tik terbaru

Download Tik Terbaru

If you can't read please download the document

Author: mawar

Post on 17-Jan-2016

243 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

berisi tentang teknologi infomasi dan komunikasi

TRANSCRIPT

Jurnal Bimbingan Konseling 1 (1) (2012)

Jurnal Bimbingan Konseling

http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jubk

KONTRIBUSI LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN BELAJAR DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR

Rezhania Prathista Devianggriani

Prodi Teknik Arsitektur Program Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel

Sejarah Artikel:

Diterima Januari 2012

Disetujui Februari 2012

Dipublikasikan Juni 2012

Keywords:

Earning Independency Emotional Quotient Information Service

Abstract

Kemandirian belajar pada anak harus dibina sejak anak masih kecil. Pada masa remaja ini banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya dan dalam rangka menghindari hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, remaja hendaknya memahami dan memiliki apa yang disebut kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi lay- anan informasi dalam bidang bimbingan belajar, kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (eks post facto) dan analisis deskriptif korelatif dengan desain penelitian korelasional dengan menggunakan instrumen metode angket dalam bentuk skala psikologis. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas VIII MTs Al Uswah Kabupaten Semarang dengan jumlah 263. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa ada kon- tribusi layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar terhadap kemandirian belajar ada kontribusi kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar.

Abstract

The independency to learn for children shall be fostered since childhood. When chil- dren are undergoing their adolescent most of them are influenced by environment and their peers and in order to avoid negative factors that might harm themselves or others, teenagers shall understand and possess the Emotional Quotient (EQ). This research aims to analyze the contribution of information service in the tutoring, emotional quotient towards the students learning independency. This research uses quantitative (eks post facto) and descriptive-correlative analysis with correlational research design by using questionnaire instrument in a form of psychological scale. The population in this research are all grade VIII students of MTs Al Uswah (Pri- vate Junior High-School) in Semarang Regency with total 263 students. The result of this research shows that there is a contribution from information services in tu- toring towards the learning independency. And there is also contributions from EQ

towards the learning independency

2012 Universitas Negeri Semarang

* Alamat korespondensi:

Kampus Unnes Bendan Ngisor, Semarang, 50233

Email: [email protected]

ISSN 2252-6889

Rezhania Prathista / Jurnal Bimbingan Konseling 1 (1) (2012)

10

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang dinamis, dan bercita-cita ingin meraih kehidupan yang sejahtera dan bahagia dalam arti yang luas baik lahiriah maupun batiniah, duniawi maupun ukhrawi. namun cita-cita demikian tak mungkin dicapai jika manusia itu sendiri tidak berusaha keras meningkatkan kemampuannya seoptimal mungkin melalui proses kependidikan, karena proses kependidikan adalah suatu kegiatan secara bertahap berdasarkan perencanaan yang matang untuk mencapai tujuan atau cita-cita tersebut. Pendidikan pada prinsipnya berperan untuk men- gembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia dan pada hakekatnya merupakan suatu hak setiap individu anak bangsa untuk dapat menikmatinya.

Kemandirian belajar pada anak harus di- bina sejak anak masih kecil. Jikalau kemandiri- an belajar pada anak diusahakan setelah anak besar, kemandirian itu akan menjadi tidak utuh. Ada orang tua yang membiarkan anaknya untuk belajar sendiri tanpa didampingi agar anak bisa belajar mandiri tanpa bantuan orang lain. Mendi- dik anak untuk belajar mandiri bukanlah dengan cara meninggalkan anak itu sendiri atau bersama dengan guru privatnya, kunci kemandirian anak sebenarnya ada ditangan orang tua, disiplin yang konsisten dan kehadiran orang tua untuk mendu- kung dan mendampingi anak dalam belajar akan menolong anak untuk lebih bertanggung jawab pada kegiatan yang dilakukannya. Prinsip-prinsip disiplin yang terus menerus ditanamkan pada anak akan menjadi bagian dalam dirinya (Laura dan Hubble 2005: 15).

