studi kasus asuhan keperawatan gangguan … · semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk...

of 42 /42
STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA NYAMAN NYERI PADA NY. A DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS INDIKASI DISPROPORSI SEFALO PELVIK DI RUANG KENANGA RSUD KARANGANYAR DISUSUN OLEH : YULIARNI DWI PRATIWI P. 09117 PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2012

Author: lamdung

Post on 01-Jul-2018

214 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • STUDI KASUS

    ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA NYAMAN

    NYERI PADA NY. A DENGAN POST SECTIO CAESAREA

    ATAS INDIKASI DISPROPORSI SEFALO PELVIK

    DI RUANG KENANGA RSUD

    KARANGANYAR

    DISUSUN OLEH :

    YULIARNI DWI PRATIWI

    P. 09117

    PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN

    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

    SURAKARTA

    2012

  • i

    STUDI KASUS

    ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA NYAMAN

    NYERI PADA NY. A DENGAN POST SECTIO CAESAREA

    ATAS INDIKASI DISPROPORSI SEFALO PELVIK

    DI RUANG KENANGA RSUD

    KARANGANYAR

    Karya Tulis Ilmiah

    Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

    Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan

    DISUSUN OLEH :

    YULIARNI DWI PRATIWI

    P. 09117

    PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN

    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

    SURAKARTA

    2012

  • ii

    SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

    Nama : Yuliarni Dwi Pratiwi

    NIM : P.09117

    Program Studi : D III KEPERAWATAN

    Judul Karya Tulis Ilmiah : ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN

    RASA NYAMAN NYERI PADA NY. A

    DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS

    INDIKASI DISPROPORSI SEFALO PELVIK

    DI RUANG KENANGA RSUD

    KARANGANYAR

    Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini

    benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan

    atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan dan pikiran saya sendiri.

    Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah

    hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai

    dengan ketentuan akademik yang berlaku.

    Surakarta, April2012

    Yang Membuat Pernyataan

    Yuliarni Dwi Pratiwi

    NIM. 09117

  • iii

    LEMBAR PERSETUJUAN

    Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

    Nama : Yuliarni Dwi Pratiwi

    NIM : P.09117

    Program Studi : D III KEPERAWATAN

    Judul : ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN

    RASA NYAMAN NYERI PADA NY. A

    DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS

    INDIKASI DISPROPORSI SEFALO PELVIK

    DI RUANG KENANGA RSUD

    KARANGANYAR

    Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah

    Prodi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

    Ditetapkan di :

    Hari/ Tanggal :

    Pembimbing : Tyas Ardi Suminarsis, S.Kep.,Ns ( )

    NIK.201185077

  • iv

    HALAMAN PENGESAHAN

    Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

    Nama : Yuliarni Dwi Pratiwi

    NIM : P.09117

    Program Studi : D III KEPERAWATAN

    Judul : ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN

    RASA NYAMAN NYERI PADA NY. A

    DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS

    INDIKASI DISPROPORSI SEFALO PELVIK

    DI RUANG KENANGA RSUD

    KARANGANYAR

    Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah

    Prodi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

    Ditetapkan di : STIKes Kusuma Husada Surakarta

    Hari/ Tanggal : Rabu, 2 Mei 2012

    DEWAN PENGUJI

    Penguji 1 : Tyas Ardi Suminarsis, S.Kep.,Ns (.)

    NIK.201185077

    Penguji 2 : Diyah Ekarini, S.Kep.,Ns (.)

    NIK.200179001

    Penguji 3 : Noor Fitriyani, S.Kep.,Ns (.)

    NIK.201187085

    Mengetahui,

    Ketua Program Studi D III Keperawatan

    STIKes Kusuma Husada Surakarta

    Setiyawan, S.Kep.Ns

    NIK. 201084050

  • v

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena

    berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya

    Tulis Ilmiah dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA

    NYAMAN NYERI PADA NY. A DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS

    INDIKASI DISPROPORSI SEFALO PELVIK DI RUANG KENANGA RSUD

    KARANGANYAR.

    Dalam penyusunan Karya Tulis ini penulis banyak mendapat bimbingan

    dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan

    terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:

    1. Setiyawan, S.Kep.,Ns, selaku Ketua Program Studi D III Keperawatan yang

    telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma

    Husada Surakarta.

    2. Erlina Windyastuti, S.Kep.,Ns, selaku Sekretaris Ketua Program Studi D III

    Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu

    di STIKes Kusuma Husada Surakarta.

    3. Tyas Ardi Suminarsis, S.Kep.,Ns, selaku dosen pembimbing sekaligus

    sebagai penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan

    masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta

    memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

    4. Diyah Ekarini, S.Kep.,Ns, selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai

    penguji yang telah membimbing demi sempurnanya studi kasus ini.

  • vi

    5. Noor Fitriyani, S.Kep.,Ns, selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai

    penguji demi sempurnanya studi kasus ini.

    6. Semua dosen Program Studi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada

    Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya

    serta ilmu yang bermanfaat.

    7. Kedua orang tuaku dan kakakku, yang selalu menjadi inspirasi dan

    memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.

    8. Teman-teman Mahasiswa Program Studi D III Keperawatan STIKes Kusuma

    Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu-

    persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.

    Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu

    keperawatan dan kesehatan. Amin

    Surakarta, April 2012

    Penulis

  • vii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

    PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME .................................................. ii

    LEMBAR PERSETUJUAN ........................................................................ iii

    LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... iv

    KATA PENGANTAR ................................................................................ v

    DAFTAR ISI .............................................................................................. vii

    DAFTAR GAMBAR .................................................................................. ix

    DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... x

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ..................................................................... 1

    B. Tujuan Penulisan .................................................................. 4

    C. Manfaat Penulisan ................................................................ 5

    BAB II LAPORAN KASUS

    A. Identitas Klien ...................................................................... 7

    B. Pengkajian ........................................................................... 7

    C. Perumusan Masalah Keperawatan ........................................ 12

    D. Perencanaan Keperawatan .................................................... 13

    E. Implementasi Keperawatan .................................................. 13

    F. Evaluasi Keperawatan .......................................................... 15

  • viii

    BAB III PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

    A. Pembahasan ......................................................................... 17

    B. Simpulan .............................................................................. 26

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    1. Gambar 2.1 Genogram ........................................................ 8

  • x

    DAFTAR LAMPIRAN

    1. Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup

    2. Lampiran 2 Log Book

    3. Lampiran 3 Pendelegasian

    4. Lampiran 4 Surat Keterangan Selesai Pengambilan Kasus

    5. Lampiran 5 Lembar Konsul

  • DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    Nama : Yuliarni Dwi Pratiwi

    Tempat, tanggal lahir : Sragen, 28 Juli 1991

    Jenis kelamin : Perempuan

    Alamat Rumah : Gempol, RT 09 Sambirejo, Sambirejo, Sragen

    Riwayat Pendidikan : TK Perwanida lulus tahun 1997

    SD Sambirejo III lulus tahun 2003

    SMP N I Sambirejo lulus tahun 2006

    SMK N I Sragen lulus tahun 2009

    Riwayat Organisasi : OSIS

    Pramuka

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Bedah Caesar yang kerap juga disebut sectio caesarea saat ini telah

    dikenal sebagai metode persalinan operatif, kebanyakan cara ini ditempuh

    akibat adanya hambatan yang dialami oleh janin maupun ibu sehingga

    persalinan normal tidak mungkin dilakukan. Menurut Pilliteri, 2002 : 95,

    sectio caesarea adalah prosedur bedah untuk mengeluarkan janin melalui

    insisi yang dibuat di abdomen maternal.

