choice of forum and choice of law dalam (1)

78
1 CHOICE OF FORUM & CHOICE OF LAW DALAM HUKUM PERDATA INTERNASIONAL: STUDY KASUS YASMINA - THE WORLD FOOD PROGRAMME (WFP)

Upload: handika-iqbal-pratama

Post on 02-Mar-2018

218 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 1/78

1

CHOICE OF FORUM & CHOICE OF LAW DALAM HUKUM PERDATA

INTERNASIONAL: STUDY KASUS YASMINA - THE WORLD FOOD

PROGRAMME (WFP)

Page 2: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 2/78

2

 DAFTAR ISI  

 Kata Pengantar ………………………………………………………….………..…………..…  i 

 Daftar Peristilahan………………………………………………………………...…..………...  ii 

 Daftar Lampiran …………………………………………………….………….….……………  iii 

 Daftar Isi …………………………………………………………………………..……………  iv 

 BAB I    PENDAHULUAN …………………………………………………………………  1 

 A.   Latar Belakang Pemilihan Judul ………………………………………………  1 

 B.   Pokok-pokok Permasalahan …………………………………………...………  2 C.   Metode Penelitian ……………………………………………………………...  4 

 D.   Kerangka Landasan Teori ……………………………………………………..  5 

 E.   Kerangka Konsepsional ……………………………………………………….  11 

 F.  Sistematika Penulisan ………………………………………………………….  13 

 BAB II  T1NJAUAN UMUM TERHADAP KAIDAH HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

YANG TERKAIT DENGAN KONTRAK YANG MENGANDUNG UNSUR-UNSUR

 ASING ………………………………………. 

15 

 A.  Tinjauan Umum Hukum Perdata Internasional (HPI)……….…………...……  15 

 Pengertian Hukum Perdata Internasional (HPI) ………………………………  15 

 Ruang Lingkup Hukum Perdata Internasional (HPI) …………………………  16  

Tahap-Tahap Pemeriksaan suatu Perkara Hukum Perdata 

 Internasional (HPI) ……………………………………...………….………… 

17  

 B.   Forum yang Berwenang Menyelesaikan Perselisihan yang

Timbul dalam Kontrak yang Mengandung Unsur-Unsur Asing ……………… 

21 

1.   Pilihan Forum ……………………………………………………………… 21 

2.   Pilihan Forum Pengadilan …………………………………………………. 22 

3.   Pilihan Forum Arbitrase …………………………………………………… 23 

a.   Pengertian Arbitrase …………………………………………………… 23 

b.   Perumusan Klausula Arbitrase ………………………………………… 24 

c.   Jenis-JenisArbitrase ……………………………………………………. 25 

d. 

UNCITRAL Arbitration Rules (UAR) ………………………...………. 

26  

e.   Kewenangan Mengadili ……………………………….………………. 30 

4.   Prinsip-Prinsip yang Berkaitan dengan Kewenangan Mengadili … 31 

C.   Hukum yang Berlaku (Lex Causae) dalam Kontrak yang Mengandung

Unsur-Unsur Asing (Foreign Elements) ………………….................................

32 

1.   Pilihan Hukum (Choice of Law) …………………………………………… 32 

2.  Teori Lex Loci Contractus ………………………………………………… 35 

Page 3: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 3/78

3

3.  Teori Lex Loci Solutionis ………………………………………………….. 37  

4.  Teori The Proper Law of The Contract ……………………………………… 38 

5.  Teori The Most Characteristic Connection ………………………………. 40 

 BAB III ANALISIS TERHADAP KONTRAK ANTARA THE WORLD FOOD PROGRAMME(WFP) DAN DAN YAYASAN ASPIRASI MUSLIMAH INDONESIA (YASMINA) 

…………………………………….………..…………… 

42 

 A.   Ketentuan- Ketentuan yang Disepakati dalam Kontrak ………………………… 42 

 B.   Klausula dalam Kontrak yang Mengandung Unsur-Unsur Asing …...………… 54 

C.   Forum yang Berwenang Menyelesaikan Perselisihan yang Mungkin

Timbul dalam Kontrak antara WFP dan Yasmina adalah Arbitrase …………… 

55 

 D.   Hukum yang Berlaku untuk Mengatur dan Menyelesaikan Perselisihan yang

 Mungkin Timbul dalam Kontrak antara WFP dan Yasmina Ditentukan oleh

 Forum Arbitrase ………………………………………………………………... 

62 

Teori Lex Loci Contractus ……………………………………………………... 62 

Teori Lex Loci Solutionis ……………………………………….……………… 64 

Teori The Proper Law of Contract …………………………………………………... 65 

Teori The Most Characteristic Connection …………………………………….. 67  

 BAB IV    KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………………………….…  72 

 A.   Kesimpulan ……………………………………………………………………..  72 

 B.  Saran …………………………………………………………………………….  72 

 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………  74 

 Lampiran I  

Contract Between The World Food Programme (WFP) And Yasmina-Regarding The Implementation Of Community Development Project Under The OPSM Trust Fund During The

 Period 1 Feruary 2005 to 30 June 2005 …………………………………………..…………….. 

 Lampiran II

 Panduan Teknis untuk Operasi Pasar Swadaya Masyarakat (OPSM) ……………………...…… 

 Lampiran III  UNCITRAL Arbitration Rules ………………………………………………………………… 

Page 4: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 4/78

4

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Pemilihan Judul

Hukum Perdata Internasional (HPI) adalah termasuk dalam kelompok hukum

 privat. Karena menyangkut hukum privat, maka HPI tersebut juga mengatur hubungan

hukum antar pihak dalam suatu kontrak yang timbul dari hukum perikatan. HPI memiliki

dimensi yang lebih luas dari sekedar yurisdiksi dalam satu negara. HPI adalah hukum

 perdata untuk hubungan-hubungan internasional. Pengertian internasional bukan diartikan

sebagai law of nations, bukan hukum antar negara, tetapi internasional ini harus diartikan

sebagai ada unsur luar negerinya atau unsur asing ( foreign element ).1

Dipilihnya Kontrak Contract Between The World Food Programme (WFP) And

Yasmina-Regarding The Implementation Of Community Development Project Under The

OPSM Trust Fund During The Period 1 February 2005 to 30 June 20052  sebagai objek

analisis dalam paper ini adalah karena kontrak ini dapat dikategorikan sebagai kontrak

yang mengandung unsur-unsur asing ( foreign elements).

Oleh karena itu, apabila timbul perselisihan antara WFP dan Yasmina, dalam hal ini

merupakan bidang kajian dari HPI, yang akan menjawab persoalan-persoalan mengenai

forum mana yang berwenang mengadili jika terjadi perselisihan antara para pihak dan

hukum3 mana yang akan dipergunakan jika terjadi perselisihan antara para pihak.

Pada prinsipnya, forum yang berlaku didasarkan pada pilihan forum para pihak.

Pilihan forum yang dimaksud di atas selain dapat menunjuk kepada suatu pengadilan di

negara tertentu juga dapat menunjuk badan arbitrase tertentu.

1 Sudargo Gautama, Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Binacipta, Bandung, 1987, hlm. 21.

2 Selanjutnya disebut kontrak antara WFP dan Yasmina.

3 Hukum yang dimaksud dalam konteks ini adalah hukum materil suatu negara tertentu sesuai dengan pilihan hukum

atau yang dirujuk sesuai dengan kaidah-kaidah HPI.

Page 5: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 5/78

5

Selain dikenal adanya pilihan forum, di dalam suatu kontrak yang mengandung

unsur-unsur asing, dikenal pula pilihan hukum. Oleh karena itu, manakala terjadi

 perselisihan antara para pihak, hukum yang akan dipergunakan adalah pilihan hukum yang

dipilih oleh para pihak.

 Namun, adakalanya dalam suatu kontrak, para pihak tidak mengadakan pilihan

hukum. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dapat digunakan bantuan titik-titik taut

 penentu atau titik-titik taut sekunder yang penggunaannya tergantung pada teori yang

dianut oleh negara hakim yang bersangkutan.

Dalam salah satu klausula kontrak antara WFP dan Yasmina disebutkan bahwa

manakala terjadi perselisihan akan diselesaikan secara musyawarah antara kedua belah

 pihak. Selain itu, disebutkan pula apabila cara tersebut tidak mendatangkan penyelesaian,

 para pihak sepakat untuk menyelesaikannya melalui arbitrase dengan menggunakan

 Arbitration Rules dari United Nations Commision on Internasional Trade Law 4. Dengan

demikian, ketentuan beracara arbitrase antara WFP dan Yasmina didasarkan pada

UNCITRAL Arbitration Rules.

Dipilihnya penyelesaian sengketa melalui arbitrase didasarkan pada pertimbangan

 bahwa cara tersebut lebih menguntungkan kedua belah pihak, mengingat hubungan

kerjasama bersifat perdata dan merupakan hubungan antar lembaga. Selain itu,

dikarenakan WFP masih di bawah naungan PBB maka aturan arbitrase yang dipakai adalah

aturan arbitrase yang diakui oleh lembaga tersebut, yang dalam hal ini adalah UNCITRAL

 Arbitration Rules.

Berkaitan dengan hal di atas, masih terdapat suatu pertanyaan tentang hukum

manakah yang akan dipergunakan manakala terjadi sengketa antara WFP dan Yasmina.

Dengan dipilihnya UNCITRAL  Arbitration Rules sebagai rules  dalam penyelesaian

sengketanya, maka jawaban pertanyaan di atas dapat kita telusuri dari ketentuan-ketentuan

hukum acara dalam UNCITRAL Arbitration Rules.

Pasal 33 paragrap (1) UNCITRAL Arbitration Rules disebutkan:

4 Selanjutnya disebut UNCITRAL Arbitration Rules. 

Page 6: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 6/78

6

“The arbitral tribunal shall apply the law designated by the parties as applicable to

the substance of the dispute. Failing such designation by the parties, the arbitral

tribunal shall apply the law determined by the conflict of laws rules which it

considers applicable”. 

Selanjutnya dalam Pasal 16 UNCITRAL Arbitration Rules sisebutkan:

“Unless the parties have agreed upon the place where the arbitration is to be held,

 such place shall be determined by the arbitral tribunal, having regard to thecircumstances of the arbitration”. 

Berdasarkan ketentuan tersebut, hukum yang dipergunakan oleh panitia arbitrase,

yang pertama-tama adalah hukum yang dikehendaki oleh para pihak sendiri dan apabila

 pilihan hukum tersebut tidak ada, maka panitia arbitrase akan menggunakan hukum yang

ditentukan oleh kaidah-kaidah HPI yang dianggap harus diperlakukan oleh panitia

arbitrase. Selanjutnya, panitia arbitrase dapat menentapkan tempat arbitrase di dalam

wilayah negara yang sudah disepakati oleh para pihak dan dapat mendengar keterangan

saksi dan mengadakan pertemuan untuk berkonsultasi antara sesama anggota dimanapun

yang dianggap pantas dengan mempertimbangkan segala keadaan sekitar arbitrase. 

Persoalannya, UNCITRAL sendiri tidak mendirikan lembaga arbitrase berkenaan

dengan rules  itu, sehingga para pihak dapat memilih arbitrase ad hoc  atau arbitrase

institusional untuk menyelesaikan sengketanya, yang dalam melaksanakan fungsinya akan

menggunakan UNCITRAL Arbitration Rules.5 

Dengan latar belakang yang telah diuraikan diatas secara singkat, maka penulis

akan menyoroti klausula-klausula yang terdapat dalam Kontrak anrata WFP dan Yasmina 

untuk mencari forum manakah yang berwenang dan hukum manakah yang berlaku

manakala timbul perselisihan antara WFP dan Yasmina.

B.  Pokok-Pokok Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan pokok-pokok permasalahan,

sebagai berikut:

5Ida Bagus Wyasa Putra, Aspek-Aspek Hukum Perdata Intemasional dalam Transaksi Bisnis Intemasional, Refika

Aditama, Bandung, 1997, hlm. 86.

Page 7: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 7/78

7

1.  Forum manakah yang berwenang menyelesaikan apabila timbul perselisihan dalam

kontrak antara WFP dan Yasmina?

2.  Hukum manakah yang akan mengatur dan menyelesaikan apabila timbul persetisihan

dalam kontrak antara WFP dan Yasmina?

C.  Metode Penelitian

Metode Penelttian yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah metode

sebagai berikut:

1.  Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis

normatif, yaitu dengan mengkaji Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang

Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, UNCITRAL Arbitration Rules, pasal-

 pasal dalam kontrak antara WFP dan Yasmina, kaidah-kaidah HPI dalam bidang

hukum kontrak dan hukum acara perdata internasional.

2.  Spesifikasi penelitian

Spesifikasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah berupa deskriptif analitis

yaitu untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai kaidah-kaidah

 penyelesaian sengketa HPI dalam bidang hukum kontrak dan kaidah-kaidah hukum

acara perdata internasional.

3.  Tahap Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan penelitian kepustakaan yang dimaksudkan untuk

mendapatkan data sekunder, berupa bahan-bahan hukum, yaitu:

1)  Bahan hukum primer, berupa peraturan mengenai Undang-Undang Nomor 30

Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa,

UNCITRAL Arbitration Rules, yurisprudensi HPI dalam bidang hukum

kontrak dan hukum acara perdata internasional.

Page 8: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 8/78

8

2)  Bahan hukum sekunder, berupa kontrak antara WFP dan Yasmina, doktrin

 para ahli yang berkaitan dengan bidang hukum kontrak dan, hukum acara

 perdata internasional, buku atau bahan-bahan yang terkait mengenai kaidah-

kaidah HPI dalam bidang hukum kontrak dan hukum acara perdata

internasional, serta bahan lain dari situs-situs internet.

3)  Bahan hukum tersier, berupa kamus-kamus yang memberikan pengertian-

 pengertian dasar yang menunjang.

4.  Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian yang ada dikumpulkan dengan teknik studi pustaka (library

research), yaitu melakukan penelitian dokumen-dokumen yang menyangkut kaidah-kaidah HPI dalam bidang hukum kontrak dan hukum acara perdata internasional,

ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase

dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dan ketentuan-ketentuan UNCITRAL 

 Arbitration Rules guna mendapatkan landasan-landasan teoritis. Selain itu, penulis

 juga melakukan penelusuran data-data mengenai Yasmina, dan WFP, UNCITRAL,

dan makalah-makalah pada situs-situs di internet.

5.  Analisis Data

Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode yuridis

kualitatif, karena dari data yang diperoleh selanjutnya disusun secara sistematis,

selanjutnya dianalisa secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang dibahas

tanpa mempergunakan rumus dan angka-angka.

D.  Kerangka Landasan Teori

Dalam hal terdapat fakta-fakta di dalam sebuah perkara atau peristiwa hukum, yang

menunjukkan bahwa peristiwa tersebut mengandur unsur-unsur asing, maka dapat

disimpulkan bahwa peristiwa hukum yang dihadapi adalah peristiwa HPI. Suatu kasus

akan menjadi kasus HPI apabila terdapat sekumpulan fakta hukum yang mengandung

unsur-unsur asing di dalamnya. Fakta-fakta ini dalam HPI disebut sebagai Titik Pertalian

Page 9: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 9/78

9

Primer (TPP).6 TPP tersebut diantaranya:7 

1.  Kewarganegaraan;

2.  Bendera kapal;

3.  Domisili;

4.  Tempat kediaman;

5.  Tempat kedudukan badan hukum;

6.  Pilihan hukum dalam hubungan intern.

Hal tersebut juga berlaku dalam bidang hukum kontrak. Suatu kontrak merupakan

 bidang kajian HPI apabila mengandung foreign elements didalamnya. HPI pada prinsipnya

harus menjawab pertanyaan: forum manakah yang berwenang mengadili dan hukum

manakah yang harus diberlakukan. HPI adalah ilmu mengenai hukum yang harus

diberlakukan ( Internationaal privaatrecht is rechtstoepassingsrecht/Applicable

law/rechtstoepassingsrecht ), hukum yang harus dipergunakan menurut istilah van

 Zevenbergen. Hukum untuk mempergunakan hukum, hukum di antara tata hukum, hukum

yang mengatur, hukum manakah yang harus kita pilih di antara tata-tata hukum masing-

masing, itulah HPI.8 

Pada prinsipnya, mengenai persoalan forum mana yang berhak untuk mengadili

didasarkan pada pilihan forum para pihak. Para pihak mempunyai kebebasan untuk

memilih forum manakah yang akan menyelesaikan perselisihan yang mungkin timbul

diantara kedua belah pihak, baik melalui forum pengadilan suatu negara tertentu atau suatu

 badan arbitrase tertentu.

Dalam hal para pihak tidak mengadakan pilihan forum, maka untuk menentukan

suatu forum mempunyai kompetensi atau tidak, ditentukan berdasarkan Pasal 118 Met

6 Bayu Seto, Dasar-Dasar HPI, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hlm. 10.

7 Sudargo Gautama, Pengantar … Ibid , hlm.26-34.

8Sudargo Gautama, op.cit , Pengantar..., hlm. 24.

Page 10: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 10/78

10

 Herziene Indonesisch Reglement  (HIR).

Menurut Pasal 118 ayat (1) HIR, tuntutan atau gugatan perdata diajukan kepada

 pengadilan negeri di tempat tinggal (woonplaats) si tergugat (actor sequitor forum rei),

atau jika tidak ada tempat tinggal, tempat ia sebenarnya berada (werkelijk verblijf ).9

 

Jika terdapat lebih dari satu tergugat, maka dapat diajukan gugatan pada pengadilan

negeri dari tempat tinggal (kediaman) salah satu tergugat.10 

Kemudian jika tergugat tidak mempunyai tempat tinggal yang dikenal dan juga

tempat tinggal sebenarnya tidak dikenal, maka gugatan diajukan kepada pengadilan negeri

di tempat penggugat ( forum actoris). Selain itu, apabila gugatan berkaitan dengan benda

tidak bergerak (benda tetap), gugatan diajukan kepada pengadilan negeri dimana bendatetap itu terletak ( forum rei sitae).11 

Berkaitan dengan uraian di atas, yang diutamakan ialah prinsip penyampaian

gugatan di tempat tinggal (beradanya) pihak tergugat. Kewenangan untuk mengadili ini

didasarkan pertama-tama atas the basis of presence, yakni bahwa pada umumnya

yurisdiksi suatu negara diakui meliputi secara teritorial atas semua orang dan benda-benda

yang berada di dalam batas-batas wilayahnya.12 

Prinsip presence dari pihak tergugat, yang tak dapat dirugikan dalam

 pembelaannya, membawa kepada pilihan dari pengadilan tempat tinggal tergugatlah,

sebagai yang berwenang.13 

 Principle of effectiveness  pun memegang peranan penting, di samping

 pertimbangan-pertimbangan untuk memberi perlindungan sewajarnya terhadap semua

orang yang mencari keadilan. Prinsip efektivitas berarti, bahwa pada umumnya hakim

hanya akan memberi putusan yang pada hakikatnya akan dapat dilaksanakan kelak.

9 Sudargo Gautama, Hukum Perdata fnternasional Indonesia, Jilid III Bagian II (Buku 8). Alumni, Bandung, 2002,

hlm. 210.

10 Ibid. 

11  Ibid. 

12 Ibid. hlm. 213.

13  Ibid. 

Page 11: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 11/78

11

Tentunya yang paling terjamin apabila gugatan diajukan di hadapan pengadilan di mana

 pihak tergugat (dan benda-bendanya) berada.14 

Selain itu, prinsip forum of conveniens pun perlu diperhatikan. Prinsip ini

mengemukakan bahwa forum yang berwenang harus menguntungkan tergugat.15

 Dalam hal

ini, penggugat tidak boleh menyulitkan tergugat dengan mengajukan gugatan di tempat

yang tidak mempunyai hubungan dengan perkara, sehingga tidak akan ada kesulitan dalam

 pengumpulan bukti-bukti yang dibutuhkan.

Selain pemilihan forum pengadilan suatu negara tertentu, para pihak dapat memilih

arbitrase sebagai pilihan forumnya. Bilamana para pihak telah memilih forum arbitrase

 baik melalui sistem factum de compromitendo16 maupun akta kompromis17, maka arbitrase

memiliki kewenangan atau kompetensi absolut untuk menyelesaikan perkaranya.

Berkaitan dengan kontrak antara WFP dan Yasmina, pada  Article  10, disebutkan

 bahwa manakala terjadi perselisihan akan diselesaikan secara musyawarah antara kedua

 belah pihak. Apabila cara tersebut tidak mendatangkan penyelesaian, para pihak sepakat

untuk menyelesaikannya melalui arbitrase dengan menggunakan UNCITRAL Arbitration

 Rules.

