skripsi pengaruh disiplin pegawai dan budaya kerja

Click here to load reader

Post on 17-Oct-2021

2 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENGARUH DISIPLIN PEGAWAI DAN BUDAYA KERJA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT PADA
KANTOR PERTANAHAN KAB. GOWA
DIDIN NUR ARISANDY 105720374412
MANAJEMEN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2017
PENGARUH DISIPLIN PEGAWAI DAN BUDAYA KERJA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT PADA
KANTOR PERTANAHAN KAB. GOWA
DIDIN NUR ARISANDY 105720374412
Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Jurusan Manajemen
MANAJEMEN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2017
ii
iii
iv
MOTTO
“Jangan mau dikalahkan oleh keadaan yang terus buruk, kita lawan oleh pemikiran-pemikiran yang
positif (positif thinking), kita ubah pemikiran kita dari yang tidak yakin menjadi yakin, dari yang tidak
bisa menjadi bisa”
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai (dari
sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah
engkau berharap”
menghalau segala rintangan”
(Imam Syafi’i)
“Jangan pernah lelah untuk berdoa, jangan sampai melepaskan keyakinan, jangan
lupa untuk selalu bersyukur”
strategi yang terarah, dan kedekatan kepada Tuhan”
(Merry Riana)
Bapak dan Ibuku,
v
ABSTRAK
DIDIN NUR ARISANDY, 2016 Pengaruh Disiplin Pegawai dan Budaya Kerja Terhadap Kualitas Pelayanan Kepada Masyarakat Pada Kantor Pertanahan Kab. Gowa. Dibimbing oleh Ifayani Haanurat dan Ismail Badollahi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Disiplin Pegawai dan Budaya Kerja Terhadap Kualitas Pelayanan Kepada Masyarakat Pada Kantor Pertanahan Kab. Gowa.
Metode atau jenis penelitian ini yaitu kualitatif, populasi atau sasaran yaitu Pegawai pada Kantor Kelurahan Pertanahan Kab. Gowa sekitar 32 orang. Tekhnik pengumpulan data melalui koesioner. Analisis data dilakukan dengan mempergunakan metode analisis regersi linier berganda.
Hasil analisis Uji-F menunjukkan bahwa secara simultan (bersama- sama) variabel yang terdiri dari Disiplin Pegawai dan Budaya Kerja sebesar 0,735 terhadap peningkatan Kualitas Pelayanan kerja pegawai pada Kantor Pertanahan Kab. Gowa, dan secara parsial : Disiplin Pegawai = 0,615 dan Budaya Kerja = 0,000. Dengan demikian hipotesis pertama ditolak dan hipotesis kedua diterima. Untuk mengetahui Kualitas Pelayanan Kerja Pegawai pada Kantor Pertanahan Kab. Gowa, disarankan agar lebih mengoptimalkan Budaya Kerja bagi semua pegawai.
Kata Kunci : Kualitas Pelayanan Melalui Disiplin Pegawai dan Budaya Kerja
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia dan
petunjuk- Nya sehingga penulisan Skripsi ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang
direncanakan. Salam dan salawat penulis tak lupa kirimkan kepada Nabiyullah
Muhammad Rasulullah SAW, Nabi Akhir Zaman dan pembawa rizalah kebajikan.
Penulis sadar sepenuhnya bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan dalam
penyajian maupun analisisnya, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang
konstruktif guna penyempurnaan lebih lanjut. Pada kesempatan ini perkenankan
penulis menyampaikan terima kasih yang tulus serta penghargaan yang tinggi kepada
pihak- pihak yang telah memberikan bantuan, motivasi dan bimbingannya, terutama
kepada :
1. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Makassar.
