131264464 benjolan di leher

51
BAB I PENDAHULUAN Pada tahun 2003, diperkirakan bahwa kanker kepala dan leher akan terdiri dari 2% -3% dari seluruh kanker di Amerika Serikat dan untuk 1% -2% dari semua kematian kanker. Total ini mencakup 19.400 kasus kanker rongga mulut, kanker laring 9.500 kasus dan 8.300 kasus kanker faring. Kebanyakan pasien dengan kanker kepala dan leher (regional nodal kanker leher memiliki penyakit metastasis pada saat diagnosis 43% dan metastasis dalam 10%. Kanker kepala dan leher mencakup berbagai kelompok tumor biasa yang seringkali agresif dalam perilaku biologis mereka. Selain itu, pasien dengan kanker kepala dan leher sering berkembang menjadi tumor primer kedua. Tumor ini terjadi pada tingkat tahunan sebesar 3% -7%, dan 50% -75% dari kanker baru seperti terjadi di saluran aerodigestive atas atau paru-paru. Anatomi kepala dan leher adalah kompleks dan dibagi menjadi situs dan subsites. Masing-masing tumor memiliki epidemiologi yang unik, anatomi, alam sejarah, dan pendekatan terapeutik. (1,2) 1

Upload: tifanoarian9684

Post on 29-Dec-2014

119 views

Category:

Documents


8 download

DESCRIPTION

tiroid

TRANSCRIPT

Page 1: 131264464 Benjolan Di Leher

BAB I

PENDAHULUAN

Pada tahun 2003, diperkirakan bahwa kanker kepala dan leher akan terdiri dari

2% -3% dari seluruh kanker di Amerika Serikat dan untuk 1% -2% dari semua kematian

kanker. Total ini mencakup 19.400 kasus kanker rongga mulut, kanker laring 9.500 kasus

dan 8.300 kasus kanker faring. Kebanyakan pasien dengan kanker kepala dan leher

(regional nodal kanker leher memiliki penyakit metastasis pada saat diagnosis 43% dan

metastasis dalam 10%.

Kanker kepala dan leher mencakup berbagai kelompok tumor biasa yang

seringkali agresif dalam perilaku biologis mereka. Selain itu, pasien dengan kanker

kepala dan leher sering berkembang menjadi tumor primer kedua. Tumor ini terjadi pada

tingkat tahunan sebesar 3% -7%, dan 50% -75% dari kanker baru seperti terjadi di

saluran aerodigestive atas atau paru-paru.

Anatomi kepala dan leher adalah kompleks dan dibagi menjadi situs dan subsites.

Masing-masing tumor memiliki epidemiologi yang unik, anatomi, alam sejarah, dan

pendekatan terapeutik.(1,2)

1

Page 2: 131264464 Benjolan Di Leher

BAB II

ANATOMI

2.1 ANATOMI LEHER

M.sternocleidomastoid membagi daerah leher menjadi 2 segitiga besar, yaitu :

1. Trigonum colli anterior, yang terdiri dari : (2)

Tigonum sub mental

Trigonum digastrikus

Trigonum Karotis

Trigonum Muskulari

Batas-batas trigonum colli anterior adalah, anterior: garis tengah leher, superior:

symphisis mandibula dan posterior : sisi anterior m.sternocleidomastoid.

trigonum ini tertutup oleh kulit, fascia superfisialis, platysma dan fascia

intermedia.

2. Trigonum colli posterior, yang terdiri dari :

Trigonum oksipitalis.

Trigonum supraklavikularis.

Batas-batas trigonum colli posterior yaitu anterior: sisi posterior

m.sternocleidomastoi , inferior : Klavicula dan posterior: sisi anterior M.

Trapezius.

Lantai dari trigonum tertutup oleh lapisan prevertebra yang terdiri dari

semispinalis capitis, levator scapula dan scalenus medius. Trigonum ini berisi

a.subklavia, v.jugularis eksterna, pleksus brakialis dan cabang-cabang pleksus

servikalis.

2

Page 3: 131264464 Benjolan Di Leher

gambar 2.1 : otot leher

2.2 PERSARAFAN DAERAH LEHER

Terdapat 4 saraf superfisial yang berhubungan dengan tepi posterior

m.sternocleidomastoid. Saraf-saraf tersebut mempersarafi kulit di daerah yang

bersangkutan. Saraf superfisial yang dimaksud adalah :

1. N. Oksipitalis minor (C2)

2. N. Auricularis magnus (C2 dan C3)

3. N.Cutaneus anterior (cutaneus colli, C2 dan C3).

4. N.Supraklavikularis (C3 dan C4).

Keempat saraf ini berasal dari Nn Servikalis II, III dan IV dan terlindung di bawah otot.

Dalam perjalanan ekstra kranialnya, 4 nervi kranial terletak di daerah M. Digastricus.

Saraf-saraf cranial yang dimaksud:

1. N. Vagus, keluar melalui For. Jugularis, mensarafi : saluran pernafasan dan saluran

pencernaan .

2. N. Glossopharyngeus, keluar bersama N. Vagus , terletak diantara karotis interna dan

jugularis interna. Merupakan saraf motorik untuk M. Stylopharyngeus.

3. N. Asesorius, berasal dari cranial dan C5 atau C6. Merupakan motorik untuk M. SCM

dan M. Trapezius, sedangkan cabang cervicalnya merupakan sensorik.

4. N. Hypoglosus, keluar melalui cranial hypoglosus, merupakan motorik untuk lidah.

3

Page 4: 131264464 Benjolan Di Leher

gambar 2.2: persarafan leher

2.3 OTOT-OTOT LEHER BAGIAN DEPAN

Otot-otot di bagian ventral leher terdiri dari :

1. M. Digastricus, terdiri dari venter anterior dan posterior. Berjalan dari os temporal ke

arkus mandibula, merupakan landmark yang penting di bagian atas leher. Kedua

venternya dipisahkan oleh tendon intermedius.

2. Mm infrahyoid, disebut juga sebagai STRAP muscles

Terdiri dari :

a. M. Sterno hyoid :

Origo pada manubrium sterni dan berinsersi di os. hyoid. Dekat origo terpisah,

makin ke atas makin bersatu dan didekat insersi bergabung dengan M.

Omohyoid.

b. M. Omohyoid

Terdiri dari 2 venter (superior dan inferior). Mulai dari skapula dan lig.

supraskapula berjalan ke atas dan berakhir sebagai tendo intermedius.

c. M. Sternothyroid,

Merupakan landmark penting dalam pembedahan thyroid untuk menemukan

cleavage plane. Origo terletak di manubrium sterni dan berinsersi di lamina

4

Page 5: 131264464 Benjolan Di Leher

kartilago thyroid, berjalan menutupi sebagian Gld. Thyroid. Kontraksinya

menyebabkan laryng bergerak ke bawah.

d. M. Thyrohyoid,

Berorigo di kartilago thyroid dan berinsersi di os hyoid. Menutupi membrana

thyrohyoid, kontraksinya menarik hyoid ke bawah, tetapi bila hyoid difiksir oleh

otot suprahyoid, kontraksinya akan mengangkat laryng.

gambar 2.3 otot-otot leher

Jaringan di leher dibungkus oleh 3 fasia, yaitu:

1. Fasia koli superfisialis membungkus: m. sternokleidomastoidues dan

berlanjut ke garis tengah leher untuk bertemu dengan fasia sisi lain.

