teodas titrasi redoks

Download Teodas Titrasi Redoks

Post on 09-Oct-2015

163 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Teodas Titrasi Redoks

TRANSCRIPT

H2C2O4dan KMnO4C2O4-2+ MnO4- 2CO2+ Mn2+Reduksi : MnO4- Mn2+Oksidasi : C2O4-22CO2

Reduksi : MnO4-+ 8H+= 5e- Mn2++ 4H2O (x2)Oksidasi : C2O4-22CO2+ 2e- (x5)

Reduksi : 2MnO4-+ 16H+= 10e- 2Mn2++8H2OOksidasi : 5C2O4-210CO2+ 10e-2MnO4+ 16 H++ 5C2O4-2 2Mn2++8H2O + 10CO2Reaksi-reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-reduksi dipergunakan secar luas dalam analisatitrimetrik.Ion-iondari berbagai unsur dapat hadir dalam kondisi oksidasi yang berbeda-beda, menghasilkan kemungkinan terjadi banyak reaksi redoks.Banyak dari reaksi-reaksi ini memenuhi syarat untuk digunakan dalam analisa titrimetrik, dan penerapan-penerapannya cukup banyak (Underwood, 1995).Titrasi redoks banyak digunakan dalam pemeriksaan kimia karena berbagai zat organik dan zat anorganik dapat ditentukan dengan cara ini. Namun demikian, agar titrasi redoks ini berhasil dengan baik, maka persyaratan berikut harus dipenuhi (Rivai, 2006):1. Harus tersedia pasangan sistem redoks yang sesuai sehingga terjadi pertukaran elektron secara stoikiometris.2. Reaksi redoks harus berjalan cukup cepat dan berlangsung secara terukur (kesempunaan 99,9%).3. Harus tersedia cara penentuan titik akhir yang sesuai.Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi. Berarti proses oksidasi disertai dengan hilangnya elektron sedangkan reduksi memperoleh elektron. Oksidator adalah senyawa dimana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi.Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling mengkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu pada suatu senyawa, tidak kepada atomnyasaja.Jikasuatu reagen berperan baik sebagai reduktor dan oksidator, maka dikatakan zat tersebut mengalami autooksidasi atau disproporsionasi (Khopkar, 2003).Potensial sistem redoks merupakan peubah yang paling khas yang berubah selama berlangsungnya titrasi redoks.Karena itu, harga potensial yang diukur dapat dirajah pada kertas grafik sebagai fungsi volume pentiter yang ditambahkan sehingga memperolehkurva titrasiredoks.Darikurva itu ddapat diperoleh informasi yang berguna untuk penilaian titrasi redoks. Sedanngkan kurva titrasi teoretis dapat dibuat berdasarkan persamaan Nersnt, yaitu hubungan antara potensial elektroda baku kedua pasangan redoks dan kesetimbangan massanya. Biasanya kurva teoretis ini bersesuaian dengan kurva yang diperoleh dengan percobaan. Karena itu kurva teoretis ini sangat berguna untuk meramalkan ketelitian pengukuran, memilih indikator, dan memilih persyaratan titrasi yang sesuai (Rivai, 2006).Banyak sekali metode volumetri yang berprinsipkan pada transfer elektron. Pemisahan oksidasi-reduksi menjadi komponen-komponennya, yaitu reaksi separuhnya ialah cara untuk menunjukkan masing-masing spesies yang memperoleh maupun kehilangan elektron. Reaksi oksidasi-reduksi bersala dari transfer langsung elektron dari donor ke akseptor. Bermacam reaksi redoks dapat digunakan untuk analisis titrasi volumetri asalkan kesetimbangan yang tercapai setiap penambahan titran dapat berlangsung dengancepat.Dandiperlukan juga adanya indikator yang mampu menunjukkan titik ekivalen stoikiometri dengan akurasi yang tinggi.Banyak titrasi redoks dilakukan dengan