2. Dr. H. Mahmud Nuhung, SE., MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi.
3. Moh. Aris Pasigai, SE., MM selaku Ketua Prodi Jurusan Manajemen.
4. Dr. A. Ifayani Haanurat, MM dan Ismail Badollahi, SE., M.Si.Ak.Ca masing-
masing selaku pembimbing I dan II yang selama ini telah mengorbankan
waktunya dalam membimbing penulis sejak awal sampai selesainya penulisan
skripsi ini.
vii
5. Pimpinan dan pegawai Kantor Pertanahan Kab. Gowa yang telah memberikan
motivasi dari awal sampai selesainya penulisan skripsi ini.
6. Orang tua dan saudara-saudaraku yang selama ini banyak berkorban dalam
memberikan motivasi, bantuan moril materil disertai do’a yang tulus sehingga
penulis sampai pada tahap akhir penyelesaian studi.
7. Kawan-kawan mahasiswa, sahabat dan semua pihak yang tidak bisa penulis
sebutkan namaya satu persatu.
Penulis berharap kiranya karya ini dapat berguna baik bagi pihak- pihak
yang terkait guna penelitian lebih lanjut. Akhirnya kepada Allah jualah kita
kembalikan segala urusan.
Makassar, Desember 2016
A. Landasan Teori...................................................................................... 7
2. Disiplin Pegawai ............................................................................. 9
3. Budaya Kerja .................................................................................. 14
C. Populasi dan Sampel ............................................................................ 34
D. Tekhnik Pengumpulan Data ................................................................. 35
E. Metode Analisis Data ........................................................................... 36
F. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel .................................. 37
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................................ 40
A. Nama dan Sejarah Singkat Perusahaan ................................................. 40
B. Visi dan Visi Organisasi ........................................................................ 45
C. Struktur Organisasi dan Job Descripsion .............................................. 47
BAB V HASIL PENELITIAN ........................................................................... 66
A. Karakteristik Responden ....................................................................... 66
C. Analisis Regresi .................................................................................... 72
D. Pengujian Hipotesis ............................................................................... 73
A. Simpulan ............................................................................................... 79
B. Saran ...................................................................................................... 79
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 81
Gambar 2. Struktur Organisasi ........................................................................... 47
xi
Tabel 3. Responden Berdasarkan Umur.............................................................. 68
Tabel 5. Uji Validitas Variabel Disiplin Pegawai (X1) ...................................... 70
Tabel 6. Uji Validitas Variabel Budaya Kerja (X2)............................................ 70
Tabel 7. Uji Validitas Variabel Kualitas Pelayanan (Y) ..................................... 71
Tabel 8. Uji Reabilitas......................................................................................... 71
.
nonkementerian di Indonesia yang mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral. Amanat
konstitusi di bidang pertanahan menuntut agar politik dan kebijakan pertanahan
dapat memberikan kontribusi nyata dalam proses mewujudkan “keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia”, sebagaimana diamatkan pada Sila Kelima
Pancasila dalam pembukaan UUD 1945 dan, “sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat”, sebagaimana diamanatkan pada pasal 33 ayat 3 UUD 1945.
Suatu lembaga dapat berjalan efektif dan melaksanakan amanatnya
dengan baik apabila fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, motivasi dan
pengawasan yang ada di dalamnya berfungsi dengan baik serta unsur-unsur
penunjangnya tersedia dan memenuhi persyaratan. Salah unsur terpenting yang
dapat mendukung jalannya suatu lembaga adalah sumber daya manusia (pegawai).
Sumber daya manusia memiliki peranan sangat penting dalam berbagai sektor
karena sumber daya manusia merupakan faktor kunci untuk menggerakkan
sumber daya yang lain dalam suatu lembaga.
Menurut Malayu Hasibuan (2011:193), kedisipinan adalah kesadaran dan
kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial
yang berlaku. Dimana kesadaran adalah sikap seseorang yang secara suka rela
1
2
menaati semua peraturan dan akan tugas dan tanggung jawabnya. Jadi dia akan
mematuhi, mengerjakan semua tugasnya dengan baik, bukan atas paksaan.
