan tidaknya hubungan antara perubahan kebijakan moenetr dengan kegiatan ekonomi dan jangka waktu antara peruabahan kebijakan moenetr dengan efek terhadap kegitan ekonomi. Jangka waktu antara peruabahan kebijakan dengan perubahan kegiatan ekonomi dengan waku tenggang (time lag).Total lag

Inside lag outside impact lag

Recognition lag administrative lagNeed for recognition ofchange inchange inAction need for actionpolicy instrumenteconomic activityt0t1t2t3waktu

Recognition lag mencakup waktu dari t0 ke t1, adalah waktu yang diperlukan untuk bank sentral mengumpulkan data ekonomi dan menganalisa perubahan kegiatan ekonomi yang diinginkan dengan melakukan kebiajkan moneter. Pada waktu t0 tingkat kegiatan ekonomi telah berunah, misal terdapat kenaikkan pengangguran yang cukup besar. Sebelum bank sentral mengambil kebijakan moneter untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan waktu terlebuh dahulu untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan pengangguran. Admonitrative lag menunjukkan waktu antara waktu yang telah diketahui oleh otoritas moneter untuk memperkirakan akan merubah kebijakan moenter(t2) dengan waktu dalam bank sentral yang akan digunakan betul-betul merubah satu atau instrumen kebiajkan moneter (t2). Keseluruhan recognition dan administrasi lag sering disebut dengan inside lag, yaitu jangka waktu antara perubahan keadaab atau kegiatan ekonomiyang memerlukan perubahan kebijakn moneter dengan merubah satu beberapa instrumen kebijakan moneter. Sedangkan outside lag adalah waktu antara peruabahn dalam instrumen kebiajakan moneter (t2) dengan efek dari kebiajkan moneter tersebut dalam kegiatan ekonomi. Dan lag ini mengukur lama waktu tyang diperlukan dalam mentransfer perybahan kebijakan moneter dengan efek terhadap kegiatan ekonomi (t3).C. Produk Domestik BrutoProduk Domestik Bruto (PDB) dianggap sebagai ukuran terbaik dalam kinerja perekonomian. Ada dua cara yang dilakukan utnuk melihat data dari PDB, yang pertama PDB sebagai pendapatn total setiap orang di dalam perekonomian Kemudian yang kedua dengan melihat PDB sebagai pengeluaran total atas output barangdan jasa perekonomian. Dan untuk menghitung PDB dalam perekonomian yang lebh kompleks, maka definini PDB adalah niali pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu (Mankiw, 2009:19). Tujuan dari GDP adalah meringkas aktifitas akonomi dalam dalam suatu nilai uang tertentu selama periode tertentu. Produk domestik bruto dibedakan menjadi dua yaitu:1. PDB nominaalAdalah nilai barang dan jasa yang diukur dengan harga berlaku. PDB ini menggunakan harga yang tengah berlaku sebagai landasan perhitungan niali produksi barang dan jasa dalam perekonomian. 2. PDB riilAdalah nilai barang dan jasanya diukur dengan emnggunakan harga konstan. Ukuran kemakmuran ekonomi yyang lebih baik menurut para ekonom dengan menghitung output barang dan jasa perekonomian dan tidak akan dipengaruhi perubahan harga. Dengan tujuan ini para ekonom menggunakan PDB riil. PDB riil dapat menunjukan apa yang akan terjadi terhaap pengeluaran atas output jika jumlah berubah tetapi harga tetap dan hanya mencerminkan perubahan kuantitas. untuk itu karena PDB riil mempertahan harga konstan dijelaskan bahwa PDB riil memberikan ukturan kemakmuran ekonomi yang lebih baik daripada PDB nominal. Harga konstan yang diberlakukan terhadap PDB ini akan diperbaharui secara periodik harga-harga yang digunakan untuk menghitunga PDB riil.Ada beberapa komponen dari PDB, komponen tersebuta adalah konsumi (C), investasi (I), pemebelian pemerintah (G)dan ekspor neto (NX). Persamaan dari dan komponen pembentunya adalahPDB = C + I + G + NX...............................................................................(2.1)Konsumsi terdiri dari barang dan jasa yang dibeli rumah tangga, konsumsi dibagia menjadi tiga kelompok yaitu barang tidak tahan lama, baranng tahan lam dan jasa. Investasi terdiri dari barang-barang yang dibelui utnuk penggunaan masa depan, dalam investasi dibagi menjadi tiga yaitu investasi tetap bisnis, investasi tetap residensial dan investasi persediaan. Pembelian pemerintah adalah barang dan jasa oleh pemerintah pusat, negar bagian dan daerah. Ekspor neto memperhitungkan perdagangan dengannegara lain, ekspor neto adalah niali barang dan jasa yang diekspor ke negara laim dikurrang nilai barang dan jasa yang diimpior dari negara lain. Efektifitas kebiajakn moneter terhadap PDB tidak hanya tergantung dari permintaan uang tetapi oleh elastisitas pengeluaran investasi terhadap suku bunga. Apabila penegluaran investasi sangat elastis terhadap suku bunga, maka penurunan suku bunga yang kecil saja dapat mendorong penegluaran investasi yang cukup besar, sehingga pdb akan naik dengan cukup besar. Oleh sebab itu kebijakan moneter akan efektif bila elastisitas pengeluaran terhadap suku bunga makin besar.

D. Inflasi 1. Pengertian inflasiMenurut Keynes inflasi adalah kenaikan dalm tingkat harga rata-rata, dan harag adalah tingkat dimana uang dipertukarjan utnuk mendapat barang dan jasa. Definisi umum dari infalsi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus-menerus selama dalam periode tertentu. Unsur dalam penegertan inflasi yang perlu diketahui adalah:a. Inflasi merupakan proses kecenderungan kenaikan harga-harga umum barang-barang dan jasa secara terus-menerusb. Kenaikan harga-harga tidak berartu harus naik dengan presentasi yang sama, tetapi terpenting terdapat kenaikan harga-harga umum barang secara terus-menerus selama periode tertentuc. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya sekali saja dan bersifat sementra atau secara temporer tetapi tidak berdampak meluas bukanlah inflasi.

2. Sebab-sebab timbulnya inflasia) Demand pull inflation (inflasi tarikan permintaan)Menurut Mankiw ( 2009) demand pull inflation adalah inflasi yang disebabkan oleh guncangan atas permintaan agregat. inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan barang terlalu kuat. Untuk kasus inflasi yang seperti ini biasanya terjadi pada ketika menjelang hari-hari besar. Pergeseran kurva permintaan barang dan jasa dari D1 ke D2 disebabkan oleh adanya penambahan permintaan sebesar Q1 Q2 yang berakibat naiknya harga P1 P2. Jika permintaan terus bertambah ke Q2 Q3 menyebabkan harga akan terus naik menjadi P2 P3, begitu sterusnya. Hal itu menyebabkan kenaikan harga terus-menerus yang menyebabkan terjadinya inflasi

S P C P3 P2 B D3 A D2 P1 S D1

Q1 Q2 Q3 Q

Gambar 2.1 Demand pull inflationb) Cost push inflation ( inflasi dorongan biaya)Mankiw (2009) menjelaskan penegrtian dari cost push inflation adalah inflasi yang disebabkan oleh guncangan atas penawaran agregat. cost push infaltion juga disebut dengan goncangan penawaran yaitu inflasi karena adanya goncangan atau dorongan kenaikan baiaya faktor-faktor produksi swcara terus-menerus dalam kurun waktu tetentPergeseran kurva penawaran sebesar S1 S2 karena adanya kenaikan biaya faktor produksi menggeser permintaan barang sbesar Q1 Q2 yang berakibat naiknya harga barang P1 P2. Jika biaya produksi terus naik menjadi Q1 Q2 menyebabkan harga akan terus naik ke P2 P3, begitu seterusnya. Hal ini akan meneybabkan kenaikan harga yang terus-menerus menjadi sulit untuk diturunkan.