    Sebelum tindakan operasi sectio caesarea ada indikasi dilakukan

    tindakan tersebut, indikasi dari ibu yaitu meliputi disproporsi sefalo pelvik,

    penyakit pada ibu (distosia servikal, gangguan retraksi), distosia jaringan

    lunak (hiperaktivitas dan tidak terkoordinasinya kontraksi rahim), obstruksi

    mekanis (disproporsi panggul), gangguan ekstragenital (janin terlalu besar).

    Indikasi dari janin yaitu asfiksia intra-uterin (tali pusat terpluntir atau terjadi

    insufisiensi plasenta), presentasi bokong, anak terlalu besar (melebihi 3500

    gram), prolaps tali pusat, plasenta previa, dan ketuban pecah dini. Indikasi lain

    dilakukan sectio sesarea biasa terjadi pre-eklamsi. Disproporsi sefalo pelvik

    merupakan salah satu indikasi dilakukan sectio caesarea. Disproporsi sefalo

    pelvik adalah kepala tidak dapat mencakap di dalam panggul, karena janin

    terlalu besar atau panggul terlalu sempit (Thomas, 2002 : 163). Disproporsi

    sefalo pelvik juga dapat diartikan ketidaksesuaian antara kepala janin panggul

  • 2

    ibu (Simkin, 2005 : 51). Menurut Varney, 2007 : 796, Disproporsi sefalo

    pelvik adalah disproporsi antara ukuran janin dan ukuran pelvis, ukuran pelvis

    tertentu tidak cukup besar untuk mengakomodasi keluarnya janin tertentu

    melalui pelvis sampai terjadi kelahiran pervaginam.

    Program pokok pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat

    2010, terdapat program kesehatan unggulan, salah satunya adalah program

    kesehatan ibu dan anak yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan

    dan angka kematian pada ibu dan anak serta meningkatkan kesejahteraan

    keluarga dalam masyarakat. Pembangunan kesehatan telah banyak

    menghasilkan perbaikan di bidang kesehatan, namun masih terdapat beberapa

    permasalahan kesehatan yang terus menjadi perhatian pemerintah, diantaranya

    adalah masih tingginya angka kematian ibu (AKI) yang sekaligus menjadi

    tolok ukur penting dalam menciptakan Indonesia Sehat 2010 (Sadiman, 2009 :

    1). Peningkatan angka bedah caesar terjadi diseluruh dunia, WHO (World

    Health Organization) dilakukan atas indikasi antara lain : disporsisi sefalo

    pelvik 25%, gawat janin 14%, plasenta previa 11%, pernah SC 11%, pre-

    eklamsia dan hipertensi 7%. Indonesia terjadi peningkatan angka sectio

    caesarea dimana tahun 2000 sebesar 47,22%, tahun 2001 sebesar 45,19%,

    tahun 2002 sebesar 47,13%, tahun 2003 sebesar 46,87%, tahun 2004 sebesar

    53,22%, tahun 2005 sebesar 51,59%, tahun 2006 sebesar 53,68% (Grace, 2007

    : 3). Dari data rekam medik RSUD Karanganyar pada tahun 2011 dari bulan

    januari sampai desember terdapat 34 kelahiran sectio caesarea dengan

    indikasi disproporsi sefalo pelvik.

  • 3

    Kebutuhan fisiologi menurut Abraham Maslow merupakan kebutuhan

    dasar atau pokok yang harus dipenuhi untuk memelihara homeostatis biologis

    dan kelangsungan hidup. Salah satu yang merupakan kebutuhan fisiologis

    adalah terbebas dari nyeri. Nyeri merupakan suatu sensasi yang tidak

    menyenangkan baik secara sensori maupun emosional yang berhubungan

    dengan adanya suatu kerusakan jaringan atau faktor lain (Asmadi, 2008 : 145).

    Munculnya nyeri sangat berkaitan dengan reseptor dan adanya

    rangsangan. Reseptor nyeri dapat memberikan respon karena adanya stimulasi

    berupa trauma pada jaringan tubuh yang disebabkan oleh insisi atau

    pembedahan, berakibat terjadi kerusakan jaringan dan iritasi secara langsung.

    Nyeri berasal dari nociceptor yang terstimulasi dan mentransmisikan

    informasi ke ujung-ujung saraf dan myelin yang tersebar pada kulit dan

    mukosa. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri, yaitu seseorang yang

    mengartikan bahwa nyeri merupakan arti yang negatif karena bersifat

    membahayakan dan merusak. Penilaian nyeri bersifat subyektif, yang berarti

    intensitas nyeri seseorang berbeda-beda pada setiap individu. Reaksi nyeri

    dapat berupa respon verbal dan non verbal seperti ketakutan, gelisah, cemas,

    menangis, dan menjerit (Uliyah, 2006 : 231).

    Hasil studi kasus pada Ny. A dengan post sectio caesarea dengan

    indikasi disproporsi sefalo pelvik, ditemukan masalah keperawatan nyeri.

    Menurut Asmadi (2008), penyebab nyeri akibat trauma mekanik yaitu insisi

    mengakibatkan nyeri, karena terjadi gangguan pada serabut saraf reseptor

    nyeri, yang terletak dan tersebar pada lapisan kulit tertentu, dan lebih dalam.

  • 4

    Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis tertarik mengangkat studi

    kasusAsuhan Keperawatan Gangguan Rasa Nyaman Nyeri pada Ny. A

    dengan post sectio caesarea atas indikasi Disproporsi Sefalo Pelvik di Ruang

    Kenanga RSUD Karanganyar.