Secara keseluruhan ada beberapa hal yang mempengaruhi kemandirian belajar, anak- anak bisa berbakat diberbagai bidang, atau dise- buah area khusus. Memang ada yang luar biasa baik disegala bidang, sedangkan yang lain hanya memiliki sebuah bakat khusus di bidang-bidang tertentu, seperti senirupa atau matematika. Tapi bagaimanapun potensinya, anak berbakat tetap membutuhkan pendamping atau bantuan orang lain untuk mengembangkan bakatnya, tanpa ini anak berbakat tidak dapat mengembangkan bakatnya. Misalnya, mungkin ada masalah di rumahnya yang menyerap energi yang mereka butuhkan untuk mengembangkan bakatnya, ma- salah emosional, kekurang percaya diri, tidak di- siplin, dan tidak bisa mengatur waktu secara baik dan tepat bisa menggangu kemandirian belajar anak (Munandar dan Freeman, 1998:29)

Latihan ketrampilan praktis, disiplin, dan bertanggung jawab dalam berbagai sektor kehi-

dupan akan menolong anak merasa aman den- gan dirinya, dalam hal ini orang tua yang pada umumnya lebih banyak memberi waktu dan per- hatian awal kepada anak dimasa pertumbuhan mempunyai andil yang cukup besar, misalnya membiarkan anak-anak mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab dirumah, mela- tih anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu dalam hidup dan melatih sikap dalam menghadapi kekecewaan dan penolakan yang bisa saja terjadi akibat keputusan tersebut serta jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah orang tua dengan menutup kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kemandirian belajar menurut Wayne H (1996:98) : Menekankan sisi-sisi menguntungkan dari usaha bekerja seca- ra kreatif atas prakarsanya sendiri, inisiatif dan panjang akal, dari keadaan mempelajari suatu bi- dang secara intensif, pengembangan disiplin diri, dan belajar teknik-teknik didalam suatu bidang yang telah dipilihnya sendiri.

Fenomena yang ada pada anak di MTs Al Uswah Kab. Semarang antara lain masih banyak anak yang terlambat masuk sekolah karena takut belum mengerjakan PR, kurang bergairah dalam mengikuti pembelajaran, mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah, menggantungkan pekerjaan rumah dari teman, menyontek pekerjaan teman dan kurangnya disiplin dalam mengatur waktu yang ada, dari fenomena diatas tentunya sangat menghambat kemandirian dalam belajar anak.

Anak yang mandiri adalah anak yang di- beri kesempatan untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orang tua yang memberlakukan anak-anak menurut kekhasan mereka masing- masing adalah orang tua yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak, jangan memberi pembanding yang tidak adil diantara anak-anak. Ajarkan anak-anak untuk percaya bahwa dirinya istimewa dalam kekhasan mere- ka masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa dalam hidupnya merupakan per- siapan untuk membangun citra diri anak. Pem- banding yang sehat ditengah kompetisi dengan teman-teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan dirinya dan masa depan anak akan bertumbuh bersama pro- ses pembentukan kepribadiaanya disamping se- mua bekal fasilitas ilmu. Bimbingan rohani men- jadi sangat penting dalam membekali anak untuk untuk mampu mengaktualisasikan kemandirian- nya. Oleh sebab itulah kemandirian secara khu- sus merupakan tingkah laku yang ditandai oleh beberapa ciri-ciri yakni : mampu mengerjakan tugas rutin, mampu mengatasi masalah, memi-

liki inisiatif, memiliki rasa percaya diri, menga- rahkan tingkah lakunya menuju ke sempurnaan, memperoleh kepuasan dari usahanya, memiliki kontrol diri (mampu mengendalikan tindakan), dan memiliki sifat eksploratif (Afiatin 2000 : 8).

Membangun komunikasi pribadi anak dengan Tuhan dan orang tua yang mendidik anak dalam kehidupan rohani yang kuat sejak masa anak-anak adalah orang tua yang dengan bijaksana mengantarkan anaknya pada suatu lan- dasan yang teguh, sebab ditengah berbagai situasi ketika anak jauh dari orang tuanya atau ketika ia harus menjawab sendiri perubahan-perubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat segera dia- tasinya, ia akan selalu menemukan rasa aman dalam hubungan spiritual yang kokoh dengan Tuhan. Berdasarkan pendapat Imam Barnadib (dalam Jokebet Saludung, 1999: 30) makna dari kemandirian adalah keadaan dari kejiwaan se- seorang yang mampu memilih norma dan nilai- nilai atas keputusan sendiri, mampu bertanggung jawab atas segala tingkah laku dan perbuatan in- dividu yang bersangkutan.