Dengan dipilihnya UNCITRAL Arbitration Rules sebagai rules, maka penyelesaian

sengketa ini akan memperhatikan ketentuan-ketentuan dari UNCITRAL Arbitration Rules

yang diklasifikasikan atas empat bagian, yaitu :

1.  Ketentuan pengantar (intoductory rules), Pasal 1-4 UNCITRAL Arbitration Rules;

2.  Komposisi Arbitrase (composition of the arbitral tribunal ), Pasal 5-14 UNCITRAL 

 Arbitration Rules;

14  Ibid. 

15  Ibid, hlm. 274.

16Sebelum terjadi sengketa diantara para pihak, telah dimasukkan atau dibuat klausula arbitrase di dalam kontrak

yang bersangkutan. Lihat Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani. Hukum Arbitrase, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

2001, hlm. 47.

17Apabila di dalam suatu kontrak yang dibuat para pihak tidak terdapat klausula arbitrase, kemudian terjadi

sengketa atau perselisihan, dan mereka sepakat menyelesaikannya melalui arbitrase, maka kesempatan penyelesaian

sengketa melalui arbitrase harus dituangkan dalam perjanjian tersendiri. Lihat,  Ibid, hlm. 48.

Page 12: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 12/78

12

3.  Proses Pemeriksaan (arbitral proceeding ), Pasal 15-30 UNCITRAL Arbitration Rules;

4.  Keputusan Arbitrase (the award ), Pasal 31-41 UNCITRAL Arbitration Rules.

UNCITRAL sendiri tidak mendirikan lembaga arbitrase (arbitration institution)

 berkenaan dengan rules itu. Oleh karena itu, maka para pihak dapat memilih arbitrase ad

hoc atau lembaga arbitrase (arbitral institution) yang ada untuk membantu mereka dalam

menyelenggarakan arbitrase bersangkutan. Lembaga arbitrase ini dalam hal demikian akan

memakai kaedah-kaedahnya sendiri. Dengan demikian maka arbitrase yang dilakukan itu

akan merupakan suatu arbitrase ad hoc yang diatur oleh lembaga-lembaga arbitrase yang

sudah ada (administered ad hoc arbitration).18 

Mengenai masalah tempat arbitrase, pada prinsipnya akan dilakukan di tempat yangtelah dimusepakati para pihak. Namun, apabila para pihak tidak mengadakan pilihan, maka

 panitia arbitrase yang akan menentukan tempat itu dan dalam hal ini maka akan

diperhatikan segala keadaan sekitar arbitrase ini (circumstances of arbitration).19 

Selain masalah forum manakah yang berwenang mengadili, timbul masalah lain

 berkaitan dengan hukum (materiil) mana yang akan berlaku adalah hukum yang dipilih

sendiri oleh para pihak. Pilihan hukum dalam hukum perjanjian adalah kebebasan yang

diberikan kepada para pihak untuk memilih sendiri hukum yang hendak dipergunakan

untuk perjanjian mereka.20

 

 Namun, dalam keadaan para pihak tidak mengadakan pilihan hukum, dapat

digunakan bantuan teori-teori HPI sesuai dengan yang dianut oleh negara hakim yang

 bersangkutan.21 

18 Sudargo Gautama, op.cit, Arbitrase Dagang International, hlm. 19.

19Pasal 16 UNCITRAL Arbitration Rules : 

(1) Unless the parties have agreed upon the place where the arbitration is to be held, such place shall be

determined by the arbitral tribunal, having regard to the circumstances of the arbitration.

(2) The arbitral tribunal may determine the locale of the arbitration within the country agreed upon the parties. It

may hear witnesses and hold meetings for consultation among its members at any place it deems appropriate,

having regard to the circumstances of the arbitration. 

20 Sudargo Gautama, op. cit , hal 5, lihat pula Subekti, Hukum Perjanjian, Alumni Bandung,1987, hlm. 11.

21 Ibid. 

Page 13: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 13/78

13

Dalam HPI terdapat beberapa teori dalam menentukan hukum mana yang berlaku

dalam suatu kontrak, yaitu :

1.  Teori Lex Loci Contractus

Menurut teori klasik lex loci contractus, hukum yang berlaku bagi suatu kontrak

internasionai adalah hukum di tempat perjanjian atau kontrak dibuat.22 Dalam hal ini,

hukum yang berlaku bagi suatu kontrak internasionai adalah hukum di tempat

 perjanjian atau kontrak itu ditandatangani oleh para pihak.

2.  Teori Lex Loci Solutionis 

Sebagai variasi terhadap teori lex loci contractus dikemukakan pula adanya teori

lex loci solutionis, Menurut teori ini, hukum yang berlaku bagi suatu kontrak adalah

tempat di mana kontrak tersebut dilaksanakan.23 

3.  Teori The Proper Law of The Contract  

Menurut Morris, the proper law suatu kontrak adalah sistem hukum yang

dikehendaki oleh para pihak, atau jika kehendak itu tidak dinyatakan dengan tegas

atau tidak dapat diketahui dari keadaan sekitarnya, maka proper law bagi kontrak

tersebut adalah sistem hukum yang mempunyai kaitan yang paling erat dan nyata

dengan transaksi yang terjadi.24 

4.  Teori The Most Characteristic connection. 

Dalam teori ini kewajiban untuk melakukan suatu prestasi yang paling

karakteristik merupakan tolak ukur penentuan hukum yang akan mengatur perjanjian

itu.25 

Dengan demikian, dasar analisis penulis dalam melakukan kajian terhadap

22  Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan Jawahir Thontowi, Pengantar Hukum Perdata Internasionai

Indonesia, Gama Media, Yogyakarta, 1999, hlm. 114.

23  Ibid., hlm. 116.

24 Ibid. 

25 Ibid., hlm. 118.

Page 14: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 14/78

14

forum manakah yang berwenang mengadili dan hukum negara manakah yang akan

dipergunakan manakala timbul perselisihan dalam kontrak antara WFP dan Yasmina,

 bertitik tolak pada hal-hal yang telah diutarakan di atas.

E.  Kerangka Konsepsional

Berikut ini akan diuraikan konsep-konsep yang akan dipergunakan dalam penelitian

ini dengan tujuan menghindarkan perbedaan pengertian dan memperoleh pemahaman yang

sama. Istilah-istilah tersebut tersebut:

1.  HPI

Istilah HPI yang digunakan dalam paper ini mengacu pada istilah  Private

 International Law,  International Private Law,  Internationales Privaatrecht, Droit

 International Prive, Dirritto Internazionale Privato.26  HPI didefinisikan sebagai

keseluruhan peraturan dan keputusan hukum yang menunjukkan  stelsel   hukum

manakah yang berlaku, atau apakah yang merupakan hukum, jika hubungan-

hubungan atau peristiwa-peristiwa antara warga (-warga) negara pada suatu waktu

tertentu memperlihatkan titik pertalian dengan stelsel-stelsel dan kaidah-kaidah

hukum dari 2 (dua) atau lebih negara, yang berbeda dalam lingkungan kuasa, tempat,

 pribadi dan soal-soal.27  Dengan demikian, pengertian internasional bukan diartikan

sebagai law of nations, bukan hukum antar negara, tetapi internasional ini harus

diartikan sebagai ada unsur luar negerinya atau unsur asing ( foreign element ).28

2.  Pilihan Hukum

Pilihan hukum diartikan sebagai kebebasan yang diberikan kepada para pihak

untuk memilih sendiri hukum yang hendak dipergunakan untuk perjanjian mereka.29 

Tujuan penerapan pilihan hukum adalah perlakuan sama untuk kasus serupa, dan

26Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan JawahirThontowi, op.cit. hlm. 1.

27 Sudargo Gautama, op.cit , Pengantar…, hlm. 21. 

28 Bandingkan dengan Ibid , hlm. 6.

29 Subekti, Hukum Perjanjian, Alumni Bandung, 1987, hal. 11.

Page 15: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 15/78

15

 pengembangan kepentingan, tujuan dan kebijakan masyarakat.

3.  Pilihan Forum

Pilihan forum ini dumaksudkan bahwa para pihak di dalam kontrak bersepakat

memilih forum atau lembaga yang akan menyelesaikan perselisihan yang mungkin

timbul diantara kedua belah pihak. Menurut Convention on the Choice of Court 1965,

 pilihan forum terbuka untuk perkara perdata atau dagang yang mempunyai sifat

internasional. Pilihan forum dalam hal ini tidak berlaku bagi:30 

1.  status atau kewenangan orang atau hukum keluar, termasuk kewajiban atau hak-

hak pribadi atau finansial antara orang tua dan/ atau antara suami dan. istri;

2.   permasalahan alimentasi yang tidak termasuk dalam butir a;

3.  warisan;

4.  kepailitan;

5.  hak-hak atas benda tidak bergerak

4.  UNCITRAL Arbitration Rules 

UNCITRAL Arbitration Rules adalah kaidah-kaidah yang mengatur apa yang

dinamakan ad hoc arbitration. Arbitrase secara ad hoc ini adalah arbitrase yang tidak

diselenggarakan oleh suatu atau melatui suatu badan lembaga arbitrase tertentu

(institutional abitration). Para pihak dapat menunjuk kepada kaidah-kaidah

UNCITRAL  Arbitration Rules  ini dengan cara memasukkan arbitration clause  di

dalam kontrak mereka.  Arbitration clause ini menyatakan secara tegas bahwa semua

sengketa yang akan timbul dari atau berkenaan dengan kontrak mereka ini akan

diselesaikan secara final dan mengikat dengan cara arbitrase sesuai dengan ketentuan-

ketentuan UNCITRAL Arbitration Rules.31

 

F.  Sistematika Penulisan

30Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm. 234.

31Sudargo Gautama, op.ctf, Arbitrase Dagang Internasional, hlm. 19.

Page 16: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 16/78

16

Untuk memberikan gambaran yang komprehensif, penulis akan menyusun

sistematika penulisan paper ini sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang penelitian, identifikasi masalah, maksud dan

tujuan, kegunaan penetitian, kerangka pemikiran, metode penelitian dan sistematika

 penulisan.

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP KONTRAK YANG MENGANDUNG

UNSUR-UNSUR ASING

Bab ini akan membahas mengenai aspek-aspek hukum secara umum yang terkait

dengan kontrak yang mengandung unsur asing, sebagai landasan dalam menganalisis

Kontrak antara WFP dan Yasmina pada bab selanjutnya. Aspek-aspek hukum tersebut

meliputi pengertian HPI, ruang lingkup HPI, tahap-tahap pemeriksaan suatu perkara HPI,

forum yang berwenang mengadili dikaitkan dengan pilihan forum, pilihan forum

 pengadilan, pilihan forum arbitrase (pengertian arbitrase, perumusan klausula arbitrase,

 jenis-jenis arbitrase, Uncitral Arbitration Rules, kewenangan mengadili ( forum rei, forum

actoris, forum rei sitae), prinsip-prinsip yang berkaitan dengan kewenangan mengadili ( the

basis of presence, principle of effectiveness, dan forum of conveniens), teori-teori HPI

untuk menentukan hukum yang berlaku dalam kontrak internasional ( yaitu teori lex loci

contractus, teori lex loci solutionis, teori the proper law of contract , teori the most

characteristic connection).

BAB III ANALISIS TERHADAP KONTRAK ANTARA WFP DAN YASMINA

Bab ini akan menguraikan tentang unsur-unsur asing yang terdapat dalam Kontrak

antara WFP dan Yasmina, forum yang berwenang mengadili dikaitkan dengan pilihanforum, klausula arbitrase ( Article  10 Kontrak antara WFP dan Yasmina), ketentuan

UNCITRAL  Arbitration Rules  dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang

Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Selain itu juga menguraikan tentang

hukum yang berwenang untuk menyelesaikan dan mengatur apabila timbul perselisihan

dalam kontrak antara WFP dan Yasmina dikaitkan dengan teori-teori HPI dalam

Page 17: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 17/78

17

menentukan hukum yang berlaku (pilihan hukum, teori lex loci contractus, teori lex loci

 solutionis, teori the proper law of the contract , dan teori the most characteristic

connection).

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai bab terakhir maka di dalamnya akan dirumuskan secara singkat, padat dan

 jelas, hal-hal yang dapat disimpulkan dan juga saran dari hasil penelitian paper ini.

Kesimpulan ini akan menjawab pokok-pokok permasalahan dalam penelitian ini.

Selanjutnya akan disampaikan saran sebagai tindak lanjut dan perbaikan yang perlu

 berdasarkan pembelajaran dari kasus yang diteliti.

Page 18: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 18/78

18

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP KAIDAH HPI YANG TERKAIT DENGAN KONTRAK

YANG MENGANDUNG UNSUR-UNSUR ASING

A.  Tinjauan Umum HPI

Meningkatnya hubungan internasional berpengaruh pada semakin kompleks dan

 beragamnya pola-pola hubungan hukum antar manusia dalam lingkup internasional.

Dengan demikian, sistem hukum atau aturan-aturan hukum dari suatu negara berdaulat

seringkali dihadapkan pada masaiah-masalah hukum yang tidak sepenuhnya bersifat intern-

domestik, melainkan menunjukkan adanya kaitan dengan unsur-unsur asing.32 

Hubungan/peristiwa hukum yang mengandung unsur-unsur yang melampaui batas-

 batas teritorial negara atau unsur-unsur transnasional itulah yang diatur oleh bidang hukum

yang dikenal dengan sebutan HPI .

1.  Pengertian HPI

Dalam bukunya Pengantar HPI Indonesia, Sudargo Gautama mendefinisikan HPI

sebagai keseluruhan peraturan dan keputusan hukum yang menunjukkan stelsel hukum

manakah yang berlaku, atau apakah yang merupakan hukum, jika hubungan-hubungan

atau peristiwa-peristiwa antara warga (-warga) negara pada suatu waktu tertentu

memperlihatkan titik pertalian dengan stelsel-stelsel dan kaidah-kaidah hukum dari 2

(dua) atau lebih negara, yang berbeda dalam lingkungan kuasa, tempat, pribadi dan

soal-soal.33 

Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian internasional bukan diartikan

sebagai law of nations, bukan hukum antar negara, tetapi internasional ini harus

32 Bayu Seto, op.cit., hlm.2

33 Sudargo Gautama, op.cit , Pengantar…, hlm. 21. 

Page 19: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 19/78

19

diartikan sebagai ada unsur luar negerinya atau unsur asing.34 Unsur-unsur inilah yang

menjadikan hubungan-hubungan tersebut menjadi internasional (obyeknyalah yang

internasional), sedangkan kaidah-kaidah HPI adalah hukum perdata nasional. Dengan

demikian, masing-masing negara yang ada di dunia ini memiliki HPI sendiri, sehingga

akan dikenal HPI Indonesia, HPI Jerman, HPI Inggris, HPI Belanda, dan sebagainya.35 

2.  Ruang Lingkup HPI (HPI)

Menurut Sudargo Gautama, ruang lingkup HPI, yaitu :36 

a.  HPI = rechtstoepassingsrecht  

HPI hanya terbatas pada masalah hukum yang diberlakukan

(rechtstoepassingsrecht ). Pandangan yang demikian ini merupakan pandangan

yang tersempit sehubungan dengan ruang lingkup HPI. Sistem semacam ini dianut

oleh HPI Jerman dan Belanda.

 b.  HPI = choice of law + choice of jurisdiction 

Menurut sistem ini, HPI tidak hanya terbatas pada persoalan-persoalan

masalah hukum yang diberlakukan (conflict of laws atau lebih tepatnya choice of

law), tetapi mencakup pula persoalan-persoalan mengenai hakim manakah yang

 berwenang (conflict of jurisdiction atau lebih tepat choice of jurisdiction), yakni

 persoalan tentang kompetensi atau wewenang hakim. Sistem HPI yang lebih luas

ini dikenal di Inggris, Amerika Serikat,, dan negara-negara Anglo Saxon lainnya.

c.  HPI = choice of law + choice of jurisdiction + condition des etrangers  

Dalam sistem ini HPI tidak hanya menyangkut persoalan pilihan hukum dan

 pilihan forum, tapi juga menyangkut status orang asing (condition des etranger,

vreemdelingen-statuut ). Sistem semacam ini dikenal di negara-negara latin, yaitu

Italia, Spanyol, dan negara-negara Amerika Selatan.

34Bandingkan dengan Ibid, hlm. 6.

35 Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan JawahirThontowi, op.cit , hlm. 4.

36 Sudargo Gautama, op.cit., Pengantar..., hlm. 8-10

Page 20: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 20/78

20

d.  HPI = choice of law + choice of jurisdiction + condition des etrangers +

nationalite 

Menurut sistem ini, HPI menyangkut persoalan choice of laws, choice of

 jurisdiction, status orang asing, dan kewarganegaraan (nationalite). Masalah

kewarganegaraan ini menyangkut persoalan tentang cara memperoleh dan

hilangnya kewarganegaraan. Sistem yang luas ini dikenal dalam HPI Perancis dan

 juga dianut kebanyakan penulis HPI.

Selain itu, beberapa sarjana HPI seperti Sunaryati Hartono37 dan Bayu Seto38

mengemukakan bahwa yang termasuk dalam masalah-masalah pokok HPI, yaitu :

a.  Hakim atau badan peradilan manakah yang berwenang menyelesaikan perkara- perkara hukum yang mengandung unsur asing.

 b.  Hukum manakah yang harus diberlakukan untuk mengatur dan/atau

menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang mengandung unsur asing.

c.  Bilamana/sejauh mana suatu pengadilan harus memperhatikan dan mengakui

 putusan-putusan hukum asing atau mengakui hak-hak yang terbit berdasarkan

hukum atau putusan pengadilan asing.

3.  Tahap-Tahap Pemeriksaan suatu Perkara HPI

Untuk menjelaskan bagaimana tahap-tahap pemeriksaan suatu perkara HPI akan

dikemukakan contoh sebagai berikut: Kontrak kerja sama antara sebuah Yayasan di

Indonesia dengan WFP, yang merupakan badan PBB, bermarkas besar di Roma, Italia

dan memiliki beberapa kantor perwakilan, yang salah satunya di Jakarta, Indonesia.

Kontrak ditandatangani di Jakarta. Dalam hal ini Yayasan tersebut mempunyai

kewajiban untuk membangun fasilitas sanitasi umum, sedangkan pihak WFP

memberikan bantuan dana, yang dilakukan dengan transfer antar bank melalui kantor

 perwakilannya di Indonesia. Namun, setelah dana dikirimkan, yayasan tersebut tidak

37 Sunaryati Hartono, Pokok-Pokok Hukum Perdata Intemasional, Putra A. Bardin, Bandung, 2001, hlm. 13-14.

38 Bayu Seto, op.cit, hlm.14-16.

Page 21: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 21/78

21

memenuhi janjinya untuk menyelesaikan pembangunan fasilitas sanitasi umum pada

waktunya. Dalam kontrak kerja sama tersebut para pihak memilih forum Pengadilan

 Negeri Jakarta Pusat untuk menyelesaikan sengketa di antara mereka.

Menurut Sunaryati Hartono, tahap-tahap pemeriksaan suatu perkara HPI,

yaitu:39 

a.  Jika dengan bantuan TPP diketahui terdapat suatu perkara HPI, maka pertama-tama

harus ditentukan: pengadilan mana yang berwenang memeriksa perkara yang

 bersangkutan.

Dalam tahap ini, terdapat persoalan hukum dalam wujud sekumpulan fakta

hukum yang mengandung unsur-unsur asing. Contoh di atas menunjukkan adanyakaitan antara fakta-fakta yang ada di perkara dengan suatu negara dan juga sistem

hukum negara-negara tertentu, yaitu :

1)  Status badan hukum Yayasan (Indonesia);

2)  Status hukum WFP (Italia);

3)  Tempat kontrak ditandatangani (Indonesia);

4)  Tempat dilaksanakannya pembangunan fasilitas sanitasi umum (Indonesia);

5)  Tempat dilakukannya pemberian dana melalui transfer antar bank (Indonesia);

6)  Tempat perkara diajukan/forum (Indonesia);

7)  Bahasa dalam kontrak yang digunakan (Inggris).

Fakta-fakta tersebut dalam HPI disebut TPP. TPP adalah faktor-faktor atau

keadaan-keadaan atau sekumpulan fakta yang melahirkan atau menciptakan

hubungan HPI.40  TPP menunjukkan bahwa suatu peristiwa hukum merupakan

 peristiwa HPI, dan bukan suatu peristiwa intern nasional. Oleh sebab itu maka TPP

39Sunaryati Hartono, op .cit , hlm. 81-82. Lihat juga Bayu Seto, op. cit , hlm. 9-14.