2. Fasia koli media membungkus otot pretrakeal dan bertemu pula dengan fasia

sisi yang lain di garis tengah yang juga merupakan pertemuan dengan fasia koli

superfisialis. Ke dorsal fasia koli media membungkus a. karotis komunis, v. jugularis

interna dan n. vagus menjadi satu.

3. Fasia koli profunda membungkus m. prevertebralis dan bertemu ke lateral

dengan fasia koli media. Perlukaan sebelah dalam fasia koli media berbahaya karena

bila terjadi infeksi hubungan langsung ke mediastinum.

5

Page 6: 131264464 Benjolan Di Leher

2.4 ANATOMI SISTEM LIMFE KEPALA-LEHER(2)

Karena sebagian besar keganasaan di daerah kepala dan leher penyebaraan secara

limfogen.

gambar 2.4 anatomi sistem limfe

L E T A K

KELENJAR LIMFE RADANG DAN KEGANASAAN PRIMER

Submental

Submandibuler

Servikal atas

Servikal tengah

Servikal bawah

Retroklavikula

Oksipital

Segitiga belakang

Bibir bawah, rongga mulut, kulit

Bibir bawah, rongga mulut, kulit, wajah

Rongga mulut, orofaring, hipofaring

Hipofaring, pangkal lidah, laring, tiroid

Hipofaring, tiroid, paru, saluran cerna (oesofagus,

lambung)

Paru, saluran cerna atas

Kulit, tenggorokan

Nasofaring, hipofaring, tiroid

6

Page 7: 131264464 Benjolan Di Leher

2.5 VASKULARISASI DAERAH LEHER

Sirkulasi darah arteri

Aliran darah menuju kepala dibawa melalui arteri carotis dan arteri vertebralis. Arteri

vertebralis dalam rongga kepala bersatu membentuk arteri basilaris. Memberikan cabang-

cabangnya pada struktur intracranial, tidak ada cabang-cabang.

A. carotis comunis dibagi dua menjadi a. carotis interna dan a. carotis eksterna. A.

carotis interna memberikan darahnya pada bagian dalam tenggorokan dan sirkulus ini

bervariasi dan memberikan darahnya pada otak.

A. meningeal cabang a. carotis eksterna dan a. opthalmica cabang arteri carotis

interna ini tidak cukup memberikan darahnya untuk kebutuhan minimum dari otak.

Oleh karena itu kebutuhan darah otak akan di penuhi terutama oleh a. carotis interna

dan disusul oleh a. vertebralis.

A. carotis interna memberikan darahnya pada daerah kulit kepala dan vicera dari

kepala dan leher. Pada daerah muka dan cabang-cabangnya kaya dengan anastomose,

sehingga dengan mudah dapat terjadi kompensasi bila terjadi gangguan pada salah

satu cabangnya.

gambar 2.5 vaskularisasi arteri leher

7

Page 8: 131264464 Benjolan Di Leher

Sirkulasi darah vena

Aliran darah balik dari kepala dan leher dialirkan melalui sistem jugularis

(anterior, eksterna, interna, posterior) dan beberapa plexus venosus (pterygoid, orbital,

vertebral, perilaryngeal, esophageal). Dari semua aliran darah balik ini v. jugularis

internalah yang paling penting. Pleksus brakialis terdiri dari dua sistem yang terpisah,

yaitu bagian interna yang terdapat antara duramater dan tulang, dan bagian exsterna yang

mengelilingi lengkung vertebrae terletak di dalam otot-otot leher dan punggung.

gambar 2.6 Vaskularisasi vena leher

8

Page 9: 131264464 Benjolan Di Leher

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

III. 1 DEFINISI

Setiap benjolan yang terdapat di leher harus dipikirkan akan kemungkinan

suatu keganasan atau metastasis dari tumor primer di tempat lain. Tumor leher

dibagi atas tumor leher medial yang dapat bersifat solid dan kistik; dan tumor

leher lateral yang juga bersifat solid dan bersifat kistik.(1,3)

Tumor leher --------------------------------------- 15% tiroid

85%

Tumor non tiroid ---------------------------------- 15% radang/bawaan

85%

Neoplasma ------------------------------------------- 15% benigna

85%

Maligna --------------------------------------------- 15% primer: - kelenjar liur

- limfoma

85%

Metastasis ------------------------------------------ 15% retroklavikula

85%

Leher

9

Page 10: 131264464 Benjolan Di Leher

III. 2 EPIDEMIOLOGI

Umumnya tumor primer dapat ditemukan kecuali pada 5-15% penderita.

Umumnya dari jumlah tersebut 60% diantaranya tumor primernya tidak pernah

ditemukan. Sejak tahun 1976 di temukan 2 orang penderita dimana terdapat

metastasis kelenjar getah bening di leher dengan tumor primer yang tidak

diketahui asalnya. Tahun 1974, ROCHANI menunjukan 1 kasus dengan tumor

metastasis yang asalnya tidak diketahui, tetapi tumor metastasis ini tidak terdapat

di leher melainkan terdapat di daerah costovetebral.. kebanyakan penulis

mendapatkan perbandingan dalam jenis kelamin wanita lebih banyak dari laki-

laki = 3 : 1 dengan umur rata-rata 40-70 tahun. 60% penderita kebanyakan datang

dengan hanya satu keluhan, yaitu benjolan di daerah leher.(1,3)

III. 3 ETIOLOGI

Divertikulum paten duktus tiroglosus

Kelenjar tiroid berasal dari dasar faring pada foramen sekum selama masa

kehamilan empat minggu, kemudian turun sesuai dengan garis tengah leher dekat

dengan os. Hyoid. Divertikulum paten yang disebabkan oleh penurunan ini

disebut duktus tiroglosus. Jika semua atau sebagian dari duktus ini menetap, maka

akan terbentuk kista-kista atau sinus-sinus duktus tiroglosus.

Anomali celah brankial

Kista celah brankial, sinus, dan sisa-sisa karilagenus, berasal dari

penyatuaan celah brankial yang tidak lengkap. Arkus brankial ke-3 membentuk

os. Hyioid, sedangkan arkus brankial ke-4 membentuk skelet laring, yaitu rawan

tiroid, krikoid, dan aritenoid. Fistel cranial dari tulang hyoid yang berhubungan

dengan meatus akustikus eksternus berasal dari celah pertama. Fistel antara fosa

tonsilaris ke pinggir depan m. sternokleidomastoideus berasal dari celah ke-2.

fistel yang masuk ke sinus piriformis berasal dari celah ketiga. Sinus dari celah

ke-4 tidak pernah ditemukan. Sinus atau fistel mungkin berupa saluran yang

lengkap atau mungkin menutup sebagian. Sisanya akan membentuk kista yang

terletak agak tinggi di bawah sudut rahang.(4,5)

10

Page 11: 131264464 Benjolan Di Leher

Hemangioma dan malformasi vaskuler

Hemangioma mempunyai aktivitas mitosis yang meningkat dan keadaan

demikian dianggap sebagai neoplasma sejati. Malformasi vaskuler tidak seperti

hemangioma, mempunyai kecepatan penggantian sel endothelial yang normal.