PD S3 C S2P3B S1P2P1 A

D Q3Q2Q1Q

Gambar 2.2 Cost push inflation3. Jenis-jenis inflasiMenurut tingkat keparahannya:a. Inflasi ringan (dibawah 10% pertahun) adalah kenaikan harga berjalam secara lambat dengan presentase yang kecil serta dalam jangka panjang yang relative lama.b. Inflasi sedang (antara 10-30% pertahun adalah ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar dan biasanya ditandai dengan double digit atau triple digit yang biasanya berjalan dalam waktu yang relative pendekc. Inflasi tinggi (antara 30-100% per tahun) d. Inflasi sangat berat atau hiperinflasi (diatas 100% pertahun) merupakan inflasi yang paling parah dampaknya karena harga-harga dapat naik sampai 5 atau 6 kali, jika hal ini terjadi masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uangnya kemudian nilai uang akan merosot sangat tajam sehingga dapat menimbulkan uang mereka akan ditukar dengan barang.4. Teori inflasiBerbagai teori tentang inflasi menjelaskan permasalahn inflasi itu didalam suatu perekonomian. Pada umumnya teori tersebut menjelaskan sebab-sebab terjadinya inflasi. Secara garis besar ada tiga kelompook berpendapat tentang inflasi,yaitu teori kuantitas, teori Keynes dan teori strukturalis.a. Teori kuantitas Teori yan paling tua tentang inflasi, kemudian teori ini ada penyempurnaan dari kelompok ahli ekonom dari Universitas Chicago yang kemudian dikenal dengan kelompok monetaris (Soelistyo dalam Prasetyo 2009:215). Menurut para ekonom tersebut bahwa inflasi hanya dapat terjadi apabila adanya kenaikan dalam jumlah uamg beredar. Harga-harga akan naik disebbkan oleh kelebihan uang yang diciptakan oleh bank sentral. Dan faktor lain spertii banjir, gagal panen dan bencana penyebab kenaikan harga yang sementara. Menurut teori ini penyebab untama terjadinya inflasi adalah:1). Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar (apakah berupa penambahan uang kartal atau penambahan uang giral tidak ada persoalan)2). Laju inflasi ditentukan oleh pertambahan jumlah uang yang beredar dan psikolog (harapan) masyarakat menegenai kenaikan harga-harga di masa datang. Jika ada tambahan jumlah uang beredar (JUB) sebesar X% maka akan menimbulkan inflasi, kurang dari X% sama dengan X% atau lebih dari X% tergantung dari masyarakat mengharapa atau tidak harga untuk naik lagi,pemerintah suatu negara setiap tahun sering melakukan penambahan penegluaran untuk mensejahterakan rakyatnya. Jika penambahan pengeluaran pemerintah dilakukan dengan mencetak uang baru sebagai penerimaannya, maka ini akan menimbulkan inflasi. Penerimaan uang yang dilakukan pemerintah dengan mencetak uang ini sering disebut dengan pajak inflasi (tax inflation). Jadi mencetak uang untuk meningkatkan penerimaan ini dapat dianggap seperti pajak inflasi (Mankiw, 2009). Menurut teori ini nilai uang ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang dipasar uang dan JUB ditetukan oleh bank sentral. Dan permintaan uang (money demand ) dipengari oleh factor-faktor penentu antara lain harga rata-rata dalam perekonomian. Jumlah uang yang diminta oleh masayarakat untuk trasnaksi all itu tergantung dari tingkat harag barang dan jasa yang tersedia. Dan semakin tingkat tingkat harga maka akan semakin tinggi pula uang yang akan diminta oleh masyarakat.

Value of price Money, 1/Plevel, P (High) 1 1

1.33Equlibrium A 2 equilibrium value of moneymoney z price level demandz 4 (Low) 0Quality fixed quantity of (high)By the fed money Gambar 2.3 Supply dan demand terhadap uang dengan tingkat harga Sumber : Mankiw (2009)

Gambar diatas menjelaskan hubungan supply dan demand uang. Pada sumbu horizontal menggambarkan tentang JUB dan pada sumbu vertical menjelaskan tentang nilai uang yaitu 1/P, sumbu vertical kanan menjelaskan tingkatharga P. Dan pada sumbu-sumbu vetikal itu menjelaskan bahwa jika nilai uang tinggi maka tingakta harga rendah dan akan berlaku sebaliknya pada tingkat harga tinggi nilai uang akan rendah. Kurva supply berbentuk vertical Karena JUB ditentukan oleh bank sentral dan kurva demand memiliki slope negative maka jika nilai uang rendah dan tingkat harga tinggi maka permintaan akan uang juga tinggi. Pada gambar titik A adalah keadaan dmana JUB dan jumlah uang yang diminta masayarakat dalam keadaan seimbang. Dimana saat terjadi equilibrium supply dan demand terhadap uang maka hal itu akan menentukan nilai uang dan tingkat harga barang jasa yang tersedia.Jika adanya kebijakan dari bank sentral dengan mengubah JUB, dengan cara mencetak uang baru lebih banyak maka keseimbangan supply dan demand pada titik A akan bergeser ke titik B. hal tersebut terjadi karena penambahan JUB menggeser kurva supply ke kanan dari MS1 ke MS2 mengakibatkan nilai uang turun (terjadi inflasi) dari ke kemudian tingkat harga keseimbangan akan naik dari 2 ke 4. Keadaan ini meningkatnya JUB mendorong terjadinya kenaikna harga yang menyebabkan niali uang tury atau terjadi inflasi.

value of Price level money,1/P MS1 MS2P (High) 1(1)1 (low)

