wrap up dehidrasi

Click here to load reader

Post on 05-Dec-2014

78 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

just for help

TRANSCRIPT

WRAP UPDEHIDRASI

Kelompok A-13

Ketua Sekretaris

: Abd. Halim Gazali H. : Dian Suciaty Annisa Abdi Ridha Astuti Chairunnisa Cindy Dwi Primasanti Gisda Azzahra Intan Dwi Susanti Izzam Qalbie Hanifa Nurul Ula

(1102012001) (1102012064) (1102012002) (1102012031) (1102012045) (1102012046) (1102012101) (1102012129) (1102012135) (1102012148)

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI 2012-2013

SKENARIO 1 DEHIDRASI Seorang remaja 19 tahun dibawa ke IGD RS YARSI karena pingsan setelah berolahraga. Pada pemeriksaan fisik : tampak lemas, bibir dan lidah kering. Sebelum dibawa ke rumah sakit, temannya telah memberikan larutan pengganti cairan tubuh. Di RS, penderita segera diberikan infus cairan elektrolit. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan : Kadar Natrium : 130 mEq/L (Normal = 135-147), Kalium : 2,5 mEq/L (N = 3.5-5.5) dan Klorida : 95 mEq/L (N = 100-106). Setelah kondisi membaik pasien diperbolehkan pulang dan dianjurkan untuk minum sesuai dengan etika Islam.

1

SASARAN BELAJAR

LI. 1. Mempelajari dan Memahami Cairan Tubuh dan Larutan LO 1.1 LO 1.2 LO 1.3 LO 1.4 LO 1.5 Menjelaskan dan memahami definisi cairan dan larutan Memahami dan menjelaskan klasifikasi cairan dan larutan Memahami dan menjelaskan sifat cairan dan larutan Memahami dan menjelaskan factor-faktor mempengaruhi solute Memahami dan menjelaskan perbedaan cairan dan larutan

LI. 2. Mempelajari dan Memahami Keseimbangan Cairan Tubuh LO 2.1 LO 2.2 LO 2.3 LO 2.4 Memahami dan menjelaskan mekanisme cairan tubuh Memahami dan menjelaskan kadar normal cairan tubuh Memahami dan menjelaskan penyebab gangguan cairan tubuh Memahami dan menjelaskan terapi yang diberikan pada gangguan cairan tubuh

LI. 3. Mempelajari dan Memahami Dehidrasi LO 3.1 LO 3.2 LO 3.3 LO 3.4 LO 3.5 Memahami dan menjelaskan defenisi dehidrasi Memahami dan menjelaskan gejala dehidrasi Memahami dan menjelaskan penyebab dehidrasi Memahami dan menjelaskan klasifikasi dehidrasi Memahami dan menjelaskan pengobatan yang diberikan pada dehidrasi

LI. 4. Mempelajari dan Memahami Dehidrasi pada Anak LO 4.1 LO 4.2 LO 4.3 LO 4.4 Memahami dan menjelaskan defenisi dehidrasi pada anak Memahami dan menjelaskan penyebab dehidrasi pada anak Memahami dan menjelaskan manifestasi klinik dehidrasi pada anak Memahami dan menjelaskan terapi yang diberikan pada dehidrasi pada anak

LI. 5. Mempelajari dan Memahami Mineral LO 5.1 LO 5.2 LO 5.3 LO 5.4 LO 5.5 Memahami dan menjelaskan defenisi mineral Memahami dan menjelaskan klasifikasi mineral Memahami dan menjelaskan sumber kebutuhan pada mineral Memahami dan menjelaskan eksresi pada mineral Memahami dan menjelaskan gangguan pada mineral2

LI. 6. Mempelajari dan Memahami Gangguan Keseimbangan Cairan Elektrolit LO 6.1 LO 6.2 LO 6.3 LO 6.4 Memahami dan menjelaskan defenisi gangguan keseimbangan cairan elektrolit Memahami dan menjelaskan klasifikasi gangguan keseimbangan cairan elektrolit Memahami dan menjelaskan manifestasi klinik pada gangguan keseimbangan cairan elektrolit Memahami dan menjelaskan terapi yang diberikan pada gangguan keseimbangan cairan elektrolit