Lesi yang tinggi akibat kelainan menyolok yang berhubungan dengan sistem

arterial dan venousa dan dapat menyebabkan masalah yang berbahaya dari adanya

perdarahan masif, gagal jantung dan kongestif curah tinggi, dan anemia hemolitik

Malformasi limfatik (higroma kistik)

Anyaman pembuluh limf yang pertama kali terbentuk di sekitar pembuluh

vena mengalami dilatasi dan bergabung membentuk jala yang di daerah tertentu

akan berkembang menjadi sakus limfatikus. Pada embrio usia 2 bulan,

pembentukan sakus primitive telah sempurna. Bila hubungan saluran kearah

sentral tidak terbentuk maka timbulah penimbunan cairan yang akhirnya

membentuk kista berisi cairan. Hal ini paling sering terjadi didaerah leher,

kelainan ini dapat meluas ke segala arah seperti ke jaringan sublingualis di mulut.

III. 4 KLASIFIKASI

Setiap tumor di leher perlu di tentukan terlebih dahulu apakah berasal dari

tiroid-paratiroid atau struktur lain. Massa yang bukan berasal dari tiroid atau

paratiroid dapat disebabkan oleh radang dan/atau neoplasma struktur lain.(4,5)

3.4.1 TUMOR LEHER MEDIAL KISTIK

1. KISTA DUKTUS TIROGLOSUS

Benjolan kista duktus tiroglosus terdapat di sekitar os. Hyoid, di garis

tengah, dan ikut bergerak waktu menelan atau pada penjuluran lidah.

Patofisiologi

Duktus yang menandai jaringan bakal tiroid akan bermigrasi dari

foramen sekum di pangkal lidah ke daerah di ventral laring dan mengalami

obliterasi. Obliterasi yang tidak lengkap akan membentuk kista. Kista terletak

di garis tengah, di cranial atau kaudal dari os. Hyoid. Bila terletak di bagian

11

Page 12: 131264464 Benjolan Di Leher

depan tulang rawan dari os. Hyoid mungkin tergeser sedikit ke paramedian.

Jika di tarik kearah kaudal, umumnya teraba atau terlihat sisa duktus berupa

tali halus di subkutis.(5,6)

Gejala Klinik

Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher,

dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Benjolan membesar dan tidak

menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. Konsistensi massa

teraba kistik, berbatas tegas, bulat, mudah digerakkan, tidak nyeri, warna sama

dengan kulit

sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah.(7,8,9,10)

Diameter kista berkisar antara 2-4 cm, kadang-kadang lebih besar.9Bila

terinfeksi, benjolan akan terasa nyeri. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan

kulit di atasnya berwarna merah.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik; yang harus dipikirkan

pada setiap benjolan di garis tengah leher. Untuk fistula, diagnosis dapat

ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang

dicurigai dan dilakukan foto Rontgen.(8,11,12)

Penanganan

Kelainan ini ditangani dengan ekstripasi seluruh kista dan duktus.

Biasanya os hyoid harus dibelah dulu karena duktus sering menembus os.

Hyoid. Kista harus diekstripasi dengan seluruh sisa duktus sampai ke

foramen sekum. Jika ada sisa duktus tertinggal, akan terbentuk fistel di luka

operasi setelah beberapa waktu.

2. KISTA DERMOID

Kista ini merupakan kelainan bawaan yang timbul di daerah fusi

embrional kulit. Di daerah leher juga dapat ditemukan kista dermoid seperti

di daerah kepala. Kista ini umumnya kecil saja, dan biasanya terdapat di

sekitar garis tengah. Kista teraba kenyal, berisi cairan seperti minyak, dan

12

Page 13: 131264464 Benjolan Di Leher

mungkin mengandung unsur adneksa kulit seperti rambut. Kista ini bebas

dari kulit di atasnya.

Penanganan

Penanganan daripada kista dermoid ini berupa ekstirpasi.

3. KISTA SEBASEA/ ATEROMA

Merupakan kista kelenjar sebacea, terbentuk akibat sumbatan pada

muaranya. Oleh karena itu ateroma ditemukan di daerah yang mengandung

banyak kelenjar sebacea. Kadang terdapat multiple dalam berbagai ukuran.

Produk kelenjar sebacea, yaitu sebum, tertimbun membentuk tumor yang

kurang lebih bulat, berbatas tegas, berdinding tipis, bebas dari dasar, tetapi

melekat pada dermis diatasnya. Daerah muara yang tersumbat merupakan

tanda khas yang disebut pungtata. Isi kista adalah bubur eksudat berwarna

putih abu-abu yang berbau asam.

Penanganan

Penanganan dari kista ini berupa eksisi. Patut diingat bahwa bila

sebagian dinding kista tertinggal pada eksisi, kista akan kambuh. Bila kista

menjadi abses karena infeksi sekunder, dilakukan incise dan penyinaran.

3.4.2 TUMOR LEHER MEDIAL SOLID

Berasal dari sisa pembentukan tiroid yang tidak turun (tyroid ektopik),

dimana tiroid itu ada tapi tidak turun membentuk tulang rawan tiroid. Pada lobus

piramidalis mudah di diagnosis dengan penurunannya fungsi kedua lobus

piramidalis. Kista ini biasanya berbatas tegas dan tidak berisi cairan (padat).(13)

Penanganan

Kista ini tidak boleh di eksisi (operasi) sebab dapat terjadi hipotiroidisme.

Bila ditemukan kista seperti ini dapat di observasi terlebih dahulu, baru dapat

dilakukan eksisi.

13

Page 14: 131264464 Benjolan Di Leher

3.4.3 TUMOR LEHER LATERAL KISTIK

1. HYGROMA KISTIK

Higroma kistik dapat terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak

perempuan dengan frekuensi yang sama. Kebanyakan higroma kistik terdapat

didaerah leher. Higroma kistik berasal dari system limf sehingga secara

patologi-anatomi lebih tepat disebut limfangioma kistik. etiologi biasanya

disebabkan karena anyaman pembuluh limf yang pertama kali terbentuk di

sekitar pembuluh vena mengalami dilatasi dan bergabung membentuk jala

yang di daerah tertentu akan berkembang menjadi sakus limfatikus. Pada

embrio usia dua bulan, pembentukan sakus primitif telah sempurna. Bila

hubungan saluran kearah sentral tidak terbentuk maka timbulah penimbunan

cairan yang akhirnya membentuk kista berisi cairan. Kelainan ini dapat

meluas ke segala arah seperti ke jaringan sublingualis di mulut. Keluhan

adalah adanya benjolan di leher yang telah lama atau sejak lahir tanpa nyeri

atau keluhan lain. Benjolan ini berbentuk kistik, berbenjol-benjol, dan lunak.