40Sudargo Gautama, op.cit , Pengantar..., hlm.25

Page 22: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 22/78

22

 juga dinamakan titik taut pembeda.41 

Selanjutnya, sebagai akibat dari adanya unsur-unsur asing tersebut,

kemudian harus ditentukan forum yang memiltki kewenangan untuk memeriksa

 perkara. Dalam hal ini karena para pihak memilih forum Pengadilan Negeri Jakarta

Pusat, maka HPI dan Hukum Acara Indonesia yang akan beriaku baginya. Dalam

hal para pihak memilih arbitrase sebagai pilihan forumnya, maka hukum formil

yang mengatur prosedur arbitrase ini adalah hukum dari tempat dimana arbitrase ini

dilakukan. Misalnya saja para pihak mengadakan arbitrase di Indonesia, maka

ketentuan beracara mereka akan menggunakan hukum acara Indonesia.

 b.  Tingkat yang kedua selanjutnya adalah menentukan mengenai persoalan apakah

 perkara HPI tersebut.

Pada tahap ini dilakukan kualifikasi (dari fakta-fakta). Oleh karena pada

tahap ini baru diketahui lex fori-nya42, maka pengkualifikasian dilakukan menurut

lex fori, Dari contoh di atas, maka hakim Indonesia harus terlebih dahulu

melakukan kualifikasi fakta43  yang pada dasarnya merupakan upaya untuk

menentukan kategori yuridik dari sekumpulan fakta yang dihadapi dalam perkara

dan menentukan kualifikasi hukum44  dari pokok perkara berdasarkan kategori

yuridis yang dikenal hakim (berdasarkan kategori yuridis yang dikenal di dalam lex

 fori). Dalam hal ini, hakim Indonesia mengkualifikasikan sekumpulan fakta yang

dihadapi dalam perkara tersebut, selanjutnya berdasarkan kualifikasi hukum yang

dikenal di dalam hukum Indonesia, perkara dikualifikasikan sebagai gugatan

wanprestasi dalam kontrak.

c.  Usaha selanjutnya adalah mencari hukum mana yang berlaku (lex causae). Dalam

41 Sunaryati Hartono, op. cit, hlm. 88.

42 Lex fori adalah sistem hukum dari tempat dimana persoalan hukum diajukan sebagai perkara. Dengan kata lain,

lex fori adalah hukum dari forum tempat perkara diselesaikan. Lihat Bayu Seto, op.cit , hlm.10.

43Kualifikasi fakta adalah proses kualifikasi yang dilakukan terhadap sekumpulan fakta di dalam sebuah peristiwa

hukum untuk ditetapkan menjadi satu atau lebih peristiwa atau masalah hukum (legal issues), sesuai dengan

klasifikasi kaidah-kaidah hukum yang berlaku di dalam suatu sistem hukum tertentu. Lihat  Ibid , hlm. 47.

44Kualifikasi hukum adalah penetapan tentang penggolongan/pembagian seluruh kaidah hukum di dalam sebuah

sistem hukum ke dalam pembidangan, pengelompokan, atau kategori hukum tertentu. Ibid , hlm.48.

Page 23: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 23/78

23

tahap ini harus dicari titik-titik pertalian sekunder (TPS) yang dilakukan

 berdasarkan lex fori, oleh karena sampat tahap ini belum ada sistem hukum lain

yang ditemukan. TPS adalah faktor-faktor atau sekumpulan fakta yang menentukan

hukum mana yang harus digunakan atau berlaku dalam suatu hubungan HPI.45 IPS

seringkali disebut titik taut penentu, karena fungsinya akan menentukan hukum dari

tempat manakah yang akan digunakan (lex causae) dalam penyelesaian suatu

 perkara.46 Dalam praktik, terkadang lex causae ini adalah lex fori juga, maka usaha

selanjutnya diteruskan menurut lex fori. Selain itu, terkadang lex causae ditentukan

oleh tempat ditandatanganinya kontrak (lex loci contractus), tempat

dilaksanakannya kontrak (lex loci solutionis), dan lain-lain.

Sejalan dengan butir b di atas, misalnya kaidah HPI yang harus digunakan

adalah kaidah HPI lex fori  (Indonesia) tentang pelaksanaan kontrak, yang

rumusannya sebagai berikut: "Masalah-masalah hukum yang timbuldari

 pelaksanaan suatu kontrak (ini adalah kategori perkara hasil kualifikasi) harus

diatur berdasarkan hukum dari tempat di mana kontrak itu dilaksanakan. Dengan

demikian, karena fakta dalam perkara menunjukkan bahwa tempat pelaksanaan

kontrak (pembangunan sanitasi umum dan pemberian dana) adalah di Indonesia,

maka hukum Indonesia-lah yang harus dianggap sebagai lex causae. Artinya,

kaidah-kaidah hukum perdata intern Indonesia-lah yang akan digunakan untuk

menyelesaikan perkara hukum yang sedang dihadapi.

d.  Setelah lex causae  diketahui, maka kualifikasi dan penentuan perkara HPI

selanjutnya dilakukan menurut lex causae. Dihubungkan dengan contoh di atas,

hakim akan memutus perkara tentang wanprestasi dalam pelaksanaan kontrak

dengan menggunakan kaidah-kaidah hukum di dalam Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata Indonesia (KUH Perdata). Namun, apabila lex causae  memberi

hasil yang :

1)  Bertentangan dengan ketertiban umum lex fori, maka lex fori-lah yang berlaku;

atau

45Sunaryati Hartono, op.cit , hlm, 34.

46Bayu Seto, op.cit , hlm. 43.

Page 24: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 24/78

24

2)  Jika  lex causae  tidak mengatur persoalan HPI yang bersangkutan.

B.  Forum yang Berwenang Menyelesaikan Perselislhan yang Timbul dalam Kontrak yang

Mengandung Unsur-Unsur Asing

Yurtsdiksi suatu forum di dalam HPI merupakan kekuasaan dan kewenangan suatu

forum untuk memeriksa dan menentukan suatu permasalahan yang dimintakan kepadanya

untuk diputuskan dalam setiap kasus yang melibatkan paling tidak satu elemen hukum

asing yang relevan.47 

Untuk menjalankan yurisdiksi yang diakui secara internasional, suatu forum harus

mempunyai kaitan tertentu dengan para pihak atau harta kekayaan yang dipersengketakan. 48 

Mengenai persoalan forum mana yang berhak untuk mengadili harus diperhatikan

masalah pilihan forum (forum pengadilan atau forum arbitrase), kewenangan mengadili dan

 prinsip-prinsip yang berkaitan dengan kewenangan mengadili.

1.  Pilihan Forum

Di dalam suatu kontrak internasional, selain dikenal adanya pilihan hukum

(choice of law) juga dikenal adanya pilihan forum (choice of forum). Pilihan forum ini

 bermakna, bahwa para pihak di dalam kontrak bersepakat memilih forum atau lembaga

yang akan menyelesaikan perselisihan yang mungkin timbul diantara kedua belah

 pihak.

Menurut Convention on the Choice of Court 1965, pilihan forum terbuka untuk

 perkara perdata atau dagang yang mempunyai sifat internasional. Pilihan forum tidak

 berlaku bagi:49 

a.  status atau kewenangan orang atau hukum keluar, termasuk kewajiban atau hak-hak

 pribadi atau fmansial antara orang tua dan/ atau antara suami dan. istri;

47Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan Jawahif Thontowi, op.cit, hlm. 141.

48  Ibid. 

49Sudargo Gautama, op.cit , ...Buku ke-8, hlm. 234.

Page 25: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 25/78

25

 b.   permasalahan alimentasi yang tidak termasuk dalam butir a;

c.  warisan;

d.  kepailitan;

e.  hak-hak atas benda tidak bergerak

Pilihan forum yang dimaksud di atas selain dapat menunjuk kepada suatu

 pengadilan di negara tertentu, juga dapat menunjuk badan arbitrase tertentu. Pengadilan

atau arbitrase sebelum memeriksa atau mengadili perkara yang diajukan kepadanya,

terlebih dahulu harus meneliti apakah ia berwenang mengadili perkara tersebut. Salah

satu cara untuk menentukan berwenang tidaknya ia mengadili perkara yang

 bersangkutan adalah dengan meneliti ktausula pilihan forum yang terdapat dalam

kontrak yang bersangkutan.50 

Bilamana hakim yang mengadili suatu perkara yang mengandung unsur asing

menemui adanya pilihan forum yang menunjuk kepada badan peradilan lain atau

menunjuk pada badan arbitrase lain, tetapi berlainan kompetensi relatifnya, maka

hakim yang bersangkutan harus menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili perkara

tersebut.51 

Demikian juga apabila di dalam suatu kontrak itu para pihak ternyata memilih

forum arbitrase di luar negeri atau di Indonesia, maka perkaranya tidak dapat diajukan

kepada Pengadilan Negeri.52 

2.  Pilihan Forum Pengadilan

Penyelesaian sengketa melalui forum pengadilan adalah suatu pola penyelesaian

melalui proses gugatan atas suatu sengketa yang diritualisasikan untuk menggantikan

sengketa sesungguhnya, melalui persidangan-persidangan untuk diperiksa oleh hakim,

50Bandingkan dengan Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan Jawahir Thontowi op.cit , hlm. 147.

51 Ibid. 

52  Ibid. hlm. 148.

Page 26: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 26/78

26

dengan putusannya yang bersifat mengikat.53 

Para pihak dapat melakukan pilihan forum pada pengadilan untuk

menyelesaikan sengketanya, dengan mencantumkan klausula dalam kontrak. Misalnya

saja para pihak memilih yurisdiksi  District of Court  di New York, maka dalam hal ini

 District of Court New York -lah yang mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan

sengketa di antara mereka.

Pada umumnya para pihak dianggap mempunyai kebebasan untuk memilih

forum pengadilan. Mereka bisa menyimpang dari kompetensi relatif dengan memilih

hakim lain. Akan tetapi, tidak diperkenankan untuk menjadikan suatu peradilan

menjadi berwenang bilamana menurut kaidah-kaidah hukum intern negara yang

 bersangkutan hakim tidak berwenang adanya. Menurut Sudargo Gautama, misalnya

saja untuk Nederland tak akan dapat dipilih hakim jika menurut hukum Belanda sama

sekali tidak ada hakim Belanda yang, relatif berwenang untuk mengadili perkara itu.54 

3.  Pilihan Forum Arbitrase

a.  Pengertian Arbitrase

Berdasarkan definisi yang diberikan dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang

 Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa,

arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum

yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak

yang bersengketa.

Jadi, arbitrase adalah perjanjian perdata di antara para pihak sendiri yang

 bersepakat untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di antara mereka, yang

diputuskan oleh pihak ketiga yang netral (arbitrator ) secara musyawarah.

 b.  Perumusan Klausula Arbitrase

Berdasarkan definisi yang diberikan dalam Undang-Undang Nomor 30

53 Salim, H.S., Hukum Kontrak (Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak), Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 141.

54 Sudargo Gautama, Buku ke-8, op.cit, hlm.233.

Page 27: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 27/78

27

Tahun 1999 tentang tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa,

dikenal adanya dua bentuk klausula arbitrase, yaitu :55

1)   Pactum de compromittendo

Dalam  pactum de compromittendo, para pihak mengikat kesepakatan

akan menyelesaikan perselisihan melalui forum arbitrase sebelum terjadi

 perselisihan yang nyata.

Bentuk klausula  pactum de compromittendo  ini diatur dalam Pasal 7

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang tentang Arbitrase dan

Alternatif Penyelesaian Sengketa. Pasal tersebut berbunyi: “Para pihak dapat

menyetujui suatu sengketa yang terjadi atau yang akan terjadi antara merekauntuk diselesaikan melalui arbitrase”.

Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang

Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, cara pembuatan klausula

 pactum de compromittendo ada dua cara, yaitu dengan mencantumkan klausula

arbitrase yang bersangkutan dalam perjanjian pokok atau dibuat terpisah dalam

akta tersendiri.

2)  Akta Kompromis

Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan

Alternatif Penyelesaian Sengketa, akta kompromis diatur dalam Pasal 9 yang

 berbunyi:

(1)  Dalam hal para pihak memilih menyelesaikan sengketa melalui arbitrase

setelah sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat

dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak.

(2)  Dalam hal para pihak tidak dapat menandatangani perjanjian tertulis

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), perjanjian tertulis tersebut harus

dibuat dalam bentuk akta notaris.

55 Gunawan Widjaja, op.cit., hlm. 47.

Page 28: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 28/78

28

(3)  Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memuat:

a)  masalah yang dipersengketakan;

 b)  nama lengkap dan tempat tinggal para pihak;

c)  nama lengkap dan tempat tinggal arbiter atau rnajelis arbitrase;

d)  tempat arbiter atau majelis arbitrase akan mengambil keputusan;

e)  nama lengkap sekretaris;

f)   jangka waktu penyelesaian sengketa;

g)   pernyataan kesediaan arbiter; dan

h)   pernyataan kesediaan para pihak yang bersengketa untuk

menanggung segala biaya yang diperlukan untuk penyelesaian

sengketa melalui arbitrase. (4) Perjanjian tertulis yang tidak memuat

hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) batal demi hukum.

c.  Jenis-Jenis Arbitrase

Dengan mengacu kepada  Konvensi New York 1958  dan ketentuan yang

terdapat dalam UNCITRAL  Arbitration Rules, maka dapat dikemukakan dua jenis

arbitrase, yaitu:56 

1)  Arbitrase ad hoc;

Arbitrase ad hoc  adalah arbitrase yang dibentuk khusus untuk

menyelesaikan atau memutus perselisihan tertentu. Arbitrase ini bersifat

insidental dan jangka waktunya tertentu sampai sengketa itu diputuskan. Para

 pihak dapat mengatur cara-cara bagimana pelaksanaan pemilihan para arbiter,

kerangka kerja prosedur arbitrase dan aparatur administratif dari arbitrase.

56  Ibid, hlm.52-54.

Page 29: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 29/78

29

2)  Arbitrase institusional

Arbitrase institusional merupakan lembaga atau badan arbitrase yang

sifatnya permanen. Karena sering juga disebut  permanent arbitration 

sebagaimana dalam Pasal 1 ayat (2) Konvensi New York 1958, arbitrase ini

disedikan oleh organisasi tertentu dan sengaja didirikan untuk menampung

 perselisihan yang timbul dari perjanjian. Selain itu, arbitrase institusional ini

sudah ada sebelum sengketa timbul yang berbeda dengan arbitrase ad hoc yang

 baru dibentuk setelah perselisihan timbul.

d.  UNCITRAL Arbitration Rules 

UNCITRAL  Arbitration Rules  merupakan suatu set kaidah-kaidah yangmengatur apa yang dinamakan ad hoc arbitration, Arbitrase secara ad hoc ini adalah

arbitrase yang tidak diselenggarakan oleh suatu atau melatui suatu badan lembaga

arbitrase tertentu (institutional abitration). Para pihak dapat menunjuk kepada

kaidah-kaidah UNCITRAL  Arbitration Rules  ini dengan cara memasukkan

 Arbitration Clause  di dalam kontrak mereka.  Arbitration clause  ini menyatakan

secara tegas bahwa semua sengketa yang akan timbul dari atau berkenaan dengan

kontrak mereka ini akan diselesaikan secara final dan mengikat dengan cara

arbitrase sesuai dengan ketentuan-ketentuan UNCITRAL Arbitration Rules.57 

Kaidah-kaidah ini bersifat optional di dalam arbitrase ad hoc. Artinya

 bahwa para pihak tidak diwajibkan untuk memakainya. Mereka dapat memilih

untuk memakainya atau tidak.

Mengingat UNCITRAL sendiri tidak mendirikan lembaga arbitrase, maka

 para pihak dapat memilih ad hoc arbitration atau memilih lembaga arbitrase yang

ada untuk membantu mereka dalam menyelenggarakan arbitrase bersangkutan.

Lembaga arbitrase ini dalam hal demikian akan memakai kaedah-

kaedahnya sendiri. Dengan demikian maka arbitrase yang dilakukan itu akan

merupakan suatu ad hoc  arbitration  yang diatur oleh lembaga-lembaga arbitrase

57Sudargo Gautama, op.ctf, Arbitrase Dagang Internasional, hlm. 19.

Page 30: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 30/78

30

yang sudah ada (administered ad hoc arbitration).58

Substansi UNCITRAL Arbitration Rules diklasifikasikan atas empat bagian,

yaitu:

1)  Ketentuan pengantar (intoductory rules), yang  mencakup:

a.  Ruang Lingkup  (Scope of Application),  Pasal 1 UNCITRAL  Arbitration

 Rules.

 Pasal 1 Paragraph 1 dari UNCITRAL Arbitration Rules menyatakan

secara tegas bahwa apabila para pihak telah menyetujui secara tertulis

(yaitu dengan menerima apa yang dinamakan suatu arbitration clause)

untuk menyelesaikan sengketa yang timbul dari kontrak melalui arbitrase

 berdasarkan UNCITRAL  Arbitration Rules, maka sengketa-sengketa

demikian itu harus diselesaikan sesuai dengan apa yang diatur UNCITRAL  

 Arbitration Rules, kecuali jika para pihak telah mengadakan modifikasi-

modifikasi tertentu secara tertulis terhadap kaidah-kaidah UNCITRAL 

 Arbitration Rules ini.

Dalam  Pasal   1 Paragraph 2 UNCITRAL  Arbitration Rules 

disebutkan bahwa UNCITRAL Arbitration Rules digunakan selama proses

arbitrase berlangsung, kecuali terdapat pertentangan antara UNCITRAL 

 Arbitration Rules  dengan hukum dari iempat dimana arbitrase dilakukan,

maka dalam hal ini UNCITRAL Arbitration Rules tidak dapat digunakan.

 b.  Pemberitahuan, perhitungan jangka waktu (notice, calculation of periods of

time).

Pasal 2 paragraph 1 mengatur tentang pemberitahuan dari Penggugat

kepada tergugat bahwa sengketa akan diselesaikan melalui arbitrase

dengan ketentuan UNCITRAL Arbitration Rules.

Pasal ini menyebutkan bahwa setiap surat pemberitahuan, segala

58  Ibid. 

Page 31: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 31/78

31

 bentuk komunikasi atau penawaran sianggap sudah diterima Tergugat

apabila telah dikirimkan secara fisik ke tempat tinggal Tergugat atau

ketempat berdomisili atau tempat ia menjalankan usaha atau mailing

address.

Pasal 2 mengatur tentang perhitungan jangka waktu yang mulai

dihitung sejak pemberitahuan tersebut diterima oleh Tergugat.

c.  Pemberitahuan adanya proses arbitrase ( Notice of Arbitration), Pasal 3.

Dalam Pasal 3 diatur bahwa pihak Penggugat harus memberitahukan

tergugat tentang adanya proses arbitrase ini.

d.   Representation and Assistance (Perwakilan dan pemdampingan), Pasal 4.

Pasal 4 menyatakan bahwa para pihak dapat diwakili atau

didampingi oleh orang yang telah mereka tunjuk, mengenai nama, alamat

dan dalam posisi apa orang yang mewakili tersebut ditunjuk sebagai

 perwakilan atau pendampingan, harus diberitahukan secara tertulis kepada

 pihak lainnya.

2)  Komposisi Arbitrase (composition of the arbitral tribunal ), Pasal 5-14

UNCITRAL Arbitration Rules;

Komposisi arbitrase yang dibentuk didasarkan kepada persetujuan

 pihak-pihak, jumlah arbiter dapat satu orang atau tiga orang. Jika dalam waktu

15 hari belum diperoleh kesepakatan tentang jumlah arbitrase bersifat tunggal

(satu orang} akan diangkat tiga orang arbiter. Apabila harus diangkat tiga

orang arbiter, maka tiap pihak akan mengangkat seorang arbiter. Kedua arbiter

ini akan memilih arbiter yang ketiga untuk bertindak sebagai Ketua dari Panitia

Arbitrase ini. Penyanggahan terhadap arbiter dapat dilakukan dalam hal arbiter

telah dipilih bersikap tidak adil atau ada dalam pengaruh pihak lain. Selain itu,

ketentuan ini juga mengatur dalam hal arbiter meninggal dunia atau

mengundurkan diri sebelum keputusan arbitrase diucapkan.

Page 32: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 32/78

32

3)  Proses Pemeriksaan (arbitral proceeding ), Pasal 15-30 UNCITRAL 

 Arbitration Rules;

Pada prinsipnya akan diterima tempat yang telah dimufakati oleh para

 pihak sebagai tempat untuk melaksanakan arbitrase.