1.33

A2 (2) (3) Bmoney 4 (low)Demand (high) 0 M1 M2 quantity of money

Gambar 2.4. Pergeseran keseimbangan harag akibat peningkatan JUB

b. Teori StrukturalisMenurut teori ini, inflasi terjadi karena adanya kendala atau abkan kekakuan penawaran dalam perekonomian suatu negra sehingg mengakibatkan kurva penwaran menjadi kurang dan cenderung tidak responsive terhadap permintaan yang meningkat. Menurut teori ini penyebab kekakuan karena kendala penawaran pangan yang bersifat inelastic, kendala devisa yang terbatas dan kendala fiscal. Teori ini serng disebut dengan teori inlasi dalam jangka panjang, karena menyoroti sebab-sebab inflasi berasal dar kekakuan atau kekuatan strukturdekonomi jangka panjang khusunya tentang bahan makanan dan barangekspor. Dalam teori ini menyebutkan karena us dinaikakpertambahan produksi barang-barang itu terlalu lambat dibandingkan dengan pertumbuhan kebutuhannya maka harus dinaikkan oleh pemerintah misalnya menaikkan biaya admisintrasi pembangunan sperti tariff dasar listrk, BBM dan menaikkan bahan pokok dan devisa. Yang kemudian akan berdampak pada naiknya harga harag barang lain sehingga aan terjadi infalasi. Jika terjadi inflasi yamg seperti ini maka tidak bisa mengatasinya dengan mengurangi jumlah uang beredar tetapi dilakukan juga pembangunana sector riil termasuk bahan makanan dan ekspor.c. Teori KeynesMenurut pandangan teori ini, JUB (MS) hanyalah sebagai salah satu faktor penentu tingkat harga ( inflasi ). Karena dalam jangka pendek, agregat demand (C,I,G dan Tx) juga dapat mempengaruhi inflasi. Menurut teori ini, inflasi tersebut terjadi karena masyarakat hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya. Teori ini menyoroti tentang perebutan rizky antara golongan masyarakat sehingga dapat menimbulkan permintaan agregatif yang lebih besara dibanding jumlah barang yang tersedia jika terjadi inflantionary gap. Selama celah inflasi (inflantionary gap) tetap ada selama itu proses inflasi masih terus berkelanjutan. Keterbatasan jumlah persediaan barang (penawaran agregat) ini terjadi karena dalam jangka pendek kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi kenaikan permintaan agregat. oleh karena hal itu sama dengan pandangan kaum monetaris. Teori ini lebih banyak pakai untuk menerangkan fenomena inflasi dalam jangka pendek. Dengan keaadan daya beli yang dimiliki beberapa golongan dimasyarakat tidak sama (heterogen), maka kemudian akan terjadi realokasi barang-barang yang tersedia dari golongan yang memiliki daya beli relatif rendah kepada golongan masyarakat yang memiliki daya beli relatif besar. Dan kejadian ini akan terus berlanjut dimasyarakat sehingga laju inflasi akan berhenti jika salah satu golongan tadi tidak bisa memperoleh dana (tidak bisa memiliki daya beli) untuk membiayai pembelian barang pada tingkat harga yang berlaku sehingga permintaan kembali dapat efektif di masyarakat.5. Efek InflasiInflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan, alokasi faktor produksi serta produk nasional. Efek terhadap distribusi pendapatan disebut dengan equity effect, sedangkan efek terhadap alokasi faktor produksi danpendapatan nasional masing-masing disebut dengan efficiency dan output effects (Nopirin, 1987 : 32-34) yaitu:a). Efek Terhadap Pendapatan (Equity Effect)Efek terhadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang diuntungkan dengan adanya inflasi. Seseorang yang memperolehpendapatan tetap akan dirugikan oleh adanya inflasi. Demik\an juga orangyang menumpuk kekayaannya dalam bentuk uang kas akan menderitakerugian karena adanya inflasi. Sebaliknya, pihak-pihak yang mendapatkankeuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan prosentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dimana nilainya naik dengan prosentase lebih besar dari pada laju inflasi. Dengan demikian inflasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola pembagian pendapatan dan kekayaan masyarakat.b). Efek Terhadap Efisiensi (Efficiency Effects)Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong terjadinya kenaikan produksi barang tertentu.c). Efek Terhadap Output (Output Effects)Inflasi mungkin dapat menyebabkan terjadinya kenaikan produksi. Alasannya dalam keadaan inflasi biasanya kenaikan harga barang mendahului kenaikan upah sehingga keuntungan pengusaha naik. Kenaikan keuntungan ini akan mendorong kenaikan produksi. Namun apabila laju inflasi ini cukup tinggi (hyper inflation) dapat mempunyai akibat sebaliknya, yakni penurunan output. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang riil turun dengan drastis, masyarakat cenderung tidak mempunyai uang kas, transaksi mengarah ke barter, yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara inflasi dan output. Inflasi bisa dibarengi dengan kenaikan output, tetapi bisa juga dibarengi dengan penurunan output.

E. Nilai Tukar1. Pengertian nilai tukarKurs valuta asing atau kurs mata uang asing menunjukkan harga atau niali mata uang suatu negara dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. Kurs valuta asing dapat juga didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang dibutuhkan yaitu banyaknya rupaih yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing. Pengertian kurs menurut Mankiw (2009:128) kurs (exchange rate ) anatara dua negara adalah tingkat harag yang disepakati penduduk kedua neagra untuk saling melakukan peradagangan. Kurs adalah pertukaran anatara dua mata uang yang berbeda yaitu merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut, dan perbandinag inilah yang disebut dengan nilai tukar (exchange rate). Kurs valuta diantara dua negara sering kali berbeda diantara satu amsa dengan masa yang lainnya. Nilai tukar biasanya berubahubah, perubahan kurs dapat berupa depresiasi dan apresiasi. Depresiasi mata uang rupaih terhadap dollar AS artinya suatu penurunan harga dollar AS terhadap rupiah. Depresiasi mata uang negra membuat harga barang-barang domestik menjadi lebih murah bagi pihak luar negeri. Sedang apresiasi rupiah terhadap dollar AS adalah kenaikan rupiah, apresiasi mata uang membuat harga barang-barang domestik menjadi lebih mahal bagi pihak luar. Kurs rupiah terhadap dollar AS memainkan peranan sentral dalam perdagangan internasional karena kurs rupiah terhadap dollar AS memungkinkan kita untuk membandingkan harga semua barang dan jasa yang dihasilkan berbagai negara. Kurs valuta asing dapat dibedakan menjadi kurs jual dan kurs beli, selisih dari penjualan dan pembelian merupakan pendapatan bagi pedagang valuta asing. Sedangkan bila ditinjau dari wakru yang dibutuhkan dalam menyerahkan valuta asing setelah transaksi kurs dapat diklasifikasikan dalm kurs pot dan kurs berjalan.2. Macam-macam nilai tukara. Menurut Mankiw (2009: 128), kurs dibedakan menjadi dua yaitu kurs nominal dan kurs riil, yaitu:1) Nilai tukar nominal (nominal exchange rate)Nilai tukar nominal adalah harag relatif dari mata uang dua negara atau niali uang tarif seseorang dapat memperdagangkan mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain. Sebagai contoh jika nilai tukar Rp 12000 untuk setiap satu dolar Amerika Serikat maka jika kita memberikan kepada petugas bank $1 maka akan memperoleh Rp 12000.2) Nilai tukar riil ( real exchange rate)Nilai tukar riil adalah harga realtif tingakatan seseorang dapat memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang negara lain. Sebagai contoh jika seseorang berbelanja dan mendapati bahwa harga satu minuman yang dibuat dinegara lain adalah dua kali harga minuman sejenis yang buatan lokal. Nilai tukar riil tersebut dinayatakan sebagai unit-unit barang asing perunit dari barang domestik. Menurut MaNKIW (2009:128), formulasi perhitungan nilai tukar riil adalah :