Permukaannya halus, lepas dari kulit, dan sedikit melekat pada jaringan dasar.

Kebanyakan terletak di region trigonum posterior koli. Sebagai tanda khas,

pada pemeriksaan transiluminasi positif tampak terang sebagai jaringan

diafan. Benjolan ini jarang menimbulkan gejala akut, tetapi suatu saat dapat

cepat membesar karena radang dan menimbulkan gejala gangguan pernafasan

akibat pendesakan saluran napas seperti trakea, orofaring, maupun laring.

Penanganan

Eksisi total merupakan pilihan utama. Pembedahan dimaksudkan

untuk mengambil keseluruhan masa kista. Tetapi bila tumor besar dan telah

menyusup ke organ penting seperti trakea, esophagus, atau pembuluh darah,

ekstirpasi total sulit dikerjakan. Maka penanganannya cukup dengan

pengambilan sebanyak-banyaknya kista. Kemudian pasca bedah dilakukan

infiltrasi bleomoson subkutan untuk mencegah kekambuhan.

14

Page 15: 131264464 Benjolan Di Leher

gambar 3.1 Higroma kistik

2. KISTA BRONCHIOGENIC

Kelainan brankiogen dapat berupa fistel, kista, dan tulang rawan

ektopik. Arkus bronkial ke-3 membentuk os. Hyoid, sedangkan arkus bronkial

ke-4 membentuk skelet laring, yaitu rawan tiroid, krikoid dan aritenoid. Fistel

brankial sisa celah ke-2 akan terdapat tepat di depam m.

sternokleiodomastoid. Bila penutupan terjadi sebagian, sisanya dapat

membentuk kista yang terletak tinggi di bawah sudut rahang. Pada anamnesis

diketahui bahwa kista merupakan benjolan sejak lahir. Fistel terletak di depan

m. sternokleidomastoid dan mengeluarkan cairan. Fistel yang buntu akan

membengkak dan merah, atau merupakan lekukan kecil yang dapat ditemukan

unilateral atau bilateral. Pada palpasi cranial, fistel teraba sebagai jaringan

fibrotik bila ditegangkan dengan tarikan kearah kaudal. Fistulografi mungkin

memperlihatkan masuknya bahan kontras ke faring.

Penaganan

Kista dapat langsung di ekstirpasi. Fistel diisi bahan warna seperti biru

metilen, kemudian dapat diekstirpasi melalui incisi kecil multiple. Bila

sebagian saja fistel tertinggal akan kambuh dan biasanya mengalami infeksi.

15

Page 16: 131264464 Benjolan Di Leher

3. LIMFADENITIS TBC

Bacteria dapat masuk melalui makan ke rongga mulut dan melalui

tonsil mencapai kelenjar limf di leher, sering tanpa tanda tbc paru. Kelenjar

yang sakit akan membengkak, dan mungkin sedikit nyeri. Mungkin secara

berangsur kelenjar didekatnya satu demi satu terkena radang yang khas dan

dingin ini. Disamping itu dapat terjadi juga perilimfadenitis sehingga beberapa

kelenjar melekat satu sama lain membentuk suatu massa. Bila mengenai kulit

dapat meradang, merah, bengkak, mungkin sedikit nyeri. Kulit akhirnya

menipis dan jebol, mengeluarkan bahan seperti keju. Tukak yang terbentuk

berwarna pucat dengan tepi membiru, disertai sekret yang jernih. Tukak

kronik itu dapat sembuh dan meninggalkan jaringan parut yang tipis atau

berbinti-bintil. Suatu saat tukak meradang lagi dan mengeluarkan bahan

seperti keju lagi, demikian berulang-ulang, kulit seperti ini disebut

skrofuloderma.

Penanganan:

Pengobatan dilakukan dengan tuberkulostatik.

gambar 3.2 limfadenitis TB

16

Page 17: 131264464 Benjolan Di Leher

3.4.4 TUMOR LEHER LATERAL SOLID

Dapat berasal dari otot, vascular dan Nn.ll

1. Otot

TORTIKOLIS

Terjadi karena trauma persalinan pada kepala letak sungsang. Bila

dilakukan traksi pada kepala untuk melahirkan anak dapat terjadi cedera m.

sternokleidomastoideus yang menimbulkan hematome sehingga terjadi

pemendekan otot akibat fibrosis. Dapat juga terjadi akibat tumor pada

m.sternokleidomastoideus. Gambaran klinik dapat dijumpai kepala yang

miring karena m. steronokleidomastoideus memendek, dan teraba seperti tali

yang kaku. Bila dibiarkan maka akan menjadi asimetris, tulang belakang

akan scoliosis untuk mengimbangi miringnya vertebra secara servikalis, dan

tengkorak pun akan asimetris.

Penanganan:

Fisoterapi diberikan berupa masase disertai peregangan dengan

harapan otot dapat memanjang. Bila fisioterapi tidak berhasil dilakukan

operasi untuk memperpanjang m.sternokleidomastoid. fisoterapi diteruskan

lagi pascabedah agar tidak kambuh lagi.

gambar 3.3 Tortikolis

17

Page 18: 131264464 Benjolan Di Leher

2. Vascular

a. HEMANGIOMA

Di daerah leher, hemangioma biasanya berjenis kavernosa yang

merupakan benjolan lunak yang mengempis bila ditekan dan

menggelembung saat dilepaskan lagi. Tumor ini ditangani dengan

ekstirpasi, bila besar perlu persiapan berupa arterigrafi atau flebografi.

gambar 3.4 Hemangioma leher

b. TUMOR GLOMUS KAROTIKUM

Tumor glomus karotikum yang merupakan kemodektoma cukup

jarang ditemukan, terutama di setinggi sisi leher. Umumnya tumor ini

tidak menunjukan gejala dan pada palpasi menyampaikan denyut nadi

a.karotis. Tumor ini dapat di gerakan di bidang horizontal tetapi tidak di

bidang vertical karena hubungan erat pada bifurkasio a.karotis komunis,

penanganannya terdiri dari ekstirpasi.

3. Nn.ll

RADANG (LYMFADENITIS) AKUT

Peradaangan di seluruh kulit, maupun struktur dalam kepala dan

leher dapat menyebabkan limfadenitis akut di leher yang akan berkurang

18

Page 19: 131264464 Benjolan Di Leher

bila radangnya berkurang, namun hilangnya pembengkakan kelenjar

terjadi lama.

3.4.5 NEOPLASMA

Neoplasma dapat juga jinak atau ganas, sedangkan yang ganas dapat

primer atau sekunder (metastatik). Masa tumor metastatik dapat dibedakan antara

yang terletak di daerah yang berasal dari supraklavikuler atau retrokalvikuler.(14,15)

1. NEOPLASMA PRIMER JINAK

Berbagai macam tumor jinak terdapat di laring, termasuk polip dan

nodulus pita suara. Tumor jinak yang paling banyak dijumpai ialah papiloma.