Hal ini diperkuat dengan penelitian yang terdahulu oleh I Kade Suardana, Jurusan Pendi- dikan Fakultas Pendidikan IKIP Negeri Singara- ja Tahun 2005 , ada beberapa keuntungan dalam belajar mandiri dalam penelitian ini menggu- nakan modul antara lain (a) meningkatkan moti- vasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan, (b) setelah pelajaran selesai dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui benar, pada modul yang mana siswa telah berha- sil dan pada bagian modul yang mana mereka be- lum berhasil, (c) siswa mencapai hasil sesuai den- gan kemampuannya, (d) bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester dan (e) pendidi- kan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun sesuai dengan jenjang kelas.

Pelayanan BK di sekolah sangat penting dilakukan yang sebenarnya mempunyai tujuan yang sama dengan pendidikan yaitu ingin me- mandirikan individu. Berbagai layanan konseling yang diselenggarakan di sekolah, dimaksudkan agar para siswa mampu mengatasi masalah yang dihadapinya secara mandiri, terutama masalah dalam belajar. Kemandirian siswa dalam belajar di MTs AL Uswah cenderung belum menunjuk- kan hasil yang optimal.

Dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa lepas dari sebuah masa- lah-masalah program layanan yang direncanakan sebelumnya. Sehingga disamping untuk meme- nuhi salah satu guna atau fungsi dari berbagai layanan yang ada, bimbingan dan konseling

yang menjadikan suatu proses untuk melihat dan mengetahui tingkat keberhasilan dari pemberian layanan yang ada dalam bimbingan dan konse- ling tersebut. Sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan didalamnya dilaksanakan program bimbingan dan konseling, yang peneliti jadikan sebagai pelaksanaan dalam penelitian ini dilak- sanakan di MTs AL USWAH Kabupaten Sema- rang Tahun Pelajaran 2008/2009.

Layanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah merupakan bagian yang terpadu dan tak terpisahkan dari keseluruhan kegiatan pendi- dikan di sekolah dan mencakup seluruh tujuan dan fungsi bimbingan dan konseling. Oleh kare- na itu upaya bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya memungkinkan peserta didik men- genal dan menerima diri sendiri serta mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis, serta mengambil keputusan, menga- rahkan, dan mewujudkan diri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkan dimasa depan.

Permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini antara lain: 1. Seberapa besar kont- ribusi layanan informasi dalam bidang bimbin- gan belajar terhadap kemandirian belajar Siswa MTs AL Uswah Kabupaten Semarang Tahun Pe- lajaran 2008/2009?; 2. Seberapa besar kontribu- si kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar Siswa MTs AL Uswah Kabupaten Sema- rang Tahun Pelajaran 2008/2009?; 3. Seberapa besar kontribusi layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar dan kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar Siswa MTs AL Uswah Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran

2008/2009?

Penelitian ini memiliki tujuan Untuk men- ganalisis kontribusi Layanan Informasi Dalam Bidang Bimbingan Belajar dan Kecerdasan Emo- sional Terhadap Kemandirian Belajar Siswa MTs AL Uswah Kabupaten Semarang Tahun Pelaja- ran 2008/2009.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (eks post facto) dan analisis deskriptif korelatif dengan desain penelitian korelasional. Penelitian korelasional menurut Zuriah (2006

: 56 ) adalah penelitian yang akan melihat hu- bungan antara variabel atau beberapa variabel dengan variabel lain. Dalam penelitian ini po- pulasinya adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Al Uswah Kabupaten Semarang dengan jumlah

263 dengan alasan kelas tersebut sudah diberikan layanan informasi dalam bidang bimbingan be-

lajar oleh guru pembimbing. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan metode angket dalam bentuk skala psikologis, Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkannya (Arikunto, 1998:160). Dalam penelitian ini untuk mengungkap variabel meng- gunakan kuesioner, maka kuesioner yang disusun tersebur harus dapat mengukur tentang layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar, ke- cerdasan emosional dan kemandirian belajar. Sedangkan teknik analisis data yang di gunakan adalah 1) Analisis deskriptif dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran penyebaran hasil pene- litian masing-masing variabel secara kategorikal. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui kontribusi layanan informasi dalam bidang bim- bingan belajar dan kecerdasan emosional terha- dap kemandirian belajar siswa. 2) Uji persyara- tan analisis regresi yang akan digunakan empat macam yaitu uji normalitas, uji homogenitas, uji linearitas. dan uji multikolinearitas.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan analisis deskriptif mengenai kemandirian belajar siswa menunjukkan bahwa

