tinjauan pustaka pemeriksaan radiologis usus halus

Click here to load reader

Post on 11-Sep-2015

40 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

CT SCAN

TRANSCRIPT

14

TINJAUAN PUSTAKA PEMERIKSAAN RADIOLOGISUSUS HALUS

Oleh:Desy Handayani AFS100100015Marini Yusufina Lubis100100031M. Faqih Lazuardi 100100076Fadila Safira100100099M. Arief Pratama100100106

Pembimbing:dr. Elvita Rahmi Daulay, M.Ked (Rad), Sp.Rad (K)

DEPARTEMEN RADIOLOGIFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SUMATERA UTARA2014

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Taala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tinjauan pustaka yang berjudul Tinjauan Pustaka Pemeriksaan Radiologis Usus Halus.Selama penyusunan tinjauan pustaka ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan rasa hormat kepada:1. dr. Elvita Rahmi Daulay, M.Ked(Rad), Sp.Rad(K) selaku dosen pembimbing, yang telah sepenuh hati bersedia membimbing dengan sabar hingga tinjauan pustaka ini dapat selesai dengan baik.2. Seluruh Konsulen di Departemen Radiologis FK USU, yang telah memberi saran dan masukan yang membangun dalam penyusunan tinjauan pustaka ini.3. Seluruh Dokter yang mengikuti PPDS di Departemen Radiologis FK USU, yang turut serta memberikan pengarahan dan bimbingan untuk tinjauan pustaka ini.4. Seluruh Staf Departemen Radiologis FK USU, yang telah mendukung penulis dalam penyelesaian tinjauan pustaka ini.Penulis sangat menyadari tinjauan pustaka ini pasti tidak luput dari kekurangan, baik isi materi, pengetikan, penggunaan bahasa, maupun tata letak. Oleh karena itu, penulis memohon maaf dan menerima masukan berupa kritik dan saran yang membangun agar kelak kesalahan tersebut dapat diperbaiki dalam tulisan selanjutnya. Semoga tinjauan pustaka ini dapat berguna bagi kita semua, InsyaAllah.Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Medan, 20 Desember 2014

PenulisDAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................i

DAFTAR ISI..................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................1.1. Latar Belakang.............................................................................

11

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................2.1. Anatomi Usus Halus....................................................................2.2. Pemeriksaan Radiologis Usus Halus..................................... 2.2.1. Pemeriksaan Non Kontras........................................... 2.2.2. Pemeriksaan dengan Kontras.. 2.2.3. Pemeriksaan Non Konvensional 2.3. Kelainan Usus Halus............................................................223341214

BAB 3 PENUTUP.........................................................................................3.1. Kesimpulan..................................................................................3737

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................

38

iii

BAB 1PENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangSeorang dokter dalam melaksanakan profesinya amat memerlukan pemeriksaan radiologis sebagai salah satu penunjang pemeriksaan diagnostik, di samping pemeriksaan laboratorium, patologi anatomi dan mikrobiologi. Namun, komunikasi yang baik antara klinisi dan radiologis sangatlah penting karena radiologis harus mengerti masalah klinis pasien untuk melakukan pemeriksaan yang tepat dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan dengan benar. Selain itu, klinisi juga harus mengerti kekuatan dan keterbatasan hasil yang didapat dari pemeriksaan radiologis tersebut.Radiologis diagnostik adalah ilmu kedokteran yang memiliki spesialisasi dalam pencitraan tubuh manusia untuk mendiagnosis kelainan dengan menggunakan alat yang berhubungan dengan radiasi, magnetik, gelombang suara ultrasonik, nuklir, dan teknologi lainnya.Radiologis diagnostik dapat diterapkan hampir pada seluruh anggota tubuh manusia, seperti jantung, paru, tulang, saluran pencernaan, saluran kemih, hingga sistem pembuluh darah. Dalam tinjauan pustaka ini, akan dibahas pemeriksaan radiologis usus halus yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis ataupun menyingkirkan diagnosis banding suatu penyakit pada saluran pencernaan khususnya usus halus.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Usus HalusProses pencernaan dan penyerapan nutrisi makanan muncul di usus halus. Usus halus menyediakan luas permukaan yang besar untuk proses pencernaan dan penyerapan dan area diperbesar dengan adanya villi dan mikrovilli. Usus halus berdiameter 2,5 cm, panjang kira-kira 3 m.1Usus halus terdiri atas tiga bagian yaitu duodenum yang merupakan bagian terpendek. Kebanyakan daerah dudenum berada di retroperitoneum dan tidak memiliki mesenterium. Dimulai dari sfingter piloris dan diteruskan hingga 25 cm hingga mencapai jejunum. Jejunum memiliki panjang kira-kira 1 m hingga ileum. Jejunum dimulai dari ligamentum Treitz di abdomen kiri bagian atas. Ileum memiliki panjang 2 m hingga usus besar hingga mencapai sfingter iliocaecal. Bagian paling distal dari usus halus adalah ileum terminal dan merupakan bagian yang penting karena merupakan tempat predileksi penyakit pada usus halus yang cukup sering. 1, 2Suplai arteri sebagian besar berasal dari arteri mesenterika superior dan drainase vena berasal dari vena mesenterika superior. Dinding usus halus terdiri atas mukosa, submukosa propria muskularis, tunika serosa, dan ketebalannya tidak melebihi 1-2 mm.2Usus halus terletak memanjang dimulai setelah pilorus lambung dan berakhir di katup iliosekum.Usus halus terbagi atas duodenum, jejunum dan ileum. Duodenum terletak retroperitoneal dan tidak masuk ke dalam mesenterikum. Jejunum terletak pada perut bagian kuadran kiri atas dan difiksasi longgar ke dinding posterior abdomen oleh mesenterikum. Ileum terletak pada perut bagian kuadran kanan bawah dan juga difiksasi oleh mesenterikum.2 Pada pemeriksaan radiologis, duodenum dan jejunum memperlihatkan gambaran feathery appearance (seperti bulu-bulu), sedangkan ileum memperlihatkan gambaran tubular appearance (seperti tabung atau selang). 4