Ini dapat terjadi pada anak, penyanyi, dan pengajar karena salah guna suara.

Biasanya kelainan yang bertanda suara parau ini dapat regresi spontan setelah

suara diistirahatkan atau ditangani logopedi.

2. NEOPLASMA PRIMER GANAS (LIMFOMA MALIGNUM)

a. MORBUS HODGKIN

Morbus Hodgkin merupakan limfoma ganas yang bersifat sistemik

dan dapat muncul sebagai limfoma di leher. Kelenjar biasanya membesar,

kenyal, umumnya berpaket, dan tidak nyeri. Bisa ada gejala umum seperti

rasa lelah dan demam malam. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan

patologi jaringan melalui biopsi dan pemeriksan histolipatologik.

Limfoma Non-Hodgkin (NHL) adalah kelompok penyakit limfoma ganas

yang heterogen yang juga mungkin muncul pertama sebagai limfoma

leher.

b. KARSINOMA KELENJAR TIROID

Karsinoma tiroid timbul dari sel folikel. Kebanyakan keganasan di

kelompokan sebagai jenis karsinoma tiroid berdefisiansi, yang menisfes

sebagai bentuk papiler, folikuler, atau campuran. Jenis keganasan tiroid

yang lain adalah karsinoma medularis yang berasal dari sel farafolikuler

19

Page 20: 131264464 Benjolan Di Leher

yang mengeluarakan kalsitonin (APUO-oma). Karsinoma tiroid agak

jarang di dapat yaitu sekitar 3-5% dari semua tumor maligna. Karsinoma

torid didapat pada segala usia dengan puncak pada usia muda (7-20 tahun)

dan usia setengah baya (40-60 tahun). Insidens pada pria adalah sekitar

3/100.000/tahun dan wanita sekitar 8/100.000/tahun. Radiasi merupakan

salah satu faktor resiko yang bermakna. Bila radiasi tersebut terjadi pada

usia lebih dari 20 korelasinya kurang bermakna.

Anatomi Kelenjar Tiroid

Kelenjar tiroid terletak di leher, antara fasia koli media dan fasia

prevertebralis. Di dalam ruang yang sama terletak trakea, oesofagus,

pembuluh darah besar, dan saraf. Kelenjar tiroid melekat pada trakea

sambil melingkarnya dua pertiga sampai tiga perempat lingkaran.

Keempat kelenjar paratiroid umumnya terletak pada permukaan belakang

kelenjar tiroid. Tetapi lokasi dan mungkin juga, jumlah kelenjar ini sering

bervariasi.

Embriologi

Kelenjar tiroid berkembang dari endoderm pada garis tengah usus

depan. Titik dari pembentukan kelenjar tiroid ini menjadi foramen sekum

di pangkal lidah. Endoderm ini menurun di dalam leher sampai setinggi

cincin trakea kedua dan ketiga yang kemudian membentuk dua lobus.

Penurunan ini terajdi pada garis tengah. Saluran pada struktur ini menetap

dan menjadi duktus tiroglosus atau lebih sering, menjadi lobus piramidalis

kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid janin secara fungsional mulai mandiri pada

minggu ke-12 masa kehidupan intraneurin.

Patologi

Adenokarsinoma Papilare

Adenokarsinoma papiler adalah jenis keganasan tiroid yang paling

sering di temukan (50-60%). Kebanyakkan sudah disertai pembesaran

kelenjar getah bening pada waktu penderita pertama kali datang

memeriksakan diri. Karsinoma ini merupakan kersinoma tiroid yang

paling kronik dan yang mempunyai prongnosa paling baik diantara

20

Page 21: 131264464 Benjolan Di Leher

karsinoma tiroid yang lainnya. Faktor yang mempengaruhi prognosis

baik adalah usia dibawah 40 tahun, wanita dan jenis histologik papilare,

penyebaran limfogennya tidak terlalu mempengaruhi prognosisnya. Faktor

prognosis kurang baik dalah usia diatas 45 tahun dan serta tumor tingkat

T3 dan T4. Tumor ini jarang bermetastasis secara hematogen, tetapi pada

10% kasus terdapat metastasis jauh. Pada anamnesis di temukan keluhan

tentang adanya benjolan pada leher bagian depan. Benjolan tesebut

mungkin di temukan secara kebetulan oleh penderita sendiri atau oleh

orang lain. Kadang terdapat pembesaran kelenjar getah bening di leher

bagian lateral, yaitu penyebaran getah bening yang dahulu dikenal sebagai

tiroid aberans. Tumor primer biasanya tidak dikeluhkan dan tidak dapat di

temukan secara klinis. Bila tumornya cukup besar, akan timbul keluhan

karena desakan mekanik pada trakea dan oesofagus, atau hanya timbul

rasa mengganjal di leher. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tumor

biasanya dapat diraba dengan mudah, dan umumnya dapat pula di lihat.

Yang khas untuk tumor tiroid adalah tumor ikut dengan gerakan menelan.

Penanganan

Pengobatan dengan radioaktif tidak memberi hasil karena

adenokarsinoma pepilare pada umumnya tidak menyerap yodium.

Pascatirodektomi total ternyata yodium dapat ditangkap oleh sel anak

sebar tumor papiler tertentu sehingga pemberian pada keadaan itu yodium

radioaktif bermanfaat. Radiasi ekstern dapat diberikan bila tidak terdapat

fasilitas radiasi intern. Metastasis ditanggulangi secara ablasio radioaktif.

Adenokarsinoma folikuler

Adenokarsinoma folikuler meliputi sekitar 25% keganasan tiroid

dan didapat terutama pada wanita setengah baya. Kadang ditemukan

tumor soliter besar di tulang seperti di tengkorak dan humerus, yang

merupakan metastasis jauh dari adenokarsinoma folikuler yang tidak di

temukan karena kecil dan tidak bergejala.

Penanganan

21

Page 22: 131264464 Benjolan Di Leher

Dilakukan dengan cara tiroidektomi total. Karena sel karsinoma ini

menangkap yodium, maka radioterapi dengan Y 131 dapat digunakan.

Bila masih ada tumor yang tersisa maupun yang terdapat metastasis, maka

dilakukan pemberian yodium radioaktif ini. Radiasi ekstern untuk

metastasis ternyata memberi hasil yang cukup baik.

Adenokarsinoma meduler

Adenokarsinoma meduler meliputi 5-100% keganasan tiroid dan

berasal dari sel para folikuler, atau sel C yang memproduksitirokalsitonin.

Kadang di hasilkan pula CEA (carsino embryonic antiagen). Tumor

adenokarsinoma meduler berbatas tegas dan keras pada peraabaan. Tumor

ini terutama terdapat pada usia di atas 40 tahun tetapi juga di temukan

pada usia yang lebih muda bahkan pada anak, dan biasanya disertai

gangguan endokrin lainnya. Pada sindrom sipple (multiple endocrine

neopleasia IIa/MEN IIa) ditemukan kombinasi adenokarsinoma meduler,

feokromositoma, dan hiperparatiroid, sedangkan pada MEN IIb disertai

feokromositoma dan neuroma submukosa. Bila di curigai adanya

adenokarsinoma meduler maka dilakukan pemeriksaan kadar kalsitonin

darah sebelum dan sesudah perangsangan dengan suntikan pentagastrin

atau kalsium.

