teori evolusi kimia & teori panspermia

of 11 /11
Kelompok 8 : Filda Lazuardita Giara Iman Nanda Muhamad Fahmi Rukman Oktaviani Hapsari Pratiwi Raissa Windiani XII IPA 1

Author: pratiwi-raissa-windiani

Post on 06-Aug-2015

358 views

Category:

Documents


37 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Kelompok 8 : Filda Lazuardita Giara Iman Nanda Muhamad Fahmi Rukman Oktaviani Hapsari Pratiwi Raissa Windiani XII IPA 1

Oparin adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa evolusi zat-zat kimia telah terjadi sebelum kehidupan ini ada. Dalam bukunya The Origin of Life, dia mengemukakan bahwa asal mula kehidupan terjadi bersamaan dengan evolusi terbentuknya bumi dan atmosfernya.

Atmosfer bumi mula-mula memiliki air, karbondioksida, metana, dan amonia, namun tidak memiliki oksigen

Kemudian agregrasi ini membentuk molekul dalam bentuk tetesan yang disebut protobion. Protobion ini memiliki ciri kimia yang berbeda dengan lingkungannya.

Dengan adanya panas dari berbagai sumber energi, zat-zat tersebut mengalami serangkaian perubahan menjadi berbagai molekul organic sederhana

Monomer-monomer lalu bergabung membentuk polimer, misalnya protein dan asam nukleat

Senyawa-senyawa ini membentuk semacam campuran yang kaya akan materi-materi dalam lautan yang masih panas, yang disebut primodial soup.

Primodial soup ini melakukan sintesis dan membentuk molekul organic kecil atau monomer, misalkan asam amino dan nukleotida.

Kondisi atmosfer masa kini tidak lagi memungkinkan untuk sintesis molekul organic secara spontan, karena oksigen atmosfer akan memecah ikatan kimia dan mengekstrasi electron.

Teori Urey : pada suatu saat atmosfer bumi kaya akan molekul zat seperti Metana (CH4), Uap air (H2O), Amonia(NH2), dan karbon dioksida (CO2) yang semuanya berbentuk uap. Karena adanya pengaruh energi radiasi sinar kosmis serta aliran listrik halilintar terjadilah reaksi diantara zat-zat tersebut menghasilkan zatzat hidup. Menurut Urey, zat hidup yang pertama kali terbentuk mempunyai susunan menyerupai virus saat ini yang mengalami perkembangan menjadi berbagai jenis makhluk hidup.

Ahli Kimia berkebangsaan Amerika Serikat.

Menurut Urey, terbentuknya makhluk hidup dari berbagai molekul zat di atmosfer tersebut didukung kondisi sebagai berikut : a) kondisi 1 : tersedianya molekul-molekul Metana, Amonia, Uap air, dan hydrogen yang sangat banyak di atmosfer bumi b) kondisi 2 : adanya bantuan energi yang timbul dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar kosmis yang menyebabkan zat-zat tersebut bereaksi membentuk molekul zat yang lebih besar, c) kondisi 3 : terbentuknya zat hidup yang paling secerhana yang susunan kimianya dapat disamakan dengan susunan kimia virus. d) kondisi 4 : dalam jangka waktu yang lama (berjuta-juta tahun), zat hidup yang terbentuk tadi berkembang menjadi seejnis organisme (makhluk hidup yang lebih kompleks).

Miller, murid Harold Urey yang juga tertarik terhadap asal usul kehidupan.

Miller mendesain model alat laboratorium sederhana yang digunakan untuk membuktikan hipotesis Harold Urey : Kedalam alat yang diciptakannya dimasukan gas Hidrogen, Metana, Amonia, dan Air. Alat tersebut juga dipanasi selama seminggu, sehingga gas-gas tersebut dapat bercampur didalamnya. Sebagai pengganti energi aliran listrik halilintar. Miller mengaliri perangkat alat tersebut dengan loncatan listrik bertegangan tinggi. Adanya aliran listrik bertegangan tinggi tersebut menyebabkan gas-gas dalam alat Miller bereaksi membentuk suatu zat baru.