LI. 7. Mempelajari dan Memahami Etika Minum dalam Islam

3

LI. 1. Mempelajari dan Memahami Cairan Tubuh dan Larutan LO 1.1 Menjelaskan dan memahami definisi cairan dan larutan Cairan Cairan adalah bahan yang langsung mengalir secara alamiah, bukan padat atau gas.Tubuh manusia sebagian besar terdiri atas cairan, persentasenya dapat berubahtergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Pada bayi usia 1 tahunmengandung air sebanyak 70-75%. Seiring dengan pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan terhadap berat badan berangsur-angsur turun yaitu pada lakilakidewasa 50-60% berat badan, sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan. Larutan Larutan adalah campuran yang homogen dari dua atau lebih macam zat yang terdiri dari solute ( zat terlarut) dan solvent ( zat pelarut) Secara teoritis berdasarkan definisi larutan maka ada sembilan kemungkinan macam larutan. LO 1.2 Memahami dan menjelaskan klasifikasi cairan dan larutan Cairan

Cairan tubuh didistribusi antara dua kompartemen cairan utama : kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular. 1) Cairan Intraselular Cairan intraselular (intracellular fluid) adalah cairan yang terdapat dalam sel tubuh. Volume lebih kurang 33% berat badan (60% air tubuh total). Kandungan air intrasel lebih banyak disbanding ekstrasel. Presentase volume cairan intra sel pada anak lebih kecil dibandingkan orang dewasa karena jumlah sel lebih sedikit dan ukuran sel lebih kecil. Cairan intrasel berperan pada proses menghasilkan, menyimpan, dan penggunaan energy serta perbaikan sel. Selain itu, cairan intrasel juga berperan dalam proses replikasi dan berbagai fungsi khusus antara lain sebagai cadangan air untuk mempertahankan volume dan osmolalitas cairan ekstrasel. Kandungan Elektrolit Intrasel4

Dalam cairan intrasel, kation utama adalah kalium, sedangkan anion utama adalah fosfat dan protein. Ion K+, Mg2+ dan PO42+ merupakan solute yang dominan untuk menimbulkan efek osmotic pada cairan intrasel. Ion K+ juga penting dalam proses niolistrik. Konsentrasi ion kalsium intrasel sangat rendah. 2) Cairan Ekstraselular Cairan Ekstraselular adalah cairan yang terdapat diluar sel dengan kapasitas 20% dari berat orang dewasa. Cairan ekstraselular terbagi atas : a. Cairan Interstitial : cairan yang terdapat di sekitar sel dengan kapasitas 15% dari berat orang dewasa. b. Cairan Intravaskuler : cairan yang ada di dalam pembuluh darah dengan kapasitas 5% dari berat badan orang dewasa. c. Cairan Transelular : cairan yang terdapat di rongga khusus dari tubuh dengan kapasitas 1-2 L. Contoh dari cairan transelular adalah cairan serebrospinal, pericardial, pleural, sinovial, cairan intrakoular, dan sekresi ginjal. Kandungan Elektrolit Ekstraselular Komposisi bahan yang terlarut dalam subkompartemen cairan ekstrasel (plasma dan cairan interstisium) ternyata berbeda. Hal ini tersebut disebabkan oleh pengaruh keseimbangan Gibbs-Donan (pada kondisi keseimbangan, konsentrasi pasangan kation dan anion yang dapat berdifusi yang dihasilkan pada salah satu sisi membrane akan sana dengan produksi kation dan anion pada sisi lainnya), kadarnya lebih tinggi pada cairan interstisium, kecuali untuk ion Ca2+ dan Mg2+ karena ion ini banyak yang terikat pada protein plasma. Larutan a) Berdasarkan definisi larutan maka ada sembilan kemungkinan macam larutan , yaitu : Solvent No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Fasa Cair Cair Cair Padat Padat Padat Gas Gas Gas Contoh Air Aseton Air Pd Cd Au O2 Udara O2 Solut Fasa Cair Gas Padat Gas Cair Padat Gas Cair Padat Contoh Alkohol Asetilen Garam H2 Hg Ag He Minyak wangi naftalen Spiritus Zat untuk las Larutan garam Gas oven Amalgam gigi Sinsin Gas untuk menyelam Spray Kamfer5

