glukosa ureum kreatinin

8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Diabetes Millitus Penyakit Diabetes Millitus (DM) yang juga di kenal sebagai penyakit kencing manis/ penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh (Tjokroprawiro, 1992). Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengkontrol jumlah atau kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah (Tjokroprawiro, 1992). 1. Tipe 2 : Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin Diabetes Millitus Tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Seluruh penderita Diabetes Millitus, jumlah penderita Diabetes Millitus Tipe 2 adalah yang paling banyak yaitu 90 99 %. Diabetes Millitus Tipe 2 biasanya disebabkan karena keturunan, gaya hidup yang tidak sehat, kegemukan, kurang olahraga, terlalu banyak makan dengan gizi yang tidak seimbang. Gejala yang menyertai Diabetes Millitus Tipe 2 yang biasa dikeluhkan adalah cepat lelah, berat badan turun walaupun banyak makan, atau rasa kesemutan ditungkai (Hartini, 2009). Diabetes Millitus Tipe 2, insulin masih diproduksi namun insulin tidak dapat bekerja secara adekuat (retensi insulin). Diabetes Millitus Tipe 2 tidak mutlak 5

Upload: restu-fajar-forwendy

Post on 01-Feb-2016

27 views

Category:

Documents


0 download

DESCRIPTION

kesehatan

TRANSCRIPT

Page 1: glukosa ureum kreatinin

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Diabetes Millitus

Penyakit Diabetes Millitus (DM) yang juga di kenal sebagai penyakit kencing manis/

penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan

kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam

tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai

kebutuhan tubuh (Tjokroprawiro, 1992).

Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung

jawab untuk mengkontrol jumlah atau kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan

untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang

diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah

(Tjokroprawiro, 1992).

1. Tipe 2 : Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin

Diabetes Millitus Tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat

berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes

Mellitus (NIDDM). Seluruh penderita Diabetes Millitus, jumlah penderita Diabetes

Millitus Tipe 2 adalah yang paling banyak yaitu 90 – 99 %. Diabetes Millitus Tipe 2

biasanya disebabkan karena keturunan, gaya hidup yang tidak sehat, kegemukan,

kurang olahraga, terlalu banyak makan dengan gizi yang tidak seimbang. Gejala yang

menyertai Diabetes Millitus Tipe 2 yang biasa dikeluhkan adalah cepat lelah, berat

badan turun walaupun banyak makan, atau rasa kesemutan ditungkai (Hartini, 2009).

Diabetes Millitus Tipe 2, insulin masih diproduksi namun insulin tidak dapat

bekerja secara adekuat (retensi insulin). Diabetes Millitus Tipe 2 tidak mutlak

5

Page 2: glukosa ureum kreatinin

memerlukan suntikan insulin seperti penderita penderita diabetes tipe I. Obat yang

diberikan pada penderita Diabetes Millitus Tipe 2 adalah obat untuk memperbaiki

kerja insulin dan obat untuk memperbaiki fungsi sel β pankreas dalam memproduksi

insulin. Usaha penurunan berat badan dapat meningkatkan kepekaan sel terhadap

insulin sehingga gula dapat masuk ke dalam sel untuk proses metabolisme (Hartini,

2009).

Kurva kejadian Diabetes Millitus Tipe 2 mencapai puncaknya pada usia setelah 40

Tahun, hal ini karena kelompok usia diatas 40 tahun mempunyai resiko tinggi terkena

Diabetes Millitus akibat menurunnya toleransi glukosa yang berhubungan dengan

berkurangnya sensitifitas sel perifer terhadap efek insulin (Haznam, 1991). Usia 40–70

tahun Diabetes Millitus lebih banyak terjadi pada wanita, tetapi pada umur yang lebih

muda frekuensi diabetes lebih besar pada pria. Hal ini juga dipicu oleh adanya

persentase timbunan lemak badan pada wanita lebih besar dibandingkan dengan laki-

laki yang dapat menurunkan sensitifitas terhadap kerja insulin pada otot dan hati

(Ferannini Elle, 2003).

2. Gejala dan Tanda Diabetes Mellitus

Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita diabetes mellitus

yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan

kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 – 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita

kencing manis yang mengandung gula (glukosa), sehingga sering dikerubuti semut.

Penderita umumnya menampakkan tanda dan gejala di bawah ini meskipun tidak

semua dialami oleh penderita :

a) Jumlah air seni yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria).

Page 3: glukosa ureum kreatinin

b) Sering atau cepat merasa haus (Polydipsia).

c) Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia).

d) Frekuensi air seni meningkat atau kencing terus (Glycosuria).

e) Kesemutan atau mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan dan kaki.

f) Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya.

g) Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba.

h) Apabila luka atau tergores penyembuhannya akan lama.

i) Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak

sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma (Tjokroprawiro, 1992).