Nilai tukar riil : nilai tukar nominal x harga domestik Harga luar negeri

b. Kurs valuta asing dapat dibedakan menjadi kurs jual dan kurs beli, selisih dari penjualan dan pembelian merupakan pendapatan bagi pedagang valuta asing. c. Sedangkan bila ditinjau dari wakru yang dibutuhkan dalam menyerahkan valuta asing setelah transaksi kurs dapat diklasifikasikan dalm kurs spot dan kurs berjalan (forward looking)3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kursPeruabahn dalam permintaan dan penawaran pada valuta asinga yang kemudian menyebabkan perubahan dalam kurs disebabkan oelh banyak faktor (Sadono 2012:402). Yang terpenting diantara yaitu:a. Peruabahan dalam cita ras masyarakatCita rasa masyarakat mempengaruhi corak konsumsi mereka. Maka perubahan citarasa masyarakat akan mengubah corak konsumsi mereka ke atas barangp barang yang diproduksi didalam negeri atau pun yang impor. Jika kualitas barang impor lebih bagus daripada barang lokal akan menyebabkan keingina masyarakat utnuk emngkonsumsi barang-barang impor bertanabah besar sehingga permintaan barang-barang impor ikut vertambah besar dan perubahan ini akan mempengaruhi permintaan dan penawarna valuta asingb. Perubahan harga-harga barang ekpor dan imporHarga barang merupakan salh satu faktor yang penting utuk menentukan apakah barang akan diimpor atau diekspor. Barang-barang dalam negeri yang dapat dijual dengan harga yang relatif murah akan dapaat menaikan ekspor dan jika harganya naik maka ekspor akan berkurang. Pengurangan harga barang impor akan menambah jumlah impor. Dan sebaliknya impor akan menyebabkan perubahan dalam penawarn dan permintaan uang negar tersebut.c. Kenaikan-kenaikan harga umum (inflasi)Inflasi ssangat besar pengaruhnya kepada kurs pertukarna valuta asing. Inflasi yang berlaku pada umumnya cedenrung utnuk menurunkan nilai uang mata asing. Kecenderungan sperti ini wujud disebabkan efej inflasi adalah infalsi menyebabkan harga-harga barang ekspor menjadi lebih mahal, oleh karena itu inflasi berkecenderungan mengurangi ekspor. Dan keadaan ini menyebakan permintaan valuta asing bertambah dan akhirnya harga valuta asinh akan bertambahd. Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasiSuku bunga dan tingkat pengembalian investasi penting perannaya dalam mempengaruhi aliran modal. Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah cenderung akan menyebabkan modal dalam negeru mengealir keluar negeri. Sedangka suku unga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi dapat berakibat pada modal luar negeri masuk kenegara itu. Dan jika lebih banyak modal mengalir ke suatu negara tersebut maka permintaan mata uang juga akan bertambah sehingga niali mata uang tersebut juga bertambah. Ilai mata uang suatu negera akan merosot jika lebih banyak modal negara negar dialirkan keluar negeri karena suku bunga dan tingkat pengembalian investasi lebih tinggi di negara-negara lain.e. Pertumbuhan ekonomiEfek yang terjadi oleh kemajuan ekonomio kepada niali mata uangnya bergantung pada corak pertumbuhan ekonomi yang terbuka. Apabila kemajuan itu teruatama diakibatkan oleh perkembangan ekspor maka permintaan uang negara tersebut bertmbah lebih cepat dar oenawarannya dan oleh karena itu nilai mata uang negar itu akan naik. Tetapi jika kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat dari ekspor maka penawaran mata uang negera tersebut lebih cepeat bertambah dari permintaannya hal itu menyebabkan niali mata uang negara tersebut akan merosot.4. Perubahan nilai kursKurs yang ditentuka oleh pasar bebas dapat mengalami dua bentuk perubahan, yaitu kurs atas efek permintaan dan perubahan kurs atas efek perubahan penawarn (sadono sukirno, 2012:400-401).a. Perubahan kurs atas kenaikan permintaan

Harga dolar D D1S 2500 2000 Q1 Q2 kuantitas

Gambar 2.5 Kurva kenaikan permintaan kurs

Dalam gambar diatas dapat dilihat bahwa pada mula permintaan atas dollar adalag\h D dan penawarn atas dollar adalh S. Makan kurs pertukaran adalah satu dollar sama dengan 2000 rupiah dan kuantitas dollar yang dijual belikan adalah Q1. dari adanya kenaikan permintaan terhadap dollar maka kurva permintaan dollar bergerak dari D ke D1. Kurva yang D1 menaikkan harga dollar dari 2000 menjadi 2500 rupiah satu dollar yang diperjual belikan dalam pasar valuta asing dari Q1 naik ke Q2b. Perubahan kurs efek terhadap peruabahn penawaranGambar diatas adalh peruabhan penawaran, kurva S dan D menggambarkan penawaran dan permintaan uang dollar kemudian penawarn bertambah dari S ke S1 sebagai akibat kurs pertukaran untuk setiap dollar turun dari 2500 menjadi 200 rupiah dan kuantitas mata uang dollar yang diperjual belikan bertambah dari Q1 ke Q2

Harga dollar S S1 2500 2000 D

Q1 Q2

Gambar 2.6 Kurva perubahan penawaran kurs.F. Sistem Nilai Tukar Pendekatan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur nilai tukar menekankan pentingnya aspek perubahan harga asset finansial terhadap berbagai aktifitas perekonomian. Dalam kaitan ini, pentingnya jalur nilai tukar dalam transmisi kebijakan moneter terletak pada pengaruh asset finansial dalam valuta asing yang berasal dari hubungan kegiatan ekonomi suatu negara dengan negara lain. Pengaruhnya bukan saja terjadi pada perubahan nilai tukar, tetapi juga pada aliran dana masuk dan keluar suatu negara yang terjadi, antara lain karena aktivitas perdagangan antarnegara dan aliran modal investasi, seperti tercermin pada neraca pembayaran. Perubahan nilai tukar dan aliran dana dan dari ke luar negeri akan mempengaruhi kegiatan ekonomi riil di negara yang bersangkutan. Semakin terbuka perekonomian suatu yang disertai dengan sistem nilai tukar mengambang dan sistem devisa bebas, semakin besar pula pengaruh nilai tukar dan aliran dana luar negeri terhadap perekonomian dalam negeri (Warjiyo, 2004: 93).Pergerakan nilai tukar yang berfluktuasi di pasar uang tersebut akan sangat ditentukan oleh sistem nilai tukar yang dianut oleh masing-masing negara. Setiap negara memiliki sistem niali tukar yang berbeda sesuai dengan keinginan pemerintah negera tersebut untukmenstabilkan nilai tukar tersebut. Kestabilan niali tukar itu dapat melalui intervensi bank sentral atau diserahkan pada mekanisme pasar. Secara umumsistem nilai tukar yang diterapkan saat ini dapat dibedakan menjadi:1. Sistem nilai tukar tetapSistem nilai tukartetap (fixed exchange rate) adalah sistem mata uang yang konvertibel dalam negara tersebut. Dengan sistem ini setiap individu bebas melakukan jual beli valuta asing yang diinginkan dan untuk mempertahankan nilai tukarnya, pemerintah melalui bank sentral juga melakukan jual beli valuta asingSistem ini nilai tukar sudah ditetapkan pada niali tertentu, bank sentral akan selalu siap untuk menjual atau membeli kebutuhan devisa untuk mempertahabkan nilai tukar yang telah ditetapkan. Jika niali tukar tersebut tidak bisa dipertahankan maka bank sentral dapat melakukan devaluasi ataupun revaluasi atas nilai tukar yang telah ditetapkan (Warjiyo, 2004)2. Sistem nilai tukar mengambang bebasPada sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate), nilai tukar dibiarkan bergerak sesuai dengan kekuatan pasar yaitu permintaan dan penawaran yang terjadi. Nilai tuakr akan menguat apabila terjadi kelebihan penawaran dan sebaliknya nilai tukar akan melemah apabila terjadi kelebihan permintaan di pasar valuta asing. Dengan sistem ini memiliki kelebihan yaitu negara tidak memiliki keharusan untuk mempunyai cadangan devisa yang besar karena bak sentral tidak harus mempertahankan nilai tukar terhadap oevel tertentu3. Sistem nilai tukar mengambang terkendali Dengan sistem niali tuakr mengambang bebas (free floating exchange rate) bank sentral memiliki wewenang melakukan intervensi pada pasar valuta asing. Hal tersebut dilakukan agar dapat melunakkan fluktuasi jangka pendek tanpa ada maksud untuk mempengaruhi trend kurs jangka panjang. Bank sentral menggunakan cadangan devisa utnuk mengatasi kelebihan valuta asing jangka pendek sehingga mengurangi tekanan depresiasi yang kelebuhanDalam sistem ini bank sentral akan menetapkan batasan atau kisaran dari pergerakan niali tukar atau intervention band adalah batas intervensi. Nilai tuakr yang akan ditentukan melalui mekanisme pasar jika berada dalam batas atas atau batas bawah dari kisarnnya, maka bank sentral akan secara ottomatis melakukan intervensi pada pasar valuta asing sehingga niali tukar bisa bergerak kembali ke dalam batasan yang telah ditentukan ( Warjiyo,2004)G. Teori Paritas Daya Beli (Purchasing power parity theory)Teori ini dikemukan oleh ahli ekonomi dari Swedia, bernama Gustav Bassel. Dasar teorinya adalah perbandingan nilai mata uang dengan mata uang lain ditentukan oleh kemampuan permintaan terhadap uang. Konsepnya bahwa tingkat harga didalam negeri yang relatif terhadap harga diluar negeri. Menurut teori ini dalam perekonomian terbuka daya beli mata uang negara yang digunakan utnuk membeli barang atau jasa dari negara lain bisa dilihat dari perbedaan tingkat harga umum di negara yang bersangkutan dibanding dengan tingkat harga negara yang diinginkan. Inflasi mempengaruhi daya beli mata uang domestik dan nilai tukar didefiniskan sebagai daya beli suatu mata uang terhadap daya beli mata uang lain. Dapat dilihat nilai tukar sangat ditentukan oleh laju inflasi suatu negara, dan kenyataan kemapuan niali tukar tersebut juga ditentukan oleh berbagai faktor (Syabran,2004)Model umum dari teori PPP adalah:P = e P*....................................................................................(2.2)Dimana :P: Harga di dalam negeriP*: Harga di luar negerie: nilai tukarpersamaan di atas dapat dituliskan kembali sabagi berikut: e = P / P*.................................................................................(2.3)Atas dasar ini maka teori PPP menganggap bahwa niali tukar cenderung bergerak dalam proporsi yang sama dengan pergerakan tingka harga relatif dan ia juga merupakan salah satu indikator daya saing.