Penanganan

Penanggulangan tumor ini adalah tiroidektomi total. Pemberian

yodium radioaktif juga tidak akan memberi hasil karena tumor ini berasal

dari sel C sehingga tidak menangkap dan menyerap yodium.

Adenokarsinoma anaplastik

Adenokarsinoma anaplastik jarang ditemukan dibandingkan

dengan karsinoma berdeferensi baik, yaitu sekitar 20%. Tumor ini sangat

ganas, terdapat terutama pada usia tua, dan lebih banyak pada wanita.

Sebagian tumor terjadi pada struma nodosa lama yang kemudian

membesar dengan cepat. Tumor ini sering disertai nyeri dan nyeri ahli ke

22

Page 23: 131264464 Benjolan Di Leher

daerah telinga dan suara serak karena infiltrasi ke n. rekurens. biasanya

waktu penderita datang sudah terjadi penyusupan ke jaringan sekitarnya

seperti laring, faring dan oesofagus sehingga prognosisnya buruk. Pada

anamnesis ditemukan struma yang telah di derita cukup lama dan

kemudian membesar dengan cepat. Bila disertai dengan suara parau, harus

dicurigai keras terdapatnya karsinoma anaplastik. Pemeriksaan penunjang

berupa foto roentgen toraks dan seluruh tulang tubuh dilakukan untuk

mencari metastasis ke organ tersebut. Prognosis tumor ini buruk dan

penderita biasanya meninggal dalam waktu enam bulan sampai satu tahun

setelah diagnosis.

Penanganan

Pembedahan biasanya sudah tidak memungkinkan lagi, sehingga

hanya dapat dilakukan biopsi insisi untuk mengetahui jenis karsinoma.

Satu-satunya terapi yang bisa diberikan adalah radiasi ekstern.

gambar 3.5 karsinoma tiroid

Keganasan lain

Limfoma malignum jarang dijumpai pada kelenjar tiroid yang

timbul pada wanita usia pertengahan sampai tua yang tampil dengan

massa thyroidea kenyal difus tak nyeri yang cepat membesar. Secara

histology, biasanya lesi jenis sel besar difus dan penyakit Hasimoto dapat

ditemukan dalam latar belakang pada lebih dari sepertiga pasien. Terapi

23

Page 24: 131264464 Benjolan Di Leher

terdiri dari tirodektomi dan radiasi. Kelangsungan hidup lima tahun dapat

lebih dari 80% sewaktu tumor terbatas pada glandula thyroidea dan 40%

bila penyakit ini juga ekstrathyroidea.(13,14,15)

c. KARSINOMA KELENJAR PARATIROID

Embriologi dan anaomi

Kelenjar paratiroid tumbuh di dalam endoderm kantong faring

ketiga dan keempat. Kelenjar paratiroid yang berasal dari kantong faring

keempat cenderung untuk bersatu dengan kutub atas kelenjar tiroid yang

membentuk kelenjar paratiroid atas. Kelenjar yang berasal dari kantong

faring ketiga merupakan kelenjar paratiroid pada kutub bawah tiroid, dan

posisinya dapat bervariasi. Kelenjar paratiroid ini bisa berkedudukan di

posterolateral kutub bawah kelenjar tiroid, atau di dalam timus, di

mediastinum. Kadang kelenjar tiroid berada di dalam kelenjar tiroid.

Biasanya terdapat dua kelenjar pada tiap sisi, meskipun jumlah kelenjar

yang lebih banyak di temukan pada sekitar 15% populasi. Kelenjar

paratiroid berwarna kekuningan dan berukuran kurang lebih 3 X 3 X 2

mm, dengan berat keseluruhan sampai 100 mg.

Fisiologi

Kelenjar paratiroid mengelurakan hormone paratiorid (PTH).

Sintesis PTH dikendalikan oleh kadar kalsium di dalam plasma. Sintesis

PTH di hambat apabila kadar kalsium rendah dan juga kadar magnesium

dalam plasma yang rendah. PTH bekerja pada tiga sasaran utama dalam

pengendalian homeostasis kalsium, yaitu ginjal, tulang dan usus. Di dalam

ginjal, PTH meningkatkan reabsorpsi kalsium. Di tulang PTH merangsang

aktivitas osteoplastik sedangkan di usus PTH meningkatkan absorpsi

kalsium. Vitamin D berpengaruh besar dalam metabolisme kalsium.

Vitamin ini terdapat didalam diet normal dan disintesis di kulit. Sinar

ultraviolet menghasilkan vitamin D3 di kulit yang selanjutnya mengalami

hidroksilasi di dalam hati dan ginjal menjadi vitamin D3 (kasiterol), fungsi

utamanya adalah merangsang penyerapan kalsium di dalam usus.

Patologi

24

Page 25: 131264464 Benjolan Di Leher

Kelainan kelenjar paratiroid di tandai dengan peningkatan atau

penurunan fungsi. Hipoparatiroid dapat disebabkan oleh defisiensi PTH

yang bersifat autoimun, berkurangnya pembentukan PTH, atau

ketidakmampuan jaringan untuk bereaksi terhapadap PTH (Pseudo-

HipoParatiroidisme). Yang paling sering dijumpai ialah hipoparatiroidi

iatrogenic sesudah tiroidektomi. Sekitar 85% hiperparatiroid primer di

sebabkan oleh adenoma tunggal salah satu kelenjar paratiroid, Pada kasus

selebihnya (15%), hyperplasia terdapat pada semua kelenjar paratiroid.

Sebagian kecil adalah adenoma multiple atau karsinoma paratiorid.

Gambaran klinik yang dapat dilihat adalah terdapatnya hiperkalsemia

asimtomatik. Bila ada gejalanya ini dapat berupa kelemahan, nyeri

abdomen, konstipasi, poliuria, kebingungaan, atau nyeri tulang. Kadang

ditemukan penyulit berupa batu ginjal dengan segala akibatnya.

d. NEOPLASMA YANG BERASAL DARI STRUKTUR LAIN

TUMOR GANAS OROFARING

Kebanyakan tomor ganas orofaring merupakan karsinoma sel

skuamosa yang diferensiasinya kurang dari umumnya sehingga tingkat

keganasaanya agak tinggi disertai infiltrasi jauh ke jaringan sekitarnya.

Orofaring yang juga meliputi pangkal lidah dan daerah tonsil, merupakan

daerah yang kaya akan jaringan limf, dan pembuluh limfnya dialirkan

bilateral ke kelenjar limf juguler atas dan tengah serta segitiga leher

belakang.