3. Diagnosa Diabetes Mellitus

Diagnosa penderita diabetes mellitus bila dalam pemeriksaan gula darah

menunjukkan ketidaknormalan, menunjukkan gejala klinis maupun dalam pemeriksaan

laboratorium urinnya terdapat kandungan gula. Kemampuan orang untuk meregulasi

glukosa plasma dapat ditentukan melalui uji :

a) Kadar glukosa serum puasa : apabila nilai kadar glukosa puasa selama 8–10 jam

menunjukkan hasil ≥ 126 mg/dL maka terdiagnosa diabetes mellitus.

b) Uji toleransi glukosa oral : dilakukan dengan meminum larutan glukosa khusus 75

gram. Bila setelah 2 jam kadar gula darah menunjukkan nilai ≥ 200 mg/dL maka

penderita menderita diabetes mellitus (Hartini, 2009).

Page 4: glukosa ureum kreatinin

B. Batas Normal

Ureum 20-40 mg/dL

Kreatinin 0,5-1,5 mg/dL

Glukosa darah 70-115 mg/dL

C. Penyakit Gagal Ginjal

Ginjal adalah organ ekskresi yang berbentuk seperti kacang tanah dan berukuran

sekitar 11x7x6 cm. Organ ini berfungsi menyaring kotoran, terutama urea, dari dalam

darah sekaligus membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Selain itu ginjal

juga berfungsi menjaga keseimbangan asam basa, serta menghasilkan hormon (As’adi,

2012).

Penyakit gagal ginjal disebabkan oleh fungsi organ ginjal yang mengalami penurunan,

sehingga tidak dapat menyaring pembuangan elektrolit tubuh. Selain itu, organ ini juga

tidak dapat menjaga keseimbangan antara cairan dan zat kimia tubuh, seperti sodium dan

kalium di dalam darah atau produksi urin (As’adi, 2012).

Terjadi gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang diderita oleh

tubuh dimana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Adapun

beberapa penyakit yang sering kali berdampak kekerusakan ginjal antara lain penyakit

tekanan darah tinggi (Hypertension), Diabetes Millitus (DM), danya sumbatan pada

saluran kemih (batu, tumor, penyempitan/striptur), kelainan autoimun misalnya lupus

eritematosus sistemik, menderita penyakit kanker, kelainan ginjal dimana terjadi

perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu sendiri (policistiekidnydesiase), dan

rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat peradangan oleh infeksi/ dampak dari

penyakit darah tinggi.

Page 5: glukosa ureum kreatinin

D. Hubungan kadar gula darah dengan kadar ureum dan kreatinin

Kadar gula darah yang relatif tinggi pada penderita diabetes millitus kronik akan

menyebabkan perubahan dalam dinding pembuluh darah, sehingga terjadi aterosklerosis

yang khas yaitu mikroangiopati. Mikroangiopati ini mengenai pembuluh darah seluruh

tubuh terutama terjadinya triopati diabetika yaitu glomerulosklerosis, neuropati, dan

retinopati (Kimmelstiel, 2009).

Glomerulosklerosis dapat menyebabkan proteinuria, penurunan laju filtrasi

glomerulus akibat kehilangan, hipertensi dan gagal ginjal, karena konsentrasi asam amino

(protein) yang tinggi di dalam plasma menyebabkan akan terjadi hiperfiltrasi pada sisa

glomerulus yang masih utuh, kemudian akan mengalami kerusakan. Bersama dengan itu

peningkatan VLDL di dalam darah dan peningkatan kecenderungan pembekuan darah,

hipertensi mendorong pembentukan makroamiopati, yang dapat semakin merusak ginjal

serta menyebabkan infarkmiokard, infarkselebri dan penyakit pembuluh darah perifir

(Silbernagl, 2012).

Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah

dipindah amonianya didalam hati dan mencapai ginjal, dan dieksresikan rata-rata 30 gram

sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20 ml – 40 ml setiap 100 ccm darah, tetapi

hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati dalam

pembentukan ureum (http://kus_pratiknyo.blogspot.com/2009).

Kreatinin merupakan produk sisa dari perombakan kreatinin posfat yang terjadi di

otot. Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah

tidak berfungsi dengan normal. Kadar kreatinin pada pria 1,6 kalau sudah melebihi 1,7

harus hati- hati jangan-jangan nanti memerlukan cuci darah

(http://id.wikipedia.org/wiki/kreatinin /2009).

Amelz (2009), mengatakan pada penderita diabetes millitus kronik yang terindikasi

gangguan fungsi ginjal dapat diketahui dengan melakukan tes fungsi ginjal. Pada tes fungsi

ginjal biasanya diketahui adanya renal blood flow menurun, glomerular filtration rate

menurun, dan creatinine and blood urea nitrogen meninggi.