Larutan

b) Larutan berdasarkan kejenuhannya terbagi atas : Larutan tak jenuh (Q < Ksp) : larutan yang solutenya kurang dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Larutan jenuh (Q = Ksp) : larutan yang partikel-partikel terlarutnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi. Larutan lewat jenuh (Q > Ksp) : larutan yang tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut sehingga menjadi endapan. c) Bedasarkan daya hantar listriknya, larutan dibagi menjadi: Larutan elektrolit : Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, karena zat terlarutnya mampu menghasilkan ionion. Larutan elektrolit terbagi menjadi: Elektrolit Kuat: larutan yang memiliki daya hantar listrik kuat dengan nilai alfa = 1. Elektrolit lemah: larutan yang daya hantar listriknya lemah dengan derajat ionisasi diantara 0 dan 1. Larutan non elektrolit : Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik, karena zat terlarutnya tidak mampu menghasilkan ion-ion. d) Larutan berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut : Larutan Pekat : larutan yang terbentuk dari solute yang relative lebih banyak dari solventnya. Larutan Encer : larutan yang terbentuk dari solute yang relative sedikit dari solventnya. e) Larutan berdasarkan kemampuan menyerapnya : Larutan Ideal : larutan yang memenuhi hukum Roult. Pada larutan ideal tidak terjadi penyerapan atau pelepasan kalor pada saat pencampuran larutan. Larutan tak ideal : larutan yang tidak memenuhi hukum Roult. Larutan tak ideal dibagi menjadi : Larutan yang mengalami pelepasan kalor pada saat pencampuran sehingga merupakan larutan yang mengalami penyimpangan positif dari hukum Roult. Larutan yang mengalami penyerapan kalor pada saat pencampuran yang menghasilkan penyimpangan negative dari hokum Roult. LO 1.3 Memahami dan menjelaskan sifat cairan dan larutan Sifat Cairan a) Tekanan Uap Tekanan gas yaitu tekanan uap cairan ketika kesetimbangan uap cair dicapai, ditentukan hanya oleh suhunya. Baik jumlah cairan maupun volume di atas cairan tidak mempunyai asal akibat cairannya masih ada. Dengan kata lain, tekanan uap cairan dalam ruang ditentukan oleh jenis cairan dan suhunya. Tekanan uap cairan meningkat dengan meningkatnya suhu. Pola peningkatannya khas untuk cairan tertentu.6

b) Titik Didih Wujud saat gelembung terbentuk dengan giat disebut dengan mendidih, dan temperatur saat mendidih ini disebut dengan titik didih. Titik didih pada tekanan atmosfer 1 atm disebut dengan titik didih normal. Titik didih akan berubah bergantung pada tekanan atmosfer. Bila tekanan atmosfer lebih tinggi dari 1 atm, titik didih akan lebih tinggi dari titik didih normal dan sebaliknya. Titik didih adalah salah satu sarana untuk mengidentifikasi zat. Identifikasi zat kini dilakukan sebagian besar dengan bantuan metoda spektroskopi, tetapi data titik didh diperlukan untuk melaporkan cairan baru. Proses penguapan cairan dan mengkondensasikan uapnya di wadah lain dengan pendinginan disebut dengan distilasi. Metoda ini paling sering digunakan untuk memurnikan cairan. c) Titik Beku Bila temperatur cairan diturunkan, energi kinetik molekul juga akan menurun, dan tekanan uapnya pun juga akan menurun. Ketika temperatur menurun sampau titik tertentu, gaya antarmolekulnya menjadi dominan, dan gerak translasi randomnya akan menjadi lebih perlahan. Sebagai akibatnya, viskositas cairan menjadi semakin bertambah besar. Pada tahap ini, kadang molekul akan mengadopsi susunan geometri reguler yang disebut dengan keadaan padatan kristalin. Umumnya titik beku sama dengan titik leleh, yakni suhu saat bahan berubah dari keadaan padat ke keadaan cair. Sifat Larutan a. Tekanan Uap Tekanan pada saat terjadinya kesetimbangan antara jumlah molekul yang berada dalam fasa uap dan jumlah molekul yang berada dalam fasa cair. Kesetimbangan uap-air yaitu harga tekanan uap tiap cairan tetap pada suhu tertentu. b. Tegangan permukaan Gaya pada permukaan cairan per cm yang melawan meluasnya permukaan. Terjadi pada antar muka : fasa cair-fasa gas dan fasa cair-fasa padat. c. Titik didih Suhu pada saat dimana fasa cair dan fasa uap berada dalam keadaan seimbang (mendidih). Titik didih suatu cairan tergantung pada sifat cairan dan tekanan atmosfer dimana cairan tersebut mendidih. d. Titik beku Suhu pada saat dimana fasa padat dan fasa cair berada dalam keadaan seimbang (membeku). Titik didih suatu cairan tergantung pada sifat cairan da tekanan atmosfir dimana cairan tersebut membeku. Tekanan gas yaitu tekanan uap cairan ketika kesetimbangan uap cair dicapai, ditentukan hanya oleh suhunya. Baik jumlah cairan maupun volume di atas cairan tidak mempunyai asal akibat cairannya masih ada. Dengan kata lain, tekanan uap7