Sedangkan kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang
yang sesuai dengan peraturan perusahaan, baik yang tertulis maupun tidak.
Disiplin sangat diperlukan baik individu yang bersangkutan maupun oleh
organisasi. Contoh sebuah pesuruh di sebuah kantor yang terlambat datang,
akibatnya ruangn kerja di kantor tersebut menjadi terganggu karena tidak ada
pegawai yang dapat melakukan aktivitasnya, sehingga mengganggu proses operasi
dihari itu. Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa ketidakdisiplinan seseorang
dapat merusak aktivitas organisasi. Peraturan-peraturan yang akan berkaitan
dengan disiplin itu antara lain: peraturan jam masuk, pulang, dan jam istirahat,
peraturan dasar tentang berpakaian, dan bertingkah laku dalam pekerjaan,
peraturan cara-cara melakukan pekerjaan dan berhubungan dengan unit kerja lain,
peraturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh para
pegawai dalam organisasi dan sebagainya.
Manusia sebagai individu terkadang ingin hidup bebas, sehingga ia ingin
melepaskan diri dari segala ikatan dan peraturan yang membatasi kegiatan dan
perilakunya. Namun manusia juga merupakan makhluk sosial yang hidup diantara
individu-individu lain, dimana ia mempunyai kebutuhan akan perasaan diterima
orang lain.
ditetapkan kepadanya, akan menciptakan suatu masyarakat yang tertib dan bebas
dari kekacauan-kekacauan. Demikian juga kehidupan dalam suatu perusahaan
3
ketentuan yang berlaku pada perusahaan tersebut. Dengan kata lain, disiplin kerja
pada karyawan sangat dibutuhkan, karena apa yang menjadi tujuan perusahaan
akan sukar dicapai bila tidak ada disiplin kerja.
Seharusnya setiap pegawai mengerti bahwa dipunyainya disiplin kerja
yang baik. Berarti akan dicapai pula suatu keuntungan yang berguna, baik bagi
perusahaan maupun bagi pegawai itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan
kesadaran para pegawai dalam mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku. Selain
itu, perusahaan sendiri harus mengusahakan agar peraturan itu bersifat jelas,
mudah dipahami dan adil, yaitu berlaku bagi pimpinan yang tertinggi maupun
bagi pegawai yang terendah sehingga tidak menghambat tujuan perusahaan
khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan.
Selain disiplin pegawai yang perlu ditanamkan pada setiap pegawai,
budaya kerja juga perlu ditanamkan pada setiap karyawan dimana menurut Hadari
Nawawi (2011:65) menjelaskan bahwa, “Budaya kerja adalah kebiasaan yang
dilakukan berulang-ulang oleh pegawai dalam suatu organisasi, pelanggaraan
terhadap kebiasaan ini memang tidak ada sanksi tegas, namun dari perilaku
organisasi secara moral telah menyepakati bahwa kebiasaan tersebut merupakan
kebiasaan yang harus ditaati dalam rangka pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai
tujuan.”
Budaya kerja tidak akan muncul begitu saja, akan tetapi harus
diupayakan dengan sungguh-sungguh melalui proses yang terkendali dengan
4
melibatkan semua sumber daya manusia dalam seperangkat system, alat-alat dan
teknik pendukung.
merubah sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai produktivitas
kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan. Disamping itu
masih banyak lagi yang muncul seperti kepuasan kerja meningkat, pergaulan yang
lebih akrab, disiplin meningkat, pengawasan fungsional berkurang, pemborosan
berkurang, tingkat absensi menurun, terus ingin belajar, ingin memberikan yang
terbaik bagi organisasi sehingga tujuan organisasi tercapai khususnya dalam
kualitas pelayanan.
kualitas pelayanan secara sederhana, yaitu ukuran seberapa bagus tingkat layanan
yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Artinya kualitas
pelayanan ditentukan oleh kemampuan perusahaan atau lembaga tertentu untuk
memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan apa yang diharapkan atau diinginkan
berdasarkan kebutuhan pelanggan/pengunjung. Dengan kata lain, faktor utama
yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah pelayanan yang diharapkan
pelanggan/pengunjung dan persepsi masyarakat terhadap pelayanan tersebut.