    Terdapat kesenjangan antara lahan dengan teori dalam memberikan

    tindakan untuk mengurangi nyeri antara lain mengobservasi tanda-tanda vital,

    mengkaji nyeri (penyebab nyeri, kualitas nyeri, letak nyeri, skala nyeri dan

    waktu terjadinya nyeri), mengkaji faktor yang mengurangi nyeri dan

    memperberat nyeri, memberikan posisi yang nyaman, mengajarkan teknik non

    invasif (teknik relaksasi dan distraksi), pemberian obat analgesik (Hidayat,

    2009: 220). Sedangkan dilahan hanya beberapa saja yang dilakukan yakni

    memberikan posisi nyaman, mengajarkan tehnik relaksasi dan pemberian obat

    analgesik. Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk melaporkan studi

    kasus mengenai nyeri akut pada Ny. A dengan post sectio caesarea indikasi

    disproporsi sefalo pelvik.

    B. Tujuan Penulisan

    1. Tujuan Umum

    Melaporkan kasus nyeri akut pada Ny. A dengan post sectio caesarea

    indikasi disproporsi sefalo pelvik di ruang Kenanga RSUD Karanganyar.

    2. Tujuan Khusus

    a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan nyeri

    akut post sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik.

  • 5

    b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien

    dengan nyeri akut post sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo

    pelvik.

    c. Penulis mampu menyusun rencana Asuhan Keperawatan pada pasien

    nyeri akut dengan post sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo

    pelvik.

    d. Penulis mampu melakukan implementasi pada pasien nyeri akut

    dengan post sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik.

    e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada pasien nyeri akut dengan

    post sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik.

    f. Penulis mampu menganalisa kondisi nyeri akut yang terjadi pada

    pasien dengan post sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo

    pelvik.

    C. Manfaat penulisan

    1. Penulis

    Melatih kemampuan penulis untuk menerapkan ilmu pengetahuan

    yang telah didapat di institusi pendidikan dan melatih ketrampilan secara

    kritis dan analis.

    2. Institusi

    a. Rumah sakit

    Dapat memberikan manfaat khususnya bagi pasien yang

    membutuhkan Asuhan Keperawatan nyeri akut dengan post sectio

    caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik.

  • 6

    b. Pendidikan

    Sebagai bahan referensi bagi penulis lain untuk melakukan

    Asuhan Keperawatan lebih lanjut pada pasien nyeri akut dengan post

    sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik.

    3. Profesi

    Untuk melakukan tindakan aktif oleh profesi keperawatan dengan

    cara memberikan asuhan keperawatan nyeri akut dengan post sectio

    caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik.

  • 7

    BAB II

    LAPORAN KASUS

    A. Identitas Klien

    Dalam bab ini menjelaskan tentang studi kasus yang dilakukan pada

    Ny. A dengan post sectio caesarea dengan indikasi disproporsi sefalo pelvik,

    pada tanggal 5 April 2012 di ruang Kenanga RSUD Karanganyar. Studi kasus

    dimulai dari identitas, pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,

    implementasi yang telah dilakukan, dan evaluasi.

    Pengkajian pada hari kamis, 5 April 2012 jam 11.30 WIB, pada kasus

    ini diperoleh data dengan cara auto anamnesa dan allo anamnesa, mengadakan

    pengamatan atau observasi langsung, pemeriksaan fisik, dan catatan perawat.

    Dari data pengkajian tersebut didapat hasil identitas klien bahwa klien

    bernama Ny. A, beralamat Lalung, RT 3/8 Karangan, Karanganyar, umur 23

    tahun, jenis kelamin perempuan, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga,

    pendidikan terakhir SMA. Penanggung jawabnya Tn. S sebagai suami,

    pekerjaan swasta, beralamat Lalung, RT 3/8 Karangan, Karanganyar.

    B. Pengkajian

    1. Riwayat Kesehatan klien dan Genogram

    Ketika dilakukan pengkajian, keluhan utama yang dirasakan oleh

    klien adalah mengatakan nyeri post sectio caesarea. Adapun riwayat

    penyakit sekarang Tanggal 4 April 2012, Ny. A datang tanpa rujukan dari

  • 8

    bidan, hanya berniat memeriksakan kehamilannya dengan umur

    kehamilan 39 minggu, tetapi dokter menganjurkan untuk rawat inap dan

    dilakukan operasi sectio caesarea tanggal 5 April 2012 pukul 09.00 WIB,

    dengan diagnosa dari dokter disproporsi sefalo pelvik. Riwayat kesehatan

    keluarga, klien mengatakan dalam keluarganya tidak mempunyai

    penyakit keturunan seperti hipertensi, asma, diabetes melitus.

    Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara, menikah

    dengan suaminya yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara,

    kemudian mempunyai anak laki-laki.

    Gambar 2.1

    Genogram

    Keterangan:

    : Laki-laki

    : Perempuan

    : Klien : Dalam satu rumah

    2. Pengkajian pola kesehatan fungsional

    Hasil pengkajian pola aktivitas dan latihan, selama hamil klien

    mengatakan dalam aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, toileting,

    berpakaian, mobilitas ditempat tidur, berpindah, ROM (Range of Motion)

    atau ambulasi secara mandiri tanpa bantuan dari keluarga. Setelah

    Ny. A

  • 9

    melahirkan klien mengatakan dalam beraktivitas seperti makan/ minum,

    toileting, berpakaian, mobilitas ditempat tidur berpindah, dan ambulasi

    pasien masih perlu bantuan orang lain. Pasien masih takut bergerak karena

    jika bergerak pasien merasa nyeri. Sehingga disimpulkan tingkat

    kemandirian klien termasuk dalam kategori dibantu orang lain.

    Hasil pengkajian pola istirahat tidur didapatkan hasil, selama hamil

    klien mengatakan tidur jam 21.00 WIB dan bangun jam 04.30 WIB tetapi

    sering terbangun dimalam hari karena merasakan kurang nyaman dengan

    perutnya yang buncit. Setelah melahirkan klien mengatakan belum tidur

    karena merasakan nyeri pada luka post operasi sectio caesarea.

    Pengkajian kognitif perseptual didapatkan data, selama hamildan

    setelah melahirkan klien mengatakan tidak ada gangguan berbicara,

    melihat, mendengar dan mencium. Pasien mengatakan nyeri pada luka

    post sectio caesarea dengan skala nyeri 7, nyeri dirasakan saat bergerak

    dan seperti teriris-iris, wajah tampak meringis kesakitan.

    Pengkajian pola seksualitas reproduksi, klien mengatakan

    menarche usia 13 tahun, siklus menstruasi 28 hari lama menstruasi 7 hari,

    kadang-kadang disminorea. Ny. A mengatakan sebelumnya belum pernah

    menggunakan alat kontrasepsi, karena umur pernikahan baru 10 bulan dan

    langsung dikarunia anak. Setelah persalinan Ny. A juga belum berencana

    menggunakan KB. Pada pengkajian status obstetri klien yaitu pada tanggal

    5 April 2012 dengan cara sectio caesarea atas indikasi disproporsi sefalo

    pelvik di RSUD Karanganyar. Bayi lahir jenis kelamin laki-laki, keadaan

  • 10

    bayi sehat, berat badan bayi 3400 gram, panjang badan 49 cm, kemudian

    lingkar kepala 35 cm dan lingkar dada 34 cm.