Gambar 2.1. Anatomi Usus Halus

2.2. Pemeriksaan Radiologis Usus Halus Pemeriksaan secara radiologis terhadap usus halus tetap menjadi penting meskipun berbagai kemajuan telah dicapai dalam bidang endoskopi.Pemeriksaan endoskopi serat optik tidak dapat memeriksa usus halus secara menyeluruh akibat struktur usus halus yang panjang dan bergelombang.3 Pemeriksaan radiologis untuk usus halus dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini.

2.2.1. Pemeriksaan Non Kontras Pemeriksaan abdomen tanpa menggunakan kontras bisa dilakukan berupa foto polos abdomen. Foto polos abdomen adalah suatu pemeriksaan tanpa menggunakan kontras dengan sinar X yang menggambarkan struktur dan organ didalam abdomen, yaitu lambung, hati, limpa, usus besar, usus kecil, dan diafragma. Indikasi dilakukannya foto polos abdomen adalah akut abdomen seperti obstruksi usus, perforasi saluran cerna, pankreatitis, batu ginjal atau batu empedu, dan distribusi feses. Pemeriksaan foto polos abdomen ini dilakukan tanpa persiapan. Pemeriksaan ini untuk melihat gambaran distribusi dari gas dalam usus serta kelainannya seperti udara bebas, fluid sinks, kidneys drop, transverse colon drops, small bowel drops, breasts drop, lower abdomen bulges, dan diaphragm descends.

Foto polos abdomen dapat dilakukan dalam 3 posisi, yaitu: 1. Berdiri, duduk, atau setengah duduk (erect) Sinar horizontal, proyeksi AP. Yang dinilai adalah gambaran udara, ciran dalam usus atau diluar usus, misalnya abses; gambaran udara bebas dibawah diafragma; dan gambaran cairn di rongga pelvis atau abdomen bawah.2. Tidur terlentang (supine) Sinar dari arah vertical dengan royeksi antero posterior. Yang dinilai adalah dinding abdomen, yang penting yaitu lemak preperitoneal kanan dan kiri baik atau menghilang; garis psoas kanan dan kiri, baik, menghilang atau bulging; batu yang radioopak, kalsifikasi atau benda asing yan radioopak; gambaran udara dalam usus dapat menendakan berbagai hal yaitu normal; pelebaran lambung, usus halus, dan kolon; penyebaran dari usus yang melebar; keadaan dinding usus; jarak antara 2 dinding usus yang berdampingan; dan kesuraman yang disebabakan oleh cairan diluar usus atau massa tumor.3. Left lateral decubitus (LLD) atau Sinar horizontal, proyeksi AP. Yang dinilai hampir sama pada posisi duduk, hanya udara bebas letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen.

2.2.2.Pemeriksaan dengan KontrasPada pemeriksaan dengan kontras, ada dua macam kontras yang digunakan, yaitu kontras positif dan kontras negatif. Kontras positif yang biasa digunakan adalah barium sulfat (BaSO4). Kontras positif lainnya yang sering dipakai adalah zat yang mengandung iodium. Untuk pemeriksaan ginjal, kandung empedu, pembuluh darah, limfe, dan sumsum tulang belakang digunakan zat yang mengandung iodium. Pada beberapa penyakit seperti morbus Hirschsprung dan atresia esofagus sering digunakan kontras yang mengandung iodium.2 Pada pemeriksaan dengan kontras negatif yang digunakan adalah udara, karena paling murah, bagus, alamiah, dan mudah didapat. Sebagai kontras negatif pengganti dalam hal demikian adalah CO2.2Barium x-ray merupakan pemeriksaan radiografi dari saluran pencernaan. Barium x-ray digunakan untuk mendiagnosis kelainan pada saluran cerna bila dijumpai nyeri abdomen, perdarahan dari rektum, muntah yang belum dapat dijelaskan penyebabnya, perubahan pergerakan usus, konstipasi atau diare kronik, kesulitan atau nyeri saat menelan, penurunan berat badan yang belum jelas penyebabnya5 dan untuk melihat adanya kelainan anatomi seperti tumor, ulkus, kondisi inflamasi lainnya, polip