cairan dalam ruang ditentukan oleh jenis cairan dan suhunya. Tekanan uap cairan meningkat dengan meningkatnya suhu. Pola peningkatannya khas untuk cairan tertentu. LO 1.4 Memahami dan menjelaskan factor-faktor mempengaruhi solute 1) Sifat dari solute dan solvent Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar juga. Misalnya garam-garam anorganik. 2) Cosolvensi Peristiwa kenaikan kelarutan zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. 3) Kelarutan Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. 4) Temperatur Kelarutan gas umumnya berkurang pada tempertaur yang tinggi. Misalnya jika air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar dari air, sehingga gas yang terlarut air tersebut menjadi berkurang.

5) Salting Out Peristiwa adanya zat terlarut tertentu mempunyai kelarutan lebih besar daripada zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena reaksi kimia. 6) Salting in Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. 7) Pembentukan kompleks Peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dalam pembentukan garam kompleks. LO 1.5 Memahami dan menjelaskan perbedaan cairan dan larutan Cairan Heterogen tetapi terlihat homogen Homogen Larutan

8

Ukuran antara 10-9-10-7 2 fasa

Ukuran kurang dari 1nm ( 7.1 adanya efek intropik negative, aritmia, kontriksi vena oerifer, dilatasi arteri perifer, penurunan tekanan darah, penurunan aliran darah ke hati, kontriksi pembuluh darah paru. 4. Alkalosis Metabolik Alkalosis metabolic memberikan dapak pada system kardiovaskular, pulmonary, dan fungsi metabolic. Curah jantung menurun, depresi ventilasi sentral, kurva saturasi oksi-hemoglobin bergeser ke kiri, hypokalemia dan hipofosfatemia. LO 6.4 Memahami dan menjelaskan tatalaksana yang diberikan pada gangguan keseimbangan cairan elektrolit Tatalaksana Asidosis Respiratorik Tatalaksana asidosis respiratorik adalah mengatasi penyakit dasarnya dan bila terdapat hipoksemia harus diberikan terapi oksigen. Asidosis respiratorik dengan hipoksemia berat memerlukan ventilasi mekanik baik invasive maupun noninvasive. Pemberian oksigen pada pasien dengan retensi CO2 kronik dan hipoksia harus berhati-hati karena pemberian oksigen dengan FiO2 yang tinggi dapat mengakibatkan penurunan minute volume dan semakin meningkat PCO2. pasien dengan retensi CO2 kronik umumnya sudah beradaptasi dengan hiperkapnia kronik dan stimulus penapasannya adalah hipoksemia sehingga pemberian oksigen harus dilakukan secara hati-hati dan ditunjukkan dengan target kadar PaO2 >50 mmHg dengan FiO2 yang rendah. Pada pasien asidosis respiratorik kronik, penurunan PCO2 harus berhati-hati untuk menghindari alkalosis yang berat mengingat umurnya sudah ada kompensasi ginjal. Pada30

