bab v konsep perancangan 5 - ?· deretan toko pasar grosir sayur (sebelumnya lokasi pasar...

Download BAB V KONSEP PERANCANGAN 5 - ?· Deretan toko Pasar grosir sayur (sebelumnya lokasi pasar Karangploso…

Post on 08-Mar-2019

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB V

KONSEP PERANCANGAN

5.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan

Berangkat berdasarkan berbagai tuntutan dengan segala permasalahannya.

Perancang mencoba untuk dapat menjawab dan mentransformasikannya melalui

desain arsitektural. Pada perancangan objek studi Perancangan Kembali Pasar

Karangploso Kabupaten Malang, dengan tema arsitektur berkelanjutan

(sustainable architecture) akan mengambil konsep dasar yang digunakan sebagai

landasan, yaitu pasar sebagai ruang interaksi dan komunikasi (khususnya pada

produsen dan konsumen). Mengutip pernyataan Gilarso, Pasar merupakan suatu

mata rantai yang menghubungkan antara produsen dan konsumen, ajang

pertemuan antara penjual dan pembeli, antara dunia usaha dengan masyarakat

konsumen, dimana pada hari tertentu para penjual dan pembeli dapat bertemu

untuk jual beli barang. Para penjual menawarkan barang dengan harapan dapat

laku terjual dan memperoleh sekedar uang sebagai gantinya. Para konsumen

(pembeli) datang ke pasar untuk berbelanja dengan membawa uang untuk

membayar harganya. Sehingga terjadi suatu interaksi dan komunikasi dalam

ruang lingkup pada pasar, antara produsen dan konsumen terjadi suatu

kesepakatan dalam menawarkan barang dan harga yang ditawar .

Dapat ditarik beberapa pemikiran, bahwa seseorang yang berada pada

wilayah tersebut (pasar) akan menjadi nobody, merasakan privilege, memperoleh

amusement, merasa free dan interest. Selain terjalin suatu hubungan society dan

interaction (sebagai ruang informasi) sehingga diantara keduanya (society dan

interaction) menjadikannya sebagai community. Dengan memandang konsep

pasar sebagai ruang interaksi dan komunikasi, maka dapat diperoleh beberapa

pernyataan, bahwa keberadaan manusia sebagai makhluk monodualistik (pribadi

individu dan sosial), perilaku sebagai batasan (controler) pembentukan ruang,

pada dasarnya manusia memiliki kesamaan sebagai orang biasa (ordinary people).

Berdasarkan pemikiran tersebut dapat diperoleh simpulan, bahwa segala

yang terjadi di dalam pasar pada dasarnya kembali pada human being dari para

pelaku (lokalitas) itu sendiri. Berangkat dari berbagai pernyataan tersebut,

diperoleh konsep human touch yang diambil dari orientasi pada Pasar Modern

Bumi Serpong Damai, Tangerang, yaitu menjaga aspek komunikasi antara

pembeli dan pedagang, serta sebagai wadah berbagai interaksi antar pelaku

dengan commodity sebagai perantara dengan memasukkan tema keberlanjutan

pada konsep sebagai upaya pencapaian hubungan antara alam dengan manusia

demi kelansungan hidup manusia mendatang. Sehingga, diperoleh gambaran dasar

ruang pasar: open, interaction, dan sustainable.

InteractionInteractionInteractionInteraction communitycommunitycommunitycommunity

Gambar 5.1 Konsep interaction space Sumber: Hasil Analisis.2009

Akhirnya, dari beberapa simpulan diperoleh konsep dasar sustainable

(konsep islam) perancangan yang akan terwujud ke dalam desain objek studi

Perancangan Kembali Pasar Karangploso Kabupaten Malang, yaitu:

1. Social Culture, diperoleh berdasarkan penjabaran dari makna ruang pasar

sebagai ruang interaksi dan komunikasi, serta segala aktivitas yang ada di

dalamnya. Terwujud melalui ruang-ruang interaksi dan komunikasi.

2. Economize, berangkat dari tema rancangan bangunan pasar tersebut, yaitu

sustainable. Terwujud melalui bahan bangunan dan sirkulasi akses pada area

pasar, baik pada ruang lingkup pasar itu sendiri maupun pada luar ruang

lingkup pasar.

3. Environment (Nilai Islam), diperoleh berdasarkan penjabaran analisis pasar

terhadap dampak kesehatan lingkungan dengan cara menjaga kebersihan

(sebagai dasarnya mengambil dari hadits Nabi). Terwujud melalui citra pasar

sehat dan nyaman.

5.2 Konsep Tapak

5.2.1 Aksesbilitas dan Sirkulasi

Konsep aksesbilitas dan sirkulasi lebih dipengaruhi oleh kondisi tapak

perancangan yang terletak diantara 3 jalur kota (Jl. Diponegoro, jl. Kartanegara

dan Jl. Panglima Sudirman). Dengan beberapa pertimbangan dan pemilihan yang

tepat dari analisis sebelumnya (BAB IV), maka dipilih konsep aksesbilitas dan

sirkulasi alternatif kedua untuk menuju tapak bangunan karena lebih mudah dan

efisien. Konsep aksesbilitas dan sirkulasi dapat dibedakan menjadi empat bagian,

yaitu:

1. Main entrance untuk kendaraan pengunjung dan pengelola lewat dari arah dua

jalan atau jalur (Jl. Diponegoro dan Jl. Panglima Sudiraman) pintu keluar

melalui Jl. Panglima Sudirman (pintu gerbang Pasar Karangploso sebelah

utara) dan melalui Jl. Diponegoro sebelah barat pintu utama main entrance.