Dalam hal para pihak tidak menentukan tempat arbitrase, tempat itu

akan ditentukan oleh panitia arbitrase dengan memperhatikan segala keadaan

sekitar arbitrase (circumstances of the arbitration). Mengenai bahasa yang

akan digunakan akan ditentukan oleh arbiter setelah pengangkatannya. Selain

itu, dalam section ini pun diatur mengenai isi dari surat gugatan, yang meliputi:

a.  nama dan alamat dari para pihak (the name and addresses of the parties),

 b.  fakta-fakta yang mendukung klaim bersangkutan (a statement of

the facts supporting the claim),

c.   pokok persoalan yang menjadi sengketa (the point at issues),

d.  apa yang diminta dari pihak tergugat (the relief of remedy sought ).

Hal demikian juga berlaku terhadap jawaban pembelaan ( statement of

defence).

4)  Keputusan Arbitrase (the award ), Pasal 31-41 UNCITRAL Arbitration Rules.

Jika arbitrase dipimpin oleh tiga hakim, keputusan akan diambil

 berdasarkan pola mayoritas. Keputusan dapat menyangkut seluruh atau

sebagian substansi tuntutan. Keputusan itu dibuat dalam bentuk tertulis.

Keputusan tidak akan memuat pertimbangan-pertimbangannya dan akan

diumumkan dengan persetujuan para pihak (Pasal 31 UNCITRAL Arbitration

 Rules). Mengenai masalah hukum yang dipergunakan oleh panitia arbitrase

yang pertama-tama adalah hukum yang dikehendaki oleh para pihak sendiri

(pilihan hukum). Apabila pilihan hukum tersebut tidak ada, maka panitta

arbitrase akan menggunakan hukum yang ditentukan oieh kaidah-kaidah HPI

yang dianggap harus diperlakukan oleh panitia arbitrase (Pasal 33 UNCITRAL 

Page 33: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 33/78

33

 Arbitration Rules). Hukum yang harus diperlakukan ini adalah Hukum

Materiil. Perlu diadakan pembedaan dengan hukum yang berlaku untuk

 prosedur arbitrase bersangkutan sendiri. Biasanya Hukum Formil yang

mengatur prosedur arbitrase ini adalah hukum dari tempat dimana arbitrase ini

dilakukan. Pasal 1 paragraph 2 dari UNCITRAL Arbitration Rules menyatakan

 bahwa mengenai Hukum Acara Arbitrase ini yang bersifat memaksa, akan

 berlaku jika bertentangan dengan UNCITRAL Arbitration Rules.59 Kemudian

 perlu juga diperhatikan bahwa panitia arbitrase dapat membuat keputusan atas

dasar ex aequo et bono atau amiable compositeur , apabila memang para pihak

telah menentukan demikian dalam perjanjian mereka dan juga apabila hukum

yang berlaku untuk acara arbitrase ini membolehkan hal yang demikian.

4.  Kewenangan Mengadili

Jika para pihak tidak melakukan pilihan forum, maka dalam hal penentuan ke

mana penyelesaian sengketa harus diajukan didasarkan pada kompetensi relatif

 pengadilan. Dalam hal ini, untuk menentukan suatu forum mempunyai kompetensi atau

tidak, ditentukan berdasarkan Pasal 118 HIR.60 

Menurut Pasal 118 ayat (1) HIR, tuntutan atau gugatan perdata diajukan kepada

 pengadilan negeri di tempat tinggal (woonplaats) si tergugat, (actor sequitor forum rei),

atau jika tidak ada tempat tinggai, tempat ia sebenarnya berada (werkelijk verblijf ).

Jika terdapat lebih dari satu tergugat, maka dapat diajukan gugatan pada

 pengadilan negeri dari tempat tinggal (kediaman) salah satu tergugat.

Kemudian jika tergugat tidak mempunyai tempat tinggal yang dikenal dan juga

tempat tinggal sebenarnya tidak dikenal, maka gugatan diajukan kepada pengadilan

negeri di tempat penggugat ( forum actoris). Selain itu, apabila gugatan berkaitan

dengan benda tidak bergerak (benda tetap), gugatan diajukan kepada pengadilan negeri

dimana benda tetap itu terletak ( forum rei sitae).

59  Ibid, hlm. 30.

60Sudargo Gautama, Buku ke-8, op.cit, hlm.210-211

Page 34: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 34/78

34

Di dalam yurisprudensi Indonesia sering ditemukan perkara-perkara di mana

tergugat tidak mempunyai tempat kediaman yang dikenal di Indonesia, sehingga

 prosedur khusus telah dilakukan.

Berkenaan dengan hal ini dapat dikaji ketentuan yang terdapat dalam Pasal 6 sub

8  Reglement op de Burgerlijk Rechtsverordering   (RV) mengenai dagvaarding yang

harus disampaikan kepada pihak tergugat yang bertempat tinggal di luar Indonesia

sepanjang mereka tidak mempunyai tempat kediaman yang dikenal di Indonesia.

Tuntutan diserahkan kepada pejabat kejaksaan pada tempat pengadilan dimana

seharusnya perkara diajukan. Pejabat ini membubuhkan kata-kata  gezien  dan

menandatanganinya serta menyerahkan salinan eksploit   untuk yang bersangkutan

kepada pemerintah Indonesia untuk dikirim. Dengan demikian, mereka yang bertempat

tinggal di luar negeri pun dapat digugat di Indonesia berdasarkan ketentuan tersebut.

5.  Prinsip-Prinsip yang Berkaitan dengan Kewenangan Mengadili

Berdasarkan uraian- di atas, dapat disimpulkan bahwa yang diutamakan adalah

 prinsip penyampaian gugatan di tempat tinggal (beradanya) pihak tergugat.

Kewenangan untuk mengadilt ini didasarkan pertama-tama atas the basis of presence,

yakni bahwa pada umumnya yurisdiksi suatu negara diakui meliputi secara territorial

atas semua orang dan benda-benda yang berada di dalam batas-batas wilayahnya.

Pengecualiannya adalah berkaitan dengan immunitas negara berdaulat dan staf

diplomatik.61 

Prinsip  presence  dari pihak tergugat, yang tak dapat dirugikan dalam

 pembelaannya, membawa kepada pilihan dari pengadilan tempat tinggal tergugat-lah,

sebagai yang berwenang.62 

 Principle of effectiveness  pun memegang peranan penting, di samping

 pertimbangan-pertimbangan untuk memberi perlindungan sewajarnya terhadap semua

orang yang mencari keadilan. Prinsip efektivitas berarti, bahwa pada umumnya hakim

hanya akan memberi putusan yang pada hakikatnya akan dapat dilaksanakan kelak.

61  Ibid. hlm. 213.

62  Ibid. 

Page 35: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 35/78

35

Tentunya yang paling terjamin apabila gugatan diajukan di hadapan pengadilan di

mana pihak tergugat (dan benda-bendanya) berada.63 

Selain itu, prinsip  forum of conveniens  pun perlu diperhatikan. Prinsip ini

mengemukakan bahwa forum yang berwenang harus menguntungkan tergugat. Prinsip

ini dikemukakan dalam perkara Inggris,  Logain v. Bank of Scotland  (1906), dalam hal

ini ditentukan bahwa jika suatu perkara berkenaan dengan peristiwa-peristiwa yang

sama sekali berlangsung di negara lain dan semua bukti-bukti terdapat di negara

tersebut, maka dimulainya perkara di depan hakim Inggris merupakan salah pemakaian

wewenang. Penggugat menyukarkan tergugat secara tak perlu dengan mengajukan

 perkaranya di negara lain.64 

C.  Hukum yang Berlaku ( Lex Causae) dalam Kontrak yang Mengandung Unsur-

Unsur Asing

Kontrak adalah persetujuan di antara 2 (dua) atau lebih orang yang berisi sebuah janji

atau janji-janji yang bertimbal balik yang diakui berdasarkan hukum, atau yang

 pelaksanannya diakui sebagai suatu kewajiban hukum.65 

Dalam HPI, persoalan bidang hukum kontrak pada dasarnya berkisar pada penentuan

hukum yang harus berlaku atas masalah-masalah yang timbul dari suatu kontrak. Oleh karena

itu, terdapat beberapa teori dalam menentukan hukum manakah yang berlaku dalam suatu

kontrak, yaitu pilihan hukum (choice of law), teori lex loci contractus, teori lex loci

 solutionis, teori the proper law of contract , dan teori the most characteristic connection.

1.  Pilihan hukum

Setiap orang pada dasarnya memiliki kebebasan untuk mengikatkan diri pada

 perjanjian (asas kebebasan berkontrak, freedom to contract , atau party autonomy). Dalam

 perkembangannya kebebasan para pihak untuk berkontrak ini dimanifestasikan pula

63  Ibid. 

64  Ibid, hlm. 274.

65Bayu Seto, op. cit ., hlm.176.

Page 36: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 36/78

36

dalam kebebasan untuk menentukan hukum yang berlaku untuk mengatur kontrak yang

mereka buat ( freedom to choose the applicable law).66 

Bila dalam suatu kontrak, terdapat klausula pilihan hukum, maka hukum yang

 berlaku bagi kontrak tersebut adalah hukum sebagaimana yang ditunjuk dalam kontrak

tersebut, karena apa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak tadi berlaku sebagai

undang-undang bagi mereka yang membuatnya.67 

Pada dasarnya para pihak bebas untuk melakukan pilihan hukum dengan

mengingat beberapa pembatasan sebagai berikut:68 

a.  Pilihan hukum hanya dibenarkan dalam bidang hukum kontrak. Dalam bidang hukum

kekeluargaan tidak dapat diadakan pilihan hukum, karena bidang hukum ini tidakdipandang sebagai suatu wirtschaftseinheit demi kepentingan seluruh masyarakat dan

keluarga.

 b.  Pilihan hukum tidak boleh mengenai hukum yang bersifat memaksa.

Pilihan hukum tidak boleh diadakan untuk perjanjian-perjanjian pacht,

 perjanjian sewa benda tidak bergerak, perjanjian yang dilangsungkan di bursa-bursa,

dan perjanjian kerja, karena perjanjian-perjanjian di bidang-bidang tersebut bersifat

ordeningsvoorschriften  yang diadakan oleh pemerintah untuk mengatur hukum

 perdata dengan ciri-ciri hukum publik.

c.  Pilihan hukum tidak boleh menjelma menjadi penyelundupan hukum.

Pilihan hukum tidak boleh diadakan bila dalam kontrak tersebut terdapat titik

 pertalian lain yang jauh lebih kuat dari pada pilihan hukum. Pilihan hukum ini hanya

dapat made with a bonafide intention, tidak ada khusus memilih suatu tempat tertentu

untuk maksud menyelundupkan peraturan-peraturan lain, karenanya harus not

 fictitious, based on a normal relation  dan harus memperlihatkan adanya a natural

and vital connection, a substantial connection antara kontrak dan hukum yang dipilih.

66  Ibid hlm. 180.

67 Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan Jawahir Thontowi, op. cit, hlm. 108.

68 Sudargo Gautama, op.cit, Pengantar..., hlm. 204-206.

Page 37: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 37/78

37

Pilihan hukum itu sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:69

a.  Pilihan hukum secara tegas

Pada pilihan hukum secara tegas ini para pihak yang mengadakan kontrak

secara tegas dan jelas menentukan hukum negara mana yang mereka pilih. Hal

tersebut biasanya muncul dalam klausula  governing law atau applicable law  yang

misalnya berbunyi; this contract will be governed by the laws of the Republic of

 Indonesia.

 b.  Pilihan hukum secara diam-diam

Di samping pilihan hukum secara tegas, para pihak dapat juga memilih hukum

secara diam-diam ( stilzwijgend, implied, tacitly). Untuk mengetahui adanya pilihan

hukum tertentu yang dinyatakan secara diam-diam, bisa disimpulkan dari maksud

atau ketentuan-ketentuan, dan fakta-fakta yang terdapat dalam kontrak. Misalnya :

 jika para pihak memilih domisili pada Kantor Pengadilan Negeri di negara X, maka

dapat disimpulkan bahwa para pihak secara diam-diam menghendaki berlakunya

hukum negara X.

Keberatan terhadap pilihan hukum secara diam-diam ini adalah jika sang

hakim hendak melihat adanya suatu pilihan yang sebenarnya tidak ada ( fictief ). Oleh

karena itu, hakim hanya menekankan kepada kemauan para pihak yang diduga

(vermoedelijke partijwil ) dan yang dikedepankan adalah kemauan para pihak yang

fiktif.

c.  Pilihan hukum secara dianggap

Pilihan hukum secara dianggap ini hanya merupakan preasumption iuris, suatu

rechtsvermoeden. Maksudnya, hakim menerima telah terjadi suatu pilihan

 berdasarkan dugaan-dugaan hukum belaka. Pada pilihan hukum yang demikian ini

tidak dapat dibuktikan menurut saluran yang ada. Dugaan hakim merupakan

69 Ibid. hlm. 173-181.

Page 38: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 38/78

38

 pegangan yang dipandang cukup untuk mempertahankan bahwa para pihak benar-

 benar telah menghendaki berlakunya suatu sistem hukum tertentu.

d.  Pilihan hukum secara hipotesis

Dalam pilihan hukum secara hipotesis hakim bekerja dengan fiksi : seandainya

 para pihak telah memikirkan hukum yang dipergunakan, hukum manakah yang

dipilih mereka dengan cara sebaik-baiknya. Jadi, sebenarnya tidak ada pilihan hukum

dari para pihak, justru hakim-lah yang memilih hukum tersebut.

2.  Teori Lex Loci Contractus

Menurut teori klasik lex loci contractus, hukum yang berlaku bagi suatu kontrak

internasional adalah hukum di tempat perjanjian atau kontrak itu dibuat, diciptakan,

dilahirkan.70 Dengan demikian hukum yang berlaku adalah hukum di tempat perjanjian

atau kontrak itu ditandatangani.

Penerapan teori ini memang sangat cocok pada zamannya di mana dulu biasanya

 para pihak yang mengadakan kontrak berada pada tempat yang sama, para pihak

langsung bertemu muka.71  Di masa modern ini tampaknya sudah tidak memadai lagi,

terutama bila dikaitkan dengan kontrak-kontrak yang diadakan antara pihak-pihak yang

tidak berhadapan satu sama lain (intrerabsentes). Hal ini disebabkan semakin banyak

kontrak yang dibuat dengan bantuan sarana komunikasi modern seperti telex, telegram,

facsimile, sehingga penentuan locus contractus menjadi sulit dilakukan.72 

Dalam keadaan demikian sulit-kiranya untuk menentukan hukum negara mana

yang berlaku bagi kontrak itu, karena setiap Negara menganut pandangan yang

 berbeda dalam menentukan lex locin contractus, yaitu :73 

70Sudargo Gautama, op.cit., ...Buku ke-8, hlm. 12.

71 Ibid. hlm. 13.

72Sunaryati Hartono, op.cit, hlm. 13.

73Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm.14.

Page 39: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 39/78

39

a.   Mail box theory (post box theory/theory of expedition/ ubermittlungstheorie).

Pandangan ini dianut oleh negara-negara  Anglo Saxon  atau negara-negara

common law. Menurut pandangan ini maka yang penting dan menentukan ialah saat

seorang penerima (offerte) memasukkan surat penerimaan penawaran tersebut dalam

kotak pos (tempat mengirim surat). Misalnya A di negara X menawarkan kepada B

yang berada di negara Y (negara common law) suatu partai barang dengan harga dan

kondisi tertentu. Kemudian B menulis surat menerimanya dan memposkan surat

 penerimaannya itu pada kantor pos di negaranya (Y). Kontrak bersangkutan dianggap

telah dilangsungkan di Y. Karena sejak saat itu, B sebagai pihak yang menerima

 penawaran tidak dapat menartk kembali penerimaanya. Jadi, jika diterima lex loci

contractus, hukum Y yang akan berlaku, apabila diterima klasifikasi (kualifikasi)

menurut sistem hukum Y.

b.  Theory of declaration (theorie de la declaration/ ausserungs theorie)

Pandangan ini dianut oleh negara-negara Eropa Kontinental atau negara-negara

civil law. Menurut pandangan ini suatu penerimaan harus dinyatakan (declared ) atau

 penerimaan ini harus sampai pada pihak yang melakukan penawaran. Dengan kata

lain, surat penerimaan ini harus diterima oleh pihak yang melakukan penawaran.

Sama seperti contoh kasus di atas, maka hukum yang berlaku berdasarkan teori ini

adalah hukum negara X.

Kesulitan lainnya dalam penerapan lex loci contractus  adalah unsur kebetulan

(toevalligheid ). Seringkali suatu kontrak dibuat di suatu tempat secara kebetulan saja.

Misalnya kontrak yang dibuat antara dua pedagang Indonesia di luar negeri ketika

mereka berlibur. Dalam hal demikian, kehidupan ekonomis dari tempat di mana

kontrak dibuat sama sekali tidak ada sangkut pautnya deng'an transaksi tersebut,

sehingga tidaklah memuaskan dan memberikan kepastian untuk menyatakan hukum

setempat itulah yang berlaku.74 

74 Ibid, hlm. 15-16.

Page 40: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 40/78

40

3.  Teori Lex Loci Solutionis

Sebagai variasi terhadap teori lex loci contractus dikemukakan pula adanya teori

lex loci solutions. Menurut teori ini hukum yang berlaku bagi suatu kontrak adalah

tempat di mana kontrak tersebut dilaksanakan.75

 

Tetapi tak dapat disangkal bahwa teori ini seringkali membawa berbagai kesulitan

 jika hendak dipergunakan dalam praktik. Hal ini nampak apabila tidak ada satu

melainkan beberapa tempat pelaksanaan kontrak. Pada umumnya kontrak-kontrak ini

mengandung kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh para pihak pada tempat

yang berbeda. Apakah yang harus dilakukan dalam hal ini, apakah hukum dari tiap

tempat dimana kontrak ini harus dilaksanakan perlu dipakai. Hal tersebut merupakan

scholastic and unsound results yang sangat mengganggu reputasi dari teori lex loci

 solutionis.76 

Kesulitan lain yang timbul pada teori lex loci solutionis  ini ialah bahwa kadang-

kadang terjadi para pihak tidak dapat memastikan pada waktu mereka berkontrak, pada

tempat manakah kewajiban-kewajiban harus dilaksanakan. Misalnya dalam perjanjian-

 perjanjian asuransi atau pembayaran, iijfrente, yang harus dilakukan pada domicilie dari

kreditur, dapat dilihat bahwa tak dapat ditentukan  place of performance  karena

ditentukan oleh perubahan-perubahan domicilie.77 

Alasan faktor kebetulan yang telah dikemukakan sebagai keberatan terhadap lex

loci contractus  berlaku pula untuk lex loci solutionis. Hal ini terjadi manakala tempat

dimana perjanjian dilaksanakan mungkin hanya accidental dan sama sekali

irrelevant,untuk pemilihan hukum yang harus dipakai, sama tidak berartinya seperti

tempat-tempat lain yang tersangkut pada kontrak bersangkutan. Misalnya seorang

handelsreiziger (traveling salesman)  telah dipekerjakan untuk melakukan perlawatan-

 perlawatan dinasnya ke berbagai negara.78 

75 Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm.16.

76  Ibid, hlm. 18-19.

77 Ibid, hlm. 20.

78  Ibid. 

Page 41: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 41/78

41

4.  Teori The Proper Law of The Contract

Menurut Morris, the proper law  suatu kontrak adalah sistem hukum yang

dikehendaki oleh para pihak, atau jika kehendak itu tidak dinyatakan dengan tegas atau

tidak dapat diketahui dari keadaan sekitarnya, maka  proper law  bagi kontrak tersebut

adalah sistem hukum yang mempunyai kaitan yang paling erat dan nyata dengan

transaksi yang terjadi.79 Hal yang serupa dikatakan oleh Lord Atkin bahwa:80 

"The legal principles which are to guide an English Court on the question of the

 proper law are now well settled, It is the law which the parties intended to apply. Their

intention will be ascertained by the intention expressed in the contract if any, which will

be conclusive. If no intention be expressed, the intention will be presumed by the court from the terms of the contract and the relevant surrounding circumstances".