asidosis respiratorik yang terjadi bersamaan dengan alkalosis metabolic atau asidosis metabolic primer, tatalaksana terutama ditunjukkan untuk kelainan primernya. Tatalaksana Alkalosis Respiratorik Pada kondisi normal, pH darah berkisar antara 7.35-7.45. Pada kondisi pH 7, terjadi kontraksi otot skelet yang tidak terkendali. Tatalaksana alkalosis respiratorik ditujukan terhadap kelainan primernya. Alkalosis yang disebabkan oleh hipoksemia diatasi dengan memberikan terapi oksigen. Alkalosis respiratorik yang disebabkan oleh serangan panic diatasi dengan menenangkan pasien atau memberikan pernapasan menggunakan system air rebreathing. Overventilasi pada pasien dengan ventilasi mekanik diatasi dengan mengurangi minute ventilation atau dengan menambahkan dead space. Alkalosis respiratorik yang disebabkan oleh hipoksemia diterapi dengan oksigen dan memperbaiki penyebab gangguan pertukaran gas. Koreksi alkalosis respiratorik dengan menggunakan rebreathing mask harus berhati-hati, terutama pada pasien dengan kelainan susunan saraf pusat, untuk menghindari ketidakseimabangan pH cairan serebrospinal dan pH perifer. Tatalaksana Asidosis Metabolik Pemberian infus bikarbonat menimbulkan problem pada pasien-pasien dengan asidosis, antara lain kelebihan pemberian cairan, alkalosis metabolic, dan hypernatremia. Bikarbonat mampu melakukan kompensasi yang menurun misalnya pada penyakit paru obstruktif kronik dengan keterbatasan melakukan eliminasi CO2. Pada kasus ini, sejumlah kecil bikarbonat diperlukan untuk mencegah terjadinya gagal napas dan mengurangi kebutuhan intubasi serta penggunaan ventilator mekanik. Tatalaksana Alkalosis Metabolik Alkalosis Metabolik bertujuan meningkatkan minute ventilation, meningkatkan tekanan oksigen arterial dan mixed venous oxygen tension serta menurunkan konsumsi oksigen. Oleh karena itu, sangat penting melakukan koreksi pada pasien kritis. Pada alkalosis metabolic, disebut letal bila pH darah lebih dari 7.7. Bila ada deplesi volume cairan tubuh, upayakan agar volume plasma kembali normal dengan pemberian NaCl isotonic. Bila penyebabnya hypokalemia, lakukan koreksi klorida kalium plasma. Bila penyebabnya hypokalemia, lakukan koreksi kalium plasma. Bila penyebabnya hipokloremia, lakukan koreksi klorida dengan pemberian NaCl isotonic. Bila penyebabnya adalah pemberian bikarbonat berlebihan, hentikan pemberian bikarbonat. Pada keadaan fungsi ginjal yang menurun atau edema akibat gagal jantung, kor pulmonal atau sirosis hati, koreksi dengan NaCl isotonic tidak dapat dilakukan karena dikhawatirkan dapat terjadi retensi natrium disertai kelebihan cairan (edema bertambah). Pada keadaan ini dapt diberikan antagonis enzyme anhydrase karbonat sehingga reabsopsi31

biakrbonat terhambat. Asetazolamid merupakan suatu penghambat anhydrase karbonat yang sangat efektif dalam mengatasi alkalosis metabolic. Dosis tunggal 500 mg (dewasa) dianjurkan untuk mengatasi kondisi alkalosis metbolik. Onset of action dicapai dalam waktu 1.5 jam dengan lama kerja berkisar 24 jam. Dosis ini dapat diulang bila diperlukan. Bila dengan antagonis enzim anhydrase karbonat tidak berhasil, dapat diberikan HCL dalam larutan isotonic selama 8-24 jam, atau larutan ammonium klorida, atau larutan arginine hidroklorida. Kebutuhan HCL dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :Kelebihan bikarbonat = 0.5 x berat badan x (HCO3 plasma 24)

LI. 7. Mempelajari dan Memahami Etika Minum dalam Islam Allah SWT telah menjadikan manusia butuh makanan dan minuman. Keduanya itulah yang melanggengkan kehidupan manusia. Apabila seorang manusia tidak mendapatkan makanan dan minuman niscaya ia akan mati. Oleh karena itulah, ia pasti membutuhkan minum. Akan tetapi, hendaknya ia beradab dengan adab-adab tertentu berkaitan dengan minum.