H. Jalur Kredit1. Jalur KreditKredit yang disalurkan perbankan merupakan salah satu jalur mekanisme transmisi kebijakan moneter. Mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran kredit didasarkan pada asumsi bahwa tidak semua simpanan masyarakat dalam bentuk uang beredar oleh perbankan selalu disalurkan sebagai kredit kepada dunia usaha. Intinya adalah fungsi intermediasi perbankan tidak selalu berjalan normal. Interaksi antara bank sentral dengan perbankan dan para pelaku ekonomi dalam tahapan proses perputaran uang dalam ekonomi (Warjiyo, 2004). Jalur kredit ini merupakan kritik terhadap jalur tingkat suku bunga yang menganggap bahwa komponen suku bunga sebagai variabel harga modal dalam pandangan klasik (cost of capital) sangat sulit diidentifikasi. Ber-dasarkan analisis klasik, seharusnya kebijakan moneter memiliki efek yang signifikan terhadap tingkat bunga jangka panjang, namun dalam kenyataan empiris kebijakan moneter justru terkait erat dengan tingkat bunga jangka pendek dan tidak mempengaruhi tingkat bunga jangka panjang. Pendekatan kredit ini beranggapan bahwa meningkatnya jumlah uang beredar sebagai akibat adanya ekspansi moneter akan meningkatkan deposito yang selanjutnya meningkatkan loanable fund sehingga terjadi peningkatan kredit perbankan. Kenaikan kredit perbankan ini akan meningkatkan komponen belanja (spending) dalam perekonomian yang selanjutnya akan meningkatkan PDB (Yeniwati dan Riani, 2010).Melalui jalur kredit diyakini bahwa kebijakan moneter bisa mempengaruhi perkonomian melalui supplai kredit dari sektor perbankan atau bank lending channel dan melalui neraca perusahaan dimana kebijakan moneter mempengaruhi kemampuan perusa-haan dalam memperoleh sumber pembiayaan eksternal dari perbankan atau balance sheet channel7. Perkembangan terakhir adalah peran jalur resiko atau risk taking channel yang masih merupakan riset aktif dalam studi ekonomi moneter. Jalur ini semakin menjadi perhatian para ekonom sejak dimulainya krisis perekonomian global saat ini (Yeniwati dan Riani, 2010).Mekanisme transmisi moneter melalui jalur kredit dapat dijelaskan pada gambar berikut:

Gambar 2. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Melalui Jalur Kredit

Interaksi antara bank sentral dengan perbankan terjadi di pasar uang rupiah. Interaksi terjadi karena di satu sisi bank sentral melakukan operasi moneter untuk pencapaian sasaran operasionalnya baik berupa uang primer ataupun suku bunga jangka pendek, sementara di sisi lain perbankan melakukan transaksi di pasar uang untuk pengelolaan di pasar uang untuk pengelolaan likuiditasnya. Interaksi ini akan mempengaruhi tidak saja perkembangan suku bunga jangka pendek di pasar uang tetapi juga besarnya dana yang akan dialokasikan bank-bank dalam bentuk instrumen likuiditas maupun untuk penyaluran kreditnya (Warjiyo, 2004).Terdapat dua jenis saluran kredit yang akan mempengaruhi transmisi moneter dari sektor keuangan ke sektor rill, yaitu jalur pinjaman bank (bank lending channel) dan jalur neraca perusahaan (balance sheet channel) (Mishkin, 2001). 0. Jalur Pinjaman Bank Jalur pinjaman bank menekankan pengaruh kebijakan moneter pada kondisi keuangan bank baik pada sisi aset maupun liabilitasnya. Jika bank sentral melakukan kebijakan moneter ekspansif, misalnya dengan menambah jumlah uang beredar, maka suku bunga SBI akan turun. Penurunana ini akan menurunkan kuantitas SBI dan sebaliknya akan meningkatkan deposito. Disebabkan oleh penurunan biaya dana (cost of fund), maka suku bunga pinjaman/kredit juga akan turun, sehingga mengurangi tindakan moral hazard dan adverse selection oleh perusahaan. Keadaan ini akan mendorong peningkatan pinjaman/kredit untuk perusahaan melakukan investasi yang pada akhirnya akan menigkatkan output (Mishkin, 2001).Ada dua hal yang menjadi syarat bagi berlakunya jalur ini, yaitu: 5. Kredit dan surat berharga bukan merupakan substitusi sempurna bagi sebagian peminjam atau sebagian peminjam bergantung pada kredit bank 5. Bank sentral harus mampu mempengaruhi ketersediaan kredit bank. Kebijakan moneter akan memiliki efek yang lebih besar pada perusahaan kecil dibandingkan pada perusahaan besar (Mishkin, 2001). Hal ini dikarenakan perusahaan kecil lebih bergantung pada kredit bank, sedangkan perusahaan besar dapat mengakses pasar modal secara langsung melalui penerbitan saham dan obligasi. 0. Jalur Neraca Perusahaan Jalur neraca perusahaan menekankan pengaruh kebijakan moneter pada kondisi keuangan perusahaan, dan selanjutnya mempengaruhi akses perusahaan untuk mendapatkan kredit (Andriyani, 2008). Dalam jalur ini, jika bank Sentral melakukan tindakan kebijakan moneter yang ekspansif, maka suku bunga di pasar uang akan turun, lalu mendorong harga saham mengalami peningkatan. Sejalan dengan peningkatan tersebut, nilai bersih perusahaan (networth) akan meningkat disebabkan meningkatnya harga equity yang selanjutnya akan mengurangi tindakan adverse selection dan moral hazard oleh perusahaan. Kondisi ini mendorong peningkatan pemberian kredit oleh bank, selanjutnya meningkatkan investasi, dan pada akhirnya meningkatkan output (Mishkin, 2001).