Gambaran klinik

Karsinoma pangkal lidah tidak lebih ganas daripada tumor sejenis

di tempat lain tetapi umunya baru diketahui bila tumor sudah besar dengan

penyebaran ke kelanjar limf regional. Tumor di daerah tonsil sering

menyusup ke mandibula dan menimbulkan trismus akibat ketegangan

m.ptiroideus medialis. Keadaan ini merupakan tanda yang penting untuk

mendiagnosis. Tetapi trismus mempersulit pemeriksaan rongga mulut.

Tumor ini sering menimbulkan nyeri alih, yakni otalgia.

25

Page 26: 131264464 Benjolan Di Leher

Penaganan

Tumor T1 dan T2 dapat ditangani dengan pembedahan atau

radioterapi, sedangkan tumor yang lebih besar di bedah setelah upaya

radioterapi. Pada beberapa keadaan dianjurkan untuk melakukan

glosektomi total, laringektomi, dan reseksi sebagian mandibula sekaligus.

Defek yang terjadi harus ditutup dengan flep transposisi. Dianjurkan

melakukan diseksi radikal kelenjar limf pada penyebaran ke kelenjar leher

dengan cara modifikasi, dengan atau tanpa radioterapi.

TUMOR GANAS HIPOFARING

Lebih dari 95% tumor ganas hipofaring merupakan karsinoma sel

skuamosa yang diferensiasinya buruk. Insidens invasi ke kelenjar limf

sangat tinggi sehingga bila ditemukan pada kelenjar limf leher tanpa

diketahui asal usulnya, dianjurkan untuk melakukan biopsi buta pada sinus

piriformis untuk menentukan tumor primernya. Kelenjar limf yang

umunya terkena adalah kelenjar limf retrofaringeal, seluruh kelenjar limf

juguler, bahkan juga kelenjar di segitiga posterior leher.

Gambaran klinik

Karsinoma hipofaring paling sering di temukan di sinus piriformis.

Tumor yang terletak di belakang krikoid sering mengitari lumen sehingga

menimbulkan keluhan disfagia. Pada umunya tanda utamanya berupa trias

yang terdiri dari nyeri, disfagia, dan penurunan barat badan. Nyeri dapat

dirasakan pada lokalisasi tumornya atau sebagai nyeri alih, yakni otalgia

ipsilateral. Tumor lanjut menyusup ke laring dan dapat menimbulkan

kelumpuhan pita suara yang mengakibatkan suara parau.

Penanganan

Penanganan berupa pembedahan,radioterapi, atau kombinasinya.

Jika dilakukan faringektomi total, rekonstruksi faring dapat dilakukan

dengan cangkok yeyenum bebas secara bedah mikrovaskuler. Tindak

bedah juga meliputi diseksi kelenjar limf leher.

26

Page 27: 131264464 Benjolan Di Leher

KARSINOMA LARING

Dibagi dalam tiga macam yaitu supraglotik, glotik, dan infraglotik.

Pada tumor yang supraglotik termasuk permukaan posterior epiglottis,

plika ariepiglotik, dan plika ventrikularis; pada tumor yang glotik

termasuk korda vokalis, komisura anterior dan posterior, sedangkan pada

karsinoma infraglotik termasuk jaringan di bawah korda vokalis sampai

tepi bawah krikoid.

Gambaran klinik

Suara parau merupakan gejala utama yang sering terdapat pada

tipe supraglotik. Dispnoe merupakan keluhan dan tanda bila tumor mulai

menutup plika vokalis. Disfagia, batuk darah, stridor, foeter ex ore, dan

benjolan di leher karena penyebaran limfogen merupakan gejala dan tanda

lanjut. Diagnosis ditegakakan melalui pemeriksaan laringoskopi dengan

biopsi.

Penanganan

Radioterapi dilakukan pada stadium T1-T2 tipe glotik dan

supraglotik bila pita suara masih bergerak. Radioterapi juga diberikan

sebagai terapi adjuvant setelah laringektomi total kuratif mengakibatkan

penderita kehilangan suara selamanya. Kordektomi merupakan tindakan

bedah terbatas yang dianjurkan pada stadium Tis, dan stadium T1 di pita

suara. Laringektomi parsial merupakan operasi terbatas yang dapat

dilakukan pada tumor yang terbatas di supraglotik atau bilamana hanya

satu sisi laring yang terserang.

KARSINOMA NASOFARING

Kejadianya lebih dari separuh kejadiaan semua karsinoma di

daerah leher dan kepala. Insidens yang tinggi ini dihubungkan dengan

kebiasaan makan, lingkungan, dan virus Epstein-Barr.

Gambaran klinik

Kadang hanya ada keluhan ringan seperti nyeri kepala atau

pendengaran kurang, bahkan sering tidak ada kuluhan sama sekali

27

Page 28: 131264464 Benjolan Di Leher

sehingga metastasis di leher merupakan tanda pertama. Gejala dan tanda

yang mungkin didapat adalah epistaksis, tinnitus dan tuli. Tidak jarang

penderita datang dengan keluhan juling dan bengkak leher bagian kranial

bilateral. Bila penyakit telah lanjut keluhan berupa rinolalia, eksoftalmus

dan trismus. Pada leher bagian cranial terdapat benjolan medial terhadap

m. sternokleidomastoideus yang akhirnya membentuk massa besar hingga

kulit mengkilat. Tanda neurologis sering muncul berupa paresis atau

paralysis dari saraf II, IV, V, dan VI (sindrom petrosfenoidal) karena

tumor ini berada di daerah keluarnya saraf tersebut serta saraf otak lain

dari dasar tengkorak. Gangguan saraf IX, X, XI, XII, serta saraf simpatis

servikal disebut sindrom parafaringeal. Infiltrasi pada saraf simpatis di

leher menimbulkan sindrom Horner seperti miosis, enoftalmus dan ptosis.

Penanganan

Radioterapi diberikan berupa penyinaran leher kiri dan kanan

karena umunya penyebaran terjadi bilateral. Terapi adjuvant berupa

kemoterapi dapat menghasilkan perbaikan yang berarti untuk waktu yang

terbatas.

3. NEOPLASMA SEKUNDER (TUMOR METASTATIK)

Mungkin karena sangat vaskularitas, metastasis timbul dalam thyroidea

dan dalam kebanyakan kasus timbul dari hipernefroma. Melanoma, karsinoma

pankreas serta tumor bronchus dan gastrointestinalis kadang-kadang

bermetastasis ke thyroidea. Gejala dari metastasis ini biasanya ditutupi oleh

tumor primer dan timbunan sekunder lain serta penyakit primer dan timbunan

sekunder lain serta penyakit thyroidea biasanya mempunyai akibat yang kecil.