Di antara adab-adab minum adalah: 1. Niat yang baik Hendaknya seseorang minum dengan niat untuk menguatkan badannya guna mentaati Allah serta menjaga kesehatan. Dengan demikian, ia akan mendapatkan pahala dan minumnya itu menjadi ibadah yang berpahala. Dalam hadits disebutkan: Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. 2. Membaca Tasmiyah Membaca tasmiyah maksudnya membaca bismillah, sebagaimana ketika seseorang hendak makan. Sebab, hal itu dapat mengusir syaitan dan mendatangkan berkah, sebagaimana telah dijelaskan pada adab makan. 3. Minum dengan Tangan Kanan Sabda Rasulullah SAW: Apabila salah seorang dari kalian makan, hendaknya ia makan dengan tangan kanannya dan apabila ia minum, hendaknya dengan tangan kanannya. Sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan tangan kirinya. 4. Minum dengan Duduk Semampu Mungkin Nabi SAW melarang minum dengan berdiri. Rasulullah SAW bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian minum dengan berdiri. Apabila ia lupa, hendaknya ia memuntahkannya. (HR Muslim) Rasulullah SAW juga bersabda: Seandainya orang yang minum dengan berdiri itu mengetahui apa yang ada di perutnya, niscaya ia akan memuntahkannya. (HR Ahmad)

32

Demikian juga beliau melarang (dalam lafazh lain jazara) minum dengan berdiri. Maka pada prinsipnya minum dengan duduk lebih utama daripada minum dengan berdiri. 5. Minum Tiga Kali Hendaknya seseorang minum sebanyak tiga kali. Demikianlah yang biasa dilakukan oleh Nabi SAW. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa beliau SAW minum dengan tiga nafas, menyebut nama Allah pada awalnya, dan memuji Allah pada akhirnya. (HR Ibnus Sunni) Inilah sunnah, yakni seseorang membaca bismillah lalu minum sesuatu, kemudian membaca Alhamdulillah dan menjauhkan bejana (gelas) dari mulutnya. Setelah itu, membaca bismillah untuk kedua kalinya lalu minum, kemudian membaca Alhamdulillah dan menjauhkan gelas dari mulutnya untuk bernafas. Sesudah itu, membaca bismillah lalu minum untuk ketiga kalinya, kemudian menjauhkan gelas dari mulutnya dan mengucapkan Alhamdulillah. Hadist ini menunjukkan bahwa seseorang yang minum hendaknya membaca bismillah setiap kali meneguk minuman dan membaca alhamddulillah setelah meminumnya. Dalam hadist lain disebutkan: Beliau minum dalam tiga kali nafas. Apabila mendekatkan gelas ke mulutnya, beliau menyebut nama Allah, sedangkan apabila menjauhkannya, beliau memuji Allah Taala. Beliau melakukan seperti itu tiga kali. Sunnah ini memiliki faedah kesehatan yang sangat banyak. Sebagian dokter menyebutkan bahwasanya bagian rongga dalam manusia biasanya suhunya lebih panas daripada suhu air minum. Oleh karena itu, hendaknya seorang minum sedikit, lalu ditambah, baru kemudian minum hingga kenyang sehingga rongga dalam tubuhnya bisa menyesuaikan dengan suhu air yang masuk. Minum yang pertama lebih sedikit dari yang kedua, baru kemudian ia boleh minum sepuasnya pada kali yang ketiga. Rasulullah SAW melakukan hal itu semata-mata untuk mengajarkan kepada manusia perkara yang bermanfaat bagi mereka. 6. Minum dengan Cara Menghirup Hendaknya seseorang minum dengan cara yang lebih dekat kepada menghirup. Janganlah ia meneguk minuman seperti unta, tetapi hendaknya ia membuka kedua bibirnya sedikit. Perbuatan itu akan mendatangkan beberapa faedah: 1) Sedikitnya udara yang masuk bersama minuman, yang bisa menyebabkan kembung atau masuk angina. 2) Orang minum dengan dapat merasakan lezatnya minuman dengan cepat. Dia juga dapat dengan cepat membedakan apakah minuman itu masih bagus dan layak diminum atau sudah basi dan tidak enak lagi rasanya. Adapun orang yang meneguk langsung minumannya tidak akan dapat membedakan rasa minuman itu kecuali setelah ia meminumnya dalam jumlah banyak. 3) Apabila pada minuman itu terdapat serangga atau sesuatu yang jatuh, maka ia akan merasakannya ketika membuka kedua bibirnya. Berbeda dengan orang yang menenggak minumannya, ia tidak akan merasakannya kecuali setelah minuman itu masuk ke dalam kerongkongannya. 7. Bernafas Ketika Minum Apabila Nabi SAW minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda: Yang demikian lebih segar, lebih nikmat, dan lebih mengenyangkan. (HR Al-Bukhari)33