J. Jumlah uang beredarJumlah uang yang tersedia disebut jumlah uang beredar. Ada beberapa definisi dari uang, masing-masing berbeda sesuai dengan tingkat likuiditasnya. Menurut nopirin (1986:3) mendefinisikan uang menjadi tiga yaitu M1, M2 dan M3.1. M1 = C + DDC = Currency (uang kartal)DD = demand deposit (uang giral)Uang beredar adalah uang kartal ditambah uang giral disebut dengan uang dalam arti sempit dan dituliskan dengan M12. M2 = M1 + TD + SDTD = Time deposit (deposit berjangka)SD = saving deposit (saldo tabungan)M1 sebagai uang beredar yaitu daya beli yang bisa langsung digunakan untuk alat pembayaran dan bisa diperluas demgan alat pembayaran yang mendekati uang misal deposito berjangka dan simpanan tabungan. Uang dalam M2 ini adalah daya beli bagi pemiliknya tetapi dalam penggunaannya tidak semudah uang tunai. M2 sering disebut dengan uang beredar dalamarti luas atau broad money.3. M3 = M2 + seluruh SD dan TD lainnya pada bank dan non bankM3 mencakup semua depositi berjangka dan simpanan tabungan baik rupiah maupun mata uang asing milik masayarakat yang terdapat pada bank atau lembaga keuangan non bank, M3 didebut dengan uang kuasi.Mankiw ( 2009) juga mengelompokan uang menjadi M1, M2 dan M3. Bank indonesia sebagai bank sentral juga menggunakan jenis uang ini sebagai ukuran jumlah uang beredar yang ada dalam kegiatan perekonomian. Tabel 2.1Jenis dan ukuran uang beredarSimbol Cakupan asset Cakupan aset (bank indonesia)

C atau M0Mata uang ( currency) disebut juga uang kartal yaitu terdiri dari jumlah uang kertas dan uang logamJenis uang secara sempit yaitu uang kertas dan logam

M1Mata uang ditambah deposito penerimaan, traveelers check, dan deposito yang dapat diuangkan dengan cek lainnyaM0 ditambah dengan demand deposit (DD) yaitu tabungan dan deposito sebagai perhitungan JUB yang sangat likuid

M2M1 ditambah neraca reksadana pasar uang ritel, deposito tabungan ( rekening depisito pasar uang) dan deposito berjangka kecilM1 ditambah time deposit (TD) yaitu tabungan, deposito dan sejenisnya yang tidak likuid atau tidak mudah dicairkan

M3 M2 ditambah deposito berjangka besar, kesepakatan pembelian ulang, eurodollar dan neraca reksadana pasar uang institusiM2 ditambah dengan deposito jangka panjang yaitu dana-dana institusional yang ada dipasar

Sumber : Mankiw, 2009 dan Bank Indonesia, 2009K. Teori Kuantitas Uang Teori ini menyatakan bahwa kuat dan lemahnya nilai mata uang tergantung dari jumlah uang yang beredar. Jika jumlah yang berubaha menjadi dua kali lipat, maka nilai uang akan emnurun menjadi setengah dari harga semula. Jumlah uang yang beredar ditentukan oleh bank sentral, dan jumlah uang yang diminta (money demand) ditentukan beberapa faktor, yaitu tingkat harga rata-rata dalam kegiatan ekonomi. Jumlah uang yang diminta tergantung dari harga barang dan jasa yang tersedia. Semakin tinggi tingkat harga maka semakin besar jumlah uang yang diminta. Teori ini berasal dari pemikiran salah satu ekonom David Hume (1776). Masyarakat memegang uang untuk membeli barang dan jasa, jika masyarakat membutuhkan uang utnuk bertransaksi maka semakin banyak uang yang akan dipegang. Sehingga kuantitas uang dalamperekonomian berkaitan erat dengan jumlah uang yang ditukarkan untuk transaksi. Hubungan diantara transaksi dan uang ditunjukkan dalam persamaan berikut, yang disebut persamaan kuantitas (quantity equation):M x V= P x T.............................................................................................(2.4)Sisi kanan dari persamaan diatas menyatakan transaksi (T) adalah total jumlah transaksi selama periode waktu tertentu. T adalah berapa kali dalamsetahun barang dan jasa ditukarkan dengan uang, dan P adalah harga dari trabsaksi tertentu. Produk dari harga transaksi dan jumlah transaksi (PT) adalah jumlah uang yang digunakan untuk transaksi atau ditukarkan dalam setahun. Sisi kiri pada persamaan tersebut menyatakan bahwa uang yang digunakan untuk melakukan transaksi , M adalah kuantitas uang dan V adalah perputaran uang transaksi dan mengukur tingkat di aman uang bersirkulasi dalam kegiatan perekonomian. Secara umum teori kuantitas uang ( Mankiw, 2009:83) menjelaskan bahwa pengaruh jumlah uang beredar terhadap perekonomian dkaitkan dengan harga dan output. Karena menurutnya pada persamaan pertama dinilai bahwa jumlah transaksi menjadi susah untuk diukur maka T jumlah transaksi akan diganti menjadi Y yaitu output. Hubungan antara jumlah uang beredar, output dan harga dapat dituliskan dengan persamaan:M x V = P x Y.............................................................................................(2.5)Dimana P adalah harga (defaltor GDP), Y adalaha jumlah output (PDB riil), M adalah jumlah uang beredar, PY adalah PDB nominal dan V adalah perputaran pendapatan uang. Dan persamaan kuantitas dengan menggunkan ini adalah yang paling umum.L. Suku BungaPara ekonom membendakan anatara tingkat bunga nominal dan tingkat bunga riil. Perbedaan ini adalah revelan ketika seluruh tingkat harga berubah. Tingkat bunga nominal (nominal interest rate) adalah tingkat bunga yang bisa dilaporkan yaitu tingkat bunga yang dibayar investor utnuk meminjam uang. Tingkat bunga riil (real interest rate) adalah tingkat bunga nominal yang dikoreksi untuk menghilangkan pengaruh inflasi (Mankiw, 2009:61). Bank Indonesia menetapkan tingkat suku bunga tertentu dari waktu ke waktu suku bunga tersebut dinamakan suku bunga SBI. Suku bunga SBI dihitung dengan menggunkan arta-rata tertimbnagn dan memperhitungkan bobot volume transaksi yang terjadi pada periode yang bersangkutan. Jenis suku bunga dapat berebda karena tiga hal (Mankiw, 2009:62), yaitu:a. Jangka waktu pinjamanb. Resiko kreditc. PajakM. Teori Tingkat Bunga FisherTingkat bunga yang dibayar bank sebagai tingkat bunga nominal (nominal interest rate) dan kenaikan daya beli dengan tingkat bunga riil (real interest rate). Jika i menyatajan tingkat bunga nominal, r tingkat bunga riil, adalah tingkat inflasi, maka hubungan antara ketiga variabel tersebut dapat dirumuskan dengan:r = i - .....................................................................................................(2.4) Tingkat bunga riil adalah perbedaan diantara tingkat bunga nominal dan inflasi. Tingkat bunga bisa berubah karena dua alasan, yaitu karena tingkat bunga riil berubah dan karena tingkat inflasi berubah.N. Kebijakan Moneter Untuk Mengendalikan Suku BungaPada gambar dibawah menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang dilakukan melalui penurunan jumlah uang yang beredar untuk mempengaruhi keseimbangan suku bunga. Kurva vertikal MS2 adalah jumlah uang yang beredar, dan permintaan uang diperlihatkan dengan kurva LP, keseimbangan awal tingkat suku bunga i. Penurunan jumlah uang yang beredar menyebabkan kurva jumlah uang beredar bergeser ke kiri dari MS1 ke MS2, terjadi keseimbangan lebih tinggi yaitu i1.