Metastasis tumor di kelenjar limf leher barasal dari karsinoma di kepala atau

leher seperti karsinoma nasofaring, tiroid, tonsil, lidah, sinus maksilaris, dan

kulit kepala. Kelenjar supraklavikular menerima metastasis melalui duktus

torasikus, terutama dari karsinoma lambung, ovarium, dan bronkus. Kelenjar

teraba keras, tidak nyeri, mulanya soliter, kemudian dapat multiple unilateral

atau bilateral, dan bila berlanjut akan melekat dengan jaringan sekitar. Bila

28

Page 29: 131264464 Benjolan Di Leher

saling melekat akan terjadi massa yang massif dan sulit digerakan dengan

tanda penekanan ke sekitarnya, misalnya sesak nafas, disfagia, bendungan

vena, dan paresis pleksus serviobrakialis. Diagnosis ditegakkan melalui biopsi

kelenjar dan dengan mencari tumor primernya yang kadang tersembunyi atau

tidak diketahui (MUP syindrome: m matastatic of unknown primary

syndrome). WINEGAR & GRAFFIN (1973) menyimpulkan bahwa

kebanyakan kasus dari tumor metastasis di leher, yang tumor primernya

tersembunyi maka terapi yang terbanyak adalah operatif sebagai permulaan

suatu management yang terbaik. Kesimpulan ini juga dibuat oleh

MARCHENTA dkk (1963) dengan indikasi : (15,16)

1. Tumor masih operable

2. Tumor terletak didaerah leher

3. Secara histology, tumor termasuk dalam grade I-II

dan sebagai kontraindikasi operasi adalah

1. Tumor besar dan fixed

2. Tumor di daerah mastoid

3. Carcinoma jenis anaplastik

4. Terletak supraclavicular dan fixed

Terhadap tumor leher ini terapi dibagi atas 3 golongan besar, yaitu:

Operasi

Radioterapi

Terapi kombinasi

III. 5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

29

Page 30: 131264464 Benjolan Di Leher

Ultrasonografi dapat dilakukan untuk membedakan nodul kistik atau

padat, dan menentukan volume tumor. Pemeriksaan Roentgen berguna untuk

melihat dorongan dan tekanan pada trakea serta klasifikasi di dalam jaringan

tiroid. Foto thoraks dibuat untuk melihat kemungkinan penyebaran ke

mediastinum bagian atas atau ke paru. Pemeriksaan radioaktif tiroid dilakukan

dengan yodium 131. Berdasarkan yodium yang di tangkap oleh nodul tiroid

dikenal nodul dingin, yaitu nodul yang menangkap yodium lebih sedikit di

bandingkan dengan sel kelenjar normal, atau tidak menangkap sama sekali. Nodul

hangat menangkap yodium radioaktif sama banyaknya dengan sel kelenjar normal

dan, dan nodul panas menangkap yodium radioaktif lebih banyak. Karsinoma

papilare biasanya kurang atau sama sekali tidak menangkap yodium. Biopsi

aspirasi jarum halus dapat di lakukan tetapi ketepatan diagnosis sangat bergantung

pada kejelian ahli patologi dan sitologinya.(16)

30

Page 31: 131264464 Benjolan Di Leher

gambar 3.6 diagnostik banding benjolan dileher

31

Page 32: 131264464 Benjolan Di Leher

BAB IV

KESIMPULAN

Setiap benjolan yang terdapat dileher harus dipikirkan akan kemungkinan suatu

keganasan atau metastasis dari tumor primer ditempat lain. Tumor leher dibagi atas tumor

leher media yang bersifat solid dan kistik ; dan tumor leher lateral yang juga bersifat

solid dan kistik. Kanker kepala dan leher mencakup berbagai kelompok tumor biasa yang

sering kali agresif dalam perilaku biologis mereka. Selain itu, pasien dengan kanker

kepala dan leher sering berkembang tumor primer kedua.

Tumor ini terjadi pada tingkat tahunan sebesar 3% - 7% dan 50% - 75% dari

kanker baru seperti terjadi disaluran aero digestive atas atau paru-paru. Oleh karena itu

diperlukanlah pemeriksaan seperti ultrasonografi untuk membedakan nodul kistik atau

padat, dan menentukan volume tumor. Pemeriksaan rongent berguna untuk melihat

dorongan dan tekan pada trakea serta klasifikasi didalam jaringan tiroid. Foto thorax

dibuat untuk melihat kemungkinan penyebaran ke mediastinum bagian atas atau ke paru.

32

Page 33: 131264464 Benjolan Di Leher

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepard E.A, Nurbaiti Iskandar, Bashiruddin J, Restuti R.D. Buku Ajar Ilmu

Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 6. Jakarta. Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia 2007. h 94-110.

2. Netter FH. Atlas of Human Anatomy. Summit, NJ : CIBA-GEIGY Corp; 1989

3. George L. Adams, Lawrence R. Boeis, et al. Buku ajar penyakit THT Boeis.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Cetakan ketiga edisi ke enam 2000; (VI): 3-39,

hal 119-139.

4. Arsyad E, Iskandar N, Basihiruddin J, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

Tenggorok. Edisi keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2007.h104-10.

5. Ballenger, John Jacob. Disease of The Nose Throat Ear Head and Neck. Lea &

Fabiger 14th edition. Philadelphia 1991.

6. Pincus RL. Congenital Neck Masses and Cysts. In: Head & Neck Surgery –

Otolaryngology, 3rd ed., Bailey BJ (Ed), Lippincott Williams & Wilkins, New

York 2001. p.933.

7. Maran AGD. Benign diseases of the neck. Dalam : Scott-Brown's

Otolaryngology. 6th ed. Oxford : Butterworth - Heinemann, 1997; 5/16/1-4.

8. Montgomery WW. Surgery of the Upper Respiratory System. 2nd ed. Vol. II.

Philadelphia : Lea & Febiger, 1989; 88.

9. Colman BH. Disease of Nose, Throat and Ear and Head and Neck, A Handbook

for Students and Practitioners. 14thed. Singapore : ELBS, 1987; 183.

10. Ellis PDM. Branchial cleft anomalies, thyroglossal cysts and fistulae. Dalam :

Scott-Brown's Otolaryngology. 6th ed. Oxford: Butterworth � Heinemann, 1997;

6/30/8-12.

11. Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 13.

Jilid 1. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. THT FKUI. Jakarta : Bina Rupa Aksara,

1994; 295-6, 381-2.

33

Page 34: 131264464 Benjolan Di Leher

12. Damijanti T, Suparjadi S, Samsudin. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di

UPF THT RSDK Semarang Th. 1983 - 1985. Dalam : Kumpulan Naskah Konas

VI Perhati. Ujung Pandang. 1986; 760-7.

13. Spencer WR, Josephsons JS. Thyroglossal duct cyst: the New York Eye and Ear

Infirmary experience and a literature review. Ear Nose Throat J 1998; 77:642.

14. Horrowitz Z, Talmi YP, Hoffman HT, et al. Patterns of Metastases to the upper

jugular lymph nodes (the ”submuscular recess”). Head Neck 1998; 20:682.

15. Robbins KT, Fried MP. Cervical metastatic squamous carcinoma of unknown or

occult primary source. Head Neck 1990;12:440.

16. Donald PJ. Current trends in the diagnosis and management of head and neck

paragangliomas. Curr Opin Otolaryngology Head Neck Surgery 2005;13:339.

34