Kemampuan perusahaan dan stafnya dalam memenuhi harapan pelanggan secara
konsisten.
Kualitas pelayanan memberikan suatu dorongan kepada pelanggan atau
dalam hal ini pengunjung untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan
lembaga atau instansi pemberi pelayanan jasa. Ikatan hubungan yang baik ini
5
harapan pelanggan/pengunjung serta kebutuhan mereka. Dengan demikian
penyedia layanan jasa dapat meningkatkan kepuasan pengunjung dengan
mamaksimalkan pengalaman pengunjung yang menyenangkan dan
meminimumkan pengalaman pengunjung yang kuramg menyenangkan. Apabila
layanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan harapan pelanggan, maka
kualitas layanan dipersepsikan sebagai kualitas ideal, tetapi sebaliknya jika
layanan yang diterima atau dirasakan lebih rendah dari yang diharapkan maka
kualitas layanan dipersepsikan rendah.
dan Budaya Kerja Terhadap Kualitas Pelayanan Kepada Masyarakat Pada
Kantor Pertanahan Kab. Gowa.”
maka yang menjadi pokok permasalahan adalah, “apakah ada pengaruh positif
disiplin pegawai dan budaya kerja terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat
pada Kantor Pertanahan Kab. Gowa?”.
C. Tujuan Penelitian
Terkait dengan rumusan masalah diatas maka adapun tujuan yang ingin
dicapai peneliti adalah “untuk mengetahui pengaruh disiplin pegawai dan budaya
6
kerja terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat pada kantor Pertanahan Kab.
Gowa”.
1. Pihak Bank; sebagai bahan masukan atau informasi mengenai pengaruh
disiplin pegawai dan budaya kerja terhadap kualitas pelayanan kepada
masyarakat pada kantor Pertanahan.
pelayanan kepada masyarakat pada kantor Pertanahan.
3. Pihak Peneliti/Penulis; memberikan pengalaman tersendiri dan menambah
wawasan mengenai pengaruh disiplin pegawai dan budaya kerja terhadap
kualitas pelayanan kepada masyarakat pada kantor Pertanahan.
7
a. Definisi Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan unsur terpenting dalam suatu
perusahaan, sehingga penting bagi perusahaan melakukan manajemen
sumber daya manusia secara aktif.
Veithzal (2013:1), menjelaskan bahwa manajemen sumber daya
manusia (MSDM) merupakan salah satu bidang dari manajemen umum
meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengendalian. Sedangkan menurut Malayu Hasibuan (2011), juga
menjelaskan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan
seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja, agar efektif dan
efisien membantu terwujudnya tujuan.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli dapat disimpulkan
bahwa sumber daya manusia adalah suatu usaha dari aktivitas dari suatu
perusahaan meliputi, perencanaan, pengadaan, pelatihan, pengembangan,
pendayagunaan, pemberian balas jasa dan penghargaan (motivasi),
pengendalian serta penilaian untuk mencapai tujuan perusahaan.
7
8
Umar dalam Sutrisno (2010:7), memaparkan fungsi dari
manajemen sumber daya manusia, yaitu:
1. Fungsi manajerial: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengendalian.
3. Fungsi ketiga adalah kedudukan manajemen sumber daya manusia
dalam pencapaian tujuan perusahaan secara terpadu.
Sedangkan menurut Veithzal (2013:14), juga menjelaskan bahwa
pelaksanaan berbagai fungsi manajemen SDM sebenarnya bukan hanya
dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang produktif
mendukung tujuan perusahaan, akan tetapi menciptakan kondisi yang
lebih baik sehingga dapat meningkatkan potensi dan motivasi sumber
daya manusia dalam berkarya. Pemahaman mengenai fungsi-fungsi
manajemen sumber daya manusia tersebut akan memudahkan untuk
mengklarifikasikan tujuan-tujuan manajemen sumber daya manusia.