    Hasil pengkajian pola mekanisme koping yang dilakukan

    didapatkan hasil, klien selama hamil dan setelah melahirkan pasien

    mengatakan jika ada masalah selalu diceritakan dengan suaminya supaya

    tidak jadi pikiran. Pada pengkajian pola nilai dan peran didapatkan hasil,

    selama hamil klien mengatakan beragama Islam. Setelah melahirkan klien

    mengatakan selalu berdoa dan bersyukur.

    3. Pemeriksaan fisik dan penilaian

    Dalam pengkajian khususnya pemeriksaan fisik didapatkan data

    bahwa keadaan umum klien tampak lemah, dengan kesadaran

    composmentis atau kesadaran penuh, saat diobservasi tanda-tanda vital

    didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 84 x/menit, respirasi 22

    x/menit, suhu 37C.

    Bentuk kepala mesochepal, kemudian mata tidak juling,

    conjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, penglihatan normal. Hidung

    bersih, simetris kanan dan kiri, tidak ada pembesaran polip. Mulut bersih,

    mukosa bibir kering, ada caries gigi, ada 1 gigi yang tanggal. Telinga

    simetris antara kanan dan kiri, ada sedikit serumen, tidak ada gangguan

    pendengaran. Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.

    Pada dada (paru-paru) setelah dilakukan pemeriksaan dengan cara

    inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi didapatkan hasil dada simetris,

    pengembangan paru antara kanan dan kiri sama, terdengar bunyi sonor,

  • 11

    suara nafas vesikuler di semua lapang paru. Pengkajian pada (Jantung)

    dengan cara Inspeksi didapatkan hasil ictus cordis tidak tampak, Palpasi

    ictus cordis paling kuat teraba di sternum intercosta 5, saat diperkusi bunyi

    pekak. Auskultasinya tidak ada bunyi tambahan. Pengkajian pada

    Payudara simetris antara kanan dan kiri, puting susu menonjol, tetapi ASI

    (Air Susu Ibu) belum keluar, payudara membesar dan areola

    hiperpigmentasi. Pemeriksaan pada abdomen dengan cara inspeksi

    didapatkan hasil terdapat luka post sectio caesarea tertutup kassa, hasil

    bising usus 5 x/menit setelah diauskultasi, Perkusi tidak dilakukan, Palpasi

    TFU (Tinggi Fundus Uteri) 2 jari di bawah pusat. Pasien mengatakan nyeri

    pada luka post sectio caesarea dengan skala nyeri 7, nyeri dirasakan saat

    bergerak dan seperti teriris iris. Pada genetalia tidak terdapat luka

    episiotomi, terpasang dower cateter tanggal 5 April 2012, lochea rubra,

    bau amis, jumlah 100 cc. Ditangan kanan terpasang infus Assering 30 tetes

    per menit, kaki kanan dan kaki kiri tidak odema.

    4. Pemeriksaan penunjang dan terapi

    Pada pemeriksaan penunjang hasil pemeriksaan Laboratorium yang

    dilakukan tanggal 4 April 2012 hasilnya adalah Hemoglobin 10,6 g/dl,

    Hematokrit 31,1%, Leukosit 9,9 ribu/UL, Eritosit 3,81 juta/UL, Trombosit

    194 ribu/UL, golongan darah B, dan dilakukan pemeriksaan HbsAg

    hasilnya negatif.

    Selama dirawat di rumah sakit klien mendapatkan terapi obat

    diantaranya : Aminofusin L 600 cc sebagai parenteral, Asam mefenamat

  • 12

    500 mg/6 jam merupakan obat untuk indikasi nyeri setelah operasi,

    Asering 500 cc pengganti cairan supaya tidak terjadi dehidrasi, 1gram

    cefotaxim diberikan tiap 12 jam merupakan antibiotik indikasi ginekologi,

    Amoxilin 500 mg/8 jam, Gentamicin 80 mg/6 jam dan Oxtercid dosis 150

    mg/8 jam adalah golongan antibiotik, Alinamin f 25 mg/12 jam

    merupakan golongan vitamin, kemudian Ketorolac 100 mg/6 jam untuk

    penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut sedang sampai berat

    setelah operasi.

    C. Daftar Perumusan Masalah

    Dari hasil pengkajian dan observasi di atas penulis melakukan

    analisa data kemudian merumuskan diagnosa keperawatan yang sesuai

    dengan prioritas adalah Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik:

    pembedahan, dengan data subyektif : klien mengatakan nyeri pada perut

    bagian bawah karena luka post sectio caesarea, dengan kualitas nyeri

    seperti teriris-iris, skala nyeri 7 dan nyeri dirasakan saat bergerak. Data

    obyektif didapatkan pengukuran tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 84 x/

    menit, respirasi 22 x/menit, suhu 37C, pasien tampak meringis kesakitan,

    gelisah.

    D. Perencanaan

  • 13

    Tujuan yang dibuat penulis adalah setelah dilakukan tindakan

    keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang ataupun

    hilang dengan kriteria hasil menunjukkan penurunan skala nyeri 1-3, tanda-

    tanda vital dalam batas normal, melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan

    management nyeri, mampu mengenal nyeri, menyatakan rasa nyaman setelah

    nyeri berkurang, mampu mengontrol nyeri.

    Intervensi atau rencana tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi

    nyeri tersebut yaitu Observasi tanda-tanda vital mencakup tekanan darah, nadi,

    respirasi dan suhu, dengan rasionalisasi yaitu memberikan gambaran lengkap

    tentang sistem kardiovaskular. Kaji karakteristik nyeri (P,Q,R,S,T) secara

    komprehensif, dengan rasionalisasi untuk mengidentifikasi skala nyeri dan

    kenyamanan. Ajarkan tehnik non farmakologis dilakukan untuk mengurangi

    rasa nyeri dengan relaksasi nafas dalam. Berikan posisi nyaman kepada klien

    untuk meningkatkan relaksasi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian

    analgesik untuk mengatasi atau mengurangi nyeri melalui absorbsi.