Janganlah seseorang minum sepuasnya dalam sekali nafas, namun hendaknya ia bernafas di sela-sela tegukannya sebagaimana telah dijelaskan. 8. Tidak Bernafas dalam Gelas Apabila salah seorang dari kalian minum, maka janganlah ia bernafas di dalam gelas. (HR Al-Bukhari) 9. Tidak Menghembus dalam Gelas Berdasarkan hadits yang telah lalu diketahui bahwa air minum dapat menyerap bau nafas. Sesungguhnya hembusan lebih parah daripada nafas dalam menyebarkan bau. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam Fat-hul Baari: Menghembus dalam keadaan seperti ini lebih parah daripada bernafas. 10. Menjauhkan Gelas dari Mulut Ketika Bernafas Jauhkanlah gelas dari mulutmu, kemudian bernafaslah. (HR Malik) 11. Tidak Minum dari Mulut Bejana Nabi SAW melarang minum dari mulut bejana. (HR Al-Bukhari) 12. Tidak Minum Berlebihan

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (QS Al-Araf:31)

Rasulullah SAW bersabda: Orang Mukmin minum dengan satu lambung, sedangkan orang kafir minum dengan tujuh lambung. (HR Muslim) 13. Memuji Allah Setelah Minum Apabila Nabi SAW makan atau minum, beliau mengucapkan: Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, minum, dan memudahkannya untuk dicerna serta memberikannya jalan keluar. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba yang makan makanan lalu memuji Allah atasnya atau minum minuman lalu memuji Allah atasnya. 14. Mengedarkan Gelas Kepada Orang yang Berada di Sebelah Kanan dan Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: Yang di sebelah kanan yang lebih berhak. (HR Al-Bukhari) 15. Meminta Izin Kepada Orang yang Berada di Sebelah Kanan Apabila Ingin Memberikan Kepada Selainnya 16. Hendaknya Pemberi Minuman Minum Paling Akhir Rasulullah SAW bersabda: Orang yang menyodorkan minuman adalah yang terakhir minum. (HR Ahmad) 17. Haram Minuman dengan Bejana (Gelas) yang Terbuat dari Emas atau Perak Rasulullah SAW bersabda:

34

Siapa yang minum dengan bejana dari emas atau perak, sesungguhnya dia telah menuangkan api Jahannam ke dalam perutnya. (HR Muslim) 18. Menjauhi Minuman yang Haram Jauhilah minuman yang haram seperti khamer atau minuman-minuman lainnya yang memabukkan. Sebab, minuman seperti itu buruk sehingga meminumnya termasuk perbuatan dosa besar. 19. Doa Sebelum Minum Susu Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang minum susu, maka ucapkanlah: Allahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah untuk kami) karena tidak ada sesuatu yang dapat mengganti (mewakili) makanan dan minuman (sekaligus) kecuali susu). 20. Sunnah Minum Susu Sapi Nabi SAW bersabda: Minumlah susu sapi karena sapi memakan dari setiap daun pepohonan. Susu sapi juga berfungsi sebagai obat bagi setiap penyakit. (HR Al-Hakim) 21. Berkumur-kumur Setelah Minum Susu Beliau SAW bersabda: Apabila kalian minum susu, maka berkumurlah karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut. (HR Ibnu Majah) 22. Disunnahkan Minum Minuman yang Manis dan Dingin Disunnahkan minum minuman yang manis dan dingin, seperti jus atau yang sejenisnya. Rasulullah SAW menyukai minuman yang manis dan dingin. (HR Ahmad)