Setiap organisasi, termasuk perusahaan memiliki tujuan-tujuan
yang hendak dicapai termasuk dalam manajemen sumber daya manusia.
Schuler et al dalam Sutrisno (2010), memaparkan beberapa tujuan
manajemen sumber daya manusia, yaitu:
1. Memperbaiki tingkat produktivitas.
9
2. Disiplin Pegawai
a. Definisi Disiplin
sumber daya manusia. Kedisiplinan merupakan fungsi koperatif MSDM
yang terpenting kualitas semakin baik, disiplin karyawan semakin tinggi,
maka semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapai. Tanpa disiplin
karyawan yang baik, sulit bagi perusahaan mencapai hasil yang optimal.
Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab
seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini
mendukung gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan
perusahaan, karyawan dan masyarakat. Oleh Karena itu, setiap manajer
selalu berusaha agar para karyawannya menpnyai disiplin yang baik.
Seseorang manajer dikatakan efektif dalam kepemimpinannya, jika para
bawahannya berdisiplin yang baik. Untuk memelihara dan meningkatkan
kedisiplinan yang baik adalah hal yang sulit, banyak faktor yang
mempengaruhinya.
kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-
norma sosial yang berlaku. Dimana kesadaran adalah sikap seseorang
yang secara suka rela menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan
tanggung jawabnya. Jadi dia akan mematuhi, mengerjakan semua
10
suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan
peraturan perusahaan, baik yang tertulis maupun tidak. Jadi, seseorang
akan bersedia mematuhi semua peraturan serta melaksanakan tugas-
tugasnya, baik secara sukarela maupun karena terpaksa. Kedisiplinan
diartikan jika karyawan selalu datang dan pulang tepat pada waktunya,
mengerjakan semua pekerjaan dengan baik, mematuhi semua peraturan
perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku.
Peraturan sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan dan
penyuluhan bagi karyawan dalam menciptakan tata tertib yang baik
diperusahaan. Dengan tata tertib yang baik, semangat kerj, moral kerja,
efisiensi dan keefektivitas kerja karyawan akan meningkat. Hal ini akan
mendukung tercapainya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Jelasnya perusahaan mencapai tujuannya jika karyawan tidak mematuhi
peraturan-peraturan perusahaan tersebut. Kedisiplinan suatu perusahaan
dikatakan baik, jika sebagian besar karyawannya menaati peraturan-
peraturan yang ada.
mendidik karyawan supaya menaati semua peraturan perusahaan.
Pemberian hukuman harus adil dan tugas terhadap semua karyawan.
Kedisiplinan harus ditegakkan dalam suatu perusahaan tanpa dukungan
disiplin karyawan yang baik, sulit perusahaan untuk mewujudkan
11
dalam mencapai tujuannya.
b. Indikator-indikator Kedisiplinan
kedisiplinan suatu organisasi perusahaan, diantaranya:
1. Tujuan dan Kemampuan
kedisiplinan karyawan. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan
ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan
karyawan. Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan
kepada karyawan harus dengan kemampuan karyawan bersangkutan,
agar dia bekerja sungguh-sungguh dan disiplin dalam
mengerjakannya.
kedisiplinan karyawan, karena pimpinan dijadikan teladan dan
panutan oleh para karyawannya. Pimpinan harus memberi contoh
yang baik, berdisiplin yang baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan
perbuatan. Dengan teladan pimpinan yang baik, kedisiplinan
bawahan pun akan ikut baik, begitupun sebaliknnya.
12
kedisiplinan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan
kecintaan karyawan terhadap perusahaan/pekerjaannya. Jika
kecintaan karyawan semakin baik terhadap pekerjaan, kedisiplinan
mereka akan semakin baik.
Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan karyawan,
karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan
minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan yang
dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa
(pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya
kedisiplinan karyawan yang baik. Manajer yang cakap dalam
memimpin selalu berusaha bersikap adil terhadap semua
bawahannya. Dengan keadilan yang baik akan menciptakan
kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan
baik pada setiap perusahaan supaya kedisiplinan karyawan
perusahaan baik pula.
Waskat efektif merangsang kedisiplinan dan moral kerja karyawan.
Karyawan merasa mendapati perhatian, bimbingan, petunjuk,
13
individu bawahannya, sehingga konduite setiap bawahan dinilai
objektif.
kedisiplinan karyawan. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat,
karyawan akan semakin takut melanggar peraturan-peraturan
perusahaan, sikap, dan perilaku indispliner karyawan akan
berkurang.
akan mempengaruhi baik buruknya kedisiplinan karyawan. Sanksi
hukuman seharusnya tidak terlalu ringan atau terlalu berat supaya
hukuman itu tetap mendidik karyawan untuk mengubah perilakunya.
Sanksi hukuman hendaknya cukup wajar untuk setiap tingkat yang
indisipliner, bersifat mendidik, dan menjadi alat motivasi untuk
memelihara kedisiplinan dalam perusahaan.
mempengaruhi kedisiplinan karyawan kedisiplinan karyawan
perusahaan. Pimpinan harus berani dan etgas bertindak untuk
menghukum setiap karyawan yang indisipliner sesuai dengan sanksi
hukuman yang telah ditetapkan. Pimpinan yang berani bertindak
14
disegani dan diakui kepemimpinannya oleh bawahannya. Jadi,
ketegasan pimpinan menegur dan menghukum setiap karyawan yang
indisipliner dan akan mewujudkan kedisiplinan yang baik pada
perusahaan tersebut.
karyawan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada perusahaan.
Hubungan-hubungan yang baik bersifat vertikal maupun horizontal
yang terdiri dari direct single relationship, direct group relationship,
dan cross relationship hendaknya harmonis.
Manajer harus berusaha menciptakan suasana hubungan
kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupun horizontal
diantara semua karyawannya. Terciptanya human relationship yang
serasi akan mewujudkan lingkungan dan suasana kerja yang nyaman.
Hal ini akan memotivasi kedisiplinan yang baik pada perusahaan.
Jadi, kedisiplinan karyawan akan tercipta apabila hubungan
kemanusiaan dalam organisasi tersebut baik
3. Budaya Kerja
15
keyakinannya menjadi kebiasaan dalam perilaku kerja atau organisasi.
Nilai-nilai yang telah menjadi kebiasaan tersebut dinamakan budaya.
Oleh karena itu, budaya dikaitkan dengan mutu atau kualitas kerja.
Budaya kerja merupakan sekumpulan pola perilaku yang melekat
secara keseluruhan pada diri setiap individu dalam sebuah organisasi.
Membangun budaya berarti juga meningkatkan dan mempertahankan
sisi-sisi positif, serta berupaya membiasakan pola pikir tertentu agar
tercipta suatu bentuk baru yang lebih baik. Adapun pengertian budaya
kerja menurut Gering Supriyadi dan Triguno (2014), menjelaskan bahwa,
“Budaya kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup
sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong
yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap
menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan terwujud
sebagai kerja.
kerja tersebut antara lain:
1. Disiplin, perilaku yang senantiasa berpijak pada aturan dan norma
yang berlaku didalam maupun diluar perusahaan. Disiplin meliputi
ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, prosedur, berlalu
lintas, waktu kerja berinteraksi dengan mitra, dan sebagainya.
16
perusahaan.
terhadap individu, tugas dan tanggung jawab orang lain sesama mitra
kerja.
b. Manfaat/Tujuan Budaya Kerja
untuk menghadapi berbagai tantangan dimasa yang akan datang.