    E. Implementasi

    Tindakan keperawatan yang penulis lakukan pada hari kamis, 5 April

    2012 jam 11.45 WIB yaitu mengkaji karakteristik nyeri mencakup PQRST

    pasien dengan respon klien : klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi

    sectio caesarea, nyeri pada perut bagian bawah, nyeri dirasakan seperti teriris-

    iris, skala nyeri 7, nyeri terasa saat bergerak, data objektif pasien tampak

    meringis kesakitan, gelisah. Jam 12.05 WIB mengobservasi tanda-tanda vital

    hasilnya adalah tekanan darah 130/ 80 mmHg, nadi 84 x/menit, respirasi 22 x/

  • 14

    menit, suhu 37C. Jam 12.10 WIB dilakukan tindakan keperawatan

    memberikan posisi yang nyaman pada klien, klien merasa nyaman dengan

    posisi berbaring. Kemudian jam 12.15 WIB mengajarkan tehnik relaksasi

    dengan cara nafas dalam respon klien mengatakan memahami tehnik yang

    diajarkan, obyektifnya klien tampak kooperatif. Jam 12.10 WIB Memberikan

    terapi obat ketorolac 100 mg. Obat masuk lewat intra vena.

    Tindakan keperawatan yang penulis lakukan pada hari Jumat, 6 April

    2012 Jam 10.15 WIB yaitu mengkaji karakteristik nyeri,data subyektif klien

    mengatakan nyeri karena luka post operasi sectio caesarea, kualitas nyeri

    mulai berkurang, nyeri dibagian perut bawah, skala nyeri 5, objektifnya pasien

    tampak menahan sakit. Kemudian jam 10.30 WIB mengajarkan tehnik

    relaksasi dengan cara nafas dalam dan memberikan posisi nyaman pada klien

    posisi berbaring respon klien mengatakan bersedia diajarkan relaksasi nafas

    dalam, data obyektifnya pasien tampak kooperatif. Pada jam 11.45

    mengobservasi tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 110/80 mmHg,

    nadi 88 x/menit, respirasi 22 x/menit, suhu 37C. Jam 12.10 Memberikan

    injeksi ketorolac 100 mg, obat masuk lewat intra vena.

    Tindakan keperawatan yang penulis lakukan pada Sabtu, 7 April 2012

    yaitu Jam 08.30 WIB mengkaji karakteristik nyeri dengan respon klien

    mengatakan nyeri sudah berkurang, skala nyeri 3, pasien tampak tenang dan

    rileks. Kemudian jam 11.50 WIB mengobservasi tanda-tanda vital dengan

    respon klien mengatakan bersedia dilakukan pemeriksaan, dengan hasil

    tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi 22 x/menit, suhu

  • 15

    36,8C. Jam 12.05 WIB Memberikan obat oral antara lain Asam mefenamat

    500 mg dengan respon klien mengatakan minum obat sesuai anjuran, data

    obyektifnya pasien tampak minum obat.

    F. Evaluasi

    Evaluasi yang penulis dapatkan setelah dilakukan tindakan mulai dari

    jam 08.00 WIB sampai 14.00 WIB tanggal 5 April 2012 diperoleh hasil yaitu

    pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik: pembedahan,

    data subyektif klien mengatakan nyeri karena luka post operasi, nyeri

    dirasakan seperti teriris-iris, nyeri pada perut bagian bawah, skala nyeri 7,

    nyeri terasa saat digerakkan, data objektifnya pasien tampak meringis

    kesakitan, gelisah, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 84 x/menit, respirasi 22

    x/menit, suhu 37C. Analisa masalah nyeri akut belum teratasi, dan intervensi

    yang dilanjutkan antara lain Kaji karakteristik nyeri mencakup PQRST,

    Observasi tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu,

    Ajarkan tehnik relaksasi, Berikan posisi nyaman, Kolaborasi dengan dokter

    dalam pemberian analgesik.

    Tanggal 6 April 2012 Jam 12.30 WIB dari hasil tindakan diperoleh

    hasil evaluasi yaitu pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cidera

    fisik : pembedahan, data subyektif klien mengatakan nyeri karena luka post

    operasi sectio caesarea, nyeri dirasakan saat bergerak, kualitas nyeri mulai

    berkurang, nyeri pada perut bagian bawah, skala nyeri 5. Data objektifnya

    pasien tampak menahan sakit, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 88 x/menit,

    respirasi 22 x/menit, suhu 37C. Analisa masalah nyeri akut teratasi sebagian,

  • 16

    intervensi yang harus dilanjutkan adalah Kaji karakteristik nyeri meliputi

    PQRST, Observasi tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, nadi, respirasi,

    suhu, Ajarkan tehnik relaksasi, Berikan posisi nyaman kepada klien,

    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi.

    Setelah dilakukan tindakan keperawatan Sabtu, 7 April 2012 Jam

    12.15 WIB diperoleh hasil evaluasi yaitu pada diagnosa nyeri akut

    berhubungan dengan agen cidera fisik : pembedahan, data subyektif yaitu

    klien mengatakan nyeri sudah berkurang, skala nyeri 3, data objektifnya

    pasien tampak tenang, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi

    22 x/menit, suhu 36,8C. Analisa masalah nyeri akut sudah teratasi dan

    intervensi dihentikan. Pasien pulang dan diberi terapi obat oral antara lain

    asam mefenamat 500 mg.

  • 17

    BAB III

    PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

    A. Pembahasan

    Pada bab ini penulis membahas proses keperawatan pada studi kasus

    yang dilakukan pada Ny. A yang dilakukan tanggal 5 April 2012 di ruang

    Kenanga RSUD Karanganyar. Prinsip dari pembahasan ini dengan

    memfokuskan Kebutuhan Dasar Manusia di dalam asuhan keperawatan.

    Pengkajian adalah langkah pertama proses keperawatan melalui

    kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dari pasien guna

    mengetahui berbagai permasalahan yang ada (Hidayat, 2009 : 85).

    Menurut Pilliteri, 2002 : 95, sectio caesarea adalah prosedur bedah

    untuk mengeluarkan janin melalui insisi yang dibuat di abdomen maternal.

    Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka

    dinding uterus (Winkjosastro, 2005 : 863).

    Indikasi untuk dilakukannya operasi sectio caesarea antara lain

    disproporsi sefalo pelvik, gawat janin, plasenta previa, pernah sectio caesarea,

    kelainan letak, pre-eklamsi dan hipertensi. Disproporsi sefalo pelvik juga

    dapat diartikan ketidaksesuaian antara kepala janin panggul ibu (Simkin,

    2005: 51). Menurut Varney, 2007: 796, Disproporsi sefalo pelvik adalah

    disproporsi antara ukuran janin dan ukuran pelvis, ukuran pelvis tertentu tidak

    cukup besar untuk mengakomodasi keluarnya janin tertentu melalui pelvis

    sampai terjadi kelahiran pervaginam.

  • 18

    Nyeri merupakan perasaan tidak menyenangkan, baik ringan maupun

    berat (Mubarak, 2007 : 204). Menurut NANDA (2010 : 410), nyeri akut

    adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan dan

    muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan

    dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Association for the study

    of pain). Faktor yang menyebabkan nyeri tersebut dari agen cidera (antara

    lain: biologis, zat kimia, fisik, psikologis).