Cara yang harus ditempuh adalah dengan mendasarkannya pada the grouping ofthe various elements of the contract as they reflected in its formation and its terms . Jadi,

diperhatikan seluruh bentuk dan isi serta keadaan-keadaan sekitar pembentukan kontrak

 bersangkutan, sehingga akan dapat ditentukan unsur-unsur manakah yang terpenting ( pre

dominant ).81 

Contoh pemakaian teori the proper law of the contract  dapat dilihat dari keputusan

 Hof Amsterdam (1946) dalam perkara Jacobs v. Van der Horst , sebagai berikut :

Pihak Firma Jacobs & Moerman yang berkedudukan di London telah mengadakan

 perjanjian dengan Van der Horst   dari Amsterdam. Dalam hal ini, Van der Horst  

 berkewajiban untuk menyerahkan bulu angsa kepada Firma  Jacobs & Moerman, yang

akan menjualkannya kembali dan kemudian akan diadakan pembagian keuntungan

diantara keduanya. Namun, karena dianggap tidak memenuhi kewajibannya untuk

membagi keuntungan, pada akhirnya Van der Horst  menuntut Firma Jacobs & Moerman.

Dalam putusannya,  Hof menganggap hukum Belanda sebagai hukum yang berlaku

dalam kontrak tersebut, dengan pertimbangan sebagai berikut:

a.   bahwa Van der Horst  adalah orang Belanda dan tinggal di Nederland;

79 Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, Jawahir Thontowi, op.cit, hlm.116.

80 Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm. 21.

81 Ibid. hlm. 23.

Page 42: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 42/78

42

 b.   bahwa para persero dari Firma Jacobs & Moerman terdiri dari orang-orang Belanda;

c.   bahwa perjanjian ini terjadi karena korespondensi yang sebagian dilakukan di

 Nederland dan sebagian lagi di London, tetapi dilangsungkan dalam bahasa Belanda;

d.   bahwa karena objek perjanjian adalah barang-barang Belanda, yang diproduksi di

 Nederland, dan juga telah dibeli di Belanda oleh pihak Van der Horst , untuk

kemudian mengirimkannya kepada Firma  Jacobs & Moerman  untuk dijualkan

kembali, maka pelaksanaan dari perjanjian ini untuk sebagian besar telah berlangsung

di Nederland.

Dari contoh kasus di atas, hukum Belanda-lah yang dianggap berlaku karena

semua faktor-faktor di atas menunjukkan kepada pemakaian dari hukum Belanda. Olehkarena itu, hukum yang berlaku bagi sebuah kontrak yang tidak ada pilihan hukumnya

menurut the proper law of contract   adalah hukum dari suatu negara di mana suatu

kontrak mempunyai hubungan yang paling erat dan nyata dengan kontrak tersebut. Hal

ini berarti bahwa hakim harus memperhatikan semua unsur-unsur atau faktcr-faktor

subyektif dan obyektif dalam kontrak yang bersangkutan guna mengetahui titik berat

( zwaart-punt ) kontrak yang bersangkutan.82 

 Namun kelemahan teori ini menurut Sudargo Gautama adalah bahwa sebelum

suatu perkara terjadi diajukan ke pengadilan, sukar sekali menentukan terlebih dahulu

hukum mana yang berlaku bagi kontrak tersebut, sebab hakim harus menyelidiki dulu

segala titik taut dan keadaan di sekitar kontrak yang bersangkutan untuk menentukan

hukum negara mana yang berlaku bagi kontrak tersebut.83 

5.  Teori The Most Characteristic Connection

Menurut Rabbel apabila para pihak dalam suatu kontrak internasional tidakmenentukan sendiri pilihan hukumnya, maka akan berlaku hukum dari negara di mana

kontrak yang bersangkutan memperlihatkan the most characteristic connection.84 

82Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, Jawahir Thontowi, op.cit, hlm.117.

83 Ibid.

84 Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm.32.

Page 43: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 43/78

43

Dalam teori ini kewajiban untuk melakukan suatu prestasi yang paling

karakteristik merupakan tolak ukur penentuan hukum yang akan mengatur perjanjian itu.

Dalam setiap kontrak dapat dilihat pihak mana yang melakukan prestasi yang paling

karakteristik dan hukum dari pihak yang melakukan prestasi yang paling karakteristik

inilah yang dianggap sebagai hukum yang harus dipergunakan. Dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan karakteristik adalah mempunyai sifat khas

sesuai dengan perwatakan tertentu85, sedangkan dalam buku HPI Indonesia (Jilid III

Bagian 2 Buku ke-8), Sudargo Gautama mengemukakan bahwa karakteristik dapat

 berarti typis atau funksional 86. Dalam hal ini dilihat bagaimana fungsi dari kontrak yang

 bersangkutan, dan dengan sistem hukum manakah kontrak ini dilihat secara fungsional,

sehingga tidak hanya melihat kepada faktor tempat dilakukannya prestasi saja. Selain itu,

karakteristik juga dapat berarti prestasi yang paling berat87

, yang berarti prestasi pihak

manakah yang dianggap paling berat. Bahkan, prestasi yang karakteristik dapat berarti

 prestasi spesifik 88, yaitu prestasi yang bersifat khusus atau khas, jadi adanya hubungan

yang khusus atau khas antara prestasi yang dilakukan dengan tempat prestasi dilakukan.

Seianjutnya, karakteristik pun juga dapat berarti prestasi yang paling kuat89  untuk

menguasai kontrak bersangkutan.

Contoh pemakaian teori the most characteristic connection  dapat dilihat dari

 putusan Cour de1 Appel de Paris  (1955) dalam perkara Societe Jansen  di  Rorbach

(Saarland) v. Societe Heurtey di Paris:90 

Dalam perkara ini, pihak Jansen mengadakan perjanjian jual beli perkakas-

 perkakas industri (apparaten, appareils) dengan pihak Heurtey. Namun, pada praktiknya

muncul persoalan berkaitan dengan perjanjian jual beli tersebut. Dalam putusannya, Cou

d' Appel de Paris  menganggap hukum Jerman-lah yang berlaku, dengan pertimbangan

85Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,

1990, hlm. 389.

86 Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm.35.

87  Ibid, hlm 35 dan 41.

88  Ibid, hlm. 42.

89  Ibid. 

90 Sudargo Gautama, op.cit., ...Buku ke-8, hlm 41-42.

Page 44: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 44/78

44

 bahwa karena para pihak tidak mengadakan pilihan hukum, maka harus dilihat faktor

objektif dan keadaan sekitar kontrak. Hubungan yang penting untuk diperhatikan adalah

antara tempat bersangkutan dan pelaksanaan prestasi yang paling karakteristik, yang

dalam hal ini adalah kewajiban untuk menyerahkan perkakas-perkakas industri

(apparaten, appareils) tersebut. Oleh karena itu, hukum yang harus diutamakan adalah

hukum dari negara dimana dilaksanakan kewajiban penyerahan ini, yaitu di Rohrbach

(Jerman) sebagai tempat kedudukan penjual. Menurut Sudargo Gautama, teori the most

charactersitic connection ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu dengan adanya

 prinsip prestasi yang paling karaktersitik dapat secara pasti ditentukan terlebih dahulu

untuk setiap kontrak, juga sebelum kontrak diadakan hukum mana yang akan dipakai

untuk kontrak yang bersangkutan.91 

Beberapa contoh dari titik-titik taut yang dapat dianggap sebagai karakteristik

untuk perjanjian tertentu, antara lain: letaknya benda untuk perjanjian-perjanjian

 berkenaan dengan benda-benda tak bergerak, tempat pelaksanaan dari suatu kontrak

kerja, kontrak perwakilan dagang atau kontrak pengangkutan, jika harus dilaksanakan

dalam negara tertentu.92 

91Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan Jawahir Thontowi, op.cit , hlm.118.

92 Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm. 38.

Page 45: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 45/78

45

BAB III

ANALISIS TERHADAP KONTRAK ANTARA WFP DAN YASMINA

A.  Substansi Kontrak yang Disepakati

Kontrak antara WFP dan Yasmina merupakan pedoman pelaksanaan dari kerja sama

yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Secara umum, kontrak tersebut harus memperhatikan

apa yang menjadi tujuan dari dibuatnya kontrak dan harus sesuai dengan keinginan mereka.

Adapun ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para pihak adalah sebagai berikut:

1.  Ruang Lingkup Kontrak

Kontrak ini melingkupi pelaksanaan dari Community Development Project  (CDP)

sebagaimana yang sudah disebut di atas, yang telah disetujui oleh Komite Penanggung

Jawab OPSM. CDP akan dibiayai dari dana trust OPSM dan bagian dari

masyarakat/NGO (yang menyediakan Rp.30,150,000.- dari seluruh anggaran belanja)93

.

Kontrak antara WFP dan Yasmina tersebut dibuat untuk mengatur pelaksanaan

CDP. Dalam hal ini pembuatan sanitasi umum bagi masyarakat miskin di RT 04 dan RT

05-RW 04, Desa Teiuk Pinang, Ciawi, Bogor, yang telah disetujui oleh Komite

Penanggung Jawab OPSM. Program tersebut akan dibiayai dari dana trust OPSM dan

sebagian lagi dari masyarakat/NGO dengan jumlah sebesar Rp.30,150,000.- dari seluruh

anggaran belanja.

2.  Tujuan Kontrak

Tujuan dari kontrak ini adalah untuk menyediakan permodalan bagi pembiayaan

 pelaksanaan CDP, pelaporan dan pertanggungjawaban  partner   dalam pelaksanaan

 program ini94

.

93 Pasal 1 Kontrak antara WFP dan Yasmina

94 Pasal 2 Kontrak antara WFP dan Yasmina

Page 46: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 46/78

46

Berdasarkan ketentuan pasal ini, tujuan dibuatnya kontrak ini adalah untuk

mengatur masalah permodalan bagi pembiayaan pelaksanaan CDP, pelaporan, dan

 pertanggungjawaban Yasmina sebagai partner WFP.

3.  Jangka Waktu, Saat Dimulai dan Berakhirnya Kontrak

Pelaksanaan kontrak tidak boleh melebihi waktu lima bulan dari saat pembayaran

angsuran pertama. Ini akan dilaksanakan mulai dari tanggal 1 Febr UNCITRAL

 Arbitration Rulesi 2005 sampai dengan 30 Juni 2005 kecuali jika ditentukan lain oleh

 para pihak sesuai dengan kesepakatan. Kontrak ini dapat diakhiri oleh kedua belah pihak

30 hari setelah adanya pemberitahuan tertulis95

.

Berdasarkan ketentuan pasal ini, pembangunan sanitasi umum tersebut tidak dapatmelebihi waktu lima bulan dari saat pemberian angsuran pertama, yang akan

dilaksanakan mulai dari tanggal 1 Februari 2005 sampai dengan 30 Juni 2005, kecuali

 jika ditentukan lain oleh para pihak sesuai dengan kesepakatan. Selain itu, ketentuan

 pasal ini juga menyebutkan bahwa kontrak ini dapat diakhiri oleh kedua belah pihak,

yaitu 30 hari setelah adanya pemberitahuan tertulis.

4.  Penerima

Penerima adalah masyarakat miskin di RT04 dan RT05 -RW04, Desa Teluk

Pinang, Ciawi, Bogor 96

. Berdasarkan ketentuan pasal ini, pembangunan sanitasi umum

tersebut ditujukan bagi masyarakat miskin di RT04 dan RT05 -RW04, Desa Teluk

Pinang, Ciawi, Bogor, yang merupakan target sasaran CDP.

5.  Persetujuan Permodalan97

 

(1)   Partner  mengajukan proposal pembiayaan untuk CDP.

(2)  WFP telah menilai proposal tersebut dan melakukan evaluasi awal di wilayah tempat

masyarakat tersebut tinggal pada bulan Juli 2004.

95 Pasal 3 Kontrak antara WFP dan Yasmina

96  Pasal 4 Kontrak antara WFP dan Yasmina

97  Pasal 5 Kontrak antara WFP dan Yasmina

Page 47: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 47/78

47

(3)  Komite Pekerja, yang terdiri dari WFP dan Bappenas, telah meninjau proposal,

 berdasarkan penilaian WFP. Proposal tersebut sudah diserahkan oleh WFP Country

Director untuk Ketua Komite Penanggung Jawab OPSM untuk pemberian bantuan

dana.

Ketentuan Pasal 5 di atas mengatur masalah mekanisme persetujuan pertnodalan.

Dalam hal ini Yasmina harus mengajukan proposal pembiayaan CDP kepada Komite

Pekerja (yang terdiri dari WFP dan Bappenas). Selanjutnya, proposal tersebut dinilai

 berdasarkan hasil evaluasi WFP pada bulan Juli 2004 di RT04 dan RT05 - RW04, Desa

Teluk Pinang, Ciawi, Bogor, yang merupakan lokasi pelaksanaan proyek. Setelah

disetujui, proposal tersebut diserahkan oleh Country Director WFP kepada Ketua Komite

Penanggung Jawab OPSM untuk mendapatkan pembiayaan peiaksanaan proyek.

6.  Kewajiban Partner 98

 

Selama berlangsungnya kontrak ini dan sesuai dengan proposal CDP yang telah

disetujui, partner  diwajibkan untuk :

(1)  melaksanakan CDP sesuai dengan jangka waktu dan ruang lingkup yang telah

disepakati. 50% dari hasil CDP harus memberikan manfaat dan dikelola oleh wanita;

(2)  dalam dua minggu setelah proyek disetujui, harus menyerahkan laporan penggunaan

anggaran secara terperinci;

(3)  dalam 30 hari setelah proyek disetujui, harus dibentuk Komite CDP, yang terdiri dari

 perwakilan masyarakat dan partner untuk mengawasi pelaksanaan proyek. Komite

ini harus terdiri dari 50% wanita;

(4)  harus berkonsultasi secara teratur dengan Komite CDP untuk mengetahui kemajuan

dalam pelaksanaan pembangunan dan masalah yang ditemukan di lapangan;

(5)  menjamin kepemilikan dari fasilitas tersebut (sesuai dengan Provision of Public

Sanitation facilities for Poor People in RT04 and RT05 - RW04, Village of Teluk

Pinang, Ciawi Sub-district, Bogor District). Dalam hal ini adalah masyarakat RT04

98 Yang dimaksud dengan Partner dalam kontrak ini adalah Yasmina.

Page 48: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 48/78

48

dan RT05 - RW04 Desa Teluk Pinang yang telah diketahui tidak mempunyai

struktur sanitasi umum yang pantas. Masyarakat bersangkutan akan bertanggung

 jawab dalam merawat dan memelihara fasilitas tersebut. Pemindahan kepemilikan99

akan dilakukan secara tertulis kepada Komite CDP.

(6)  menjamin pemeliharaan dari Fasilitas Sanitasi Umum untuk Masyarakat Miskin di

RT04 dan RT05 - RW04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor oleh anggota

masyarakat (sebagian besar wanita).

(7)  memantau kemajuan proyek secara berkala;

(8)  laporan keuangan dilakukan tiap bulan, sebelum diturunkan angsuran baru dan tiga

 bulan setelah proyek selesai; laporan narasi sebelum diturunkan angsuran baru , dantiga bulan setelah proyek selesai yang berisi kemajuan dari pelaksanaan proyek sejak

saat dimulai hingga selesai (lihat Annex III);

(9)  melengkapi semua dokumen keuangan dalam setiap transaksi keuangan;

(10) memberikan akses kepada WFP dan Pemerintah Indonesia atau pihak yang

ditunjuknya untuk datang ke tempat lokasi, penentuan bahan-bahan dan laporan

setiap saat;

(11)  jika terdapat masalah teknis harus meminta petunjuk bantuan teknis pada

WFP/Pemerintah Indonesia untuk semua persoalan proyek; mengenai

ketidakteraturan, masalah-masalah yang menjadi perhatian WFP, dan lain-lain;

(12) menyimpan data masuk dan keluarnya dana berkenaan dengan proyek;

(13) sumber-sumber yang dialokasikan harus digunakan secara optimal;

(14) dana yang tidak digunakan dikirimkan kepada rekening trust OPSM dalam waktu 30

hari setelah berakhirnya proyek WFP Trust Fund Prj. 10069 (IDR) No. Rekening 0-

 

99 Pembangunan sanitasi umum tersebut dibangun di atas tanah salah satu anggota masyarakat yang dengan sukarela

menghibahkan tanahnya demi kepentingan umum tersebut. Dengan demikian. kepemilikan tanah tersebut beralih

dari penghibah kepada masyarakat RT04 dan RT05 - RW04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor.

Page 49: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 49/78

49

104727-093 Citibank, NA, Citibank Tower, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 54-55,

Jakarta 12910, Indonesia

(15) masyarakat atau NGO memberikan kontribusi sebesar Rp.30,150,000.- dari seluruh

anggaran belanja;

(16) tanggung jawab penuh terhadap tindakan dan kelalaian dari para anggotanya.

Anggota dari partner bukan sebagai anggota staf atau pekerja dari PBB dan bagian-

 bagiannya. WFP tidak menanggung segala biaya apabila terjadi sakit,

ketidakmampuan, kematian atau efek dari bahaya yang mungkin diderita oleh para

 pekerja partner, apakah berhubungan dengan proyek atau tidak, atau kehilangan atau

kerusakan barang-barang kepunyaan partner, mitiknya pribadi atau pihak ketiga;

(17) member) informasi kepada penerima dan masyarakat umum bahwa sumber

 pembiayaan proyek diberikan WFP dan Pemerintah Indonesia;

(18)  pertanggungjawaban teknis100  untuk semua aktivitas dalam proyek CDP. Dalam

 pelaksanaan proyek, partner harus mengikuti semua aktivitas yang tertulis secara

detail dalam proposal, bahkan juga harus mengikuti prosedur standar dan teknis

umum. Beton, konstruksi bahan mentah, proses perawatan yang mengikuti standar

teknis harus tersedia dan tepat guna;

(19) menerapkan manajemen terbuka dalam seluruh pelaksanaan proyek. Berkenaan

dengan koordinasi, logistik, program kerja, proses teknis, laporan, penyediaan

 barang, kapasitas teknis para pekerja partner yang harus sesuai dengan spesifikasi

 proyek CDP (Pasal 6 Kontrak antara WFP dan Yasmina).

Ketentuan Pasal 6 mengatur mengenai kewajiban-kewajiban yang harus

dilaksanakan Yasmina sebagai partner WFP dalam pelaksanaan proyek pembuatansanitasi umum. Berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1), Yasmina harus melaksanakan

CDP sesuai dengan apa yang tercantum di dalam kontrak. Pasal ini juga mengharuskan

agar CDP memberikan manfaat serta dikelola oleh 50 % wanita. Diutamakannya wanita

100  Pertanggungjawaban teknis adalah tanggung jawab yang berkaitan langsung dengan proses pernbangunan

sanitasi umum, misalnya saja mengenai masalah konstruksi bangunan.

Page 50: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 50/78

50

sebagai penerima manfaat dan pengelola, karena sudah rnerupakan misi bagi Yasmina

dan WFP untuk memberdayakan wanita menjadi sumber daya manusia (SDM) yang

 bermakna bagi diri, keluarga dan masyarakat. Selain itu, sebagai bentuk

 pertanggungjawaban Yasmina atas bantuan dana yang diberikan WFP, pihak tersebut

diharuskan untuk:

a.  memberikan laporan mengenai penggunaan anggaran secara terperinci dalam

waktu dua minggu setelah proposal proyek disetujui (Pasal 6 ayat (2));

 b.  memberikan laporan keuangan setiap bulan, sebelum diturunkan angsuran baru dan

tiga bulan setelah proyek selesai (Pasal 6 ayat (8));

c.  memberikan laporan narasi, untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan proyek dari saatdimulainya hingga selesai, yang diserahkan sebelum diturunkan angsuran baru dan

tiga bulan setelah proyek terselesaikan (Pasal 6 ayat (8));

d.  melengkapi semua dokumen keuangan dalam setiap transaksi keuangan (Pasal

6 ayat (9);

e.  menyimpan data masuk dan keluarnya dana berkenaan dengan pelaksanaan proyek

(Pasal 6 ayat (12)); Bentuk pelaporan yang disebutkan di atas, dimaksudkan agar

Yasmina dapat memastikan bahwa sumber keuangan dikelola dengan layak, dan ada

kontrol yang memadai atas sumber keuangan tersebut untuk menjaganya dari

kemungkinan salah penggunaan.

Menurut ketentuan Pasal 6 ayat (13), sumber daya program dan keuangan yang

dialokasikan harus digunakan secara optimal. Dana yang tidak digunakan harus

dikirimkan kepada rekening trust OPSM dalam waktu 30 hari setelah berakhirnya proyek

(Pasal 6 ayat (14)).