Budaya kerja tidak akan muncul begitu saja, akan tetapi harus
diupayakan dengan sungguh-sungguh melalui proses yang terkendali
dengan melibatkan semua sumber daya manusia dalam seperangkat
sistem, alat-alat dan teknik pendukung. Budaya kerja akan menjadi
kenyataan melalui proses yang panjang, karena perubahan nilai-nilai
lama akan memakan waktu untuk menjadi kebiasaan dan tidak henti-
hentinya terus melakukan penyempurnaan dan perbaikan.
Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik:
1. Meningkatkan jiwa gotong royong;
2. Meningkatkan kebersamaan;
4. Meningkatkan jiwa kekeluargaan;
5. Meningkatkan rasa kekeluargaan;
7. Meningkatkan produktivitas kerja;
c. Terbentuknya Budaya Kerja
hal itu dikarenakan landasan dan sikap perilaku yang dicerminkan oleh
setiap orang dalam organisasi berbeda. Budaya kerja yang terbentuk
secara positif akan bermanfaat karena setiap anggota dalam suatu
organisasi membutuhkan sumbang saran, pendapat bahkan kritik yang
bersifat membangun dari ruang lingkup pekerjaannya demi kemajuan di
lembaga pendidikan tersebut, namun budaya kerja akan berakibat buruk
jika pegawai dalam suatu organisasi mengeluarkan pendapat yang
berbeda hal itu dikarenakan adanya perbedaan setiap individu dalam
mengeluarkan pendapat, tenaga dan pikirannya, karena setiap individu
mempunyai kemampuan dan keahliannya sesuai bidangnya masing-
masing.
pembenahan yang dimulai dari sikap dan tingkah laku pemimpinnya
18
tingkat kesabaran pemimpin atau pejabat yang ditunjuk dimana besarnya
hubungan antara pemimpin dan bawahannya sehingga akan menentukan
suatu cara tersendiri apa yang dijalankan dalam perangkat satuan kerja
atau organisasi.
Maka menurut Siti Amnuhai (2010:76) dalam hal ini budaya kerja
terbentuk dalam satuan kerja atau organisasi itu sendiri, artinya
pembentukan budaya kerja terjadi ketika lingkungan kerja atau organisasi
belajar dalam menghadapi permasalahan, baik yang menyangkut masalah
organisasi.
nilai-nilai baru yang akan menjadi sikap dan perilaku manajemen yang
diharapkan dalam upaya mengahadapi tantangan baru. Budaya kerja
tidak akan muncul begitu saja akan tetapi harus diupayakan dengan
sungguh-sungguh melalui proses yang terkendali dengan melibatkan
semua sumber daya manausia dalam seperangkat system, alat-alat dan
teknik-teknik pendukung.
karena perubahan nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai baru akan memakan
19
penyempurnaan dan perbaikan.
menjadi dua unsur yaitu:
dengan kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata
memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri, atau
merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk kelangsungan
hidupnya.
jawab, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk
mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesame
pegawai atau sebaliknya.
(2011:25) dapat dikategorikan tiga yaitu:
1. Kebiasaan
berdasarkan kesadaran akan hak dan kewajiban, kebebasan atau
kewenangan dan tanggungjawab baik pribadi maupun kelompok
di dalam ruang lingkup lingkungan pekerjaan. Adapun istilah lain
20
(position), jika sikap bisa berubah pendiriannya diharapkan tidak
berdasarkan keteguhan atau kekuatannya. Maka dapat diartikan
bahwa sikap merupakan cermin pola tingkah laku atau sikap yang
sering dilakukan baik dalam keadaan sadar ataupun dalam keadaan
tidak disadar, kebiasaan biasanya sulit diperbaiki secara cepat
dikarenakan sifat yang dibawa dari lahiriyah, namun dapat diatasi
dengan adanya aturan-aturan yang tegas baik dari…