13% dalam kategori sangat baik, 74% berada pada kategori baik, dan 13% dalam kategori ku- rang baik. Apabila dilihat dari rata-rata keman- dirian belajar siswa sebesar 146,22 maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kemandi- rian belajar siswa kelas VIII MTs AL Uswah Ka- bupaten Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009 berada pada kategori baik.

Kemandirian belajar siswa kelas VIII MTs AL Uswah Kabupaten Semarang Tahun Pela- jaran 2008/2009 dapat diketahui dari beberapa komponen, yakni: (1) memiliki pemahaman yang cukup tentang belajar , (2) mampu mengatasi ham- batan atau masalah, (3) mempunyai rasa percaya diri tanpa bantuan orang lain, (4) disiplin dalam pelaksanaan belajar.

Berdasarkan analisis deskriptif mengenai layanan informasi dalam bidang bimbingan bela- jar yang dilakukan oleh guru pembimbing menun- jukkan bahwa 2% responden menyatakan sangat baik, 80% responden menyatakan baik, dan 18% menyatakan kurang baik. Bila dilihat dari rata- rata layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar sebesar 140,58 termasuk dalam interval maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluru- han layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar yang dilakukan oleh guru pembimbing pada siswa kelas VIII MTs AL Uswah Kabupa- ten Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009 bera- da pada kategori baik.

Layanan informasi dalam bidang bim- bingan belajar diketahui dari (1) tujuan pemberian layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar, (2) bahan layanan informasi dalam bidang bimbin- gan belajar, (3) penggunaan layanan informasi da- lam bidang bimbingan belajar.

Berdasarkan analisis deskriptif mengenai kecerdasan emosional siswa kelas VIII MTs AL Uswah Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran

2008/2009 menunjukkan bahwa 1% responden menyatakan sangat baik, 72% responden meny- atakan baik, 26% menyatakan kurang baik, dan

1% responden menyatakan tidak baik. Apabila dilihat dari rata-rata kecerdasan emosional yang dilakukan oleh responden sebesar 134,56 ter- masuk dalam interval maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kecerdasan emosional siswa kelas VIII MTs AL Uswah Kabupaten Se- marang Tahun Pelajaran 2008/2009 berada pada kategori baik.

Kecerdasan emosional siswa diketahui dari (1) mengenali emosi dan kesadaran diri, (2) mengelola emosi diri, (3) memotivasi diri, (4) me- miliki kecakapan diri, (5) memiliki keterampilan sosial.

Berdasarkan hasil analisis regresi linear diketemukan besarnya kontribusi yang diberikan layanan informasi dalam bidang bimbingan be- lajar terhadap kemandirian belajar siswa dapat dilihat melalui persamaan regresi Y = 60,779 +

1

0,608 X menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu unit skor layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar akan menyebabkan kenaikan skor kemandirian belajar siswa sebesar 0,608 unit pada konstanta 60,779. Adapun besarnya varian kemandirian belajar siswa yang ditentukan laya- nan informasi dalam bidang bimbingan belajar adalah 30,2%

Adanya kontribusi layanan informasi da- lam bidang bimbingan belajar terhadap keman- dirian belajar siswa selaras dengan pendapat Winkel (2004) bahwa tujuan pemberian layanan informasi dalam bimbingan belajar untuk mem- bekali para peserta didik dengan pengetahuan tentang data dan fakta di bidang pendidikan se- kolah, bidang pekerjaan dan bidang perkemban- gan pribadi-sosial, supaya peserta didik dengan belajar tentang lingkungan hidupnya lebih mam- pu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri.

Dalam konteks merencanakan kehidupan- nya sendiri, siswa dituntut memiliki kemandiri- an. Salah satunya kemandirian dalam hal belajar. Melalui layanan informasi dalam bidang bimbin- gan belajar terbukti memberikan kontribusi posi- tif bagi kemandirian belajar siswa.