menggunakan indikator warna. Dua setengah reaksi untuk setiap sistem titrasi redoks selalu dalam kesetimbangan pada seluruh titik setelah mulainya titrasi, sehingga potensial reduksi untuk separuh sel adalah identik pada seluruh titik. Sedangkan potensial sel yaitu E sel berubah selama titrasi, perubahannyaspesifik.Padasekitar titik ekivalen perubahan potensial adalah yang paling besar.Variasi E sel dengan volume titran menunjukkan bahwa sismtem titrasi redoks dapat digunakan untuk menentukan titrasi yang sulit ditentukan titik ekivalennya.Karena informasi mengenai laju atau mekanisme reaksinya tidak ada maka potensial elektroda dapat berperan sebagai petunjuk mengenai kondisi kesetimbangan. Banyak reaksi redoks yang berlangsung lambat, sehingga sering digunakan suatu katalis untuk mempercepatnya. Kurva titrasi dapat dibuat dengan mengalurkan potensial sel terhadap volume titran (Khopkar, 2003).Dalam banyak prosedur analitis, analitnya memiliki lebih dari satu kondisi oksidasi sehingga harus dikonversi menjadi satu kondisi oksidasi tunggal sebelum titrasi.Sebuah contoh yang sering kita jumpai adalah penentuan besi dalam suatu bijih besi. Begitu bijih besi tersebut dilarutkan, besi akan hadir baik dalam keadaan oksidasi +2 maupun keadaan oksidasi +3. Besi tersebut harus direduksi seluruhnya ke kondisi +2 sebelum penitrasian dengan sebuah larutan standar dari sebuah agen pengoksidasi.Reagen redoks yang dipergunakan dalam langkah pendahuluan ini harus dapat mengkonversi analit dengan cepat dan sempurna ke dalam kondisi oksidasi yang diinginkan.Kelebihan dari reagen ini biasanya ditambahkan, dan kita harus dapat membuang kelebihan tersebut sehingga kelebihan tersebut tidak bereaksi dengan titrannya dalam titrasi selanjutnya (Underwood, 1995).Bromatometri merupakan salah satu metode oksimetri dengan dasar reaksi reduksi dari ion bromat (BrO3-).BrO3-+ 6 H++ 6 e Br-+ 3 H2ODari persamaan reaksi ini ternyata bahwa satu gram ekuivalent sama dengan 1/6 gram molekul. Disini dibutuhkan lingkungan asam karena kepekatan ion H+berpengaruh terhadap perubahan ion bromat menjadi ion bromida (Br-) (Wunas, 2003).Oksidasi potensiometri yang relatif tinggi dari sistem ini menunjukkan bahwa kalium bromat adalah oksidator yangkuat.Hanyasaja kecepatan reaksinya tidak cukup tinggi untuk menaikkan kecepatan ini titrasi dilakukan dalam keadaan panas dan dalam lingkungan asam kuat (Wunas, 2003).Sejumlah agen pereduksi, seperti arsenik (III), antimon (III),besi (II), dan sulfida-sulfida serta disulfida-disulfida organik tertentu dapat dititrsi secara langsung dengan sebuah larutan kalium bromat. Reaksinya dengan arsenik (III) adalahBrO3-+ 3 HAsO2Br-+ 3 HAsO3Larutannya biasanya sekitar 1M dalam asam klorida. Titik akhir dari titrasinya ditandai dengan hadirnya bromin, sesuai dengan reaksiBrO3-+ 5 Br-+ 6 H+ 3 Br2+ 3 H2OKehadiran bromin terkadang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi.Beberapa indikator organik yang bereaksi dengan bromin untuk memberikan perubahan warna telah dipelajari. Perubahan warna ini biasanya tidak reversibel, dan kita harus berhati-hati agar kita bisa mendapatkan hasil-hasil yang baik. Ada tiga indikator yang diketahui berperilaku reversibel: -naphthoflavone, quinoline kuning, danp-ethoxychrysoidin. Indikator-indikator ini tersedia secara komersil (Underwood, 1995).Iodimetri