Kedalam perangkat juga dilakukan pendinginan, sehingga gas-gas hasil reaksi dapat mengembun. Ternyata setelah dianalisis secara kosmografi, air tersebut mengandung senyawa organik sederhana, seperti asam amino, adenine, dan gula sederhana seperti ribosa. Eksperimen Miller dapat memberikan petunjuk bahwa satuansatuan kompleks didalam sistem kehidupan seperti Lipida, Karbohidrat, Asam Amino, Protein, Mukleotida dan lainlainnya dapat terbentuk dalam kondisi abiotik

Namun, hingga kini masalah utama tentang asal-usul kehidupan tetap merupakan rahasia alam yang belum terjawab. Hasil yang mereka buktikan barulah mengetahui terbentuknya senyawa organik secara bertahap, yakni dimulai dari bereaksinya gas-gas diatmosfer purba dengan energi listrik halilintar. Selanjutnya semua senyawa tersebut bereaksi membentuk senyawa yang lebih kompleks dan terkurung dilautan. Akhirnya membentuk senyawa yang merupakan komponen sel.

1.

2.

3. 4.

5.

6.

Pembentukan senyawa kimia organik sederhana dari zat anorganik dengan bantuan energi kosmis di atmosfer purba : H2O +H2+NH3+ +HCN urea, formaldehid ,asetat, dsb Pembantukan senyawa kimia lebih kompleks : urea, formaldehid ,asetat, dsb asam amino, glukosa, asam lemak, nukleotida Pembentukan senyawa kompleks dengan cara polimerisasi senyawa monomer organik Beberapa molekul sederhana & molekul polimer berinteraksi menjadi agregat seluler. Beberapa molekul berfungsi secara struktural menjadi substrat reaksi untuk menghasilkan energi bagi reaksi sintesis Beberapa molekul (nukleotida) mengalami polimerisasi menjadi RNA yg mampu bertindak sbg enzim sintesis & sbg pembawa informasi genetis Reaksi kimia agregat cikal bakal seluler tsb terjebak dalam sekat hidrofonik (lemak) dan ini menjadi cikal bakal sel

Filosof Yunani Anaxagoras dari Ionia ( 450 SM) mengatakan semua bentuk kehidupan berasal dari banyak tempat yang berasal dari benih kehidupan. Namun penjelasan karena bukan hanya berasal dari makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia, tetapi juga dari angin, batuan, air dan sebagainya. Tahun 1830 ( atau 2280 tahun setelah Anaxagoras ), ahli kimia Swedia, Jns Jackob Berzelius, menemukan bahwa senyawa karbon banyak ditemukan di meteorit (benda antariksa yang jatuh ke Bumi) yang memperkaya materi Bumi.

Tahun 1830 ( atau 2280 tahun setelah Anaxagoras ), ahli kimia Swedia, Jns Jackob Berzelius, menemukan bahwa senyawa karbon banyak ditemukan di meteorit (benda antariksa yang jatuh ke Bumi) yang memperkaya materi Bumi. Ahli kimia Swedia lainnya yaitu Hermann von Helmholtz di tahun 1879 mengusulkan konsep bahwa asal mula kehidupan berawal dari antariksa. Yang dikenal dengan Panspermia. Pendapat ini didasarkan dari adanya tekanan radiasi Matahari dan bintang yang membawa mikroba mengarungi antariksa. Berbeda dengan keberadaan senyawa karbon yang berada di meteorit. Pendapat di atas diperkuat dua astronom Inggris yaitu Fred Hoyle dan Chandra Wickramasinghe mengembangkan Teori Panspermia dan dibuktikan melalui percobaan astronom India, Jayant Narlikar, pada 2001. Akhirnya komet menjadi benda antariksa yang ditengok sebagai biangnya sumber kehidupan.

Komet

Komet merupakan gumpalan es kotor (dirty snowball) yang tersusun dari air, karbondioksida, metana dalam wujud gas beku, yang berkonglomerasi dengan debu dan batuan layaknya coklat dalam es krim. Ukuran gumpalan atau inti kometantara 1 km hingga belasan km. Bagian komet terbentuk secara lengkap saat dekat Matahari yaitu inti , koma, selubung hidrogen, dan ekor. Koma berukuran ratusan ribu km menyelubungi inti. Akibat radiasi matahari pada materi koma maka terbentuk selubung hidrogen yang berukuran jutaan km dan menutupi koma. Hembusan angin matahari menyebabkan munculnya ekor komet, yaitu ekor debu dan ekor ion, yang berukuran ratusan juta km. Sehingga dinamakan sebagai bintang berekor. Komet menarik untuk diteliti karena terbentuk di lapisan luar Tata Surya, pada daerah yang dinamakan Awan Oort di rentang 50.000 100.000 kali jarak Bumi Matahari jauhnya. Materi pembentukannya diperkirakan sama dengan komposisi materi di awal pembentukan Tata Surya 4,6 milyar tahun lampau.