Selanjutnya, sebagai bentuk pengawasan dalam pelaksanaan proyek, Yasmina

diharuskan untuk :

a.  memantau kemajuan proyek secara berkala (Pasal 6 ayat (7));

 b.  membentuk Komite CDP, yang berasal dari perwakilan masyarakat dan pihak

Page 51: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 51/78

51

Yasmina, yang terdiri dari 50% wanita (Pasal 6 ayat (3)). Komite CDP tersebut akan

memberikan bantuan konsultasi kepada Yasmina untuk mengetahui kemajuan dalam

 pelaksanaan proyek dan penanganan masalah-masalah yang ditemukan di lapangan

(Pasal 6 ayat(4));

c.  memberikan kewenangan adanya campur tangan dari WFP dan Pemerintah Indonesia

untuk turut memberikan pengawasan pelaksanaan proyek (Pasal 6 ayat (10)). Dalam

hal ini, pihak WFP dan Pemerintah Indonesia akan membantu dalam memberikan

 petunjuk teknis untuk semua permasalahan proyek, konsultasi dan hal-hal lain

yang dibutukan (Pasal 6 ayat (11)).

Berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (5), Yasmina harus menjamin kepemilikan

dari fasilitas sanitasi umum adalah milik masyarakat di RT04 dan RT05-RW04, Desa

Teluk Pinang, Ciawi, Bogor. Fasilitas tersebut harus dirawat dan dipelihara oleh

masyarakat bersangkutan dengan sebagian besar dilakukan oleh wanita (Pasal 6 ayat (6)).

Menurut ketentuan Pasal 6 ayat (16), anggota Yasmina yang terlibat dalam

 pelaksanaan proyek bukan merupakan bagian dari staf atau pekerja PBB. Oleh karena itu,

WFP tidak bertanggung jawab apabila terjadi hal-hal yang menimpa anggota Yasmina

 baik yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan pelaksanaan proyek. Dengan

demikian, Yasmtna harus bertanggung jawab penuh terhadap semua tindakan dan

kelalalaian dari para anggotanya. Selain itu, bentuk pertanggungjawaban Yasmina

lainnya adalah memberikan pertanggungjawaban teknis untuk semua kegiatan dalam

CDP, yaitu:

a.  melaksanakan semua kegiatan yang secara detail tertulis dalam proposal dan sesuai

dengan prosedur standar dan teknis umum (Pasal 6 ayat (18));

 b.  menerapkan manajemen terbuka101  dalam seluruh pelaksanaan proyek, yang

 berkenaan dengan koordinasi, logistik, program kerja, proses teknis, laporan,

101 Manajemen terbuka berarti Yasmina harus menerapkan pengelolaan yang transparan dalam seluruh pelaksanaan

 proyek yang meliputi koordinasi, logistik, program kerja, proses teknis, laporan, penyediaan barang dan kapasitas

teknis para pekerja Yasmina, sehlngga setiap pihak dapat mengetahui tanggung jawabnya masing-masing dan

diketahui oleh masing-masing pihak lainnya.

Page 52: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 52/78

52

 penyediaan barang, dan kapasitas teknis para pekerja Yasmina (Pasal 6 ayat(19)).

Bahkan, Yasmina pun juga harus mengusahakan dana sebesar Rp Rp.30,150,000.-

dari total anggaran belanja untuk membiayai pembangunan sanitasi umum tersebut (Pasal

15). Selanjutnya, berdasarkan Pasal 6 ayat (17), Yasmina harus memberikan informasi

kepada masyarakat penerima bahwa pembuatan sanitasi umum tersebut didanai oleh

WFP dan Pemerintah Indonesia.

7.  Kewajiban WFP

Selama berlakunya Kontrak ini, WFP diharuskan untuk :

(1)  menyediakan dana sebesar Rp.149,296,000.- dalam tiga angsuran Tahap I:

Rp.44,789,000.- , Tahap II: Rp.89,578,000.- dan Tahap III: Rp.14,929,000.- untuk

kemajuan pelaksanaan proyek sesuai dengan proposal CDP dan/atau persetujuan

 bersama;

(2)  menunjuk staf WFP untuk memberikan saran teknis dan pelatihan, seperlunya,

dalam semua aspek dari perancangan proyek, pelaksanaan, pengoperasian dan

manajemen keuangan dan laporan. Bila WFP menganggap bahwa  partner   tidak

 bekerja secara memuaskan dalam pelaksanaan proyek dan/atau dalam penggunaan

dana, WFP mempunyai kewenangan untuk menghentikan partner dan menuntut

 pengembalian dana proyek yang belum digunakan;

(3)  Pemerintah Indonesia harus terus diinformasikan mengenai kemajuan dan hasil dari

 proyek (Pasal 7 Kontrak antara WFP dan Yasmina). Ketentuan Pasal 7 ini mengatur

mengenai kewajiban WFP sebagai pihak yang menyalurkan bantuan dana bagi

 pelaksanaan CDP kepada Yasmina, yaitu :

e.  menyalurkan dana sebesar Rp. 149,296,000 dalam tiga kali angsuran, yaitu pada

tahap I : Rp.44,789,000,- , tahap II : 89,578,000,-, tahap III: Rp.14,929,000,-

(Pasal 7 ayat (1));

f.  menyediakan staf yang memenuhi syarat untuk memberikan petunjuk dan

 pelatihan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan proyek. Bahkan,

Page 53: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 53/78

53

WFP dapat menghentikan kerja sama dengan Yasmina dan menuntut

 pengembalian dana proyek yang belum digunakan, apabila Yasmina tidak

 bekerja secara memuaskan dalam pelaksanaan proyek dan/atau penggunaan dana

(Pasal 7 ayat (2)). Kewenangan tersebut diberikan agar Yasmina sebagai  partner

WFP, yang diamanatkan untuk mengemban pelaksanaan CDP, menggunakan

dana sesuai dengan aktivitas yang telah disetujui dalam kerangka kerja;

g.  memberikan laporan mengenai pelaksanaan program kepada Pemerintah

Indonesia (Pasal 7 ayat (3)). Adanya kewajiban tersebut, karena pelaksanaan

CDP tidak hanya merupakan bentuk kerja sama antara WFP dan Yasmina. Akan

tetapi juga melibatkan Pemerintah Indonesia sebagai pihak yang menandatangani

 Letter of Understanding  dengan WFP dalam Operasi Perpanjangan Bantuan dan

Pemulihan untuk internally displaced persons  (IDPs) dan Masyarakat Miskin

dengan menggunakan dana Operasi Pasar Swadaya Masyarakat (OPSM).

8.  Ketentuan Umum

(1)  WFP akan mengatur sumber dana berdasarkan regulasi dan peraturan keuangan,

 petunjuk administratif dan petunjuk lain yang dapat digunakan. WFP akan

membiayai hal-hal yang sudah ditentukan dalam perjanjian ini. Semua dokumen

keuangan akan dikelola dan dilaporkan sampai selesainya proyek CDP.

(2)   pemeriksaan dilakukan terhadap dana yang digunakan untuk CDP, sesuai dengan

 prosedur pemeriksaan, yang telah ditetapkan dalam regulasi, peraturan dan petunjuk

WFP.  Partner setuju untuk memberikan akses untuk semua laporan, dokumen-

dokumen dan rekening bank atau semua detail lainnya, yang diperintahkan oleh

auditor.

(3)  Jika selama pelaksanaan kontrak terdapat bagian-bagian yang perlu direvisi, maka

revisi akan dibuat dengan persetujuan tertulis para pihak dalam kontrak.

(4)   pelaksanaan CDP akan dipandu oleh petunjuk-petunjuk, yang dilampirkan dalam

 Annex I. Petunjuk tersebut dapat diperbaharui oleh WFP dan Pemerintah Indonesia.

Setiap ada pembaharuan akan diinformasikan kepada partner. 

Page 54: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 54/78

54

(5)  Jika partner tidak menggunakan dana sesuai dengan proposal proyek yang telah

disetujui setelah dua kali peringatan, WFP dan GOI dapat mengambil langkah

hukum melalui pihak yang berwenang. Partner harus mematuhi setiap keputusan

hukum yang dihasilkan (Pasal 8 Kontrak antara WFP dan Yasmina)

Ketentuan Pasal 8 mengatur mengenai ketentuan umum yang meliputi:

a.  Akuntansi (accounting )

Akuntasi meliputi pengelolaan dan penggunaan dana yang akan diatur

 berdasarkan peraturan keuangan, petunjuk administratif dan petunjuk lain yang

dapat digunakan.

 b.  Pemeriksaan (auditing )

Sebagai bagian dari tanggung jawabnya, maka WFP akan melakukan

 pemeriksaan terhadap dana yang digunakan untuk CDP melalui kunjungan

lapangan, pertemuan rutin, audit lingkup terbatas, pengecekan dokumentasi yang

mendukung atau cara lainnya.

c.  Revisi

Selama pelaksanaan program dimungkinkan terjadi perubahan dan modifikasi

terhadap kontrak ini yang dapat dibuat sesuai dengan kesepakatan bersama secara

tertulis.

d.  Pelaksanaan petunjuk (implementation of guidelines/metodology)

Pelaksanaan CDP ini akan dipandu oleh petunjuk-petunjuk yang dilampirkan

dalam Annex I. WFP dan GOI mempunyai kewenangan untuk memperbaharui

setiap petunjuk tersebut dan akan selalu diinformasikan kepada Yasmina.

e.  Proses hukum (legal proceedings)

Proses hukum dapat dilakukan, apabila telah dilakukan dua kali peringatan

dalam hal Yasmina tidak menggunakan dana sesuai dengan proposal proyek yang

Page 55: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 55/78

55

telah disetujui.

9.  Kejadian Tak Terduga ( force majeure)

Jika sewaktu-waktu selama berlakunya kontrak ini, setiap pihak menjadi tidak

mungkin untuk melaksanakan kewajibannya dengan alasan  force majeure, maka pihak

tersebut harus memberitahukan secara tertulis tentang adanya  force majeure tersebut,

selanjutnya pihak lainnya memberikan pemberitahuan yang membebastugaskan dari

kewajiban selama force majeure berlangsung102

.

Klausula  force majeure ini dimaksudkan sebagai langkah untuk melakukan

antisipasi yang ditempuh para pihak yang membuat perjanjian, terhadap kejadian yang

mungkin timbul di kemudian hari dan berakibat langsung terhadap pelaksanaan perjanjian. Oleh karena itu, klausula tersebut dicantumkan guna melindungi para pihak

apabila bagian dari kontrak atau kewajiban yang disebut prestasi, tidak bisa dipenuhi

karena sebab-sebab yang berada di luar kekuasaan para pihak (act of God ) dan tidak bisa

dihindarkan dengan melakukan tindakan yang sepantasnya. Dalam ketentuan Pasal 9

disebutkan bahwa salah satu pihak diharuskan membuat pemberitahuan tertulis tentang

adanya  force majeure yang menghambatnya untuk melakukan kewajiban, dan pihak

lainnya memberikan pemberitahuan yang membebastugaskan dari kewajiban selama

 force majeure berlangsung.

10. Klausula Arbitrase103 

Apabila timbul sengketa atas Kontrak ini, maka akan diselesaikan dengan cara

musyawarah, tetapi apabila tidak bisa maka akan diselesaikan melalui arbitrase dengan

menggunakan UNCITRAL  Arbitration Rules. Para pihak diminta untuk menunjuk

arbiternya masing-masing, yang kemudian apabila salah satu pihak belum juga menunjuk

arbiternya paling lama setelah 14 hari sejak pihak lain menunjuk arbiternya, maka arbiter

102 Pasal 9 Kontrak antara WFP dan Yasmina.

103Klausula arbitrase merupakan dasar hukum bagi kewenangan forum arbitrase guna menerima dan menyelesaikan

sengketa. Dengan adanya klausula arbitrase ini, maka meniadakan hak para pihak untuk mengajukan penyelesaian

sengketa ke forun Pengadilan Negeri. Lihat Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, op.cit., hlm. 43-51.

Page 56: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 56/78

56

tersebut akan menjadi arbiter tunggal yang keputusannya mengikat kedua belah pihak.104

 

Ketentuan Pasal 10 mengatur mengenai penyelesaian sengketa. Menurut pasal ini,

manakala terjadi sengketa, pertama-tama akan diselesaikan dengan cara musyawarah.

Hal ini sangat wajar untuk ditempatkan sebagai suatu penyelesaian yang didahulukan,

mengingat kontrak ini dibuat dalam suatu keadaan atau kondisi dengan masing-masing

 pihak dalam keadaan puas, yang diakhiri dengan penandatanganan kontrak. Selain itu,

 pasal ini juga menyebutkan apabila dengan cara musyawarah tidak mendatangkan

 penyelesaian, maka akan diselesaikan melalui arbitrase dengan menggunakan

UNCITRAL  Arbitration Rules. Pencantuman klausula arbitrase dalam kontrak ini

dimaksudkan bahwa para pihak telah menentukan atau memilih arbitrase dan proses

 penyelesaian yang akan digunakan apabila ternyata timbul sengketa di kemudian hari.

11. Klausula Kekebalan105 

(1) Dalam perjanjian ini tidak ada yang menyatakan melepaskan tuntutan oleh WFP,

sebagai bagian dari PBB atas setiap hak istimewa atau kekebalan yang dinikmati

mereka atau penundukan terhadap yurisdiksi pengadilan pada suatu negara terhadap

semua persengketaan yang timbul dalam perjanjian.

(2) Baik WFP maupun  partner   pelaksana memikul setiap tanggung kerugian,

kehilangan atau hutang yang timbul dari aktivitas di bawah perjanjian ini106

.

Berdasarkan ketentuan Pasal 11, dengan berlangsungnya kontrak, WFP tidak

kebal atas yurisdiksi pengadilan pada suatu negara terhadap semua persengketaan yang

timbul dalam perjanjian. Selain itu, baik WFP maupun partner  memikul setiap tanggung

104 Pasal 10 Kontrak antara WFP dan Yasmina

105Tidak semua pihak dapat digugat di hadapan hakim perdata dari suatu Negara. Adapun pihak-pihak yang

mempunyai kekebalan (immunity) adalah Negara yang berdaulat, orang-orang yang berstatus diplomatik, duta-duta

dan anggota stafhya serta keluarga mereka. Lihat Sudargo Gautama, op. cit, ...Buku ke-8, hlm. 237-239. Lihat juga

Pasal 105 ayat (2) Piagam PBB, bahwa "wakil-wakil anggota PBB dan pejabat-pejabat Organisasi ini memperoleh

hak-hak istimewa dan kekebalan-kekebalan yang sama yang diperlukan untuk melaksanakan secara bebas tugas-

tugasnya yang bertalian dengan Organisasi ini". Oleh karena itu, dengan adanya klausula kekebalan dalam kontrak

antara WFF dan Yasmina, menunjukkan bahwa staf WFP menyatakan tunduk di bawah kompetensi pengadilan

dalam suatu negara. Oleh karena itu, staf WFP tidak kebal atas yurisdiksi pengadilan dalam suatu negara terhadap

semua persengketaan yang timbul dalam kontrak.

106 Pasal 11 Kontrak antara WFP dan Yasmina.

Page 57: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 57/78

57

 jawab terhadap setiap tuntutan terhadap kerusakan, kematian, kerugian, kehilangan atau

hutang yang timbul dari aktivitas di bawah perjanjian ini.

B.  Klausula dalam Kontrak yang Mengandung Unsur-Unsur Asing

Kontrak antara WFP dan Yasmina dikategorikan sebagai kontrak yang mengandung

unsur-unsur asing. Adapun unsur-unsur asing yang terdapat pada kontrak tersebut

diantaranya adalah :

1.  Para pihak (subjek) dalam kontrak

Para pihak dalam kontrak ini adalah Yasmina dan WFP. Yasmina adalah

organisasi non-pemerintah, non-profit, non organisasi politik, dan badan hukum yang

didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Dengan

demikian status hukum Yasmina adalah badan hukum Indonesia.

Adapun WFP merupakan salah satu badan PBB yang bergerak dalam bidang

 pemberian bantuan pangan yang bermarkas besar di Roma, Italia dan memiliki beberapa

kantor perwakilan, yang salah satunya di Jakarta, Indonesia.

2.  Tempat dibuatnya kontrak

Kontrak ini ditandatangani oleh para pihak pada tanggal 18 Januari 2005 di

Indonesia. Dalam hal ini pihak WFP diwakili oleh  Mohamed Saleheen sebagai Country

 Director dan pihak Yasmina diwakili oleh Iim Nurochimah sebagai Ketua Yasmina.

3.  Tempat dilaksanakannya kontrak

Kontrak antara WFP dan Yasmina ini adalah mengenai pembuatan sanitasi umum

yang dilaksanakan di RT 04 dan RT 05 - RW 04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor,

Indonesia, sedangkan pemberian dana oleh WFP dilakukan melalui transfer antar bank di

Indonesia, yaitu dari Citibank (Jakarta) ke Bank Syariah Mandiri (cabang Bogor).

Page 58: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 58/78

58

4.  Bahasa

Kontrak berisi beberapa hal yang berkekuatan mengikat, seperti perintah,

keharusan, larangan, janji, kebolehan dan batas-batasnya. Batas-batas tersebut dibuat

dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya, yang harus dibuat setepat mungkin,

sedemikian rupa sehingga tidak bisa ditafsirkan ke kiri atau ke kanan, serta tidak

menimbulkan ambiguitas atau keraguan akan maksudnya. Adapun bahasa yang

dipergunakan dalam kontrak ini adalah Bahasa Inggris.

C.  Forum yang Berwenang Menyelesaikan Perselisihan yang Mungkin Timbul dalam Kontrak

antara WFP dan Yasmina adalah Arbitrase

Dalam pelaksanaan suatu kontrak kerja sama internasional ada kemungkinan berakhir

dengan perselisihan hukum antara para pihak yang terkait di dalamnya. Oleh karena itu,

 pada umumnya dalam setiap kontrak dicantumkan klausula yang mengatur bagaimana

sengketa yang terjadi di antara mereka itu akan diselesaikan.

Cara penyelesaian sengketa yang dicantumkan para pihak dalam kontrak beraneka

ragam. Secara konvensional, penyelesaian sengketa biasanya dilakukan secara litigasi atau

 penyelesaian sengketa di muka pengadilan. Pada perkembangannya dalam praktik ditemui

suatu kontrak yang mencantumkan penyelesaian sengketa pada suatu badan arbitrase.

Ketentuan mengenai penyelesaian sengketa dalam suatu kontrak dimaksudkan untuk

menunjukkan forum atau lembaga yang berwenang dalam menyelesaikan sengketa yang

timbul. Oleh karena itu, untuk menentukan berwenang tidaknya suatu forum atau lembaga

dalam mengadili suatu perkara dapat dilakukan dengan meneliti klausula pilihan forum yang

terdapat dalam kontrak yang bersangkutan.

Apabila dalam suatu kontrak terdapat klausula pilihan forum yang menunjuk pada

suatu badan arbitrase, maka badan arbitrase tersebut memiSiki kompetensi absolut 107  untuk

107 Wewenang mutlak adalah menyangkut pembagian kekuasaan antar badan-badan peradilan. Wewenang mutlak

menjawab pertanyaan : badan peradilan macam apa yang berwenang untuk mengadili sengketa ini. Lihat

Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Mandar

Page 59: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 59/78

59

menyelesaikan perkaranya. • 

Status badan arbitrase sebagai forum yang memiliki kewenangan absolut dalam

menyelesaikan dan memutus sengketa tercantum dalam Pasal II ayat (3) Konvensi New York

Tahun 1958 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Luar   Negeri  yang

 berbunyi:

"The court of a Contracting State, when seized of an action in a matter in respect of

which the parties have made an agreement within the meaning of this Article, shall, at

the request of one of the parties, refer the parties to arbitration, unless it finds that

the said agreements is null and void, in operative or in capable of being performed 108.

Ketentuan diatas mempunyai pengertian bahwa apabila perjanjian arbitrase telahdibuat, maka pengadilan harus menolak dan tidak campur tangan dalam suatu penyelesaian

sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase, kecuali perjanjian arbitrase tersebut

dibatalkan atau batal demi hukum. Hal ini sejalan dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 30

Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang menyatakan

 bahwa "Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah

terikat dalam perjanjian arbitrase".

Dengan adanya klausula arbitrase dalam suatu kontrak, meniadakan hak para pihak

untuk mengajukan penyelesaian sengketa kepada Pengadilan Negeri. Dalam hal ini

Pengadilan Negeri harus menolak dan tidak akan ikut campur tangan dalam suatu

 penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase. Bilamana sengketa itu tetap

diajukan kepada Pengadilan Negeri, hakim harus menyatakan dirinya tidak berwenang.