adalah analisa titrimetri untuk zat-zat reduktor, seperti misalnya natrium tiosulfat, arsenat dengan menggunakan larutan iodin baku secara langsung.2 I-I2+ 2 eIodimetri dapat juga dilakukan dengan cara penambahan larutan iodin baku berlebihan, dan kelebihan larutan iodin dititrasi kembali dengan larutan tiosulfat baku.I2+ 2 Na2S2O3 2 NaI + Na2S4O6Iodometri adalah analisa titrimetri secara tidak langsung untuk zat-zat oksidator seperti garam besi (III), temabaga (II), dimana zat-zat oksidator ini direduksi lebih dulu dengan kalium iodida, dan iodin yang dihasilkan dalam jumlah yang setara ditentukan kembali larutan natrium tiosulfat baku, contohnya seperti tembaga (II) sulfat direaksikan dengan kalium iodida (Wunas, 2003).Larutan kalium pemanganat dapat dibakukan dengan mudah, dan konsentrasinya tetap dalam jangka waktu yang lama bila diperhatikan baik-baik cara-cara pembuatan dan pengawetannya.Reaksi ion permanganat dalam air dapat berlangsung cepat.Kalium permanganat dapat juga bertindak sebagai indikator bila dipakai dalam titrasi, karena kelebihan sedikit saja dari kalium permanganat menyebabkan larutan berwarna merah ungu (Wunas, 2003).Metode permanganometri didasarkan atas reaksi reduksi ion permanganat.Oksidasi ini dapat dijalankan dalam suasana netral, asam, ataupun alkalis (Wunas, 2003).DAFTAR PUSTAKADitjenPOM, 1979.Farmakope Indonesia, Edisi Ke-III, Departemen Kesehatan RI:Jakarta.DitjenPOM, 1995.Farmakope Indonesia, Edisi Ke-IV, Departemen Kesehatan RI:Jakarta.Khopkar. 2003.Konsep Dasar Kimia Analitik.UI-Press: Jakarta.Rivai, H. 2006.Asas Pemeriksaan Kimia. UI-Press: Jakarta.Underwood. 1995.Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga: Jakarta.Wunas, Y. 2003.Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif. Universitasi Muslim Indonesia: Makassar.Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasil reaksi. Dalam kinetika kimia ini dikemukakan cara menetukan laju reaksi dan juga faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya laju reaksi.Adapun faktor faktor yang mempengaruhi jerjadinya laju reaksi adalah sebagai berikut: Sifat PereaksiSalah satu factor penentu laju reaksi adalah sifat pereaksinya, ada yang reaktif dan ada juga yang kurang reaktif. Misalnya saja bensin lebih cepat terbakar daripada minyak tanah. Demikian juga logam Natrium bereaksi cepat dengan air. Sedangkan logam magnesium lambat. Konsentrasi PereaksiDua molekul yang akan bereaksi harus bertabrakan langsung. Jika konsentrasi pereaksi diperbesar, berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak kemungkinan terjadinya tabrakan antar molekul sehingga akan mempercepat jalannya reaksi. Akan tetapi harus bahwa tidak selalu pertambahan konsentrasi pereaksi meningkatkan laju reaksi. Karena laju reaksi juga dipengaruhi oleh faktor lain yang akan diterangkan pada pasal. SuhuHampir semua reaksi menjadi lebih cepat apabila terjadi peningkatan suhu, karena kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya jumlah dan energi tabrakan bertambah besar. KatalisLaju suatu reaksi dapat ( umumnya dipercepat) dengan menambahkan zat yang disebut katalis. Katalis sangat diperlukan dalam reaksi zat organik, termasuk dalam organisme. Katalis dalam organisme disebut enzim yang dapat mempercepat proses terjadinya reaksi di dalam tubuh( Syukri, 1999 : 468-469).Laju kesel