i MS1 MS2

i1 io LP

M1 M2Gambar 2.5. perubahan penawaran uangSumber : Mankiw, 2000

O. Teori Paritas Suku BungaInti dari teori ini adalah menjelaskan penentuan tingakt unga dalam sistem devisa bebas (yaitu jika penduduk masing-masing negara bebas meperjual belikan devisa) . dalam teori ini pokok bahasannya adalah jiak dalam sistem devisa bebas maka tingkat bunga di negara satu akan cenderung sama dengan tingkat bunga di negara lain setelah diperhitungkan perkiraan mengenai laju depresiasi mata uang negara yang satu terhadap negara lain. Secara matematis dijelaskan dengan:i = i* + ...................................................................................(2.5)dimana i : tingkat bunga nominal didalam negeri i*: tingkat bunga nominal diluar negeri : laju depresiasi mata uang dlam negeri terhadap matauang asing yang diperkirakan akan terjadi1. Uncovered interest parityKonsep ini menjelaskan hubungan antara tingkat bunga domestik (i), tingkat suku bunga luar negeri (i*) dan depresiasi mata uang domestik(x). Konsep ini menjelaskan perilaku investor dalam mengambil keputusan apakah akan menamkan modalnya didalam negeri atau diluar negeri. Dapat dirimuskan sebagai berikut:i = i* + x....................................................................................(2.6)Persamaan diatas diubah menjadi:i x = i*.....................................................................................(2.7)Sepanjang tingkat pengembalian / pendapatan investasi di dalam negeri (setelah memperhitungkan tingkat depresiasi mata uang domestik) lebih besar dibandingkan pendapatan investasi di luar negeri, hal tesebut membuat investor tertarik untuk meningkatkan investasinya di dalam negeri, tetapi apabila hal yang terjadi adalah sebaliknya maka investasi kan berrpikiran utnuk menarik investasinya dan menanam investasi keluar negeri (Syabran, 2004).2. Covered interest parity Dalam kondisi ini menjelaskan jika tidak ada kesempatan untuk meraih keuntungan karena terjadi perpindahan tidak dapat emngubah pengembalian aset untuk itu P. Penelitian Sebelumnya1. Penelitian Hakim Hakim dalam penelitian yang ebrjudul Perbandingan peranan jalur kredit dan jalur suku bunga pada mekanisme transmisi kebijakan moneter 1990-1999 dengan analaisis VAR, menganalisis tentang peranan jalur kredit dan jalur tingkat suku bunga pada mekanisme tranmsisi kebijakan moneter Dan membandingkan perspektif jangka panjang (1990-1999) dan jangka pendek (1997-1999) dari kedua jalur. Dengan menggunakan data. Menurut konvensi, studi meknanisme transmisi kebijakan moneter dengan menggunkan VAR minimal terdiri dari tiga variabel yaitu output, harga dan tingkat suku bunga. Hasil dari penelitiannya dengan menggunakan metode VAR ditemukan bahwa jalur kredit lebih berperan dibandingkan dengan jalur tingkat suku bunga.2. Penelitian YusufPenelitian yang dilakukanYusuf berjudul Analisis efektifitas jalur-jalur transmisi kebijakan moneter sasaran tunggal inflasi dengan menganalisis tentang jalur yang paling efektif dalam implementasi kebijakan moneter terhadap sasaran tunggal inflasi dan meneliti variabel yang paling cocok digunakan untuk assaran operasional. Dengan menggunakan alat analisis VAR data yang digunakan adalah inflasi, uang inti,uang sekunder, output gap, suku bunga SBI, suku bunga deposito, suku bunga kredit, nilai tukar dan PUAB. Hasilnya menyebutkan bahwa jalur suku bunga lebih efektif sedangkan sasaran operasional yang paling kuat adalah PUAB.3. Penelitian NatsirPenelitian yang dilakukan ini dengan judul Analisis empiris efektifitas nekanisme transmisi kebijakan monter di Indonesia melalui jalur niali tukar periode 1990:2-2007:1 . Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dan membuktikan efektifitas jalur nialai tukar dalam MTKM di Indonesia dalammewujudkan ssaran akhir kebijakan moneter (inflasi). Penelitan tersebut penelitian eksplanatori dan secara spesifik penelitian ini fokus terhadap kecepatan dan kekuatan respons suatu variabel terhadap shock variabel lainnya. Dengan menggunakan pendekatan VARdan mengguanakan data time series hasil penelitiannya dengan menggunakan jalur nilai tukar membutuhkan waktu time lag atau kecepatan sekitar 16 triwulan hinggan terwujudnya inflasi. Respon variabel-variabel pada nilai tukar terhadap peruabahn instrumen moneter (suku bunga SBI) relatif lemah dan variabel niali tukar hanya mampu menjelaskan variasi infalasi sebesar 19,70% lebih kecil dibandingkan dengan yang dapat dijelaskna oleh paritas suku bunga (PSB) yakni sbesar 43,27%. Ha tersebut menunjukkan bahwa granger causality dan predictive yang lemah anatar kurs dan inflasi. 4. Penelitian Amrini Penelitian ini berjudul analisis pengaruh kebijakan moneter terhadap inflasi dan perekonomian di Indonesia. Dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya dan untuk pengambilan kebijan selanjutnya. Data yang digunakan data sekunder terdiri dari infalsi, JUB , suku bunga, nilai tukar, investasi dan tenaga kerja. Dengan menggunakan metode OLS dan untuk meramalkan atau memprediksi dengan teknik ARIMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang digunakan berpengaruh terhadap inflasi hanya pertumbuhan ekonomi yang tidak. Investasi asing, investasi domestik perpengaruh singnifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. dengan menggunakan terknik prediksi tersebut prospekperekonomian Indonesia meningkat terus menerus tahun 2014-2018.5. Penelitian HerlinaPenelitian Herlina ini dengan judul indentifikasi mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia tahun 2000-2011. Dengan tujuan untuk mengidentifikasi hubungan jalur-jalur transmisi kebijakan moneter Indonesia tahun 2000 sampai tagun 2011. Data yang digunakn data sekunder runtut waktu (time series) yaitu rSBI, PUAB, PDBR, Inflasi, Investasi sektor riil, investasi sektor swasta, kredit konsumsi, kredit investasi riil, konsumsi riil, net foreign asset, nilai tukar, ekspor riil, IHSG, suku bunga deposito, suku bunga kredit dan paritas suku bunga. Dengan menggunkan metode OLS hasilnya SBI sebagai instrumen moneter masih dapat dipertahankan sebagai acuan utnuk menegndalikan variabel-variabel kebijakan moneter. Pada saluran kredit PUAB tidak memilik hungan kausalitas terhadap kredit investasi dan investasi riil dapat mempengaruhi kerdit riil banks komersil. Pada jalur suku bunga konsumsi riil sektor swasta tidak memeiliki pengaruh terhadap suku bunga deposito. Dan jalur aset tidak ada hubungan antara investasi riil sektor swasta dan konsumsi riil sektor swasta terhadap IHSG. 6. Penelitinan Umi Julaihah dan InsukindroDengan judul dampak kebijakan moneter terhadap variabel makro ekonomi di Indonesia tahun 1983-2003. Pene;itian ini menekan kan pada tujuan untuk melihat peran dan yang efektif agregat monter (M0) dan suu bunga (SBI) terhadap variabel makroekonomi. Pemilihan variabel makroekonomi dalam pene;itian ini dibentuk dari reduce form persamaan IS-LM-AS. Model tersebut memliki tiga persamaan yaitu fungsi permintaan, fungsi permintaanuang dan penwaran agregat. mengguanakan variabel jumlah uang primer, SBI, suku bunga deposito, tingkat inflasi, PDB dan nilai tukar. Dengan menggunanan VAR/VECM hasilnya bahwa uang primer hanya berkontribusi terhadap inflasi sebeesar 5% tetapi tidak memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan SBI berkontribusi lebih luat terhadapa SBI. Penggunaan variabel suku bunga SBI Sebagai kebiajkan moenetr lebih baiki dari uang primer.7. Penelitian di Burundi oleh Rutayisire (2010)Dalam penelitiannya ini menggunakan suku bunnga sebagai kebijakannya dengan duji dengan dua lag untuk menghindari korelasi residu pada urutan lag pertama. Dan untuk emmastikan kekuatan relatif jalur suku bunga. Variabel yang digunakan adalah GDP , CPI, uang cadangan dan kredit. Dan hasilnya memiliki pengaruh terhadap harga. Di Burundi jalur yang efektif adalah suku bunga dari pada jalur kerdit dan nilai tukar. 8. Penelitian di Uganda (2005) dan TanzaniaDalam penelitiannya Peiris ( 2005 ) mempekerjakan enam variabel Model VAR rekursif dan menemukan bahwa kejutan bagi M2 meningkatkan tingkat harga. Ditanzania penelitian yang dilakukan oleh Buigut (2009) dengan menggunakan VAR struktural untuk data tahunan Tanzania pada 1984-2005 dan menemukan bukti bahwa guncangan suku bunga memiliki efek yang lemah dan tidak signifikansi terhadap oupu dan inflasi. Dan montiel (2012) meneukan bahwa uang cadanganmemiliki efek yang signifikan terhadap tingkat harga dalam model VAR Rekursif tetapi ketiak model VAR struktural yang digunakan signifikasi terhadap tingkat harag telah menghilang dan memiliki efek terhadap output. Sedangkan jika menggunakan pendekataan tunggal menemukan inflasi mempengaruhi inflasi dalam jangka pendek maupun jangka penjang secara statitik dan signifikan.9. Penelitian Cheng (2006) di KenyaCheng menggunakn rekursif dan non rekursif vektor autorgersi (SVAR) untuk data bulanan di kenya u tuk tahun 1997-2005) dan menemukan beberapa bukti bahwa keberadaan saluran tansmisi tradisoinal suku bunga dapat mempengaruhi output dan dampak yang kuat dari nilai tukar dalam mempengaruhi inflasi.10. Erikson (2011)Melakukan penelitian di Chile, Peru, New Zeland dan Uruguay. Dalaam penelitiannya bagaiman pengaruh suku bunga masing-masing negara terutama tingkat pasar uang, suku bunga depositi,dan suku bunga pinjaman. Dengan menggunakan model VAR menekukan bahwa di Chili dan Selandia baru suku bunga lulus uji signifikan terhadap inflasi dan otput. Tetapi di Urugua dan New Zeland suku bunga lemah dan jalur nuilai tukar memiliki peran utuk mengendalikan inflasi dan otuput.11. Penelitian BaturePenelitian ini pada tahun 2014 di Nigeria. Mekanisme transmisi moneter di Nigeria menelusuri hubungan antara perubahan pasokan uang dan variabel riil sperti output, lapangan pekerjaan dan harga barang dan jasa. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa saluran nilai tukar lemah dibandingkan dengan jalur kredit karena banyak masyarakat di Nigeria membutuhkan kredit dari perbankan untuk menggerakkan usaha mereka dari yang kecil dan menengah serta usaha perorangan. Oleh karenan itu jalur kredit harus didukung juga dengan jalur nilain tukar untuk memfasilitasi bisnis dan investasi global.