    Kesimpulannya dari faktor kehamilan salah satunya disproporsi sefalo

    pelvik, harus dilakukan tindakan operasi sectio caesarea yaitu prosedur bedah

    untuk mengeluarkan janin melalui insisi yang dibuat di abdomen maternal.

    Dari insisi (agen cidera fisik) tersebut menimbulkan pengalaman sensori dan

    emosional yang tidak menyenangkan dan muncul akibat kerusakan jaringan

    aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa.

    Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan dengan mengacu pada teori

    Gordon antara lain : Pada pola aktivitas dan latihan setelah melahirkan semua

    aktivitas klien dibantu oleh keluarga karena menurut penulis semakin banyak

    aktivitas atau gerakan yang dilakukan oleh klien akan semakin memperparah

    nyeri itu sendiri, dapat dibuktikan dalam teori menurut Potter dan Perry (2005

    : 1526), semakin banyak aktivitas fisik yang dibutuhkan dalam beraktivitas

    maka semakin besar juga resiko ketidaknyamanan akibat nyeri yang

    dirasakan. Pola istirahat tidur setelah melahirkan klien mengatakan sering

    terbangun dimalam hari karena nyeri yang dirasakan seperti tertusuk-tusuk,

    menurut penulis bahwa nyeri sangat mempengaruhi kenyamanan klien dan

  • 19

    fokus klien hanya tertuju pada nyeri itu sendiri sehingga tidur klien sangat

    terganggu akibat nyeri yang dirasakan. Pada pola kognitif dan persepsi sensori

    setelah melahirkan klien mengatakan dapat berbicara, melihat, mendengar,

    dan mencium dengan baik tanpa alat bantu dan klien mengatakan nyeri pada

    luka bekas operasi seperti teriris-iris, dibawah umbilikus, skala 7 dan nyeri

    saat bergerak.

    Batasan karakteristik nyeri dalam teori menurut ( NANDA, 2010 :

    410), meliputi perubahan tekanan darah, mengekspresikan perilaku (misal:

    gelisah, menangis, mendesah), gangguan pola tidur, melaporkan nyeri secara

    verbal. Dalam mendokumentasikan analisa data, pada diagnosa nyeri akut

    berhubungan dengan agen cidera fisik : pembedahan diperoleh data yaitu

    melaporkan nyeri secara verbal klien mengatakan bahwa nyeri pada perut

    bagian bawah post sectio caesarea hari pertama. Data yang menurut teori ada

    dalam kasus nyata adalah pasien tampak meringis kesakitan. Menurut Potter

    dan Perry (2005 : 1509), ekspresi wajah yang mengindikasikan nyeri meliputi

    menggeretakkan gigi, memegang bagian tubuh yang terasa nyeri, postur tubuh

    membengkok dan ekspresi wajah menyeringai, Tekanan darah 130/80 mmHg,

    nadi 84 x/menit, pernafasan 22 x/menit, suhu 37C. Tekanan darah meningkat

    dapat dikarenakan gangguan psikologis karena nyeri atau cemas yang

    dirasakan pasien pasca operasi. Pada pemeriksaan nadi, suhu dan pernafasan

    normal dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis atau simpatis yang

    merupakan sistem saraf otonom, yang mengatur tekanan darah, nadi dan

    pernafasan (Billington, 2009).

  • 20

    Terdapat luka bekas post operasi yang dapat menimbulkan nyeri

    merupakan tanda-tanda nyeri karena terjadi kerusakan jaringan post sectio

    caesarea. Data ini senada dengan NANDA (2010:410) yaitu indikasi nyeri

    yang dapat diamati.

    Menurut penulis antara klien satu dengan klien yang lainnya berbeda

    dalam mempersepsikan nyeri, dapat dibuktikan dalam teori menurut Potter

    dan Perry (2005 : 1508), faktor-faktor fisiologis dan kognitif berinteraksi

    dengan faktor-faktor neurofisiologis dalam mempersepsikan nyeri, terdapat

    tiga sistem interaksi persepsi nyeri sebagai sensori diskriminatif, motivasi

    afektif dan kognitif evaluatif, persepsi menyadarkan individu dan mengartikan

    nyeri itu sehingga individu dapat bereaksi.

    Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai

    seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan

    atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan ini

    dapat memberikan dasar pemilihan intervensi untuk menjadi tanggung jawab

    perawat. Formulasi diagnosa keperawatan adalah bagaimana diagnosa

    keperawatan digunakan dalam proses pemecahan masalah karena melalui

    identitas masalah dapat digambarkan berbagai masalah keperawatan yang

    membutuhkan asuhan keperawatan. Disamping itu, dengan menentukan atau

    mencari penyebab masalah keperawatan, dapat dijumpai faktor yang menjadi

    kendala atau penyebabnya. Tanda dan gejala tersebut dapat digunakan untuk

    memperjelas kata yang ada (Hidayat, 2009 : 92).

  • 21

    Diagnosa yang muncul pada masalah Ny.A berdasarkan prioritas

    adalah nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik : pembedahan,

    diagnosa keperawatan ini sesuai dengan buku NANDA ,2010 : 410, nyeri akut

    adalah keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa

    ketidaknyamanan yang hebat dan sensasi yang tidak menyenangkan selama 6

    bulan atau kurang.

    Diagnosa keperawatan ini penulis prioritaskan pada urutan pertama

    karena menurut penulis masalah keperawatan ini bila tidak diatasi, maka rasa

    nyeri mengganggu aktivitas klien. Rasa nyeri ini menyebabkan gangguan

    mobilitas fisik, sehingga tidak dapat mandiri dalam memenuhi ADL

    (Activities of daily living). Disamping itu karena pasien takut untuk bergerak,

    maka peredaran darah tidak lancar dan pada akhirnya mempengaruhi proses

    penyembuhan.

    Sedangkan menurut klien masalah ini merupakan masalah yang paling

    mengganggu dan menurut Potter dan Perry (2005 : 1510), nyeri akut secara

    serius mengancam proses penyembuhan klien sehingga harus menjadi

    prioritas perawatan. Masalah ini muncul karena pasien post sectio caesarea

    hari pertama, dari proses pembedahan mengakibatkan terputusnya kontinuitas.

    Ketika ujung saraf khusus (nosiseptor) terstimulasi dan mentransmisikan

    informasi disepanjang lintasan saraf yang bertindak sebagai peringatan bahwa

    jaringan rusak sehingga timbul rasa nyeri (Billington, 2009 : 299).

    Rencana tindakan adalah petunjuk untuk penanganan dan tindakan.