Mahkamah Agung Republik Indonesia sudah mengakui hal tersebut. Dalam berbagai

 perkara yang telah diputuskan, dapat dilihat bahwa pengadilan di Indonesia menghormati

adanya klausula arbitrase. Sebagai contoh adalah putusan Mahkamah Agung No.

2924K/Sip/1981 tentang Ahyu  Forestry Company Limited   melawan Sutomo, Direktur

Utama PT Balapan Jaya. Dalam tingkat Pengadilan Negeri dan Pengaditan Tinggi, pihak PT

Maju, Bandung, 1997,hlm.11.

108 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, op.cit., hlm. 118.

Page 60: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 60/78

60

Balapan Jaya telah memenangkan perkaranya dan klausula arbitrase tidak dihiraukan. Namun

 pada tingkat terakhir oleh Mahkamah Agung telah dinyatakan sebaliknya, bahwa dengan

adanya klausuia arbitrase, maka pengadilan harus menyatakan diri tidak berwenang untuk

memeriksa lebih lanjut perkara tersebut109.

Demikian halnya dengan kontrak antara WFP dan Yasmina. Pasal 10 kontrak tersebut

mengatur cara penyelesaian sengketa sebagai berikut: 

 Any dispute arising from this Contract which is not settled by amicable discussion

between parties shall be referred, upon agreement by the parties, to a single

arbitrator or, in default of agreement, to two arbitrators to be appointed in

accordance with the arbitration rules of The United nations Commission on

 International Trade Law. If one party fails to appoint an arbitrator for 14 (fourteen)

clear days after the other party, having appointed its arbitrator, has served the party

making default with notice to make appointment, the party who has appointed an

arbitrator may appoint that arbitrator to act as sole arbitrator in reference and

his/her decision shall be binding an both parties as if he/she has been appointed by

consent.

109 Sudargo Gautama, Aneka Hukum Arbitrase (ke arah hukum arbitrase Indonesia yang barn), Citra Aditya Bakti,

Bandung, 1996, hlm. 15-16.

Page 61: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 61/78

61

Berdasarkan ketentuan Pasal 10 tersebut, manakala terjadi sengketa antara WFP dan

Yasmina, pertama-tama akan diselesaikan dengan cara musyawarah. Cara musyawarah ini

dinilai efektif karena sifatnya yang sederhana, informal dan langsung. Dalam hal ini para

 pihak yang bersengketa mengadakan suatu perundingan untuk mencari penyelesaian

sengketa melalui dialog tanpa melibatkan pihak ketiga. Oleh karena itu, cara tersebut selaiu

dijadikan sebagai langkah awal untuk menyelesaikan sengketa.

Segi positif dari musyawarah ini adalah sebagai berikut :110 

1.  Para pihak sendiri yang melakukan perundingan (musyawarah) secara langsung dengan

 pihak lainnya;

2.  Para pihak memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana penyelesaian secara

musyawarah ini dilakukan menurut kesepakatan mereka;

3.  Para pihak mengawasi atau memantau secara langsung prosedur penyelesaiannya;

4.  Musyawarah menghindari perhatian dan tekanan publik;

5.  Dalam musyawarah, para pihak berupaya mencari penyelesaian yang dapat diterima dan

memuaskan para pihak, sehingga tidak ada pihak yang menang dan kalah, tetapi

diupayakan kedua belah pihak menang.

Dalam praktik, penyelesaian sengketa dengan cara musyawarah menemukan kesulitan

manakala para pihak bersikeras dengan pendiriannya, sehingga sengketa yang timbul tidak

dapat terpecahkan,bahkan mungkin semakin meruncing. Selain itu, tertutupnya keikutsertaan

 pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketa, mengakibatkan musyawarah tidak akan berjalan

seimbang karena adanya salah satu pihak yang mempunyai posisi yang lebih lemah.

Untuk mengantisipasi ketemahan yang ada pada penyelesaikan sengketa dengan cara

musyawarah, maka dalam kalimat terakhir Pasal 10 Kontrak antara WPF dan Yasmina

disebutkan pula bahwa sengketa akan diselesaikan meialui arbitrase dengan menggunakan

UNCITRAL Arbitration Rules.

Menurut Sudargo Gautama, karena UNCITRAL tidak mendirikan lembaga arbitrase,

110Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Intemasional, Sinar Grafika, Bandung, 2004, hlm. 27.

Page 62: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 62/78

62

maka para pihak dapat mengadakan suatu arbitrase ad hoc  (arbitrase volunteer), yaitu

arbitrase yang tidak diselengarakan oleh suatu atau melalui suatu lembaga arbitrase tertentu

(institutional arbitration). Arbitrase pertama bersifat insidental dan jangka waktunya

tertentu sampai sengketa itu diputuskan. Dalam hal ini arbitrase ad hoc  tersebut akan

menggunakan UNCITRAL  Arbitration Rules sebagai hukum acara dalam menyelesaikan

sengketa111.

Berkaitan dengan hal di atas, masih terdapat suatu pertanyaan mengenai dimanakah

arbitrase ad hoc tersebut dapat diselenggarakan. Dalam hal ini mengacu pada ketentuan Pasal

16 ayat (1) dan (2) UNCITRAL  Arbitration Rules yang mengatur tentang tempat arbitrase

sebagai berikut:

1.  Kecuali para pihak menentukan lain, panitia arbitrase akan menetapkan tempat arbitrase

dengan memperhatikan segala keadaan sekitar arbitrase ini112.

2.  Panitia arbitrase dapat menetapkan tempat arbitrase di dalam wilayah negara yang sudah

disepakati oleh para pihak. Panitia arbitrase dapat mendengar keterangan saksi dan

mengadakan pertemuan untuk berkonsultasi antara sesama anggota dimanapun yang

dianggap pantas dengan mempertimbangkan segala keadaan sekitar arbitrase ini113.

Berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat (1) dan (2) UNCITRAL Arbitration Rules, maka

 pada prinsipnya arbitrase ad hoc  tersebut dilakukan di tempat yang telah dimufakati para

 pihak. Misalnya saja WFP dan Yasmina sepakat untuk menyelenggarakan arbitrase ad hoc 

tersebut di Indonesia. Namun, apabila WFP dan Yasmina tidak mengadakan pilihan

mengenai tempat penyelenggaraannya, maka panitia arbitrase yang akan menentukan tempat

itu dan dalam hal ini maka akan diperhatikan segala keadaan sekitar arbitrase ini

(circumstances of the arbitration).

111 Sudargo Gautama, op.cit, Arbitrase Dagang Intemasional, Alumni, hlm. 19.

112 Article 16 Paragraph 1 UAR : Unless the parties have agreed upon the place where the arbitration is to be held,

 such place shall be determined by the arbitral tribunal, having regard to the circumstances of the arbitration .

113 Article 16 Paragraph 2 UAR : The arbitral tribunal may determine the locale of the arbitration within the

country agreed upon the parties. It may hear witnesses and hold meetings for consultation among its members at

any place it deems appropriate, having regard to the circumstances of the arbitration.

Page 63: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 63/78

63

Hal-hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan panitia arbitrase tersebut adalah

segala situasi dan kondisi dari persoalan yang ersangkutan, termasuk juga persoalan yang

 praktis bagi para pihak, yaitu kepraktisan dalam hal pengumpulan bukti dan pemeriksaan

saksi-saksi. Dalam hal ini panitia arbitrase akan memperhatikan tempat dimana kontrak

dilaksanakan dan tempat dimana para pihak mempunyai tempat usaha mereka sehari-hari.

Pembuatan sanitasi umum tersebut dilaksanakan di RT 04 dan RT 05-RW 04, Desa Teluk

Pinang, Ciawi, Bogor. Bahkan, Yasmina menjalankan kegiatan usahanya di Bogor,

Indonesia, dan WFP pun mempunyai kantor perwakilan di Jakarta, Indonesia. Oleh karena

itu, lebih wajar untuk memilih tempat arbitrase di Indonesia daripada negara lain mengingat

lebih mudahnya memperoleh pembuktian dan pemeriksaan saksi-saksi di tempat ini.

Dalam hal arbitrase ad hoc tersebut diselenggarakan di suatu tempat yang mempunyai

hukum acara mengenai prosedur arbitrase, dan di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan

yang bersifat memaksa, maka hukum acara dari negara bersangkutan-lah yang akan berlaku

 jika bertentangan dengan UNCITRAL Arbitration Rules. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1

ayat (2) UNCITRAL Arbitration Rules, yang berbunyi sebagai berikut:

 Article 1 paragraph 2 (Scope of Application) These Rules shall govern the arbitration

except that where any of these Rules is in conflict with a provision of the law

applicable to the arbitration from which the parties cannot derogate, that provision

 shall prevail.

Selain itu, WFP dan Yasmina pun dapat memilih salah satu lembaga arbitrase (arbitral

institution) yang ada untuk membantu mereka alam menyelenggarakan arbitrase

 bersangkutan.114  Misalnya saja dengan meminta bantuan pada Badan Arbitrase Nasional

Indonesia (BANI), Dalam hal ini lembaga arbitrase tersebut akan memakai UNCITRAL 

 Arbitration Rules  dan tidak memakai kaidah-kaidahnya sendiri. Dengan demikian maka

arbitrase yang dilakukan itu akan merupakan suatu ad hoc  arbitration yang diatur oleh

lembaga-lembaga arbitrase yang sudah ada (administered ad hoc arbitration).115 

Menurut R. Subekti, pada waktu menyusun prosedur arbitrase BANI telah dipakai

114 Sudargo Gautama, Arbitrase Dagang Intemasional, op cit. hlm. 109.

115 Ibid .

Page 64: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 64/78

64

 pula berbagai bagian dari pada UNCITRAL  Arbitration Rules.116  Dengan kata lain,

ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam BANI telah mengadopsi UNCITRAL Arbitration

 Rules. Oleh karena itu, tidak akan terjadi pertentangan antara prosedur yang diatur dalam

BANI dan UNCITRAL Arbitration Rules.

Dipilihnya penyelesaian sengketa melalui badan arbitrase yang akan menggunakan

UNCITRAL  Arbitration Rules, didasarkan pada pertimbangan bahwa pilihan forum atau

lembaga tersebut lebih menguntungkan kedua belah pihak, antara lain berkenaan dengan sifat

arbitrase yang privat dan tertutup.117 

Menurut penulis, sifat rahasia arbitrase dapat melindungi WFP dan Yasmina akibat

 penyingkapan informasi kepada umum. Dengan demikian, baik WFP maupun Yasmina akan

terlindung dari publisitas yang merugikan dan akibat-akibat lainnya, seperti kehilangan

reputasi dan pemicu bagi tuntutan-tuntutan lain, yang dalam proses ajudikasi publik dapat

mengakibatkan pemeriksaan sengketa secara terbuka.

Selain itu, menurut penulis dipilihnya forum arbitrase karena WFP dan Yasmina

memiliki kepercayaan yang lebih besar pada keahlian arbiter mengenai permasalahan yang

dipersengketakan dibandingkan dengan menyerahkannya kepada pengadilan. Dalam hal ini,

WFP dan Yasmina dapat mengangkat atau menunjuk arbiter atau suatu panel arbitrase yang

memiliki keahlian terhadap pokok permasalahan yang dipersengketan.

Pertimbangan lainnya menurut penulis adalah karena WFP masih di bawah naungan

PBB maka hukum acara arbitrase yang dipakai adalah aturan arbitrase yang diakui oleh

lembaga tersebut, yang dalam hal ini adalah UNCITRAL Arbitration Rules.

116  Ibid. 

117 Sengketa-sengketa yang diadili melalui jalan arbitrase tidak demikian umum sifatnya seperti perkara-perkara di

muka pengadilan yang dapat diketahui semua orang. Di pengadilan, perkara-perkara perdata dapat diikuti oleh

orang-orang luar karena proses pemeriksaan perkara di pengadilan berasaskan terbuka untuk umum, dan keputusan-

keputusan yang diucapkan dilakukan dalam sidang terbuka dengan kemungkinan adanya reportase di dalam harian-

harian serta publikasi-publikasi mass media. Di dalam pemeriksaan persengketaan dalam forum arbitrase tidak

demikian. Dalam hal ini suasana dan keadaan para pihak hanya diketahui panitia arbitrase. Selain itu, pertimbangan-

 pertimbangan para arbiter sifatnya confidential (rahasia) dan lazim tidak diumumkan secara lengkap dalam surat-

surat kabar atau pers seperti halnya dengan keputusan-keputusan pengadilan. Lihat Sudargo Gautama, op.cit .

Arbitrase Dagang Intemasional, hlm.2.

Page 65: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 65/78

65

D.  Hukum yang Berlaku untuk Mengatur dan Menyelesaikan Perselisihan yang Mungkin

Timbul dalam Kontrak antara WFP dan Yasmina Ditentukan oleh Forum Arbitrase

Seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya, WFP dan Yasmina telah

mengadakan suatu pilihan forum kepada arbitrase sebagai forum yang berwenang untuk

mengadili sengketa yang mungkin timbul diantara mereka. Sedangkan hukum acara yang

digunakan adalah UNCITRAL  Arbitration Rules. Lantas hukum materil mana yang akan

digunakan dalam penyelesaian sengketa tersebut? ketentuan Pasal 33 ayat (1) UNCITRAL 

 Arbitration Rules menyatakan bahwa: 

“The arbitral tribunal shall apply the law designated by the parties as applicable to

the substance of the dispute. Failing such designation by the parties, the arbitral

tribunal shall apply the law determined by the conflict of laws rules which it

considers applicable”.

Jadi tentang hukum yang dipergunakan oleh panitia arbitrase adalah hukum yang

dikehendaki oleh para pihak sendiri. Dan dalam hal pilihan hukum tersebut tidak ada, maka

 panitia arbitrase akan menggunakan hukum yang ditentukan oleh kaidah-kaidah HPI yang

dianggap harus diperlakukan.

Dari ketentuan Pasal 33 ayat (1) tersebut, dapat dikatakan bahwa pertama-tama

 panitia arbitrase akan memberlakukan hukum yang telah dipilih sendiri oleh para pihak -

(pilihan hukum). Dalam hal ini para pihak mempunyai otonomi atau kebebasan untuk

menentukan sendiri hukum mana yang berlaku untuk arbitrase mereka itu.

Menurut Sudargo Gautama, biasanya pilihan hukum yang dilakukan oleh para pihak

tersebut dicantumkan dalam kontrak yang bersangkutan. Misalnya saja terdapat klausula

yang mencantumkan bahwa : "Hukum yang berlaku untuk perjanjian ini adalah hukum

Indonesia". Jika hal ini terjadi, maka manakala timbul sengketa, para arbiter akan

menggunakan hukum Indonesia dan tidak dapat memakai hukum lain selain hukum

Indonesia yang telah dipilih oleh para pihak.118 

118Sudargo Gautama, Perkembangan Arbitrase Dagang Internasional di Indonesia, Eresco, Bandung, 1989,

hlm. 41.

Page 66: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 66/78

66

Jadi, dalam pilihan hukum yang dinyatakan secara tegas, pilihan hukum dinyatakan

dengan kata-kata yang menyatakan pilihan hukum tertentu dalam kontrak tersebut Bilamana

hakim mengadili perkara kontrak-kontrak internasional, maka dalam menentukan hukum

mana yang harus berlaku dalam kontrak tersebut, hakim akan menggunakan pilihan hukum

sebagai titik taut penentunya.

Selanjutnya dalam kalimat terakhir Pasal 33 ayat (1) disebutkan bahwa apabila tidak

ada pilihan hukum oleh para pihak, maka panitia arbitrase akan menggunakan hukum yang

telah ditentukan oleh kaidah-kaidah HPI yang dianggap berlaku oleh para arbiter ini. Dengan

demikian HPI memegang peranan yang penting di dalam menentukan hukum yang harus

 berlaku dalam sengketa yang telah diajukan di hadapan badan arbitrase bersangkutan.

Berkaitan dengan kontrak antara WFP dan Yasmina, para pihak tersebut tidak

mencantumkan pilihan hukum dalam salah satu klausula ontraknya, maka panitia arbitrase

akan memperhatikan katdah-kaidah HPI dalam menentukan hukum yang harus berlaku itu.

Hal pertama yang harus diperhatikan oleh panitia arbitrase adalah titik taut penentu

atau TPS yang terdapat pada hubungan hukum antara WFP dan Yasmina.

Menurut Sudargo Gautama, TPS adalah faktor-faktor atau sekumpulan fakta yang

menentukan hukum mana yang harus digunakan atau berlaku dalam suatu hubungan HPI.119 

TPS seringkali disebut titik taut penentu, karena fungsinya akan menentukan hukum dari

tempat manakah yang akan digunakan sebagai the applicable law dalam penyelesaian suatu

 perkara.120 

Selanjutnya, TPS yang terdapat dalam hubungan hukum antara WFP dan Yasmina

tersebut menurut teori-teori HPI dapat digunakan untuk menentukan hukum yang berlaku,

yaitu teori lex loci contractus, lex loci solutionis, the proper law of the contract dan the most

characteristic connection.

1.  Teori Lex Loci Contractus 

Berdasarkan teori lex loci contractus, hukum yang berlaku bagi suatu kontrak

119Sudargo Gautama, op.cit, Pengantar..., hlm. 34.

120Bayu Seto, op.cit., hlm. 43.

Page 67: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 67/78

67

internasional adalah hukum di tempat perjanjian atau kontrak itu dibuat, diciptakan,

dilahirkan.121  Jadi, menurut teori ini, hukum yang berlaku bagi suatu kontrak

internasional adalah hukum di tempat perjanjian atau kontrak itu ditandatangani oleh para

 pihak, karena pada saat itulah terbentuk kesepakatan, sehingga kontrak tersebut mengikat

kedua belah pihak. Dengan demikian, jika dianut teori lex loci contractus, maka hukum

yang berlaku apabila terjadi sengketa antara WFP dan Yasmina adalah hukum Indonesia,

karena kontrak ini ditandatangani oleh para pihak pada tanggal 18 Januari 2005 di

Indonesia.

2.  Teori Lex Loci Solutionis

Sebagai variasi terhadap teori lex loci contractus dikemukakan pula adanya teori

lex loci solutionis. Menurut teori ini, maka sangatlah penting  place of performance dari

suatu kontrak.122  Jadi, menurut teori ini hukum yang berlaku bagi suatu kontrak adalah

tempat di mana kontrak tersebut dilaksanakan. Dengan kata lain, tempat dimana para

 pihak melakukan prestasinya masing-masing.

Dilihat dari prestasi Yasmina yang harus membangun sanitasi umum di RT 04 dan

RT 05-RW 04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor, Indonesia, maka jika dianut teori lex

loci solutionis, hukum Indonesia-lah yang berlaku.

Apabila dilihat dari prestasi WFP yang harus memberikan bantuan dana bagi

 pembangunan sanitasi umum, maka hukum Indonesia pula yang dianggap berlaku,

karena WFP memberikan bantuan dana melalui transfer antar bank yang dilakukan di

Indonesia, yaitu dari Citibank (Jakarta) ke Bank Syariah Mandiri (cabang Bogor).

Jika dilihat dari prestasi masing-masing pihak menunjukkan bahwa hukum

Indonesia-lah yang berlaku, akan tetapi penerapan teori lex loci solutionis ini tidak dapat

disangkal membawa kesulitan. Hal ini dikarenakan harus dapat ditentukan terlebih

dahulu tempat dilaksanakannya prestasi dari masing-masing pihak. Dengan kata lain, jika

akan menerapkan teori ini, maka prestasi masing-masing pihak harus dipecah-pecah

121 Sudargo Gautama, op.cit, ...Buku ke-8, hlm. 12.

122Sudargo Gautama, op.cit. ...Buku ke-8, nlm. 16.

Page 68: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 68/78

68

sedemikian rupa sehingga tunduk pada berbagai sistem hukum yang berbeda. Seandainya

saja, tempat dilaksanakannya prestasi pihak Yasmina dan WFP jatuh di negara yang

 berbeda, maka apakah hukum dari tiap negara, dimana prestasi masing-masing pihak

dilaksanakan harus semua dipakai. Jika memang hukum dari tiap negara tersebut harus

dipakai, tentu saja akan menyulitkan pengadilan untuk menyelesaikan perkara. Dengan

demikian, teori lex loci solutionis ini kurang memberikan jalan keluar yang memuaskan,

terutama bila diterapkan pada kontrak-kontrak yang masing-masing pihaknya harus

melaksanakan prestasi di berbagai negara yang berbeda.