Berdasarkan hasil analisis regresi linear diketemukan besarnya kontribusi yang diberi- kan variable kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar siswa dapat dilihat melalui

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pemba- hasan dapat di simpulkan : 1) Adanya kontri-

2

persamaan regresi Y = 69,312 + 0,572 X

me-

busi layanan informasi dan Kecerdasan emosio-

nunjukkan bahwa setiap kenaikan satu unit skor

kecerdasan emosional akan menyebabkan kenai- kan skor kemandirian belajar siswa sebesar 0,572 unit pada konstanta 69,312. Adapun besarnya va- rian kemandirian belajar siswa yang ditentukan oleh kecerdasan emosional adalah 26,6%

Adanya kontribusi kecerdasan emosio- nal siswa terhadap kemandirian belajar siswa selaras dengan pendapat Goleman (2005) bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, men- gendalikan emosi dan menunda kepuasan, ser- ta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempat- kan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Penelitian ini telah membuktikan bahwa siswa yang memiliki kecerdasan emosional yang baik maka kemandirian belajarnya akan baik pula, demikian pula sebaliknya. Siswa yang me- miliki kecerdasan emosional kurang baik maka kemandirian belajarnya kurang baik pula.

Hasil analisis regresi ganda melalui uji F menunjukkan adanya kontribusi secara bersama- sama antara layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar dan kecerdasan emosional

terhadap kemandirian belajar siswa dengan F

nal dalam bidang bimbingan belajar terhadap kemandirian belajar siswa kelas VIII MTs AL Uswah Kabupaten Semarang tahun pelajaran

2008/2009. 2) Ada kontribusi kecerdasan emo- sional terhadap kemandirian belajar siswa kelas VIII MTs AL Uswah Kabupaten Semarang ta- hun pelajaran 2008/2009

Berdasarkan hasil penelitian dapat disa- rankan kepada konselor/guru pembimbing agar lebih meningkatkan intensitas pelaksanaan lay- anan informasi sehingga permasalahan-perma- salahan dalam bidang pembelajaran sehingga permasalahan pembelajaran yang dihadapi sis- wa dapat diantisipasi sedini mungkin sedangkan kepada siswa MTs, hendaknya lebih meningkat- kan kemandirian dalam belajar dengan berlatih mengerjakan soal-soal dan tugas secara mandiri sehingga memiliki kecerdasan emosional dalam melaksanakan sesuatu tugas. Kemandirian be- lajar menurut Wayne H (1996:) : Menekankan sisi-sisi menguntungkan dari usaha bekerja seca- ra kreatif atas prakarsanya sendiri, inisiatif dan panjang akal, dari keadaan mempelajari suatu bidang secara intensif, pengembangan disiplin diri, dan belajar teknik-teknik didalam suatu bi- dang yang telah dipilihnya sendiri.. Dan kepada kepala sekolah diharapkan memberikan motiva-

tung

hi-

57,130 dan persamaan regresi Y = 23,975 +

si kepada guru pembimbing agar lebih mengin-

tensifkan kegiatan layanan bimbingan konseling

2

1

0,471 X

+ 0,416 X yang berarti setiap kenaikan

dengan pola 17 sehingga dapat menumbuh kem-

satu unit skor layanan informasi dalam bidang

bimbingan belajar dan satu unit skor kecerdasan emosional secara bersama-sama akan menaikkan kemandirian belajar siswa sebesar 0,887 pada konstanta 23,975. Besarnya varian kemandirian belajar siswa yang ditentukan oleh layanan infor- masi dalam bidang bimbingan belajar dan kecer- dasan emosional adalah 42,8%.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan analisis regresi baik linear maupun ganda terbukti terdapat kontribusi secara bersama-sama layanan informasi dalam bidang bimbingan belajar dan kecerdasan emosional siswa terhadap kemandiri- an belajar siswa kelas VIII MTs AL Uswah Kabu- paten Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009.

bangkan kemandirian belajar siswa.

Daftar Pustaka

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka

Cipta

Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Hubble, L. 2005. Menumbuhkembangkan Kemandirian

Belajar. Bandung : Nuansa

Munandar, U, 1998. Cerdas dan Cemerlang. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Winkel W.S dan Sri Hastuti.2004. Bimbingan dan Kon- seling di Institusi pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi

Zuriah, N. 2005. Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendi- dikan: Teori-Aplikasi. Jakarta : Bumi Aksara