12. Penelitian Fahri Ersandi (2013) dari Universitas Sebelas Maret Surakarta Penelitian ini berjudul Analisis Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Jalur Bank Lending Di Era Penargetan Inflasi Periode 2002:1-2012:4. Untuk mengetahui eksistensi dari jalur Bank Lending di masing-masing jenis Bank digunakan uji Granger Causality. Hasil uji Granger Causality menunjukkan bahwa masing-masing jenis Bank memiliki pola transmisi yang berbeda namun secara umum menunjukkan eksistensi jalur Bank Lending. Dari hasil uji IRF menunjukkan bahwa secara umum shock kebijakan moneter berdampak positif terhadap inflasi dan direspon fluktuatif oleh output riil. Sedangkan dari hasil uji FEVD menunjukkan bahwa policy rate dalam jangka panjang cukup baik dalam menjelaskan variabilitas inflasi namun tidak baik dalam menjelaskan variabilitas output riil. Hal tersebut bisa disimpulkan bahwa policy rate dalam jangka panjang efektif dalam mempengaruhi inflasi namun tidak efektif dalam mempengaruhi output riil. Pemerintah dan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter diharapkan mempertimbangkan faktor internal Bank agar proses transmisi kebijakan moneter berjalan dengan semestinya.

Q. Kerangka pemikiranMenurut Hakim (1999: 104). Dalam mekanisme transmisi memiliki beberapa jalur atau saluran, pada paradigma lama menggunakan pendekatan jalur kuantitas terdiri dari dari jalur langsung dan jalur kredit. Sedangkan pada paradigma baru dari pendekatan jalur harga, jalur tingkat suku bunga, jalur nilai tukar dan efek aset lain. Nopirin (2009:79) menyebutkan bahwa kurangnya informasi tentang jalur pengaruh (mekanisme transmisi) kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi (yang tercermin dengan output, harga dan employment) Analisis efektifitas mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia melalui jalur biali tuakr dan jalur kredit. Dalam memcahkan masalah diperlukan susunan kerangka pemikiran agar mempunyai bentuk yang terarah pada pemecahan masalah. Dan skema dari penelitian ini adalah sebagai berikut:Kebijakan Moneter

Suku Bunga DepositoInvestasiSuku bunga kreditJumlah Uang BeredarSuku Bunga SBIJalur Kred