23. Tidak Membuang Minuman yang Terjatuhi Lalat Rasulullah SAW bersabda: Apabila lalat jatuh ke dalam gelas salah seorang dari kalian, maka celupkanlah lalat itu karena pada salah satunya terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terkandung obat penawar. Sesungguhnya yang dihindari adalah sayap yang terdapat padanya penyakit, maka celupkanlah lalat itu seluruhnya lalu buanglah. (HR Abu Dawud)

35

ANALISA TERHADAP SKENARIO 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menjelaskan bagaimana mekanisme cairan tubuh ? Menjelaskan bagaimana keseimbangan cairan tubuh ? Menjelaskan bagaimana dehidrasi secara umum ? Menjelaskan bagaimana dehidrasi pada anak ? Menjelaskan dan menyebutkan apa saja komponen dari mineral ? Menyebutkan dan menjelaskan apa saja gangguan pada keseimbangan cairan elektrolit ?

36

KESIMPULAN

Cairan Tubuh

Kurangnya Cairan Tubuh Etika minum dalam islam

37

Penyebab

Dehidrasi

Gejala

Pengobatan dan terapi

Kurangnya natrium, kalium, klorida

Kadar Normal

Kelebihan

Kekurangan

DAFTAR PUSTAKA

Akmal M.,dkk.2010.Ensiklopedi Kesehatan.Jogjakarta: Ar-ruzz media Ambarwati, Sri Ayu. 2001. http://www.kompas.com/kesadaran/0307/14/103451 Cairan, elektrolit, dan mineral. http://www.pssplab.com/journal/01.pdf Carpenito, Lynda Juall. 1997. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC. Davey,Patrick.2005.At Glance Medicine.Jakarta: Penerbit Erlangga Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. jakarta : EGC. Dorland,W.A.Newman.2002.Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29.Jakarta: EGC FKUI. 2008. Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam Basa edisi ke-2.38

Ganong WF.2002. Review of Medical Physiology, 21th ed.Gizi yang terkandung pada mineral. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PPT%20ILMU%20GIZIMINERAL.pdf

Home,Mima M. 2001.Keseimbangan cairan,elektrolit,dan asam basa edisi 2.Jakarta: EGC Ignatavicus, Donna D. Bayne, Marylin Varner. 1991. Medical Surgical Nursing.WB Saunders Company Inc.Keseimbangan garam. http://m.medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=286

Larutan. http://romdhoni.staff.gunadarma.ac.idMineral Makro. http://windarasiobar.wordpress.com/2009/12/09/mineral-makro/ Mineral untuk nutrisi tubuh. http://dokter-medis.blogspot.com/2009/06/mineral-untuk-nutrisi-tubuh.html Mineral. http://salimalways-salim2012.blogspot.com/2012/03/mineral.html

Nada, Abdulaziz bin Fathi as-Sayyid. 2007. Ensiklopedia Adab Islam Menurut Al-Quran dan As-Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii. Nelson,Waldo E.1999.Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1.Jakarta: EGCPengantar Cairan tubuh. http://www.katsanakes.com/2012/09/pembagian-cairan-tubuh.html

Prince, Sylive A. 1994. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC. S, Syukri. 1999.Kimia Dasar 1.Bandung: ITB. Sherwood L. (2001). Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem edisi 2. Jakarta: EGC Sifat Larutan. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/larutan/sifatlarutan/ Smeltzer, Suzzone, C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2. Edisi 8. Jakarta : EGC. Sudoyo,Aru W.,dkk.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V.Jakarta: Interna Publishing Sumardjo, Damin.Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran.

39

40