    Perencanaan merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan dimana tujuan

  • 22

    hasil ditentukan dan dipilih. Perencanaan adalah proses keperawatan yang

    penuh pertimbangan dan sistematis yang mencakup pembuatan keputusan dan

    penyelesaian masalah. Sedangkan intervensi keperawatan adalah setiap

    tindakan, berdasarkan penilaian klinis dan pengetahuan, yang perawat lakukan

    untuk meningkatkan hasil pada pasien atau klien (Kozier, 2011 : 398).

    Intervensi disesuaikan dengan kondisi klien dan fasilitas yang ada

    sehingga rencana tindakan dapat dilaksanakan dengan specifik (jelas),

    mearsurable (dapat diukur), achievable, reasonable dan timing (Nursalam,

    2001 : 54).

    Penulis memberikan intervensi keperawatan pada pasien dalam

    diagnosa Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (insisi

    pembedahan) yaitu pertama pantau tingkat skala nyeri dengan standart

    PQRST, P : mengacu pada penyebab nyeri, Q : menjelaskan kualitas nyeri, R :

    mengacu pada daerah nyeri, S : menjelaskan tingkat keparahan nyeri yaitu

    dengan melihat intensitas skala nyeri, skala nyeri 0 = tidak ada nyeri, 1-3 =

    nyeri ringan, 4-6 = nyeri sedang, 7-9 = nyeri berat, 10= nyeri paling hebat, T :

    menjelaskan waktu terjadinya nyeri (Brunner and Suddarth, 2001 : 217). Dan

    hasilnya klien mengatakan nyeri post sectio caesarea pada perut bagian bawah

    (bawah umbilicus), nyeri dirasakan saat bergerak. Klien mengatakan nyeri

    dirasakan seperti teriris-iris dengan skala nyeri 7.

    Kemudian memberikan posisi yang nyaman kepada pasien untuk

    meningkatkan relaksasi. Tehnik relaksasi nafas dalam menganjurkan pasien

    untuk menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara,

  • 23

    menghembuskannya secara perlahan, melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut

    dan punggung, serta mengulangi hal yang sama sambil terus berkonsentasi

    hingga pasien merasa nyaman, tenang dan rileks (Uliyah, 2006 : 231). Untuk

    nyeri insisi akut adalah penting untuk melakukan upaya untuk menghilangkan

    nyeri sesegera mungkin. Analgesik dapat menghilangkan nyeri dengan cepat

    dan menurunkan nyeri yang mengalami perburukan. Setelah nyeri yang klien

    rasakan berkurang, perawat merencanakan terapi lain, seperti tehnik relaksasi

    nafas dalam atau aplikasi panas untuk meningkatkan efek analgesik.

    Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri, sedangkan tanda nyeri salah

    satunya peningkatan tekanan darah, perubahan autonomik dari tonus otot.

    Sehingga sangat bermanfaat apabila dilanjutkan tindakan keperawatan

    mengajarkan tehnik relaksasi. Menurut Potter dan Perry (2005 : 1530), tehnik

    relaksasi nafas dalam dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan

    ketegangan. Latihan relaksasi progresif meliputi kombinasi latihan pernafasan

    yang terkontrol dan rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot. Klien

    mulai latihan bernafas dengan perlahan dan menggunakan diagfragma,

    sehingga memungkinkan abdomen terangkat perlahan dan dada mengembang

    penuh. Saat klien melakukan pola pernafasan teratur, perawat mengarahkan

    klien untuk melokalisasi setiap daerah yang mengalami ketegangan otot,

    berfikir bagaimana rasanya, menegangkan otot sepenuhnya, dan kemudian

    merelaksasikan otot-otot tersebut. Kegiatan ini menciptakan sensasi

    melepaskan ketidaknyamanan dan stress. Secara bertahap, klien dapat

    merelaksasi otot tanpa harus terlebih dahulu menegangkan otot-otot tersebut.

  • 24

    Saat klien mencapai relaksasi penuh, maka persepsi nyeri berkurang dan rasa

    cemas yang menyebabkan tekanan darah meningkat terhadap pengalaman

    nyeri menjadi minimal. Kesimpulannya adalah dengan dilakukannya tindakan

    relaksasi maka otot-otot atau organ-organ tubuh menjadi rileks atau lemas,

    sehingga spasme pada pembuluh darah juga melemah, dan rangsangan ke

    serabut saraf simpatis ke reseptor nyeri mengalami penurunan sehingga nyeri

    berkurang.

    Pelaksanaan merupakan proses keperawatan dengan melaksanakan

    berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah

    direncanakan. Dalam tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal,

    diantaranya bahaya fisik dan perlindungan kepada pasien, tehnik komunikasi,

    kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak pasien

    tingkat perkembangan pasien. Dalam tahap pelaksanaan terdapat dua tindakan

    yaitu tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi (Hidayat, 2009 : 111).

    Sesuai teori intervensi disusun dari observasi, tindakan keperawatan,

    pendidikan kesehatan, dan kolaborasi dalam memberikan tindakan untuk

    mengurangi nyeri antara lain mengobservasi tanda-tanda vital, mengkaji nyeri

    (penyebab nyeri, kualitas nyeri, letak nyeri, skala nyeri dan waktu terjadinya

    nyeri), mengkaji faktor yang mengurangi nyeri dan memperberat nyeri,

    memberikan posisi yang nyaman, mengajarkan teknik non invasif (teknik

    relaksasi dan distraksi), pemberian obat analgesik (Hidayat, 2009: 220).

    Penulis melakukan semua intervensi yang ditulis, kecuali pada rencana

    asuhan keperawatan hari ketiga penulis tidak dapat melakukan tindakan

  • 25

    keperawatan relaksasi nafas dalam kerena pada hari ketiga klien mengatakan

    nyeri sudah berkurang dengan skala nyeri 3 dan klien sudah tampak rileks,

    maka menurut penulis tindakan keperawatan tehnik relaksasi nafas dalam

    tidak perlu dilakukan. Dapat dibuktikan menurut NIC-NOC, 2006 : 341,

    dengan kriteria hasil menunjukkan penurunan skala nyeri 1-3, tanda-tanda

    vital dalam batas normal, melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan

    management nyeri, mampu mengenal nyeri, menyatakan rasa nyaman setelah

    nyeri berkurang, mampu mengontrol nyeri.

    Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang

    digunakan untuk nenentukan seberapa baik respon pasien atau keluarga

    pasien. Pada tahap ini penulis akan membahas cara pendokumentasian asuhan

    keperawatan (Nursalam, 2009 :76).