Karena pada Jl. Diponegoro ramai dilalui kendaraan dan untuk menghindari

kemacetan di jalur ramai kendaraan, maka dari arah Jl. Diponegoro dijadikan

main entrance utama dan main entrance yang kedua dari arah Jl. Panglima

Sudirman yaitu pada gerbang sebelah selatan Pasar Karangploso.

2. Untuk kendaraan yang mengangkut barang dagangan dalam skala besar atau

kecil (truk atau pick up), main entrance lewat Jl. Diponegoro, ada disebelah

barat main entrance utama (jalur masuk kendaraan pengelola dan pengunjung)

dengan pintu keluar di Jl. Panglima Sudirman (pintu gerbang Pasar karangploso

sebelah utara). Supaya ada perbedaan antara kendaraan pengunjung dan

pengelola dengan kendaraan pengangkut barang dagangan.

3. Sedangkan kendaraan pengangkut sampah, main entrance di lewatkan Jl.

Panglima Sudirman (gerbang entrance sebelah selatan Pasar Karangploso)

dengan pintu keluar Jl. Diponegoro sebelah barat pintu utama main entrance

(pintu keluar angkutan umum). Karena sirkulasinya lebih efisien dan praktis.

4. Pasar Karangploso memiliki fungsi sekunder sebagai Pasar Wisata, maka ada

jalur masuk untuk bus, yaitu dilewatkan pada Jl. Panglima Sudirman (gerbang

pintu sebelah selatan Pasar Karangploso) lalu masuk pada area parkir bus

(sebelumnya berupa ruang terbuka hijau) dengan pintu keluar pada gerbang

sebelah utara Pasar Karangploso.

5. Jalur untuk tukang ojek dan kusir delman dilewatkan jalur pintu masuk sebelah

timur dan barat main entrance utama.

Gambar 5.2 Konsep Aksesbilitas dan Sirkulasi (Alternatif kedua)

Sumber: Hasil Analisis.2009

Keterangan: - Jalur putih: jalur untuk kendaraan pengunjung, angkutan umum dan pengelola. - Jalur orange: jalur untuk kendaraan mengangkut barang dalam skala besar atau kecil (truk

atau pick up). - Jalur hijau: jalur untuk bus. - Jalur kuning: jalur untuk kendaraan pengangkut sampah. - Jalur pink: jalur masuk untuk tukang ojek dan delman.

Lokasi pasar karangploso (Objek rancangan)

Deretan toko

Pasar grosir sayur (sebelumnya lokasi pasar Karangploso baru)

Rumah penduduk KONSEP

AKSESBILITAS

dan SIRKULASI

Depot makan Jl. Diponegoro

Jl. Pang. Sudirman

Jl. Kartanegara

Pasar wisata & fasilitas ATM

bersama

U

Main entrance utama

5.2.2 View dan Orientasi

Konsep view terhadap tapak bertujuan sebagai konsep orientasi bangunan,

dimana sangat erat kaitannya dengan konsep konektifitas terhadap area

perdagangan yang berada disekitarnya. Dengan melihat kondisi disekitarnya,

maka konsep view sebisa mungkin bisa di ekspos dari segala arah dan untuk

pengolahan orientasi dibuat sebisa mungkin menyatu dengan area (kawasan) yang

berada di Jl. Diponegoro untuk arah orientasi bangunan menghadap ke utara

karena didepannya terdapat jalan raya (Jl. Diponegoro) yang lalu lintasnya ramai

kendaraan yang lewat. Sehingga, bisa memberikan stimulus tersendiri bagi orang-

orang yang melihat dan lewat pada area jalan raya tersebut.

Gambar 5.3 Konsep View dan Orientasi

Sumber: Hasil Analisis.2009

Keterangan: - A, B dan C: Main entrance - Panah kuning: Arah view ke objek rancangan - Panah orange: Arah orientasi bangunan - Panah putih: Jalur kendaraan masuk dan keluar

Deretan toko

Jl. Diponegoro

Jl. Kartanegara

Lokasi objek rancangan (sebelumnya pasar lama)

Terminal

Pasar grosir sayur (lokasi pasar sekarang)

RTH

Jl. Panglima Sudirman

KONSEP VIEW

dan ORIENTASI

U

5.2.3 Vegetasi

Pengolahan ruang luar suatu tapak tidak akan pernah lepas dengan

pemilihan jenis vegetasi sebagai elemen pendukungnya. Keberadaan vegetasi

selain dipergunakan sebagai elemen estetika suatu tapak bangunan juga memiliki

fungsi sebagai soft space untuk penyeimbang keberadaan hard space (rancangan

objek studi terbangun) yang secara langsung akan mempengaruhi kondisi di

sekitar area pembangunan.

Pada rancangan objek studi, keberadaan dan pemilihan jenis vegetasi selain

dapat dipergunakan sebagai penyatu linkage kawasan objek studi, juga lebih

didasarkan pada analisa terhadap kondisi lingkungan sekitarnya (kebisingan,

debu, sinar matahari, pembatas serta pengarah). Sehingga diharapkan masing-

masing penempatan jenis vegetasi dapat berfungsi maksimal.

Taman (cemara dan bunga)

Pohon tanjung

Pohon palem

Pohon cerry

Rumput jarum

Pohon palem