Page 6: glukosa ureum kreatinin

E. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin pada penderita Diabetes Millitus Tipe 2

1. Sampling

Secara garis besar dalam pemeriksaan kimia klinik darah pakai antikoagulan

dan serum tidak ada perbedaan hasil yang menyolok. Langkah-langkah pemeriksaan yaitu:

1) Menyiapkan peralatan yang akan digunakan.

2) Melakukan pembendungan vena 7-10 cm diatas lipat siku.

3) Mendisinfeksi lokasi yang akan ditusuk dengan alkohol 70%.

4) Menyuntik vena dengan jarum.

5) Melepaskan bendungan bila jarum sudah masuk vena.

6) Menghisap perlahan-lahan ambil darah seperlunya.

7) Tutup jarum yang masih menempel dengan kapas alkohol lalu tarik jarum

keluar dari kulit kemudian plester (Kosasih, 2007).

2. Alat Spektrofotometer

Teknik Spektroskopy merupakan urutan tertinggi penggunaannya pada analisis

instrumentasi. Spektroskopy dapat dikatakan sebagai interaksi antara radiasi elektro

magnetik (RAM) dengan atom atau molekul. Prinsip interaksi RAM dengan molekul akan

menghasilkan hamburan digunakan pada Spektrofotometri Rama. Prinsip lain yaitu

absorbi digunakan pada Spektrofotometry UV-VIS, emisi pada Spektrofotometry.

Metode Spektrofotometry sering digunakan karena dapat untuk menganalisa zat dalam

jumlah yang cukup kecil, cepat, praktis, murah, cukup teliti dan mudah mengintegrasikan

hasil yang diperoleh.

Istilah dan pengertian dalam Spektrofotometry:

a) Intensitasnya cahaya (tenaga radiasi): kekuatan cahaya yang dipancarkan.

b) Transmitan: perbandingan antara intensitas cahaya yang di transmisikan oleh

sampel.

Page 7: glukosa ureum kreatinin

c) Absorbsi: logaritma negatif dari transmitan.

Tabel 2.1 Konstruksi darah dari alat Spektrofotometry

Sumber cahaya pada spektrofotometer berupa lampu di utrium dan lampu bungsten.

Mono kromotor merupakan alat yang dapat memisahkan radiasi sinar putih yang

polikromatik menjadi sinar monokromatik.

Detektor merupakan alat penentu kualitas alat yaitu merubah sinyal optik menjadi

sinyal elektrik dari detaktor (Syahril, 1990).

Pelengkap alat spektofotometer adalah kuvet sebagai tempat larutan uji dan blangko,

dimana kuvet yang akan digunakan untuk larutan ini harus mempunyai transmitan yang sama

dan kebersihannya harus diperhatikan. Ketetapan analisa kualitatif dengan Spektrofotometer

tergantung juga pada ketepatan pemilihan panjang gelombang yang akan digunakan serta

pengontrolan faktor yang dapat mempengaruhi serapan senyawa. Faktor tersebut adalah sifat

pelarut, PH, pelarut, jumlah, adanya senyawa lain (Anonim, Direktorat Jenderal pengawasan

Obat dan makanan Depkes. RI., 2011).

F. Kerangka Teori dan Konsep

1. Kerangka Teori

Sumber

cahaya

Mono 4

kromoto

Tempat

kuvet

Hasil

pengukuran

Ampli

filter

Detektor

Diabetes

Millitus

Triopati diabetika :

Glomerulosklerosis

Neuropati

Retinopati

Peningkatan

kadar gula darah

renal blood flow

menurun

Mikroangiopati

glomerular

filtration rate

menurun

Page 8: glukosa ureum kreatinin

Gambar 2.1 Kerangka teori glukosa, ureum dan kreatinin

2. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.2 Kerangka konsep gula darah, ureum, kreatinin, DM, dan ginjal

G. Hipotesis

1. Ho (hipotesis awal) : diterima bila tidak ada korelasi kadar gula darah terhadap

kadar ureum dan kreatinin pada penderita diabetes millitus tipe 2.

2. Ha (hipotesis akhir) : diterima bila ada korelasi kadar gula darah terhadap kadar

ureum dan kreatinin pada penderita diabetes millitus tipe 2.

creatinine and

blood urea nitrogen

meninggi

Peningkatan

kadar asam

amino dalam

plasma

Kadar Gula

Darah

Kadar Ureum dan Kreatinin pada

penderita Diabetes Millitus Tipe 2

Gangguan sistem tubuh

yang lain (sistem saraf,

jantung dan vaskuler, hati,

penglihatan, dll.