3.  Teori The Proper Law

Menurut Morris, the proper law  suatu kontrak adalah sistem hukum yang

dikehendaki oleh para pihak, atau jika kehendak itu tidak dinyatakan dengan tegas atau

tidak dapat diketahui dari keadaan sekitarnya, maka proper law bagi kontrak tersebut

adalah sistem hukum yang mempunyai kaitan yang paling erat dan nyata dengan

transaksi yang terjadi.123 Hal yang serupa dikatakan oleh Lord Atkin bahwa:124 

"The legal principles which are to guide an English Court on the question of the proper

law are now well settled. It is the law which the parties intended to apply. Their intention

will be ascertained by the intention expressed in the contract if any, which will be

conclusive. If no intention be expressed, the intention will be presumed by the court from

the terms of the contract and the relevant surrounding circumstances".

Berdasarkan perumusan yang dikemukakan oleh Lord Atkin tersebut, maka

 proper law dalam kontrak adalah hukum yang dikehendaki oleh para pihak (intention of

the parties). Kehendak tersebut dapat terlihat jika dinyatakan dengan tegas dalam

kontrak, jika kehendak tersebut tidak dinyatakan dengan tegas, maka kehendak tersebut

akan diduga oleh pengadilan dari ketentuan-ketentuan dalam kontrak dan suasana paling

 berkaitan yang melingkupi kontrak.

Cara yang harus ditempuh adalah dengan mendasarkannya pada the grouping of

the various elements of the contract as they reflected in its formation and its terms . Jadi,

diperhatikan seluruh bentuk dan isi serta keadaan-keadaan sekitar pembentukan kontrak

123 Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, Jawahir Thontowi, op.cit, hlm. 116.

124Sudargo Gautama, op.cit., ...Buku ke-8, hlm. 21.

Page 69: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 69/78

69

 bersangkutan, sehingga akan dapat ditentukan unsur-unsur manakah yang terpenting ( pre

dominant ).125 

Menurut Sudargo Gautama, dalam hal ini suatu kontrak akan dilokalisir. Suatu

kontrak karena sifatnya yang abstrak memang akan sukar untuk dilokalisir, akan tetapi

kontrak ini akan menyentuh dan mempunyai hubungan dengan berbagai negara dan

sudah pasti salah satu negara bersangkutan akan disentuhnya lebih erat dari pada yang

lain, dan inilah yang merupakan negara yang hukumnya harus dipergunakan. 126 

Jika dikaitkan dengan kontrak antara WFP dan Yasmina, maka dalam hal ini akan

dianalisis sifat-sifat para pihak yang membuat kontrak, segala incidents pada waktu

 pembentukannya, pada istilah-istilah yang dipergunakan, dan pada tujuan yang hendak

dicapai. Dengan demikian ditemukan suatu factual weight dan disinilah terletak centre of

gravity dari kontrak yang bersangkutan127, yang penerapannya sebagai berikut: -

a.  Bahwa Yasmina merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum

Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Dengan demikian status hukum Yasmina

adalah badan hukum Indonesia.

 b.  WFP merupakan salah satu badan PBB yang bergerak dalam bidang pemberian

 bantuan pangan yang bermarkas besar di Roma, ttalia dan memiliki beberapa kantor

 perwakilan, yang salah satunya di Jakarta, Indonesia.

c.   bahwa kontrak kerja sama ini terjadi karena korespondensi yang sebagian dilakukan

di Jakarta, Indonesia, tetapi dilangsungkan dalam bahasa Inggris dan bahasa

Indonesia;

d.   bahwa prestasi pihak Yasmina adalah membuat sanitasi umum di RT 04 dan RT 05-

RW 04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor, Indonesia, maka pelaksanaan dari prestasi

ini telah berlangsung di Bogor, Indonesia. Selain itu, pihak Yasmina juga harusmengumpulkan dana sebesar Rp 30,150,000.- yang dilakukan di Indonesia, untuk

125 Ibid, hlm.23.

126 Ibid. 

127 Bandingkan dengan Ibid, hlm 23-24.

Page 70: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 70/78

70

kelangsungan proyek pembangunan sanitasi umum yang didapat dari bantuan

masyarakat dan NGO lainnya yang berada di Indonesia.

e.  Bahwa prestasi pihak WFP adalah memberikan bantuan dana untuk pembangunan

sanitasi umum tersebut, melalui transfer antarbank yang dilakukan di Indonesia, dari

Citibank (Jakarta) ke Bank Syariah Mandiri (cabang Bogor).

Dari uraian di atas, jika dianut teori the proper law of the contract  maka hukum

Indonesia-lah yang dianggap berlaku karena semua faktor-faktor di atas menunjukkan

kepada pemakaian dari hukum Indonesia.

Berkaitan dengan itu, maka hukum yang berlaku bagi sebuah kontrak yang tidak

ada pilihan hukumnya menurut the profer law of the contract   adalah hukum dari suatu

negara di mana suatu kontrak mempunyai hubungan yang paling erat dan nyata dengankontrak tersebut.

4.  Teori The Most Characteristic Connection

Menurut Rabbel apabila para pihak dalam suatu kontrak internasional tidak

menentukan sendiri pilihan hukumnya, maka akan berlaku hukum dari negara di mana

kontrak yang bersangkutan memperlihatkan the most characteristic connection.128 

Dalam teori ini, kewajiban. untuk melakukan suatu prestasi yang paling

karakteristik merupakan tolak ukur penentuan hukum yang akan mengatur kontrak itu.

Dalam setiap kontrak dapat dilihat pihak mana yang melakukan prestasi yang paling

karakteristik dan hukum dari pihak yang melakukan prestasi yang paling karakteristik

inilah yang dinggap sebagai hukum yang harus dipergunakan. Misalnya dalam perjanjian

 jual beli, penjual dianggap melakukan prestasi yang paling karakteristik, atau dalam

 perjanjian kredit Bank, pihak Bank-lah yang dianggap mempunyai prestasi yang paling

karakteristik.129

 

Jika dianut teori the most characteristic connection,  maka harus diperhatikan

kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh Yasmina dalam Pasal 6 Kontrak antara WFP

128  Ibid, hlrn.32.

129Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, Jawahir Thontowi, op.cit , hlm.118.

Page 71: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 71/78

71

dan Yasmina dan kewajiban-kewajiban WFP yang diatur dalam Pasal 7 Kontrak antara

WFP dan Yasmina.

Ketentuan Pasal 6 Kontrak antara WFP dan Yasmina mengatur mengenai

kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan Yasmina sebagai partner WFP dalam

 pelaksanaan proyek pembuatan sanitasi umum. Dalam hal ini, Yasmina yang

diamanatkan untuk mengemban pelaksanaan proyek harus bertanggung jawab atas

 bantuan dana yang diberikan WFP, dengan menggunakan dana tersebut untuk pembuatan

sanitasi umum sesuai dengan apa yang tercantum dalam kontrak.

Untuk menjaga agar dana tersebut dikelola dengan layak dan jauh dari

kemungkinan salah penggunaan, maka Yasmina mempunyai kewajiban untuk

memberikan laporan mengenai penggunaan anggaran secara terperinci dalam waktu dua

minggu setelah proposal proyek disetujui (Pasal 6 ayat (2)); memberikan laporan

keuangan setiap bulan, sebelum diturunkan angsuran baru dan tiga bulan setelah proyek

selesai (Pasal 6 ayat (8)); memberikan laporan narasi, untuk mengetahui kemajuan

 pelaksanaan proyek dari saat dimulainya hingga selesai, yang diserahkan sebelum

diturunkan angsuran baru dan tiga bulan setelah proyek terselesaikan (Pasal 6 ayat (8)};

melengkapi semua dokumen keuangan dalam setiap transaksi keuangan (Pasal 6 ayat (9);

dan menyimpan data masuk dan keluarnya dana berkenaan dengan pelaksanaan proyek

(Pasal 6 ayat (12));

. Selain itu, menurut ketentuan Pasal 6 ayat (13), Yasmina harus menggunakan

sumber daya program dan keuangan secara optimal. Oleh karena itu, dana yang tidak

digunakan harus dikirimkan kepada rekening trust OPSM dalam waktu 30 hari setelah

 berakhirnya proyek (Pasal 6 ayat (14)).

Selanjutnya, sebagai bentuk pengawasan dalam pelaksanaan proyek, Yasmina

harus memantau kemajuan proyek secara berkata (Pasal 6 ayat (7)). Yasmina pun

diharuskan membentuk Komite CDP, yang berasal dari perwakilan masyarakat dan pihak

Yasmina, yang terdiri dari 50% wanita (Pasal 6 ayat (3)). Komite CDP tersebut akan

memberikan bantuan konsultasi kepada Yasmina untuk mengetahui kemajuan dalam

 pelaksanaan proyek dan penanganan masalah-masalah yang ditemukan di lapangan

(Pasal 6 ayat (4)). Bahkan, Yasmina pun diwajibkan untuk memberikan kewenangan

Page 72: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 72/78

72

kepada WFP dan GOI untuk ikut dalam memberikan pengawasan pelaksanaan proyek

(Pasal 6 ayat (10)). Pihak WFP dan GOI akan membantu dalam memberikan petunjuk

teknis untuk semua permasalahan proyek, konsultasi dan hal-hal lain yang dibutuhkan

(Pasal 6 ayat (11).

Berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (5), bahwa Yasmina harus memastikan

kepemilikan dari fasilitas sanitasi umum adalah milik masyarakat di RT04 dan RT05-

RW04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor. Fasilitas tersebut harus dirawat dan dipelihara

oleh masyarakat bersangkutan dengan sebagian besar dilakukan oleh wanita (Pasat 6 ayat

(6)).

Menurut ketentuan Pasal 6 ayat (18), anggota Yasmina yang terlibat dalam

 pelaksanaan proyek bukan merupakan bagian dari staf atau pekerja PBB. Oleh karena itu,

WFP tidak bertanggung jawab apabila terjadi hal-hal yang menimpa anggota Yasmina

 baik yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan pelaksanaan proyek. Dengan

demikian, Yasmina harus bertanggung jawab penuh terhadap semua tindakan dan

kelalalaian dari para anggotanya.

Selatn itu, bentuk pertanggungjawaban Yasmina lainnya adalah memberikan

 pertanggungjawaban' teknis untuk semua kegiatan dalam CDP. Dalam hal ini

 pelaksanaan proyek harus mengikuti semua kegiatan yang secara detail tertulis dalam

 proposal dan sesuai dengan prosedur standar dan teknis umum (Pasal 6 ayat (18)).

Selanjutnya, Yasmina pun harus menerapkan manajemen terbuka dalam seluruh

 pelaksanaan proyek, yang berkenaan dengan koordinasi, logistik, program kerja, proses

teknis, laporan, penyediaan barang, dan kapasitas teknis para pekerja Yasmina (Pasal 6

ayat (19)). Bahkan, Yasmina pun juga harus mengusahakan daha sebesar Rp

Rp.30,150,000.- dari total anggaran belanja untuk membiayai proyek tersebut (Pasal 15).

Jika dibandingkan dengan kewajiban WFP dalam Pasal 7 Kontrak antara WFP

dan Yasmina, pihak WFP hanya sebatas menunjuk staf WFP untuk memberikan saran

teknis dan pelatihan, menginformasikan pada GOI mengenai kemajuan proyek dan

memberikan dana sebesar Rp.149,296,000.- untuk pembanguan -sanitasi umum tersebut.

Bahkan ketersediaan dana tersebut diperoleh dari hasil penjualan beras dengan harga

murah sebesar Rp 1000/kg (netto) yang dilakukan WFP dengan perantara Yasmina.

Page 73: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 73/78

73

Dalam hal ini, hasil penjualan beras tersebut kemudian ditransfer pihak Yasmina ke

rekening trust fund  OPSM sebesar Rp 760/kg, yang selanjutnya oleh WFP dialokasikan

untuk pembangunan sanitasi umum tersebut.

Berdasarkan kewajiban-kewajiban yang harus ditaksanakan oleh WFP dan

Yasmina datam pasal-pasal dalam Kontrak antara WFP dan Yasmina diatas, dapat dilihat

 bahwa kewajiban Yasmina merupakan kewajiban yang paling karakteristik. Dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan karakteristik adalah mempunyai

sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu130, sedangkan dalam buku HPI Indonesia

(Jilid III Bagian 2 Buku ke-8), Sudargo Gautama mengemukakan bahwa karakteristik

dapat berarti typis atau funktional 131. Dalam hal ini dilihat dari segi fungsi kontrak yang

 bersangkutan, dan dengan sistem hukum manakah kontrak ini dilihat secara fungsional,

sehingga tidak hanya melihat kepada faktor tempat dilakukannya prestasi saja. Selain itu,

karakteristik juga dapat berarti prestasi yang paling berat132, yang berarti prestasi pihak

manakah yang dianggap paling berat. Bahkan, prestasi yang karakteristik dapat berarti

 prestasi spesifik 133, yaitu prestasi yang bersifat khusus atau khas, jadi adanya hubungan

yang khusus atau khas antara prestasi yang dilakukan dengan tempat prestasi dilakukan.

Selanjutnya, karakteristik pun juga dapat berarti prestasi yang paling kuat 134  untuk

menguasai kontrak bersangkutan.

Berkaitan dengan hal di atas, prestasi pihak Yasmina merupakan prestasi yangtypis, funksional, berat, spesifik dan kuat untuk mewujudkan pembangunan sanitasi

umum di RT04 dan RT 05-RW 04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor, Indonesia. Hal

tersebut dapat dilihat dari kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh pihak Yasmina,

mulai dari menjadi perantara WFP dalam melakukan penjualan beras dengan harga

murah sebesar Rp 1000/kg, mengusahakan tambahan dana sebesar Rp. 30,150,000.-

untuk kelangsungan proyek, sampai melakukan pembangunan sanitasi umum tersebut.

Selain itu, pihak Yasmina pun juga harus melakukan kewajiban-kewajiban lainnya

seperti memberikan laporan-laporan, melakukan konsultasi, memastikan pemeliharaan

130Kamus Besar Bahasa Indonesia, loc.cit. 

131 Sudargo Gautama, op.cit., ...Buku ke-8, hlm. 35.

132 Ibid, hlm 35 dan 41.

133 Ibid, hlm. 42.

134  Ibid  

Page 74: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 74/78

74

fasilitas sanitasi umum, memantau kemajuan pembangunan sanitasi umum secara

 berkala, bertanggung jawab penuh terhadap tindakan dan kelalalaian dari para

anggotanya dalam pembangunan sanitasi tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, maka hukum yang berlaku bagi kontrak berdasarkan

teori the most characteristic connection  adalah hukum Indonesia karena prestasi yang

 paling karakteristik dalam arti yang paling typis, funksional , berat, spesifik dan kuat ada

 pada pihak Yasmina sebagai pihak yang menentukan keberhasilan pembangunan sanitasi

umum di RT04 dan RT 05-RW 04, Desa Teluk Pinang, Ciawi, Bogor, Indonesia.

Di antara berbagai teori-teori HPI untuk mencari hukum manakah yang berlaku

dalam suatu kontrak apabila tidak terdapat pilihan hukum, maka penulis cenderung

memiiih dipergunakannya teori The Most Characteristic Connection. 

Hai ini dikarenakan dengan menerimanya, maka tidak lagi dipersoalkan mengenai

di mana para pihak (subjek) yang bersangkutan ini kebetulan bertempat tinggal atau

apakah yang merupakan kewarganegaraan mereka. Di sini juga tidak perlu lagi dtadakan

kualifikasi yang cukup rumit seperti halnya dalam teori lex loci contractus dan teori lex

loci solutionis. Bahkan tidak lagi perlu mengandalkan akumulasi titik-titik taut untuk

melokalisir suatu kontrak pada suatu tempat tertentu.135 Dalam hal ini yang dipentingkan

adalah kualitas dari prestasi para pihak, dan bukan dilihat dari kuantitasnya.

135Bandingkan Sudargo Gautama, op.cit., ...Buku ke-8, hlm. 33-34.

Page 75: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 75/78

75

BABV

KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan

1.  Forum yang berwenang menyelesaikan perselisihan yang mungkin timbul dalam

Kontrak antara WFP dan Yasmina adalah forum arbitrase, baik ad hoc  arbitration

maupun arbitral institution, yang akan menggunakan UNCITRAL  Arbitration Rules 

dalam fungsinya menyelesaikan sengketa.

2.  Hukum yang berlaku untuk mengatur dan menyelesaikan perselisihan yang mungkin

timbul antara WFP dan Yasmina adalah hukum Indonesia. Berdasarkan UNCITRAL  

 Arbitration Rules  (hukum acara yang telah dipilih para pihak), dalam hal para pihak

tidak mengadakan pilihan hukum, maka penentuan pilihan hukum yang ditentukan oleh

kaidah-kaidah HPI yang dianggap harus diberlakukan. Dari analisis Teori-teori HPI

tersebut, yaitu teori lex loci contractus, teori lex loci solutionis, teori the proper law of

the contract , dan teori the most characteristic connection,  penulis cenderung memilih

dipergunakanya teori the most characen'stic connection  dikarenakan kelebihan-

kelebihan yang dimilikinya.

B.  Saran

1.  Dalam Kontrak antara -WFP dan Yasmina, terdapat klausula arbitrase. Klausula

arbitrase tersebut menunjukkan bahwa para pihak telah mengadakan pilihan forum

terhadap arbitrase sebagai yang berwenang dalam menyelesaikan perselisihan yang

mungkin timbul diantara para pihak. Klausula arbitrase tersebut seharusnya

dilengkapi dengan menambahkan ketentuan sebagai berikut:

a.  Mengadakan pilihan hukum mana yang berlaku atau digunakan yang dinyatakan

secara tegas;

Page 76: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 76/78

76

 b.  Mengadakan pilihan tempat arbitrase akan dilakukan;

c.  Bahasa yang dipergunakan dalam arbitrase yang bersangkutan.

Dengan adanya tambahan-tambahan dalam klausula arbitrase tersebut, maka akan

diperoleh lebih banyak kepastian mengenai berbagai hal, yang seringkali dalam praktik

dilupakan dan menghambat jalannya prosedur arbitrase secara lancar.

2.  Diperlukan untuk sesegera mungkin dibuat Undang-Undang HPI Indonesia. Dalam

Undang-Undang tersebut harus ditegaskan bahwa untuk penentuan hukum dalam

kontrak yang tidak ada pilihan hukumnya adalah mengacu pada teori The Most

Characteristic Connection.

Page 77: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 77/78

77

DAFTAR PUSTAKA

BUKU :

Bayu Seto, Dasar-Dasar HPI, Citra Adttya Bakti, Bandung, 2002. Gunawan Widjaja dan Ahmad

Yani, Hukum Arbitrase, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2001.

Huala Adolf, Hukum Penyeiesaian Sengketa internasional, Sinar Grafika, Bandung, 2004. Ida

Bagus Wyasa Putra, Aspek-Aspek HPI dalam Transaksi Bisnis Internasional, Refika Aditama,

Bandung, 1997.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pengertian Dasar tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa.

R. Tresna, KomentarHIR, Pradnya Paramita, Jakarta, 2000. Retnowulan Sutantio dan Iskandar

Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Mandar Maju, Bandung,

1997.

Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno, dan Jawahir Thontowi, Pengantar HPI Indonesia, Gama

Media, Yogyakarta, 1999. Salim, H.S., Hukum Kontrak (Teori dan Teknik Penyusunan

Kontrak), Sinar Grafika, Jakarta, 2005.

Sudargo Gautama, Pengantar HPI Indonesia, Binacipta, Bandung, 1987.

 _________, Hukum Perdata Internasional Indonesia, Jilid III Bagian II (Buku 8), Alumni,

Bandung, 2002.

 _________, Arbitrase Dagang Internasional, Alumni, Bandung, 1986.

 _________, Aneka Hukum Arbitrase (ke arah hukum arbitrase Indonesia yang baru), Citra

Aditya Bakti, Bandung, 1996.

 _________, Perkembangan Arbitrase Dagang Internasional di Indonesia, Eresco, Bandung.

Sunaryati Hartono, Pokok-Pokok HPI, Putra A. Bardin, Bandung, 2001.

Page 78: Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

7/26/2019 Choice of Forum and Choice of Law Dalam (1)

http://slidepdf.com/reader/full/choice-of-forum-and-choice-of-law-dalam-1 78/78

PERUNDANG-UNDANGAN :

Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

SUMBER-SUMBER LAIN :

Kamus :

Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai

Pustaka, Jakarta, 1990.

INTERNET:

History the World Food Programme: The First 41 Years, tersedia di

WWW:http://www.wfp.org/aboutwfp/introduction/index.asp?section= 1&subsection-1.

WFP's Partner: United Front Against Global Hunger, tersedia di WWW:

http://www.wfp.org/aboutwfp/introduction/index.asp?section=1 &sub section^ 1.