    Sesuai teori kriteria hasil pada diagnosa nyeri akut berhubungan

    dengan agen cidera fisik : pembedahan adalah setelah dilakukan tindakan

    keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang ataupun

    hilang dengan kriteria hasil menunjukkan penurunan skala nyeri 1-3, tanda-

    tanda vital dalam batas normal, melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan

    management nyeri, mampu mengenal nyeri, menyatakan rasa nyaman setelah

    nyeri berkurang, mampu mengontrol nyeri. Tetapi kriteria hasil tidak tercapai

    dihari pertama karena dalam kasus ini post sectio caesarea hari pertama, jadi

    nyeri yang dirasakan berat. Dan dilahan penatalaksanaan nyeri salah satunya

    dengan pemberian analgesik, sedangkan analgesik hanya berfungsi beberapa

  • 26

    jam jadi setelah analgesik tidak berfungsi maka rasa nyeri akan muncul

    kembali.

    B. Simpulan dan Saran

    1. Simpulan

    a. Hasil pengkajian pada pasien dengan nyeri akut post sectio caesarea

    indikasi disproporsi sefalo pelvik klien mengatakan nyeri post sectio

    caesarea pada perut bagian bawah (bawah umbilicus), seperti

    dirasakan saat bergerak, nyeri dirasakan seperti teriris-iris dengan skala

    nyeri 7.

    b. Perumusan masalah diagnosa keperawatan didapatkan diagnosa yaitu

    nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik : pembedahan.

    c. Rencana Asuhan Keperawatan yang akan dilakukan pada pasien nyeri

    akut dengan post sectio caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik

    yaitu Kaji karakteristik nyeri untuk mengetahui penyebab nyeri,

    kualitas nyeri, letak nyeri, skala nyeri dan waktu terjadinya nyeri.

    Observasi tanda-tanda vital mencakup tekanan darah, nadi, respirasi

    dan suhu. Ajarkan tehnik relaksasi dilakukan untuk mengurangi rasa

    nyeri. Berikan posisi nyaman kepada klien untuk meningkatkan

    relaksasi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik untuk

    mengurangi/mengatasi masalah nyeri.

    d. Tindakan yang dilakukan pada pasien dengan nyeri akut post sectio

    caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik sesuai dengan perencanaan

  • 27

    tindakan Asuhan Keperawatan yang bertujuan sesuai dengan kriteria

    hasil.

    e. Evaluasi yang dilakukan pada pasien dengan nyeri akut post sectio

    caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik menunjukkan penurunan

    skala nyeri sesuai dengan kriteria hasil yang telah ditetapkan menurut

    teori. Tetapi waktu tercapai kriteria hasil tidak sesuai target.

    2. Saran

    Dengan memperhatikan kesimpulan di atas, penulis memberi saran

    sebagai berikut:

    a. Bagi institusi:

    Dapat memberikan waktu pengelolaan pada pasien lebih banyak

    karena dengan waktu 3 hari tidak dapat melakukan pengelolaan secara

    maksimal.

    b. Bagi rumah sakit:

    Dapat lebih memperhatikan dalam melakukan asuhan

    keperawatan khususnya pada pasien dengan nyeri akut post sectio

    caesarea indikasi disproporsi sefalo pelvik.

    c. Bagi profesi :

    Perlu adanya peningkatan pelayanan kesehatan dengan cara

    mengadakan diskusi ilmiah, khususnya membahas tentang asuhan

    keperawatan dengan post sectio caesarea atas indikasi disproporsi

    sefalo pelvik.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Billington, Mary. (2009). Kegawatan dalam Kehamilan-Persalinan. Penerjemah

    Fruriolina Ariani. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 299.

    Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4.

    Penerjemah Maria A. Wijayarini. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    Jakarta, hal 786.

    Fraser Diane M, Cooper Margaret A. (2009). Buku Ajar Bidan Myles Edisi 14.

    Penerjemah Sri Rahayu...[et al]. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta,

    hal 464.

    Hidayat, A. Aziz Alimul. (2009). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Salemba

    Medika. Jakarta. Hal 81-113, 213-222.

    Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia.(2009). Inormasi Spesialite Obat (ISO)

    Indonesia. Jakarta: PT. ISFI. Hal 4, 26, 99, 150.

    Kozier Barbara, dkk. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,

    Proses, & Praktik, Ed. 7, Vol 7. Penerjemah Ns. Pamilih Eko Karyuni,

    dkk. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. hal 355, 379, 398, 429, 432.

    Isti Mulyawati, dkk. (2011). Faktor-faktor yang berhubungan dengan Tindakan

    Persalinan Melalui Operasi Sectio Caesarea. http://journal.unnes.ac.id/

    index.php/kemas. Diakses 9 April 2012 Jam 10.45 WIB.

    Musrifatul Uliyah. (2006). Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan Edisi

    Pertama. Salemba Medika. Jakarta. Hal 231

    Nanda International.(2010). Diagnosis Keperawatan, Definisi Dan Klasifikasi

    2009-2011.Penerjemah Made Sumarwati, S.Kp, Mn, Ns, dkk. Penerbit

    Buku Kedokteran EGC. Jakarta. hal 410.

    Nursalam. (2001). Proses & Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik Edisi

    Pertama. Salemba Medika. Jakarta. Hal 76.

    Pilltteri, Adele. (2002). Buku Saku Keperawatan Ibu & Anak. Penerjemah Yasmin

    Asih, S.Kp...[et al]. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. hal 95.

  • Potter, Patricia A. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,

    Proses, & Praktik, Ed. 4, Vol 2. Penerjemah Renata Komalasari, dkk.

    Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. hal 1502-1547.

    Rabe, Thomas. (2002). Buku Saku Ilmu Kebidanan. Penerjemah Manuaba Ida

    Bagus, dkk. Hipokrates.Jakarta, hal 163.

    Sadiman., M. Ridwan. (2009). Faktor-faktor yang berhubungan dengan

    persalinan sectio caesarea di RSUD Ahmad Yani Metro Tahun 2008.

    Jurnal Kesehatan Metro San Wawai Volume II No.2 Edisi Des 2009,

    ISSN : 1977-469x. http://http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/21115762/

    volume2_nomor_1.pdf. Diakses tanggal 11 April 2012.

    Simkin, Penny. (2005). Buku Saku Persalinan. Penerjemah Chrisdiono M.

    Achadiat. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 51.

    Smelter, Susane C. (2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 Vol 1.

    Penerjemah Agung Waluyo.(et.al). Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    Jakarta. Hal 217.

    Varney, Helen. (2007). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4, Vol 2. Penerjemah

    Laily Mahmudah, dkk. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 796.

    Wahid Iqbal Mubarak. (2007). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Penerbit

    Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 204.

    Wiknjosastro, hanifa.(2005). Ilmu Kebidanan Edisi 3, cetakan 7.Penerjemah

    Abdul Bari Saifuddin. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

    Jakarta. Hal 862.

    Wilkinson, Judith, M. (2006).Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan

    Intervensi NIC Dan Kriteria Hasil NOC Edisi 7. Penerjemah Widyawati,

    S.Kp, M.Kes, dkk. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. hal 338-345.